Anda di halaman 1dari 3

KUALIFIKASI LUKA

LUKA BERAT
Kualifikasi luka menjadi:
1. Luka yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan menjalankan
pekerjaan jabatan atau pencarian,
2. Luka yang menimbulkan penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan
jabatan atau pencarian, dan
3. Luka tergolong luka berat
Luka Berat
Luka berat berarti:
KUHP pasal 90:
(1) Jatuh sakit atau mendapatkan luka yang tidak member harapan akan
sembuh sama sekali atau yang menimbulkan bahaya maut, (2) Tidak mampu
terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencarian,
(3) Kehilangan salah satu panca indra, (4) Mendapat cacat berat, (5)
Menderita sakit lumpuh, (6) Terganggunya daya piker selama empat minggu
lebih, dan (7) Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.
Jatuh Sakit atau Mendapat Luka yang Tidak Memberi Harapan Akan
Sembuh Sama Sekali atau Menimbulkan Bahaya Maut
Dengan sembuh diartikan fungsi alat tubuh kembali 100%. Missalnya lengan
patah. Meskipun pada kulit didapatkan parut dan anatomis tidak seperti semula
tetapi agak bongkok, tetapi fungsi kembali 100%, lengan dianggap sembuh.
Bahaya maut haruslah ditinjau dari keadaan korban pada waktu diperiksa
untuk pertama kali dan keadaan pada waktu perawatan pasca operasi.
Misalnya: seorang tertusuk perutnya sehingga ada lingkaran usus keluar.
Pasca operasi suhu badan korban naik karena adanya infeksi. Keadaan ini termasuk
bahaya maut. Bahwa korban kemudian sembuh, luka yang diderita harus tetap
dianggap luka yang menimbulkan bahaya maut. Pendapat ini bertentangan dengan
pendapat penulis lain yang menyatakan, bahwa bila korban sembuh, maka
kualifikasi luka tidak lagi luka yang menimbulkan bahaya maut.
Tidak Mampu
Pencarian

Terus-menerus

Menjalankan

Pekerjaan

Jabatan

atau

Misalnya seorang pianis professional mengalami luka pada beberapa jari


tangannya dan setelah sembuh, sendi jari tangan menjadi kaku seterusnya

(ankylosis), sehingga ia tidak lagi dapat memainkan piano dengan baik dan ia
kehilangan mata pencahariannya.
Kehilangan Salah Satu Panca Indria
Panca indria manusia terdiri dari: pengelihatan, pendengaran, perasa,
penciuman, dan peraba. Kehilangan pengelihatan satu mata atau kehilangan
pendengaran satu telinga termasuk luka berat. Seorang masinis yang kehilangan
pengelihatan satu mata akan kehilangan mata pencahariannya, demikian pula
seorang pianostemmer yang kehilangan pendengaran satu telinga.
Cacat Berat
Misalnya kehilangan satu lengan atau tungkai, wajah rusak karena disiram
asam aki. Gigi rontok, kehilangan ujung jari memang cacat atau kudung, tetapi
tidak termasuk cacat berat.
Menderita Sakit Lumpuh
Misalnya, korban mengalami trauma pada tulang belakang. Akhirnya
mengalami lumpuh pada kedua tungkai.
Terganggunya Daya Pikir Selama Empat Minggu Lebih
Seorang yang mendapat trauma pada kepala, dapat menderita amnesia atau
afasia sensorik/motorik selam empat minggu lebih. Amnesia berarti lupa tentang
segala hal sebelum jatuh sakit, lupa akan namanya sendiri dan sebagainya, tetapi
lambat laun pikirannya akan normal kembali.
Yang menjadi persoalan adalah bila terganggunya daya pikir terjadi setelah
hakim menjatuhkan vonis yang tentunya lebih ringan dari semestinya. Sekali pidana
telah dijatuhkan oleh hakim, perkara tidak dapat diulang di siding pengadilan,
sesuai dengan ne bis in idem dalam KUHP pasal 76, tetapi dalam perkara perdata
bukan merupakan halangan untuk menuntut ganti rugi.
KUHP pasal 76:
1. Kecuali dalam hal putusan hakim masih mungkin diulang, orang tidak
boleh dituntut dua kali karena perbuatan yang oleh hakim Indonesia
terhadap dirinya telah diadili dengan putusan yang menjadi tetap.
Dalam artian hakim Indonesia, termasuk juga hakim pengadilan
swapraja dan adat, ditempat yang mempunyai pengadilan tersebut.
2. Jika putusan yang menjadi tetap itu berasal dari hakim lain, maka
terhadap orang itu dan karena tindak pidana itu pula, tidak boleh
diadakan penuntutan dalam hal putusan berupa pembebasan dari
tuduhan atau lepas dari tuntutan hokum serta putusan berupa

pemidanaan dan telah dijalani seluruhnya atau telah diberi ampun


atau wewenang untuk menjalankannya telah hapus karena daluarsa.
Gugur atau Matinya Kandungan Seorang Perempuan
Yang dimaksud dalam hal ini adalah karena satu trauma yang disengaja atau
tidak, seorang perempuan kemudian mengalami keguguran atau matinya
kandungan.
Tidak termasuk kategori penganiayaan berat, apabila yang berasalah sengaja
menggurkan atau sengaja menyebabkan matinya kandungan seorang perempuan.
Kejahatan demikian adalah pengguguran, KUHP pasal 347.

Anda mungkin juga menyukai