Anda di halaman 1dari 7

I.

RAGAM BAHASA
A. Pengertian Ragam Bahasa
Ketika mendengar kata-kata ragam bahasa maka yang terlintas dipikiran kita
adalah sesuatu yang tidak sama, berbeda, sama pengucapan tapi berbeda makna, atau
bahkan saling bertolak belakang. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Daring, ragam bahasa Berasal dari dua suku kata yaitu ragam yang berarti macam atau
jenis dan bahasa berarti berintraksi atau percakapan yang baik. Sehingga kami
menyimpulkan ragam bahasa berarti kumpulan bahasa sebagai alat intraksi antar objek
yang memiliki spesifikasi tertentu. Tidak asing bagi kita jika dalam suatu bahasa
memiliki makna yang sama dengan bahasa serta pelafalan yang berbeda. Contoh dalam
bahasa minang kata gila disebut gilo, atau dalam bahasa pesisir kata makan jadi maken.

B. Penggunaan Ragam Bahasa yang Benar dan Baik


Pada dasarnya semua ragam bahasa memiliki kekurangan dan kelebihan masingmasing. Ada bahasa yang mudah dipelajari atau mudah dimengerti, atau ada juga
beberapa bahasa yang sulit dimengerti. Penggunaan Ragam Bahasa yang baik itu adalah
menggunakan ragam bahasa sesuai dengan kondisi dan tempat, ketika kita ditempat
yang nonformal maka bahasa yang digunakan adalah bahasa nonformal. Tapi
tuntunnya dalam jiwa kita terpatri untuk berusaha menggunakan bahasa yang baku dan
Ejaan Yang Disempurnakan. Karena biasanya menggunakan bahasa yang baku akan
mempersingkat kalimat, memperjelas kalimat, dan membuat kalimat akurat.
Sedangkan penggunaan ragam bahasa yang benar adalah, menggunakan bahasa sesuai
dengan kaidah-kaidah yang sudah ada.Dalam berbahasa seorang dituntut agar
memahami aturan-aturan yang telah dibakukan, seperti penggunaan kata serapan, kata
sammbung, dll.

C. Contoh Ragam Bahasa atau Istilah


1. Bahasa Jurnalistik
Bahasa jurnalistik adalah bahasa yang sering digunakan di kalangan pers,
wartawan, narasumber yang dituangakn dalam media.
(AntaraNews - Rabu,17 Feb2016) Jurnalis yang cermat sedikitnya punya dua
perhatian utama ketika menulis sebuah berita, entah berita kilat lempang, maupun

berita investigatif berkedalaman. Dua hal yang perlu dicermati itu adalah akurasi
dalam menulis fakta dan ketepatan dalam memilih diksi untuk makna yang
dikehendaki.
Faktanya, sebagian besar wartawan bukanlah sarjana yang pernah belajar
bahasa, dalam hal ini bahasa Indonesia secara khusus. Pengetahuan bahasa
jurnalistik biasanya diperoleh secara singkat dalam kursus atau pelatihan jurnalistik.
Wartawan yang berlatar pendidikan bukan dari disiplin linguistik, sering abai
terhadap beberapa aturan dasar ilmu bahasa sehingga kesalahan dalam
menempatkan kelas kata yang pas dalam sebuah kalimat acap terjadi.
Berikut ini contoh yang diambil dari Harian Kompas pada edisi 22 Januari 2016,
pada berita berjudul Real Madrid Tetap Terkaya, yang memperlihatkan pengabaian
pada akurasi dalam menggunakan kata yang sesuai dengan kelasnya saat
merumuskan kalimat: "Penggemar Madrid yang lebih dari 80 juta orang di seluruh
dunia mendongkrak pemasukan dari komersial." Kelas kata "komersial" tentulah
ajektiva yang dalam posisi di kalimat itu harus didahului dengan nominal, misalnya
"segi" atau "aspek" agar struktur kalimat itu gramatikal.Sebagai media yang terbit
dengan tenggat yang relatif longgar, kekeliruan gramatika tentu tak bisa
ditenggang. Beda dengan media dalam jaringan yang beritanya sebagian besar
ditulis dengan tenggat yang sangat ketat, kesalahan gramatika masih bisa
dimaklumi.
2. Bahasa Ilmiah
Bahasa Ilmiah adalah bahasa yang biasa digunakan dalam dunia pendidikan yang
mencakup berbagai macam disiplin ilmu. Misalnya saja Kimia, bidang ini memiliki
segudang istilah yang belum tentu diketahui oleh fisikawan atau sastrawan yang
notabene juga merupakan akademisi. Contoh istilah Kimia adalah destruksi
(penghancuran), destilasi (penyulingan), volatil (mudah menguap) dan sebagainya.
3. Bahasa Usaha (Bisnis)
Bahasa bisnis adalah bahasa yang digunakan di kalangan pelaku usaha atau
pegiat bisnis. Contoh istilah dari bahasa bisnis yang mungkin jarang diketahui oleh
orang awam adalah kata inflasi yang berarti peningkatan harga-harga secara umum
dan terus-menerus.

