Anda di halaman 1dari 19

Daftar Isi

Kata Pengantar.....................................................................................................................................ii
Halaman Pengesahan..........................................................................................................................iii
Motto...................................................................................................................................................iv
BAB I...................................................................................................................................................1
PENDAHULUAN............................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang........................................................................................................................1
1.2 Perumusan Masalah................................................................................................................1
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian...............................................................................................1
1.4 Metode Penulisan....................................................................................................................2
BAB II..................................................................................................................................................2
PEMBAHASAN...............................................................................................................................2
2.1 Definisi Bahasa.......................................................................................................................2
2.1.1 Bahasa Baku.........................................................................................................................5
2.1.2 Bahasa Gaul.........................................................................................................................6
2.1.3 Pengertian Bahasa gaul.......................................................................................................7
2.1.4 Karekteristik Bahasa gaul...................................................................................................7
2.1.5 Asal Mula Penggunaan Bahasa gaul...................................................................................7
2.1.6 Struktur Dalam Pemakaian Bahasa Gaul.............................................................................8
2.2 Fungsi Bahasa.........................................................................................................................9
3.1 Eksistensi Bahasa Indonesia.................................................................................................10
3.2 Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap Bahasa Indonesia.............................................................10
3.3 Media Mempengaruhi Perkembangan Bahasa Gaul.............................................................11
3.4 Contoh Penulisan Bahasa Gaul.............................................................................................11
3.5 Cara Mengatasi Perkembangan Bahasa Gaul.......................................................................13
BAB IV...............................................................................................................................................14
PENUTUP......................................................................................................................................14
4.1 Simpulan...............................................................................................................................14
4.2 Saran......................................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................................14
LAMPIRAN :.....................................................................................................................................15

Bahasa Indonesia

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya, dalam hal
ini kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap
Perkembangan Bahasa Indonesia. ini. Rasa terima kasih tak lupa kami ucapkan kepada Ibu Nori
Purwanasari, S.Pd, M.Hum selaku dosen pengajar bahasa indonesia yang telah membimbing dan
mendampingi kami dalam menyelesaikan makalah kelompok ini.
Untuk mengetahui dan memahami arti sesungguhnya dalam kedisplinan maka perlu
melakukan pengujian secara ilmiah. Baik dari segi kendala menerapkan kedisiplinan, solusi
menegakkan kedisiplin, hingga manfaat kedisplinan itu sendiri. Hasil dari kedisiplin adalah sudah
pasti akan bermuara untuk kebaikan kita sendiri maupun orang disekitar kita.
Kami menyadari bahwa tugas karya ilmiah ini masih belum sempurna, oleh karenanya kritik
dan saran yang membangun sangat kami butuhkan agar dalam tugas berikutnya dapat diselesaikan
lebih baik lagi.
Semoga karya ilmiah Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap Perkembangan Bahasa Indonesia
ini bermanfaat bagi kita semua. Amin

Bahasa Indonesia

Halaman Pengesahan
Karya ilmiah Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap Perkembangan Bahasa Indonesia.
yang disusun oleh :
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

Ricky Reza Sundaya


Anita Afriani
Dedi Hartono
Fajar Irfan Nugroho
Riko Agustian
Yohanes Chemal
Krisnawan Adi Rismantoro
Joshua Andika Giovanie

(NRP : 151112A)
(NRP : 151016A)
(NRP : 151032A)
(NRP : 151048A)
(NRP : 151114A)
(NRP : 151146A)
(NRP : 151078A)
(NRP : 151076A)

Telah disahkan pada :


Hari

: Selasa

Tanggal

: 5 April 2016

Oleh

: Nori Purwanasari, S.Pd, M.Hum

Yogyakarta, 5 April 2016


Pembimbing

Ketua

Ricky Reza Sundaya.

Bahasa Indonesia

Nori Purwanasari, S.Pd, M.Hum

Motto
Semua impian kita dapat menjadi nyata, jika kita memiliki keberanian untuk mengejarnya

All our dreams can come true, if we have the courage to pursue them

Bahasa Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional dan seharusnya kita gunakan dalam kegiatan
sehari-hari. Selain itu menggunakan bahasa Indonesia harus dengan baik dan benar, bukan
dicampuradukkan dengan bahasa daerah, bahasa asing dan bahasa gaul. Dalam hal ini media
sangat berpengaruh kepada masyarakat dalam berbahasa. Tetapi pada kenyataannya, media justru
menampilkan atau menulis berita yang cenderung menggunakan bahasa Indonesia yang dicampur
dengan bahasa gaul, bahkan bahasa asing. Remaja-remaja saat ini cenderung lebih arogan
dibandingkan dengan zaman dulu. Teknologi dan pengetahuan kini sudah semakin maju, begitu
pula dengan cara berpikir anak-anak muda zaman sekarang. Bahasa gaul memang pebuh rahasia.
Hanya mereka yang dapat mengomunikasikannya secara aktif. Terbukti dengan banyaknya hasil
karya para remaja yang cenderung lebih banyak menggunakan bahasa gaul daripada bahasa
Indonesia baku seperti dalam membuat novel, puisi, cerpen, dan sebagainya. Dewasa ini pemakaian
bahasa Indonesia semakin hari semakin kacau, dan belum ada lembaga pemerintahan dan
masyarakat yang memberikan perhatian terhadap masalah ini. Apabila penggunaan bahasa
Indonesia kian hari terus tergeser oleh bahasa asing atau bahasa daerah, maka posisi bahasa
Indonesia sebagai bahasa nasional akan terlupakan oleh masyarakat Indonesia.
1.2 Perumusan Masalah
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Bagaimana bentukan kata bahasa gaul sebagai tutur remaja di Indonesia?


