Anda di halaman 1dari 18

A.

PENDAHULUAN
Property, Plant, and Equipment lebih sering disebut sebagai aset tetap dalam
literatur bahasa Indonesia ataupun didalam standar akuntansi keuangan
Indonesia. Pengetian Aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk
digunakan dalam produksi atau penyediaan barang dan jasa, untuk direntalkan
kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif dandiharapkan untuk digunakan
selama lebih dari satu periode. Dari berbagai defini di atas dapat ditarik,
kesimpulan bahwa aset dapat disebut aset tetap apabila mempunyai karakteristik
sebagai berikut:
1. berupa wujud fisik.
2. bersifat permanen.
3. digunakan dalam operasi perusahaan.
4. tidak dimaksudkan dijual kembali.
5. memiliki nilai manfaat lebih dari satu tahun
IAS 16 ini bertujuan untuk mengatur perlakuan akuntansi aset tetap, agar
pengguna laporan keuangan dapat memahami informasi mengenai investasi
entitas di aset tetap, dan perubahan dalam investasi tersebut. Isu utama dalam
akuntansi aset tetap adalah pengakuan aset, penentuan jumlah tercatat,
pembebanan penyusutan, dan rugi penurunan nilai atas aset tetap.
Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini:
Aset tetap adalah aset berwujud yang:
a. dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa
untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan
b. diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.
Biaya perolehan adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai
wajar dari imbalan lain yang diserahkan untuk memperoleh suatu aset pada saat
perolehanatau konstruksi atau, jika dapat diterapkan, jumlah yang diatribusikan ke
aset pada saat pertama kali diakui sesuai dengan persyaratan tertentu dalam
PSAK lain, misalnya PSAK 53 (revisi 2010): Pembayaran Berbasis Saham.
Jumlah tercatat adalah nilai aset yang diakui setelah dikurangi akumulasi
penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai.
Jumlah terpulihkan adalah jumlah yang lebih tinggi antara nilai wajar dikurangi
biaya untuk menjual dan nilai pakainya.
Jumlah tersusutkan adalah biaya perolehan aset, atau jumlah lain yang
merupakan pengganti biaya perolehan, dikurangi nilai residunya.
Nilai spesifik entitas adalah nilai kini dari arus kas entitas yang diharapkan
timbul dari penggunaan aset secara berkelanjutan dan dari pelepasan aset
tersebut pada akhir umur manfaatnya atau yang diharapkan terjadi saat
penyelesaian liabilitas.
Nilai residu aset adalah jumlah estimasian yang dapat diperoleh entitas saat ini
dari pelepasan aset, setelah dikurangi estimasi biaya pelepasan, jika aset telah
mencapai umur dan kondisi yang diharapkan pada akhir umur manfaatnya.
Nilai wajar adalah jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan suatu aset antara
pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam suatu
transaksi dengan wajar.

Penyusutan adalah alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari suatu
aset selama umur manfaatnya.
Rugi penurunan nilai adalah suatu jumlah yang merupakan selisih lebih jumlah
tercatat suatu aset atas jumlah terpulihkannya.
Umur manfaat adalah:
a. periode suatu aset yang diharapkan dapat digunakan oleh entitas, atau
b. jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan akan diperoleh dari suatu
aset oleh entitas.
B. RUANG LINGKUP
Pernyataan ini diterapkan dalam akuntansi aset tetap kecuali
Pernyataan lain mensyaratkan atau mengizinkan perlakuan akuntansi
yang berbeda.
Pernyataan ini tidak diterapkan untuk:
a. Aset tetap diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual sesuai dengan IFRS
5: Aset tidak lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan;
b. Aset biologis terkait dengan kegiatan pertanian (IAS 41 Agriculture);
c. Pengakuan dan pengukuran aset eksplorasi dan evaluasi (IFRS 6 eksplorasi
dan Evaluasi Sumber Daya Mineral);
d. Hak penambangan dan cadangan mineral dari minyak, gas alam dan
sumber daya tidak terbarui lainnya.
Namun demikian, Pernyataan ini berlaku untuk aset tetap yang digunakan untuk
mengembangkan atau memelihara aset yang dijelaskan dalam (b) (c).
Pernyataan lain bisa saja mensyaratkan pengakuan aset tetap berdasarkan
pendekatan yang berbeda dari Pernyataan ini. Misalnya, IAS 17: Sewa
mensyaratkan suatu entitas untuk mengevaluasi pengakuan aset tetap sewaan
atas dasar pemindahan risiko dan imbalan. Namun demikian, dalam aspek
perlakuan akuntansi tertentu lainnya untuk aset tersebut, termasuk penyusutan,
diatur oleh Pernyataan ini.
Entitas menggunakan model biaya atau properti investasi sesuai dengan IAS 40
Properti Investasi akan menggunakan model biaya dalam Standar ini.
C. PENGAKUAN
Biaya perolehan aset tetap harus diakui sebagai aset jika dan hanya jika:
(a) kemungkinan besar entitas akan memperoleh manfaat ekonomik masa depan
dari aset tersebut;
(b) biaya perolehan aset dapat diukur secara andal.
Suku cadang dan peralatan pemeliharaan (service equipment) biasanya dicatat
sebagai persediaan dan diakui dalam laba rugi pada saat dikonsumsi. Namun
demikian, suku cadang utama dan peralatan siap pakai memenuhi kriteria aset
tetap ketika entitas memperkirakan akan menggunakan aset tersebut selama lebih
dari satu periode. Sama halnya jika suku cadang dan peralatan pemeliharaan yang
hanya bisa digunakan untuk suatu aset tetap tertentu, hal ini juga dicatat sebagai
aset tetap.
Pernyataan ini tidak menentukan unit ukuran dalam pengakuan suatu aset
tetap. Oleh karena itu, diperlukan pertimbangan dalam penerapan kriteria