D. Metode Penggunaan Ragam Bahasa


Karena banyaknya ragam bahasa yang ada di tengah-tengah masyarakat kita,
seseorang harus bijak dan cerdas dalam menggunakan ragam bahasa. Maksudnya
adalah, kita harus tau kapan, dimana dan kepada siapa kita akan menggunakan ragam
bahasa tertentu. Menggunakan ragam bahasa juga harus sesuai dengan bidang yang
digeluti maupun dikuasai. Jangan sampai ada Sastrawan yang berbicara mengenai
proses destruksi dan destilasi protein di atass panggung pementasan, tanpa
mengetahui dan memahami apa makna sebenarnya dari kedua proses tersebut yang
sesungguhnya adalah lahan seorang Kimiawan.

E. Peran Mahasiswa dalam Menyikapi Ragam Bahasa


Mahasiswa, jika dilihat dari segi umur seharusnya telah atau akan menjadi
individu yang dewasa baik secara lisan maupun perbuatan. Maka seharusnya seorang
mahasiswa dapat menerapkan ragam bahasa dengan baik dan sesuai. Mahasiswa juga
harus banyak belajar mengenai macam ragam bahasa, karena dunia begitu luas dan
seseorang tak bisa berhenti hanya menekuni satu bidang ilmu. Merupakan suatu
kelebihan jika seseorang menggeluti suatu bidang ilmu namun ia juga paham istilahistilah yang ada pada disiplin ilmu lain, dan itu merupakan hal yang menguntungkan
bagi seorang mahasiswa.

F. Dampak Positif dan Negatif Ragam Bahasa


Dampak positif dari penggunaan ragam bahasa diantaranya adalah: memperkaya
kosa kata, menambah wawasan, memperlihatkan tingkat intelektualitas yang lebih
tinggi. Sedangkan dampak negatifnya seperti: berubahnya ragam bahasa seseorang
(mengikuti ragam bahasa yang baru), menurun atau hilangnya suatu ragam bahasa
tertentu karena meningkatnya penutur suatu ragam bahasa lain, munculnya istilahistilah baru yang kadang kurang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, dsb.

II. EJAAN YANG DISEMPURNAKAN (EYD)


A. Pengertian EYD
Ejaan adalah keseluruhan pelambangan bunyi bahasa, penggabungan dan
pemisahan kata, penempatan tanda baca dalam tataran satuan bahasa. Pengertian
senada dengan KBBI (2005:205), Ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan
bunyi-bunyi dalam bentuk huruf serta penggunaan tanda baca dalam tataran wacana.
Berdasarkan konsepsi ejaan tersebut, cakupan bahasan ejaan membicarakan:
1. Penggunaan huruf kapital dan kursif.
2. Pemakaian huruf vokal dan konsonan.
3. Penulisan kosakata dan bentukan kata.
4. Penulisan unsur serapan afiksasi dan kosakata asing.
5. Penempatan dan pemakaian tanda baca.
Ke-5 aspek ejaan tersebut ditata dalam kaidah ejaan yang disebut Ejaan yang
Disempurnakan sejak 1972.

