Anda di halaman 1dari 4

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini yang dilakukan adalah melakukan pengujian


kandungan urin dengan menggunakan beberapa metode. Pengujian yang
digunakan akan dilihat secara kualitatif. Metode pertama yang digunakan
adalah uji Benedict untuk mengetahui ada tidaknya kandungan glukosa di
dalam urin.
Pada pengujian dengan menggunakan benedict ini yang dilihat adalah
perubahan warna yang terjadi pada urin setelah penambahan larutan
benedict ke dalam urin. Setelah penambahan benedict ada beberapa
kategori warna yang menyatakan kadar dari glukosa yang terdeteksi pada
urin.
Biru jernih menyatakan urin bebas dari glukosa, hijau menyatakan urin
mengandung

<0,5%

glukosa,

kuning

kehijauan

menyatakan

urin

mengandung 0,5-1% glukosa, jingga menyatakan urin mengandung 1-2%


glukosa dan warna merah menyatakan urin mengandung >2% glukosa.
Pada urin probandus yang digunakan setelah penambahan larutan
benedict tidak terjadi perubahan warna dari tembaga alkalis. Larutan
tetap berwarna biru jernih dan setelah dibandingkan dengan urin
patologis dapat dipastikan urin dari probandus bebas dari glukosa. Kadar
glukosa yang terdeteksi belum tentu menyatakan bahwa seseorang
tersebut menderita diabetes. Perubahan warna antara hijau dan kuning
kehijauan belum dapat dipastikan bahwa seseorang itu sudah di vonis
menderita diabetes, tetapi ada kemungkinan ke arah tersebut, sehingga
pola makan sudah harus diperhatikan. Sedangkan warna jingga dan
merah sudah dapat dipastikan bahwa seseorang itu telah menderita
diabetea.
Pengujian kedua pada praktikum ini adalah uji dengan metode obermeyer
untuk menguji adanya kandungan indikan di dalam urin. Didasarkan pada
ada tidaknya pembusukan asam amino triptofan dalam usus dimana gugus
indoksil akan dioksidasi oleh pereaksi obermeyer yang mengandung FeCl3

dalam HCl pekat yang akan membentuk warna indigo yang larut dalam
kloroform.
Pada praktikum ini urin dari prbandus yang digunakan tidak menunjukkan
adanya perbahan warna dari larutan tersebut, yang menyatakan bahwa
urin tersebut bebas dari indikan. Yang dimungkinkan si probandus kurang
mengkonsumsi makanan yang mengandung asam amino triptofan.
Pengujian ketiga adalah dengan metode Rothera untuk menguji adanya
keton di dalam tubuh. Keton yang terbentuk dan terdeteksi di dalam urin
adalah akibat dari mengkonsumsi daging terlalu banyak sehingga oleh
tubuh dirombak menjadi keton dan ikut terekskresi melalui urin.
Ketika kekurangan karbohidrat, tubuh mulai menggunakan asam lemak
untuk menghasilkan energi. Ketika peningkatan alur metabolis ini
mencapai titik tertentu, pemakaian asam lemak menjadi tidak sempurna
dan produk antara yang terjadi didalam darah dan urin.
produk antara ini ada 3 ketone bodies: asetone, asetoasetat, dan
betahidroksibutirat.
Kehadiran ketone bodies dalam urin (ketonuria) biasanya merupakan
indikasi diabetes mellitus tak terkendali, kelaparan atau kekurangan serat
karbohidrat.
Keton yang terdeteksi akan memberikan warna ungu pada larutan. Hasil
positif dari uji Rothera menunjukkan bahwa jika terbentuk warna ungu
pada larutan berarti orang itu mengkonsumsi terlalu banyak daging.
Dan pada praktikum kali ini, urin dari probandus yang digunakan tidak
menunjukkan perubahan warna dari urin yang siginfikan. Hanya terlihat
sedikit perubahan warna dari urin yang di uji. Ini menunjukkan urin dari
probandus yang digunakan tidak mengandung begitu banyak keton,
sehingga warna yang diperlihatkan pun tidak bergitu jelas.
Pengujian ketiga adalah menguji adanya kreatinin darah dalam urin yang
di ukur pada panjang gelombang 540nm. Pengujian kreatinin ini juga
bukan merupakan pengujian untuk reaksi patologis dari urin. Hanya

menunjukkan banyak tidaknya kreatinin dari darah yang terdeteksi di urin.


Hasil perhitungan dari kreatinin darah dari urin probandus adalah uji A =
5,030 10-3 dan uji B = 5,487 10-3
Pengujian kreatinin darah ditandai dengan perubahan warna menjadi
jingga atau merah dari urin si probandus ketika ditambahakan larutan
pikrat alkalis. Kepekatan warna yang diperoleh menunjukkan banyak
sedikitnya kreatinin dalam urin si probandus.
Pada praktikum ini, urin yang di uji mengalami perubahan warna menjadi
jingga, sehingga dapat

disimpulkan urin dari probandus mengandung

kreatinin. Kreatinin merupakan hasil samping dari kreatin fosfat di otot.


Pengujian terhadap kratinin darah di dalam urin bukan merupakan reaksi
patologis.
Pengujian terakhir adalah pengujian dengan menggunakan metode Heller.
Yaitu pengujian adanya kandungan protein pada urin yang dideteksi
dengan adanya cincin putih di antara dua lapisan cairan tersebut (urin
dan asam nitrat pekat). Ini untuk melihat reaksi patologis dari tubuh,
apakah protein dari dalam tubuh dapat tersaring sempurna atau tidak. Ini
mengacu kepada sehat atau tidaknya ginjal kita dalam menyaring protein
atau apakah orang tersebut terlalu banyak mengkonsumsi protein
sehingga mengalami proteinuria.
Pada urin probadus tidak ditemukan atau terbentuknya cincin putih,
sehingga dapat disimpulkan bahwa probandus ini tidak mengalami
proteinuria tau pun adanya kerusakan dari ginjalnya.
Secara kasat mata, kita pun dapat mendeteksi adanya suatu penyakit dari
warna urin. Kategorinya antara lain :
Kuning keruh : ini mungkin normal menyatakan adanya darah, atau
tetes-tetes
lemak. (jika vegetarian maka urinnya akan berwarna ini)

Keruh dengan silinder kelabu : menyatakan sisa sel darah merah yang
telah lama atau jamur. Infeksi ginjal, kandung kemih atau kanker ginjal.
Makan beet serta ex- lax juga menjadikan urin berwarna merah.
Coklat gelap : menyatakan penyakit hati atau hepatitis.
Hijau dan biru (jarang) : Warna biru dan hijau pada urin sering
disebabkan

oleh

pelunturan warna pada makanan atau obat. Obat obatan yang sering
bikin jadi warna biru atau hijau adalah amitriptyline, indomethacin, dan
doxorubicin.
Kuning gelap : Urin yang warnanya kayak jus jeruk ini biasa disebabkan
oleh
konsumsi vitamin B komplek yang banyak terdapat pada minuman
energi.
Pink, merah muda dan merah : Warna pink biasanya disebabkan oleh
efek samping beberapa obat dan makanan tertentu seperti bluberi dan
gula-gula. Warna ini juga bisa digunakan sebagai tanda adanya
perdarahan di sistem perkemihan seperti kanker ginjal, batu ginjal,
infeksi ginjal, tuberkulosis, pembengkakan prostat dan infeksi ginjal.