pengakuan yang sesuai dengan kondisi tertentu entitas. Pertimbangan tersebut


tepat terhadap agregasi unit-unit yang secara individual tidak signifikan, seperti
cetakan dan perkakas, kemudian menerapkan kriteria atas nilai agregrat tersebut.
Entitas harus mengevaluasi berdasarkan prinsip pengakuan ini terhadap
semua biaya perolehan aset tetap pada saat terjadinya. Biaya-biaya tersebut
termasuk biaya awal untuk memperoleh atau mengkonstruksi aset tetap dan
biaya-biaya selanjutnya yang timbul untuk menambah, mengganti, atau
memperbaikinya
Biaya Perolehan Awal
Aset tetap dapat diperoleh untuk alasan keamanan atau lingkungan. Perolehan
aset tetap semacam itu, walaupun tidak secara langsung meningkatkan manfaat
ekonomik masa depan dari suatu aset tetap yang ada, mungkin diperlukan bagi
entitas untuk memperoleh manfaat ekonomik masa depan dari aset lain yang
terkait. Dalam keadaan ini, perolehan aset tetap semacam itu memenuhi
kualifikasi untuk diakui sebagai aset, karena aset tersebut memungkinkan entitas
memperoleh manfaat ekonomik masa depan yang lebih besar dari aset-aset
terkait dibandingkan dengan manfaat ekonomik yang dihasilkan seandainya aset
tersebut tidak diperoleh. Sebagai contoh, pabrik kimia mungkin menerapkan
proses penanganan kimiawi yang baru dalam rangka memenuhi ketentuan
lingkungan yang berlaku untuk produksi dan penyimpanan zat kimiawi berbahaya;
perbaikan pabrik yang terkait diakui sebagai aset karena tanpa perbaikan tersebut
entitas tidak dapat memproduksi dan menjual zat-zat kimiawi. Namun demikian,
jumlah tercatat aset tersebut dan aset lain yang terkait harus di-review untuk
menguji apakah telah terjadi penurunan nilai sesuai dengan IAS 36 : Penurunan
Nilai Aset.
Biaya-biaya Setelah Perolehan Awal
Sesuai dengan prinsip pengakuan dalam paragraf 07, entitas tidak boleh
mengakui biaya perawatan sehari-hari aset tetap sebagai bagian dari aset
bersangkutan. Biaya-biaya ini diakui dalam laba rugi saat terjadinya. Biaya
perawatan sehari-hari terutama terdiri atas biaya tenaga kerja dan bahan habis
pakai (consumables) termasuk di dalamnya suku cadang kecil. Pengeluaranpengeluaran untuk hal tersebut sering disebut biaya pemeliharaan dan
perbaikan aset tetap.
Bagian-bagian tertentu aset tetap mungkin perlu diganti secara periodik.
Contoh, tungku pembakaran perlu diganti lapisannya setelah digunakan sekian
jam, demikian juga interior pesawat terbang seperti tempat duduk dan dapur perlu
diperbarui beberapa kali sepanjang umur rangka pesawat. Entitas dapat juga
memperoleh komponen aset tetap tertentu untuk melakukan penggantian yang
tidak terlalu sering dilakukan, seperti mengganti dinding interior suatu bangunan,
atau melakukan suatu penggantian yang tidak berulang. Sesuai dengan prinsip
pengakuan dalam paragraf 07, entitas mengakui biaya penggantian komponen
suatu aset dalam jumlah tercatat aset saat biaya itu terjadi jika pengeluaran
tersebut memenuhi kriteria untuk diakui sebagai bagian dari aset. Jumlah tercatat
komponen yang diganti tersebut tidak lagi diakui apabila telah memenuhi
ketentuan penghentian pengakuan.

Agar aset tetap dapat beroperasi secara berkelanjutan, perlu dilakukan


inspeksi teratur terlepas apakah ada komponen yang diganti. Dalam setiap
inspeksi yang signifikan, biaya inspeksi diakui dalam jumlah tercatat aset tetap
sebagai suatu penggantian apabila memenuhi kriteria pengakuan. Sisa jumlah
tercatat biaya inspeksi yang terdahulu, jika ada (yang dibedakan dari komponen
fisiknya), dihentikan pengakuannya. Hal ini terjadi terlepas apakah biaya inspeksi
terdahulu teridentifikasi dalam transaksi perolehan atau konstruksi aset tetap
tersebut. Jika diperlukan, estimasi biaya inspeksi sejenis yang akan dilakukan di
masa depan dapat digunakan sebagai indikasi biaya inspeksi saat aset tersebut
diperoleh atau dibangun.

