Anda di halaman 1dari 27

Kasus 2

Ny B (25 tahun) adalah seorang istri yang setia pada suaminya, namun justru suaminya tidak
bersikap selayaknya. Suami klien adalah seorang petugas keamanan disebuah pabrik besi selama
6 tahun terakhir. Ny B kurang familiar dengan lingkungan tempat kerja suaminya dan rekanrekan suaminya. Saat ini mereka memiliki seorang anak usia 3 bulan dengan berat 3700 gram,
berat lahir 2900 gram. Saat ini bayi tersebut mengalami diare berkepenjangan sejak 4 minggu
terakhir. Ny B menyusui secara ekslusif sejak melahirkan. Bayi tersebut juga mengalami
kandidiatis pada separuh mukosa mulut hingga hari ini sehingga sulit makan dan minum, dan
baru direncanakan pindah kedokter. Ny B merasa tidak memiliki keluhan berarti sejak kehamilan
serta persalinan, hanya saja dalam satu bulan ini ia sering merasa nyeri pada area panggul dan
saat hamil ia pernah mengalami keputihan berulang dengan karakteristik kuning pekat
kecoklatan, berbau, dan gatal. Dokter kandungan pernah memberikan anti fungal topikal namun
gejala tersebut berulang. Saat ini Ny B masih mengalami keputihan. Suami tidak pernah jujur
tentang lingkungan pergaulannya, suatu hari Ny B menemukan jarum suntik diselokan rumah. Ia
mulai curiga dengan perilaku suaminya dan mulai bertanya-tanya tentang kondisi yang ia dan
bayinya alami. Tn B sendiri sudah 4 bulan terakhir sering mengalami influenza, demam naik
turun dan adanya pembesaran kelenjar pada leher dan nyeri. Saat satu keluarga pergi kedokter,
dokter menyarankan dan meminta persetujuan mereka untuk melaksanakan VCT, mereka
bersedia melakukan pemeriksaan darah

seperti CD4, elisa, dan western blot. Setelah

dilaksanakan VCT dilakukanlah pemeriksaan darah dan seminggu kemudian hasil lab keluar
dengan karakter:
Tn B (suami) titer elisa : anti HIV positif, CD4 250 mg/dl, WB indeterminate.
Ny B (istri) titer elisa : anti HIV postif, CD4 300mg/dl, WB negative.
Step 1
-

Kandidiasis: infeksi yang disebabkan oleh jamur candida.


ELISA: Pemeriksaan ELISA (enzyme-linked immunoabsorbent assay) digunakan untuk
mendeteksi antibody anti HIV. Alat ini mempunyai sensitivitas 93% sampai 98% dan

spesifisitas 98% sampai 99%.


Western Blot:
VCT: tes untuk mengetahui status HIV.
CD4: Mengukur jumlah sel T sistem kekebalan tubuh.
Intermediate: tidak ada ditemukan HIV di Western Blot

Anti fungal topikal: anti jamur yang penggunaannya langsung ke kulit seperti salep, krim.

Step 2
1. Apa penyebab bayi mengalami kandidiasis pada separuh mukosa mulutnya?
2. Apa penyebab Ny. B sering merasa nyeri pada area panggul dan saat hamil ia pernah
mengalami keputihan berulang?
3. Apa bayi perlu dilakuakn pemeriksaan CD4, western blot?
4. Tanda-tanda spesifik pada Tn. B untuk mengetahui adanya HIV?
5. Hubungan diare bayi dengan hasil LAB Th. B dan Ny. B ?
6. Apa yang menyebabkan Tn. B mengalami pembesaran pada kelenjar?
7. Apakah CD4 pada Ny. B dan Tn. B dalam rentang normal ?
8. Masalah keperawanan pada Ny. B dan Tn. B ?
9. Tindakan untuk menangani bayi yang diare?
10. Pengobatan apa yang dapat di berikan pada Ny. B Dan Tn. B ?
11. Apakah HIV terjadi pada 1 keluarga atau orang tua nya?
12. Pengkajian tambahan untuk data spesifik?
13. Nutrisi untuk bayi karena ASI dari ibu nya yang kurang baik karena HIV?
14. Prioritas yang lebih utama untuk di tangani?

Step 3
1. Sistem kekebalan tubuh bayi rendah, karena tidak mungkin jamur masuk kalau kekebalan
tubuh baik.
Awalnya jamur masuk dari sariawan.
2. Keputihan: karena ny. B sudah terinfeksi jamur candida.
Nyeri panggul: karena infeksi jamur candida menyerang ke panggul dan ditambah ny. B
baru melahirkan.
3. Perlu karena sudah ada tanda-tanda HIV seperti kandidiasis dan diare sejak 4 minggu
terakhir dan HIV bisa menular dari ASI.
HIV bukan hanya menular dari ASI tapi bisa langsung dari kandungan.
4. Lebih mudah terserang infeksi seperti diare, TB, candidiasis.
5. Berhubungan karena gejala HIV berkepanjangan, apalagi orang tua sudah mengalami
HIV dari hasil pemeriksaan.
6. Penyebabnya virus sudah masuk ke kelenjar limfe.
Virus terdapat dalam darah, letak darah dan kelenjar limfe berdekatan sehingga virus dari
darah menyerang ke kelenjar dan mengalami pembesaran.
7. Tidak, karena tidak mungkin kalau normal dapat terinfeksi candidiasis pada ny. B dan
pembesaran kelenjar pada tn. B.
Rentang normal antara 500 atau 5000.

