Anda di halaman 1dari 4

Rangkaian Proses Pengolahan Produk Steril (Kering dan Cairan)

Penimbangan bahan aktif dan tambahan secara aseptis

Pencampuran bahan aktif dan tambahan


Pemeriksaan pH
IPC

Penyaringan dengan membran 0,05 m

Pengamatan secara
organoleptik

Pengisian ke dalam wadah


Uji Kejernihan
IPC
Pemeriksaan bahan partikulat
Kemasan
Evaluasi sediaan :
Penetapan volume injeksi
Uji bahan partikulat
Penetapan pH
IPC

Uji kejernihan
Uji kebocoran
Penetapan kadar
Sterilisasi
Endotoksin bakteri

Pengemasan

Produk steril hendaklah dibuat dengan persyaratan khusus dengan tujuan memperkecil
risiko pencemaran mikroba, partikulat dan pirogen, yang sangat tergantung dari ketrampilan,
pelatihan dan sikap personil yang terlibat. Pemastian Mutu sangatlah penting dan pembuatan
produk steril harus sepenuhnya mengikuti secara ketat metode pembuatan dan prosedur yang
ditetapkan dengan seksama dan tervalidasi. Pelaksanaan proses akhir atau pengujian produk jadi
tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya andalan untuk menjamin sterilitas atau aspek mutu
lain.
PENGOLAHAN
Hendaklah dilakukan tindakan pencegahan untuk mengurangi pencemaran pada seluruh tahap
pengolahan termasuk tahap sebelum proses sterilisasi.
Pembuatan produk yang berasal dari sumber mikrobiologis hendaklah tidak diproses atau diisi di
area yang digunakan untuk pembuatan obat lain; namun, vaksin yang mengandung organisme
mati atau ekstrak bakterial dapat diisikan ke dalam wadah-wadah, di dalam bangunan dan
fasilitas yang sama dengan obat steril lain, setelah proses inaktivasi yang tervalidasi dan
pembersihan menurut prosedur yang tervalidasi.
Validasi proses aseptis hendaklah mencakup uji simulasi proses menggunakan media
pertumbuhan (media fill). Pemilihan media pertumbuhan hendaklah dilakukan berdasarkan
bentuk sediaan dan selektivitas, kejernihan, konsentrasi dan cara sterilisasi yang sesuai

Uji simulasi proses hendaklah dilakukan semirip mungkin dengan proses rutin pembuatan aseptis
dan mencakup semua langkah kritis pada tahap pembuatan berikut. Perlu juga dipertimbangkan
berbagai intervensi yang diperkirakan akan terjadi saat produksi normal termasuk kasus terburuk.
87. Uji simulasi proses sebagai validasi awal hendaklah dilakukan dengan tiga uji simulasi
berturut-turut yang berhasil per shift, dan diulangi dengan interval yang ditetapkan dan bila ada

