Anda di halaman 1dari 14

BAB III

LEACHING
3.1.

Tujuan Percobaan
Mengetahui pengaruh lama waktu ekstraksi terhadap jumlah ekstrak yang
didapatan dengan menggunakan proses ekstraksi.
Mengetahui pegaruh suhu ekstraksi terhadap hasil ekstrak yang didapatkan
dengan menggunakan proses ekstraksi.

3.2.

Tinjauan Pustaka
Salah satu proses pemisahan suatu komponen dalam campuran yang sering

dijumpai dalam industri kimia adalah proses ekstraksi. Berdasarkan fase yang terlibat,
ekstraksi yang dibagi menjadi 2 macam, yaitu: ekstraksi cair-cair dan ekstraksi padatcair. Ekstraksi padat-cair banyak digunakan pada pengambilan suatu zat dari padatan,
misalnya pengambilan minyak dari biji-bijian hasil pertanian (jagung, kacang tanah,
kemiri, jarak), ataupun dari daun dan akar tanaman. Pada proses ekstraksi padat-cair
tersebut, bahan padat dikontakkan dengan cairan (disebut dengan pelarut), sehingga
akan diperoleh larutan solute dalam pelarut (disebut ekstrak). Selanjutnya ekstrak
dipisahkan dari pelarutnya dengan cara distilasi atau vaporasi. Sedangkan ekstraksi caircair banyak digunakan dalam industri pengilangan minyak bumi.[1]
Banyak proses biologi, inorganik dan substansi organik terjadi dalam campuran
dengan komponen yang berbeda dalam solid. Tujuannya adalah untuk memisahkan
campuran solute atau menghilangkan komponen solute yang tidak diinginkan fase solid,
solid dikontakkan dengan fase cair. Dua fase ini dikontakkan dengan intim dan solute
dapat mendifusi dari fase solid ke fase cair yang mana menyebabkan pemisahan original
komponen dalam solid. Proses ini disebut liquid-solid leaching atau leaching sederhana.
Istilah ekstraksi juga digunakan untuk mendeskripsikan unit operasi, meskipun itu juga
mengarah pada liquid-liquid. Dalam leaching ketika komponen yang tidak diinginkan
dihilangkan dari solid dengan menggunakan air, proses ini disebut washing (pencucian).
[2]

Komponen-komponen kimia yang terkandung di dalam bahan organik seperti


yang terdapat di dalam tumbuh-tumbuhan sangat dibutuhkan oleh keperluan hidup
manusia, baik komponen senyawa tersebut digunakan untuk keperluan industri maupun

untuk bahan obat-obatan. Komponen tersebut dapat diperoleh dengan metode ekstraksi
dimana ekstraksi merupakan proses pelarutan komponen kimia yang sering digunakan
dalam senyawa organik untuk melarutkan senyawa tersebut dengan menggunakan suatu
pelarut.
Menurut Mc Cabe (1999), ekstraksi dapat dibedakan menjadi dua cara
berdasarkan wujud bahannya yaitu:
1. Ekstraksi padat cair, digunakan untuk melarutkan zat yang dapat larut dari
campurannya dengan zat padat yang tidak dapat larut.
2. Ekstraksi cair-cair, digunakan untuk memisahkan dua zat cair yang saling bercampur,
dengan menggunakan pelarut dapat melarutkan salah satu zat Ekstraksi padat cair
secara umum terdiri dari maserasi, refluktasi, sokletasi, dan perkolasi.
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga
terpisah dari bahan yang tidak larut dengan pelarut cair. Senyawa aktif yang terdapat
dalam berbagai simplisia dapat digolongkan ke dalam golongan 3 minyak atsiri,
alkaloid, flavonoid, dan lain-lain. Dengan diketahuinya senyawa aktif yang dikandung
simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara ekstraksi yang tepat. [6]
Prinsip kerja dari proses ekstraksi
Adapun mekanisme yang terjadi dalam proses ekstraksi padat- cair sebagai berikut :
[Geankoplis, 1993]
1. Padatan dikontakkan dengan pelarut sehingga pelarut akan bergerak dari bulk solvent
solution menuju permukaan padatan. Kontak padatan dengan pelarut dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu : perkolasi (padatan disusun menyerupai unggun tetap dan
solvent dialirkan melewati unggun tersebut) atau dispersi (padatan didispersikan ke
dalam pelarut hingga seluruh permukaan padatan diselimuti oleh pelarut, dispersi
dapat dibantu dengan pengadukan). Pada penelitian ini, kontak dilakukan secara
dispersi menggunakan magnetic strirrer
2. Pelarut berdifusi ke dalam padatan. Pada proses difusi, suatu zat akan berpindah
melewati membran dari daerah berkonsentrasi tinggi menuju ke konsentrasi rendah.
Peristiwa difusi dapat terjadi karena adanya driving force berupa perbedaan
konsentrasi. [Bailey, 1983]
3. Solute yang terkandung dalam padatan akan larut dalam pelarut yang telah masuk ke
dalam padatan. Solute dapat larut dalam solvent karena adanya gaya antar aksi

