Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH AKHIR

GLOBALISASI DAN REGIONALISME DALAM EKONOMI

Inequality of Trade-Related Aspect of Intellectual Property


Rights (TRIPs) Agreement at WTO
Studi Kasus terhadap Ketidakadilan dari Globalisasi Pemberian Hak Paten di
Sektor Obat-Obatan dalam Perjanjian TRIPs serta Penyebab Ketidakadilan
Tersebut berdasarkan Teori Pertarungan Kekuasaan Waltz-Gilpin

Disusun oleh:
Erika
0706291243
Jurusan Hubungan Internasional

DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS INDONESIA
2010

Page | 0
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dewasa ini, berbagai perubahan teknologi dan perubahan ekonomi yang terjadi akibat masifnya
globalisasi telah menyebabkan berbagai perubahan dalam hubungan perdagangan antar negara. Salah satu
perubahan yang cukup signifikan terjadi adalah perubahan dalam sektor kekayaan intelektual. Jika
sebelumnya masalah hak kekayaan intelektual (Intellectual Property Rights/IPR, HAKI dalam bahasa
Indonesia) hanya terbatas diatur dalam ruang perpustakaan, kini sektor tersebut mulai mendapat perhatian
dalam berbagai jurnal kebijakan internasional.1
Hubungan antara kepemilikan HAKI dan investasi, perdagangan internasional, transfer teknologi,
inovasi dan pertumbuhan ekonomi telah menjadi isu penting yang kontroversial, terutama bagi negara
berkembang. Negara berkembang melihat perjanjian Trade-Related Aspects of Intelectual Property Rights
(TRIPs) yang diatur dalam World Trade Organizations (WTO) sebagai bentuk proteksionisme teknologi dari
negara-negara industri maju yang memanfaatkan posisi negara berkembang sebagai pasar dari produk buatan
mereka.2 Hal ini sangat terasa pada sektor farmasi (pharmaceutical), di mana pemberian hak paten bagi
industri-industri farmasi di negara maju kemudian menyebabkan tingginya harga berbagai obat-obatan
penyelamat nyawa (life-saving medicines). Hal ini diperparah dengan fakta banyaknya penyakit yang
menjangkiti negara berkembang, salah satunya yang paling parah adalah HIV/AIDS di Benua Afrika.
Adanya dominasi monopoli pada industri farmasi negara maju, yang dikekalkan dalam perjanjian
TRIPS, menimbulkan pergolakan besar dalam WTO. Negara-negara berkembang dan berbagai aktifis
kemudian menuntut WTO untuk melakukan perubahan dalam perjanijan TRIPS. Amandemen pun diberikan
pada Desember 2002, di mana perjanjian TRIPS kemudian mengatur mengenai pemberian compulsory
licences pada negara yang tidak memiliki kapabilitas manufaktur cukup untuk memproduksi obat-obatan
yang krusial bagi negara tersebut. Akan tetapi, pemberian compulsory licences ini ternyata tidak lantas
menyelesaikan permasalahan yang timbul. Berbagai pertentangan terus muncul antara negara maju yang
dengan gigih mempertahankan kepemilikan hak patennya dan negara berkembang yang juga gigih
memperjuangkan nasib kesehatan rakyatnya. Makalah ini kemudian akan membahas mengenai implementasi
dan permasalahan dari perjanjian TRIPS yang muncul pada sektor kesehatan di negara-negara berkembang,
serta kemudian menganalisa mengapa hal tersebut dapat terjadi.

1.2. Pertanyaan Permasalahan

1
Anna Lanoszka, “The Global Politics of Intellectual Property Rights and Pharmaceutical Drug Policies in Developing Countries”, dalam
International Political Science Review/Revue Internationale de Science Politique, Vol. 24, No. 2, The Politics of Health Policies/La politique
des politique de santé. (Apr., 2003), h. 181.
2
Carlos M. Correa, Intellectual Property Rights, The WTO and Developing Countries: The TRIPS Agreement and Policy Options. (Penang,
Malaysia: Third World Network, 2000), h. 5.
Page | 1
Makalah ini akan mencoba menjawab pertanyaan: Mengapa ketidakadilan pada perjanjian
Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) dalam WTO, yang lantas berdampak
pada buruknya akses obat-obatan krusial pada negara berkembang dapat terjadi?