8. Resiko infeksi dan nyeri.


9. Nutrisi IV elektrolit, NGT (susu formula), ASI perah yang bukan dari ibunya.
10. Immunostimulan untuk meningkatkan daya tahan tubuh, analgesic, antivirus karena CD4
rendah, antiretroviral.
11. Orang tua sudah positif, anak masih beresiko sehingga perlu pemeriksaan.
12. Pengkajian jarum suntik yang digunakan, pengkajian pada lingkungan suami dan apakah
bergonta-ganti pasangan.
13. (jawaban pada nomor 9)
14. Bayi, karena diare lebih dari 4 minggu, bayi dapat menyebabkan syok.

Step 4
Tn. B

Nyeri panggul, keputihan


berulang

Memiliki gejala
HIV

Menular ke Ny.
B

Influenza 4
bulan, demam
naik turun,
pembesaran
kelenjar pada

Bayi tertular
lewat ASI dan
saat di
kandungan

Pemeriksaan
diagnostik
Menentukan
Penatalaksanaan
stadium
sesuai stadium

Diare 4
minggu,
kandidiasis
separuh
Penatalaksanaan
nutrisi

Learnig Outcomes
A. Konsep Penyakit HIV
1. Definisi
HIV, yang dahulu disebut virus limfotropik set T manusia tipe III (HTLV-III) atau
virus limfodenapati (LAV), adalah suatu retrovirus manusia sitopatik dari famili

lentivirus. AIDS adalah suatu kumpulan kondisi klinis tertentu yang merupakan hasil
akhir dari infeksi oleh HIV (Price, 2006).
2. Etiologi
Penyebab kelainan imun pada AIDS adalah suatu agen viral yang disebut HIV dari
kelompok virus yang dikenal retrovirus yang disebut Lympadenopathy Associated
Virus (LAV) atau Human T-Cell Lymphotropic Virus (retrovirus). Ditularkan
melalui:
a. Hubungan seksual (anal, oral, vaginal) yang tidak terlindungi (tanpa kondom)
dengan orang yang telah terinfeksi hiv
b. Jarum suntik atau tindik, atau tato yang tidak steril dan dipakai bergantian
c. Mendapatkan transfusi darah yang mengandung virus HIV.
d. Ibu penderita HIV positif kepada bayinya ketika dalam kandungan, saat
melahirkan atau melalui air susu ibu (asi).
(Nurarif & Kusuma, 2015)
3. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis HIV dapat diklasifikasikan menjadi 4 stadium (Sudoyo,2006)
sebagai berikut :
(1) Stadium 1 : infeksi akut
gejala infeksi seperti gejala infeksi mononucleosis yaitu demam, sakit
tenggorokan, letargi, batuk, mialgia, keringat malam dan keluhan ada sitem
pencernaan berupa nyeri menelan, mual, muntah, dan diare. Gejala lain yang
mungkin di dapatkan pembesaran kelenjar limfe leher, faringitis, mascular rash,
meningitis aseptic dengan gejala disorientasi, kehilangan ingatan, perubahan
personalitas.
(2) Stadium 2 : infeksi kronis asimtomatik (tanpa gejala)
Asimptomatik berarti bahwa didalam organ tubuh terdaat HIV tetapi tubuh tidak
menunjukkan gejala-gejala.Keadaan ini dapat berlangsung rata-rata selama 5-10
tahun. Cairan tubuh pasien HIV/AIDS yang tampak sehat ini sudah dapat
menularkan HIV kepada orang lain.
(3) Stadium 3 : pembengkakan kelenjar limfe
Pada pemeriksaan fisik di dapatkan pembesaran kelenjar getah bening 1 cm,
pada dua tempat atau lebih ekstra inguinal yang menatap selama lebih dari 3 bulan.
(4) Stadium 4 : AIDS
Gambaran klinis pada stadium ini dibagi dalam beberapa gejala, yaitu :
(1) Gejala utama/mayor : penyakit konstitusional.

Gejala demam berkepanjangan lebih dari 3 bulan, diare kronis lebih dari satu
bulan berulang maupun terus-menerus, penurunan berat badan lebih dari 10%
dalam 3 bulan.
(2) Gejala kedua/minor : penyakit neurologi, gejala meliputi batuk kronis selama
lebih dari 1 bulan, infeksi pada mulut dan tenggorokan disebabkan jamur candida
albicans, pembengkakan kelenjar getah bening yang menetap di seluruh tubuh,
munculnya herpes zoster berulang dan bercak-bercak gatal diseluruh tubuh.
(3) Gejala ketiga : penyakit infeksi sekunder
(4) Gejala ke empat : keganasan sekunder seperti limome non hodgkns, termasuk
sarcoma caposi.
(5) Gejala kelima : keadaan lain didefinisikan gambaran klinis yang tidak dapat
diklasifikasikan seperti di atas.
Pada tahun 1990, World Health Organization (WHO) mengelompokkan berbagai
infeksi dan kondisi AIDS dengan memperkenalkan system tahan untuk pasien yang
terinfeksi dengan HIV-1.System ini diperbarui pada bulan September tahun 2005.
Kebanyakan kondisi ini adalah infeksi oportunistik yang dengan mudah di tangani
pada orang sehat.
(1) Stadium 1 : infeksi HIV asimptomatik dan tidak dikategorikan sebagai AIDS
(2) Stadium 2 : termasuk manifestasi membrane mukosa kecil dan radang saluran
pernafasan atas yang berulang.
(3) Stadium 3 : termasuk diare kronik yang tidak dapat dijelaskan selama lebih dari
sebulan, infeksi bakteri arah, dan tuberculosis.
(4) Stadium 4 : termasuk toksoplasmosis otak, kandidiasis esophagus, trakea,
bronkus atau paru-paru dan sarcoma Kaposi. Semua penyakit ini adalah

indicator AIDS.
Klasifikasi CDC untuk Infeksi HIV yang Didasarkan pada Patofisiologi Penyakit
Seiring Memburuknya Secara Progresif Fungsi Imun.
Kelas