diantara molekul - molekulnya, yaitu gaya dipol - dipol dimana zat yang bersifat
polar - polar atau non polar - non polar akan saling berikatan. Selain itu juga
terdapat gaya London ayng terjadi antara dipol - dipol yang

lemah sehingga

memungkinkan pelarut polar melarutkan senyawa non polar.


4. Solute akan menuju permukaan padatan dan berdifusi kembali keluar padatan. Difusi
ini terjadi karena konsentrasi pelarut yang mengandung solute lebih besar
dibandingkan konsentrasi pelarut di luar padatan yang tidak mengandung solute
5. Solute berpindah ke dalam bulk solution.Ekstraksi dilakukan hingga tercapainya
waktu kesetimbangan, dimana driving force bernilai nol (atau mendekati nol).
Selama terjadi kontak antara padatan dengan pelarut, sebagian solute akan berpindah
ke dalam pelarut secara difusi dan berlangsung hingga kesetimbangan tercapai. Laju
difusi ini sebanding dengan luas permukaan partikel padatan dan berbanding terbalik
dengan ketebalan padatan sehingga umumnya bahan dibuat menjadi serbuk terlebih
dahulu.
Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencapai unjuk kerja ekstraksi yang
baik, antara lain:
1. memperkecil ukuran padatan sehingga lintasan kapiler yang harus dilewati (secara
difusi) menjadi lebih pendek dan tahanan akan berkurang. Solute seringkali
terkurung di dalam sel sehingga perlu dilakukan kontak langsung dengan pelarut
melalui pemecahan dinding sel. Pemecahan dapat dilakukan dengan penekananatau
penggerusan, namun kuran partikel tidak
boleh terlalu kecil;
2. Temperaturyang lebih tinggi (viskositas pelarut lebih rendah, kelarutan solutelebih
besar) pada umumnya menguntungkan unjuk kerja ekstraksi. Namun, temperature
kstraksi tidak boleh melebihi titik didih pelarut karena akan menyebabkan
pelarutmenguap. Biasanya temperatur ekstraksi yang paling baik adalah sedikit di
bawah titik didih pelarut;
3. Semakin banyak pelarut yang digunakanakan meningkatkan unjuk kerja ekstraksi,
namun akan meningkatkan biaya operasisehingga pemilihan perbandingan pelarut
yang optimalperlu diperhatikan; serta