1.3. Kerangka Teori : Pertarungan Kekuasaan dalam Sistem Internasional (Great Power Struggle in
International System)
Berbicara mengenai sistem internasional berarti berbicara tentang transisi dan pertarungan antar
great powers di dalamnya. Asumsi ini senada dengan anggapan kaum neorealis yang melihat sistem
internasional sebagai suatu kondisi anarki, di mana negara akan senantiasa mencari kekayaan dan kekuasaan
di dalamnya. Dalam kacamata Waltz, logika anarki ini akan selalu hadir karena tidak adanya otoritas lebih
tinggi yang dapat menjamin terciptanya keseimbangan, sehingga negara akan terpaksa
mengimplementasikan self-help system di dalam sistem internasional. Menurut Waltz dan kaum neorealis
lainnya, dalam sebuah struktur politik terdapat tiga elemen utama yaitu ordering principle (anarki atau
hirarkis), karakter dari unit tersebut (functionally alike atau differentiated) dan distribusi kapabilitas; di mana
elemen pertama dan kedua akan cenderung konstan, sementara elemen ketiga merupakan satu-satunya
3
variabel struktural yang menentukan sebuah struktur dalam sistem politik internasional.
Senada dengan pandangan Waltz, Robert Gilpin melihat negara sebagai self-regarding entities
dalam sebuah realm anarki internasional. Menurut Gilpin, hubungan internasional akan senantiasa menjadi
sebuah arena perjuangan bagi negara sebagai aktor independen dalam sebuah sistem dunia yang anarki untuk
mendapatkan kekayaan dan kekuasaan.4 Lebih lanjut lagi, menurut Gilpin, adanya perjuangan kekuasaan di
antara negara-negara berkuasa pada akhirnya akan melahirkan sebuah pergantian kekuasaan 5, di mana
negara yang adaptif dan memiliki elemen inovasi teknologi, faktor sosial internal yang mendukung, serta
kondisi militer yang kuat akan memiliki high domestic agential power yang dapat digunakan untuk
memperoleh noteworthy place dalam sistem internasional.6 Poin penting yang disampaikan Gilpin adalah
bahwa kemampuan sebuah negara—melalui high domestic agential power yang dimilikinya—untuk
melakukan adaptasi dalam bentuk ekonomi, fiskal, sosial dan militer akan memungkinkan negara tersebut
untuk menguasai struktur dari sistem internasional dan kemudian mempertahankan kekuasannya. Sebuah
pergantian kekuasaan dalam sistem internasional akan sangat bergantung pada adaptabilitas dari negara
lawan (rival states) untuk melakukan sebuah perjuangan kekuasaan dalam sistem internasional. Sistem
internasional, karenanya, akan senantiasa menggambarkan sebuah perjuangan kekuasaan antar
negara-negara yang terlibat di dalamnya.

3
Colin Elman, “Realism”, dalam Marthin Griffiths (ed), International Theory for the Twenty-First Century, (New York:
Routledge, 2007), h.19.
4
Alexander Wendt, Social Theory of International Politics, (Cambridge: Cambridge University Press, 2003), h. 97.
5
Colin Elman, op.cit., pg. 15
6
John M. Hobson, The State and International Relations, (Cambridge : Cambridge University Press, 2003), h. 33-35.
Page | 2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Perjanijan Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs)


Perjanjian Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) merupakan salah satu pilar
perjanjian dalam WTO yang dihasilkan dalam Uruguay Round, bersamaan dengan pembentukan WTO pada
1995, di mana pilar yang lainnya adalah mengenai perdagangan barang dan perdagangan jasa. Pengakuan
pada perjanjian TRIPs merupakan keharusan bagi semua negara anggota WTO, dan implementasi perjanjian
TRIPs akan diawasi oleh WTO Dispute Setlement Mechanism.7 Sejalan dengan WTO, perjanjian TRIPs
mengakuisisi prinsip non-diskriminasi (melalui pemberian status most-favoured nation dan national
treatment sama pada seluruh negara anggota) dan transparansi. Sebagai salah satu komponen dalam rejim
kekayaan intelektual dunia, TRIPs disebut-sebut merupakan “pemimpin dalam proteksi HAKI kontemporer
yang standarnya telah diakui dalam sejumlah perjanjian bilateral, yang pada akhirnya akan menentukan
peraturan HAKI nasional di seluruh dunia”.8 Perjanjian TRIPs resmi dilaksanakan sejak 1 Januari 1995, di
mana implementasi di negara-negara industri maju anggota WTO dimulai sejak Januari 1996, sementara
negara berkembang baru mengimplementasikannya empat tahun setelahnya.
Perjanjian TRIPs mengatur pemberian HAKI pada tujuh sektor.9 Copyrights melindungi karya
original dalam hal penulisan. Trademarks adalah kata-kata, tanda, atau simbol yang mengidentifikasikan
produk atau perusahaan tertentu. Geographical indications mengidentifikasikan produk yang menjadi
kekhasan suatu kota atau wilayah, seperi misalnya wines. Industrial designs melindungan fitur-fitur ornamen
pada produk konsumer seperti sepatu atau mobil. Patents adalah gelar legar yang diberikan pada pemilik
dari sebuah hak untuk menghasilkan kegunaan komersial dari sebuah penemuan. Layout designs pada sirkuit
terintegrasi digunakan untuk melindungi produser semikonduktor tertentu, serta yang terakhir trade secrets
melindungi pemberian informasi confidential dalam sektor bisnis. Dari ketujuh sektor perlindungan HAKI
tersebut, sektor paten-lah yang paling banyak mendapat sorotan, terutama oleh negara-negara berkembang.
Pemberian paten pada industri-industri farmasi di negara maju lantas menyebabkan harga jual produk
obat-obatan tertentu melambung tinggi. Negara berkembang jelas mengalami kesulitan untuk mengakses
obat-obatan ini. Padahal, negara berkembang merupakan wilayah paling rawan bagi berkembangnya
penyakit-penyakit pandemik berbahaya seperti HIV/AIDS. Perdebatan seputar perjanjian TRIPs terus lahir.
Untuk mengakuisisi kepentingan negara berkembang dalam sektor kesehatan, WTO kemudian melakukan
amandemen pada perjanjian TRIPs pada Desember 2002 melalui pemberian aturan compulsory licences,
yang akan dijelaskan pada sub-bab berikutnya.

