Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN INDIVIDU

BLOK CARDIOVASKULER
SKENARIO 1

NYERI DADA PADA PENYAKIT JANTUNG KORONER

OLEH :

KIRANA
MUSTIKASARI
GOOO7095
KELOMPOK 2
NAMA TUTOR :
DR. dr. Syarif Sudirman. SpAn
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS

2009

BAB I
PENDAHULUAN
A.

LATAR BELAKANG
Jantung dan pembuluh darah merupakan organ penyusun system cardiovaskuler yang

memiliki peran sebagai penyalur nutrisi, oksigen serta zat-zat lainnya ke seluruh tubuh
secara merata. Jantung sendiri dalam memperoleh nurisi dan oksigen dari arteri coronaria

cabang pertama aorta. Hambatan aliran pada arteri ini menyebabkan penyakit jantung
koroner yang menempati urutan pertama penyebab kematian di negara maju.
Nyeri dada merupakan salah satu keluhan yang harus dicurigai adanya kelainan pada
jantung. Mengingat banyaknya kemungkinan penyakit yang menyebabkan keluhan nyeri
pada dada sehingga dokter harus selektif dalam mengenali gejala ini sehingga dapat
menentukan asal nyeri apkah berasal dari sitem cardiovaskuler atau tidak.

Rokok,

kurangnya olah raga, konsumsi makanan yang banyak mengandung kolestrol menjadi
factor pemicu terjadinya penyakit jantung koroner selain dari factor genetic familier.
Pada kasus pria 40 tahun, datang dengan keluhan utama nyeri dada, tidak didapatkan
sesak nafas, lekas capek, atau dada bersebar-dabar.Kebiasaan pasien merokok 2 bungkus
sehari, jarang olah raga. Ayahnya dinyatakan menderita sakit jantung koroner. Pada
pemeriksaan fisik dalam batas normal. Pada pemeriksaan fisik hasil inspeksi apex terdapat
heaving, palpitasi letaknya SIC IV linea medioclavikularis sinistra tidak ada trill. Pada
perkusi didapat pinggang jantung normal. Pada auskutasi bunyi jantung I dan II biasa,
tidak ada ditemukan bising, gallop ataupun ronki. Hasil pemerisaan laboratorium normal,
EKG normal, foto thorax CTR 0,49 , vaskularisasi perifer normal, aorta tidak
menonjol,pinggang

jantung

normal.

Pemeriksaan

tteadmill

test

normal,

dan

echocardiografi juga dalam batas normal.


Hipotesis sementara nyeri dada pasien terkait dengan penyakit jantung didukung oleh
factor usia , jenis kelamin, konsumsi rokok, jarangnya oleharaga, serta riwayat keluarga
yang menerita peyakit jantung koroner. Dalam laporan ini akan dibahs lebih lanjut
mengenai system cardiovaskuler dan tentang penyakit jantung koroner sehingga
mempermudah mengkaji kasus yang ada.

B.

RUMUSAN MASALAH

1.

Bagamana hubungan nyeri dada dengan penyakit pada jantung?

2.

Bagaimana pengaruh rokok, kurangnya olah raga serta factor risiko lainnya dalam
menyebabkan penyakit jantung koroner

3.

Bagaimana cara menegakan diagnosis dan prognosis pada pasien sesuai dengan
scenario?

4.

Bagaimana penatalaksanaan yang dapat dilakukan baik preventif, promotif, kuratif,


rehabilitasi, psikoterapi maupun dalam keadaan emergency?

C.

TUJUAN

1.

Mengetahui anatomi, histologi, dan fisiologi sitem cardiovaskuler

2.

Mengetahui pemeriksaan laboratorium maupun tambahan dalam membantu


menegakan diagnosis kelainan pada jantung

3.

Menetahui patofisiologi, penegakan diagnosis, penatalaksanaan serta prognosis


penyakit jantung iskemik atau jantung koroner

D.

MANFAAT

1.