perubahan signifikan pada sistem tata udara, peralatan, proses dan jumlah shift. Biasanya uji
simulasi proses dilakukan dua kali setahun untuk tiap shift dan proses.
88. Jumlah wadah yang digunakan untuk media fill hendaklah cukup memungkinkan evaluasi
absah. Untuk bets ukuran kecil, jumlah wadah untuk media fill hendaklah minimal sama dengan
ukuran bets produk. Target hendaklah dengan pertumbuhan nol dan ketentuan berikut hendaklah
diterapkan:
a) Bila mengisi kurang dari 5.000 unit, tidak boleh ditemukan unit tercemar;
b) Bila mengisi 5.000 sampai dengan 10.000 unit:
Satu (1) unit tercemar hendaklah diikuti dengan investigasi dan pertimbangan untuk
mengulang media fill;
Dua (2) unit tercemar merupakan pertimbangan untuk dilakukan validasi ulang setelah
investigasi;
c) Bila mengisikan lebih dari 10.000 unit:
Satu (1) unit tercemar hendaklah dinvestigasi;
Dua (2) unit tercemar merupakan pertimbangan untuk dilakukan validasi ulang setelah
investigasi.
89. Pencemaran yang terjadi sesekali pada pengisian dengan jumlah berapapun, mungkin
merupakan indikasi pencemaran dalam konsentrasi rendah dan hendaklah dianggap mempunyai
dampak pada pemastian sterilitas (sterility assurance) dari bets yang diproduksi setelahmedia fill
terakhir yang dinyatakan sukses.
90. Perhatian hendaklah diberikan bahwa dengan melaksanakan validasi tidak berarti dapat
melakukan kompromi terhadap proses.
91. Untuk menghindarkan penyebaran partikel dan mikroba secara berlebihan, kegiatan dalam
area bersih, terutama saat berlangsung proses aseptis, hendaklah dibatasi dan gerakan personil
hendaklah terkendali, hati-hati dan sistematis. Suhu dan kelembaban lingkungan hendaklah tidak
tinggi sehingga mengganggu kenyamanan akibat sifat pakaian yang dikenakan.
92. Cemaran mikroba bahan awal hendaklah minimal. Spesifikasi bahan awal hendaklah
mencakup persyaratan kandungan mikroba bila
kebutuhan untuk itu telah ditunjukan melalui hasil pemantauan.

93. Wadah dan bahan yang dapat membentuk partikel hendaklah dibatasi jumlahnya di dalam
area bersih dan disingkirkan saat proses aseptis sedang berlangsung.
94. Di mana dapat dilakukan hendaklah diambil tindakan untuk mengurangi kontaminasi
partikulat terhadap produk akhir.
95. Komponen, wadah dan peralatan, setelah proses pembersihan/pencucian akhir, hendaklah
ditangani sedemikian rupa sehingga tidak terjadi rekontaminasi.
96. Interval antara pencucian dan pengeringan serta sterilisasi komponen, wadah dan peralatan
maupun antara sterilisasi dan penggunaannya hendaklah sesingkat mungkin dan diberi batas
waktu yang sesuai dengan kondisi penyimpanan tervalidasi.
97. Jarak waktu antara awal pembuatan larutan dan sterilisasi atau filtrasi melalui filter mikroba
hendaklah sesingkat mungkin. Batas waktu maksimum hendaklah ditentukan dengan
mempertimbangkan komposisinya dan metode penyimpanan yang ditentukan. Kecuali dilakukan
tindakan khusus, volume larutan ruahan hendaklah tidak lebih besar daripada jumlah yang dapat
diisi dalam satu hari dan hendaklah diisi ke dalam wadah akhir serta disterilisasi dalam satu hari
kerja.
98. Tahap pengolahan komponen, wadah produk ruahan dan peralatan hendaklah diberi identitas
yang benar.
99. Semua gas yang dialirkan ke dalam larutan atau digunakan untuk menyelimuti produk
hendaklah dilewatkan melalui filter penyaring mikroba.
100. Bioburden hendaklah dipantau sebelum proses sterilisasi. Hendaklah ditetapkan batas
bioburden segera sebelum proses sterilisasi yang dikaitkan dengan efisiensi metode sterilisasi
yang digunakan. Penentuan bioburden hendaklah dilakukan terhadap tiap bets produk, baik yang
diproses dengan sterilisasi akhir maupun secara aseptis. Bila parameter sterilisasi overkill
ditetapkan untuk produk dengan sterilisasi akhir, pemantauan bioburden boleh hanya secara
berkala dengan interval menurut jadwal yang sesuai. Untuk sistem pelulusan parametris,
penentuan bioburden hendaklah dilakukan terhadap tiap bets dan dikategorikan sebagai
pengujian selama-proses. Bila dipersyaratkan, hendaklah dilakukan pemantauan terhadap
cemaran endotoksin. Semua sediaan cair, khususnya larutan infus volume besar, hendaklah
dilewatkan melalui filter mikroba yang, jika mungkin, dipasang dekat sebelum proses pengisian.