7
Ringkasan dan artikel lengkap mengenai perjanjian TRIPs dapat dilihat dalam http://www.wto.org/english/docs_e/legal_e/27-trips_01_e.htm.
8
Thomas Cottier, “The Impact of the TRIPs Agreement on Private Practice and Litigation”, dalam James Cameron dan Karen Campbell (eds.),
Dispute Resolution in the WTO. (London: Cameron May, 1998).
9
Keith E. Maskus, Intellectual Property Rights in the Global Economy. (Washington: Institute for International Economics, 2000), h. 17-23.
Page | 3
2.2. Masalah yang Timbul Akibat Perjanjian TRIPs
Sejak perjanjian TRIPs resmi dilaksanakan, protes dari negara berkembang terus muncul. Pada
umumnya, protes ini berkisar pada monopolisasi kekayaan properti yang terus tumbuh pada tangan pihak
berkuasa. Monopolisasi ini terutama terjadi pada sektor obat-obatan, di mana pemberian paten pada industri
farmasi negara maju menimbulkan kesulitan akses negara berkembang pada obat-obatan tertentu. Kesulitan
akses tersebut terjadi karena industri farmasi negara maju pemegang paten kemudian dapat menerapkan
restriktif pemberian lisensi dan pengaturan kontrol vertikal melalui outlet-outlet distribusi yang mencegah
terjadinya kompetisi produk.10 Tidak hanya itu, industri farmasi negara maju juga seringkali melakukan
diskriminasi harga pada perusahaan lokal.
Hubungan antara pemberian paten pada industri farmasi negara maju dan akibatnya pada kesulitan
akses obat-obatan bagi negara berkembang nyata tergambar pada sengketa yang muncul antara pemerintah
Afrika Selatan dan 39 industri farmasi terkemuka dunia. Di Afrika Selatan, terdapat lebih dari 200.000 orang
penderita HIV/AIDS yang mengalami kesulitan mengakses obat-obatan dikarenakan tingginya harga
obat-obatan tersebut. 11 Jika dijumlahkan, total harga obat-obatan HIV/AIDS untuk seorang penderita
HIV/AIDS di Afrika Selatan bahkan mencapai US$12.000 per tahunnya, sementara pendapatan nasional
rata-rata penduduk Afrika Selatan bahkan tidak mencapai US$3.000. 12 Mahalnya harga pengobatan
HIV/AIDS di Afrika Selatan ini kemudian mendorong pemerintah Afrika Selatan untuk mengeluarkan
Undang-Undang Amandemen Pengobatan 1997 13 (1997 Medicines Amendment Act) yang mengijinkan
terlaksananya dua praktik kontroversial. Pertama, UU ini mengatur tentang parallel importing, yang
mengijinkan dilakukannya impor obat-obatan dari sumber termurah internasional, dengan tidak melihat
apakah industri pemegang paten memberikan persetujuan pada sumber tersebut atau tidak. Praktik kedua
adalah tentang compulsory licensing, di mana pemerintah Afrika Selatan kemudian memberikan ijin bagi
perusahaan lokal untuk memproduksi sendiri obat-obatan yang hak patennya dipegang oleh perusahaan
asing dengan harga yang lebih murah melalui pembuatan obat generik.14
Undang-Undang ini kemudian mendapat reaksi negatif dari berbagai pihak yang merasa dirinya
dirugikan oleh UU tersebut. Pada Februari 1998, gabungan dari 40 industri farmasi yang dipimpin oleh
South African Pharmaceutical Manufacturers Association—koalisi 39 perusahaan obat-obatan terbesar
dunia—mengajukan tuntutan 15 dan mengklaim UU tersebut melanggar perjanjian TRIPs. Lebih lanjut
lagi,mereka mengatakan UU tersebut unkonstitusional sebab UU tersebut memberi kekuatan pada Menteri

10
Anna Lanoszka, op. cit., h. 190.
11
Tshimanga Kongolo, "Public Interest Versus the Pharmaceutical Industry's Monopoly in South Africa", dalam Journal of World Intellectual
Property, No. 4, 2001, h. 609-627.
12
Anna Lanoszka, loc.cit.
13
Medicines and Related Substance Control Amendment Act, No. 90 of 1997, 15C, amandemen pada Medicines and Related Substance Control
Act of 1965, dapat diakses secara online melalui http://www.polity.org.za/govdocs/legislation/1997/act90.pdf.
14
Anna Lanoszka, op. cit., h. 191.
15
René Loewenson, “Essential Drugs in Southern Africa Need Protection from Public Health Safeguards under TRIPs”, dalam Bridges Between
Trade & Sustainable Development (Sept. 2000), dapat diakses secara online melalui http://www.ictsd.org/html/ arct_sd.htm.
Page | 4
Kesehatan Afrika Selatan untuk melanggar patent laws yang berlaku di Afrika Selatan.16 Tuntutan yang
diajukan perusahaan-perusahaan obat ini melahirkan kemarahan pada diri aktivis, ratusan NGO, dan
berbagai kelompok kepentingan tidak hanya di Afrika Selatan, tapi juga di seluruh dunia. Tekanan global
pun muncul. Berbagai kecaman internasional dan kampanye untuk mendukung terciptanya kesehatan publik
di Afrika Selatan yang terjadi kemudian memaksa perusahaan-perusahaan obat tersebut membatalkan
tuntutannya pada 19 April 2001.17
Masalah yang terjadi di Afrika Selatan ini kemudian membuka mata dunia akan masalah akses
obat-obatan krusial yang muncul di negara berkembang akibat pemberian paten pada industri-industri
farmasi. Kritik mulai muncul seputar apakah perlindungan kekayaan intelektual dapat dijustifikasi bila
perlindungan tersebut mengerosi hak absolut seseorang untuk kesehatan. Beberapa pihak juga meragukan
apakah pemberian hak paten tersebut dapat menstimulasi terjadinya inovasi seperti yang selama ini
digaungkan oleh negara-negara maju pengusul perjanjian TRIPs. Bahkan surat kabar terkemuka seperti The
Economist yang pro-perdagangan bebas mengatakan “tough as it is today to get cheap drugs to the poor, it is
likely yo get tougher still in the future”, The Economist juga mengakui bahwa hak paten yang diberikan
malah berpotensi menghancurkan daripada menstimulasi inovasi.18 Lebih lanjut lagi, perusahaan farmasi
seringkali tidak tertarik untuk memberikan investasi dan mengembangkan penelitian pada obat-obatan yang
bertujuan untuk mengobati penyakit-penyakit di negara berkembang—penyakit tropik seperti malaria,
misalnya—yang relatif tidak memberikan keuntungan bagi mereka.19 Pencapaian hak untuk kesehatan bagi
setiap negara dunia, karenanya, sepertinya masih sulit dilaksanakan jika sistem pemberian paten tetap seperti
sekarang.

