Anda di halaman 1dari 3

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .

Universitas
Indonesia

Tugas Counter Review III Mata Kuliah Rezim Keuangan Internasional


Nama : Erika
NPM : 0706291243
Sumber Bacaan : David M. Andrews dan Thomas D. Willett, “Financial Interdependence and the State: International
Monetary Relations at Century’s End”. International Organization, Vol. 51, No. 3 (Summer, 1997), hal.
479-511. Dapat diakses secara online melalui http://www.jstor.org/stable/2703612

Negara dan Interdependensi Finansial Dunia

Sejak tahun 1990-an, sektor keuangan merupakan sektor yang mulai mendapat perhatian dalam
studi ekonomi politik internasional. Hal tersebut dikarenakan pada periode tersebut, aktivitas ekonomi yang
tadinya hanya berpusat pada transaksi perdagangan barang-barang riil mulai berubah menjadi berpusat pada
transaksi sektor keuangan. Berbeda dengan sektor perdagangan yang relatif mudak dikontrol karena
berwujud riil, sektor keuangan merupakan sektor yang sulit terkontrol karena wujudnya yang tidak terlihat.
Transaksi sektor keuangan pun, karenanya, terjadi secara masif tanpa terhalangi oleh batas-batas negara. Hal
ini membawa dunia pada kondisi di mana interdependensi finansial sangat sulit dihindari. Liberalisasi
finansial pun terjadi. Kalangan ekonom klasik mengatakan adanya interdependensi finansial dalam sistem
perekonomian internasional menjadikan kebijakan makroekonomi suatu negara seakan tidak signifikan lagi
karena segala kebijakan terkait dengan sektor keuangan akan ditentukan murni oleh faktor ekonomi, yaitu
dari kondisi pasar keuangan internasional itu sendiri. Akan tetapi, ada pula beberapa pihak yang mengatakan
bahwa sebenarnya negara tetap memainkan peran yang penting dalam sektor keuangan internasional, bahwa
segala kebijakan finansial internasional sebenarnya tidak dapat lepas dari unsur politik. Salah satu pihak
yang berpendapat bahwa proses liberalisasi finansial tidak dapat dilepaskan dari unsur politik adalah David
M. Andrews dan Thomas D. Willett dalam tulisannya yang berjudul “Financial Interdependence and the
State: International Monetary Relations at Century’s End”.
Dalam tulisannya, Andrews dan Willett mengatakan bahwa meningkatnya kondisi interdependensi
finansial di dunia internasional akan sangat berpengaruh pada kebijakan ekonomi nasional di suatu negara.
Efek dari mobilitas kapital internasional dan dari kebijakan moneter dan fiskal internasional bagi setiap
negara tidaklah sama, dan karenanya respon yang diberikan masing-masing negara akan berbeda satu sama
lain. Andrews dan Willett mengakui bahwa kondisi interdependensi finansial ini tidak dapat dihindari, akan
tetapi liberalisasi finansial itu tidak lantas menghilangkan signifikansi dari negara. Negara tetap memegang
peran penting dalam pembuatan berbagai kebijakan finansial internasional, seperti yang terjadi dalam
pembuatan European Monetary Union yang sarat dengan unsur politik.
Andrews dan Willett juga menyebutkan bahwa dalam mengambil suatu kebijakan ekonomi—baik
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

yang bersifat internasional maupun yang sifatnya nasional—pemerintah sangat dipengaruhi oleh tekanan
politik dan tekanan pasar, baik dari internal maupun eksternal. Kondisi interdependensi dunia menjadikan
segala kebijakan ekonomi internasional pada akhirnya akan mendatangkan pengaruh bagi aktor ekonomi
domestik. Di sisi lain, berbagai kebijakan ekonomi domestik pada akhirnya juga akan mempengaruhi sektor
keuangan internasional. Sehingga dalam konteks kebijakan makroekonomi, pemerintah harus senantiasa
bernegosiasi dengan aktor politik dan swasta—baik lokal maupun internasional—karena kebijakan yang
dihasilkan kemudian akan disinergiskan dengan kondisi pasar internasional. Begitu pula dengan kondisi
internasional, di mana kondisi interdependensi finansial kemudian melahirkan urgensi bagi tiap negara
untuk melakukan koordinasi kebijakan tingkat global.
Setuju dengan Andrews dan Willett, penulis menganggap bahwa kondisi interdependensi finansial
saat ini memang tidak bisa dilepaskan dari unsur politik yang menyertainya. Akan tetapi, penulis tertarik
untuk membahas lebih lanjut mengenai koordinasi global yang diperlukan sehubungan dengan kondisi
interdependensi finansial tersebut. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Andrews dan Willett
mengatakan perlunya koordinasi kebijakan tingkat global untuk menghadapi kondisi interdependensi
finansial ini, akan tetapi Andrews dan Willett tidak membahas lebih lanjut mengenai koordinasi global ini.
Senada dengan Andrews dan Willett, sebuah solusi koordinasi tingkat global sebenarnya pernah dipaparkan
oleh John Maynard Keynes melalui terminologi socialization of investment. Yang dimaksud dengan
“socialization of investment” adalah dibuatnya suatu mekanisme institusi endogen berupa kehadiran
organisasi yang dipimpin negara, untuk memitigasi ketidakpastian dari keputusan individu. 1 Melalui
mekanisme ini, Keynes menghadirkan solusi adanya sebuah institusi internasional sebagai media koordinasi
kebijakan bagi setiap negara. Keberadaan institusi internasional yang tetap mengedepankan peran negara
merupakan hal yang penting mengingat negara tetaplah aktor sentral yang dapat berperan secara legal dalam
sektor keuangan internasional. Kehadiran institusi negara, karenanya, bersifat esensial dalam menyediakan
jaminan terselenggaranya perjanjian kontraktual dalam masa kini dan masa depan. 2 Pendapat serupa juga
dikemukakan oleh Krasner dan Keohane dalam Teori Rezim Internasional, di mana kehadiran rezim
internasional dipandang esensial. Adanya kerja sama institusi global ini pada dasarnya akan diwarnai oleh
persepsi dan mispersepsi dari para anggotanya, serta akan dipengaruhi oleh kapasitas mengakses informasi
dan kemampuan belajar setiap negara3, tetapi keberadaan sebuah rezim internasional tetap dipandang

1
Fernando Ferarri Filho, The Concept of Uncertainty in Post Keynesian Theory and in Institutional Economics.
http://www.econ.fea.usp.br/ seminarios/artigos2/uncertainty.pdf, diakses pada 16 Februari 2010, pukul 19.36
2
Paul Davidson, Post Keynesian Macroeconomic Theory. (Aldershot: Edward Elgar, 1994), hal. 102.
3
Stephen Haggard dan Beth A. Simmons, “Theories of International Regimes”, dalam Charles Lipson and Benjamin J. Cohen
(ed.), Theory and Structure in International Political Economy. (Massachusetts: the MIT Press, 1999), hal. 198
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

penting karena mampu menyediakan framework of negotiations sekaligus mampu mengkoordinasi


ekspektasi setiap negara anggotanya dengan menyediakan informasi yang sama bagi anggotanya.4

4
Robert O. Keohane, “The Demand for International Regime”, dalam Charles Lipson and Benjamin J. Cohen (eds.), Theory and
Structure in International Political Economy, (Massachusetts: the MIT Press, 1999), hal. 161.