D. PENGUKURAN PADA SAAT PENGAKUAN


Suatu aset tetap yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai
aset pada awalnya harus diukur sebesar biaya perolehan.
Komponen Biaya Perolehan
Biaya perolehan aset tetap meliputi:
a. harga perolehannya, termasuk bea impor dan pajak pembelian yang tidak
boleh dikreditkan setelah dikurangi diskon pembelian dan potonganpotongan lain;
b. biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset
ke lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai
dengan intensi manajemen;
c. estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan
restorasi lokasi aset. Kewajiban atas biaya tersebut timbul ketika aset
tersebut diperoleh atau karena entitas menggunakan aset tersebut selama
periode tertentu untuk tujuan selain untuk menghasilkan persediaan.
Contoh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung adalah:
a. biaya imbalan kerja (seperti didefinisikan dalam IAS 19 : Imbalan Kerja) yang
timbul secara langsung dari pembangunan atau akuisisi aset tetap;
b. biaya penyiapan lahan untuk pabrik;
c. biaya handling dan penyerahan awal;
d. biaya perakitan dan instalasi;
e. biaya pengujian aset apakah aset berfungsi dengan baik, setelah dikurangi
hasil bersih penjualan produk yang dihasilkan sehubungan dengan
pengujian tersebut (misalnya, contoh produk dihasilkan dari peralatan yang
sedang diuji); dan
f. komisi profesional.
Entitas menerapkan IAS 2 Persediaan terhadap biaya-biaya yang terkait
dengan kewajiban untuk membongkar, memindahkan, dan merestorasi lokasi
aset yang terjadi dalam suatu periode tertentu sebagai akibat dari pemakaian
aset tersebut untuk menghasilkan persediaan selama periode tersebut. Biaya-

biaya ya ng terkait dengan IAS 2 atau IAS 16 diakui dan diukur sesuai dengan IAS
37 Provisi, Liabilitas Kontinjensi , dan Aset Kontinjensi.
Contoh biaya-biaya yang bukan merupakan biaya perolehan aset tetap adalah:
a. biaya pembukaan fasilitas baru;
b. biaya pengenalan produk baru (termasuk biaya iklan dan aktivitas promosi);
c. biaya penyelenggaraan bisnis di lokasi baru atau kelompok pelanggan baru
(termasuk biaya pelatihan staf); dan
d. administrasi dan biaya overhead umum lainnya.
Pengakuan terhadap biaya-biaya dalam jumlah tercatat suatu aset tetap
dihentikan ketika aset tersebut berada pada lokasi dan kondisi yang diinginkan
agar aset siap digunakan sesuai dengan intensi manajemen. Oleh karena itu,
biaya pemakaian dan pengembangan aset tidak dimasukkan ke dalam jumlah
tercatat aset tersebut. Sebagai contoh, biaya-biaya berikut ini tidak termasuk di
dalam jumlah tercatat suatu aset tetap:
(a) biaya-biaya yang terjadi ketika suatu aset telah mampu eroperasi
sesuai dengan intensi manajemen namun belum dipakai atau masih
beroperasi di bawah kapasitas penuhnya;
(b) kerugian awal operasi, seperti ketika permintaan terhadap keluaran
(output) masih rendah; dan
(c) biaya relokasi atau reorganisasi sebagian atau seluruh operasi
entitas.
Sebagian
kegiatan
terjadi
sehubungan
dengan pembangunan
atau
pengembangan suatu aset tetap, tetapi tidak dimaksudkan untuk membawa
aset tersebut ke lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan
sesuai dengan intensi manajemen. Kegiatan insidental ini mungkin terjadi
sebelum atau selama kontruksi atau aktivitas pengembangan. Contoh,
penghasilan yang diperoleh dari pengunaan lahan lokasi bangunan sebagai tempat
parkir mobil sampai pembangunan dimulai. Karena kegiatan insidental ini tidak
dimaksudkan untuk membawa aset tersebut ke lokasi dan kondisi yang diinginkan
agar aset siap digunakan sesuai dengan intensi manajemen, penghasilan dan
beban yang terkait dari kegiatan insidental diakui dalam laba rugi dan
diklasifikasikan dalam penghasilan dan beban.
Biaya perolehan suatu aset yang dibangun sendiri ditentukan dengan
menggunakan prinsip yang sama sebagaimana perolehan aset dengan pembelian.
Jika entitas membuat aset serupa untuk dijual dalam usaha normal, biaya
perolehan aset biasanya sama dengan biaya pembangunan aset untuk dijual (lihat
IAS 2: Persediaan). Oleh karena itu, dalam menetapkan biaya perolehan maka
setiap laba internal dieliminasi. Demikian pula jumlah abnormal yang terjadi dalam
pemakaian bahan baku, tenaga kerja, atau sumber daya lain dalam proses
konstruksi aset yang dibangun sendiri tidak termasuk biaya perolehan aset. IAS
23: Biaya Pinjaman menetapkan kriteria yang harus dipenuhi sebelum biaya bunga
dapat diakui sebagai suatu komponen biaya perolehan aset tetap.
CONTOH:
Perusahaan menyewa sebuah lahan selama 5 tahun untuk didirikan bangunan
sementara untuk kegiatan operasional kantor. Biaya untuk mendirikan bangunan
tersebut sebesar 1,2 miliar.

