Anda di halaman 1dari 3

PENGOBATAN

PDE5 inhibitor (Sildenafil)


Obat-obat oral DE yang sudah tersedia di pasaran maupun yang masih dalam penelitian
adalah inhibitor enzim phosphodiesterase (PDE/sildenafil, apomorfin SL (sublingual), dna
phentolamie. (2) Sildenafil diakui oleh Food and Drug dengan keberhasilan sekitar 60 70%
tergantung pada penyebab DE. (1) Pada pasien diabetes, angka keberhasilan sekitar 50%. (1,6)
Terapi lain termasuk injeksi obat secara intrakavernosa dapat menjadi pilihan lain bagi penderita
yang tidak berhasil dengan sildenafil. (6
Mekanisme kerja sildenafil bukan merupakan zat perangsang dan juga tidak
meningkatkan nafsu seksual, tetapi hanya bekerja bila ada stimulasi seksual/ rangsangan erotik.
(1) Sildenafil bekerja secara kompetitif menghambat enzim PDE 5, sehingga perombakan cGMP
yang terbentuk dengan terlepasnya NO akibat stimulasi seksual akan terhambat. Dengan
demikian akan terjadi relaksasi otot polos korpora kavernosa yang cukup lama untuk suatu ereksi
yang memuaskan. (4) Sildenafil bekerja selektif terhadap PDE5 dibandingkan terhadap PDE
yang lain. Dengan demikian, efek utamanya adalah terhadap korpus kavernosus di penis, namun
karena PDE5 juga terdapat pada pembuluh darah maka pengaruh sildenafil terhadap pembuluh
darah juga tidak bisa diabaikan. Sildenafil hanya 10 kali lebih kuat untuk PDE 5 dibandingkan
PDE 6 yang banyak terdapat di retina. (4,5)
Biasanya sildenafil mulai bekerja satu jam setelah dikonsumsi dan ereksi akan terjadi
sebagai respon bila terdapat stimulasi seksual. Dosis yang digunakan 25 100 mg (6) dengan
dosis maksimal 100mg dianjurkan hanya untuk penggunaan sekali sehari. Terdapat beberapa
factor yang dapat meningkatkan kadar sildenafil plasma yaitu: umur 65 tahun, gangguan hati
seperti sirosis, gangguan ginjal berat (kreatinin klirens < 30ml / menit), obatobatan (eritromisin,
ketokonazol, itrakonazol). Oleh karena itu, pada pasien di atas tersebut disarankan hanya
diberikan dosis 25 mg bila memerlukan penggunaan sildenafil. (5)
Efek samping sildenafil adalah efek yang berhubungan dengan kerja sildenafil sebagai
penghambat dari PDE 5 di berbagai jaringan yaitu berupa: (1,4):

efek vasodilatasi : sakit kepala, flushing, rhinitis, dizziness, hipotensi dan hipotensi
postural.
efek pada saluran cerna : dispepsi dan rasa panas di epigastrium.
efek gangguan visual : penglihatan berwarna hijau kebiru-biruan, silau, dan penglihatan
kabur. Gejala ini berlangsung selama beberapa jam (1-5 jam) terutama terjadi pada dosis
tinggi, karena itu para dokter mata menganjurkan dosis tidak melebihi 50mg. Gangguan
visus ini terjadi karena selektivitas sildenafil terhadap PDE 5 hanya berbeda 10 kali
dibanding PDE 6 yang banyak terdapat di mata, oleh karena itu pengggunaan sildenafil
pada pasien laki-laki yang menderita retinitis pigmentosa harus dipertimbangkan dengan
berhati-hati.

gangguan terhadap otot rangka seperti mialgia, terutama didapati pada multiple daily
dose, tetapi belum diketahui mengapa efek ini timbul.