Sebagai sarana bagi mahasiswa untuk mengetahui sistema cardiovaskuler baik


fisiologi, histology, anatomi maupun penyakit yang mungkin terjadi terutama
penyakit jantung koroner

2.

Sebagai saranan bagi pembaca untuk menambah pengetahuan mengenai hubungan


nyeri dada dengan penyakit jantung dan mengetahui langkah preventif sedini
mungkin yang bias dilakukan utuk menurukan risiko penyakit jantung.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

A.

ANATOMI SYSTEMA CARDIOVASCULAR


Systema cardiovascular terdiri atas cor (jantung) dan vasa darah (arteria, vena,

kapiler). Systema cardiovascular terdiri atas system parva (corpulmo-cor) dan magna
(cor-kapiler seluruh tubuhcor). Cor terdiri atas 4 ruang utama yaitu atrium cordis dextrum
et sinistrum, dan vebtruculus dextrer et sinister. Cor sendiri terdiri atas 3 lapisan utama
yaitu :

Pericardium terdiri atas 2 lapisan yaitu pericardium viceralis serta pericardium


parietalis yang keduanya terisi oleh cairan yang disbut cavum pericardii yang fungsi
memberikan ruang pada cor saat kontraksi dan relaksasi.

Myocardium, merupakan bagian jantung yang terdiri atas otot yang berperan penting
dalam kontraksi dan relaksasinya

Endocardium, terdiri atas lapisan endotel.

Cor divaskularisasi oleh arteri coronaria dextra et sinistra yang merupakan cabang
pertama dari aorta. Arteri coronaria dextra mempercabangkan r.nodi sino atrialis, r.atrialis,
r.coni arteiosi, r.marginalis dextra, r.interventricularis posterior. Pada a. coronaria sinistra
mempercabangkan r. sircum plexus rr. Marginalis srta r. interventricularis anterior. Oleh
karena arteri coronaria dan percabagannya bagian ventricle kiri anterior, apex, 2/3 anterior
septum interventriculare divaskularisasi oleh a. coronaria decendens anterior sinister. Pada
dinding posterior ventricle sinister , 1/3 posterior septum interventriculare divaskularisasi
oleh a. conaria dexter. Sedang pada dinding lateral ventricle sinistra divaskularisasi oleh a.
coronaria sicumflexa sinister.
B.

HISTOLOGI PEMBULUH DARAH


Sirkulasi sistemik terdiri atas arteria, artriola, kapiler, venula dan vena. Pada arteri

terdiri atas 3 lapisan dinding yaitu

tunica intima

Bagian yang terdi atas selapis tipis sel endotel yang berhubungan langsung dengan suplai
darah. Sel endotel penting karena mengandung reseptor LDL yang bekerja sebagai sawar
selektif , permukaannya nontrombogenik, mensekresi oksida nitrat, dan dapat beriteraksi
dengan trombist, leokosit, makrofag melalui sitokin atau factor pertumbuhan

tunica media

Terdiri atas otot polos yang memberiakn integritas dari pembuluh darah.

tunica adventitia

Merupakan bagaian terluar yang mempberikan kekuatan utama dan terdiri atas fibril
kolagen, serabut elastis, fibroblast, dan otot polos.
C.

FISIOLOGI JANTUNG
Jntung mendapat aliran darah dari a. coronaria pada saat diastole. Terdapat 4 faktor

utama yang menetukan besarnya kebutuhan oksigen miokardium yaitu frekensi denyut
jantung, daya kontraksi, massa otot, dan tegangan dinding ventrikel. Dalam keadaan
melakukan aktivitas untuk memenuhi suplai O2 dan nutrisi bagi myocardium maka akan
terjadi peningkatan aliran darah pada arteri coronary hingga 5 kali dibanding saat istirahat
dengan cara meningkatkan frekuensi denyut jantung dan isi sekuncup sehingga jumlah
pasokan kebutuhan jaringan tetap terpenuhi.
D.