Kriteria

Grup 1

1.Infeksi akut oleh HIV


2.Gejala mirip-influenza;mereda sempurna
3.Antibodi HIV negatif

HIV ASIMTOMATIK
Grup II
1.Antibodi HIV positif
2.Tidak ada indicator klinis atau laboratorium adanya
Imunodefisiensi

HIV SIMTOMATIK
Grup III

1.Antibodi HIV positif


2.Limfadenopati generalisata persisten

Grup IV-A

1.Antibodi HIV positif


2.Penyakit Konstitusional
a. Demam atau diare menetap
b. Menurunnya berat badan

Grup IV-B

Grup IV-C

lebih

dari

10%

dibandingkan berat normal.


1.Sama seperti grup IV-A dan
2.Penyakit Neurologik
a. Demensia
b. Neuropati
c. Mielopati
1.Sama seperti grup IV-B dan
2.Hitung limfosit CD4+ kurang daripada 200/l
3.Infeksi oportunistik

Grup IV-D

1.Sama seperti grup IV-C dan


2.Tuberkulosis paru,kanker serviks invasive,atau keganasan
lain.

4. Cara Penularan
Sebagian besar kasus mendapat penularan dari ibu terinfeksi HIV pada saat hamil,
melahirkan, atau pada saat menyusui (Asnake et al, 2005 dan Madhivanan et al, 2003
dalam I Made Setiawan, 2009). Karena sebagian besar anak terinfeksi melalui
penularan vertikal dari ibu ke anak, maka bertambahnya jumlah anak terinfeksi HIV
yang didapat saat perinatal sebanding dengan peningkatan jumlah penularan secara
heteroseksual dan jumlah ibu usia produktif terinfeksi HIV. Angka penularan vertikal
berkisar antara 14-39% dan malahan risiko penularan pada anak diperkirakan 29-47%
(I Made Setiawan, 2009). Cara penularan lain adalah melalui transfusi darah serta

komponenkomponennya, secara parenteral melalui tusukan jarum suntik untuk


pengobatan dan penggunaan obat terlarang, dan melalui hubungan seksual bebas
tanpa alat pelindung (I Made Setiawan, 2009).

5. Klasifikasi
Klasifikasi HIV/AIDS pada orang dewasa menurut CDC (Centers for Disease
Control) dibagi atas empat tahap, yakni:
1. Infeksi HIV akut
Tahap ini disebut juga sebagai infeksi primer HIV. Keluhan muncul setelah 2-4
minggu terinfeksi. Keluhan yang muncul berupa demam, ruam merah pada kulit,
nyeri telan, badan lesu, dan limfadenopati. Pada tahap ini, diagnosis jarang dapat
ditegakkan karena keluhan menyerupai banyak penyakit lainnya dan hasil tes
serologi standar masih negatif (Murtiastutik, 2008).
2. Infeksi Seropositif HIV Asimtomatis
Pada tahap ini, tes serologi sudah menunjukkan hasil positif tetapi gejala
asimtomatis. Pada orang dewasa, fase ini berlangsung lama dan penderita bisa
tidak mengalami keluhan apapun selama sepuluh tahun atau lebih. Berbeda
dengan anak- anak, fase ini lebih cepat dilalui (Murtiastutik, 2008).
3. Persisten Generalized Lymphadenopathy (PGL)
Pada fase ini ditemukan pembesaran kelenjar limfe sedikitnya di dua tempat selain
limfonodi inguinal. Pembesaran ini terjadi karena jaringan limfe berfungsi sebagai
tempat penampungan utama HIV. PGL terjadi pada sepertiga orang yang terinfeksi
HIV asimtomatis. Pembesaran menetap, menyeluruh, simetri, dan tidak nyeri
tekan (Murtiastutik, 2008).
4. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome)
Hampir semua orang yang terinfeksi HIV, yang tidak mendapat pengobatan, akan
berkembang menjadi AIDS. Progresivitas infeksi HIV bergantung pada
karakteristik virus dan hospes. Usia kurang dari lima tahun atau lebih dari 40
tahun, infeksi yang menyertai, dan faktor genetik merupakan faktor penyebab
peningkatan progresivitas. Bersamaan dengan progresifitas dan penurunan sistem
imun, penderita HIV lebih rentan terhadap infeksi. Beberapa penderita mengalami

gejala konstitusional, seperti demam dan penurunan berat badan, yang tidak jelas
penyebabnya. Beberapa penderita lain mengalami diare kronis dengan penurunan
berat badan. Penderita yang mengalami infeksi oportunistik dan tidak mendapat
pengobatan anti retrovirus biasanya akan meninggal kurang dari dua tahun
kemudian (Murtiastutik, 2008).

