Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

“ UJI KUALITATIF KARBOHIDRAT “

Disusun oleh:
Hayu Ajeng Anggana Raras (098114004)
Amelia Felicia Cornelius Putri (098114005)
Kenny Ryan Limanto (098114006)

LABORATORIUM BIOKIMIA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2010
PERCOBAAN I
UJI KUALITATIF KARBOHIDRAT

A. TUJUAN
Mahasiswa dapat membuktikan beberapa sifat karbohidrat

B. DASAR TEORI
Gula sederhana dan zat-zat yang dengan hidrolisis menghasilkan gula
sederhana disebut karbohidrat. Aslinya nama karbohidrat digunakan karena
komposisi kebanyakan gula, pati, dan selulosa berpadanan dengan hidrat hipotesis
dari karbon (Keenan,1980).
Karbohidrat adalah senyawa yang mengandung unsure-unsur C, H, dan O, terutama
terdapat di dalam tumbuh-tumbuhan yaitu kira-kira 75%, disamping itu bagian yang
padatpun dari tanaman-tanaman tersusun dari zat ini (Hardjono, 2005).
Penggolongan karbohidrat:
 Monosakarida
Monosakarida ialah karbohidrat yang sederhana, dalam molekulnya
hanya terdiri dari beberapa atom karbon saja dan ridak dapat diuraikan
dengan cara hidrolisis.
Contoh: glukosa, fruktosa, galaktosa.
 Oligosakarida
Yaitu senyawa yang mempunyai molekul yang terdiri atas beberapa
molekul monosakarida. Oligosakarida yang paling banyak terdapat di
alam adalah disakarida.
Contoh: sukrosa, laktosa, maltosa, nafiosa.
 Polisakarida
Polisakarida memiliki molekul besar dan lebih kompleks daripada
mono dan oligosakarida. Molekul polisakarida terdiri atas banyak
molekul monosakarida. Umumnya polisakarida berupa senyawa
berwarna putih dan tidak berbentuk Kristal,tidak mempunyai rasa
manis dan tidak memiliki sifat reduksi.
Contoh: amilum, glikogen, selulosa. (Poedjiadi, 1994).
Fungsi karbohidrat:
 Sumber energi bagi sebagian besar organisme.
 Komponen penyusun dinding sel dan membran sel.
 Komponen penyusun nukleotida yang membentuk DNA dan RNA.
 Bertugas dalam proses metabolisme
 Berfungsi sebagai pelumas, penghubung sel, dan imun (Davidson dan
Donald, 1999)
Monosakarida dan beberapa disakarida mempunyai sifat dan dapat mereduksi,
terutama dalam asam basa. Sifat reduktor ini dapat digunakan untuk keperluan
identifikasi karbohidrat maupun analisis kuantitatif.
Contoh pereaksi:
 Pereaksi fehling: pereaksi fehling terdiri dari 2 larutan, yaitu larutan
fehling A (CuSO4 dalam air) dan fehling B (larutan garam KNatartrat
dan NaOH dalam air)
 Pereaksi benedict: larutan yang mengandung kuprisulfat, natrium
karbonat, dan natrium sitrat, yang memebuat pereaksi benedict bersifat
basa lemah.
 Pereaksi Barfoed: terdiri atas larutan kupri asetat dan asam asetat
dalam air, digunakan untuk membedakan antara monosakarida dengan
disakarida ( Poedjiadi, 1994).
Karbohidrat mempunyai beberapa sifat kimia yang berhubungan erat dengan
gugus fungsi yang terdapat pada molekulnya, yaitu –OH, gugus aldehida, dan gugus
keton, diantaranya adalah:
 Sifat mereduksi, dimana monosakarida dan beberapa disakarida
mempunyai sifat mereduksi, terutama dalam suasana basa.
 Pembentukan furfural
Bila larutan asam yang encer walauoun dipanaskan, monosakarida
umumnya stabil. Bila dipanaskan dengan asam kuat pekat,
monosakarida menghasilkan furfural atau derivatnya.
 Pembentukan Ozazon, apabila semua karbohidrat yang memiliki gugus
aldehida atau keton bebas dipanaskan bersama fenilhidrazin berlebih.
 Pembentukan ester apabila karbohidrat direaksikan dengan asam
(Poedjiadi, 1994).
C. ALAT DAN BAHAN
ALAT:
1. Tabung reaksi 6. Penjepit
2. Pipet tetes 7. Penangas air
3. Gelas ukur 8. Bunsen
4. Pipet volume 9. Saringan gels
5. Mikroskop