Bagaimana struktur bahasa gaul sebagai tutur remaja di Indonesia ?
Bagaimana pola makna bahasa gaul remaja Indonesia dalam karya tulis remaja?
Bagaimana eksistensi bahasa Indonesia saat ini ?
Apa pengaruh eksistensi bahasa gaul terhadap Bahasa Indonesia ?
Apa faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa gaul?
Bagaimana mengatasi perkembangan dan pemakaian bahasa gaul terhadap remaja ?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian


1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Mendeskripsikan bentukan kata bahasa gaul sebagai tutur remaja di Indonesia


Mendeskripsikan struktur bahasa gaul sebagai tutur remaja di Indonesia
Mendeskripsikan pola makna bahasa gaul remaja Indonesia dalam karya tulis remaja
Menjelaskan eksistensi bahasa Indonesia saat ini
Menjelaskan pengaruh eksistensi bahasa gaul terhadap Bahasa Indonesia
Menjelaskan faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa gaul
Menjelaskan cara mengatasi perkembangan dan pemakaian bahasa gaul terhadap remaja.

Bahasa Indonesia

1.4 Metode Penulisan


Makalah ini disusun dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan
adalah metode deskriptif. Melalui metode ini penulis akan menguraikan permasalahan yang
dibahas secara jelas dan komprehensif. Data teoritis makalah ini dikumpulkan dengan
menggunakan teknik studi pustaka, artinya penulis mengambil data melalui kegiatan membaca
berbagai literatur yang relevan dengan tema makalah. Data tersebut diolah dengan teknik
analisis isi melalui kegiatan mengeksposisikan data serta mengaplikasikan data tersebut dengan
tema makalah.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Bahasa
Kamus Besar Bahasa Indonesia secara terminology mengartikan bahasa sebagai sistem
lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerjasama,
berinteraksi, dan mengindentifikasikan diri. Menurut Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1),
memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat
komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap
manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal
(bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer. (http://wismasastra.wordpress.com).
Bahasa ialah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh anggota kelompok
sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri. Sutan Takdir Alisyahbana
(dalam Maksan, 1994: 1) menjelaskan bahwa bahasa adalah ucapan pikiran manusia dengan teratur
memakai alat bunyi. Gorys Keraf (dalam Maksan, 1994: 1)

mengemukakan bahwa bahasa

merupakan suatu sistem komunikasi yang menggunakan simbol-simbol vokal yang arbitrer, yang
dapat diperbuat dengan gerak-gerak badaniah yang nyata.
Atmazaki (2007: 5) menyatakan bahwa bahasa merupakan fenomena mental, yaitu suatu
kemampuan yang sudah dibawa manusia sejak lahir. Pada sisi lain, bahasa marupakan fenomena
kemasyarakatan, yaitu penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi di dalam membentuk dan karena
bentukan masyarakat. Jadi, bahasa merupakan suatu sistem yang berfungsi sosial (fungsional).
Dengan demikian, bahasa adalah alat komunikasi yang dengannya manusia dapat menyampaikan
pikiran perasaan kepada orang lain secara lebih tepat.
Muslich (2010: 9) mengatakan bahwa pemakaian bahasa yang mengikuti kaidah yang
dibakukan atau yang dianggap baku melahirkan bahasa yang benar.

Orang yang mampu

menggunakan bahasanya sehingga maksud hatinya mencapai sasarannya, apapun jenisnya itu,
Bahasa Indonesia

