Anda di halaman 1dari 5

NAMA

NPM

: LIA HANIFA
: G2 E1 014 024

TUGAS

: METODOLOGI PENELITIAN

RESUME JURNAL BENTUK KONTINJENSI FIT DALAM PENELITIAN AKUNTANSI


MANAJEMEN

Abstrak
Literatur kontinjensi dalam bidang akuntansi telah menjadi kritikan karena sifatnya yang
kontradiktif. Sebuah review atas 10 artikel mengenai MAS menunjukan banyaknya
bentuk fit yang telah digunakan, dan sedikitnya peneliti yang mampu memahami
sulitnya menghubungkan bentuk-bentuk fit tersebut.

Pendahuluan
Banyaknya kajian tentang Contigency Theory hasilnya adalah kontradiktif. Hal ini disebabkan

banyaknya konsep fit yang digunakan dan peneliti biasanya kurang peduli terhadap
implikasi dari teori yang mereka bangun. Ditambah lagi, beberapa konsep fit tidak dapat
diperbandingkan, sehingga sifat kontradiktif dan supportif perlu ditinjau kembali.
Tujuan dari kajian ini adalah pertama, menambah perbendaharaan pengetahuan dalam
ranah Strategi MAS dengan menguji secara teoritis konsep-konsep fit yang digunakan.
Kedua, adalah mengkaji secara kritis apakah perbandingan yang telah dibuat atas
konsep-konsep fit tersebut valid atau tidak.
Artikel ini pertama-tama membuat klasifikasi kerangka kerja atas bentuk-bentuk fit
kontinjensi. Lalu mendiskusikan apakah bentuk-bentuk fit tersebut bisa dihubungkan.
Selanjutnya adalah menjelaskan dan mengklasifikasikan berbagai pendekatan tentang Fit
berdasarkan kerangka kerja yang ada. Kemudian menganalisi referensi yang ada dalam
literatur untuk melihat apakah bentuk-bentuk fit tersebut bisa diperbandingkan. Terakhir
adalah membuat kesimpulan.

Klasifikasi kerangka kerja untuk memetakan bentuk fit kontinjensi dalam MAS
Kerangka kerja yang digunakan untuk mengklasifikasi bentuk fit dalam MAS memiliki
struktur hirarkis (lihat gambar).

Pada level atas, dua bentuk fit menunjukkan dua paradigma yang bertentangan. Pada
level bawah, dikotomi menunjukan alternatif untuk pembentukan atau pengukuran fit.
Teknik statistik yang digunakan pada setiap kerangka teori disebutkan dibawahnya. Ada
empat level pendekatan yang berbeda yang telah disebutkan dalam literatur
sebelumnya.
Yang pertama adalah antara pendekatan cartesian dan Configuration. Pendekatan
cartesian berpandangan bahwa fit didalam konteks dan struktur bersifat kontinyu, yang
memungkinkan pergerakan kecil dan sering dilakukan oleh orgnaisasi dari satu kondisi ke
kondisi fit berikutnya (Donaldson, 1996). Sementara pendekatan Configuration
berpendapat bahwa hanya ada sedikit state of fit di antara konteks dan struktur, dimana
ogranisasi dapat melakukan lompatan kuantum dari satu kondisi fit ke kondisi fit lainnya
(Meyer, Tsui & Hinings 1993; Miller & Friesen 1984; Mintzberg 1983).
Yang kedua adalah perbedaan antara pendekatan Congruence dan pendekatan
Contigency. Pendekatan Congruence mengasumsikan bahwa hanya organasasi dengan
performa terbaik yang dapat bertahan, dan karenanya dapat diamati. Tugas peneliti
adalah mengeksplorasi hubungan konteks dan struktur tanpa memeriksa apakah mereka
mempengaruhi kinerja. Pendekatan Contigency berasumsi bahwa organisasi memiliki
berbagai macam tingkat fit. Tugas peneliti adalah menunjukkan tingkat fit yang mana
yang menunjukkan performa yang lebih tinggi (lihat Drazin & Van de Ven 1985).
Berikutnya adalah perbedaan antara pendekatan Moderation dan pendekatan Mediation.
Kedua pendekatan ini paling sering digunakan dalam konsep Strategi MAS. Pendekatan
Moderation menyebutkan bahwa pengaruh dependent variable terhadap independent
variable merupakan fungsi dari moderating variable. Sedangkan pendekatan mediation
berpendapat bahwa ada mekanisme interverning yang signifikan antara independent
variable dan dependent variable (Venkatraman, 1989).
Level terakhir adalah konsep fit dibagi dalam dua kelompok, berdasarkan apakah fit
tersebut menjelaskan kekuatan hubungan di antara variabel (Strength), atau bentuk
hubungannya (Form) ( lihat Hartmann & Moers 1999; Venkatraman 1989).

Pendekatan Cartesian vs Configuration


Karakteristik penelitian Cartesian adalah reduksionisme sedangkan Configuratioan
adalah holistik. Kedua pendekatan ini mengarahkan pada opini yang berbeda tentang
apa dan bagaimana fit yang dicapai.