Semakin lama waktu ekstraksi akan meningkatkan unjuk kerja ekstraksi, namun jika
terlalu lama peningkatan perolehan ekstrak terhadap waktu menjadi tidak sebanding dan
tidak efisien.
Kurva kesetimbangan adalah kurva yang terdiri dari garis-garis kesetimbangan
antara konsentrasi ekstrak dan rafinat pada ekstraksi tahap tunggal, dengan rasio
(perbandingan) umpan dan pelarut yang bervariasi. Tujuan dari pembuatan kurva
kesetimbangan ini adalah untuk menggambarkan hubungan antara konsentrasi ekstrak
dan rafinat sebagai data yang harus diperhatikan dalam perancangan unit ekstraksi.
Kurva kesetimbangan ini kemudian digunakan untuk menentukan jumlah tahap teoritik
dan efisiensi tahap pada ekstraksi padat-cair multitahap. Garis kesetimbangan (tie
lines) menghubungkan titik-titik distribusi konsentrasi solut dan padatan inert dalam
ekstrak dan rafinat. Kurva kesetimbangan dapat digambarkan dalam diagram segitiga
sama sisi atau diagram segitiga siku-siku, diagram X-Y, dan diagram Janecke. [5]
Faktor penting yang harus diperhatikan adalah:
1. Ukuran partikel
Ukuran partikel mempengaruhi kecepatan ekstraksi. Semakin kecil ukuran partikel
maka areal terbesar antara padatan terhadap cairan memungkinkan terjadi kontak
secara tepat.

Semakin besar partikel, maka cairan yang akan mendifusi akan

memerlukan waktu yang relative lama.


2. Temperatur
Dalam kebanyakan kasus, kelarutan bahan yang diekstraksi akan meningkat dengan
memberikan suhu yang lebih tinggi dari ekstraksi biasanya. Selanjutnya, difusi
koefisien akan diharapkan meningkat dengan kenaikan suhu dan ini juga akan
meningkatkan tingkat ekstraksi. Dalam beberapa kasus, batas atas suhu ditentukan
oleh pertimbangan sekunder, seperti, misalnya, kebutuhan untuk menghindari aksi
enzim selama ekstraksi gula.
3. Pelarut
Pemilihan pelarut yang baik adalah pelarut yang sesuai dengan viskositas yang cukup
rendah agar sirkulasinya bebas. Umumnya pelarut murni akan digunakan meskipun
dalam operasi ekstraksi konsentrasi dari solute akan meningkat dan kecepatan reaksi
akan melambat, karena gradien konsentrasi akan hilang dan cairan akan semakin
viskos pada umumnya.[4]

Pemilihan pelarut pada umumnya dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini :


1. Selektivitas
Pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan, bukan komponenkomponen lain dari bahan ekstraksi. Dalam praktek, terutama pada ekstraksi bahanbahan alami, sering juga bahan lain (misalnya lemak, resin) ikut dibebaskan
bersama-sama dengan ekstrak yang diinginkan. Dalam hal itu larutan ekstrak
tercemar yang diperoleh harus dibersihkan, yaitu misalnya di ekstraksi lagi dengan
menggunakan pelarut kedua.
2. Kelarutan
Pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan ekstrak yang besar
(kebutuhan pelarut lebih sedikit).
3. Kemampuan tidak saling bercampur Pada ekstraksi cair-cair pelarut tidak boleh (atau
hanya secara terbatas) larut dalam bahan ekstraksi.
4.

Kerapatan
Terutama pada ekstraksi cair-cair, sedapat mungkin terdapat perbedaaan kerapatan
yaitu besar amtara pelarut dan bahan ekstraksi. Hal ini dimaksudkan agar kedua fasa
dapat dengan mudah dipisahkan kembali setelah pencampuran (pemisahan dengan
gaya berat). Bila beda kerapatan kecil, seringkali pemisahan harus dilakukan dengan
menggunakan gaya sentrifugal (misalnya dalam ekstraktor sentrifugal).