dianggap berbahasa yang efektif. Ini berhubungan dengan pemilihan ragam-ragam yang ada ketika
orang dihadapkan pada bermacam ragam komunikasi. Pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi
menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa itulah yang disebut bahasa yang baik atau
tepat. Bahasa yang demikian tidak selalu harus baku, misalnya dalam tawar-menawar di pasar. Jadi,
menggunakan bahasa yang baik (tepat) tidak termasuk bahasa yang benar. Sebaliknya, seseorang
mungkin berbahasa yang benar yang tidak baik penerapannya karena suasananya menurut ragam
yang lain. Anjuran agar kita berbahasa yang baik dan benar dapat diartikan sebagai pemakaian
ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan yang mengikuti kaidah bahasa yang benar.
Sugono (2009: 21-23) menjelaskan bahwa kriteria yang digunakan untuk melihat
penggunaan bahasa yang benar adalah kaidah bahasa. Kaidah itu meliputi aspek tata bunyi
(fonologi), tata bahasa (kata dan kalimat), kosakata (termasuk istilah), ejaan, dan makna.
Sedangkan, kriteria penggunaan bahasa yang baik adalah ketepatan memilih ragam bahasa yang
sesuai dengan kebutuhan komunikasi. Kebutuhan itu bertalian dengan topik yang dibicarakan,
tujuan pembicaraan, orang yang diajak berbicara (kalau lisan) atau pembaca (jika tulis), dan tempat
pembicaraan. Selain itu, bahasa yang baik itu bernalar, dalam arti bahwa bahasa yang gunakan logis
dan sesuai dengan tata nilai masyarakat yang ada.
Dari pendapat Keraf diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa Bahasa adalah kunci pokok bagi
kehidupan manusia di dunia ini, karena dengan bahasa, orang bisa berinteraksi dengan sesamanya
dan bahasa merupakan sumber daya bagi kehidupan bermasyarakat. Selain itu, bahasa juga
mencakup sistem lambang bunyi yang arbitrer dan sistem bunyi yang memiliki arti serta makna.
Telah disebutkan di atas bahwa bahasa adalah sebuah sistem berupa bunyi, bersifat abitrer,
produktif, dinamis, beragam dan manusiawi. Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa di
antara karakteristik bahasa adalah abitrer, produktif, dinamis, beragam, dan manusiawi.

1.

Bahasa Bersifat Abritrer

Bahasa bersifat abritrer artinya hubungan antara lambang dengan yang dilambangkan tidak bersifat
wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang tersebut mengonsepi makna
tertentu. Secara kongkret, alasan kuda melambangkan sejenis binatang berkaki empat yang bisa
dikendarai adalah tidak bisa dijelaskan.
Meskipun bersifat abritrer, tetapi juga konvensional. Artinya setiap penutur suatu bahasa akan
mematuhi hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya. Dia akan mematuhi, misalnya,
lambang buku hanya digunakan untuk menyatakan tumpukan kertas bercetak yang dijilid, dan

Bahasa Indonesia

tidak untuk melambangkan konsep yang lain, sebab jika dilakukannya berarti dia telah melanggar
konvensi itu.
2.

Bahasa Bersifat Produktif

Bahasa bersifat produktif artinya, dengan sejumlah besar unsur yang terbatas, namun dapat dibuat
satuan-satuan ujaran yang hampir tidak terbatas. Misalnya, menurut Kamus Umum Bahasa
Indonesia susunan WJS. Purwadarminta bahasa Indonesia hanya mempunyai kurang lebih 23.000
kosa kata, tetapi dengan 23.000 buah kata tersebut dapat dibuat jutaan kalimat yang tidak terbatas.
3.

Bahasa Bersifat Dinamis

Bahasa bersifat dinamis berarti bahwa bahasa itu tidak lepas dari berbagai kemungkinan perubahan
sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat terjadi pada tataran apa saja: fonologis,
morfologis, sintaksis, semantic dan leksikon. Pada setiap waktu mungkin saja terdapat kosakata
baru yang muncul, tetapi juga ada kosakata lama yang tenggelam, tidak digunakan lagi.
4.

Bahasa Bersifat Beragam

Meskipun bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu
digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan yang
berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam, baik dalam tataran fonologis, morfologis, sintaksis
maupun pada tataran leksikon. Bahasa Jawa yang digunakan di Surabaya berbeda dengan yang
digunakan di Yogyakarta. Begitu juga bahasa Arab yang digunakan di Mesir berbeda dengan yang
digunakan di Arab Saudi.

5.

Bahasa Bersifat Manusiawi

Bahasa sebagai alat komunikasi verbal, hanya dimiliki manusia. Hewan tidak mempunyai bahasa.
Yang dimiliki hewan sebagai alat komunikasi, yang berupa bunyi atau gerak isyarat, tidak bersifat
produktif dan dinamis. Manusia dalam menguasai bahasa bukanlah secara instingtif atau naluriah,
tetapi dengan cara belajar. Hewan tidak mampu untuk mempelajari bahasa manusia, oleh karena itu
dikatakan bahwa bahasa itu bersifat manusiawi.
Kata-kata yang digunakan dalam berbicara seseorang dapat mencerminkan kemampuan
berpikir dan tingkat kepribadiannya. Kepribadian seseorang yang baik dapat memilih apa saja yang
harus diucapkan dan dibicarakan. Tidak berlebihan jika seseorang yang pandai berbahasa Indonesia,
Bahasa Indonesia

ia akan merasa diterima dan dihargai oleh berbagai kalangan. Ada beberapa solusi yang dapat
meningkatkan penggunaan bahasa Indonesia antara lain:
1.

Menyadarkan dan memotivasikan remaja akan fungsi dan pentingnya dari bahasa yang baku.
Upaya ini dimaksud untuk mengajak seseorang menyadari porsi dan tempat yang tepat bagi

2.

penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.