2.3. Amandemen Perjanjian TRIPs mengenai Pemberian Compulsory Licences dan Perdebatannya
Seperti yang telah dijelaskan pada sub-bab sebelumnya, kasus kesulitan akses obat-obatan
HIV/AIDS di Afrika Selatan kemudian melahirkan perdebatan di tingkat internasional. Aktivis seluruh dunia
yang tergabung dalam berbagai NGO seperti Oxfam dan NGO peraih Nobel Prize, Medecins Sans Frontieres
(MSF) kemudian mempertanyakan konsekuensi dari institusionalisasi global pada pemberian paten di sektor
farmasi.20 Baik Oxfam dan MSF menilai pemberian paten ini malah melahirkan ancaman bagi sektor
kesehatan di negara-negara miskin dunia. Kelompok ini kemudian mendorong negara berkembang untuk
memproduksi atau mengimpor obat-obatan generik, bahkan bila hal tersebut melanggar “hak” dari si pemilik
paten. Pada Febuari 2001, dalam laporan resminya, Oxfam menyatakan akan melakukan kampanye
internasional demi menuntut pemotongan biaya obat-obatan bagi negara miskin, sekaligus menyerukan pada

16
Tshimanga Kongolo, loc. cit.
17
Anna Lanoszka, op. cit., h. 192.
18
The Economist, “Who Owns the Knowledge Economy?”, dalam The Economist, edisi 8 April 2000.
19
Caroline Dommen, op. cit., h. 28.
20
Anna Lanoszka, op. cit., h. 191.
Page | 5
WTO untuk mengubah peraturan patennya yang merestriksi akses pada life-saving drugs.21 Oxfam juga
menyerukan pada pemerintah AS dan perusahaan-perusahaan farmasi dunia untuk membatalkan tuntutan
mereka pada negara yang memproduksi obat-obatan generik lebih murah. Berbagai negara berkembang
seperti India juga menuntut terjadinya diskusi lebih lanjut guna membahas perjanjian TRIPs dengan
berfokus pada Artikel 7 dan 8, agar perjanjian TRIPs dapat lebih memperhatikan dampak sosial, ekonomi,
dan kesejahteraan pada negara-negara anggota WTO.22
Didorong oleh berbagai kritik dari negara berkembang dan NGO internasional mengenai pemberian
paten pada industri farmasi dan dampaknya pada sulitnya akses bagi negara berkembang pada obat-obatan
krusial, WTO pun kemudian melakukan amandemen pada perjanjian TRIPs. Amandemen ini dilakukan
melalui pemberian compulsory licences pada Desember 2002. Pasal pemberian compulsory licences ini
diatur dalam Paragraf 6 Deklarasi WTO’s Council on TRIPs, di mana paragraf ini menformulasikan
pemberian compulsory licensing bagi negara yang tidak memiliki kapabilitas manufaktur yang cukup untuk
memproduksi obat-obatan tertentu. Compulsory licences ini dikeluarkan oleh pemerintah untuk
mengotorisasikan produksi sebuah produk yang telah dipatenkan oleh pihak domestik selain pemegang
paten.23 Lebih lanjut lagi, artikel 31 dalam perjanjian TRIPs membatasi pemberian lisensi ini hanya pada
kasus di mana suatu negara sedang berada dalam kondisi urgensi nasional darurat (extreme urgency or
national urgency), untuk kepentingan yang non-komersial dan terbatas hanya untuk pasar domestik.24
Usul pemberian compulsory licences dalam perjanjian TRIPs sebenarnya pertama kali diajukan oleh
TRIPs Council Chairman, Eduardo Perez Motta pada 2002, di mana pada awalnya usul ini disambut baik
oleh seluruh negara anggota WTO selain Amerika Serikat yang memblok usulan ini pada Desember 2002,
dikarenakan kekhawatiran akan disalahgunakannya sistem tersebut dan dampaknya pada industri farmasi
AS.25 Usulan Motta ini kemudian ditindaklanjuti pada pertemuan TRIPs 30 Agustus 200326, di mana ketika
itu dihasilkan Artikel 31(f) pada perjanjian TRIPs 1994, yang membatasi pemberian compulsory licences
hanya pada pasar domestik untuk negara yang tidak memiliki kapabilitas manufaktur yang cukup dalam
memproduksi obat-obatan tertentu. Amandemen ini merupakan angin segar bagi negara-negara berkembang.
Adanya pemberian ijin compulsory licenses diharapkan dapat mengatasi masalah akses obat-obatan krusial
di negara berkembang yang disebabkan karena adanya pemberian paten bagi industri farmasi negara maju.