BAHAN:
1. 1 mL sakarida
2. 1 mL α-naftol dalam alkohol 1%
3. 1 mL larutan H2SO4 pekat
4. Fehling A R/ Kupri Sulfat (CuSO4 . 5H2O)n 34,6390 g
Aquadest ad 500 mL
5. Fehling B R/ K-Na tartrat 173 g
NaOH 50 g
Aquadest ad 500,0 mL
6. Pereaksi Tollens : Perak Nitrat 0,02 N dalam amoniak
7. Pereaksi Nylanders : KNa- segnett 4g
NBB 2g
NaOH konsentratus ad 100,0 mL
8. Pereaksi Saliwanoff : 0,5 g resorcinol 100 ml , HCl 4 N
9. Larutan Fenilhidrazin
Larutan I : Larutan Na-Ac 10 g
Acetic acid 20 mL
Aquadest ad 100,0 mL
Larutan II : fenil hidrazin 5 mL
NaHSO3 35% 5 mL
10. 2 mL NaCl jenuh
11. 1 mL HCl
12. Larutan glukosa 1%
13. Larutan fruktosa 1 %
14. Larutan laktosa 1 %
15. Larutan maltosa 1 %
16. Larutan sukrosa 1 %
17. Larutan amilum 1 %

D. SKEMA KERJA
Percobaan Molish

Ambil 6 tabung reaksi

Isi masing-masing tabung dengan 1mL sakarida

Tambahkan kepada masing-masing tabung 1 mL larutan α-naftol dalam alkohol 1% campur


hingga homogen

Tambahkan masing-masing tabung 1 mL H2SO4 pekat dengan pipet melewati dinding tabung

Terjadi 2 lapisan dan perbatasan cairan berbentuk cincin ungu

Percobaan Fehling

Ambil 6 tabung reaksi

Isi masing-masing tabung dengan 1 mL sakarida

Tambahkan pada masing-masing tabung dengan 1 mL Fehling A dan 1 mL Fehling B

Kocok hingga homogen

Panaskan di atas api spiritus hingga terbentuk endapan merah bata

Percobaan Tollens

Ambil 6 tabung reaksi

Isi masing-masing tabung dengan 1 mL sakarida

Tambahkan pada masing-masing tabung dengan 1 mL pereaksi Tollens


Panaskan di atas api spiritus hingga terbentuk cermin perak

Percobaan Nylanders

Ambil 6 tabung reaksi

Isi masing-masing tabung dengan 1 mL sakarida

Tambahkan pada masing-masing tabung dengan 1 mL pereaksi Nylanders

Panaskan di atas api spiritus hingga terbentuk endapan hitam

Percobaan Salliwanof

Ambil 6 tabung reaksi

Isi masing-masing tabung dengan 1 mL sakarida

Tambahkan pada masing-masing tabung dengan 1 mL pereaksi Salliwanof

Panaskan di atas api spiritus

Catat mana yang berwarna merah

Percobaan Ozazon

Ambil 6 tabung reaksi

Isi masing-masing tabung dengan 1 mL sakarida

Tambahkan 2 ml larutan Fenilhidrazin dan 2 mL NaCl jenuh

Panaskan 2 menit di atas penangas air mendidih

Amati kristal yang terbentuk di bawah mikroskop

Uji Amilum

Ambil 6 tabung reaksi

Isi masing-masing tabung dengan 1 mL amilum 1%


Tambahkan HCl masing-masing 1 mL

Panaskan semuanya di atas penangas air mendidih

Angkat 1 tabung tiap 5 menit

Tambahkan larutan Iodium

Amati warna yang terjadi

E. DATA DAN ANALISA


a. Percobaan Molisch
Warna
Warna sebelum Warna ditambah H2SO4
Zat ditambah α- hasil urutan
bereaksi pekat
naftol

