Anda di halaman 1dari 7

PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II

SINTESIS METIL ESTER DENGAN METODE TRANSESTERIFIKASI


Darul Ikhwan1, Alvin Salendra, Julan, Dewi Safitri, Kristina Novi, Maria Suhatri, Mitha
Yuspitasari, Renti Octiviani, Tri Morti, Zakia Maya Fanida, dan Hana Soraya
1
Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura
Jln. Prof. Dr. H. Hadari Nawawi, Pontianak
*Email: darulikhwan3@gmail.com
ABSTRAK
Telah dilakukan percobaan sintesis metil ester dengan metode transesterifikasi
yang bertujuan untuk mempelajari reaksi transesterifikasi dalam pembuatan
senyawa metil ester serta membedakan reaksi transesterifikasi dan esterifikasi.
Senyawa metil ester ini dibuat dengan mereaksikan metanol dan trigliserida yang
terkatalisis KOH melalui metode refluks selama 120 menit. Senyawa metil ester
yang telah terbentuk dilakukan pemisahan dari pelarutnya melalui metode ekstraksi
cair-cair menggunakan campuran pelarut berupa air dan asam klorida, serta
campuran pelarut n-heksana dan air yang selanjutnya dimurnikan melalui
penambahan natrium bikarbonat. Hasil yang diperoleh menunjukan senyawa metil
ester memiliki sifat nonpolar yang ditandai dengan ketidaklarutanya di dalam air dan
serta memiliki aroma solar yang umumnya digunakan sebagai bahan bakar.
Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui pembuatan metil ester dapat dilakukan
dengan mereaksikan metanol dan trigliserida dengan bantuan katalis basa melalui
metode refluks.
Kata kunci : Ekstraksi, Metil ester, Refluks, Transesterifikasi
PENDAHULUAN
Energi pada saat ini menjadi
salah satu sumber yang banyak
dibutuhkan oleh setiap orang, salah
satunya adalah energi yang digunakan
sebagai bahan bakar kendaraan
seperti bensin. Akan tetapi, keadaan
energi yang berasal dari bumi sendiri
untuk saat ini persediaannya sudah
mulai berkurang bahkan terancam
habis akibat dari jenis sumber energi
yang
tidak
dapat
diperbaharui.
Sehingga berbagai penelitian terus
dilakukan
untuk
mencari
energi
alternatif yang dapat menggantikan
energi dari alam. Salah satu energi
alternatif yang telah ditemukan adalah

DARUL IKHWAN H1031131034

biodiesel. Biodiesel merupakan salah


satu bahan bakar alternatif yang
diperoleh dari reaksi antara minyak
yang berasal dari tumbuhan dan
metanol dengan bantuan katalis alkali
(Mamun, dkk., 2013). Umumnya kedua
bahan
baku
dalam
pembuatan
biodiesel tersebut merupakan senyawa
trigliserida dan alkohol.
Trigliserida
merupakan
lipid
paling
sederhana
yang
banyak
mengandung asam lemak sebagai unit
penyusunnya
(Goodwin,
1983).
Sedangkan
alkohol
merupakan
senyawa kimia yang mengandung
unsur karbon (C), oksigen (O) dan
hidrogen (H), mempunyai sifat tidak

SINTESIS METIL ESTER DENGAN METODE TRANSESTERIFIKASI

PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II

berwarna, mudah menguap dan larut


dalam air dalam semua perbandingan
(Yulianti, 2014). Pada proses sintesis
biodiesel tersebut alkohol berperan
dalam memutuskan gliserin dengan
asam lemak sehingga membentuk
senyawa
ester.
Proses
sintesis
tersebut umumnya dapat dilakukan
dengan beberapa cara, diantaranya
adalah
metode
transesterifikasi
(Hikmah dan Zuliyana, 2010).
Transesterifikasi
merupakan
tahap konversi dari trigliserida (minyak
nabati) menjadi alkil ester, melalui
reaksi
dengan
alkohol
dan
menghasilkan produk samping berupa
gliserol. Reaksi transesterifikasi ini
umumnya dipengaruhi oleh beberapa
faktor seperti pengaruh air dan lemak
bebas, pengaruh perbandingan molar
antara molar alkohol dengan bahan
mentah, jenis alkohol, jenis katalis, dan
temperatur (Hikmah dan Zuliyana,
2010).
Berdasarkan percobaan ini,
diharapkan mampu mengetahui reaksi
dan pembuatan metil ester melalui
metode
transesterifikasi
sehingga
dapat diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari
guna
menanggulangi
kemungkinan adanya krisis energi
dimasa yang akan datang.
METODOLOGI
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada
percobaan ini adalah kondensor liebig,
magnetik stirer, gelas ukur, bulb,
corong pisah, labu ukur, pipet ukur,
termometer, labu leher tiga, botol
semprot, batang pengaduk, water
DARUL IKHWAN H1031131034