2.4. Permasalahan dalam Perjanjian TRIPs di WTO


Walaupun telah mengalami amandemen mengenai pasal compulsory licenses, ternyata perjanjian

21
Ibid.
22
“WTO Logjammed Over TRIPs”, dalam Bridges Weekly Trade News Dig, 26 Sept. 2000. Dapat diakses secara online melalui
http://www.newsbulletin.org.
23
Ian F. Fergusson, “The WTO, Intellectual Property Rights, and the Access to Medicines Controversy”, http://www.fas.org/sgp/crs/
misc/RL33750.pdf, diakses pada 11 Mei 2010, pukul 09.16.
24
Ibid.
25
Ian F. Fergusson, loc.cit.
26
Council for TRIPS, “Implementation of Paragraph 6 of the Doha Declaration on the TRIPS Agreement and Public Health” ,
http://www.wto.org/english/news_e/pres03_e/pr350_e.htm.
Page | 6
TRIPs yang ada tetap tidak dapat menyelesaikan masalah akses obat-obatan krusial pada negara berkembang.
Ian F. Fergusson, seorang spesialis dalam perdagangan internasional mengatakan bahwa sistem compulsory
licensing ternyata hanya memberikan modest effect bagi ketersediaan obat-obatan di negara berkembang.27
Menurut trade negotiator Uni Eropa, Pascal Lamy, apa yang dilakukan WTO tersebut hanya menyelesaikan
10% dari seluruh permasalahan akses obat-obatan di negara berkembang. 28 Hal ini membuktikan,
amandemen yang terjadi tidak lantas menyelesaikan permasalahan pada akses obat-obatan negara
berkembang. Permasalahan yang sebenarnya, menurut penulis, terjadi pada struktur dan pasal-pasal dari
perjanjian TRIPs itu sendiri.

2.4.1. Keberpihakan Panel Dispute Settlement Mechanism (DSM) pada Pemilik Paten
Telah disebutkan sebelumnya bahwa pelaksanaan perjanjian TRIPs diatur dalam WTO Dispute
Settlement Mechanism (DSM), sehingga setiap pelanggaran yang dilaporkan terjadi sehubungan dengan
perjanjian TRIPs akan diselesaikan oleh panel DSM. Sayangnya, dalam beberapa kasus yang telah diajukan,
seringkali panel DSM ini lebih condong pada sisi pemegang paten. Contoh yang terjadi adalah kasus
obat-obatan generik Kanada di mana ketika itu Kanada mendapat tuntutan dari European Community karena
memproduksi obat-obatan generik untuk dijual secara domestik. Pada kasus ini, panel DSM seperti
mengacuhkan Artikel 8 yang mengatakan bahwa negara anggota WTO wajib “... melakukan upaya untuk
melindungi kesehatan publik dan nutrisi, dan mempromosikan kepentingan publik pada sektor-sektor vital
bagi pembangunan teknologi dan sosial-ekonomi”29 serta Artikel 27 yang mengatakan bahwa “... eksklusi
sebuah paten dapat dilakukan untuk melindungi kehidupan manusia, hewan atau tumbuhan, atau kesehatan,
atau menghindari bahaya tertentu bagi lingkungan”.30Panel DSM seperti menginterpretasikan perjanjian
TRIPs hanya dari perspektif pemilik kekayaan intelektual dan mengacuhkan segala kepentingan sosial yang
terganggu akibat kepemilikan paten tersebut.31

2.4.2. Dominasi Negara-Negara Maju, terutama Amerika Serikat dalam Lobbying di WTO
Ketidakadilan dalam perjanjian TRIPs di WTO juga antara lain disebabkan karena dominasi
Amerika Serikat (AS) dan negara-negara maju lainnya dalam setiap negosiasi dan pertemuan pembuatan
peraturan dalam perjanjian TRIPs. Tidak dapat disangkal bahwa AS memang dominan dalam setiap
negosiasi di WTO. Dominasi ini menyebabkan setiap peraturan yang dikeluarkan WTO dalam perjanjian
TRIPs seringkali mencerminkan kepentingan dari AS sendiri. AS juga senantiasa berusaha untuk
memberikan batasan-batasan tertentu dalam setiap perjanjian TRIPs, agar isi dari pasal-pasal perjanjian

27
Ian F. Gergusson, loc. cit.
28
Scott Miller, “WTO Drug Pact Lifts Trade Talks”, dalam Wall Street Journal, September 2, 2003.
29
Lihat Agreement On Trade-Related Intellectual Property Rights, dapat diakses secara online melalui http:// www.wto.org/english/docs_e/
legal_e/ursum_e.htm#Agreement.
30
Ibid.
31
Robert Howse, “The Canadian Generic Medicine Panel: A Dangerous Precedent in Dangerous Times”, dalam Bridges Between Trade and
Sustainable Development (April 2000).
Page | 7
TRIPs tidak akan terlalu memberatkan dan merugikan industri-industri farmasinya. Hal ini sangat nyata
dalam peraturan mengenai eligible countries dalam amandemen TRIPs tentang pemberian compulsory
licenses. Ketika itu, AS aktif melakukan lobbying untuk memperketat syarat pemberian compulsory licenses.
AS, awalnya, memaksa negara-negara WTO untuk membuat semacam mekanisme pengawasan formal untuk
menilai eligibilitas negara berkembang, apakah ia benar-benar layak untuk mendapatkan ijin pemberian
compulsory licensing atau tidak.32 Akan tetapi akhirnya lobbying AS ini tidak berhasil, sehingga mekanisme
pengawasan formal ini tidak dimasukkan dalam perjanjian TRIPs. 33 Ketidakberhasilan ini tidak lantas
membuat AS putus asa, AS pun lantas melobi berbagai negara berkembang yang lebih advanced. Lobi yang
dilancarkan AS inilah yang membuat negara-negara seperti Israel, Korea, Kuwait, China, Meksiko, Qatar,
Singapore, Taiwan, Turkey dan Uni Emirat Arab sejak awal sudah menyatakan mereka hanya akan meminta
compulsory licenses pada situasi extreme urgency.34 Hal ini merefleksikan usaha AS untuk membujuk dan
mengendalikan pengeluaran compulsory licensing waiver dalam perjanjian TRIPs. 35 Adanya dominasi
negara-negara maju, terutama AS, dalam proses lobbying di WTO, pada akhirnya, menimbulkan adanya
inequality dalam WTO itu sendiri. Perjanjian-perjanjian WTO, karenanya, seringkali merupakan cerminan
dari kepentingan negara-negara maju.