Bangunan tersebut menurut perjanjian sewa, harus dibongkar di akhir masa sewa.
Estimasi biaya pembongkaran rumah tersebut 200 juta.
Harga perolehan bangunan adalah 1.200 juta ditambah estimasi biaya
pembongkaran.
200 juta : (1 + 8%)5 = 135,1167 jt
Biaya partisi diakui dalam neraca dengan jurnal berikut:
Dr Aset Tetap
1.335,167 jt
Cr
Kas
1.200 jt
Kewajiban diestimasi
135,1167jt
Jurnal penyesuaian kewajiban tahun 1
Db Biaya bunga
Cr
Kewajiban diestimasi

10,889 jt
10,889 jt

E. PENGUKURAN HARGA PEROLEHAN


Pengukuran Biaya Perolehan
Biaya perolehan aset tetap adalah setara dengan nilai tunai yang diakui pada
saat terjadinya. Jika pembayaran suatu aset ditangguhkan hingga melampaui
jangka waktu kredit normal, perbedaan antara nilai tunai dengan pembayaran
total diakui sebagai beban bunga selama periode kredit kecuali dikapitalisasi
sesuai dengan IAS 23 : Biaya Pinjaman.
Satu atau lebih aset tetap mungkin diperoleh dalam pertukaran aset
nonmoneter, atau kombinasi aset moneter dan nonmoneter. Pembahasan berikut
mengacu pada pertukaran satu aset nonmoneter dengan aset nonmoneter
lainnya, tetapi hal ini juga berlaku untuk semua pertukaran yang dijelaskan dalam
kalimat sebelumnya. Biaya perolehan dari suatu aset tetap diukur pada nilai wajar
kecuali:
(a) transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial; atau
(b) nilai wajar dari aset yang diterima dan diserahkan tidak dapat diukur secara
andal.
Aset yang diperoleh diukur dengan cara seperti di atas bahkan jika entitas tidak
dapat dengan segera menghentikan pengakuan aset yang diserahkan. Jika aset
yang diperoleh tidak dapat diukur dengan nilai wajar, maka biaya perolehannya
diukur dengan jumlah tercatat dari aset yang diserahkan.
Entitas menentukan apakah transaksi pertukaran memiliki substansi komersial
dengan mempertimbangkan sejauh mana arus kas masa depan diharapkan untuk
mengubah sebagai akibat dari transaksi . Transaksi pertukaran memiliki substansi
komersial jika :
a. konfigurasi ( resiko , waktu, dan jumlah ) dari arus kas dari aset berbeda
yang diterima dari konfigurasi arus kas dari aset yang ditransfer ; atau
b. nilai - entitas tertentu dari bagian operasi entitas dipengaruhi oleh
perubahan transaksi sebagai akibat dari pertukaran ; dan
c. perbedaan (a) atau (b) relatif signifikan terhadap nilai wajar aset ditukar.
Untuk tujuan menentukan apakah suatu transaksi pertukaran memiliki
substansi komersial , nilai entitas tertentu dari bagian operasi entitas dipengaruhi

oleh transaksi tersebut mencerminkan arus kas setelah pajak . Hasil analisis ini
mungkin jelas tanpa suatu entitas harus melakukan perhitungan rinci .
Nilai wajar aset dapat diukur secara andal meskipun tidak ada transaksi pasar
yang sejenis, jika:
a. variabilitas rentang estimasi nilai wajar yang masuk akal (wajar) untuk aset
tersebut tidak signifikan; atau
b. probabilitas dari berbagai estimasi dalam rentang tersebut dapat dinilai
secara rasional dan digunakan dalam mengestimasi nilai wajar.
Jika entitas dapat menentukan nilai wajar secara andal, baik dari aset yang
diterima atau diserahkan, maka nilai wajar dari aset yang diserahkan digunakan
untuk mengukur biaya perolehan dari aset yang diterima kecuali jika nilai wajar
aset yang diterima lebih jelas.
Perolehan Gedung
Semua biaya terkait dengan akuisisi atau konstruksi :
Material, tenaga kerja, overhead selama proses konstruksi , biaya bunga jika
membangun sendiri
Harga beli bangunan dan pengurusan hak perolehan bangunan.
Fee profesional
Ijin pendirian bangunan
Perolehan Tanah
Semua biaya terkait dengan akuisisi dan penyiapan tanah sesuai dengan tujuan
penggunaan :
(1) Harga Beli
(2) Biay a pengurusan hak tanah (sertifikat, pajak/BPHTB, biaya notaris, dll.
(3) Biaya untuk perataan tanah, penghancuran bangunan yang tidak diperlukan.
Tanah dan Bangunan Investasi Properti
Properti Investasi menurut PSAK 13 adalah:
properti (tanah atau bangunanatau bagian dari bangunanatau
keduanya) yang dikuasai (oleh pemilik atau lessee melalui sewa
pembiayaan) untuk menghasilkan rental atau untuk kenaikan nilai, atau
kedua-duanya, dan tidak untuk:
Digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa
atau untuk tujuan administratif; atau
Dijual dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Kriteria Pengakuan Sama dengan PSAK 16
Properti investasi pada awalnya diukur sebesar biaya perolehan. Biaya
transaksi termasuk dalam pengukuran awal tersebut.
Setelah pengukuran awal perusahaan dapat memilih menggunakan metode
biaya atau nilai wajar
Perolehan Peralatan
Peralatan dapat meliputi mesin, kendaraan, peralatan kantor, peralatan pabrik
dan peralatan lain.
Biaya perolehan meliputi
(1) Harga beli,
(2) Pajak atau Bea yang tidak dapat dikreditkan
(3) Biaya transportasi
(4) Biaya asuransi selama pengiriman barang