Glukosa 1% + 3

Putih bening Putih keruh Atas putih, bawah ungu

Fruktosa 1% + 1

Putih bening Putih keruh Atas putih, bawah ungu

Laktosa 1% + 4

Putih bening Putih keruh Atas putih, bawah ungu


Maltosa 1% + 5

Putih bening Putih keruh Atas putih, bawah ungu

Sukrosa 1% + 2

Putih bening Putih keruh Atas putih, bawah ungu

Amilum 1% - 6

Putih keruh Putih keruh Atas putih, bawah pink

b. Percobaan Fehling
Warna sesudah
Zat Warna sebelum dipanaskan waktu hasil
dipanaskan

2 menit 56
Glukosa 1% -
detik

Atas biru lebih muda keruh,


Tetap
bawah biru tua keruh

2 menit 7
Fruktosa 1% +
detik

Biru kehijauan keruh Atas merah


tua, bawah
merah bata

3 menit 29
Laktosa 1% +
detik

Biru tua bening (++++) Merah bata

2 menit 20
Maltosa 1% +
detik

Biru tua bening (+++) Merah bata

3 menit 20
Sukrosa 1% -
detik

Biru tua bening (++) Tetap

Amilum 1% - -

Biru tua keruh (+) Tetap

c. Percobaan Tolens
Warna sesudah
Zat Warna sebelum dipanaskan waktu hasil
dipanaskan

Glukosa 1% 60 detik +

Putih keruh
Cermin perak

5 detik lebih
Fruktosa 1% +
37

Ungu keruh Cermin perak

Laktosa 1% 56 detik +

Putih keruh Cermin perak

1 menit 57
Maltosa 1% +
detik

Putih keruh Cermin perak

2 menit 45
Sukrosa 1% -
detik

Putih keruh Bening

Amilum 1% 1 menit -

Putih keruh sekali Jingga


d. Percobaan Nylanders
Warna sesudah
Zat Warna sebelum dipanaskan waktu hasil
dipanaskan

1 menit 28
Glukosa 1% +
detik

Putih agak keruh Endapan hitam

Fruktosa 1% 56 detik +

Kekuningan Endapan hitam

1 menit 26
Laktosa 1% +
detik

Bening Endapan hitam

Maltosa 1% 52 detik +

Bening Endapan hitam

1 menit 57
Sukrosa 1% -
detik

Bening Bening
1 menit 58
Amilum 1% -
detik

Endapan putih
Keruh
kekuningan

e. Percobaan Salliwanoff
Warna sesudah
Zat Warna sebelum dipanaskan waktu hasil
dipanaskan

Glukosa 1% 2 menit -

Bening Bening

1 menit 11
Fruktosa 1% +
detik

Bening Merah

2 menit 13
Laktosa 1% -
detik

Bening Bening
2 menit 20
Maltosa 1% -
detik

Bening Bening

1 menit 20
Sukrosa 1% +
detik

Bening Merah

f. Percobaan amilum / iodine test


Warna sebelum Warna setelah Warna ditambah
Zat waktu hasil
dipanaskan dipanaskan iodine

5
Amilum I +
menit

Putih lebih jernih, Ungu, endapan putih


Putih keruh & ungu
endapan coklat

10
Amilum II +
menit

Putih lebih jernih,


Putih keruh Ungu, endapan ungu
endapan coklat
15
Amilum III +
menit

Putih lebih jernih, Ungu bening,


Putih keruh
endapan coklat endapan ungu

20
Amilum IV +
menit

Putih lebih jernih,


Putih keruh Ungu, endapan ungu
endapan coklat

25
Amilum V +
menit

Putih lebih jernih,


Putih keruh Ungu, endapan ungu
endapan coklat

30
Amilum VI +
menit

Putih lebih jernih,


Putih keruh Ungu, endapan ungu
endapan coklat

g. Percobaan ozazon
Maltosa (tidak terjadi endapan) laktosa (tidak terjadi endapan)

sukrosa (tidak terjadi endapan) fruktosa

Amilum glukosa (tidak terjadi endapan)