Klasifikasi HIV/AIDS pada bayi/anak (I Made Setiawan, 2009)

6. Pencegahan HIV
Berbagai Upaya Pencegahan HIV/AIDS
1. Secara Medis.
a. Pencegahan penularan melalui hubungan seksual.
b. Infeksi HIV terutama terjadi melalui hubungan seksual, sehingga pencegahan
AIDS perlu difokuskan pada hubungan seksual. Dengan ini perlu dilakukan
penyuluhan agar orang berperilaku seksual yang aman dan bertanggungjawab
yaitu hanya melakukan hubungan seksual dengan pasangan sendiri
(suami/isteri) dan mempertebal iman agar tidak terjerumus ke dalam
hubunganhubungan seksual di luar nikah.
2. Pencegahan penularan melalui darah
a. Transfusi Darah

Pastikan bahwa darah yang dipakai untuk transfusi tidak tercemar HIV. Kalau
anda HIV(+) jangan menjadi donor darah. Begitu pula kalau anda berperilaku
resiko tinggi, untuk tidak berhubungan seksual dengan banyak pasangan.
b. Alat suntik dan alat lain yang dapat melukai kulit
Bersihkan alat-alat seperti jarum, alat cukur, alat tusuk seperti tindik dan Iainlain, dengan pemanasan atau larutan desinfektan. Perlu dilakukan pengawasan
agar setiap alat suntik dan alat lainnya yang dipergunakan dalam sistem
pelayanan kesehatan selalu dalam keadaan steril. Demikian pula jarum yang
dipakai para penyalahguna obat suntik (narkoba).
c. Pencegahan penularan dari ibu dan anak (Perinatal)
Diperkirakan 50 % bayi yang lahir dari ibu yang HIV(+) akan terinfeksi HIV
sebelum, selama dan tidak lama sesudah melahirkan. Ibu-ibu seperti ini perlu
konseling dan sebaiknya ibu yang HIV (+), tidak hamil.
(Jurnal Moh. Isyam M Hamidy, ancaman virus hiv/aids dan upaya pencegahannya,
Vol. V, No. 1 Juni 2004:60-77)
7. Patofisiologi
HIV termasuk kelompok retrovirus, virus yang mempunyai enzim (protein) yang dapat
merubah RNA, materi genetiknya, menjadi DNA. Kelompok retrovirus karena
kelompok ini membalik urutan normal yaitu DNA diubah (replikasi) menjadi RNA.
Setelah menginfeksi RNA HIV berubah menjadi DNA oleh enzim yang ada dalam
virus HIV yang dapat mengubah RNA virus menjadi (reversetranscriptas) sehingga
dapat disisipkan ke dalam DNA sel-sel manusia. DNA itu kemudian dapat digunakan
untuk membuat virus baru (virion), yang menginfeksi sel-sel baru, atau tetap
tersembunyi dalam sel-sel yang hidup panjang, atau tempat penyimpanan, seperti
limfosit sel-sel CD4 (Sel T-Pembantu) yang istirahat sebagai target paling penting
dalam penyerangan virus ini.
Sel CD4 adalah salah satu tipe dari sel darah putih yang bertanggungjawab untuk
mengendalikan atau mencegah infeksi oleh banyak virus yang lain, bakteri jamur dan
parasit dan juga beberapa jenis kanker. Kemampuan HIV untuk tetap tersembunyi
dalam DNA dari sel-sel manusia yang hidup lama, tetap ada seumur hidup membuat
infeksi menyebabkan kerusakan sel-sel CD4 dan dalam waktu panjang jumlah sel-sel

CD4 menurun menjadi masalah yang sulit untuk ditangani bahkan dengan pengobatan
efektif (Gallant, 2010).
Apabila sudah banyak sel T4 yang hancur, terjadi gangguan imunitas selular, daya
kekebalan penderita menjadi terganggu/cacat sehingga kuman yang tadinya tidak
berbahaya atau dapat dihancurkan oleh tubuh sendiri (infeksi oportunistik) akan
berkembang lebih leluasa dan menimbulkan penyakit yang serius yang pada akhirnya
penyakit ini dapat menyebabkan kematian. Apabila sudah masuk ke dalam darah, HIV
dapat merangsang pembentukan antibody dalam sekitar 3-8 minggu setelah terinfeksi
pada periode sejak seseorang kemasukan HIV sampai terbentuk antibody disebut
periode jendela (Window Period). Periode jendela ini sangat perlu diketahui oleh
karena sebelum antibody terbentuk di dalam tubuh, HIV sudah ada di dalam darah
penderita dan keadaan ini juga sudah dapat menularkan kepada orang lain (Yayasan
Pelita Ilmu, 2012).
8. Pemeriksaan Diagnostik
a. ELISA
Enzym Linked Immunosorbent Assay (ELISA), merupakan uji penapisan infeksi
HIV yaitu suatu tes untuk mendeteksi adanya antibody yang dibentuk oleh tubuh
terhadap virus HIV. Dalam hal ini antigen mula-mula diikat benda padat kemudian
ditambah antibody yang akan dicari. Setelah itu ditambahkan lagi antigen yang
bertanda enzim, seperti peroksidase dan fosfatase. Akhirnya ditambahkan substrat
kromogenik yang bila bereaksi dengan enzim dapat menimbulkan perubahan
warna. Perubahan warna yang terjadi seuai dengan jumlah enzim yang diikat dan
sesuai pula dengan kadar antibody yang dicari. ELISA memiliki sensitifitas yang
tinggi, yaitu > 99,5%. Metode ELISA dibagi 2 jenis tehnik yaitu tehnik kompetitif
dan non kompetitif. Tehnik non kompetitif ini dibagi menjadi dua yaitu sandwich
dan indirek. Metode kompetitif mempunyai prinsip sampel ditambahkan antigen
yang berlabel dan tidak berlabel dan terjadi kompetisi membentuk kompleks yang
terbatas dengan antibody spesifik pada fase padat. Prinsip dasar dari
sandwichassay adalah sampel yang mengandung antigen direaksikan dengan
antibody spesifik pertama yang terikat dengan fase padat. Selanjutnya
ditambahkan antibody spesifik kedua yang berlabel enzim dan ditambahkan
substrat dari enzim tersebut.. Antibody biasanya diproduksi mulai minggu ke 2,

