Anda di halaman 1dari 21

A.

PENDAHULUAN
Pemeriksaan darah memberikan informasi berharga kepada ilmuwan forensik di banyak
bidang investigasi kriminal. Informasi diperoleh dari darah oleh ahli patologi forensik,
toksikologi, serologist, dan penyidik kejahatan.1
Darah dipelajari oleh ahli patologi forensik untuk membantu diagnosis berbagai penyakit
yang mungkin berhubungan dengan penyebab kematian, seperti AIDS, anemia, leukemia,
atau malaria, serta kondisi lainnya. Ahli patologi forensic juga menggunakan bukti darah
selama pemeriksaan eksternal dari korban sebelum otopsi. Tingkat kebiruan postmortem atau
pengendapan darah dalam tubuh dapat membantu menentukan perkiraan waktu kematian atau
apakah lividitas konsisten dengan posisi korban di tempat kejadian. Gambaran cherry-red
mungkin menunjukkan keracunan karbon monoksida atau keracunan sianida. Trauma tumpul
sering menghasilkan memar eksternal, yang dapat diidentifikasi denganahli patologi forensic
baik sebagai yang segar atau lama.1
Penyidik TKP bertanggung jawab atas dokumentasi yang tepat dari TKP melalui
observasi yang cermat, fotografi, pengukuran, diagram, dan pengumpulan bukti fisik. Darah
adalah salah satu yang paling signifikan dan sering dijumpai sebagai bukti fisik di adegan
kejahatan kekerasan. Keadaan dan sifat kejahatan kekerasan yang melibatkan pertumpahan
darah menghasilkan berbagai bercak darah dan pola darah.1
Pemeriksaan TKP untuk tujuan interpretasi bercak darahharus dimasukkan ke dalam
pendekatan sistematis pemeriksaan TKP. Interpretasi bercak darah merupakan bagian dari
penyelidikan secara keseluruhan, yang meliputi dokumentasi, pengumpulan, dan evaluasi
semuabukti fisik. Bukti fisik didefinisikan sebagai setiap dan semua bahan atau item yang
terkait dengan TKP yang oleh ilmiah membantu evaluasi untuk menetapkan unsur kejahatan
dan mendapatkan hubungan antara TKP, korban, dan si penyerang. Informasi yang diberikan
oleh interpretasi bercak darah harus dievaluasi dengan bukti yang diberikan oleh pemeriksaan
postmortem dari korban dan analisis yang dilakukan oleh laboratorium forensic.1
Ketika bercak darah yang dipelajari sehubungan dengan geometri dan distribusinya pada
berbagai permukaan, bercak darah dapat mengungkapkan informasi yang berharga untuk
rekonstruksi peristiwa yang menyebabkan adanya pertumpahan darah.1

Asal dari bercak darah


Jarak antara sasaran permukaan dan asal pada saat pertumpahan darah
Jenis dan arah yang dihasilkan bercak darah
Obyek yang menghasilkan pola-pola bercak darah tertentu
Jumlah pukulan, tembakan, dll yang terjadi
Posisi korban, penyerang, atau benda selama pertumpahan darah

Gerakan dan arah korban, penyerang atau benda setelah pertumpahan darah
Dukungan atau kontradiksi versi kejadian yang diberikan oleh tersangka atau saksi
Kriteria tambahan untuk estimasi waktu kematian
Korelasi dengan laboratorium dan patologi temuan lain yang relevan dengan
investigasi1,2

Interpretasi pola bercak darah menggunakan ilmu-ilmu biologi, fisika,dan matematika.


Pengamatan dari bercak darah telah digunakan sejak prasejarah, dimana manusia melacak
binatang yang terluka, seperti pemburu modern lakukan sekarang ini. Penggunaan
interpretasi pola bercak darah dalam penyelidikan kriminal oleh ahli kimia forensic Jerman
Paul Jeserich didokumentasikan dalam abad 19. Pada tahun 1939, ilmuwan Perancis
Balthazard menunjukkan eksperimen pola bercak darah di Kongres Kedokteran Forensik ke22 di Paris, Prancis. Pada tahun 1955, almarhum Dr Paul Kirk of Berkeley, California,
berhasil menggunakan bukti bercak darah dalam kasus Negara Ohio vs Samuel Sheppard.
Ini adalah tonggak penting dalam pengakuan bukti bercak darah oleh sistem hukum.
Pertumbuhan lebih lanjut dan penggunaan interpretasi bercak darah dikreditkan ke Herbert
Leon Macdonnell dari Corning, New York, yang melakukan eksperimen untuk menciptakan
kembali dan duplikat bercak darah diamati di TKP dan menulis laporan modern pertama pada
subjek pada tahun 1971, berjudul " Flight Characteristics and Stain Patterns of Human
Blood". Macdonnell memberi instruksi formal untuk membentuk institusi bercak darah di
seluruh negeri. Akibatnya, pemanfaatan pola bercak darah di TKP dan penerimaannya oleh
pengadilan telah sangat ditingkatkan.1