F. PEMBAHASAN

PERCOBAAN MOLISCH

Uji Molisch merupakan salah satu test kimiawi yang digunakan untuk mengidentifikasi
keberadaan karbohidrat. Prinsip percobaan ini adalah dengan men-dehidrasi karbohidrat dengan
menggunakan H2SO4 yang akan menghasilkan aldehida, kemudian akan berkondensasi dengan 2
molekul dari senyawa fenolik (biasanya α-naftol, atau fenolik lainnya seperti β-naftol, fenol, timol,
guaiakol) yang akan menghasilkan cincin ungu.
Prosedur pengerjaannya adalah dengan mencampurkan larutan yang akan diuji dengan
sejumlah kecil reagen Molisch (α-naftol yang dilarutkan di dalam alkohol) di dalam tabung reaksi.
Setelah tercampur, sejumlah kecil H2SO4 ditambahkan ke dalam tabung reaksi melalui dinding
tabung, tanpa dikocok, sehingga membentuk lapisan di bawah tabung. Uji Molisch dikatakan positif
apabila terbentuk cincin ungu di antara lapisan H2SO4 dan larutan uji.

Pada saat penambahan H2SO4, dilakukan melalui dinding tabung. Hal ini dikarenakan sifat
reaksi dari H2SO4 yang eksotermis. Reagen Molisch terdiri dari α-naftol di dalam alkohol 1%. α-
naftol digunakan ini digunakan sebagai pembentuk kompleks antara α-naftol – furfural, yang akan
menghasilkan cincin ungu. Alkohol pada reagen Molisch digunakan sebagai pelindung α-naftol yang
mudah menguap dan mudah teroksidasi oleh udara luar. Warna yang dihasilkan reaksi ini disebabkan
adanya ikatan rangkap terkonjugasi. Ikatan rangkap terkonjugasi adalah ikatan rangkap yang dapat
berpindah-pindah karena adanya resonansi. Hal ini yang menimbulkan warna pada kompleks antara α-
naftol – furfural.
Pada dasarnya, semua jenis karbohidrat (monosakarida, disakarida, polisakarida) akan
memberikan hasil positif pada uji ini. Amilum seharusnya memberikan hasil yang positif, namun
waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan cincin ungu, lebih lama daripada monosakarida lainnya
(glukosa, fruktosa). Hal ini dikarenakan panjang monomernya (pada amilum) yang sangat panjang,
sehingga diperlukan waktu untuk memutuskannya menjadi monomer-monomer yang lebih sederhana.
Pada percobaan praktikan, amilum tidak memberikan cincin ungu. Hal ini dimungkinkan waktunya
yang kurang untuk membentuk cincin ungu.

PERCOBAAN FEHLING

Percobaan Fehling bertujuan untuk mengidentifikasi sakarida yang bersifat sebagai gula
pereduksi. Fehling yang digunakan terdiri dari 2 larutan yaitu Fehling A dan Fehling B. Fehling A
berisi CuSO4.5H2O dan aquadest. CuSO4.5H2O memberikan warna biru dan berfungsi sebagai
penyedia ion Cu2+. Sedangkan Fehling B terdiri dari KNa-tartrat yang berfungsi sebagai pengawet
yaitu untuk mencegah Cu2+ tidak mengendap, NaOH sebagai penyedia suasana basa, dan aquadest.
Fehling B tidak berwarna. Prinsip dari percobaan ini yaitu aldosa bereaksi positif dengan pereaksi
Fehling, sehingga aldosa tersebut teroksidasi membentuk asam aldonat, sedangkan Cu 2+ akan
tereduksi menjadi Cu+. Fehling dapat bereaksi dalam suasana basa dan hasil positif menunjukkan
endapan berwarna merah.
Reaksinya adalah:

O O
C OKSIDASI C
H OH
H C OH H C OH
T
HO C H HO C H
+ Cu2+ + 2OH- + Cu2O + H2 O
H C OH H C OH Endapan
merah bata
H C OH H C OH

D-glukosaCH OH2
Asam D-glukonat
CH2OH

REDUKSI

Dalam percobaan didapatkan hasil positif yaitu fruktosa, laktosa, maltosa yang ditunjukkan
oleh adanya endapan merah bata. Sedangkan amilum tidak menunjukkan hasil positif karena amilum
merupakan suatu polisakarida sehingga memerlukan waktu yang lama untuk hidrolisis menjadi
monosakarida yang lebih sederhana. Sukrosa menunjukkan hasil negatif karena tidak bias berubah
menjadi enol (karena antara aldosa dan ketosa susah untuk terpisah). Monosakarida seperti glukosa
seharusnya paling cepat bereaksi karena glukosa adalah monosakarida , rantainya lebih pendek
sehingga bereaksi dengan cepat. Namun menurut hasil percobaan kami, didapatkan hasil negatif pada
glukosa mungkin disebabkan karena pencucian tabung reaksi yang kurang bersih atau konsentrasi
sakarida yang digunakan terlalu kecil. Selain itu, menurut hasil percobaan kami, fruktosa paling cepat
bereaksi dengan waktu 2 menit 7 detik, padahal fruktosa sendiri tidak mempunyai gugus pereduksi.
Hal ini disebabkan karena larutan basa fruktosa berada dalam kesetimbangan dengan 2 aldehida
diastereomerik serta penggunaan zat-antara tautomerik enadiol yang menghasilkan 2 produk karbonil.
Gugus keton pada fruktosa dapat menjalani tautomeri sehingga dapat dioksidasi oleh zat pengoksidasi
kuat pada ikatan rangkap karbon – karbon tautomer enolnya dengan adanya serah terima hidrogen
asam dari karbon ke oksigen karbonil. Pada saat fruktosa dalam bentuk aldehid inilah maka fruktosa
menunjukkan hasil positif dengan fehling A dan fehling B.
fruktosa CH2OH enadiol CHOH

C O COH

OH C H OH C H
*fruktosa dapat berubah menjadi suatu
H C OH H C OH
enadiol
H C OH H C OH

CH2OH CH2OH

PERCOBAAN TOLLENS

Tujuan dari percobaan Tollens sama dengan percobaan Fehling yaitu mengidentifikasi
sakarida yang mempunyai sifat sebagai gula pereduksi. Prinsipnya jika suatu sakarida direaksikan
dengan pereaksi Tollens maka akan memberikan hasil positif yaitu membentuk cermin perak setelah
dilakukan pemanasan. Pemanasan disini berfungsi untuk mempercepat reaksi (terbentuknya cermin
perak). Pereaksi Tollens terdiri dari perak nitrat dalam amoniak. Perak nitrat berfungsi sebagai
penyedia ion Ag+. Amoniak menjaga agar Ag tetap dalam bentuk ion Ag+. Prinsipnya hampir sama
dengan percobaan Fehling, hanya saja Ag+ akan mengalami reduksi menjadi endapan Ag (cermin
perak).
O O
C OKSIDASI C
H OH
H C OH H C OH