Membutuhkan suatu upaya pembiasaan. Artinya, remaja dilatih untuk berbahasa secara tepat, baik
secara lisan maupun tulisan setiap saat setidaknya selama berada di lingkungan sekolah.

3.

Pembiasaan ini akan sangat mempengaruhi perkembangan kemampuan berbahasa pada remaja.
Proses penyadaran dan pembiasaan ini membutuhkan suatu kekuatan atau sanksi yang mengikat,
misalnya tugas menuliskan suatu artikel atau karangan dengan bahasa yang baku. Hal ini akan
menimbulkan keinginan remaja untuk mempelajari bahasa Indonesia yang baik dan benar.
2.1.1 Bahasa Baku
Setiap negara mempunyai bahasa resmi masing-masing. Dalam Bahasa Indonesia bahasa resmi itu
disebut bahasa baku. Bahasa baku terdiri dari kata-kata yang baku. Kata-kata baku adalah kata-kata
yang standar sesuai dengan aturan kebahasaan yang berlaku, didasarkan atas kajian berbagai ilmu,
termasuk ilmu bahasa dan sesuai dengan perkembangan zaman, dengan kata lain bahasa baku
adalah bahasa yang menjadi bahasa pokok yang menjadi bahasa standar dan acuan yang digunakan
sehari-hari pada bahasa percakapan maupun bahasa tulisan. Bahasa baku lazim digunakan dalam :
a.

Komunikasi resmi ( Tertulis )

Contoh : surat-menyurat resmi, pengumuman resmi, undang-undang dan lain-lain


b. Wacana Teknis
Contohnya : laporan resmi, karangan ilmiah, buku pelajaran dan lain-lain
c. Pembicaraan di depan umum
Contohnya : ceramah, kuliah, pidato dan lain-lain
d. Pembicaraan dengan orang yang dihormati dan sebagainya ( Formal )
Contohnya : guru terhadap murid, saat sedang rapat di intansi tertentu, pembicaraan kenegaraan.
2.1.2 Bahasa Gaul
Bahasa gaul atau bahasa prokem yang khas Indonesia dan jarang dijumpai di negara-negara lain
kecuali di komunitas-komunitasIndonesia. Bahasa gaul dijadikan sebagai bahasa dalam pergaulan
anak-anak remaja. Istilah ini muncul pada akhir tahun 1980-an. Pada saat itu ia dikenal sebagai
'bahasanya para anak jalanan' disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan sebagai preman. Namun
seiring bertambahnya waktu bahasa prokem yang tadinya hanya dipakai para preman atau anak
Bahasa Indonesia

jalanan sebagai bahasa rahasia beralih fungsi menjadi bahasa gaul. Kata gaul bisa diartikan sebagai
Anak Layangan, Anak Lebay, Anak Kelayapan dan lain sebagainya. Dimana anak-anak tersebut
sering didefinisikan sebagai anak-anak yang berkelakuan tidak biasa atau dapat dikatakan
berlebihan. Anak-anak ini ingin diketahui statusnya diantara tenan-teman sejawatnya, mereka ingin
selalu memperlihatkan keeksisan atau kenarsian mereka dalam segala hal. Misalnya dalam hal
berpakaian, bertingkah laku serta berbahasa (baik lisan maupun tulisan).
Pengertian alay menurut beberapa ahli:
1.

Koentjara Ningrat

"Alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia, yang ingin diakui statusnya diantara
teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakain, sekaligus
meningkatkan kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya (baca: Pengguna
internet sejati, kayak blogger dan kaskuser). Diharapkan Sifat ini segera hilang, jika tidak akan
mengganggu masyarakat sekitar".
2.

Selo Soemaridjan

"Alay adalah perilaku remaja Indonesia, yang membuat dirinya merasa keren, cantik, hebat diantara
yang lain. Hal ini bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia yang sopan, santun, dan ramah.
Faktor yang menyebabkan bisa melalui media TV (sinetron), dan musisi dengan dandanan seperti
itu."

2.1.3 Pengertian Bahasa gaul


Dalam ilmu bahasa, bahasa gaul termasuk sejenis bahasa diakronik, yaitu bahasa yang dipakai
oleh suatu kelompok dalam kurun waktu tertentu. Ia akan berkembang hanya dalam kurun tertentu.
Perkembangan bahasa diakronik ini, tidak hanya penting dipelajari oleh para ahli bahasa, tetapi juga
ahli sosial atau mungkin juga politik. Sebab bahasa merupakan sebuah fenomena sosial. Ia hidup
dan berkembang karena fenomenal sosial tertentu.
Bahasa Alay menurut Sahala Saragih, dosen Fakultas Jurnalistik Universitas Padjajaran, merupakan
bahasa sandi yang hanya berlaku dalam komunitas mereka. Tentu saja itu tidak mungkin digunakan
ke pihak di luar komunitas mereka misalnya guru dan orangtua. Penggunaan bahasa sandi itu
menjadi masalah bila digunakan dalam komunikasi massa karena lambang yang mereka pakai tidak
dapat dipahami oleh segenap khayalak media massa atau dipakai dalam komunikasi formal secara
tertulis.
2.1.4 Karekteristik Bahasa gaul

Bahasa Indonesia

Seiring dengan semakin banyaknya pengguna bahasa gaul pada kalangan remaja, variasi atau
karakteristiknya pun semakin beragam antara lain:
a)

Pemakaian huruf besar kecil yang berantakan dalam satu kalimat.


