Anda di halaman 1dari 3

Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .

Universitas
Indonesia

Tugas Counter Review XI Mata Kuliah Rezim Keuangan Internasional


Nama : Erika
NPM : 0706291243
Sumber Bacaan : Paul Bowles, “Asia‟s Post-Crisis Regionalism: Bringing the State Back in, Keeping the (United) States Out”,
dalam Review of International Political Economy, Vol. 9, No. 2 (May, 2002), h. 230-256. Dapat diakses
secara online melalui http://www.jstor.org/stable/4177421.

Regionalisme Moneter Paska Krisis Asia,

Bentuk Penguatan Kembali Peran Negara dalam Era Liberalisasi Keuangan

Globalisasi dan liberalisasi perekonomian yang terjadi semakin masif dewasa ini menyebabkan
perekonomian negara seakan menjadi tidak terkontrol. Dari sisi perekonomian, sektor yang paling rentan
terkena krisis akibat munculnya fenomena liberalisasi perekonomian ini adalah sektor keuangan. Liberalisasi
finansial yang terjadi menyebabkan pergerakan uang—baik dalam pasar domestik maupun
internasional—semata-mata ditentukan oleh pasar, karena minimnya intervensi pemerintah yang menjadi
syarat dari liberalisasi finansial tersebut. Hal ini lantas menyebabkan negara-negara dunia menjadi rentan
terkena krisis, sekaligus menyebabkan krisis menjadi sangat cepat menyebar karena tidak adanya
“perlawanan” dari negara untuk melindungi perekonomiannya. Kondisi inilah yang digambarkan oleh Paul
Bowles dalam tulisannya yang berjudul “Asia Post-Crisis Regionalism: Bringing the State Back In, Keeping
the (United) States Out”; di mana dalam tulisannya, Bowles mengambil contoh krisis yang terjadi di Asia
pada tahun 1997-1998 dan dampaknya pada perubahan perekonomian negara-negara Asia.
Krisis Asia yang terjadi pada tahun 1997-1998 lalu melahirkan berbagai perubahan pada
perekonomian negara-negara Asia, khususnya pada negara Asia Tenggara dan Asia Timur. Perubahan yang
paling terlihat adalah munculnya fenomena regionalisme di kawasan ini sebagai akibat dari hancurnya
perekonomian negara-negara Asia paska Krisis Asia. Bowles mengatakan, adapun fenomena regionalisme
yang muncul ini seringkali dikaitkan sebagai kegagalan globalisasi yang menitikberatkan minimnya
intervensi negara dan terpusatnya perekonomian pada pasar. Krisis Asia yang terjadi menyadarkan
negara-negara Asia akan kegagalan International Monetary Fund (IMF) dalam mencegah meluasnya dampak
Krisis Asia. Beberapa pihak malah melihat Krisis Asia diperparah dengan kebijakan-kebijakan dari IMF yang
tidak tepat arahnya. Krisis kepercayaan yang muncul pada IMF ini lantas mendorong negara-negara Asia
untuk membentuk suatu kerja sama moneter sebagai bentuk „IMF baru‟ yang lebih tanggap pada kebutuhan
Asia. Krisis Asia, menurut Bowles, kemudian melahirkan fenomena monetary regionalism di kalangan
negara-negara ASEAN, Jepang, Cina dan Korea Selatan. Adapun bentuk regionalisme moneter yang dibentuk
negara-negara ASEAN+3 ini merupakan reaksi penolakan negara-negara Asia akan campur tangan IMF dan
Amerika Serikat (AS) sebagai motor penggerak IMF. Melalui regionalisme moneter ini, negara-negara Asia
ingin kembali menunjukkan eksistensi mereka dalam mengatur perekonomian negaranya, terutama dari sisi
keuangan.
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

