Anda di halaman 1dari 42

Library Manager

Date

Signature

BAGIAN ILMU
FORENSIK DAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN

KEDOKTERAN
MEDIKOLEGAL
REFERAT
MEI 2016

ANALISA BERCAK DARAH

Oleh:
Nurul Syammimi Fatin bt Junit
Aulia Afriani Mustamir

C11111872
C11111316

Pembimbing :
dr. Herri David Octavianus Mundung
Supervisor :
dr. Gunawan Arsyadi, SpPA(K), SpF

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


DI BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016

LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa nama yang tersebut:
1. Nurul Syammimi Fatin Junit

C11111872

2. Aulia Afriani Mustamir

C11111316

Dengan judul referat Analisa Bercak Darah , telah menyelesaikan tugas dalam rangka
kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal, Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar,

Pembimbing

Mei 2016

Konsulen

dr. Herri David Octavianus Mundungdr. Gunawan Arsyadi, SpPA(K),SpF

DISCLAIMER

Referat ini dibuat dengan mengutip referat:


1. BLOOD SPATTER ANALYSIS yang disusun oleh Muhammad Faiz Bin Mohd
Nazri, Nur Arifah Binti Mohd Said , Ummu Asma Binti Mohd Rosli
2. Analisis Bercak Darah yang disusun oleh Harfana Alwi, Moammar Khadafy
Juanda, Kamal fauze

PENDAHULUAN

Di masyarakat, kerap terjadi peristiwa pelanggaran hukum yang menyangkut


tubuh dan nyawa manusia. Untuk pengusutan dan penyidikan serta penyelesaian
masalah hukum ini di tingkat lebih lanjut sampai akhirnya pemutusan perkara di
pengadilan, diperlukan bantuan berbagai ahli di bidang terkait untuk membuat jelas
jalannya peristiwa serta keterkaitan antar tindakan yang satu dengan yang lain dalam
rangkaian peristiwa tersebut. Dalam hal terdapat korban, baik yang masih hidup maupun
yang meninggal akibat peristiwa tersebut, diperlukan seseorang ahli di bidang
kedokteran untuk memberikan penjelasan bagi para pihak yang menangani kasus
tersebut. Dokter yang diharapkan membantu dalam proses peradilan ini kan berbekal
pengetahuan kedokteran yang dimilikinya yang terhimpun dalam ilmu kedokteran
forensik.1
Tingginya

tingkat

kriminalitas

saat

ini

menyebabkan

tingginya

permintaan visum. Hal ini menjadi perhatian kita sebagai dokter umum karena
walaupun permintaan visum biasanya diajukan kepada rumah sakit besar baik
umum maupun swasta, tidak menutup kemungkinan permintaan visum diajukan
kepada kita sebagai dokter umum pada saat kita melakukan tugas PTT di suatu
daerah. Untuk itu sebagai dokter umum kita wajib dapat melakukan visum dan
membuat laporannya melalui Visum et Repertum. Hal ini sesuai dengan
lembaran negara tahun 1973 No. 350 pasal 1 dan pasal 2 serta KUHP pasal 186
dan pasal 187 butir c. (2,3,4)
Dalam melakukan visum, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk
memperjelas dan membuktikan kebenaran suatu kasus. Karena sebenarnya, pada
setiap kejadian kejahatan hampir selalu ada barang bukti yang tertinggal di
tempat kejadian perkara (TKP). Barang bukti tersebut bisa berupa : (2,3,4)
1. Benda atau tubuh manusia yang telah mengalami kekerasan.
2. Senjata atau alat yang dipakai untuk melakukan kejahatan.
3. Jejak atau bekas yang ditinggalkan oleh si penjahat pada tempat kejadian.

4. Benda-benda yang terbawa oleh si penjahat baik yang berasal dari benda atau
tubuh manusia yang mengalami kekerasan maupun yang berasal dari tempat
kejadian.
5. Benda-benda yang tertinggal pada benda atau tubuh manusia yang mengalami
kekerasan atau ditempat kejadian yang berasal dari alat atau senjata yang
dipakai ataupun berasal dari si penjahat sendiri.
Pemeriksaan darah merupakan pemeriksaan penting dari pemeriksaan
yang dilakukan pada kasus forensik. Kadang kala sampel merupakan sampel
segar ataupun dengan tambahan pengawet terutama pada kasus kriminal. Lebih
sering lagi sampel di kirim ke laboratorium berupa darah kering atau bercak
kecolatan yang terdapat pada senjata, pakaian atau objek lainnya.
Pemeriksaan yang dilakukan untuk membedakan:

(2,3,4)

1. Apakah bercak tersebut darah?


2. Jika darah, apakah darah tersebut merupakan darah hewan atau manusia?
3. Jika darah manusia, apakah golongan darah manusia tersebut?
Darah, seperti halnya cairan, dapat memberitahukan sedikit banyaknya
mengenai kejahatan yang terjadi dan mengenai darah yang tertinggal di TKP.
Seringkali, petugas akan menemukan tidak hanya darah korban, tetapi juga
milik pelaku. Luminol yang bersinar terang bila bercampur darah, digunakan
untuk mendeteksi sejumlah kecil darah yang tidak terlihat dengan mata
telanjang. 6
Bila terdapat genangan atau bercak-bercak darah, dilakukan pemeriksaan
dan dibuat penafsirannya, antara lain:

1. Perkiraan jarak antara sumber perdarahan dengan lantai, demikian


pula arah gerakan korban.

2. Perkiraan posisi korban sewaktu mendapat luka, dalam posisi berdiri,


tidur atau miring, ini diketahui dari sifat distribusi serta mengalirnya
darahnya.
3. Perkiraan cara kematian, darah tergenang di sekitar korban atau darah
berceceran dimana-mana.
4. Sumber perdarahan, dari pembuluh nadi atau pembuluh vena; dari
saluran

pernapasan

(paru-paru),

atau

dari

saluran

pencernaan

(lambung).
5. Perkiraan apakah bercak darah tersebut: "sangat baru" (beberapa
hari), "baru", "tua", dan "sangat tua" (beberapa tahun).

I.

DEFINISI ANALISIS BERCAK DARAH


Bloodstain pattern analysis (BPA) atau Analisis pola bercak darah adalah

subspesialisasi rekonstruksi kejahatan pada konteks kejahatan dan adegan kejahatan,


pola noda darah adalah catatan terlihatdari pertumpahan darah di TKP. Sebagaimana
dijelaskan dalam analisis pola noda darah adalah pemeriksaan bentuk,lokasi, dan pola
distribusi noda darah untuk tujuan menafsirkan peristiwa fisik yang menyebabkan hal
tersebut. Pola noda darah adalah akibat langsung dari sifat benda dan kekuatan yang
menciptakan mereka.3
BPA adalah pemeriksaan bentuk, lokasi dan sitribusi pola dari bercak darah dengan
tujuan menginterpretasikan kejadian fisik yang menyebabkan hal tersebut. Sedangkan
pola bercak darah adalah bukti visual adanya bercak atau tumpahan darah pada TKP.3
II.