HO C H HO C H
+ 2Ag+ + 2OH- + 2 Ag + H2 O
H C OH
T H C OH Cermin perak

H C OH H C OH
Asam D-glukonat
D-glukosa CH2OH CH2OH

REDUKSI

Dari hasil percobaan, didapatkan hasil positif dengan terbentuknya cermin perak yaitu:
glukosa, fruktosa, laktosa, dan maltosa. Pada prinsipnya, yang mengandung gugus aldosa dan ketosa
(membentuk enandiol  hemiketal) bereaksi positif, yaitu glukosa, laktosa, maltosa, dan amilum.
Fruktosa merupakan ketosa namun dapat bertautomeri membentuk senyawa enandiol (penjelasannya
sama dengan pada percobaan Fehling sebelumnya). Sedangkan sukrosa yang mengandung gugus
keton (tidak membentuk enandiol) akan bereaksi positif (tidak membentuk cermin perak). Pada
percobaan, terjadi penyimpangan yaitu amilum tidak membentuk cermin perak, padahal menurut teori
seharusnya hasilnya positif. Sama halnya dengan percobaan Fehling sebelumnya, dikarenakan amilum
adalah polisakarida yang terdiri dari banyak sekali sakarida-sakarida sehingga rantainya sangat
panjang, menyebabkan ia membutuhkan waktu yang sangat lama pula untuk dapat terhidrolisis dan
membentuk cermin perak.

PERCOBAAN NYLANDERS

Percobaan Nylanders adalah salah satu uji kualitatif yang digunakan untuk mengidentifikasi
adanya gugus pereduksi pada sakarida. Gugus pereduksi yang ada pada sakarida adalah gula berjenis
aldosa. Aldosa adalah gula yang mengandung gugus aldehid yang dapat teroksidasi menjadi asam
karboksilat jika direaksikan dengan reagen Nylanders. Sedangkan ketosa tidak termasuk gugus
pereduksi karena gula ketosa hanya memiliki gugus keton yang tidak dapat teroksidasi lagi.
Reagen Nylanders terdiri dari KNa-segnett, Natrium Bis Bismuth (NBB), dan NaOH. Fungsi
dari KNa-segnett adalah sebagai pengawet yang mencegah mengendapnya bismut pada NBB. NBB
merupakan reagen yang digunakan untuk mengetahui keberadan gugus aldehid pada sakarida. Larutan
ini berisi ion Bi3+ yang akan tereduksi menjadi Bi2+ akibat bereaksi dengan aldosa. NaOH pada reagen
sebagai pencipta suasana basa. Hasil positif adanya gugus gula pereduksi adalah terbentuknya
endapan hitam (Bi2+) yang merupakan hasil reduksi NBB.

Reaksi yang terjadi dalam percobaan Nylanders adalah

O O
oksidasi
C C
H OH
H C OH H C OH

HO C H HO C H
+ Bi3+ + 2OH- + Bi2+ + H2O
H C OH
T H C OH
endapan hitam

H C OH H C OH

CH2OH CH2OH

D-glukosa Asam D-glukonat


reduksi
Dari hasil pengamatan, di amati ketika diuji dengan reagen Nylanders, larutan glukosa,
fruktosa, laktosa, maltosa menimbulkan endapan hitam. Hal ini menandakan larutan yang diuji
mengandung gugus gula pereduksi. Namun, berdasarkan teori yang ada, fruktosa merupakan ketosa
(tidak memiliki gugus pereduksi), namun menghasilkan endapan hitam ketika direaksikan dengan
reagen Nylanders. Hal ini dimungkinkan ketidakcermatan praktikan dalam pencucian tabung reaksi,
sehingga dimungkinkan masih tertinggal sakarida-sakarida lainnya yang dapat mengacaukan
percobaan ini.

PERCOBAAN SALLIWANOFF

Reaksi Salliwanoff adalah suatu reaksi untuk mengidentifikasi adanya gugus keton pada suatu
sakarida. Reagen Salliwanoff terdiri dari 0,5 g resorcinol dalam 100 mL HCl 4N. Kegunaan dari
resorcinol adalah untuk membentuk kompleks dengan sakarida dengan jenis ketosa yang akan
menghasilkan warna merah. Asam klorida yang terdapat dalam reagen Salliwanoff berfungsi
mengubah heksosa (dalam reaksi di bawah ini adalah bentuk furanosa dari fruktosa) menjadi hidroksi
metil furfural yang kemudian akan bereaksi dengan resorcinol membentuk kompleks yang berwarna
merah. Bentuk furanosa dari fruktosa merupakan hasil dari siklisasi monosakarida. Siklisasi ini
menyebabkan pembentukan suatu hemiasetal atau hemiketal siklik yang disebabkan oleh reaksi adisi
nukleofilik intra-molekul antara gugus OH dan gugus C=O. Beberapa monosakarida berada dalam
bentuk kesetimbangan antara bentuk rantai terbuka dan bentuk siklis, contohnya fruktosa.