PENYAKIT JANTUNG KORONER

Penyakit jantung iskemik atau penyakit jantung koroner terjadi akibat


ketidakseimbangan O2 pada myocardium dan aliran darah. Penyebabnya adalah akibat dari
menyempitnya lumen arteri coronaria akibat arteroskerosis (pengerasan pembuluh darah).
Penyakit jantung coroner data timbul dari 1 dari 4 syndrome bergantung kecepatan dan
keparahan a. coronaria dan respon myocardium diantaranya angina pectoris, infakr
myocardium akut( AMI), kematian jantung mendadak, dan penyakit jantung iskemik
kronis serta gagal jantung kongestif.
Pengaruh osnset gejala tergantung pada kerusakan anatomi, perubahan dinamik,
perubahan morfologik koroner yang meliputi perubahan plak akut, trombosis a. coronaria
dan vasspasme a. coronaria.
1.

Perubahan plak akut

Pada kejadian ini teradi pembentukan fisura, perdarahan ke dalam plak, rupture plak,
embolisasi debris arteromatosa ke pembuluh coroner bagian distal, peningkatan risiko
agregasi trombosit yang pada khirna menyebabkan stenosis pembuluh darah. Plak yang
mengalami kelainan tanpak eksentrik ( tidak uniform), memiliki inti yang besar terdiri atas
debris nekrotik dan lemak yang dilapisi oleh selapis jaringan fibrosa tipis. Plak juga kaya
akan makrofag dan sel T. Sel T akan mensekresi INF yang mengaktifkan makrofag
sedangkan makrofag akan mengeluarkan protease yang menguraikan lapisan kolagen.
2.

Trombosis arteri coronaria

Rupturnya palak menyebabkan subendotel terpajan langsung oleh lemak trombogen


sehingga memicu terjadinya agregasi trombosit , pembentukan trombin dan thrombus.
Sehingga apabila terjadi penyumbatan total akan terjadi infark myocardium akut ( AMI) .
Apabila penyumbatan yang terjadi tidak total dan dinamik manifesti klinik yang terjadi
berupa angina tidak stabil. Trombus yang ada bila telepas akan menjadi embolus yang
dapat menuebabkan mioinfark dan angina yang tidak stabil.
3.

Vasospasme arteri coronaria

Pada proses kerusakan pada plak

vasospasme a. coronaria dipacu oleh pembebasan

mediator vasospatik seperti tromboksan A2 dari agregasi trombosit dan disfungsi endotel
yang mengurangi dikeluarkannya endothelial derived relaxing factor.
E.

ANGINA PECTORIS
Angina pectoris merupakan nyeri dada interminten yang disebabkan oleh iskemia

myocardium yang reversible dan sementara . Kurangnya asupan oksigen menyebabkan


ketidak seimbangan antara kebutuhan oksigen pada myocardium dengna kemampuan

pembuluh koroner dalam menyediakan oksigen untuk membantu kontrasi otot. Gejalanya
berupa rasa sakit pda bagian substrenal, yang dapat menyebatr satu atau kedua tangan ,
leher atau punggung. Pemicunya berupa aktivitas berat, emosi, stress, dingin. Angina
pectoralis menurut mavamnya dibagi atas:

Angina pectoris stabil/ tipikal

Bersifat episodic muncul setelah oleh raga atau akiabat stress, nyeri disubsternum seperti
diperas dan mungkin menyebar ke lengan kiri, penyebabnya adalah penymbatan lumen
akibat arteriskelosis tetap 75% lumen yang ada

Angina prizmetal/ varial

Timbul saat istirahat atau tidur. Pada saat tidur rasa sesak timbul akibat reabsorbsi cairan
interstitial masuk kedalam sirkulasi sehingga menimbulkan beban jantung yang dikenal
sebagai paroximal noctural dyspneu

Angiana pectoris tidak stabil / angina kresendo

F.