ANALISIS POLA BERCAK DARAH


Analisis pola bercak darah adalah pemeriksaan bentuk, lokasi,dan distribusi pola

bercak darah dalam rangka memberikan penafsiran peristiwa fisik yang memunculkan
bercak darah tersebut.4
Informasi yang dapat diperoleh dari analisis pola bercak darah yang tepat:3
a. Jarak dari sumber darah ke target
b. Arah sudut jalan dan dampaknya

c. Sifat gaya digunakan untuk menyebabkan tertumpahnya darah


d. Urutan peristiwa tertumpahnya darah
e. Interpretasi pola kontak dan transfer
PEMERIKSAAN UMUM DENGAN MATA TELANJANG
Bercak darah bisa berwarna merah, merah kecoklatan atau hitam, tergantung
dari lamanya/ usia bercak darah tersebut. 6
-Bercak darah yang masih segar

: Merah terang

- 24 jam

: Merah kecoklatan

- Lebih dari 24 jam

: Kehitaman

- Sumber darah bisa berasal dari :


Darah yang dimuntahkan : Berwarna coklat
Dari paru-paru

: Darah berbusa

Bisul

: Pada bercak tersebut mungkin ditemukan sel-

sel nanah dan bakteri


Darah menstruasi

:Berwarna hitam dan mengandung sel-sel

endometrium dan sel epitel vagina


Hidung

: Mengandung mukosa hidung dan bulu hidung

Darah ante-mortem bisa dibedakan dari darah post-mortem berdasarkan beberapa hal
dibawah ini 6
Darah ante-mortem

Darah Post-mortem

1. Perdarahan

Lebih banyak

Sedikit

2.Penyebaran

Ada

Tidak ada

3.Bekuan darah

Ada.Bentuknya kaku dan

Biasanya tidak ada.

elastis.Warnanya

Kalaupun

mudah
dibilas

berubah

tidak
jika

sedikit

ada,
dan

hanya
rapuh.

Warnanya mudah pudar


jika dibilas

A. Penggolongan dari Bentuk/Pola Bercak Darah (4,5)


1. Bercak darah yang dihasilkan dari Extravasation Drops (Tetesan), Gushes & Spur
(Tetesan & semburan arteri); Pool (Genangan).
a.Drops (Tetesan)
Bercak tetesan terbentuk sebagai akibat gaya gravitasi. Darah yg keluar dari
luka memiliki massa tertentu dan akan terjatuh sebagai bulatan berbentuk elips
karena gaya gravitasi. Besarnya bercak darah tetesan tergantung pada volume
arah yang menetes dan sifat-seifat permuaan dimana darah menetes.

Gambar 1. Bentuk tetasan darah5


b. Pool (Genangan)
Aliran darah dari luka (tampa tekanan) yan tergenang di TKP karena faktor
media dan gaya gravitasi.5

Gambar 2.
Bentuk genangan pada korban yang berasal dari darah yang keluar dari luka
korban.5
c. Aliran (flows)
Bentuk bercak darah yang seringkali ditemukan ditempat kejadian perkara
adalah pola aliran. Pola bercak darah ini sering ditemukan pada tubuh korban,
pada objek-objek tertentu di TKP atau pada permukaan tertentu di TKP.
Terbentuknya pola bercak darah tersebut diakibatkan oleh pengaruh gravitasi.5

Gambar 3. Bentuk aliran darah yang dikarenakan oleh gaya gravitasi.5

d. Drip (percikan cairan)


Bercak darah terbentuk ketika genangan darah terkena tetesan darah.

Gambar 4. Bentuk pola drip.5


e. Saturation Stain(Serapan)
Bercak yang terjadi bila benda tertentu (yang dapat) menyerap menyentuh
darah dengan kuantitas yang besar (Genangan atau aliran darah).5

Gambar 5. Bentuk bercak darah yang terserap oleh karpet.5

2. Pola/bentuk bercak darah yang terlembar dari suatu benda


a. Pattern Transfer (Bercak salinan bentuk)
Adalah Bercak darah yang dihasilkan bila objek yg membawa darah cair
bersentuhan dengan permukaan objek lain.

Gambar 6. Pola transfer5

b. Swipe (Bercak Gesekan/Polesan)


Transfer darah

pada permukaan target (Benda tertentu) diakibatkan oleh

pergesekan antara permukaan target (Diam) dengan benda yang bergerak


membawa darah.

Gambar 7. Pola swipe5

3. Bercak yang dihasilkan dari perpindahan/gerakan darah


a. Bercak Saputan (Wipes)
Bercak darah saputan terbentuk ketika suatu objek (diam) yang membawa darah
tergesek oleh suatu permukaan yang bergerak. Gerakan objek diperkirakan
sebagai gerakan Lateral.

Gambar 8. Pola saputan5

b. Cast off (Lontaran)


Bercak darah ini terbentuk bila benda membawa darah dikibaskan dan darah
yang terlontar dari objek menyentuk suatu permukaan. Umumnya Bercak
lontaran ditemukan sebagai serentetan bercak yang berurut sesuai dengan arah
kibasan benda.5

Gambar 9. Pola lontaran5

Gambar 10. Pola Cast-off dari sebuah tongkat dan pipa.5

c. Spatter (Percikan)
Bercak darah percikan terbagi menjadi 2, Forward spatter (percikan kedepan) dan
Back spatter (percikan kebelakang). Benturan yang terjadi pada suatu genangan
darah akan mengakibatkan pecahnya kumpulan darah menjadi butiran butiran
yang lebih kecil dan terpercik kearah menjauhi pusat gaya.5

Gambar 11. Pola spatter3,5

Gambar 12. Pola dari active spatter.3

d. Bercak Expiratory (Bercak darah pernafasan)

Bercak darah ini merupakan bercak darah yang disemburkan dari mulut, hidung
atau

sistem

pernapasan

lainnya.Karena

pengaruh

tekanan

pada

saat

pernapasan.Hal ini menyebabkan pemecahan kumpulan darah menjadi bagian


bagian yang lebih kecil.Sehingga bercak darah pernafasan disamping ditemukan
bercak besar juga dijumpai bintik bintik kecil bercak darah disekitarnya.

Gambar 13. Bercak ekspiratori4

Jenis paling sederhana dari analisis darah menentukan percikan atau transfer.
Percikan tercipta ketika darah dihasilkan dari suatu gaya dan berjalan melalui udara
sebelum mendarat di permukaan target. Pola transfer terjadi ketika darah dari sumber
darah datang dalam kontak langsung dengan luas permukaan target.
B. Karakteristik Jalur Terbangnya Darah1,4,5
1. Tegangan Permukaan
Darah tidak akan terputus kecuali bila ada gaya yang mempengaruhi. Gaya yang
diperlukan cukup besar untuk mengatasi tegangan permukaan darah.Darah
membentuk seperti bola (bentuk melingkar sempurna) hampir segera setelah
memisahkan diri dari sumber darah, Bentuk bulat tersebut disebabkan oleh tegangan
permukaan darah.

Tegangan permukaan menyebabkan darah yang jatuh untuk menarik dirinya baik
secara horizontal maupun vertikal. Jatuhnya darah akan tetap menjadi bentuk bola
sebagai akibat tegangan permukaan. Tegangan permukaan akan mempertahankan
darah berbentuk bola hingga darah jatuh dan menetes ke permukaan.