2.4.3. Pasal-Pasal Amandemen TRIPs Membatasi Negara Berkembang


Berkaitan dengan didominasinya negosiasi pada tahapan pembuatan kebijakan di WTO oleh
negara-negara maju, penulis menemukan bahwa pasal-pasal dalam perjanjian TRIPs seringkali didesain
sedemikian rupa untuk membatasi tingkah laku negara berkembang. Hal ini nyata terasa dalam pasal-pasal
amandemen TRIPs tentang pemberian compulsory licenses, terutama pada isu safeguards dan notificications.
Pada isu safeguards, AS menyarankan obat-obatan generik yang diproduksi negara berkembang melalui
pemberian compulsory licensing dibedakan secara fisik dari obat-obatan yang diproduksi industri farmasi
pemegang paten, misalnya melalui packaging, warna, dan bentuk yang berbeda. Langkah ini diambil untuk
membedakan produk obat-obatan hasil pemberian compulsory licenses dengan produk asli buatan industri
pemegang paten. Usulan AS ini kemudian disetujui oleh WTO melalui amandemen perjanjian TRIPs. AS
mengatakan, packaging dan karakteristik yang berbeda merupakan hal yang feasible untuk dilakukan karena
tidak mempunyai dampak yang signifikan pada harga obat-obatan tersebut.36
Sekilas terlihat tidak ada yang salah dengan aturan ini. Akan tetapi ternyata dalam implementasinya,
hal ini sangat sulit dilaksanakan di negara berkembang. Hal tersebut dikarenakan, negara berkembang
seringkali tidak memiliki kapabilitas manufaktur yang cukup untuk memproduksi obat-obatan tersebut
sehingga mereka seringkali harus meminta bantuan dari negara ketiga (negara selain pemegang paten) untuk

32
Ian F. Fergusson, loc. cit.
33
“U.S. Pushes for System to Review TRIPS Compulsory License Requests,” Inside U.S. Trade, 8 Agustus 2003.
34
Ian F. Fergusson, loc. cit.
35
“WTO Chair Menon Pushes to Finalize Agreement on TRIPS- Essential Drugs,” International Trade Reporter, 21 Agustus 2003.
36
“U.S. Sets New Condition for TRIPS Deal While Showing Flexibility,” Inside U.S. Trade, 22 Agustus 2003.
Page | 8
memproduksi obat-obatan tersebut dengan harga yang lebih murah. Produksi obat-obatan generik di negara
ketiga memanglah diatur dalam perjanjian TRIPs, sehingga hal tersebut tentunya tidak memberatkan bagi
negara ketiga. Akan tetapi, keharusan adanya packaging dan karakteristik yang berbeda tentunya
memberikan beban tersendiri bagi negara ketiga karena negara ketiga tidak memiliki insentif apa-apa untuk
melakukan hal ini.37 Restriksi packaging dan karakteristik yang berbeda menyulitkan produsen obat generik
di negara ketiga karena berarti mereka harus menanggung biaya packaging tersebut sendiri. Hal ini
menyebabkan, walaupun amandemen perjanjian TRIPs telah dilakukan, obat-obatan generik tersebut tetap
tidak sampai pada negara-negara berkembang yang membutuhkan.
Isu kedua yang juga menjadi masalah adalah isu notifications. Amandemen perjanjian TRIPs
mengharuskan setiap pihak yang terlibat dalam pemberian compulsory licensing untuk melaporkan berbagai
informasi yang diperlukan. Negara importir, misalnya, diwajibkan untuk terlebih dahulu memberi informasi
tentang kapabilitas manufakturnya untuk membuktikan bahwa dirinya tidak sanggup memproduksi
obat-obatan tersebut sendiri; negara importir juga wajib memberikan jenis obat-obatan yang ia butuhkan dan
surat konfirmasi bahwa ia telah memperoleh ijin dari pemilik paten yang bersangkutan untuk memperoleh
obat-obatan dari negara ketiga.38 Di sisi lain, negara eksportir—dalam hal ini negara ketiga—juga wajib
melaporkan nama dan alamat perusahaan produsen obat, informasi seputar compulsory licensing yang ia
terima, kuantitas obat-obatan yang akan diproduksi, negara tujuan impor obat, dan jangka waktu penerimaan
lisensi. Aturan yang sulit dalam hal notifications ini kemudian menyebabkan hingga saat ini, tidak ada satu
negara pun—baik eksportir maupun importir—yang menggunakan sistem compulsory licensing ini. 39
Mengenai hal ini, para aktivis AIDS dan NGO-NGO internasional mengatakan bahwa dampak dari restriksi
ini sebenarnya sudah diprediksi oleh negara maju. Seorang aktivis mengatakan bahwa restriksi seperti
special packaging dan notification requirements menghasilkan “a watertight system so that no generic drugs
ever get through to the patients in developing countries who desperately need them”. 40 Mekanisme
compulsory licensing yang ada, karenanya, tetap tidak menyelesaikan permasalahan yang timbul seputar
akses obat-obatan di negara berkembang akibat pemberian paten bagi industri farmasi di negara maju.