B. DEFINISI
Bloodstain pattern analysis (BPA) atau Analisis pola bercak darah adalah subspesialisasi
rekonstruksi kejahatan pada konteks kejahatan dan adegan kejahatan, pola noda darah adalah
catatan terlihatdari pertumpahan darah di TKP. Sebagaimana dijelaskan dalam analisis pola
noda darah adalah pemeriksaan bentuk,lokasi, dan pola distribusi noda darah untuk tujuan
menafsirkan peristiwa fisik yang menyebabkan hal tersebut. Pola noda darah adalah akibat
langsung dari sifat benda dan kekuatan yang menciptakan mereka.3
BPA adalah pemeriksaan bentuk, lokasi dan sitribusi pola dari bercak darah dengan tujuan
menginterpretasikan kejadian fisik yang menyebabkan hal tersebut. Sedangkan pola bercak
darah adalah bukti visual adanya bercak atau tumpahan darah pada TKP.3

C. ANALISIS POLA BERCAK DARAH

Analisis pola bercak darah adalah pemeriksaan bentuk, lokasi,dan distribusi pola bercak
darah dalam rangka memberikan penafsiran peristiwa fisik yang memunculkan bercak darah
tersebut.4
Informasi yang dapat diperoleh dari analisis pola bercak darah yang tepat:4
a.
b.
c.
d.
e.

Jarak dari sumber darah ke target


Arah sudut jalan dan dampaknya
Sifat gaya digunakan untuk menyebabkan tertumpahnya darah
Urutan peristiwa tertumpahnya darah
Interpretasi pola kontak dan transfer

Penggolongan dari Bentuk/Pola Bercak Darah1,2,4,5


1. Bercak darah yang dihasilkan dari Extravasation Drops (Tetesan), Gushes & Spur
(Tetesan & semburan arteri); Pool (Genangan).
a. Drops (Tetesan)
Bercak tetesan terbentuk sebagai akibat gaya gravitasi. Darah yg keluar dari luka
memiliki massa tertentu dan akan terjatuh sebagai bulatan berbentuk elips karena
gaya gravitasi. Besarnya bercak darah tetesan tergantung pada volume arah yang
menetes dan sifat-seifat permuaan dimana darah menetes.

Gambar 1. Bentuk tetasan darah

b. Pool (Genangan)
Aliran darah dari luka (tampa tekanan) yan tergenang di TKP karena faktor media
dan gaya gravitasi.

Gambar 2. Bentuk genangan pada korban yang berasal dari darah yang keluar dari luka
korban.

c. Aliran (flows)
Bentuk bercak darah yang seringkali ditemukan ditempat kejadian perkara adalah
pola aliran. Pola bercak darah ini sering ditemukan pada tubuh korban, pada objekobjek tertentu di TKP atau pada permukaan tertentu di TKP. Terbentuknya pola
bercak darah tersebut diakibatkan oleh pengaruh gravitasi.

Gambar 3. Bentuk aliran darah yang dikarenakan oleh gaya gravitasi.

d. Drip (percikan cairan)


Bercak darah terbentuk ketika genangan darah terkena tetesan darah.

Gambar 4. Bentuk pola drip.

e. Saturation Stain (Serapan)

Bercak yang terjadi bila benda tertentu (yang dapat) menyerap menyentuh darah
dengan kuantitas yang besar (Genangan atau aliran darah).

Gambar 5. Bentuk bercak darah yang terserap oleh karpet.

2. Pola/bentuk bercak darah yang terlembar dari suatu benda


a. Pattern Transfer (Bercak salinan bentuk)
Adalah Bercak darah yang dihasilkan bila objek yg membawa darah cair
bersentuhan dengan permukaan objek lain.

Gambar 6. Pola transfer1

b. Swipe (Bercak Gesekan/Polesan)


Transfer darah

pada

permukaan

target (Benda tertentu) diakibatkan

oleh

pergesekan antara permukaan target (Diam) dengan benda yang bergerak membawa
darah.