Contoh: kaMu Lagi nGapaiN?

b)

Penggunaan angka sebagai pengganti huruf.


Contoh: k4mu l49i n94p4in?

c)

Penambahan atau pengurangan huruf-huruf dalam satu kalimat.


Contoh: amue agie ngapaein?

d)

Menambahkan atau mengganti salah satu huruf dalam kalimat.


Contoh: xmoe agie ngaps?

e)

Penggunaan simbol-simbol dalam kalimat.


Contoh: k@mu L@g! nG@p@!n?
2.1.5 Asal Mula Penggunaan Bahasa gaul
Dengan semakin berkembangnya usia seseorang maka rasa ingin tahu akan suatu hal

menyebabkan seseorang menggunakan bahasa gaul teknologi, terutama berkembangnya siklus


jejaring sosial, seperti facebook dan twitter. Pada tahun 2008, muncul suatu bahasa baru di kalangan
remaja, yang disebut bahasa gaul. Kemunculannya dapat dikatakan fenomenal, karena cukup
menyita perhatian. Bahasa baru ini seolah menggeser penggunaan bahasa Indonesia di kalangan
remaja. Mereka lebih tertarik untuk menggunakan bahasa gaul yang dapat digunakan sesuai
keinginan mereka daripada menggunakan bahasa Indonesia yang kaku dan baku.
Namun jika diteliti lebih lanjut, penggunaan bahasa gaul ini sudah ada jauh sebelum bahasa
gaul berkembang di facebook dan twitter, yaitu ditandai dengan maraknya penggunaan singkatan
dalam mengirim pesan pendek atau SMS (Short Message Sevice). Hanya saja pada saat itu belum
disebut dengan bahasa gaul. Selain itu ada banyak tambahan variasi yang menyebabkan bahasa
tersebut kemudian disebut dengan bahasa gaul. Misalnya dalam bentuk sms biasa, km lg ngapa?
yang dimaksud adalah kamu lagi ngapain?, dan dalam bentuk SMS gaul menjadi, xm Gy
nGaps?. Tujuan awalnya adalah sama yaitu untuk mengirimkan pesan yang singkat, padat dan
dapat menekan biaya.
2.1.6 Struktur Dalam Pemakaian Bahasa Gaul
Struktur dan tatabahasa dari bahasa prokem tidak terlalu jauh berbeda dari bahsa formalnya ( bahasa
Indonesia ). Pada dasarnya ragam bahasa gaul remaja memiliki ciri khusus, singkat, lincah, dan
kreatif. Dalam banyak kasus kosakata yang digunakan cenderung pendek, sementara kata yang agak
Bahasa Indonesia

panjang diperpendek melalui proses morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih pendek.
Hal itu dapat dilihat dari :
a. Pengunaan awalan e Kata emang itu bentukan dari kata memang yang disisipkan bunyi e.
Disini jelas terlihat terjadi pemendekan kata berupa mengilangkan huruf depan (m).
Sehingga terjadi perbedaan saat melafalkan kata tersebut dan merancu dari kata aslinya.
b. Kombinasi k, a, g Kata kagak bentukan dari kata tidak yang bunyinya tid diganti kag. Huruf
konsonan pada kata pertama diganti dengan k huruf vocal i diganti a. Huruf konsonan kedua
diganti g. sehingga kata tidak menjadi kagak.
c. Sisipan e Kata temen merupakan bentukan dari kata teman yang huruf vocal a menjadi e.
Hal ini mengakibatkan terjadinya perbedaan pelafalan

Contoh penulisan dengan bahasa gaul :