Senada dengan pendapat Bowles yang menekankan akan pentingnya peran negara dalam mengatur
perekonomian dengan melihat kasus Krisis Asia sebagai contoh, penulis juga beranggapan bahwa masalah
perekonomian di negara berkembang memang seharusnya tidak dapat dilepaskan dari intervensi dan peran
kuat negara. Pendapat inilah yang melatarbelakangi pemikiran Post Washington Consensus, di mana
Post-Washington Consensus merupakan otokritik pendekatan liberal atas kegagalan Washington Consensus
dalam menjawab problem pembangunan di tingkat negara berkembang, khususnya Amerika Latin di tahun
1980-an dan Asia Timur penghujung tahun 1990-an.1 Kritik terhadap Washington Consensus sendiri muncul
karena dalam pelaksanaannya, Washington Consensus dinilai banyak memunculkan persoalan-persoalan
sosial, yang disebabkan karena minimnya peran negara dalam pelaksanaan kegiatan perekonomian.
Karenanya, Post Washington Consensus kemudian merupakan konsensus yang meyakini perlunya
keterlibatan negara untuk mengembangkan sistem pasar dan pentingnya faktor non ekonomi dalam
menjalankan tatanan sosial.2 Tokoh yang disebut-sebut banyak membentuk Post Washington Consensus
adalah John Maynard Keynes dan Joseph Stiglitz. Keynes menyebutkan bahwa pasar merupakan sistem yang
tidak stabil, sehingga diperlukan adanya intervensi langsung dari pemerintah. Sementara Stiglitz mengatakan
bahwa negara dan pasar adalah dua aktor yang saling melengkapi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi
negara.3
Intervensi dari negara ini sangatlah penting, mengingat perekonomian sekarang telah berubah;
terjadi evolusi yang cepat dari sebuah “sistem kapitalisme produktif” kepada sebuah sistem kapitalisme yang
didominasi oleh kegiatan yang hanya didasarkan oleh kemampuan mencari keuntungan dengan spekulasi di
pasar modal dan pasar uang.4 Kegiatan perekonomian telah bergeser, dari kegiatan yang sifatnya produktif
dan riil menjadi semacam perjudian spekulatif, fenomena yang disebut sebagai Casino Capitalism oleh Susan
Strange. Dengan melakukan investasi dalam bentuk saham, bonds,, dan surat-surat berharga lainnya, para
individu tidak bermaksud menjauhkan diri dari aktifitas produktif, tetapi membeli dan menjual klaim “nilai”
di masa depan suatu aktifitas produktif5, aktifitas yang sangat rawan karena sangat bergantung pada tingkat
kepercayaan akan kebenaran suatu aktifitas produktif. Di sinilah peran negara sebagai institusi yang dapat
mengeluarkan berbagai regulasi untuk membatasi perilaku spekulatif dalam transaksi keuangan menjadi
krusial. Minimnya peran negara, dan maksimalnya peran pasar merupakan salah satu penyebab tidak adanya
regulasi yang jelas dalam transaksi pasar uang, yang menyebabkan pasar uang menjadi pasar yang bergerak
terlalu liar dan tidak dapat dikendalikan. Krisis Asia jelas merupakan contoh yang tepat untuk
menggambarkan “kegagalan pasar” (market failure), pasar akhirnya terbukti tidak dapat berjalan sempurna

1
Tim Penulis Centre for International Relations Studies (CIReS). Post Washington Consensus dan Politik Privatisasi di Indonesia.
(Serpong: Marjin Kiri, 2007), hal. 19.
2
Ibid, hal. 24.
3
Ibid, hal. 30.
4
Syamsul Hadi. “Negara, Pasar, dan Sistem Kapitalisme Global: Refleksi Kritis atas Krisis Finansial 2007-2008” dalam Global
Justice Update edisi November 2008, hal. 9.
5
Ibid.
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Universitas
Indonesia

seperti yang dengan lantang dikatakan Adam Smith dan penganutnya. Krisis seperti ini, menurut penulis,
tidak akan terjadi jika saja pemerintah diberi peran lebih dalam perekonomian untuk melakukan kontrol dan
mengeluarkan regulasi untuk membatasi transaksi dalam pasar uang, prinsip utama yang diajukan Keynes
dan Stiglitz dalam kebijakan-kebijakan Post Washington Consensus.