B. Fungsi Penggunaan EYD dalam Kehidupan Mahasiswa dan Analis Kimia


Dalam kehidupan seorang analis kimia, EYD memiliki peranan yang sangat
penting. Bahasa Indonesia yang baik dan benar sangat diperlukan agar dalam analisis
kimia dapat dipahami dan dan dimengerti maknanya, serta mengacu pada kemampuan
untuk mengorganisir ide-ide atau konsep-konsep untuk dikomunikasikan sehingga
terjalin interaksi antar ide yang berkesinambungan dan menghasilkan proses transfer
ilmu dan pengelolaan yang berjalan efektif dalam bidang kimia. Diantara fungsi-fungsi
EYD adalah sebagai berikut:
1. Pemersatu, pemakaian EYD dapat mempersatukan sekelompok orang menjadi satu
kesatuan masyarakat bahasa.
2. Pemberi kekhasan. Pemakaian EYD dapat menjadi pembeda dengan masyarakat
pemakai bahasa lainnya.
3. Pembawa

kewibawaan,

pemakainya.

pemakaian EYD dapat

memperlihatkan

kewibawaan

4. Kerangka acuan, EYD menjadi tolok ukur bagi benar tidaknya pemakaian bahasa
seseorang atau sekelompok orang.
Alat penyaring masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia.

C. Waktu Penggunaan EYD yang Tepat


Sebagai warga negara Indonesia yang baik, dituntut untuk dapat menggunakan
bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Begitu juga dalam kehidupan analisis kimia,
jika tidak menggunakan bahasa yang baik dan benar, maka akan terjadi suatu
kesalahpahaman dalam penerapan analisis kimia dan dapat menyebabkan suatu
kesalahan yang sangat fatal akibatnya. Baik dan benarnya bahasa ini diatur melalui
kaidah yang terdapat di dalam Ejaan yang Disempurnakan (EYD) sekaligus tata
bahasanya. EYD memberikan aturan-aturan dasar tentang bunyi kata, kalimat, dan
penggunaan tanda baca. Diantara waktu-waktu yang tepat untuk menggunakan EYD
adalah:
1. Saat membuat karya ilmiah, baik itu berupa essay, paper, proposal, laporan, tugas
akhir, skripsi, tesis maupun desertasi.
2. Saat berada dalam forum diskusi online yang formal.
3. Dalam penulisan surat kabar dan surat resmi.
4. Dalam penulisan buku baik berupa novel, biografi, maupun karya sastra lain.

D. Contoh Kata-Kata yang Sesuai Dengan EYD


Bahasa dalam karya tulis ilmiah, laporan penelitian, maupun forum resmi, harus
memilih ragam baku sebagai sarananya, benar kaidahnya, dan memenuhi ciri sebagai
ragam standar orang berpendidikan. Namun, pada kenyataannya masih banyak
ditemukan kesalahan dalam berbagai tataran bahasa, termasuk dalam penggunaan
Ejaan bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD). Oleh karena itu, penguasaan ejaan
mutlak diperlukan bagi seseorang yang berkecimpung dalam kegiatan ilmiah, seperti
dalam analisis kimia.
Saat ingin menerapkan penggunaan EYD pada suatu kata atau kalimat dalam
berbahasa hendaknya kita harus memahami cara-cara penulisaan yang baku dan sesuai