5. Reaktifitas
Pada umumnya pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara kimia pada
komponen-komponen bahan ekstraksi. Sebaliknya dalam hal-hal tertentu diperlukan
adanya reaksi kimia (misalnya pembentukan garam) untuk mendapatkan selektivitas
yang tinggi. Seringkali ekstraksi juga disertai dengan reaksi kimia. Dalam hal ini
bahan yang akan dipisahkan mutlak harus berada dalam bentuk larutan.
6. Titik didih
Ekstrak dan pelarut biasanya harus dipisahkan dengan cara penguapan, destilasi atau
rektifikasi, maka titik didih kedua bahan it tidak boleh terlalu dekat, dan keduanya
tidak membentuk aseotrop. ditinjau dari segi ekonomi, akan menguntungkan jika
pada proses ekstraksi titik didih pelarut tidak terlalu tinggi (seperti juga halnya
dengan panas penguapan yang
7. Kriteria yang lain

Pelarut sedapat mungkin harus:


Murah
Tersedia dalam jumlah besar
Tidak beracun
Tidak dapat terbakar
Tidak eksplosif bila bercampur dengan udara
Tidak korosif
Tidak menyebabkan terbentuknya emulsi
Memilliki viskositas yang rendah
Stabil secara kimia dan termis
Metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut:
1. Cara dingin

Maserasi adalah salah satu jenis metoda ekstraksi dengan sistem tanpa pemanasan
atau dikenal dengan istilah ekstraksi dingin, jadi pada metoda ini pelarut dan
sampel tidak mengalami pemanasan sama sekali. Sehingga maserasi merupakan
teknik ekstraksi yang dapat digunakan untuk senyawa yang tidak tahan panas
ataupun tahan panas. Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana.
Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari.

Perkolasi adalah cara penyarian dengan mengalirkan penyari melalui bahan yang
telah dibasahi. Perkolasi adalah metoda ekstraksi cara dingin yang menggunakan
pelarut mengalir yang selalu baru. Perkolasi banyak digunakan untuk ekstraksi
metabolit sekunder dari bahan alam, terutama untuk senyawa yang tidak tahan
panas.

2. Cara panas
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama
waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya
pendingin balik. Refluks adalah teknik yang melibatkan kondensasi uap dan
kembali kondensat ini ke sistem dari mana ia berasal.
Soxhletasi adalah suatu metode pemisahan suatu komponen yang terdapat dalam
sampel padat dengan cara penyarian berulangulang dengan pelarut yang sama,
sehingga semua komponen yang diinginkan dalam sampel terisolasi dengan

sempurna. Soxhletasi merupakan penyarian simplisia secara berkesinambungan,


cairan penyari dipanaskan sehingga menguap, uap cairan penyari terkondensasi
menjadi molekul-molekul air oleh pendingin balik dan turun menyari simplisia
dalam klonsong dan selanjutnya masuk kembali ke dalam labu alas bulat setelah
melewati pipa sifon. [6]
Oprasi Tahap Ekstraksi Padat-Cair
Pada umumnya proses ekstraksi dilakukan dengan beberapa metode, yaitu:
1. Operasi tahap tunggal (single stage) Operasi tahap tunggal ini terjadi karena adanya
kontak antara umpan dengan pelarut (solvent) yang hanya dilakukan satu kali.
Ekstraksi tahap tunggal dapat dilakukan secara batch atau kontinu. Umpan (Feed)
yang mengandung pelarut asal (A) dan solut (C) dikontakkan dengan solvent atau
pelarut pengekstrak (S) untuk menghasilkan ekstrak (E) dan rafinat (R) dalam
kesetimbangan. Solut yang dipindahkan ke fasa cair pada operasi tahap tunggal ini
tidak banyak sehingga perolehan (yield) yang didapat sedikit.