2.5. Analisa
Berdasarkan berbagai faktor yang disebutkan di sub-bab sebelumnya, dapat dilihat bahwa
sebenarnya perjanjian TRIPs dalam WTO merupakan perjanjian yang tidak adil karena cenderung
merugikan negara berkembang. Sejak awal pembuatannya, perjanjian TRIPs sudah condong pada
kepentingan negara maju. Hal tersebut dikarenakan negara-negara industri maju, terutama AS, memang
dominan dalam pembentukan perjanjian ini. Perjanjian TRIPs, karenanya, terus mendapat kritik dari para

37
“Integrating Intellectual Property and Development Policy”, UK Commission on Intellectual Property (CIPR), September 2002, h. 45-46.
38
Ian F. Fergusson, loc. cit.
39
Inside U.S. Trade, 8 Agustus 2003, loc. cit.
40
Medecins Sans Frontieres News Release, 25 Agustus 2003. Dapat diakses secara online melalui http://www.msf.org/content/page.cfm?
articleid=E05CFA2B-B49D-4CED-8EA32C8A0588D147.
Page | 9
aktivis yang tergabung dalam berbagai NGO internasional dan dari pemerintah negara berkembang. Mereka
semua menuntut dilakukannya amandemen pada perjanjian TRIPs karena pemberian paten pada industri
farmasi ternyata mendatangkan dampak berupa semakin sulitnya negara berkembang mengakses obat-obatan
yang krusial bagi mereka. Perjuangan negara berkembang dan NGO internasional ini mendatangkan hasil,
lobi dan kritik yang terus mereka sampaikan akhirnya diakomodasi oleh WTO dalam bentuk amandemen
tentang pasal pemberian compulsory licenses. Akan tetapi dalam implementasinya, ternyata dikeluarkannya
amandemen ini tidak lantas menyelesaikan permasalahan akses obat-obatan di negara berkembang. Setelah
dianalisa lebih lanjut, ternyata untuk dapat mengajukan permintaan compulsory licenses, banyak
tahapan-tahapan yang harus dilalui negara berkembang. Semua tahapan-tahapan tersebut seperti
memberatkan dan membatasi negara berkembang. Tidak hanya itu, implementasi compulsory licensing juga
semakin berat dilakukan karena panel Dispute Settlement Mechanism WTO masih lebih memprioritaskan
pemegang paten dibanding kepentingan negara berkembang. Negara berkembang di sini jelas berada pada
posisi yang dirugikan; tidak hanya lemah secara negosiasi, tapi pasal-pasal dan struktur yang ada juga seperti
membatasi gerak-gerik mereka.
Jika mau ditilik lebih lanjut, apa yang terjadi dalam perjanjian TRIPs dalam WTO ini persis seperti
apa yang digambarkan Gilpin dan Waltz dalam sub-bab sebelumnya, yaitu bahwa sistem internasional
sesungguhnya merupakan sebuah sistem perjuangan kekuasaan dari negara-negara yang terlibat di dalamnya.
Di dalam WTO, terjadi sebuah distribusi kapabilitas yang tidak merata, yang didominasi oleh negara maju
seperti AS dan elemen-elemen domestik kuat di dalamnya (seperti industri farmasi AS) yang lantas
memungkinkan AS untuk menguasai dan mendominasi struktur dari sebuah sistem internasional. Akan tetapi
bukan berarti negara berkembang lantas tidak melakukan apa-apa untuk melakukan perubahan kekuasaan.
Seperti yang dikatakan Gilpin dan Waltz, perjuangan kekuasaan juga dilakukan oleh rival states. Hal ini jelas
tergambar melalui kritik yang disampaikan negara berkembang, yang dibantu oleh aktivis dan NGO-NGO
internasional, yang lantas berhasil menghasilkan amandemen pada perjanjian TRIPs. Akan tetapi, ternyata
perjuangan kekuasaan yang dilakukan negara berkembang itu tidak cukup kuat untuk merevolusi struktur
kekuasaan di WTO. Dominasi negara maju, terutama AS, masih sangat terasa dalam perjanjian TRIPs. Hal
inilah yang menyebabkan permasalahan buruknya akses obat-obatan bagi negara berkembang karena
pemberian hak paten pada industri farmasi negara maju, tampaknya masih akan sulit diselesaikan di masa
depan.