INFARK MYOCARDIUM AKUT


Infark myocardium terjadi apabila iskemia berlangsung lebih dari 30-45 menit

sehingga menimbulkan kerusakan sel otot yang bersifat irreversible.Secara fungsional


infark yang terjadi menyebabkan perubahan berupa daya kontraksi yang menurun, gerakan
dindng dada yang abnormal, perubahan daya kembang dinding ventrikel, pengurangan
volume sekuncup, pengurangan fraksi ejeksi, peningkatan volume akhir sistolik dan
diastolic ventrikel, serta peningkatan tekanan akhir diastolic ventrikel kiri.
G. BAHAYA ROKOK
Rokok dapat merangsang langsung terjadinya arteriskelerosis karena efek langsung
terhadap dinding arteri. Karbon monoksida (CO) menyebabkan hipoksia jaringan arteri,
nikotin menyebabkan mobilisasi katekolamin yang menambahkan reaksi trombosit dan
menyebabkan kerusakan dinding arteri , glokoprotein tembakau menyebabkan hipersensitif
dinding arteri.
H.

LANGKAH PENEGAKAN DIAGNOSIS


Dalam menegakan diagnosis penyakit pada jantung harus dilakukan penilaian klinis

secara sistematis yang meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik lengkap, laboraorium serta
pemeriksaan penunjang lainya pada jantung serta system pembuluh perifer.
Anamnesis mencangkup keluhan utamana dan tambahan, riwayat penyakit sekarang
dan dahulu, riwayat keluarga dan gaya hidup sebagai factor risiko lainya. Pada

pemeriksaan fisik dilakukan dengan ispeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi yang dilakukan
pada penderita dengan atau tanpa adanya keluhan cardiovascular.Pemeriksaan harus
menyeluruh meliputi keadaan umum, tanda-tanda vital, fundus okuli, keadaan kuit , thorax,
jantung abdomen, tungkai dan arteri perifer yang bertujuan untuk menemukan kelainan
cardiovaskuler primer,kelainan sistemik akibat kosekuensi cardiovaskuler, atau hanya
menyetupai saja.
Pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan antara lain :
1.

EKG
EKG (Elektrocardiogram) merupakan rekaman listrik jantung yang diperoleh dengna

bantuan elektroda yang ditempel padapermukaan tubuh seseorang .Pada gambaranya EKG
akan memperlihatkan bentuk gelombang yang khas antara lain gelombang P, QRS, dan T.

Gelombang P sesuai saat depolarisasi atrium yang bersal dari potensial aksi yang
dimulai pada SAnode

Interval PR, merupakan penghantaran inpuls pada nodu AV

Kompleks QRS, menggambarkan depolarisasi ventrikel

Segmen ST, terletak antara gelombang depolarisasi ventrikel dan repolarisasi


ventrikel

Gelombang T pada repolarisasi ventrikel

2.

Echocardiografi
Ehocardiografi merupakan pemeriksaan yang menggunakan gelombang ultrasonic

sebagi media pemerksaan. Suatu tranduser yang memancarkan gelombang ultrasonic


ditempatkan pada dinding dada penderita dan diarahkan ke jantung yang akan
memantulkan kembali pada tranduser setiap kali gelombang melewati baas antara jaringan
yang memiliki densitas atau impedansi akustik yang berbeda. Pada ekokardiografi dapat
diperoleh mengenai struktur dan gerakan bilik, katup dan setiap massa pada
jantung( patofis)
3.

Uji latih jantung dengan beban.

Indikasi utama dilakukannya uji latih jantung antara lain membantu diagnosis angina
dengan memprovokasi sakit dada dan kelainan iskemia, untuk stratifikasi risiko bagi
penderita yang memiliki risiko tinggi untuk terjadi koroner dan kematian dan untuk
mengetahui kapasitas fungsional jantungnya.