atau bahkan setelah minggu ke 12 setelah tubuh terpapar virus HIV,sehingga kita
menganjurkan agar pemeriksaan ELISA dilakukan setelah setelah minggu ke 12
setelah seseorang dicurigai terpapar ( beresiko) untuk tertular virus HIV,misalnya
aktivitas seksual berisiko tinggi atau tertusuk jarum suntik yang terkontaminasi.
Tes ELISA dapat dilakukan dengan sampel darah vena, air liur, atau urine.
b. Radioimmunoassay (RIA)
Prinsip dasar dari RIA adalah reaksi suatu antibody dalam konsentrasi yang
terbatas dengan berbagai konsentrasi antigen. Bagian dari antigen yang bebas dan
yang terikat yang timbul sebagai akibat dari penggunaan antobody dalam kadar
yang terbatas ditentukan dengan menggunakan antigen yang diberi label radio
isotop. Pada prinsip kompetitif bahan yang mengandung antigen yang berlabel dan
antigen yang terdapat di dalam sampel akan diberi label radio isotop sehingga
terjadi kompetisi antara antigen yang akan ditentukan kadarnya dan antigen yang
diberi label dalam proses pengikatan antibody spesifik tersebut sampai terjadi
keseimbangan. Sisa antigen yang diberi label dan tidak terikat dengan antibody
dipisahkan oleh proses pencucian. Setelah itu dilakukan penambahan konyugate,
sehingga terjadi pembentukan kompleks imun dengan konjugate.
c. Metode Electrochemiluminescence Immunoassay (ECLIA)
Chemiluminescence adalah emisi atau pancaran cahaya oleh produk yang
distimulus oleh suatu reaksi kimia atau suatu kompleks cahaya. Kompleks ikatan
anti gen-antibodi yang terjadi akan menempel pada streptavidin-coated
microparticle. ECLIA menggunakan teknologi tinggi yang memberi banyak
keuntungan dibandingkan dengan metode lain. Pada metode ini menggunakan
prinsip sandwich dan kompetitif. Pada. metode ECLIA yang menggunakan metode
kompetitif dipakai untuk menganalisis substrat yang mempunyai berat molekul
yang kecil. Sedangkan prinsip sandwich digunakan untuk substrat dengan berat
molekul yang besar.
d. Imunokromatografi/Rapid Test

Disebut juga uji strip, berbeda dari metode yang lain, metode ini tidak memerlukan
peralatan untuk membaca hasilnya, tetapi cukup dilihat dengan kasat mata,
sehingga jauh lebih praktis. Metode ini mempunyal dua jenis prinsip yang berbeda.

Reaksi langsung (Double AntibodySandwich)


Metode ini biasanya dipakai untuk mengukur susbtrat vang besar dan
memiliki lebih dari satu epitop. Suatu substrat yang spesifik terhadap
antibody dimobilisasi pada suatu membran. Reagen pelacak yaitu suatu
antibody diikatkan pada partikel lateks atau metal koloid (konyugat),
diendapkan (tetapi Universitas Sumatera Utara tetap, tidak terikat) pada
bantalan konyugat (conyugate pad). Bila sampel ditambahkan pada bantalan
sampel, maka sampel tersebut secara cepat akan membasahi dan melewati
bantalan konyugat serta melarutkan konyugat. Selanjutnya reagen akan
bergerak mengikuti aliran dari sampel sepanjang strip membran, sampai
mencapai daerah dimana reagen akan terikat. Pada garis ini, kompleks antigen
antibody akan terperangkap dan akan terbentuk warna dengan derajat vang
sesuai dengan kadar yang terdapat di dalam sampel. Pada metode ini, kadar
substrat di dalam sample tidak boleh berlebih, tetapi harus lebih sedikit
daripada kadar antibody pengikat (capture Ab) yang terdapat dalarn capture
ilne sehingga mikrosfere tidak diikat pada garis pengikat (capture line) dan
mengalir terus ke garis kedua dari antibody yang dimobilisasi yaitu garis
control (control line).

Reaksi kompetitif (Competitive inhibition)