Dalam pendekatan Cartesian, fokusnya pada bagaimana satu faktor konteks


mempengaruhi satu struktur dan bagaiman konteks-struktur tersebut mempengaruhi
performa. Sedangkan dalam pandangan holistik, yang diusung oleh Configuration,
menentang analisis secara parsial terhadap variabel konteks dan struktur. Hubungan
antara konteks dan struktur hanya bisa dipahami jika banyak variabel konteks dan
struktur dianalisis secara simultan. Secara hipotesis, kemungkinan kombinasinya hampir
tak terbatas.
Pendekatan Congruence vs Contigency
Dalam konsep sederhana, teori kontinjensi menyebutkan bahwa struktur organisasi
bergantung pada faktor kontekstual seperti lingkungan, strategi dan ukuran. Menurut
Drazin dan Van de Ven (1985), bentuk kontinjensi seperti ini mewakili pendekatan
Congruence selama diasumsikan bahwa struktur bergantung pada konteks, tanpa
melihat apakah hal tersebut mempengaruhi kinerja atau tidak. Pengujian atas kinerja
tidak diperlukan, bila (secara implisit) diasumsikan bahwa fit adalah hasil seleksi

alam, sehingga hanya organisasi dengan kinerja terbaiklah yang akan diamati.
Menurutnya, tugas peneliti adalah mengidentifikasi variabel kontekstual apa
yang mempengaruhi struktur, dan mengeksplorasi hubungan konteks-struktur
tersebut.
Tidak adanya faktor kinerja dalam model ini dianggap cacat karena
menggunakan survival of the fittest sebagai acuan kinerja sangatlah mentah
(Pennings, 1992, Hal. 274). Sedangkan dalam pendekatan Contigency, Fit
dipahami sebagai dampak positif kinerja sebagai akibat dari hubungan tertentu
antara konteks dan struktur. Tinggi rendahanya kinerja adalah hasil dari bagus
tidaknya kombinasi antara konteks dan struktur. Tugas peneliti adalah
menjelaskan bagaimana variasi kinerja tersebut dalam kaitannya dengan
interaksi antara konteks dan struktur.
Congruence dan Contigency merupakan dua konsep fit yang tidak bisa
dipadukan. Namun, sebagaimana disebutkan oleh Dezin dan Van de Ven(1985),
keduanya dapat dianggap sebagai dua hal yang berkembang bersama dengan
adanya organisasi. Sebabnya adalah biasanya manajemen menetapakan
kebijakan pengalih yang menempatkan faktor kontekstual sebagai bahan
pertimbangan untuk mengendalikan faktor struktural tertentu.
Pendekatan Moderasi dan Mediasi
Dalam pendekatan moderasi, diasumsikan bahwa pengaruh variabel independen
terhadap variabel dependen tergantung pada variabel ketiga yang disebut
moderator. Cara yang umum digunakan untuk melihat apakah suatu variabel
memiliki pengaruh moderasi adalah dengan menggunakan MRA (Moderating
Regression Analysis). Formatnya adalah :
Y = 0 + 1X1 + 2X2 + 3X1X2 +
Dimana Y adalah variabel dependen, X1 adalah variabel independen, X2 adalah
moderasi, X1X2 adalah pengaruh interaksinya. Nilai fit yang umum adalah apabila
koefisien interaksi 3 bukan nol.
Moderator tidak secara teoritis terkait dengan dengan variabel dependen dan
variabel independen. Ketika prasyarat tersebut tidak terpenuhi, bentuk fit
moderation tidak memberikan gambaran yang tepat atas hubungan yang