Gambar 14. Tegangan Permukaan Darah4

2. Angle of Impact (Sudut Dampak )


Bentuk bercak darah ditentukan oleh sudut antara jalur terbangnya dengan
permukaan yang dikenai.3Tetesan darah yang membentur suatu permukaan pada
sudut 90o akan menghasilkan bercak darah yang pada dasarnya bulat dalam bentuk.
Tetesan darah yang membentur permukaan pada sudut kurang dari 90 oakan lebih
panjang atau berbentuk oval.
Dengan berkurangnya sudut antara tetesan darah dengan permukaan target,
panjang bercak darah yang terbentuk akan bertambah dan lebarnya berkurang.

Dengan kata lain bercak darah akan menjadi lebih panjang dan sempit seiring
berkurangnya besar sudut.1

Gambar 15. Angle of impact bercak darah terhadap target permukaan4

Gambar 16. Angle of Impact (Sudut Dampak)4

C. Faktor yang Mempengaruhi Pola Bercak Darah1,4,5


1. Permukaan tekstur target :
a. Bercak darah dapat terjadi pada berbagai permukaan. Jenis permukaan tempat
darah jatuh/menetes mempengaruhi tampilan dari percikan darah yang
dihasilkan. Jika permukaan licin atau tidak kasar darah yang jatuh akan
berbentuk melingkar biasa.
b. Darah yang jatuh pada permukaan yang kasar dan tidak teratur akan membuat
sebuah bentuk bercak dengan bentuk kasar atau bergerigi.

Gambar 17. Permukaan tekstur target4

Gambar 18. Pola pada permukaan yang berbeda3

2. Kecepatan bercak darah(5,10)


Bercak darah pasif / bercak darah dengan kecepatan rendah:
a. Darah jatuh pada kecepatan atau gaya gravitasi yang normal
b. Bercak / percikan biasanya berasal dari luka terbuka atau dari permukaan yang
jenuh dengan darah.
c. Bercak darah yang dihasilkan sebagian besar berukuran besar, berbentuk
lingkaran, dengan diameter percikan 3mm atau lebih.
d. Bercak darah akan bertambah ukurannya sesuai dengan jarak jatuh yang
meningkat pula. Namun ukuran percikan akan tetap konstan bila jarak jatuh
sekitar 4 kaki.

Gambar 19. Bercak darah kecepatan rendah5


Bercak darah dengan kecepatan sedang5
a.

Dihasilkan dengan kecepatan dan energi yang melebihi gaya gravitasi,


b. Jenis percikan ini biasanya terlihat pada penusukan,cedera benda tumpul dan
percikan sekunder.
c. Dihasilkan ketika banyak darah yang lebih besar terpecah menjadi percikan
yang lebih kecil dengan diameter 1-3 mm.

Gambar 20 Bercak darah dengan kecepatan sedang5

Bercak darah dengan kecepatan tinggi5


a. Dihasilkan dengan energi eksternal yang melebihi 100fps menjadi
percikan yang sangat kecil dengan diameter kurang dari 1mm.
b. Bercak seperti ini memberikan gambaran seperti titik.
c. Mekanisme perlukaan yang dapat membentuk pola ini adalah luka
tembak, ledakan, dan dapat juga ditimbulkan oleh peralatan pabrik, batuk
atau bersin.
d. Jenis percikan ini biasanya terjadi karena luka tembak atau ledakan,
namun didapatkan dari udara ekspirasi, batuk,atau bersin

Gambar 21 bercak darah dengan kecepatan tinggi5

III.

Pemeriksaan Darah

Setelah pembunuhan atau serangan telah dilakukan, penyidik polisi biasanya


menemukan darah di TKP, memberi mereka petunjuk tentang apa yang terjadi. Tekstur
darah dan bentuknya serta penyebarannya di sekitar korban sering membantu simpatisan
menentukan kapan kejahatan dilakukan, apakah kejahatan itu diawali dengan
pertarungan antara individu, dan senjata yang digunakan seperti, pisau, pistol, atau objek
yang digunakan untuk memukul . Tetapi mungkin saja pelaku telah mencoba banyak
cara untuk menyembunyikan, membersihkan, dan menghapus bukti darah. Sebagai
contoh, apa yang tampak seperti darah mungkin zat lain ditempatkan di sana oleh
kriminal untuk menyesatkan penyidik polisi. Juga, beberapa penjahat membersihkan
darah dari TKP atau memindahkan tubuh korban di tempat lain, sehingga sulit untuk
merekonstruksi apa yang sebenarnya terjadi. Untuk menentukan skenario potensial yang
mungkin terjadi, ilmuwan forensik menerapkan penemuan ilmiah terbaru untuk hukum
yang memiliki teknik maju yang dapat memberitahu apakah cairan merah terlihat di
sekitar korban sebenarnya darah, menentukan apakah darah manusia, dan menentukan
apakah darah berasal dari korban atau penjahat. 2Dalam pemeriksaan bekas darah, ahli
forensik memiliki daftar pertanyaan khusus sebagai pemandu pada analisis darah
tersebut. Pertanyaan tersebut, terdiri atas(2,3,6,9)

Apakah sampel tersebut adalah darah?


Apakah sampel tersebut adalah darah binatang?
Jika merupakan darah binatang, merupakan binatang spesies apa?
Apakah darah tersebut darah manusia?
Dapatkah sampel darah tersebut menentukan usia, jenis kelamin, atau ras dari
manusia?

1. Apakah bercak tersebut adalah bercak darah


Hemoglobin adalah suatu konjugat protein dan terdiri atas dua bagian: molekul
protein ialah globin dan suatu non-protein molekul ialah hematin yang mengandung
besi. Hemoglobin yang dihidrolisis dengan asam lemah atau alkali dapat diuraikan
menjadi kedua bagian tersebut diatas (heme dan globin).(2,3,6,9)
Derivat-derivat hemoglobin yang perlu diketahui :

Hematin adalah derivat hemoglobin yang terdapat di dalam bercak darah


yang sudah lama berwarna coklat tak larut dalam air. Dapat dibuat kristal
yang dinamakan hemin. Hemin terbentuk karena hemoglobin diuraikan
oleh asam lambung.

Methemoglobin: mudah

larut dalam air, berwarna merah coklat bila

darah kena udara dan sinar dan pada keracunan dengan asam oksalik,
aniline, dan amyl nitrit.

Hemochromagen: Turunan hematin alkali, berwarna merah, tejadi bila


oksihemoglobin

dicampur

dengan

suatu

agen

turunan

alkali.

Spektrumnya sangat khas dan merupakan spectrum terbaik dari semua


spketrum darah untuk diagnosis.

Hematoporphirin: bersifat tidak larut air. Terjadi bila darah dicampur


dengan asam atau basa kuat. Terdapat dalam bentuk asam dan alkali
dengan spektrum yang berlainan. Sangat berguna untuk membuktikan
adanya darah dimana bercak-bercak

darah telah bercampur dengan

bahan-bahan lain.
Untuk menentukan apakah suatu noda merupakan bercak darah atau bukan
adalah dengan menggunakan tes presumtif.Tes ini memberikan dua hasil pemeriksaan
yang berbeda yaitu mengeliminasi substansi yang didapat (bukan darah), memberikan
kemungkinan (positif presumtif) dari sampel yang diteskan (mungkin darah).Salah satu
adalah dengan menggunakan senyawa yang dapat memberikan efek ketika bersentuhan
dengan darah. Hasil ini adalah cara sederhana dan cepat untuk membuktikan bahwa
sebenarnya sampel tersebut adalah darah.(1,6)
Tes presumtif merupakan tes dugaan karena adanya memberikan kemungkinan
hasil yang false-positive (pemutih yang bereaksi dengan luminol) atau hasilnya yang
terlalu meluas (sampel adalah darah tetapi belum tentu berasal dari manusia).Tes
presumtif yang umum dilakukan untuk darah antara lain Phenolphthalein, Luminol,
Hemastix, and Leuco-crystal Violet (blood).