aturan tata bahasa. Berikut adalah sedikit uraian tentang pemakaian huruf yang tepat
dalam EYD.
1. Pemakaian huruf
Yang dimaksud dengan ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana
melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana antar hubungan antara pemisahan
maupun penggabungan. Dengan berlakunaya Ejaan yang Disempurnakan, terjadi
beberapa perubahan penulisan huruf. Perubahan tersebut antara lain:
a. Penulisan awalan di yang sebelumnya dirangkai dengan kata yang mengikutinya,
kemudian dipisahkan, contoh: di dapur, di sekolah, di taman.
b. Perubahan lambang-lambang bunyi huruf, yaitu:
1) dj berubah menjadi j
2) tj berubah menjadi c
3) nj berubah menjadi ny
4) oe berubah menjadi u
Penulisan huruf dalam EYD mendapatkan penjelasan untuk menciptakan
kesamaan dalam penulisannya.
2. Penulisaan huruf kapital
a. Huruf kapital ditulis pada awal kalimat dan awal kalimat yang merupakan
petikan langsung, contoh:
Bahasa adalah ibu dari segala ilmu.
Seseorang berkata, "Pengalaman adalah guru terbaik.
b. Huruf kapital digunakan untuk awal nama orang, gelar kehormatan yang diikuti
nama orang dan kata sebutan yang diikuti dengan nama orang. Contoh:
Profesor Hamidi bekerja di salah satu universitas swasta.
Pak Nando sedang melanjutkan studi S3.
c. Huruf kapital digunakan dalam hal-hal yang berkaitan dengan urusan agama,
seperti kitab suci, hari raya dan Tuhan, contoh:
Pada Fakultas Keagamaan diajarkan perbandingan agama sehingga mengenal
agama Islam, Hindu, Kristen, Buddha, maupun Yahudi.
d. Huruf kapital digunakan untuk menulis nama negara, bangsa, dan suku.
e. Huruf kapital digunakan untuk menyebut nama-nama hari, bulan tahun dan
peristiwa bersejarah contoh:

Tanggal 17 Agustus merupakan Hari Kemerdekaan bangsa Indonesia.


f. Huruf kapital digunakan untuk menyebut nama-nama letak geografis.
g. Huruf kapital digunakan dalam lambang pemerintahan.
h. Huruf kapital digunakan pada setiap kata dalam sebuah judul kecuali kata
sambung seperti: dan, yang, atau. Contoh:
Hidup Mulia atau Mati Syahid.
3. Huruf miring (italic)
Huruf miring digunakan untuk hal-hal berikut:
a. Penulisan judul buku dalam daftar pustaka, contoh:
Vogel, A. I. 1979. Textbook of Macro and Semimicro Qualitative Inorgnic
Analysis. London: Longman Group Limited.
b. Penegasaan dan pengkhususan huruf, kata atau kelompok kata.
c. Penulisan ilmiah atau asing yang belum diadopsi ke dalam bahasa Indonesia,
contohnya:
Nama ilmiah dari tanaman padi adalah Oryza Sativa.
Coliform adalah salah satu jenis bakteri phatogenic atau bakteri jahat dan
merugikan yang menjadi penyebab masalah penyakit pencernaan.

E. Tips Belajar EYD


Yang dapat dilakukan oleh seseorang untuk meningkatkan kemampuannya
dalam berbahasa, terutama bagian tulis-menulis yang berkaitan dengan EYD adalah
dengan memperbanyak membaca karya-karya tulis ilmiah dan surat kabar, juga dengan
lebih banyak dan sering berlatih menulis baik karya ilmiah maupun non ilmiah agar
nantinya kemampuannya menggunakan EYD semakin baik.

III. DAFTAR PUSTAKA


Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia. 2013. Materi Kuliah Mata Kuliah Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen
Dikti Kemdikbud RI.
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.2008. Kamus Besar
Bahasa Indonesia Daring. <badanbahasa.kemdikbud.co.id/kbbi/, dilihat pada
17 Maret 2016 pukul 09:37 WIB>