(5) Biaya instalasi dan biaya penyiapan tempat untuk melakukan instalasi
(6) Biaya untuk pengetesan peralatan
Perolehan Aset yang Dibangun Sendiri
Biaya yang dikeluarkan sampai aset tersebut siap digunakan:
Material dan tenaga kerja
Overhead biaya variabel dan porsi dari fixed overhead yang terkait
langsung dengan pembangunan aset.
Biaya bunga selama proses pembangunan
F. PENGUKURAN SETELAH PENGAKUAN
Pengeluaran - pengeluaran setelah perolehan aset tetap terbagi menjadi dua,
yaitu pengeluaran modal dan pengeluaran pendapatan. Pada dasarnya
pengeluaran-pengeluaran tersebut diatas dapat dikelompokkan menjadi :
1. Pengeluran pendapatan (revenue expenditure).
yaitu : pengeluaran pengeluaran untuk aset tetap yang bermanfaatnya
dinikmati tidak lebih dari satu periode akuntansi.
2. Pengeluaran modal (capital expenduditures).
yaitu : pengeluaran untuk aset tetap yang manfaatnya dapat dinikmati lebih
dari satu periode akuntansi. Jenis pengeluaran yang bersifat demikian
dicatat sebagai tambahan bagi harga perolehan aset tetap yang
bersangkutan.
Perusahaan dapat memilih model biaya atau model revaluasi sebagai kebijakan
akuntansinya dan menerapkan kebijakan teersebut terhadap seluruh aset tetap
dalam kelompok yang sama.
a. Model biaya.
Setelah di akui sebagi aset, aset tersebut dicatat sebesar biaya perolehan
dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai aset
b. Model revaluasi
Setelah diakui sebagai aset, aset tetap yang niali wajarnya dapat diukur
secara andal, dan dicatat pada jumlah revaluasi, yaitu nilai wajar pada
tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi
penurunan nilai yang terjadi pada tanggal revaluasi. Revaluasi harus
dilakukan dengan keteraturan yang cukup reguler untuk memastikan bahwa
jumlah tercatat tidak berbeda secara material dari jumlah yang ditentukan
dengan menggunakan nilai wajar pada akhir periode pelaporan.
Nilai wajar tanah dan bangunan biasanya ditentukan melalui penilaian yang
dilakukan oleh penilai yang memiliki kualifikasi profesional berdasarkan bukti
pasar. Nilai wajar pabrik dan peralatan biasanya menggunakan nilai pasar
yang ditentukan oleh penilai.

Nilai wajar adalah nilai di mana suatu aset dapat ditukarkan atau suatu
kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk
melakukan transaksi wajar.

Dr
Dr
Cr
Cr
Dr
Dr
Cr
Cr

Beban
Beban Penyusutan
Penyusutan ($48K/4)
($48K/4)
Akumulasi
Akumulasi Penyusutan
Penyusutan
Surplus
Surplus Revaluasi
Revaluasi 2,000
2,000
Saldo
2,000
Saldo Laba
Laba
2,000

12,000
12,000
12,000
12,000

Hirarki Penentuan Nilai Wajar


Kuotasi harga di pasar aktif;
Jika pasar tidak aktif, maka menggunakan teknik penilaian yang meliputi:
penggunaan transaksi-transaksi pasar wajar yang terkini antara pihakpihak yang mengerti, berkeinginan, jika tersedia;
referensi atas nilai wajar terkini dari instrumen lain yang secara
substansial sama;
analisis arus kas yang didiskonto (discounted cash flow analysis); dan
model penetapan harga opsi (option pricing model)
Nilai wajar tanah dan bangunan biasanya ditentukan melalui penilaian yang
dilakukan oleh penilai yang memiliki kualifikasi professional berdasarkan bukti
pasar.
Nilai wajar pabrik dan peralatan biasanya menggunakan nilai pasar yang
ditentukan oleh penilai.

Jika suatu aset tetap direvaluasi, maka akumulasi penyusutan pada tanggal
revaluasi diperlakukan dengan salah satu cara berikut ini:
(a) disajikan kembali secara porposional dengan perubahan dalam jumlah
tercatat bruto aset sehingga jumlah tercatat aset setelah revaluasi sama
dengan jumlah revaluasiannya. Metode ini sering digunakan apabila aset
direvaluasi dengan cara memberi indeks untuk menentukan biaya
pengganti yang telah disusutkan.

(b) dieliminasi terhadap jumlah tercatat bruto aset dan jumlah tercatat neto
setelah eliminasi disajikan kembali sebesar jumlah revaluasian dari aset
tersebut. Metode ini sering digunakan untuk bangunan

1/1/08

Dr. Aset tetap


Cr. Kas

31/12/08
400.000
400.000
31/12/08
200.000*

2.000.000
2.000.000

Dr. Beban Penyusutan


Cr. Akumulasi Penyusutan
Dr. Aset Tetap
1.000.000
Cr. Akumulasi Penyusutan
Cr. Surplus Revaluasi

800.000
1/1/08
Aset tetap
2.000.000
*((2.400.000-1.600.000)/1.600.000) x 400.000 =
Kas
2.000.000
200.000
31/12/08
Beban Penyusutan
400.000
Akumulasi Penyusutan
400.000
31/12/08