Ada banyak tes penyaring yang dapat dilakukan untuk membedakan apakah
bercak tersebut berasal dari darah atau bukan, karena hanya yang hasilnya positif saja
yang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.(2,3,6,9)

Prinsip pemeriksaan penyaringan:


H2O2 > H2O + On
Reagen -> perubahan warna (teroksidasi)
Pemeriksaan penyaringan yang biasa dilakukan adalah dengan reaksi benzidine
dan reaksi fenoftalin.Reagen dalam reaksi benzidine adalah larutan jenuh Kristal
Benzidin dalam asetat glacial, sedangkan pada reaksi fenoftalin digunakan reagen yang
dibuat dari Fenolftalein 2g + 100 ml NaOH 20% dan dipanaskan dengan biji-biji zinc
sehingga terbentuk fenolftalein yang tidak berwarna.6
Hasil positif menyatakan bahwa bercak tersebut mungkin darah sehingga perlu
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.Sedangkan hasil negative pada kedua reaksi tersebut
memastikan bahwa bercak tersebut bukan darah.6
Tes ini didasarkan bahwa heme dapat mengkatalisis hidrogen peroksida. Cairan
H2O2 direaksikan dengan sampel dan akan terjadi reaksi teroksidasi yang menghasilkan
perubahan warna. Penting untuk dicatat bahwa hasil tes yang positif tidak berarti bahwa
noda tersebut atau sampel adalah darah, apalagi untuk menentukan dengan pasti sampel
adalah darah manusia, karena berbagai enzim dan logam tertentu juga bisa memberikan
hasil positif.2
Metode ini didasarkan bahwa heme dari hemoglobin memiliki sifat seperti
peroksida yang mengkatalis pemecahan hidrogen peroksida. Zat yang teroksidasi ini
dapat bereaksi dengan substrat lainnya yang akan menghasilkan perubahan warna.
Substrat yang umum digunakan adalah benzidin dan bahan lainnya seperti tetramethylbenzidines, orto-tolidine, leukomalachite hijau, leucocrystal ungu dan fenolftalein - yang
terakhir ini dikenal sebagai tes Kastle-Meyer. Reaksi dengan 3-aminophthalhydrazide
(Luminol) yang menghasilkan cahaya.2

a. Tes Luminol6
Salah satu tes presumtif terdiri dari penyemprotan sampel yang dicurigai dengan
larutan luminol (C8H7N3O2), bahan kimia yang dipopulerkan oleh serial TV "CSI"
(singkatan dari "Crime Scene Investigation"), dan hidrogen peroksida (H2O2). Jika
terdapat darah pada sampel, sampel akan bersinar dengan warna kebiruan dalam gelap.
Luminol tersebut pertama kali diaktifkan dengan oksidan, biasanya dengan larutan
hidrogen peroksida dan garam hidroksida dalam air.Kemudian, dengan adanya protein
dalam darah yang disebut hemoglobin, hidrogen peroksida terurai untuk membentuk
oksigen dan air. Ketika luminol bereaksi dengan garam hidroksida, dianion akan
terbentuk. Oksigen yang dihasilkan dari hidrogen peroksida kemudian bereaksi dengan
dianion luminol. Produk dari reaksi ini, merupakan suatu peroksida organik, yang sangat
tidak stabil dan segera terurai dengan hilangnya nitrogen untuk menghasilkan asam 3aminophthalic . Sebagai 3-aminophthalic, ia akan melepaskan cahaya biru yang terlihat
(lihat Gambar. 23).

Gambar 22.Reaksi kimia antara hydrogen peroksida dengan luminol yang menghasilkan
hemoglobin yang kemudian membentuk 3-aminophthalic (3-APA) dan cahaya biru.(2,3,6,9)
Luminol sensitif terhadap keberadaan darah meski dalam jumlah yang sangat
sedikit.Hal ini dapat mendeteksi noda darah yang telah diencerkan hingga
300.000 kali, karena hampir tidak mungkin untuk membersihkan setiap jejak
darah di TKP, luminol sangat efektif dalam mendeteksi jejak menit dari darah
yang mungkin tidak terlihat dengan mata telanjang.Namun teknik ini memiliki
beberapa keterbatasan, karena cahaya dapat diproduksi bukan hanya dari zat
darah tetapi juga zat-zat lain, seperti ion tembaga, lobak, dan pemutih.Untuk

mengidentifikasi secara pasti bahwa merupakan zat darah, sering dikirim ke


laboratorium untuk dilakukan analisis.(2,3,6,9)

Gambar 23. Penampakan bekas darah laten yang tertinggal di bak cuci piring
(courtesy of John Black, Ron Smith & Associates).3
Tes katalitik sangat sensitif (darah dapat dideteksi dengan pengenceran sekitar 1
di 100.000), tetapi terdapat beberapa faktor yang dapat memberikan interpretasi hasil
yang salah sehingga tes ini tidak spesifik untuk darah. Zat yang dapat mengganggu hasil
yang diinginkan pada tes katalitik termasuk enzim seperti katalase dan peroksidase
(dapat ditemukan pada tanaman dan hewan), bahan kimia dan logam yang teroksidasi
khususnya tembaga dan besi.7
Ketika hasil diinterpretasikan harus lebih teliti, terutama ketika pengujian
dilakukan luar ruangan, di mana banyak jenis bahan tanaman yang dapat ditemukan,
atau pengujian di kendaraan, di mana permukaan logam dapat mengganggu.Prinsip
umum adalah bahwa jika tes adalah negatif, darah tidak ada, tapi jika tes ini positif maka
sampel kemungkinan adalah darah tetapi tidak pasti. Untuk alasan ini tes sering
digambarkan sebagai tes "dugaan".(2,3,7,9)
b.

Reaksi Benzidine (Test Adler)


Dulu Benzidine test pada forensik banyak dilakukan oleh Adlers (1904). Tes

Benzidine atau Test Adler lebih sering digunakan dibandingkan dengan tes tunggal pada

identifikasi darah lainnya.Karena merupakan pemeriksaan yang paling baik yang telah
lama dilakukan.Pemeriksaan ini sederhana, sangat sensitif dan cukup bermakna.Jika
ternyata hasilnya negatif maka dianggap tidak perlu untuk melakukan pemeriksaan
lainnya.Tes ini umum digunakan, di mana adanya darah ditunjukkan dengan produk
berwarna biru. Namun, ada beberapa zat yang dapat menghasilkan positif palsu untuk
tes ini, seperti oksidan kimia, buah dan sayuran. Selain itu, benzidine dikenal sebagai
karsinogen , dan sesuai ini sebagian besar telah digantikan oleh tes menggunakan
fenolftalein / hidrogen peroksida.(2,3,8,9)
Cara pemeriksaan reaksi Benzidin:
Sepotong kertas saring digosokkan pada bercak yang dicurigai kemudian diteteskan 1
tetes H2O2 20% dan 1 tetes reagen Benzidin.
Hasil:
Hasil positif pada reaksi Benzidin adalah bila timbul warna biru gelap pada kertas
saring.
c.