Reaksi yang terjadi pada percobaan Salliwanoff adalah

kompleks yang terbentuk,


menghasilkan warna merah

Pada pengamatannya, hanya fruktosa dan sukrosa yang mengalami perubahan warna menjadi
merah ketika ditambahkan reagen Salliwanoff. Hal ini membuktikan bahwa fruktosa dan sukrosa
merupakan sakarida jenis ketosa.

PERCOBAAN OZAZON

Percobaan Ozazon adalah salah satu cara metode uji kualitatif pada karbohidrat dengan
mengidentifikasi bentuk kristal sakarida yang terbentuk. Hal ini dikarenakan setiap sakarida memiliki
bentuk kristal yang berbeda-beda jika direaksikan dengan pereaksi Ozazon. Semua sakarida yang
mempunyai gugus aldehid atau keton bebas, akan membentuk Ozazon apabila dipanaskan dengan
fenilhidrazin berlebih.
Pada percobaan ini, larutan yang digunakan sebagai reagen untuk membentuk Ozazon adalah
larutan fenilhidrazin yang terdiri dari larutan I dan larutan II. Larutan I yang terdiri dari asam asetat
dan larutan natrium asetat, berfungsi sebagai buffer yang bertujuan untuk menjaga kestabilan reaksi
yang terjadi dengan cara menarik air sehingga terjadi proses kristalisasi dari Ozazon yang terbentuk.
Larutan II merupakan larutan yang terdiri dari fenilhidrazin (merupakan reagen pembetuk kristal
Ozazon)dan NaHSO3. NaHSO3 dan penambahan NaCl bertujuan mempercepat pembentukan kristal.
Pemanasan yang diberikan pada percobaan ini adalah untuk mempercepat reaksi dengan pemberian
kalor.
Reaksi yang terjadi pada percobaan Ozazon adalah
H
CHO HC N N C6H5

H OH H OH

HO H + HO H
+ O
NH2 H H
H OH H OH
N
H
H OH H OH

CH2OH CH2OH

D-glukosa fenilhidrazin fenilhidrazon air


H H
HC N N C6H5 HC N N C6H5

H
H OH N N C6H5
NH2
HO H
+
HO H
+ + NH3 + O
2 H H
H OH NH2 H OH
N
H
H OH H OH

CH2OH CH2OH

fenilhidrazon fenilhidrazin ozazon anilin amonia air


Osazon yang terbentuk mempunyai ciri-ciri merupakan kristal yang berwarna kuning dan
merupakan senyawa yang tidak larut dalam air. Kristal ini memiliki bentuk yang spesifik pada
masing-masing monosakarida sehingga dapat digunakan untuk identifikasi lebih lanjut. Pada
percobaaan yang telah dilakukan, kristal hanya ditemukan pada fruktosa yang berbentuk kristal
panjang meruncing dan pada amilum yang bentuknya kristal pentagonal. Tidak semua larutan yang
diuji menghasilkan kristal Ozazon. Hal ini dipengaruhi ketidakcermatan prosedur kerja yang
dilakukan oleh praktikan sehingga didapatkan hasilnya yang negatif, contohnya pemanasan yang
kurang lama sehingga kristal tidak dihasilkan.