4. Angiografi koroner, yaitu penyuntikan bahan kontras ke dalam arteri koronaria dengan
tujuan untuk mengetahui lokasi , luas, dan keparahan sumbatan dalam arteri koronaria.
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan berupa pemeriksaan darah dan urin rutin
serta beberapa pemeriksaan spesifik lainnya. Pada pemeriksaan darah yang dilakukan
meliputi hemoglobin, hematokrit, jumlah leukosit, trombosit, ureum dan gula darah. Pada
pemeriksaan urin rutin dilakukan untuk mendeteksi dan memantau kelainan intrinsic ginjal
dan saluran kencing atau perubahan sekunder akibat penyakit lainnya. Pemeriksaan yang
dilakukan adalah mengukur osmolaritas urin, volume urin , berat jenis, kadar protein dalam
urine, urobilinogen, leukosit, dan sediment urine.
Pemeriksaan laboratorium spesifik hanya dilakukan pada penyakit jantung dan
pembuluh darah tertentu sebagai penunjang diagnosis antara lain enzim jantung , keratin
fosfokinase,

isoenzim

CK-MB,

Troponin

T,

Serum

glutamic-oxaloacetic

transaminase(SGOT), lacyic dehydrogenase(LDH), C-reactive protein(CRP)


E.

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pada iskemia myocardium bertujuan untuk mencegah terjadinya

kerusakan sel otot serta mempertahankan keseimbangan penyedian oksigen bagi sel oto
jantung. Langkah preventif yang dapat dilakukan adalah dengan menghindari factor risiko
yang dapat dimodifikasi sepert hipertensi, merokok, obesitas, gaya hidup yang kurang
aktif, diabetes militus, strss psikososial, serta hiperhomosinteinemia.
BAB 3
PEMBAHASAN
Pasien datang ke rumah sakit akibat keluhan utama yaitu nyeri dada. Sebelum
melakukan langkah lebih lanjut, melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik harus dapat
dipastikan asal dari nyeri dada bersifat gangguan cardiovaskuler atau tidak. Nyeri dada
yang berasal dari gangguan jantung akan terasa nyeri pada bagian substrernal seperti
diremas-remas serta rasa sakit dapat menyealar hingga lengan kiri, leher atau rahang,
Pasien laki-laki usia 40 tahun, memiliki kebiasaan merokok 2 bungkus setiap hari,
jarang olah raga, dan memiliki ayah yang menderita penyakit jatung koroner. Hal tersebut
dapat menyjadikan factor risiko terkena penyakit jantung koroner. Kebiasaan merokok
dapat memacu terjadi arterisklerosis akibat zat-zat yang terkandung didalamnya seperti
nikotin, CO, glikoprotein dan bahan toksik lainnya. Kurangnya olah raga juga terkait