Reaksi Phenolphtalein (Kastle Meyer Test)


Phenolphtalein adalah tes dugaan yang paling umum digunakan untuk darah dan

dapat digunakan dengan sendirinya dengan tes dugaan lainnya. Hasil Phenolphtalein
positif ditunjukkan dengan warna merah muda cerah yang muncul biasanya dalam waktu
sepuluh sampai lima belas detik setelah bahan uji kimia ditambahkan. Tes ini sangat
sensitif dan hasil positif dapat diperoleh dari noda yang nyaris tak terlihat atau tidak
terlihat dengan mata telanjang.Salah satu kelemahan untuk uji dugaan ini adalah zat
yang dapat menghasilkan hasil positif palsu.Karat, tembaga dan logam garam, kayu,
kentang, dan lobak semua dapat menyebabkan hasil yang positif dengan tes
ini.Biasanya, jika salah satu dari zat-zat ini hadir, waktu reaksi lebih lambat dan
perubahan warna membutuhkan waktu lebih lama untuk muncul.Beberapa laboratorium
menggunakan tes phenolpphtalein (PH) bersamaan dengan tes tetramethylbenzidine
(TMB) dalam tes dugaan ganda. TMB, yang bekerja dengan cara yang sama seperti PH,
perubahan menjadi warna biru-hijau dengan adanya darah. Meskipun TMB lebih

spesifik daripada PH, karena hasil positif palsu yang lebih sedikit pada TMB, namun
TMB kurang sensitive dibandingkan PH dan tidak bekerja dengan baik pada noda darah
yang sangat diencerkan. Dalam setiap kasus di mana terdapat dugaan adanya darah ,
analis harus terlebih dahulu menentukan apakah barang

bukti mengandung darah.

Sementara perubahan warna yang terjadi pada tes dugaan merupakan indikator yang
baik untuk adanya darah, Namun tidak praktis untuk seluruh item yang ada.Bahan
berpori yang telah berlumuran darah masih dapat menyerap sedikit darah bahkan jika
objek telah dicuci dan bersih. Untuk alasan inilah, luminol dan fluorescein tes digunakan
untuk menunjukkan noda darah nonvisible.(6,9)
Pada penelitian yang dilakukan oleh Kastle (1901,1906), zat ini menghasilkan
warna merah jambu terang saat digunakan pada test identifikasi darah. Konfirmasi noda
terlihat menggunakan Kastle-Meyer tes. Di mana reagen dengan cara melakukannya
yaitu dengan menggosok lembut pada noda dan basah. Hasilnya langsung terlihat dari
perubahan warna, dari kuning pucat ke biru kehijauan yang intens menunjukkan
kemungkinan adanya darah. Tes ini sangat sensitif tetapi karena cara itu sudah diatur
tidak mudah dimodifikasi untuk memeriksa untuk gangguan mungkin. Pada uji KastleMeyer yang fenolftalein disimpan dalam larutan basa yang didalamnya terdapat seng,
larutan ini tidak berwarna.Oksidasi dengan hemoglobin dan peroksida menyebabkan
perubahan warna yang cepat menjadi merah muda terang, Awalnya tes dilakukan dalam
satu langkah, tapi banyaknya gangguan potensial dapat dihilangkan dengan melakukan
tes dalam dua langkah.6
Dalam bentuk asli, sejumlah kecil reagen Kastle-Meyer yang telah dipersiapkan
dicampur dengan etanol 95% (volume sama) dan 10% larutan hydrogen peroksida. Noda
yang dicuragai darah kemudian digosok dengan sepotong kecil kertas filter dan
ditambahkan setetes campuran pereaksi ke kertas. Perubahan warna menjadi merah
muda merupakan indikasi dari adanya hemoglobin, yang telah dikatalisis pemecahan
hidrogen peroksida. Namun, yang digunakan dalam formulir ini, tes akan memberikan
hasil yang tampaknya positif dengan bahan pengoksidasi lainnya. Dalam versi pengujian
dua langkah, reagen Kastle-Meyer hanya dicampur dengan etanol 95% (volume sama).

Larutan ditambahkan ke noda pada kertas filter. Jika warna pink atau warna merah
langsung berubah, yaitu tanpa penambahan hidrogen peroksida.1

Gambar 24. Ketiga reagen yang digunakan dalam Kastle Meyer Test.
(etanol, reagen Kastle-Meyer, hidrogen peroksida)5

Cara Pemeriksaan reaksi Phenolphtalein:


Sepotong kertas saring digosokkan pada bercak yang dicurigai langsung diteteskan
reagen Phenolphtalein.
Hasil:
Hasil positif pada reaksi Phenolphtalein adalah bila timbul warna merah muda pada
kertas saring.(2,3,6,9)

A.

B.
Gambar 25

. A. Warna pink menunjukkan aktivitas dari hemolisis dan Phenolphtalein,menunjukkan


hasil positif. 9

B. tidak terdapat darah pada sampel, tidak tampak hemolisis peroksida dan perubahan
warna, hasil tes negatif.9

2. Deteksi dan identifikasi bercak darah


Setelah didapatkan hasil bahwa suatu bercak merah tersebut adalah darah maka
dapat dilakukan pemeriksaan selanjutnya yaitu pemeriksaan meyakinkan darah
berdasarkan terdapatnya pigmen atau kristal hematin (hemin) dan hemokhromogen.
Terdapat beberapa jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk memastikan bercak
darah tersebut benar berasal dari manusia, yaitu :
i.

Cara kimiawi

Terdapat dua macam tes yang dapat dilakukan untuk memastikan bahwa yang
diperiksa itu bercak darah, atas dasar pembentukan kristal-kristal hemoglobin yang dapat
dilihat dengan mata telanjang atau dengan mikroskopik. Tes kristal, yang sekarang
jarang digunakan, semua didasarkan pada pembentukan hemoglobin kristal derivatif
seperti hematin, haemin dan haemochromogen. Hem membentuk kristal ketika
direaksikan dengan reagen tertentu. Reagen yang paling umum adalah piridin, yang
membentuk kristal merah muda yang khas.11
Tes ini dilakukan pada slide mikroskop, dengan reagen yang ditambahkan ke
noda bawah kaca penutup, dan pembentukan kristal diamati dengan mikroskop. Tes
tersebut antara lain tes Teichmann dan tes Takayama.(6,9)
a. Test Teichman (Tes kristal hemin)
Pertama kali dilakukan oleh Teicmann (1853). Test diawali dengan memanaskan darah
yang kering dengan asam asetat glacial dan chloride untuk membentuk derivate hematin.
Kristal yang terbentuk kemudian diamati di bawah mikroskop, biasanya Kristal muncul
dalam bentuk belah-belah ketupat dan berwarna coklat.9
Cara pemeriksaan:
Seujung jarum bercak kering diletakkan pada kaca obyek tambahkan 1butir kristal NaCL
dan 1 tetes asam asetat glacial, tutup dengan kaca penutup dan dipanaskan.

Hasil:
Hasil positif dinyatakan dengan tampaknya Kristal hemin HCL yang berbentuk batang
berwarna coklat yang terlihat dengan mikroskopik.
Kesulitan :
Mengontrol panas dari sampel karena pemanasan yang terlalu panas atau terlalu dingin
dapat menyebabkan kerusakan pada sampel.