Sering dipakai untuk melacak molekul yang kecil dengan epitop tunggal yang
tak dapat mengikat dua antibody sekaligus. Reagen pelacaknya adalah analit
yang terikat pada partikel lateks atau suatu colloidal metal. Apabila sampel
dan reagen melewati zona dimana reagen pengikat dimobilisasi, sebagian dari
substrat dan reagen palacak akan terikat pada garis capture line. Makin
banyak substrat yang terdapat di dalam sampel, makin efektif daya
kompetisinya

dengan

reagen

pelacak.12,18

Prosedur

pemeriksaan

laboratorium untuk HIV sesuai dengan panduan nasional yang berlaku pada
saat ini, yaitu dengan menggunakan strategi 3 dan selalu didahului dengan

konseling pra tes atau informasi singkat. Ketiga tes tersebut dapat
menggunakan reagen tes cepat (Rapid Test) atau dengan Universitas Sumatera
Utara ELISA. Untuk pemeriksaan pertama (A1) harus digunakan tes dengan
sensitifitas yang tinggi (>99%), sedang untuk pemeriksaan selanjutnya (A2
dan A3) menggunakan tes dengan spesifisitas tinggi (>99%). Antibodi
biasanya baru dapat terdeteksi dalam waktu 2 minggu hingga 3 bulan setelah
terinfeksi HIV yang disebut masa jendela. Bila tes HIV yang dilakukan dalam
masa jendela menunjukkan hasil negatif, maka perlu dilakukan tes ulang,
terutama bila masih terdapat perilaku yang berisiko.
e. Western Blot
Pemeriksaan Western Blot merupakan uji konfirmasi dari hasil reaktif ELISA atau
hasil serologi rapid tes sebagai hasil yang benar-benar positif. karena pemeriksaan
ini lebih sensitif dan lebih spesifik . Western Blot mempunyai spesifisitas tinggi
yaitu 99,9% apabila dikombinasi dengan pemeriksaan ELISA. Namun
pemeriksaan cukup sulit, mahal membutuhkan waktu sekitar 24 jam.
Cara kerja test Western Blot yaitu dengan meletakkan HIV murni pada
polyacrylamide gel yang diberi arus elektroforesis sehingga terurai menurut berat
protein

yang

berbeda-beda,

kemudian

dipindahkan

ke

nitrocellulose.

Nitrocellulose ini diinkubasikan dengan serum penderita. Antibody HIV dideteksi


dengan memberikan antlbody anti-human yang sudah dikonjugasi dengan enzim
yang menghasilkan wama bila diberi suatu substrat. Test ini dilakukan bersama
dengan suatu bahan dengan profil berat molekul standar, kontrol positif dan
negatif. Gambaran band dari bermacam-macam protein envelope dan core dapat
mengidentifikasi macam antigen HIV. Antibody terhadap protein core HIV (gag)
misalnya p24 dan protein precursor (p25) timbul pada stadium awal kemudian
menurun pada saat penderita mengalami deteriorasi. Antibody terhadap envelope
(env) penghasil gen (gp160) dan precursor-nya (gp120) dan protein transmembran
(gp4l) selalu ditemukan pada penderita AIDS pada stadium apa saja. Secara
singkat dapat dikatakan bahwa bila serum mengandung antibody HIV yang
lengkap maka Western blot akan memberi gambaran profil berbagai macam band
protein dari HIV antigen cetakannya.
f. Indirect Fluorescent Antibody (IFA)

IFA juga meurupakan pemeriksaan konfirmasi ELISA positif. Seperti halnya


pemeriksaan diatas, IFA juga mendeteksi antibody terhadap HIV. Uji ini sederhana
untuk dilakukan dan waktu yang dibutuhkan lebih sedikit dan sedikit lebih mahal
dari uji Western blot.
g. Uji Virologi
Tes virologi untuk diagnosis infeksi HIV-1 meliputi kultur virus, tes amplifikasi
asam nukleat / nucleic acid amplification test (NAATs) , test untuk menemukan
asam nukleat HIV-1 seperti DNA atau RNA HIV-1 dan test untuk komponen virus
(seperti uji untuk protein kapsid virus (antigen p24), dan PCR test.
h. Kultur HIV
HIV dapat dibiakkan dari limfosit darah tepi, titer virus lebih tinggi dalam plasma
dan sel darah tepi penderita AIDS. Pertumbuhan virus terdeteksi dengan menguji
cairan supernatan biakan setelah 7-14 hari untuk aktivitas reverse transcriptase
virus atau untuk antigen spesifik virus.
i. Nucleic Acid Amplification Test (NAAT HIV-1)
Menemukan RNA virus atau DNA proviral yang banyak dilakukan untuk diagnosis
pada window periode dan pada anak usia kurang dari 18 bulan. Karena asam
nuklet virus mungkin berada dalam jumlah yang sangat banyak dalam sampel.
Pengujian RNA dan DNA virus dengan amplifikasi PCR, menggunakan metode
enzimatik untuk mengamplifikasi RNA HIV-1.
j. PCR Test
Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah uji yang memeriksa langsung
keberadaanya plasma,darah,cairan cerebral,cairan cervical, sel-sel, dan cairan
semen. Metode Reserve Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT PCR) ini
yang paling sensitive.
PCR adalah suatu teknologi yang menghasilkan turunan / kopi yang berlipat ganda
dari sekuen nukleotida dari organism target, yang dapat mendeteksi target
organism dalam jumlah yang sangat rendah dengan spesifitas yang tinggi. Tes ini
dapat dilakukan lebih cepat yaitu sekitar seminggu setelah terpapar virus HIV. Tes
ini sangat mahal dan memerlukan alat yang canggih. Oleh karena itu, biasanya
hanya dilakukan jika uji antibodi diatas tidak memberikan hasil yang pasti.
k. VCT

Definisi Konseling dalam Voluntary Counseling and Testing


(VCT)

Konseling dalam VCT adalah kegiatan konseling yang menyediakan dukungan


psikologis, informasi dan pengetahuan HIV/AIDS, mencegah penularan HIV,
mempromosikan perubahan perilaku yang bertanggungjawab, pengobatan
antiretroviral (ARV) dan memastikan pemecahan berbagai masalah terkait dengan
HIV/AIDS yang bertujuan untuk perubahan perilaku ke arah perilaku lebih sehat
dan lebih aman (Pedoman Pelayanan VCT, 2006).