Akumulasi Penyusutan
400.000
Aset Tetap
400.000

Aset Tetap
800,000
Surplus Revaluasi

800.000

Secara berkala semua aset tetap, kecuali tanah akan mengalami penyusutan
atau penurunan kemampuan dalam menyediakan manfaat. Dengan ada nya
penyusutan, maka nilai dari aset tetap tercatat tidak lagi dapat mewakili nilai
dari manfaat yang dimiliki aset tersebut. Agar nilai aset tetap dapat memiliki
nilai dari manfaat yang dimiliki nya, maka perlu dilakukan pengalokasian
manfaat atas aset tetap ke dalam akumulasi biaya secara sistematika,
berdasarkan estimasi masa manfaat aset tetap.
Menurut PSAK (IAI, 2011 : 16.4) pengertian umur manfaat adalah : a. Periode
aset diperkirakan dapat digunakan oleh perusahaan, atau b.Jumlah produksi
atau unit serupa yang diperkirakanakan diperoleh oleh perusahaan.
Pengertian nilai residu dari aset menurut Ikatan Akuntan Indonesia adalah
estimasi jumlah yang dapat diperoleh entitas saat ini dari pelepasan aset,
setelah di kurangi estimasi biaya pelepasan, jika aset telah mencapai umur
dan kondisi yang diperkirakan pada akhir umur manfaatnya.
Untuk menghitung penyusutan
perhitungan. Penyusutan dapat
berdasarkan kriteria :

dapat dilakukan beberapa


dilakukan dengan berbagai

metode
metode

a. Berdasarkan Waktu.
Metode ini menghubungkan biaya penyusutan dengan perjalanan
waktu. Taksiran umur kegunaan dari aset tetap dinyatakan dalam bentuk
satuan waktu, biasanya tahun. Metode ini terdiri dari :
1.

Metode garis lurus ( straight line menthod)


Beban penyusutan dibagi sama rata selama masa manfaat aset yang
bersangkutan, setelah dikurangi dengan estimasi nilai residu yang
wajar. Rumus untuk menghitung penyusutan metode garis lurus yaitu :

Harga perolehan (HP) Nilai residu


Beban penyusutan / tahun = ______________________________
Umur manfaat

2.

Metode Saldo Menurun


Dalam metode penyusutan saldo menurun yang menyajikan penyusutan
dalam jumlah yang terus menurun dari tahun ke tahun . Rumus untuk
menghitung penyusutan metode saldo menurun yaitu :

Beban penyusutan = Tarif penyusutan x Dasar penyusutan

b. Berdasarkan penggunaan.
Metode jumlah unit produksi.
Taksiran manfaat dintakan dalam kapasitas profuksi yahng dapat
dihasilkan . tarig penyusutan di hitung sebagai persentase (%) produksi
aktual terhadao kapasitas produksi. Dengan demikian tarif dan beban
penyusutan akan bervariasi dari tahun ke tahun, tergantung produksi
aktual yang dicapai pada tahun yang bersangkutan. Rumus untuk
menghitung penyusutan metode jumlah unit produksi yaitu :

Beban penyusutan / tahun =

Har ga perole h anNilai residu


Taksiranhasil produksi (unit)

Jurnal untuk mencatat beban penyusutan adalah :


Dr. Beban penyusutan aset tetap

xxx

Cr. Akumulasi penyusutan aset tetap xxx

Metode penyusutan aset dipilih berdasarkan ekspektasi pola pemakaian


manfaat ekonomik masa depan aset. Metode tersebut diterapkan secara
konsisten dari periode ke periode, kecuali terdapat perubahan dalam
ekspektasi pola pemakaian manfaat ekonomik masa depan aset tersebut.
Penurunan Nilai
Penurunan nilai terjadi jika nilai tercatat aset lebih tinggi dibandingkan
nilai terpulihkan (recoverable amount)
Recoverable amount adalah nilai tertinggi antara nilai wajar dikurangi
biaya penjualan dengan nilai kini penggunaan aset.
Penurunan nilai diakui di laporan laba rugi
Review penurunan nilai dilakukan setiap pelaporan
Penurunan boleh dapat dibalikkan sebesar yang telah terjadi

Contoh: Misalkan perusahaan Carita melakukan uji penurunan nilai untuk


peralatannya. Nilai buku dari peralatan tersebut sebesar Rp200 juta
sedangkan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual sebesar Rp180 juta, dan
nilai pakainya Rp205 juta.

Tdk ada penurunan nilai

Misalkan informasi yang ada tetap sama untuk PT Carita kecuali nilai pakai dari
peralatannya menjadi Rp175 juta.

Rp175 jt

Dr. Rugi penurunan nilai


Rp20 juta
Cr. Akumulasi depresiasi peralatan

Rp20 juta

G. PENGHENTIAN PENGAKUAN
Jumlah tercatat aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat:
(a) dilepas; atau
(b) ketika tidak terdapat lagi manfaat ekonomi masa depan yang diharapkan
dari penggunaan atau pelepasannya.

Keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghentian pengakuan aset


tetap dimasukkan dalam laba rugi ketika aset tetap tersebut dihentikan
pengakuannya, tetapi keuntungan tersebut tidak dapat dianggap sebagai
pendapatan .Namun pada perusahaan yang kegiatan usahanya menjual aset
yang sebelumnya dientalkan kepada pihak lain, maka perusahaan harus
memindahkan aset tetap tersebut menjadi persediaan sesuai nilai tercatat
ketika aset tidak lagi direntalkan dan menjadi aset dimiliki untuk dijual.
Keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghentian pengakuan aset
tetap ditentukan sebesar selisih antara jumlah hasil pelepasan neto, jika ada,
dan jumlah tercatatnya.
Pelepasan aset tetap dapat dilakukan dengan berbagai cara,
diantaranya : 1.Penjualan aset tetap.
2.Berakhirnya masa manfaat aset tetap.
3.Pertukaran aset tetap.
Ilustrasi Penghentian Pengakuan