Gambar 26 Interpretasi hasil tes Teichman.(2,3,9)


b.

Test Takayama (Tes kristal B Hemokromogen)


Tes Kristal yang paling terkenal adalah yang dikembangkan oleh Takayama

sekitar 80 tahun yang lalu. Sebuah larutan basa piridin ditambahkan ke noda dan, jika
terdapat darah, akan terbentuk kristal merah muda dari kompleks antara piridin dan hem
pada slide yang dihangatkan. Struktur kompleks ditunjukkan pada Gambar25 .

Gambar 27 ferroprotoporphyrin Pyridine (kompleks yang terbentuk di tes Takayama)6,9


Selain piridin, sejumlah basa nitrogen lainnya, termasuk nikotin, metilamina,
histidin dan glisin telah digunakan dalam variasi tes ini. Sensitivitas adalah sekitar 0,001

mL darah atau 0,1 mg hemoglobin. Sebuah hasil negatif tidak selalu menunjukkan
bahwa darah tidak ada, mungkin saja menunjukkan teknik yang salah dan kontrol
positif harus selalu dijalankan untuk perbandingan. Noda darah sampai usia 20 tahun
telah memberikan hasil positif dalam tes kristal.(2,3,9)

Cara kerja:
Tempatkan sejumlah kecil sampel yang berasal dari bercak pada gelas objek dan biarkan
reagen takayama mengalir dan bercampur dengan sampel.Setelah fase dipanaskan, lihat
di bawah mikroskop.
Hasil :
Hasil positif dinyatakan dengan tampaknya kristal halus berwarna merah jambu yang
terlihat dengan mikroskopik.(2,3,9)

Gambar 28. Tes Takayama positif membentuk Kristal yang dapat dilihatdibawah
mikroskop.1

Kelebihan:
Test dapat dilakukan dan efektif dilakukan pada sampel atau bercak yang sudah lama
dan juga dapat memunculkan noda darah yang menempel pada baju. Selain itu tes ini
juga memunculkan hasil positif pada sampel yang mempunyai hasil negative pada test
Teichmann.

c.

Pemeriksaan Wagenaar

Cara pemeriksaan:
Seujung jarum bercak kering diletakkan pada kaca obyek, letakkan juga sebutir pasir,
lalu tutup dengan kaca penutup sehingga antara kaca obyek dan kaca penutup terdapat
celah untuk penguapan zat. Kemudian pada satu sisi diteteskan aseton dan pada sisi lain
di tetes kan HCL encer, kemudian dipanaskan.(1,6)
Hasil:
Hasil positif bila terlihat Kristal aseton hemin berbentuk batang berwarna coklat. Hasil
negatif selain menyatakan bahwa bercak tersebut bukan bercak darah, juga dapat
dijumpai pada pemeriksaan terhadap bercak darah yang struktur kimiawinya telah rusak,
misalnya bercak darah yang sudah lama, terbakar dan sebagainya.(1,6)

ii.

Cara serologik

Pemeriksaan serologik berguna untuk menentukan spesies dan golongan darah.


Untuk itu dibutuhkan antisera terhadap protein manusia (anti human globulin) serta
terhadap protein hewan dan juga antisera terhadap golongan darah tertentu.Prinsip
pemeriksaan adalah suatu reaksi antara antigen (bercak darah) dengan Antibodi
(antiserum) yang dapat merupakan reaksi presipitasi atau reaksi aglutinasi.6
a.

Test Presipitin Cincin


Test Presipitin Cincin menggunakan metode pemutaran sederhana antara dua

cairan didalam tabung. Dua cairan tersebut adalah antiserum dan ekstrak dari bercak
darah yang diminta untuk diperiksa.6
Cara pemeriksaan :
Antiserum ditempatkan pada tabung kecil dan sebagian kecil ekstrak bercak darah
ditempatkan secara hati-hati pada bagian tepi antiserum. Biarkan pada temperatur ruang
kurang lebih 1,5 jam. Pemisahan antara antigen dan Antibodi akan mulai berdifusi ke
lapisan lain pada perbatasan kedua cairan.6
Hasil:
Akan terdapat lapisan tipis endapan atau precipitate pada bagian antara dua larutan. Pada
kasus bercak darah yang bukan dari manusia maka tidak akan muncul reaksi apapun.

b.

Reaksi presipitasi dalam agar.

Cara pemeriksaan :
Gelas obyek dibersihkan dengan spiritus sampai bebas lemak, dilapisi dengan selapis
tipis agar buffer.Setelah agak mengeras, dibuat lubang pada agar dengan diameter
kurang lebih 2 mm, yang dikelilingi oleh lubang-lubang sejenis.Masukkan serum antiglobulin manusia ke lubang di tengah dan ekstrak darah dengan berbagai derajat
pengenceran di lubang-lubang sekitarnya. Letakkan gelas obyek ini dalam ruang lembab
(moist chamber) pada temperature ruang selama satu malam.6
Hasil :
Hasil positif memberikan presipitum jernih pada perbatasan lubang tengah dan lubang
tepi. Pembuatan agar buffer : 1 gram agar; 50 ml larutan buffer Veronal pH 8.6; 50 ml
aqua dest; 100 mg. Sodium Azide. Kesemuanya dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer,
tempatkan dalam penangas air mendidih sampai terbentuk agar cair.6
iii.

Pemeriksaan Mikroskopik

Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat morfologi sel darah merah.


Cara pemeriksaan :
Darah yang masih basah atau baru mengering ditaruh pada kaca obyek kemudian
ditambahkan 1 tetes larutan garam faal, dan ditutup dengan kaca penutup, lihat dibawah
mikroskop. Cara lain, dengan membuat sediaan apus dengan pewarnaan Wright atau
Giemsa1,6
Hasil :
Pemeriksaan mikroskopik kedua sediaan tersebut hanya dapat menentukan kelas dan
bukan spesies darah tersebut. Kelas mamalia mempunyai sel darah merah berbentuk
cakram dan tidak berinti, sedangkan kelas lainnya berbentuk oval atau elips dan tidak
berinti Bila terlihat adanya drum stick dalam jumlah lebih dari 0,05%, dapat dipastikan
bahwa darah tersebut berasal dari seorang wanita.
Kelebihan:
Dapat terlihatnya sel sel leukosit berinti banyak. Dapat terlihat adanya drum stick pada
pemeriksaan darah seorang wanita.

iv.

Penentuan golongan Darah6

Darah yang telah mengering dapat berada dalam berbagai tahap kesegaran :

Bercak dengan sel darah merah masih utuh;


Bercak dengan sel darah merah yang sudah rusak tetapi dengan aglutinin dan

antigen yang masih dapat dideteksi;


Sel darah merah sudah rusak dengan jenis antigen yang masih dapat dideteksi

namun sudah terjadi kerusakan aglutinin.


Sel darah merah sudah rusak dengan antigen dan aglutinin yang juga sudah
tidak dapat dideteksi.