pump, hot plate, gelas beaker, statif,


dan spatula.
Bahan-bahan yang digunakan
adalah akuades, batu didih, metanol,
asam klorida, n-heksana, kalium
hidroksida dan natrium sulfat.
Prosedur Kerja
Pembuatan
Larutan
Potasium
Metanolat
Pada percobaan ini mula-mula
dimasukkan sebanyak 40 mL metanol
kedalam labu leher tiga. Kemudian
ditambahkan 0,4 gram KOH kedalam
larutan
tersebut.
Selanjutnya
ditambahkan batu didih sabanyak 2-3
buah. Terakhir diaduk menggunakan
magnetik stirer.
Reaksi Transesterifikasi
Pada percobaan ini sebanyak 20
mL minyak dimasukan kedalam 40 mL
K-metanoat yang ditambahkan secara
sedikit demi sedikit yang disertai
pengadukan. Selanjutnya dipanaskan
pada suhu 65oC selama 2 jam. Terkahir
didinginkan dan dilakukan pemisahan.
Pemisahan Hasil
Pada perlakuan ini, sampel yang
telah diperoleh kemudian dimasukkan
dalam corong pisah. Selanjutnya
ditambahkan 10 mL akuades dan 1 mL
HCl 5 M. Setelah itu, dikocok dan
dipisahkan lapisan atas dan bawah.
Selanjutnya, lapisan bagian atas
ditambahkan 10 mL n-heksan dan
dikocok. Setelah itu ditambahkan 10
mL akuades yang kemudian dikocok
kembali dan dipisahkan lapisan atas
dan bawah. Terakhir larutan bagian
atas ditambahkan 1 gram natrium sulfat
anhidrat.

SINTESIS METIL ESTER DENGAN METODE TRANSESTERIFIKASI

PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II

Rangkaian Alat
5

Gambar 1. Rangkaian Alat Refluks

8
9

10

Gambar 2. Rangkaian Alat Ekstrksi


11
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data Pengamatan
No
Perlakuan
Pengamatan
1 -Dimasukkan
VCH3OH=
sebanyak 40 40mL
mL
metanol
kedalam labu
leher tiga
2 -Ditambahkan
MKOH= 0,4 gr
0,4 gram KOH
3 -Dimasukkan
3 Buah
batu didih dan
magnetik stirer 1 Buah
4
-Diaduk
dengan
KOH larut
magnetik stirer
sampai KOH

DARUL IKHWAN H1031131034

12

13
14
15

16

larut
-Ditambahkan
sedikit
demi
sedikit 20 mL
minyak
-Diaduk
dengan
magnetik stirer
-Dipanaskan
pada
suhu
o
65 C selama 2
jam
-Didinginkan
-Dimasukkan
campuran
yang diperoleh
kedalam
corong pisah
-Ditambahkan
10 mL akuades
dan 1 mL HCl
5M
-Dipisahkan
lapisan
atas
dan bawah
-Ditambahkan
10
mL
nheksan lapisan
atas
-Dikocok
-Ditambahkan
10 mL akuades
-Dipisahkan
lapisan
atas
dan bawah
-Ditambahkan
1 gram natrium
sulfat kedalam
lapisan
atas
yang diperoleh

VMinyak= 20mL

T = 65oC
t = 2 jam

Berwarna
keruh

VH2O= 10 mL
VHCl= 1 mL

Terbentuk
dua lapisan
Vn-heksan=
mL

10

Tidak
terbentuk
dua lapisan
VH2O= 10 mL
Terbentuk 2
lapisan
mNa2SO4= 1 gr
arutan
berwarna
kuning

SINTESIS METIL ESTER DENGAN METODE TRANSESTERIFIKASI

PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II

Pembahasan
Metil ester merupakan monoalkil
ester dari asam-asam lemak rantai
panjang yang terkandung dalam
minyak nabati atau lemak hewani untuk
digunakan sebagai bahan bakar mesin
diesel. Metil Ester tersebut dapat
diperoleh melalui reaksi transesterikasi
trigliserida dan atau reaksi esterifikasi
asam lemak bebas tergantung dari
kualitas minyak nabati yang digunakan
sebagai bahan baku (Hikmah dan
Zuliyana, 2010).
Reaksi Transesterifikasi adalah
proses
terjadinya
reaksi
antara
trigliserida dalam minyak nabati atau
lemak hewani dengan alkohol rantai
pendek seperti methanol atau etanol
menghasilkan metil ester asam lemak
(Fatty Acids Methyl Esters / FAME)
atau biodiesel dan gliserol (gliserin)
sebagai produk samping. Katalis yang
digunakan pada proses transeterifikasi
adalah berupa basa/alkali, dimana
umumnya
digunakan
natrium
hidroksida
(NaOH)
atau
kalium
hidroksida
(KOH)
(Himkah
dan
Zuliyana, 2010).
Prinsip percobaan ini ialah adalah
didasarkan pada reaksi transesterifikasi
antara
minyak
dengan
metanol
menggunakan
katalis basa berupa
KOH menghasilkan senyawa metil
ester dan gliserol sebagai produk
samping. Dimana hasil yang diperoleh
dilakukan pemurnian melalui metode
ekstraksi serta penambahan natrium
sulfat sehingga dapat diperoleh metil
ester murni.