sebenarnya tentang hubungan antar variabel. Dalam kasus ini, model aleternatif
dibutuhkan.
Model alternatif yang dapat digunakan adalah model Mediation. Berbeda dengan
model Moderation, model ini memungkinkan beberapa variabel, selain bisa
menjadi konstributor terhadap Y, juga bisa menjadi variabel dependen bagi
variabel lain. Fit terpenuhi bila pengaruh X1 terhadap Y bekerja melalui X2. Dalam
analisis jalur, teknik statistik yang biasa digunakan untuk mengukur mediasi, fit
digambarkan sebagai pengaruh tidak langsung yang signifikan.
Kedua model di atas, moderation dan mediation, bisa saja valid, tapi dalam
situasi tertentu hanya satu model yang dapat digunakan untuk memperoleh
gambaran yang benar. Sebagai ilustrasi, ada situasi dimana Desain MAS (X2)
tidak berkorelasi dengan Strategi Kepegawaian (X1). Dalam kasus ini, model
mediasi tidak valid. Kalaupun digunakan, tidak ada fit yang dicapai. Dalam
kondisi tersebut, model moderasi lebih cocok digunakan untuk memperoleh fit
(dimana strategi bisa memoderasi pengaruh Desain MAS terhadap kinerja).
Argumen yang sama bisa digunakan pada situasi yang sebaliknya. Misalnya,
strategi sangat berpengaruh terhadap Desain MAS. Jadi Desain MAS tidak bisa
digunakan sebagai moderator, sehingga harus menggunakan model mediasi
untuk mengukur tingkat fit atau tidak fitnya.
Kesimpulannya, moderation dan mediation secara fundamental memiliki makna
yang berbeda, sehingga hasil pada salah satu model tidak bisa divalidasi dengan
hasil dari model yang lain. Dengan kata lain, MAS tidak bisa berperan sebagai
variabel moderasi dan variabel mediasi pada saat yang sama.
Kekuatan vs. Bentuk
Dengan pendekatan Cartesian Moderation, hubungan antar variabel telah
dianalisis dalam hal Kuat dan Bentuk nya. Keduanya merujuk pada metode
statistik yang berbeda, juga mewakili makna fit yang berbeda secara teoritis.
Sederhananya, hanya pendekatan Contingency yang bisa menggambarkan
perbedaan tersebut, sedangkan jika menggunakan pendekatan Congruence
hasilnya akan sama saja.
Ketika peneliti menggunakan model moderasi, menyatakan bahwa kemampuan
prediktif MAS terhadap kinerja akan berbeda terhadap strategi yang berbeda,
proposisi ini menggambarkan kuatnya moderation.
Ketika peneliti menyatakan bahwa pengaruh MAS terhadap kinerja akan berbeda
terhadap strategi yang berbeda, hal ini menggambarkan bentuk moderation.
MRA adalah teknik analisis yang biasa digunakan untuk mengukur bentuk
hipotesis.
Dapat disimpulkan bahwa banyak bentuk fit yang telah digunakan dalam
literatur Strategi-MAS. Beberapa konsep saling terpisah dimana hasil pada
salah satu model tidak berhubungan sama sekali dengan hasil pada model lain
(biasanya pada pendekatan cartesian dan Configuration). Konsep lain bersifat
komplementer dimana hasil pada salah satu model mempengaruhi hasil pada
model lain (pada pendekatan Congruence dan Contigency). Terkahir, ada bentuk
fit yang hasilnya saling berkorenspondensi. Namun tidak ada alasan yang pasti
dalam hal ini.

Klasifikasi Studi Strategi-MAS


1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Ada 3 dari 10 studi yang agak terisolir, mungkin karena jurnal lama
mengenai MAS, atau berberapa bentuk fit hanya bisa dikaitkan dengan
studi sebelumnya ( lihat Chenhall & Langfield- Smitth 1998; Khandwalla
1972; dan Miles & Snow 1978)
Ada 7 studi berisi temuan yang berhubungan dengan studi lainnya
berdasarkan bentuk alternatif fit, atau beberapa bentuk fit digunakan
dalam satu artikel
Ada 2 artikel yang membandingkan bentuk fit dengan pendekatan
Cartesian dan Configuration ( Govidarajan 1988; Simon 1987).
Govidarajan (1988), mendiskusikan perbedaan arti fit, namun menurut
Gerdin & Greve ( 2004) Govidarajan tidak memahami masalah dalam
membandingkan kedua bentuk tersebut yang seharusnya tidak dapat
diperbandingkan karena bersumber dari pemahaman organisasi dan
lingkungan dari pendekatan reduksionalis dan holistik.
Terdapat 4 artikel yang membandingkan bentuk menurut Congruence dan
Contingency form of fit, yang semuanya mengatakan bahwa fit dalam satu
bentuk berarti fit bagi bentuk yang lain. Dalam Simon ( 1987) asumsi ini
diuji, tetapi dalam 2 artikel lainnya ( Bouwens & Abernethy 2000; Perera
et al. 1997) ditemukan bahwa kedua bentuk fit tidak dapat berada
bersama- sama.
Ditemukan 4 contoh dimana perbandingan dibuat antara moderation dan
mediation form of fit ( Abernethy & Lilis 1995; Bouwens & Abernethy 2000;
Chong & Chong 1997; Perera et al 1997) yang dalam konsep ini kedua
pendekatan tersebut melihat apakah strategi dan MAS sebagai
moderating model atau mediating model hasilnya dapat saling
mengkoreksi.
Ada 2 artikel yang membandingkan strength dan form variant of fit
( Albernethy & Guthrie 1994; Albernethy & Lillis 1995) yang tidak
seharusnya
hasil
penelitian
dari
kedua
pendekatan
tersebut
diperbandingkan. Pertama, karena implikasi teoritikal yang berbeda;
kedua, tidak ada alasan untuk mengharapkan hasil yang sama.
Konsep Fit yang berbeda telah digunakan dan sedikit sekali yang
memahami secara penuh kesulitan dalam menghubungkan berbagai
bentuk fit yang satu dengan lainnya sehingga mengakibatkan teori yang
saling bertentangan dan argumentasi yang salah atas penelitian
sebelumnya.