Bila didapatkan sel darah merah masih utuh, maka penentuan golongan darah
dapat dilakukan secara langsung seperti pada penentuan golongan darah orang hidup,
yaitu dengan meneteskan satu tetes antiserum ke atas 1 tetes darah dan dilihat terjadi
aglutinasi. Bila sel darah merah sudah rusak, maka penentuan golongan darah dapat
dilakukan dengan cara menentukan jenis aglutinin dan antigen. Antigen mempunyai sifat
yang jauh lebih stabil dibanding aglutinin.Di antara sistem sistem golongan darah,
yang paling lama bertahan adalah antigen dari sistem golongan darah ABO. Penentuan
jenis antigen dapat dilakukan dengan cara absorpsi inhibisi, absorpsi elusi, dan aglutinasi
campuran. Cara yang biasa dilakukan adalah cara absorpsi elusi dengan prosedur
sebagai berikut:
-

2-3 helai benang yang mengandung bercak kering difiksasi dengan metal alkohol
selama 15 menit. Benang diangkat dan dibiarkan mengering.

Selanjutnya

dilakukan penguraian benang tersebut menjadi serat serat halus dengan


-

menggunakan 2 buah jarum.


Lakukan juga terhadap bennag yang tidak mengandung bercak darah sebagai

kontrol negatif.
Serat benang dimasukkan ke dalam 2 tabung reaksi. Ke dalam tabung pertama
diteteskan serum anti A dan ke dalam tabung kedua diteteskan serum anti B
hingga serabut bennag tersebut terendam seluruhnya. Kemudian tabung tabung

tersebut disimpan di dalam lemari pendingin dengan suhu 4C selama satu


-

malam.
Lakukan pencucian dengan menggunakan larutan garam fisiologis dingin (4C)
sebanyak 5-6 kali, lalu tambahkan 2 tetes suspensi 2% sel indikator (sel darah
merah golongan A pada tabung pertama dan golongan B pada tabung kedua),
putar dengan kecepatan 1000RPM selama 1 menit. Bila tidak terjadi aglutinasi,
cuci sekali lagi dan kemudian tambahkan 1-2 tetes larutan garam fisiologis
dingin. Panaskan pada suhu 56C selama 10 menit dan pindahkan ke tabung lain.
Tambahkan satu tetes suspensi sel indikator ke dalam masing masing tabung,

biarkan selama 5 menit, lalu putar selama 1 menit dengan kecepatan 1000RPM.
Pembacaan hasil dilakukan secara makroskopik. Bila terjadi aglutinasi berarti
darah mengandung antigen yang sesuai dengan sel indikator.1
v. Analisis DNA
DNA atau DeoxyriboNucleic Acid merupakan asam nukleat yang menyimpan

semua informasi tentang genetika.DNA inilah yang menentukan jenis rambut, warna
kulit dan sifat-sifat khusus dari manusia. DNA ini akan menjadi cetak biru (blue print)
ciri khas manusia yang dapat diturunkan kepada generasi selanjutnya. Sehingga dalam
tubuh seorang anak komposisi DNA nya sama dengan tipe DNA yang diturunkan dari
orang tuanya. Sedangkan tes DNA adalah metode untuk mengidentifikasi fragmenfragmen dari DNA itu sendiri.Atau secara sederhananya adalah metode untuk
mengidentifikasi, menghimpun dan menginventarisir file-file khas karakter tubuh.
Tes DNA umumnya digunakan untuk 2 tujuan yaitu:
1. Tujuan pribadi seperti penentuan perwalian anak atau penentuan orang tua dari
anak dan,
2. Tujuan hukum, yang meliputi masalah forensik seperti identifikasi korban yang
telah hancur, sehingga untuk mengenali identitasnya diperlukan pencocokan
antara DNA korban dengan terduga keluarga korban ataupun untuk pembuktian
kejahatan semisal dalam kasus pemerkosaan atau pembunuhan.

Hampir semua sampel biologis tubuh dapat digunakan untuk sampel tes DNA,
tetapi yang sering digunakan adalah darah, rambut, usapan mulut pada pipi bagian dalam
(buccal swab), dan kuku. Untuk kasus-kasus forensik, sperma, daging, tulang, kulit, air
liur atau sampel biologis apa saja yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP)
dapat dijadikan sampel tes DNA.

DNA yang digunakan dalam analisis DNA


DNA yang biasa digunakan dalam tes ada dua yaitu DNA mitokondria dan DNA
inti sel. Perbedaan kedua DNA ini hanyalah terletak pada lokasi DNA tersebut berada
dalam sel, yang satu dalam inti sel sehingga disebut DNA inti sel, sedangkan yang satu
terdapat di mitokondria dan disebut DNA mitokondria. Untuk tes DNA, sebenarnya
sampel DNA yang paling akurat digunakan dalam tes adalah DNA inti sel karena inti sel
tidak bisa berubah.DNA dalam mitokondria dapat berubah karena berasal dari garis
keturunan ibu yang dapat berubah seiring dengan perkawinan keturunannya.Sebagai
contoh untuk sampel sperma dan rambut.Yang paling penting diperiksa adalah kepala
spermatozoanya karena didalamnya terdapat DNA inti, sedangkan untuk potongan
rambut yang paling penting diperiksa adalah akar rambutnya. Tetapi karena keunikan
dari pola pewarisan DNA mitokondria menyebabkan DNA mitokondria dapat dijadikan
sebagai marka (penanda) untuk tes DNA dalam upaya mengidentifikasi hubungan
kekerabatan secara maternal.9
Untuk akurasi kebenaran dari tes DNA hampir mencapai 100% akurat.Adanya
kesalahan bahwa kemiripan pola DNA bisa terjadi secara random (kebetulan) sangat
kecil kemungkinannya, mungkin satu diantara satu juta.Jikapun terdapat kesalahan itu
disebabkan oleh faktor human error terutama pada kesalahan interprestasi fragmenfragmen DNA oleh operator (manusia).Tetapi dengan menerapkan standard of procedur
yang tepat kesalahan human error dapat diminimalisir atau bahkan ditiadakan. (2,3,9)

Metode Tes DNA


Metode tes DNA yang umumnya digunakan di dunia ini masih menggunakan
metode konvensional yaitu elektroforesis DNA.Sedangkan metode tes DNA yang terbaru
adalah dengan menggunakan kemampuan partikel emas berukuran nano untuk berikatan
dengan DNA.Metode ini ditemukan oleh dua orang ilmuwan Amerika Serikat yaitu
Huixiang Li dan Lewis Rothberg.Prinsip metode ini adalah mempergunakan untai
pendek DNA yang disebut Probe yang telah diberi zat pendar. Probe ini dirancang
spesifik untuk gen sampel tertentu dan hanya akan menempel/berhibridisasi dengan
DNA sampel tersebut. Partikel emas berukuran nano dalam metode ini berperan dalam
mengikat Probe yang tidak terhibridasi.Pendeteksian dilakukan dengan penyinaran pada
panjang gelombang tertentu.Keberadaan DNA yang sesuai dengan DNA Probe dapat
dilihat dari pendaran sampel tersebut. Jumlah DNA target tersebut kira-kira berbanding
lurus terhadap intensitas pendaran sinar yang dihasilkan. Keunggulan metode ini
dibandingkan dengan metode konvensional adalah pada kecepatan dan harganya yang
jauh lebih cepat dan murah dibandingkan metode elektroforesis DNA. Tetapi karena
metode ini masih tergolong baru, sehingga masih dalam pengembangan di Amerika
Serikat, sehingga untuk penguna (user) di Indonesia, sekarang ini belum dapat
memanfaatkan fasilitas tersebut, karena memang belum terdapat di Indonesia.9

Tahapan Metode Tes DNA


Di Indonesia, terdapat dua laboratorium yang dapat melayani user dalam tes
DNA yaitu Laboratorium Pusdokkes Polri Jakarta Timur dan di Lembaga Bio Molekuler
Eijkman Jakarta Pusat. Untuk di Lembaga Eijkman, biaya per paket tes DNA adalah
berkisar Rp. 7,5 Juta dengan hasil tes yang dapat diperoleh dalam 12 hari kerja terhitung
dari tanggal diterimanya sampel.