DARUL IKHWAN H1031131034

Pada percobaan ini, mula-mula


sebanyak 0,4 gram KOH dilarutkan
dalam
40
mL
metanol
yang
sebelumnya telah dimasukkan kedalam
labu leher tiga. Penggunaan KOH
tersebut berfungsi sebagai katalis
dalam reaksi transesterifikasi. Hal ini
dikarenakan reaksi transesterifikasi
merupakan reaksi bolak balik yang
relatif lambat sehingga diperlukan
suatu katalis untuk mempercepat
reaksi. Selain katalis, pengadukan
serta pemberian reaktan berlebih juga
dapat mempercepat reaksi bergeser
kearah produk (Aziz, dkk., 2011).
Adapun metanol tersebut merupakan
senyawa alkohol yang berfungsi untuk
memutuskan gliserin dengan asam
lemak. Selain itu, fungsi penggunaan
metanol yaitu untuk mengarahkan
reaksi kearah produk (Lasono, 2013).
Selanjutnya, campuran KOH dan
metanol
tersebut
dilakukan
pengadukan selama beberapa menit
untuk mempercepat kelarutan dari
KOH. Adapun fungsi pencampuran
metanol dan KOH terlebih dahulu yaitu
untuk membentuk K-metoksida yang
merupakan katalis yang lebih kuat,
sehingga mampu memecah senyawa
trigliserida (Pusat Desiminasi dan HAKI
LP2M, 2014).
Setalah itu, sebanyak 20 mL
minyak kemudian dimasukkan secara
perlahan-lahan kedalam larutan Kmetoksida
sambil
dilakukan
pengadukan menggunakan magnetik
stirer. Adapun fungsi dari penambahan
secara
perlahan-lahan
serta
pengadukan yaitu agar terjadi kontak

SINTESIS METIL ESTER DENGAN METODE TRANSESTERIFIKASI

PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II

yang baik antara minyak dan


methanol sehingga reaksi lebih cepat
terjadi. Setelah semua minyak tersebut
ditambahkan ditambahkan batu didih
kedalam campuran larutan. Adapun
fungsi penambahan batu didih tersebut
yaitu untuk menghindari terjadinya
bumping atau letupan-letupan ketika
larutan dipanaskan.
Prinsip kerja dari batu didih
sendiri
yaitu
meratakan
panas
sehingga panas menjadi homogen
pada seluruh bagian larutan serta poripori dalam batu didih akan membantu
penangkapan udara pada larutan dan
melepaskannya ke permukaan larutan,
sehingga
akan
menyebabkan

timbulnya gelembung-gelembung kecil


pada batu didih.
Selanjutnya campuran larutan
tersebut
dilakukan
pemanasan
menggunakan metode refluks selama 2
jam pada suhu 65oC. Penggunaan
waktu ini didasarkan pada waktu
optimum reaksi transesterifikasi dapat
berjalan. Sedangkan suhu tersebut
juga merupakan suhu optimum pada
suatu reaksi transesterifikasi. Hal ini
karena menurut Knothe et al. (2003)
pada temperatur 60 oC reaksi berjalan
99% sempurna hanya dalam waktu 1
jam. Berikut reaksi pembentukan metil
ester (Schuchardt, dkk., 1998) :