Pada
Pada 11 Jan
Jan 2006
2006 PT
PT Kicir
Kicir membeli
membeli mesin
mesin
cetak
cetak laser
laser seharga
seharga Rp50
Rp50 juta
juta
Mesin
Mesin tersebut
tersebut digunakan
digunakan selama
selama 55
tahun
tahun (umur
(umur maksimum)
maksimum) kemudian
kemudian
dihapusbukukan
dihapusbukukan tanpa
tanpa nilai
nilai sisa
sisa
Motor
Motor mesin
mesin tersebut
tersebut dapat
dapat beroperasi
beroperasi
selama
selama 500
500 jam,
jam, setelah
setelah melewati
melewati
waktu
waktu operasi
operasi tersebut,
tersebut, perusahaan
perusahaan
membeli
membeli bagian
bagian dari
dari laser
laser baru.
baru.
Biaya
Biaya dari
dari motor
motor baru
baru sebesar
sebesar Rp10
Rp10
juta
tanpa
nilai
tanpa
nilai sisa.
sisa.
Dr.juta
Akumulasi
Penyusutan
Rp 8 juta
Dr. Rugi
Cr. Aset Tetap
Dr. Aset Tetap
Cr. Kas

Rp 2 juta
Rp 10 juta
Rp 8 juta
Rp 8 juta

H. PENGUNGKAPAN
Laporan keuangan harus mengungkapkan untuk setiap kelompok aset tetap
yaitu :
1. Dasar penilaian yang di gunakan untuk menentukan jumlah tercatat bruto,
jika lebih dari satu dasar yang digunakan, maka jumlah tercatat bruto

untuk dasar dalam setiap kategori harus diungkapkan.


2. Metode penyusutan yang digunakan.
3. Masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan.
4. Jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir
periode.
5. rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang
menunjukkan:
i. penambahan;
ii. aset diklasifikasi sebagai tersedia untuk dijual atau termasuk dalam
kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai tersedia untuk
dijual sesuai PSAK 58 (revisi 2009): Aset Tidak Lancar yang Dimiliki
untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan dan pelepasan lainnya;
iii. akuisisi melalui kombinasi bisnis;
iv. peningkatan atau penurunan akibat dari revaluasi sesuai paragraf
31, 39, dan 40 serta dari rugi penurunan nilai yang diakui atau
dijurnal balik dalam pendapatan komprehensif lain sesuai PSAK No.
48 (revisi 2009): Penurunan Nilai Aset;
v. rugi penurunan nilai yang diakui dalam laba rugi sesuai PSAK 48;
vi. rugi penurunan nilai yang dijurnal balik dalam laba rugi sesuai PSAK
48;
vii. penyusutan;
viii.
selisih nilai tukar neto yang timbul dalam penjabaran laporan
keuangan dari mata uang fungsional menjadi mata uang pelaporan
yang berbeda, termasuk penjabaran dari kegiatan usaha luar negeri
menjadi mata uang pelaporan dari entitas pelapor; dan
ix. perubahan lain.
Laporan keuangan juga mengungkapkan:
a. keberadaan dan jumlah restriksi atas hak milik, dan aset tetap yang
dijaminkan untuk liabilitas;
b. jumlah pengeluaran yang diakui dalam jumlah tercatat aset tetap
yang sedang dalam pembangunan;
c. jumlah komitmen kontraktual dalam perolehan aset
tetap; dan
d. jumlah kompensasi dari pihak ketiga untuk aset tetap yang
mengalami penurunan nilai, hilang atau dihentikan yang
dimasukkan dalam laba rugi, jika tidak diungkapkan secara terpisah
pada pendapatan komprehensif lain.
Pemilihan metode penyusutan dan estimasi umur manfaat aset adalah
hal-hal yang memerlukan pertimbangan. Oleh karena itu, pengungkapan
metode yang digunakan dan estimasi umur manfaat atau tarif penyusutan
memberikan informasi bagi pengguna laporan keuangan dalam me-review
kebijakan yang dipilih manajemen dan memungkinkan perbandingan dengan
entitas lain. Untuk alasan yang serupa, juga perlu diungkapkan:
a. penyusutan, apakah diakui dalam laba rugi atau diakui sebagai bagian
dari biaya perolehan aset lain, selama suatu periode; dan
b. akumulasi penyusutan pada akhir periode.
Sesuai dengan IAS 8: Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi
dan Kesalahan entitas mengungkapkan sifat dan dampak perubahan estimasi

akuntansi yang berdampak material pada periode berjalan atau diperkirakan


berdampak material pada periode berikutnya. Untuk aset tetap, pengungkapan
tersebut dapat muncul dari perubahan estimasi dalam:
nilai residu;
estimasi biaya pembongkaran, pemindahan atau restorasi suatu aset
tetap;
umur manfaat; dan
metode penyusutan.
Jika aset tetap disajikan pada jumlah revaluasian, hal berikut diungkapkan:
tanggal efektif revaluasi;
apakah penilai independen dilibatkan;
metode dan asumsi signifikan yang digunakan dalam mengestimasi
nilai wajar aset;
penjelasan mengenai nilai wajar aset yang ditentukan secara langsung
berdasarkan harga terobservasi (observable prices) dalam suatu pasar
aktif atau transaksi pasar terakhir yang wajar atau diestimasi
menggunakan teknik penilaian lainnya;
untuk setiap kelompok aset tetap, jumlah tercatat aset seandainya
aset tersebut dicatat dengan model biaya; dan
surplus revaluasi, yang menunjukkan perubahan selama periode dan
pembatasan-pembatasan distribusi kepada pemegang saham.
Kasus Model Revaluasi & Cost
Informasi terkait aset yang diperoleh pada 1 Januari 2006:
Harga perolehan: Rp100 juta
Umur manfaat: 5 tahun, tidak ada nilai sisa
Metode depresiasi: Garis lurus
Tanggal