Gambar 3.1. Skema Operasi Tahap Tunggal

2. Operasi bertahap banyak (multi stage) dengan aliran silang (cross-current Pada
operasi ekstraksi ini terjadi kontak antara padatan dan pelarut (solvent) yang
dilakukan dalam beberapa tahap dimana rafinat yang diperoleh dari tahap yang satu
dikontakkan dengan pelarut baru pada tahap berikutnya. Operasi ini dapat
menggunakan pelarut baru (solvent) dalam jumlah yang bervariasi. Semakin banyak
tahap yang digunakan pada operasi ini berarti semakin banyak solvent yang
digunakan untuk menghasilkan rafinat akhir sehingga n total solvent yang digunakan
bisa lebih besar daripada feed dan menjadi tidak ekonomis. Pemberian pelarut baru
pada setiap tahap akan menghasilkan driving force lebih besar yaitu kadar solut
dalam larutan menjadi lebih banyak. Namun padatan yang digunakan pada setiap
tahap adalah padatan yang sama sehingga rafinat dan ekstrak semakin lama akan
semakin jenuh. Skema operasi multi tahap dengan aliran cross-current

Gambar 3.2. Skema Operasi Multi Tahap dengan Aliran cross-current

3. Operasi bertahap banyak (multi stage) dengan aliran counter-current Operasi multi
stage dengan aliran lawan arah (counter-current) merupakanproses ekstraksi dimana
kontak antara padatan dan pelarut (solvent) dilakukan 24 lebih dari satu kali. Prinsip
ekstraksi multi stage counter-current adalah padatan baru dikontakkan dengan
pelarut yang telah banyak mengandung solut yaitu ekstrak sebagai hasil kontak pada
tahap-tahap berikutnya, sedangkan padatan yang solutnya telah menipis dikontakkan
dengan pelarut segar pada tahap berikutnya. Operasi ekstraksi counter-current
banyak diterapkan dalam industri karena menghasilkan perolehan (yield) yang cukup
tinggi. Hal ini disebabkan oleh kontak antara ekstrak dengan padatan baru dan antara
rafinat dengan pelarut baru memberikan driving force berupa perbedaan konsentrasi
dan kelarutan dalam setiap tahapnya sehingga akan selalu terjadi perpindahan solut
dari padatan ke pelarut. Operasi ekstraksi kontinu countercurrent dapat disimulasikan
dengan operasi batch antara umpan dan pelarut, tetapi harus mengikuti skema
operasi ekstraksi multi tahap counter-current secara kontinu sampai mencapai steady
state [Treybal,1980].

Gambar 3.3. Skema Operasi Multi Tahap dengan Aliran counter-current

4. Operasi bertahap banyak (multi stage) dengan aliran searah (co-current) Operasi
multi tahap dengan aliran co-current ini merupakan proses ekstraksi dimana kontak
antara padatan dan pelarut (solvent) dilakukan lebih dari satu kali dalam aliran
searah. Operasi secara co-current sebenarnya mirip dengan 25ekstraksi tahap tunggal
tetapi ekstrak dan rafinat yang diperoleh dari satu tahap diaduk lagi sampai waktu
kesetimbangan pada tahap berikutnya sehingga yield yang dihasilkan lebih besar

daripada yield yang dihasilkan pada ekstraksi tahap tunggal. Operasi ekstraksi ini
tidak mungkin dilakukan karena ekstrak (E1) akan dikontakkan kembali dengan
rafinat (R1). Jika tahap operasi berada dalam keadaan ideal maka ekstrak dan rafinat
akan berada dalam kesetimbangan sehingga ekstrak dari tahap dua (E2) akan sama
dengan ekstrak dari tahap satu (E1) dan rafinat dari tahap dua (R2) akan sama pula
dengan rafinat dari tahap satu (R1). Kondisi tersebut akan berlangsung untuk
tahaptahap berikutnya sehingga jumlah tahap akan sulit dihitung karena letaknya
pada garis operasi jauh dari kurva kesetimbangan [Treybal,1980].[5]