1. Gue/gua : kata ini sudah digunakan digunakan oleh Suku Betawi sejak bertahun-tahun lalu dan
menjadi kata untuk menyebut saya.
2. Lo, elu, dsb: kata ini juga sudah digunakan digunakan oleh Suku Betawi sejak bertahun-tahun
lalu dan menjadi kata untuk menyebut Anda / Kamu.
3.Bonyok : Kata ini merupakan singkatan dari Bokap-Nyokap (orang tua). Tidak jelas siapa yang
mempopulerkan kata ini, tapi kata ini mulai sering digunakan diperiode awal 2000an, ketika bahasa
sms mulai populer di kalangan remaja. Bokap (Ayah) dan Nyokap (Ibu) sendiri merupakan istilah
yang telah populer sejak tahun 80an dan masih digunakan hingga hari ini.
4. LEBAY : Merupakan hiperbol dan singkatan dari kata berlebihan. Kata ini populer di tahun
2006an. Kalo tidak salah Ruben Onsu atau Olga yang mempopulerkan kata ini di berbagai
kesempatan di acara-acara di televisi yg mereka bawakan, dan biasanya digunakan untuk mencela
orang yang berpenampilan norak.
5. GARING : Kata ini merupakan kata dari bahasa Sunda yang berarti tidak lucu. Awalnya katakata ini hanya digunakan di Jawa Barat saja. Namun karena banyaknya mahasiswa luar pulau yang
kuliah di Jawa Barat (Bandung) lalu kembali ke kota kelahiran mereka, kata ini kemudian dipakai
mereka dalam beberapa kesempatan. Karena seringnya digunakan dalam pembicaraan, akhirnya
kata ini pun menjadi populer di beberapa kota besar di luar Jawa Barat.
6. Jaim : Ucapan jaim ini di populerkan oleh Bapak Drs. Sutoko Purwosasmito, seorang pejabat di
sebuah departemen, yang selalu mengucapkan kepada anak buahnya untuk menjaga tingkah laku
atau menjaga image.
7. Cukstaw : Kata ini merupakan singkatan dari cukup tahu.

Bahasa Indonesia

8. Hoax : Hoax diartikan sebagai berita palsu, diambil dari kata sama dalam bahasa Inggris yang
berarti cerita bohong. Di film Amerika berjudul The Hoax (2006) yang dianggap mengandung
kebohongan. Awalnya hanya pengguna Internet di Amerika saja yang memakai istilah Hoax, tapi
lama-lama kata ini menjadi dipakai di seluruh dunia.
9. Mager : Singkatan dari malas gerak.
10. LOL : Kata ini belakangan ini sering dipakai, terutama dalam komunikasi chatting, baik di YM,
FB, Twitter, atau pun komunitas yang lain. Kata itu merupakan singkatan dari Laugh Out Loud
yang berarti Tertawa Terbahak-bahak.
2.2 Fungsi Bahasa
Fungsi bahasa menurut Abidin, dkk ( 2010 : 3 ) menjelaskan bahwa fungsi utama bahasa adalah
sebagai media komunikasi, tetapi selain sebagai media komunikasi bahasa juga memiliki fungsi lain
yaitu :

1) Fungsi ekspresif
Bahasa dapat digunakan untuk mengekspresikan ide, gagasan, dan pengelaman. Contohnya dalam
puisi. Pengarang mengeksperikan ide, gagasan dan pengalamanya dengan bahasa yang ditulis per
bait yang disebut puisi.
2) Fungsi estetis
Bahasa sebagai media yang indah untuk menyampaikan pesan. Fungsi estetis ini biasa diwujudkan
dalam bentuk karya sastra.
3) Fungsi informatif
Artinya bahasa dapat digunakan untuk menginformasikan sesuatu kepada orang lain.
4) Alat fungsional
Artinya bahasa dapat dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu.
3.1 Eksistensi Bahasa Indonesia
Di zaman sekarang ini perkembangan bahasa Indonesia kian menurun. Masuknya berbagai
bahasa asing yang tidak mungkin kita tolak dan ada beberapa kata asing yang diserap menjadi kosa
kata Indonesia. Namun, disisi lain, keberagaman bahasa serapan juga menjadi masalah bagi
orsinilitas bahasa yang kian mengkhawatirkan dan penggunaan tata bahasa yang kian serampangan
baik tulisan maupun lisan. Tentu saja, media televisi, koran, radio, internet dan merek dagang
Bahasa Indonesia

import adalah termasuk faktor pendorong utama yang ikut mencederai kebahasaan kita. Fenomena
ini sangat kentara pada pengunaan bahasa oleh anak-anak muda saat ini. Munculah istilah bahasa
gaul, bahasa alay, dan sebagainya. Di kalangan anak-anak, film import juga ikut mempengaruhi
perkembangan kebahasaan yang seharusnya menjadi pondasi komunikasi. Sebut saja misalnya film
animasi dari negara tetangga, Ipin - Upin, yang diputar dengan menggunakan bahasa Melayu.
Merek dagang asing juga dengan seenaknya masuk dengan bahasa aslinya, tanpa melakukan
penyesuaian dengan bahasa nasional. Kebahasaan kita menjadi seperti pasar, dimana semua bahasa
bercampur baur. Dengan kata lain keberadaan bahasa Indonesia semakin terkalahkan dengan
munculnya bahasa lain seperti bahasa gaul.
3.2 Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap Bahasa Indonesia
Di era globalisasi ini penggunaan bahasa gaul makin meraja dan terus muncul bahasa gaul baru
yang membuat eksistensi bahasa Indonesia kian menurun. Penggunaan bahasa gaul ini membuat
remaja makin sulit mengetahui bahasa Indonesia yang baik yang benar. Bahkan penggunaan bahasa
yang terlalu sering mebuat orang-orang tak sadar bahwa bahasa tersebut bukan bahasa yang baik
dan benar. Tidak jarang dalam acara formal pun banyak orang yang menggunakan bahasa gaul yang
dalam konteksnya tidak sengaja.
3.3 Media Mempengaruhi Perkembangan Bahasa Gaul
Terliahat dari contoh struktur bahasa gaul bahwa media sangat berpengaruh terhadap
penggunaan bahasa gaul, khususnya situs-situs jejaring sosial. Penikmat situs-situs jejaring sosial
kebanyakan adalah remaja. Tulisan seorang remaja di situs jejaring sosial yang menggunakan
bahasa gaul, akan dilihat dan bisa jadi ditiru oleh remaja lain. Selain remaja anak sekolah dasar pun
banyak yang menggunakan situs jejaring sosial. Berarti banyak juga anak sekolah dasar yang
seharusnya diberikan atau diajarkan bahasa yang baik dan benar dengan adanya situs jejaring sosial
sebagai media juga dapat berpengaruh besar. Tapi tak dapat dipungkiri bahwa penyerapan bahasa
gaul dikalangan anak dan remaja yang tengah menjadi tren merupakan bagian dari konformitas
terhadap lingkungan. Yang dimaksud konformitas adalah meleburkan diri pada lingkungan agar
mendapat pengakuan. Dalam perkembangan sosial anak usia SD dan remaja, konformitas memang
amat diperlukan karena akan meningkatkan self esteem (harga diri) anak. Jadi, biarkan saja anak SD
ataupun remaja yang memang diperlukan bagi perkembangan sosialnya. Yang harus diajarkan pada
anak adalah soal penempatan, dalam arti kapan dan kepada siapa bahasa tersebut boleh digunakan.
Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa media berpengaruh besar terhadap penyebaran
bahasa gaul.
Bahasa Indonesia