PERCOBAAN IODINE

Percobaan Iodine bertujuan untuk mengamati perubahan polisakarida menjadi monosakarida


dengan perbedaan intensitas warna. Amilum merupakan salah satu bentuk polisakarida, yang terdiri
atas 2 macam bentuk polimer dari glukosa yaitu amilosa dan amilopektin. Butiran amilum tidak larut
dalam air, tetapi apabila dipanaskan membentuk koloid yang besar dan kental. Larutan koloid ini jika
diberi larutan I2, akan berwarna biru yang disebabkan oleh molekul amilosa yang membentuk
senyawa. Pereaksi iodine terdiri dari HCl dan larutan iodium. HCl berfungsi untuk menghidrasi
polisakarida yaitu amilum menjadi monosakarida yaitu glukosa. Amilum yang sudah ditambahkan
HCl 1 mL, dipanaskan di atas penangas air mendidih, kemudian untuk membedakan intensitas
warnanya, tiap 5 menit tabung diangkat dan ditambahkan larutan iodium. Diasumsikan bahwa
semakin lama perubahan intensitas warna amilum semakin pekat, kemudian menurun dan memudar
sampai bening (tidak berwarna). Hal ini terjadi karena amilum terurai /terhidrolisis menjadi
monosakarida yaitu glukosa yang tidak berwarna. Pemanasan berfungsi untuk menghidrolisis
polisakarida tersebut menjadi monosakarida, warna yang semakin pudar menunjukkan proses
terhidrolisisnya amilum (polisakarida) itu.
HCl K2I4 K2I4
Amilum amilum dekstrin eritrodekstrin
T T T
(ungu tua) (ungu tua) (ungu tua)
T K2I4

K2I4 K2I4
glukosa maltosa akrodekstrin
T T
(bening) (bening) (bening)

Berdasarkan teori, warna yang dihasilkan setiap perbedaan pemanasan yaitu 5 menit, seharusnya
berbeda-beda, namun pada pengamatan kelompok kami warnanya hanya ungu tua kemudian berubah
berangsur-angsur menjadi bening. Hal ini mungkin disebabkan karena kontras warna yang hampir
sama sehingga sulit dibedakan dan warnanya nampak hampir sama.
G. KESIMPULAN
Dari hasil yang diperoleh dari praktikum, yaitu:
 Percobaan Molisch
Yang menunjukan hasil positif adalah glukosa, fruktosa, laktosa, maltosa,
sukrosa. Ditunjukkan dengan perubahan warna atas putih dan bawah ungu /
pink.
 Percobaan Fehling
Yang menunjukan hasil positif adalah fruktosa, laktosa, dan maltosa.
Ditunjukkan dengan perubahan warna menjdi merah tua / merah bata.
 Percobaan Tollens
Yang menunjukan hasil positif adalah glukosa, fruktosa, laktosa, maltosa.
Ditunjukkan dengan terbentuknya cermin perak.
 Percobaan Nylanders
Yang menunjukan hasil positif adalah glukosa, fruktosa, lactose, maltosa.
Ditunjukkan dengan terbentuknya endapan hitam.
 Percobaan Salliwanoff
Yang menunjukan hasil positif adalah fruktosa dan sukrosa. Ditunjukkan
dengan perubahan warna menjadi merah.
 Percobaan Ozazon
Yang menunjukan hasil positif adalah amilum dan fruktosa. Ditunjukkan
dengan terjadinya endapan dan hasil pengamatan dari mikroskop.
 Percobaan Amilum
Yang menunjukan hasil positif adalah semua amilum dalam jangka waktu
terpaut lima menit. Ditunjukkan dengan perubahan warna menjadi ungu dan
membentuk endapan.

H. DAFTAR PUSTAKA
Davidson, L.,Ph. D., and Donald Sittman, Ph.D, 1999, Biochemistry 4th Edition, 77, A
Woiters Kluwen Company, USA.
Keenan, 1980, Kimia Untuk Universitas, 412, Erlangga, Jakarta.
Poedjiadi, A, 1994, Dasar-dasar Biokimia, 10-11, 38-43, UI Press, Jakarta.
Sastroamidjojo, H., 2005, Kimia Organik, 42, Gajah Mada University Press,
Yogyakarta.
Yogyakarta, 2 Maret 2010
Praktikan,

Hayu Ajeng Anggana R


(098114004)

Amelia Felicia C
(098114005)

Kenny Ryan L
(0988114006)

Anda mungkin juga menyukai