Gambar . Pola swipe4

3. Bercak yang dihasilkan dari perpindahan/gerakan darah


a. Bercak Saputan (Wipes)
Bercak darah saputan terbentuk ketika suatu objek (diam) yang membawa darah
tergesek oleh suatu permukaan yang bergerak. Gerakan objek diperkirakan sebagai
gerakan Lateral.

Gambar 8. Pola saputan4

b. Cast off (Lontaran)


Bercak darah ini terbentuk bila benda membawa darah dikibaskan dan darah yang
terlontar dari objek menyentuk suatu permukaan. Umumnya Bercak lontaran
ditemukan sebagai serentetan bercak yang berurut sesuai dengan arah kibasan benda.

Gambar 9. Pola lontaran1

Gambar 10. Pola Cast-off dari sebuah tongkat dan pipa. 5

c. Spatter (Percikan)
Bercak darah percikan terbagi menjadi 2, Forward spatter (percikan kedepan) dan
Back spatter (percikan kebelakang). Benturan yang terjadi pada suatu genangan darah
akan mengakibatkan pecahnya kumpulan darah menjadi butiran butiran yang lebih
kecil dan terpercik kearah menjauhi pusat gaya.

Gambar 11. Pola spatter1

Gambar 12. Pola dari active spatter.2

d. Bercak Expiratory (Bercak darah pernafasan)


Bercak darah ini merupakan bercak darah yang disemburkan dari mulut, hidung atau
sistem pernapasan lainnya. Karena pengaruh tekanan pada saat pernapasan. Hal ini
menyebabkan pemecahan kumpulan darah menjadi bagian bagian yang lebih kecil.
Sehingga bercak darah pernafasan disamping ditemukan bercak besar juga dijumpai
bintik bintik kecil bercak darah disekitarnya.

Gambar 13. Bercak ekspiratori4

Jenis paling sederhana dari analisis darah menentukan percikan atau transfer. Percikan
tercipta ketika darah dihasilkan dari suatu gaya dan berjalan melalui udara sebelum mendarat
di permukaan target. Pola transfer terjadi ketika darah dari sumber darah datang dalam kontak
langsung dengan luas permukaan target.
Karakteristik Jalur Terbangnya Darah1,4,5
1. Tegangan Permukaan
Darah tidak akan terputus kecuali bila

ada gaya yang mempengaruhi. Gaya yang

diperlukan cukup besar untuk mengatasi tegangan permukaan darah. Darah membentuk
seperti bola (bentuk melingkar sempurna) hampir segera setelah memisahkan diri dari
sumber darah, Bentuk bulat tersebut disebabkan oleh tegangan permukaan darah.
Tegangan permukaan menyebabkan darah yang jatuh untuk menarik dirinya baik secara
horizontal maupun vertikal. Jatuhnya darah akan tetap menjadi bentuk bola sebagai akibat
tegangan permukaan. Tegangan permukaan akan mempertahankan darah berbentuk bola
hingga darah jatuh dan menetes ke permukaan.

Gambar 14. Tegangan Permukaan Darah4

2. Angle of Impact (Sudut Dampak )


Bentuk bercak darah ditentukan oleh sudut antara jalur terbangnya dengan permukaan
yang dikenai.3 Tetesan darah yang membentur suatu permukaan pada sudut 90o akan
menghasilkan bercak darah yang pada dasarnya bulat dalam bentuk. Tetesan darah yang
membentur permukaan pada sudut kurang dari 90 o akan lebih panjang atau berbentuk
oval.
Dengan berkurangnya sudut antara tetesan darah dengan permukaan target, panjang
bercak darah yang terbentuk akan bertambah dan lebarnya berkurang. Dengan kata lain
bercak darah akan menjadi lebih panjang dan sempit seiring berkurangnya besar sudut.1

Gambar 15. Angle of impact bercak darah terhadap target permukaan 1

Gambar 16. Angle of Impact (Sudut Dampak)4

Faktor yang Mempengaruhi Pola Bercak Darah1,4,5


1. Permukaan tekstur target :

a. Bercak darah dapat terjadi pada berbagai permukaan. Jenis permukaan tempat
darah jatuh/menetes mempengaruhi tampilan dari percikan darah yang dihasilkan.
Jika permukaan licin atau tidak kasar darah yang jatuh akan berbentuk melingkar
biasa.
b. Darah yang jatuh pada permukaan yang kasar dan tidak teratur akan membuat
sebuah bentuk bercak dengan bentuk kasar atau bergerigi.