Biaya Penggantian
Terdepresiasi

1 Januari 2007

Rp120 juta

1 Januari 2008

Rp45 juta

1 Januari 2009

Rp50 juta

Diminta:
a. Buatlah seluruh jurnal yang diperlukan berdasarkan Model Revaluasi!
b. Buatlah seluruh jurnal yang diperlukan berdasarkan Model Biaya (Cost
Model)! Asumsikan kondisi pada 1 Januari 2008 memenuhi kriteria penurunan
nilai (impairment)!
Jawaban Revaluasi Proporsional
1/1/06
Dr. Aset
Cr. Kas
31/12/06 Dr. Beban depresiasi
Cr. Akumulasi Depresiasi
1/1/07
Dr. Aset
Cr. Akumulasi Depresiasi
Cr. Surplus Revaluasi

Rp100 juta
Rp100 juta
Rp20 juta
Rp20 juta
Rp50 juta*
Rp10 juta**
Rp 40 juta

*((120 juta 80 juta)/80 juta) x 100 juta


**((120 juta 80 juta)/80 juta) x 20 juta
31/12/07 Dr. Beban Depresiasi
Cr.Akumulasi Depresiasi
Dr. Surplus Revaluasi
Cr. Laba Ditahan
1/1/08
Dr. Akumulasi Depresiasi
Dr. Surplus Revaluasi
Dr. Rugi Penurunan Nilai Aset
Cr. Aset

Rp30 juta (120 juta/4)


Rp 30 juta
Rp10 juta (40juta/4)
Rp10 juta
30 juta*
30 juta
15 juta
75 juta**

*((90 juta 45 juta)/90 juta) x 60 juta


**((90 juta 45 juta)/90 juta) x 150 juta
31/12/08 Dr. Beban Depresiasi
Rp15 juta (45 juta/3)
Cr. Akumulasi Depresiasi
Rp15 juta
1/1/09
Dr. Aset
Rp50 juta*
Cr. Akumulasi Depresiasi
Rp30 juta**
Cr. Keuntungan/Kerugian
Rp15 juta
Cr. Surplus Revaluasi
Rp5 juta
*((50 juta -30 juta)/30 juta) x 7,500
**((5,000-3,000)/3,000) x 4,500
Jawaban Revaluasi Eliminasi
1/1/06
Dr. Aset
Cr. Kas

Rp100 juta

31/12/06 Dr. Beban Depresiasi


Cr. Akumulasi Depresiasi

Rp20 juta
Rp20 juta

1/1/07

Dr. Akumulasi Depresiasi


Cr. Aset
Dr. Aset
Cr. Surplus Revaluasi

31/12/07 Dr. Beban Depresiasi


Cr. Akumulasi Depresiasi
Dr. Surplus Revaluasi
Cr. Laba Ditahan
1/1/08

Dr. Akumulasi Depresiasi


Cr. Aset
Dr. Surplus Revaluasi
Dr. Rugi Penurunan Nilai Aset
Cr. Aset

31/12/08 Dr. Beban Depresiasi


Cr. Akumulasi Depresiasi
1/1/09

Dr. Akumulasi Depresiasi

Rp100 juta

Rp20 juta
Rp20 juta
Rp40 juta
Rp40 juta
Rp30 juta (120 juta/4)
Rp30 juta
Rp10 juta (40 juta/4)
Rp10 juta
Rp30 juta
Rp30 juta
Rp30 juta
Rp15 juta
Rp45 juta
Rp15 juta (4,500/3)
Rp15 juta
Rp15 juta

Cr. Aset
Dr. Aset
Cr. Laba/Rugi
Cr. Surplus Revaluasi

Rp15 juta
Rp20 juta
Rp15 juta
Rp5 juta

Jawaban Model Biaya


1/1/06
Dr. Aset
Cr. Kas

Rp100 juta

31/12/06 Dr. Beban Depresiasi


Cr. Akumulasi Depresiasi

Rp20 juta
Rp20 juta

1/1/07

Rp100 juta

No journal

31/12/07 Dr. Beban Depresiasi


Cr. Akumulasi Depresiasi

Rp20 juta
Rp20 juta

1/1/08

Rp15 juta
Rp15 juta

Dr. Kerugian Penurunan Nilai Aset


Cr. Akumulasi Depresiasi

31/12/08 Dr. Beban Depreasiasi


Rp15 juta
Cr. Akumulasi Depresiasi
Rp15 juta
1/1/09
Dr. Akumulasi Depresiasi
Rp10 juta
Cr. Laba/Rugi
Rp10 juta
Koreksi Kesalahan pencatatan dalam Laporan Keuangan, Menurut (Keiso,
Weygandt, & Warfield, 2008) :

1. Perubahan estimasi yang terjadi karena estimasi-estimasi itu tidak dibuat


dengan jujur. Contoh: penggunaan tarif penyusutan yang secara jelas
tidak realistis.
2. Kelalaian, seperti kegagalan untuk mengakrualkan atau menangguhkan
beban atau pendapatan tertentu pada akhir periode.
3. Penggunaan fakta yang tidak benar, seperti kegagalan untuk
menggunakan nilai sisa dalam menghitung dasar penyusutan untuk
pendekatan garis lurus.
4. Klasifikasi biaya yang tidak tepat sebagai beban dan bukan sebagai aset