dengan kurangnya sarana untuk metabolisme lemak maupun kolestrol dalam tubuh,
sehingga lemak maupun LDL dapat menepel pada lapisan endotel dan memicu terjadinya
arterosklerosis Riwayat keluarga yang juga menderita penyakit jantung koroner terkait
masalah genetic dan familier. Secara genetic hiperlipidemia dapat meningkatkan risiko
terjadinya arterosklerosis sedang secara familier gaya hidup yang salah menyebabkan
meningkatnya factor risiko terjadinya penyakit.
Dari hasil anamnesis pasien tidak mengeluhkan adanya sesak nafas, lekas capek,
atau takikardi. Kemungkinan iskemia myocardium belum terlalu berat sehingga dampak
kompensasi dari kurangnya asupan oksigen berupa peningkatan frekuensi denyut,
berkurangnya asupan darah ke paru-paru maupun jaringan belum terjadi. Pada hasil
pemeriksaan fisik juga serupa semua vital sign dalam batas normal. Kesadaran compos
mentis menandakan perfusi darah ke otak masi lancar
Pada isnpeksi apex tidak terjadi heaving dan masih dalam batas normal yaitu
terletak pada SIC IV linia midclavicularis sinistra. Pada palapasi tidak ditemukan adanya
trill yaitu sensasi getaran superficial yang teraba di atas kulit yang mengalami turbulensi.
Pada auskultasi bunyi jantung 1 dan 2 dalam batas normal tidak ditemukan adanya bising ,
gallop ataupun ronki. Suara bising terjadi karena adanya aliran turbulensi akibatt
insufisiensi ataupun stenosis dari katup. Sehingga pada pasien dapat disingkirkan
kemungkinan terjadinya kelainan pada katub.
Pada pemeriksaan laboratorium normal akan tetapi harus dilakukan pemeriksaan
laboratoium lain yang menujang diagnosis seperti kadar enzim jantung, protease I dan T,
kadar CK. Pada pemeriksaan foto thorax masih dalam batas normal dengan nilai
CTR( cardio thoracis ratio) 0,49, dengan nilai batas normal 0.48-0.50 lebih dari itu
mengindikasikan terjadinya cardiomegali. Vaskularisari perifer normal, aorta tidak
menonjol , pinggang jantung normal , apex tidak bergeser ke lateral atau lateral bawah.
Pada pemeriksaan EKG , tread mill test dan echografi juga tampak normal. Pada
pemeriksaan EKG untuk pasien yang mengalami nyeri dada akibat iskemia gambarannya
masih dalam batas normal, begitu juga untuk beberapa kasus pada awal iskemia jantung
akut tetapi sebagian besar memberikan gambaran khas berupa elevasi segmen ST, puncak
T yang hiperakut, serta gelombang T yang lambat. Pada pemeriksaan treadmill memiliki
nilai spesifisitas 80% dan sensitifitas 60-80%, sehingga masih memiliki kemungkinan
menaghasilkan negative palsu bagi pasien yna memiliki gangguan jantung.

Terapi yang dilakukan pertama adalah untuk mengurangi keluhan yang ada dengan
pemberian nirogliserin apabila dengan istrahat rasa sakit tidak menghilang yang bekerja
sebagai vasodilatasi sehingga mengurangi beban jantung. Pemberian oksigen dapat
dilakukan bila mulai timbul keluhan dispneu. Penatalksanaan yang terpenting dalam
langkah preventif adalah mengurangi factor risiko yang ada dengan mengubah pola hidup
seperti berhenti merokok, menggiatkan oleh raga yang sesuai, menjaga pola makan.
Langkah promotif yang dilakukan adalah dengan monitoring berat badan, tekanan darah
dan kadar kolestrol, gula serta lemak dalam tubuh. Langkah kuratif yang dapat dilakukan
bersifat paliatif dengan memberikan obat-obatan seperti aspirin, anti trobin, penghambat
sesui dengan indkasi yang ada. Rehabilitasi yang dapat dilakukan adalah dengan
memberikan laitan fisik sesuia dengan kondisi pasien sehingga dapat merangsang
kepulihan pasien secara bertahap. Nasihat untuk menjaga emosi, menghindari stress
ataupun hal-hal pemicu terjadinya angina juga perlu diberi edulasinya.
Prognosis sesuai dengan keadaan pasien, pada scenario pasien kemungkinan masih
dalam tahap awal sehingga dengan memperbaiki pola hidup serta mengubah factor risiko
yang dapat dikontrol seperti tekanan darah, kadar kolestrol, stress dapat mencegah
terjadinya keparahan ketingkat infark myocardium.
BAB 4
PENUTUP
A.

KESIMPULAN

Dalam menegakan dignosis penyakit cardiovaskueler dikenal fivefingers


approach yang terdiri dari anamnesis, pemeriksaan fisik,foto thorax, EKG dan
pemeriksaan penunjang lain.

Arteroskerosis merupakan penyebab utama terjadinya penyakit jantung


koroner dan dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, gaya hidup serta ppenyakit lainya
seperti hipertensi ,diabetes militus, dan hiperlipidemia

B.

SARAN

Menentukan asal dari nyeri dada sangat penting untuk melakukan langkah
selanjutnya

Apabila nyeri dada lebih berindikasi akibat kelainan jantung maka pemeriksaan
tambahan berupa angiografi koroner dapat dilakukan untuk mengetahui lokasi, luas
dari penyumbatan yang terjadi.