Gambar 17. Permukaan tekstur target4

Gambar 18. Pola pada permukaan yang berbeda1

2. Kecepatan bercak darah


Bercak darah pasif / bercak darah dengan kecepatan rendah:
a. Darah jatuh pada kecepatan atau gaya gravitasi yang normal
b. Bercak / percikan biasanya berasal dari luka terbuka atau dari permukaan yang
jenuh dengan darah.
c. Bercak darah yang dihasilkan sebagian besar berukuran besar, berbentuk lingkaran,
dengan diameter percikan 4mm atau lebih.
d. Bercak darah akan bertambah ukurannya sesuai dengan jarak jatuh yang meningkat
pula. Namun ukuran percikan akan tetap konstan bila jarak jatuh sekitar 4 kaki.

Gambar 19. Bercak darah kecepatan rendah1

Bercak darah dengan kecepatan sedang :


a.

Dihasilkan dengan kecepatan dan energi yang melebihi gaya gravitasi,


b. Jenis percikan ini biasanya terlihat pada penusukan,cedera benda tumpul dan
percikan sekunder.
c. Dihasilkan ketika banyak darah yang lebih besar terpecah menjadi percikan yang
lebih kecil dengan diameter 2-4 mm.

Gambar 20. Bercak darah kecepatan sedang1

Bercak darah dengan kecepatan tinggi :


a. Bercak percikan darah memiliki ukuran diameter kurang dari 2 mm.
b. Gaya yang diperlukan untuk menghasilkan percikan darah ini lebih besar dari 100
kaki per detik.
c. Jenis percikan ini biasanya berhubungan dengan tembakan, ledakan dan tabrakan
dengan kecepatan tinggi.

Gambar 21. Bercak darah kecepatan tinggi1

Pemeriksaan Laboratorium Darah6,7


A. Persiapan
Bercak yang menempel pada suatu objek dapat dikerok kemudian direndam dalam
larutan fisiologis, atau langsung direndam dengan larutan garam fisiologis bila
menempel pada pakaian.
B. Pemeriksaan Penyaringan (presumptive test)
Ada banyak tes penyaring yang dapat dilakukan untuk membedakan apakah bercak
tersebut berasal dari darah atau bukan, karena hanya yang hasilnya positif saja yang
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Prinsip pemeriksaan penyaringan:
H2O2 > H2O + On
Reagen -> perubahan warna (teroksidasi)
Pemeriksaan penyaringan yang biasa dilakukan adalah dengan reaksi benzidine dan
reaksi fenoftalin. Reagen dalam reaksi benzidine adalah larutan jenuh Kristal
Benzidin dalam asetat glacial, sedangkan pada reaksi fenoftalin digunakan reagen
yang dibuat dari Fenolftalein 2g + 100 ml NaOH 20% dan dipanaskan dengan biji
biji zinc sehingga terbentuk fenolftalein yang tidak berwarna.
Hasil positif menyatakan bahwa bercak tersebut mungkin darah sehingga perlu
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Sedangkan hasil negative pada kedua reaksi
tersebut memastikan bahwa bercak tersebut bukan darah.2
1. Reaksi Benzidine (Test Adler)
Dulu Benzidine test pada forensik banyak dilakukan oleh Adlers (1904). Tes
Benzidine atau Test Adlerlebih sering digunakan dibandingkan dengan tes tunggal
pada identifikasi darah lainnya. Karena merupakan pemeriksaan yang paling baik
yang telah lama dilakukan. Pemeriksaan ini sederhana, sangat sensitif dan cukup
bermakna. Jika ternyata hasilnya negatif maka dianggap tidak perlu untuk
melakukan pemeriksaan lainnya.

Cara pemeriksaan reaksi Benzidin:


Sepotong kertas saring digosokkan pada bercak yang dicurigai kemudian
diteteskan 1 tetes H202 20% dan 1 tetes reagen Benzidin.