10

3.4 Contoh Penulisan Bahasa Gaul


a. Penulisan Bahasa Gaul pada Novel
Ibu mau apa, sih, ke sini sekarang? Udah ngga ada gunanya, Bu! Lebih baik Ibu pergi aja, deh
dari sini. God, this is like a nightmare for me, l right know, Jani menghela nafas dalam, masih
dalam ketidakpercayaan.
Jani komment pourriez-vous dire cela a moi? wanita itu berusaha memegang tangan Jani,
namun Jani mengelak.
Tega? Ibu bilang tega? Bu, dengar ya Jangan ngebahas masalah tega deh sama saya. Saya udah
ngga kenal kata itu lagi, thanks to you. Tanpa ia sadari air matanya telah bercucuran keras.
Sepertinya semua luka batin Jani yang selama ini ia pendam dan tutup-tutupi, perlahan terbuka
kembali.
Anjani! teriak ibu yang juga mulai menitikkan air matanya....

b. Penulisan Bahasa Gaul pada Puisi


Gubuk itu Rumahku
Selama puluhan tahun lamanya
Kau masih kokoh berdiri di sana
Tempat kita bertahan hidup
Berlindung dari manis dan kejam dunia
Masa tlah memakan umurmu
Gubuk reot tempatku berteduh
Dari panas dan hujan
Kini tlah dimakan sang waktu
Helai demi helai lapisan kulitmu
Tlah keropos rapuh
Aku hanya bisa meratapi
Memandangmu dalam rapuhnya jiwaku
Aku tak bisa untuk berbuat banyak
Karena tak banyak dana untuk merubahmu
Aku tak tahu... entah....
c. Penulisan Bahasa Gaul pada Cerpen
Irena ternyata membawa Icang ke sebuah pesta ulang tahun seorang temannya, entah teman dari
mana, yang jelas bukan anak Binke, yang diselenggarakan di sebuah restoran papan atas.
Temannya itu pasti se-borju Irena, buktinya sanggup menyewa resto yang harga sekali makan sama
dengan jatah beasiswa dari ortu Icang untuk dua bulan. Teman Irena itu bernama Anita, cewek
cakep bermata sipit dan berkuning langsat, keturunan Tionghoa. Ia menyambut Irena dengan segala
kecerewetan khas ABG golongan the have.
Halo Irena, akhirnya lo datang juga ke my birthday party! Gue seneng banget karena gue pikir
lo udah lupa sama gue!
Bahasa Indonesia