Page | 10
BAB III
KESIMPULAN

Globalisasi yang terjadi pada pemberian hak paten di sektor obat-obatan melalui perjanjian
Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) di WTO telah melahirkan perdebatan dan
kritik sengit dari negara berkembang. Adanya perjanjian tersebut disinyalir ikut berdampak pada makin
sulitnya akses obat-obatan krusial di negara berkembang, sebab kepemilikan hak paten melahirkan sebuah
monopolisasi dan kebebasan bagi industri farmasi negara maju untuk menaikkan harga obat-obatan yang
mereka produksi. Tingginya harga obat-obatan membuat masyarakat miskin di berbagai negara berkembang
tidak dapat membeli obat-obatan tersebut. Perdebatan pun lahir seputar apakah pemberian hak paten dapat
dijustifikasi jika hal tersebut membahayakan dan mengancam kehidupan masyarakat lainnya. Berbagai kritik
dan perdebatan yang lahir ini lantas mendorong WTO untuk melakukan amandemen pada perjanjian TRIPs,
yang dilakukan pada Desember 2002 melalui aturan pemberian compulsory licenses bagi negara-negara
yang sedang dalam kondisi extreme urgency untuk kemudian memproduksi obat-obatan generik dalam skala
domestik. Amandemen ini juga lantas memperbolehkan negara-negara yang tidak memiliki kapabilitas
manufaktur yang cukup untuk menghubungi negara ketiga selain pemegang paten yang bersedia membantu
produksi obat-obatan untuk negara subjek. Sekilas, amandemen ini terlihat baik dan pro terhadap negara
berkembang. Akan tetapi dalam implementasinya, ternyata banyak pasal-pasal dalam amandemen ini yang
sulit dilaksanakan, seperti misalnya masalah notifications yang wajib dilakukan negara subjek dan negara
ketiga, ataupun masalah packaging yang akan memberatkan negara ketiga dalam produksi obat-obatan
generik tersebut. Tidak hanya itu, dalam implementasi pasal compulsory licensing, ternyata panel Dispute
Settlement Mechanism masih lebih berpihak pada pemegang paten. Hal ini menyebabkan segala tuntutan
yang diajukan pemegang paten seringkali dimenangkan oleh panel WTO. Negara berkembang lagi-lagi
dirugikan dalam hal ini.
Melihat tren yang terjadi sekarang dalam pemberian paten bagi industri farmasi negara maju,
penulis melihat hal ini sesuai dengan penggambaran Waltz dan Gilpin tentang teori pertarungan kekuasaan
(power struggle) yang mengatakan bahwa sistem internasional senantiasa menggambarkan sebuah
pertarungan antara negara-negara di dalamnya. Dalam kasus perjanjian TRIPs, Amerika Serikat selaku
negara pemilik mayoritas paten atas obat-obatan akan melakukan segala cara untuk mencapai posisi tertinggi
dalam struktur sistem internasional. Negara berkembang, di sisi lain, juga akan melakukan pertarungan
kekuasaan melawan AS untuk memperoleh pergantian kekuasaan. Perjuangan negara berkembang ini nyata
terasa dalam amandemen perjanjian TRIPs tentang pasal compulsory licenses. Akan tetapi pada akhirnya,
pertarungan kekuasaan ini tampaknya tetap dimenangkan oleh AS dan negara maju lainnya sehingga
permasalahan buruknya akses terhadap obat-obatan krusial di negara berkembang hingga kini belum
terselesaikan.
Page | 11
DAFTAR PUSTAKA

Buku:
Correa, Carlos M. 2000. Intellectual Property Rights, The WTO and Developing Countries: The TRIPS
Agreement and Policy Options. Penang, Malaysia: Third World Network.
Cottier, Thomas. 1998. “The Impact of the TRIPs Agreement on Private Practice and Litigation”, dalam
James Cameron dan Karen Campbell (eds.), Dispute Resolution in the WTO. London: Cameron May.
Elman, Colin. 2007. “Realism”, dalam Marthin Griffiths (ed), International Theory for the Twenty-First
Century. New York: Routledge.

Hobson, John M. 2003. The State and International Relations. Cambridge : Cambridge University Press.
Maskus, Keith E. 2000. Intellectual Property Rights in the Global Economy. Washington: Institute for
International Economics.

Wendt, Alexander. 2003. Social Theory of International Politics. Cambridge: Cambridge University Press.
„ „. 1997. Medicines and Related Substance Control Amendment Act, No. 90 of 1997, 15C, amandemen
pada Medicines and Related Substance Control Act of 1965

Jurnal:
Howse, Robert. 2000. “The Canadian Generic Medicine Panel: A Dangerous Precedent in Dangerous Times”,
dalam Bridges Between Trade and Sustainable Development (April 2000).
Kongolo, Tshimanga. 2001. "Public Interest Versus the Pharmaceutical Industry's Monopoly in South Africa",
dalam Journal of World Intellectual Property, No. 4.
Lanoszka, Anna. 2003. “The Global Politics of Intellectual Property Rights and Pharmaceutical Drug
Policies in Developing Countries”, dalam International Political Science Review/Revue Internationale
de Science Politique, Vol. 24, No. 2, The Politics of Health Policies/La politique des politique de santé.
(Apr., 2003).
Loewenson, René. 2000. “Essential Drugs in Southern Africa Need Protection from Public Health
Safeguards under TRIPs”, dalam Bridges Between Trade & Sustainable Development (Sept. 2000)
„ „. 2000. “WTO Logjammed Over TRIPs”, dalam Bridges Weekly Trade News Dig (Sept. 2000).
„ „. 2002. “Integrating Intellectual Property and Development Policy”, UK Commission on Intellectual
Property (CIPR), September 2002.

Surat Kabar:
Miller, Scott. 2003. “WTO Drug Pact Lifts Trade Talks”, dalam Wall Street Journal, 2 September 2 2003.
The Economist. 2000. “Who Owns the Knowledge Economy?”, dalam The Economist, edisi 8 April 2000.
Page | 12
„ „. 2003. “U.S. Pushes for System to Review TRIPS Compulsory License Requests”, dalam Inside U.S.
Trade, 8 Agustus 2003.
„ „. 2003. “WTO Chair Menon Pushes to Finalize Agreement on TRIPS- Essential Drugs”, dalam
International Trade Reporter, 21 Agustus 2003.
„ „. 2003. “U.S. Sets New Condition for TRIPS Deal While Showing Flexibility”, dalam Inside U.S.
Trade, 22 Agustus 2003.

Internet:
http://www.wto.org/english/docs_e/legal_e/27-trips_01_e.htm.
http://www.polity.org.za/govdocs/legislation/1997/act90.pdf.
http://www.ictsd.org/html/ arct_sd.htm.
http://www.newsbulletin.org.
http://www.fas.org/sgp/crs/ misc/RL33750.pdf
http://www.wto.org/english/news_e/pres03_e/pr350_e.htm.
http:// www.wto.org/english/docs_e/ legal_e/ursum_e.htm#Agreement.
http://www.msf.org/content/page.cfm?articleid=E05CFA2B-B49D-4CED-8EA32C8A0588D147.

Page | 13