Gambar 3.4. Skema Operasi Multi Tahap dengan Aliran co-current

Bayam

merah (Celosia argentea) merupakan

Amaranthacea. Nama saintifiknya adalah

tumbuhan dari keluarga

Amaranthacea Gangeticus

dan nama

Inggrisnya Red Spinach. Di Jawa, tanaman ini dinamai bayem abrit, bayem lemag atau
bayem sekul. Namun, tak dipungkiri bahwa mayoritas masyarakat kita tak banyak
mengenal

bayam merah. Masyarakat lebih familiar dengan bayam hijau untuk

konsumsi sehari-hari. Ketidak populeran bayam merah berakibat pada budidaya


maupun pemasarannya juga belum begitu masif. Padahal, tanaman bernama latin
alternanthera amoena voss ini mengandung banyak khasiat yang dapat mengobati
berbagai penyakit. Bahkan, bayam merah dipercaya juga dapat membersihkan darah
setelah melahirkan, memperkuat akar rambut, mengobati disentri, dan mengatasi
anemia.
Bayam terkenal dengan sayuran sumber zat besi, selain mengandung vitamin
A, vitamin C, dan kalsium. Bayam juga mengandung karotenoid dan flavonoid yang
merupakan zat aktif dengan khasiat antioksidan. Jenis karotenoid utama dalam bayam
adalah beta karoten, sedangkan zat aktif lainnya adalah klorofil. Jenis flavonoid yang
terkandung di dalam bayam adalah lutein dan kuersetin. Kuersetin merupakan
antioksidan kuat yang mampu menangkap radikal bebas superoksida dan menghambat
oksidasi kolesterol LDL.
Lebih lanjut dikatakan bahwa ada dua jenis bayam, yaitu bayam hijau dan
bayam merah. Keduanya kaya vitamin C, tetapi bayam hijau lebih kaya vitamin A

sedangkan bayam merah lebih banyak mengandung zat besi. Berdasarkan kandungan
zat besi yang terkandung pada bayam merah (7mg/100 g) yang lebih banyak
dibandingkan sayur-sayuran lainnya, maka bayam merah dapat dimanfaatkan dengan
baik sebagai bahan alternative untuk mencegah dan mengatasi anemia defisiensi zat
besi.[3]
Kandungan kimia yang terdapat dalam tanaman bayam antara lain protein,
lemak, kabohidrat, kalium, zat besi, amrantin, rutin, purin, dan vitamin (A, B, dan C).
Bayam memiliki kandungan zat besi yang lebih tinggi dibandingkan sayuran berdaun
lainnya. Dibandingkan dengan tanaman bayam duri (Amaranthus spinosus), tanaman
bayam merah (Amaranthus gangeticus) memiliki kadar besi yang lebih tinggi yaitu
sekitar 2,64 mg Fe/100g. [4]
3.3.

Variabel Percobaan
A. Variabel tetap
-

Jumlah bahan (bayam merah)

: 70 gram

Volume pelarut (air)

:2L

B. Variabel berubah
-

Waktu ekstraksi

: 10,20,30,40,50 menit

Suhu pelarut

: 50 oC dan 70 oC

.4. Alat dan Bahan

A. Alat-alat yang digunakan:


-

Kolom ekstraktor

Tangku penampung (pemanas)

Pompa

beakerglass

neraca digital

piknometer

thermometer

stopwatch

corong

spektrofotometer

B. Bahan-bahan

yang

digunakan:
-

bayam merah

aquadest (H2O)

.6. Prosedur Percobaan


A. Persiapan Bahan
-

Menyiapkan bayam merah dipotong kasar sebanyak 70 gram

Memasukkan pelarut air sebanyak 2L ke dalam tangki pemanas

B. Preparasi larutan
-

Buat larutan besi sulfat 2-10 ppm sebanyak 100 mL

C. Menentukan Panjang Gelombang Maksimum


-

Pipet larutan besi sulfat 2 ppm sebanyak 50 mL

Mengukur nilai %T dan A dari larutan 2 ppm dengan spektrofotometer sinar


tampak pada panjang gelombang 0 nm sampai 520 nm

Menggunakan larutan blangko untuk mengenolkan harga %T sebelum


pengukuran serapan larutan standart pada setiap penggantian panjang
gelombang.

Membuat kurva hubungan antara panjang gelombang dengan absorbansi


(%T) dan menentukan panjang gelombang maksimum.