Hasil:
Hasil positif pada reaksi Benzidin adalah bila timbul warna biru gelap pada kertas
saring.
2. Reaksi Phenolphtalein (Kastle Meyer Test)
Prosedur test identifikasi yang sekarang ini, mulai banyak menggunakan
Phenolphtalein. Pada penelitian yang dilakukan oleh Kastle (1901,1906), zat ini
menghasilkan warna merah jambu terang saat digunakan pada test identifikasi
darah.
Cara Pemeriksaan reaksi Fenolftalein:
Sepotong kertas saring digosokkan pada bercak yang dicurigai langsung diteteskan
reagen fenolftalein.
Hasil:
Hasil positif pada reaksi Fenoftalin adalah bila timbul warna merah muda pada
kertas saring.
3.Tes Luminol
Tujuan : Melihat bercak bersinar
Bahan yang diperiksa : Bercak darah yang kering
Metode : Test Luminol
a. Pakaian atau bahan yang mengandung bercak disemprot dengan reagensia
Luminol
b. Pemeriksaan dilakukan dalam ruang yang gelap
Hasil yang diharapkan :
Bercak darah kering tampak bersinar (Luminesence), Test Luminol merupakan test
yang paling sensitive untuk mendeteksi bercak darah.

Pembuatan reagensia :
100 mg 3 amino-phtalhydrazide dicampur dengan 5 gram sodium carbonate dalam
100 ml aquadest; sebelum digunakan larutan tersebut ditambah 700 mg sodium
perborate.

Gambar 22. Test Luminol pada bercak darah kering di karpet 1

Test
Benzidine
Tetra methyl
benzidine
o-Tolidine

Indicator
Blue color
Blue color

Sensitivity
++++
+++

Dark green

+++

Phenolphthalein
Pink color
or Kastle Meyer
test
Leucomalachite
Green color
green
Luminol (5Fluorescence
amino-2,3dihydro-1,4
phthalazinedione)

++

Comment
Carcinogen
Probable
carcinogen
Probable
carcinogen
Relatively safe

++

Relatively safe

+++++

Probable
carcinogen

C. Pemeriksaan Konfirmasi
Banyak tes yang berbeda telah digunakan untuk mengkonfirmasi bahwa noda
mengandung darah. Yang tertua adalah konfirmasi kimia berdasarkan keberadaan
hemoglobin atau turunannya oleh pembentukan kristal tertentu. Sebagai contoh,
Takayama atau hemochromogen tes, di mana besi besi dari hemoglobin bereaksi dengan

piridin untuk menghasilkan kristal berbulu merah piridin ferroprotoporphyrin. Tes


konfirmasi lainnya menggunakan reagen Teichman, yang terdiri dari larutan kalium
bromida, kalium klorida dan kalium iodida dalam asam asetat glasial, dan dipanaskan
untuk bereaksi dengan hemoglobin. Reaksi pertama mengubah hemoglobin untuk hemin,
dan kemudian halida bereaksi dengan hemin untuk membentuk karakteristik kristal
rhomboid kuning kecoklatan.
Darah dapat diidentifikasi sebagai asal manusia dengan precipitin reaksi dengan
antiserum spesifik untuk komponen darah manusia. Biasanya ini merupakan serum serum
anti-manusia - yaitu, suatu antiserum untuk serum manusia.
Reaksi precipitin asli dilakukan dengan layering larutan antibodi di atas larutan ekstrak
noda dalam tabung, dan dibiarkan selama periode waktu untuk memungkinkan
pengembangan sebuah band precipitin. Hal ini disebut sebagai metode tabung, dan masih
digunakan dalam beberapa laboratorium hari ini

DAFTAR PUSTAKA
1. James, Stuart H., Edel, Charles F. Bloodstain Pattern Interpretation. Dalam : Eckert,
William G, penyunting. Introduction to Forensic Sciences. New York : Elsevier, 2000.
h.176-209
2. Brodbeck, Silke. Introduction to Bloodstain Pattern Analysis. SIAK-Journal Journal
for Police Science and Practice (Vol. 2), 51-57.
3. Petherick WA, Turvey BE & Ferguson CE. Forensic Criminology. New York :
Elsevier. 2009.
4. Anonymous. Interpretation of Bloodstain Patterns. Crime Scene Forensics, LLC.
Available

from:

http://www.crimescene-forensics.com/Crime_Scene_Forensics/

Home.html
5. Whitley R & Figarelli D. A Simplified Guide to Bloodstain Pattern Analysis.
National Forensic Science Technology Center (NFSTC). 2009.
6. Castro DM & Coyle HM. Review: Biological Evidence Collection and Forensic
Blood Identification. Forensic Science Department. USA.
7. Anonymous. Screening and Confirmatory Test for Blood. DNA Analyst Training.
NFSTC. 2007 Available from: http://www.nfstc.org/pdi/index.htm