Terdapat laporan mengenai efek kardiovaskualr seperti serangna jantung dan kematian
mendadak, tetapi belum diketahui apakah hal tersebut berkaitan langsung dengan sildenafil,
aktivitas seksual, penyakit yang menyertai pasien sebelumnya, atau kombinasi dari faktor-faktor
tersebut. Aktivitas seksual pada pasien dengan penyakit jantung juga merupakan resiko potensial
tersendiri. Aktivitas tersebut meningkatkan beban jantung, sehingga risiko infark miokard
meningkat 2,5 kali pada dua jam setelahnya, disamping itu juga meningkatkan aritmia jantung
(1).
Studi yang dilakukan oleh Holter menyatakan bahwa 31 % laki-laki dengan penyakit
jantung koroner mengalami iskemia selama koitus (7% gejala iskemia dan 24 persen silent
iskemia). Pasien dengan terapi nitrat merupakan kontraindikasi untuk pemakaian sildenafil,
karena diketahui bahwa sildenafil mempunyai efek potensiasi hipotensi dengan senyawa nitrat.
Walaupun demikian pada pertemuan American Urological Association, ,menyatakan keamanan
pengunaan sildenafil dalam jangka waktu yang lama. Telah ditemukan bahwa insidens infark
miokard yang dipantau dari 6.500 pasien yang berpartisipasi besarnya 0,84 per 100 pada
kelompok sildenafil dibandingkan dengan 1,05 per 100 pada kelompok plasebo.
Shah dkk, menyatakan, bahwa pengukuran serum testoteron dan prolaktin perlu dilakukan
pada laki-laki dengan DE. Pada pria dengan defisiensi testosterone, maka terapi testosterone
akan meningkatkan libido. Demikian pula pada pria dengan hiperprolaktinemia, ternyata
pendekatan terapi dapat memperbaiki fungsi seksual. Oleh sebab itu maka dianjurkan untuk
mengoreksi dahulu abnormalitas endokrin, sebelum menambahkan sildenafil bilamana
diperlukan sebagai terapi inisial.
Kontraindikasi absolut pemakaian sildenafil adalah pasien yang menggunakan semua bentuk
nitrat. Preparat nitrat tidak boleh dikonsumsi selama 24 jam penggunaannya. Mild angina yang
berulang terjadi setelah pemakaian sildenafil adalah kontraindikasi absolut lainnya, dan pasien
sebaiknya disarankan untuk beralih pada preparat non nitrat anti ischemic heart disease seperti
penghambat beta. Sama juga halnya jika unstable angina yang dijumpai pada pemakaian
sildenafil, maka hanya obat penghambat beta, Ca channel blocker, narkotik, heparin, dan aspirin
yang boleh digunakan.Kontraindikasi lainnya adalah pada pasien yang baru saja mengalami
stroke atau infark miokardial, tekanan darah kurang dari 90/55 mmHg, volume darah yang
rendah, penyakit degeneratif retina, gagal jantung, dan kondisi atau obat-obatan yang dapat
menyebabkan waktu paruh sildenafil menjadi panjang. (1,4,5,6)

KESIMPULAN
Terdapat banyak cara yang digunakan untuk
terapi DE, salah satunya adalah dengan obat oral
yang mulai dipasarkan secara luas yaitu sildenafil.
Obat ini hanya bekerja bilamana terdapat stimulasi
seksual dan diminum satu jam sebelum aktifitas
seksual dengan dosis antara 25 100mg. Sildenafil
bekerja dengan menghambat kompetitif enzim PDE
5 yang banyak terdapat pada korpus kavernosus
penis, sehingga menyebabkan relaksasi otot polos
yang terdapat berlangsung lebih lama, dengan
demikian ereksi juga akan berlangsung lebih lama.
Masih banyak kontradiksi mengenai penggunaan
sildenafil dalam penatalaksanaan DE, dengan angka
keberhasilannya sekitar 60-70 %. Pada penderita
diabetes angka keberhasilan hanya sekitar 50 %.
Kontraindikasi pemakaian sildenafil adalah pasien
yang menggunakan preparat nitrat, adanya riwayat
s t r o k e , i n f a r k mi o k a r d , h i p o t e n s i , p e n y a k i t
degeneratif retina dan obat yang membuat waktu
paruh sildenafil menjadi lebih panjang.