Untuk

metode

tes

DNA

di

Indonesia,

masih

memanfaatkan

metode elektroforesis DNA. Dengan intreprestasi hasil dengan cara menganalisa pola
DNA menggunakan marka STR (short tandem repeats). STR adalah lokus DNA yang
tersusun atas pengulangan 2-6 basa.Dalam genom manusia dapat ditemukan
pengulangan basa yang bervariasi jumlah dan jenisnya. Dengan menganalisa STR ini,
maka DNA tersebut dapat diprofilkan dan dibandingkan dengan sampel DNA terduga
lainnya.Dari berbagai literatur yang penulis pelajari, pada dasarnya tahapan metode tes
DNA dengan cara elektroforesis meliputi beberapa tahapan berikut yaitu pertama
tahapan preparasi sampel yang meliputi pengambilan sampel DNA (isolasi) dan
pemurnian DNA. Dalam tahap ini diperlukan kesterilan alat-alat yang digunakan.Untuk
sampel

darah,

dalam

isolasinya

dapat

digunakan

bahan

kimia phenolchloroform sedangkan untuk sampel rambut dapat digunakan bahan


kimiaChilex. Selanjutnya DNA dimurnikan dari kotoran-kotoran seperti protein, sel
debris, dan lain lain. Untuk metode pemurnian biasanya digunakan tehnik sentrifugasi
dan metode filtrasi vakum. Tetapi berbagai ilmuwan telah banyak meninggalkan cara
tersebut dan beralih ke produk-produk pemurnian yang telah dipasarkan seperti produk
butir magnet dari Promega Corporation yang memanfaatkan silica-coated paramagnetic
resin yang memungkinkan metode pemisahan DNA yang lebih sederhana dan cepat.
Tahapan selanjutnya adalah memasukan sampel DNA yang telah dimurnikan kedalam
mesin PCR (polymerase chain reaction) sebagai tahapan amplifikasi.Hasil akhir dari
tahap amplifikasi ini adalah berupa kopi urutan DNA lengkap dari DNA sampel.
Selanjutnya kopi urutan DNA ini akan dikarakterisasi dengan elektroforesis untuk
melihat pola pitanya. Karena urutan DNA setiap orang berbeda maka jumlah dan lokasi
pita DNA (pola elektroforesis) setiap individu juga berbeda. Pola pita inilah yang disebut
DNA sidik jari (DNA finger print) yang akan dianalisa pola STR nya. Tahap terakhir
adalah DNA berada dalam tahapan typing, proses ini dimaksudkan untuk memperoleh
tipe DNA. Mesin PCR akan membaca data-data DNA dan menampilkannya dalam
bentuk angka-angka dan gambar-gambar identfikasi DNA. Finishing dari tes DNA ini
adalah mencocokan tipe-tipe DNA. (2,3,9)

KESIMPULAN
Ketika noda merah ditemukan pada tempat kejadian perkara, maka noda tersebut
dapat dicurigai sebagai darah dan barang bukti.Untuk membuktikan apakah sampel
tersebut adalah darah, maka dapat dilakukan beberapa tes.Tes-tes yang dilakukan dalam
forensik untuk darah berdasarkan keberadaan hemoglobin atau komponen-komponen
yang ada di dalamnya.Hemoglobin terdiri atas heme yang mengangkut oksigen dan
globin komponen protein.Tes yang dilakukan di forensik untuk identifikasi darah
sebenarnya mendeteksi keberadaan dari heme. Digunakan beberapa substansi berwarna

tertentu yang bila dicampur dengan peroksida akan merubah warna dasarnya yang
disebut oksidasi. Kebanyakan enzim umumnya akan mempercepat reaksi.
Tes pertama adalah tes presumtif yang bertujuan menyingkirkan substansi lain
selain darah, namun tes ini tidak dapat memastikan keberadaan darah. Tes Kastel Meyer
merupakan tes presumtif yang paling banyak dilakukan dimana bila hasilnya positif
maka akan menghasilkan warna pink. Luminol juga merupakan tes presumtif yang
sering digunakan.Terlebih luminol digunakan untuk mendeteksi keberadaan noda darah
yang sudah dihapus atau dicuci. Luminisens atau pendaran biru yang akan dihasilkan
bila luminol bereaksi dengan hemoglobin dan dapat dilihat bila cahaya lampu dimatikan
(ruangan gelap).
Bila telah ditetapkan bahwa sampel tersebut mungkin adalah darah, maka
pengujian dilanjutkan untuk mengkonfirmasi, apakah darah tersebut berasal dari
manusia atau hewan. Untuk itu dilakukan tes konfirmasi antara lain : tes presipitasi
dimana darah dapat diidentifikasi berasal dari manusia melalui reaksi dengan antiserum
tertentu untuk komponen darah manusia, yang prinsipnya dimana hemoglobin manusia
yang akan bereaksi dengan antibodi monoklonal hemoglobin anti-human.
Penentuan golongan darah dan rhesus dari sampel darah yang telah dikonfirmasi
berasal dari manusia, merupakan langkah selanjutnya yang dilakukan untuk
mempersempit pencarian.Bila semua tes diatas telah dilakukan, maka uji DNA
merupakan tahap akhir yang lebih spesifik untuk menentukan kepemilikan dari noda
darah tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
1. Budiyanto, Arif, dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.1997. Hal 5, 273-4
2. Knight B. Blood Stains, Groups, DNA and Identification. In: Simpson's
Forensic Medicine, 11th edition. London: Oxford University Press. 2001. Hal
38-43.
3. James SH, Edel CF. Bloodstain Pattern Interpretation. In: Introduction to
Forensic Sceiences, 2nd edition. US: CRC Press. 2000. p. 176-239

4. Jimmy, W. Bloodstain Pattern Analysis, Available from:


http://en.wikipedia.org/wiki/Bloodstain_pattern analysis
5. Louis L. Akin. Interpretation of Bloodstain Patterns. Crime Scene Forensics,
LLC. Available from:
http://www.crimesceneforensics.com/Crime_Scene_Forensics/ Home.html
6. Cadha vijay. Bercak darah. Dalam: Ilmu forensik dan toksikologi.
Jakarta: Widya medika. 1995. Hal 197-20.
7. Idris, A.M. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik Dalam Proses
Penyelidikan. Edisi Revisi. Jakarta : CV Sagung Seto. 2008. Hal 18-35
8. Whitley R & Figarelli D. A Simplified Guide to Bloodstain Pattern Analysis.
National Forensic Science Technology Center (NFSTC). 2009
9. Blood Detection by Chemical Methods. Biotech A Blood Detection. Available at
www.nzic.org.nz. Diakses tanggal 10 November 2014.
10. Abdul Munim Idries. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses
Penyidikan.2008.Hal 20-36.