11

Bahasanya Jakarta-an, tetapi logatnya medok khas Solo, pikir Icang iseng.
Masak sama temen sendiri lupa? Meski udah dua tahun nggak ketemu, aku masih inget kamu, Nit!
Kita kan tiga tahun di SMP satu kelas terus. Hei, kamu ngelanjutin sekolah ke Aussie kan? Gimana
rasanya sekolah sama bule?
Ajaib, tenyata Irena bisa renyah seperti kicauan burung prenjak juga.
Wah, extraordinary! Segalanya menyenangkan. Sayang babe lo terlalu protect sama lo. Kuliah di
luar negeri aja dilarang. Eh, gue sekarang sudah punya gebetan bule lho namanya Dick! Sayang
dia nggak bisa ikutan terbang ke Indonesia karena sedang sibuk penelitian buat ikutan karya ilmiah.
Nah, yang satu ini siapa? Cowok lo?
Cowokku? Irena melirik Icang dengan paras merendahkan. Eh, kamu jangan menghinaku begitu
dong! Mentang-mentang dapet doi orang bule!
Eh, siapa yang menghina lo? Anita tampak bingung.
Aku masih ngejomblo tahu nggak?
Terus dia? Anita semakin bingung.
Dia itu sopir keluargaku yang baru. Pacaran sama sopir? Wih nggak level, mending juga sama
Anton yang pecandu narkoba itu! Aku sih nggak mau menurunkan harga diri, Fren!
Deg! Icang spontan merasakan wajahnya memanas. Benar, Irena cuma ingin mempermalukannya di
depan umum. Sialan, jelek-jelek gini gue itu idola, Fren!
Sopir? Dia itu sopir?!
Iya.
Suuuer?
Yup!
Wah, Anita mengangkat sepasang alisnya, lantas membelalakkan mata sipitnya. Sopir lo keren
banget! Gue juga mau punya gebetan kayak dia!
Penggalan novel, puisi, dan cerpen di atas adalah salah satu dari contoh novel anak remaja
yang bahasanya menggunakan bahasa gaul. Jika kita sama sekali tidak mengerti tentang bahasa ini,
kita tidak akan mengerti maksud yang disampaikan penulis cerpen tersebut. Saat ini penggunaan
bahasa gaul dalam cerpen sudah marak di berbagai koran, majalah, atau media cetak lainnya. Ini
semakin menenggelamkan bahasa baku Indonesia.
3.5 Cara Mengatasi Perkembangan Bahasa Gaul
Tidak dapat dipungkiri lagi, dalam bermasyarakat, bersosialisasi lebih sering menggunakan bahasa
gaul. Anak-anak dan para remaja dalam perkembangan psikologis pun tidak bisa ditolak atau
dicegah untuk tidak terbiasa dengan bahasa gaul, karena itu memang suatu proses dalam

Bahasa Indonesia

12

psikologisnya. Dengan kata lain penggunaan bahasa gaul tidak bisa kita hilangkan atau cegah
perkembangannya.
Yang dapat kita lakukan yaitu :
1. Memberi pengertian yang lebih mendalam akan pentingnya berbahasa yang baik dan benar,
2. Menanamkan sikap cinta bahasa sendiri pada anak-anak atau remaja dengan berbagai cara,
contohnya mengadakan lomba puisi dan lain-lain,
3. Inisiatif dan kemauan yang kuat dari dalam diri sendiri.

Bahasa Indonesia

13

BAB IV
PENUTUP
4.1 Simpulan
Jadi, keberadaan bahasa gaul memang sangat mengganggu eksistensi bahasa Indonesia. Namun
disisi lain kita tidak bisa mencegahnya apalagi dikalangan anak-anak dan remaja karena
perkembangan psikologis keduanya menuntut mereka agar diakui di masyarakat dan salah satunya
dengan mengikuti tren bahasa gaul itu sendiri. Oleh karena itu perkembangan bahasa gaul tidak
dapat dicegah tetapi dapat diminimalisir jika kita kembali meningkatkan eksistensi bahasa
Indonesia itu sendiri.
4.2 Saran
Dari simpulan diatas , penulis merumuskan saran sebagai berikut :
1. Hendaknya lebih diadakan pemahaman yang lebih kepada anak-anak dan remaja.
2. Mualilah dari diri sendiri untuk membudidayakan bahasa Indonesia, dan meningkatkan kembali
eksistensinya.
DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Yunus,dkk. (2010). Kemampuan Berbahasa Indonesia di Perguruan Tinggi.


Bandung: CV. Maulana Media Grafika.
http://id.wikipedia.org/wiki/Pembicaraan:Bahasa_prokem_Indonesia
http://klikm.net/kolom/read/2466/sumpah-satu-bangsa
http://makalah-bahasa-gaul-dan-bahasa.html
http://unkanivel.wordpress.com/2011/10/07/pengertian-bahasa-menurut-para-ahli
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/04/%E2%80%9Cpengaruh-bahasa-gaulhttp://wismasastra.wordpress.com/dalam-perkembangan-bahasa-

indonesia%E2%80%9D/

http://wismasastra.wordpress.com.http://klikm.net/kolom/read/2466/sumpah-satu-

LAMPIRAN :
Judul
Tema
Bahasa Indonesia

bangsa

: Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap Perkembangan Bahasa Indonesia.


: Perkembangan Bahasa.
14

Tim Penyusun
:
1. Ricky Reza Sundaya
2. Anita Afriani
3. Dedi Hartono
4. Fajar Irfan Nugroho
5. Riko Agustian
6. Yohanes Chemal
7. Krisnawan Adi Rismantoro
8. Joshua Andika Giovanie

(NRP : 151112A)
(NRP : 151016A)
(NRP : 151032A)
(NRP : 151048A)
(NRP : 151114A)
(NRP : 151146A)
(NRP : 151078A)
(NRP : 151076A)

Pembimbing : Nori Purwanasari, S.Pd, M.Hum.

Bahasa Indonesia

15