D. Pembuatan kurva kalibrasi


-

Ambil larutan besi sulfat 2-10 ppm

Ukur besarnya transmitan pada panajang gelombang maksimum

Buat kurva kalibrasi antara panjang gelombang dan konsentrasi

E. Pengukuran sampel larutan


-

Ambil sampel produk ekstraksi pada berbagai waktu 10,20,30,40 dan 50

Ukur besarnya transmitan pada panjang gelombang maksimum

Tentukan konsentrasi larutan dari kurva kalibrasi

F. Prosedur proses ekstraksi warna


-

Memasukkan air sebagai pelarut pada tangki pemanas sebanyak 2L dan


memanaskan sampai suhu mencapai 50 oC.

Memasukkan bahan ke dalam kolom ekstraktor sebanyak 70 gram.

Membuka valve (globe valve) dari tangki pemanas ke dalam kolom


ekstraktor setelah pelarut (air) mencapai suhu 50 oC.

Menghidupkan pompa dan motor ekstraktor, mengalirkan pelarut ke dalam


kolom ekstraktor dengan menggunakan spray dan membiarkan bahan di
dalam kolom ekstraktor selama 5 menit.

Mengeluarkan larutan warna yang telah terbentuk dari kolom ekstraktor


dengan membuka valve dari tangki ekstraktor ke dalam tangki penampung.

Kemudian mengulangi prosedur diatas dengan waktu : 10,20,30,40,50


menit.

Dan mengulangi kembali pada waktu yang sama dengan suhu 70 oC.

G. Menghitung densitas larutan warna


-

Menimbang piknometer kosong dan

mencatat berat serta volume

piknometer kosong.
-

Mengambil beberapa mL larutan warna dan memasukkannya ke dalam


piknometer sampai penuh.

Menimbang piknometer yang telah terisi dengan larutan warna dan


mencatatnya.

Menghitung massa jenisnya dengan menggunakan rumus:

berat piknometer

isi - berat piknometer kosong


Volume piknometer

H. Menghitung %yield produk


-

Menghitung %yield dengan rumus sebagai berikut:

%yield

berat produk

berat bahan baku

x100%

.6. Gambar Peralatan

Gambar 3.1. Instrumentasi ekstraksi padat-cair (leaching)

Keterangan gambar:
1. Tombol pompa
2. Tombol Heater
3. Tombol motor penggerak
4. Box control
5. Sprayer
6.

Kolom ekstraktor

7. Keranjang (tempat bahan)


8. Pompa
9. Tangki pemanas

DAFTAR PUSTAKA
1. Prof. Dr. Nurfina A, Apt., 2006, Jurnal Kimia, Hasil penelitian Kimia, Teori dan
Penerapannya, Universitas Negri Yogyakarta, J. Kim., No 5, Th. V.
2. Geankoplis, C. Transport Processes and Unit Operations. University of

Minnesota,

New Delhi, 1997.


3. I Komang S., Maryam R., dan Rizqa A. P., Pemanfaatan Bayam Merah (Blitum
Rubrum) Untuk Meningkatkan Kadar Zat Besi Dan Serat Pada Mie Kering.
Politeknik, Malang.
4. Melati A. F., 2011, Pengukuran Zat Besi Dalam Bayam Merah Dan Suplemen
Penambahan Darah Serta Pengaruhnya Terhadap Peningkatan Hemoglobin Dan Zat
Besi Dalam Darah. Universitas Indonesia, Depok.
5. Prasetyo, Susiana, S. dan Prima A, K., 2010, Kurva Kesetimbangan Minyak Biji Teh
Normal Heksana dan Aplikasinya Pada Ekstraksi Padat Cair multitahap.
Universitas Khatolik Parahayangan, Bandung.
6. Anonim 2014.
7. Coulson, Richardsons. Chemical Engineering Volume 2 Fifth Edition,
Technology and Separation Processes. Chennai, India, 1955.

Particle