Berdasarkan reaksi tersebut,


proses pembentukan metil ester terjadi
melalui empat tahap. Pada tahap

pertama adalah adanya reaksi katalis


basa (KOH) dengan alkohol (Metanol)
membentuk alkosida dan katalis

DARUL IKHWAN H1031131034

SINTESIS METIL ESTER DENGAN METODE TRANSESTERIFIKASI

PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II

terprotonasi. Pada tahap kedua,


nukleofilik menyerang alkoksida pada
gugus
karbonil
dari
trigliserida
membentuk tetrahedral intermediet.
Pada
tahap
ketiga,
terjadi
pembentukan alkil ester dan anion
yang sesuai dari diglirerida yang
terbentuk. Pada tahap empat terjadi
deprotonasi
katalis
sehingga
regenerasi spesies aktif. Dimana
regenerasi spesies yang telah aktif
tersebut kemudian bereaksi dengan
dua molekul alkohol sehingga terjadi
siklus katalitik yang lain. Digliserida dan
monogliserida tersebut dikonversi oleh
mekanisme yang sama membentuk
campuran alkil ester dan gliserol
(Schuchardt, dkk., 1998).
Campuran yang diperoleh dari
hasil refluks ini dilakukan pendinginan
pada suhu ruang yang kemudian
dilakukan
proses
pemisahan
menggunakan
metode
ekstraksi.
Prinsip metode ini umumnya yaitu
didasarkan pada perbedaan kelarutan
antara senyawa tersebut (Sudjadi,
1986).
Metil ester yang terbentuk
tersebut kemudian dipisahkan dari
gliserol meggunakan pelarut akuades
sebanyak 10 mL dan HCl 1 mL yang
kemudian dilakukan pengocokan untuk
mempercepat reaksi. Pemisahan metil
asetat ini didasarkan pada metode
ekstraksi cair-cair dimana akuades
mengikat senyawa gliserolberdasarkan
kesamaan sifat kepolarannya yaitu
sama-sama bersifat polar sehingga
dapat dipisahkan antara metil asetat
dan
gliserol.
Umumnya
proses

DARUL IKHWAN H1031131034

pemilihan pelarut ini selalu mengikuti


prinsip Like Dissolve Like. Adapun
penambahan HCl ini berfungsi untuk
memisahkan Fatty matter di dalam
Heavy Phase (Glycerine - water methanol).
Fenil
asetat
yang
telah
dipisahkan dari asam asetat tersebut
kemudian ditambahkan n-heksan dan
akuades sebanyak 10 mL. Dimana
kedua
larutan
ini
berfungsi
memisahkan senyawa yang cenderung
bersifat semi polar sehingga metil ester
yang diperoleh lebih murni lagi. Setelah
dipisahkan dari senyawa semipolar,
kemudian ditambahkan sebanyak 1
gram natrium sulfat anhidrat serta
dilakukan
pengocokan
kembali.
Adapun fungsi dari Natrium anhidrat ini
yaitu untuk menyerap molekul H2O
yang terdapat dalam Metil ester
sehingga didapat Metil ester yang
bebas H2O. Selanjutnya campuran
larutan dan padatan natrium sulfat
tersebut
dilakukan
penyaringan
menggunakan
kertas
saring.
Penyaringan ini berfungsi untuk
memisahkan larutan metil ester dan
padatan natrium sulfat hidrat.
KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan diatas
dapat disimpulkan metil ester dapat
disintesis
dengan
mereaksikan
trigliserida
dari
minyak
dengan
senyawa alkohol berupa metanol
melalui reaksi transesterifikasi. Dimana
digunakan katalis basa berupa KOH
pada jenis rekasi transesterifikasi
tersebut.

SINTESIS METIL ESTER DENGAN METODE TRANSESTERIFIKASI

PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II

DAFTAR PUSTAKA
Goodwin, T.W., dan E.I. Mercen., 1983,
Introduction to Plant Biochemistry
Edisi. Ke-2, Pergamon, New
York.
Hikmah, M.N., dan Zuliyana, 2010,
Pembuatan
Metil
Ester
(Biodiesel) dari Minyak Dedak
dan Metanol dengan Proses
Esterifikasi dan Tranesterifikasi,
Skripsi, Universitas Diponegoro
Laksono, T., 2013, Pengaruh Jenis
Katalis NaOH dan KOH serta
Rasio Lemak dengan Metanol
Terhadap
Kualitas
Biodiesel
Berbahan Baku Lemak Sapi,
Skripsi, Universitas Hasanidin
Aziz, I., Nurbayti, S., dan Ulum, B.,
2011,
Pembuatan
Produk
Biodisel dari Minyak Goreng
Bekas dengan Cara Esterifikasi
dan Transesterifikasi, Valensi,
Vol. 2 (3): 444
Mamun, A.A., Shaila, S.,dan Sheikh,
M.E.B., 2013, Selection of an
Efficient Method of Biodiesel
Production from Vegetable Oil
Based on Fuel Properties,
International
Journal
of
Engineering
Trends
and
Technology (IJETT), Vol. 4 : 3289
Schuchardt, U., Ricardo, S., dan
Regerio,
M.V.,
1998,
Transesterification of Vegetable
Oils: a Review, J. Braz. Chem.
Soc., Vol. 9 (1) : 201
Yulianti, C.H., 2014, Uji Beda Kadar
Alkohol Pada Tape Beras, Ketan
Hitam Dan Singkong, Jurnal
Teknika Vol 6 (1): 531

DARUL IKHWAN H1031131034

Sudjadi, 1986, Metode Pemisahan,


UGM-Press, Yogyakarta
Pusat Desiminasi dan HAKI LP2M,
,2014,
Metode
Pembuatan
Biodiesel, Universitas Hasanudin

SINTESIS METIL ESTER DENGAN METODE TRANSESTERIFIKASI