Prinsip Layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT)


VCT merupakan salah satu strategi kesehatan masyarakat dan sebagai
pintu masuk ke seluruh layanan kesehatan HIV/AIDS berkelanjutan yang
berdasarkan prinsip:.

- Sukarela dalam melaksanakan testing HIV


Pemeriksaan HIV hanya dilaksanakan atas dasar kerelaan klien tanpa paksaan dan
tanpa tekanan. Keputusan untuk melakukan pemeriksaan terletak ditangan klien.
Testing dalam VCT bersifat sukarela sehingga tidak direkomendasikan untuk
testing wajib pada pasangan yang akan menikah, pekerja seksual, Injecting Drug
User (IDU), rekrutmen pegawai / tenaga kerja Indonesia dan asuransi kesehatan.
- Saling mempercayai dan terjaminnya konfidensialitas.
Layanan harus bersifat profesional, menghargai hak dan martabat semua klien.
Semua informasi yang disampaikan klien harus dijaga kerahasiaannya oleh
konselor dan petugas kesehatan, tidak diperkenankan didiskusikan diluar konteks
kunjungan klien. Semua informasi tertulis harus disimpan dalam tempat yang
tidak dapat dijangkau oleh mereka yang tidak berhak. Untuk penanganan kasus
klien selanjutnya dengan seijin klien maka informasi kasus dari diri klien dapat
diketahui.
- Mempertahankan hubungan relasi konselor dan klien yang efektif Konselor
mendukung klien untuk kembali mengambil hasil testing dan mengikuti
pertemuan konseling pasca testing untuk mengurangi prilaku beresiko. Dalam
VCT dibicarakan juga respon dan perasaan klien dalam menerima hasil testing
dan tahapan penerimaan hasil testing positif. - Testing merupakan salah satu
komponen dari VCT.

WHO dan Departemen Kesehatan RI telah memberikan pedoman yang dapat


digunakan untuk melakukan testing HIV. Penerimaan hasil testing senantiasa
diikuti oleh konseling pasca testing oleh konselor yang sama atau konselor lain
yang disetujui oleh klien.
-

Model Layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT)


Pelayanan VCT dapat dikembangkan diberbagai layanan terkait yang
dibutuhkan, misalnya klinik Infeksi Menular Seksual (IMS), klinik
Tuberkulosa (TB), Klinik Tumbuh Kembang Anak dan sebagainya. Lokasi
layanan VCT hendaknya perlu petunjuk atau tanda yang jelas hingga mudah
diakses dan mudah diketahui oleh klien VCT. Namun klinik cukup mudah
dimengerti sesuai dengan etika dan budaya setempat dimana pemberian nama
tidak mengundang stigma dan diskriminasi. Model layanan VCT terdiri atas :

Mobile VCT (Penjangkauan dan keliling)


Mobile VCT adalah model layanan dengan penjangkauan dan keliling yan
dapat dilaksanakan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau layanan
kesehatan yang langsung mengunjungi sasaran kelompok masyarakat yang
memiliki perilaku berisiko atau berisiko tertular HIV/AIDS di wilayah
tertentu. Layanan ini diawali dengan survei atau penelitian atas kelompok
masyarakat di wilayah tersebut dan survei tentang layanan kesehatan dan
layanan dukungan lainnya di daerah setempat.

Statis VCT (Klinik VCT tetap)


Statis VCT adalah sifatnya terintegrasi dalam sarana kesehatan dan sarana
kesehatan lainnya, artinya bertempat dan menjadi bagian dari layanan
kesehatan yang telah ada. Sarana kesehatan dan sarana kesehatan lainnya
harus memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan masyarakat akan VCT,
layanan pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan terkait dengan
HIV/AIDS.
Tahapan Layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT)
a. Pre-test counseling

Pre-test counseling adalah diskusi antara klien dan konselor yang bertujuan
untuk menyiapkan klien untuk testing, memberikan pengetahuan pada klien
tentang HIV/AIDS. Isi diskusi yang disampaikan adalah klarifikasi
pengetahuan klien tentang HIV/AIDS, menyampaikan prosedur tes dan
pengelolaan diri setelah menerima hasil tes, menyiapkan klien menghadapi
hari

depan,

membantu

klien

memutuskan

akan

tes

atau

tidak,

mempersiapkan informed consent dan konseling seks yang aman. b. HIV


testing
Pada umumnya, tes HIV dilakukan dengan cara mendeteksi antibodi dalam
darah seseorang. Jika HIV telah memasuki tubuh seseorang, maka di dalam
darah akan terbentuk protein khusus yang disebut antibodi. Antibodi adalah
suatu zat yang dihasilkan sistem kekebalan tubuh manusia sebagai reaksi
untuk membendung serangan bibit penyakit yang masuk. Pada umumnya
antibodi terbentuk di dalam darah seseorang memerlukan waktu 6 minggu
sampai 3 bulan tetapi ada juga sampai 6 bulan bahkan lebih. Jika seseorang
memiliki antibodi terhadap HIV di dalam darahnya, hal ini berarti orang itu
telah terinfeksi HIV.
Tes HIV yang umumnya digunakan adalah Enzyme Linked Imunosorbent
Assay (ELISA), Rapid Test dan Western Immunblot Test. Setiap tes HIV ini
memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang berbeda. Sensitivitas adalah
kemampuan tes untuk mendeteksi adanya antibodi HIV dalam darah
sedangkan spesifisitas adalah kemampuan tes untuk mendeteksi antibodi
protein HIV yang sangat spesifik.
- Enzyme Linked Imunosorbent Assay (ELISA)
Tes ini digunakan untuk mendeteksi antibodi yang dibuat tubuh terhadap
virus HIV. Tes ELISA ini dapat dilakukan dengan sampel darah vena, air
liur, atau air kencing. Hasil positif pada ELISA belum dapat dipastikan
bahwa orang yang diperiksa telah terinfeksi HIV karena tes ini mempunyai
sensitivitas tinggi tetapi spesifisitas rendah. Oleh karena itu masih
diperlukan tes pemeriksaan lain untuk mengkonfirmasi hasil pemeriksaan
ELISA ini. Jadi walaupun ELISA menunjukkan hasil positif, masih ada dua

kemungkinan, orang tersebut sebenarnya tidak terinfeksi HIV atau betulbetul telah terinfeksi HIV.
- Rapid Test
Penggunaan dengan metode rapid test memungkinkan klien mendapatkan
hasil tes pada hari yang sama dimana pemeriksaan tes hanya membutuhkan
waktu 10 menit. Metode pemeriksaan dengan menggunakan sampel darah
jari dan air liur. Tes ini mempunyai sensitivitas tinggi (mendekati 100%) dan
spesifisitas (>99%). Hasil positif pada tes ini belum dapat dipastikan apakah
dia terinfeksi HIV. Oleh karena itu diperlukan pemeriksaan tes lain untuk
mengkonfirmasi hasil tes ini.
- Western Immunoblot Test
Sama halnya dengan ELISA, Western Blot juga mendeteksi antibodi
terhadap HIV. Western blot digunakan sebagai tes konfirmasi untuk tes HIV
lainnya karena mempunyai spesifisitas yang lebih tinggi untuk memastikan
apakah terinfeksi HIV atau tidak.
c. Post-test counseling
Post-test counseling adalah diskusi antara konselor dengan klien yang
bertujuan menyampaikan hasil tes HIV klien, membantu klien beradaptasi
dengan hasil tes, menyampaikan hasil secara jelas, menilai pemahaman
mental emosional klien, membuat rencana dengan menyertakan orang lain
yang bermakna dalam kehidupan klien, menjawab, menyusun rencana
tentang kehidupan yang mesti dijalani dengan menurunkan perilaku berisiko
dan perawatan, dan membuat perencanaan dukungan.

9. Komplikasi

(1) Oral Lesi : Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral,
gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral,
nutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat.
(2) Neurologi
a. kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung

Human

Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan


kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi
social.
b. Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia,
ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit
kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.
c. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan
maranik endokarditis.
d. Neuropati karena imflamasi

demielinasi

oleh

serangan

Human

Immunodeficienci Virus (HIV).


(3) Gastrointestinal
a. Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma,
dan

sarcoma

Kaposi.

Dengan

efek,

penurunan

berat

badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi.


b. Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal,
alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam
atritis.
c. Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal
yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal,
gatal-gatal dan siare.
(4) Respirasi : Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus
influenza, pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas pendek
,batuk, nyeri, hipoksia, keletihan, dan gagal nafas.
(5) Dermatologik : Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster,
dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan
efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan sepsis.
(6) Sensorik
a. Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
b. Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan
pendengaran dengan efek nyeri.

Adapun komplikasi yang terjadi pada pasin HIV/AIDS adalah sebagai


berikut :
a. Kandidiasis bronkus, trakea, atau paru-paru
b. Kandidiasis esophagus
c. Kriptokokosis ekstraparu
d. Kriptosporidiosis,intestinal kronis (>1 bulan)
e. Renitis CMV ( gangguan penglihatan)
f. Herpes simplek: ulkus kronik (1 bulan)
g. Mycobacterium tuberculosis,diparu atau ekstra paru
h. Ensefealitis toxoplasma
10. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan HIV-AIDS pada dasarnya meliputi aspek Medis Klinis, Psikologis
dan Aspek Sosial
(1) Aspek Medis Klinis
Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka terapinya yaitu
(Endah Istiqomah : 2009) :
a. Pengendalian
Infeksi

Opurtunistik:

Bertujuan

menghilangkan,

mengendalikan, dan pemulihan infeksi opurtunistik, nasokomial, atau sepsis.


Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi
bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien
dilingkungan perawatan kritis.Berikut ini penyakit infeksi Oportunistik yang
sering terdapat pada penderita infeksi HIV dan AIDS.
a) Tuberkulosis : Sejak epidemi AIDS maka kasus TBC meningkat kembali.
Dosis INH 300 mg setiap hari dengan vit B6 50 mg paling tidak untuk
masa satu tahun.
b) Toksoplasmosis : Sangat perlu diperhatikan makanan yang kurang masak
terutama daging yang kurang matang. Obat : TMP-SMX 1 dosis/hari.
c) CMV : Virus ini dapat menyebabkan Retinitis dan dapat menimbulkan
kebutaam. Ensefalitis, Pnemonitis pada paru, infeksi saluran cernak yang
dapat menyebabkan luka pada usus. Obat : Gansiklovir kapsul 1 gram
tiga kali sehari.
d) Jamur : Jamur yang paling sering ditemukan pada penderita AIDS adalah
jamur Kandida. Obat : Nistatin 500.000 u per hari Flukonazol 100 mg
per hari.
b. Terapi AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif
terhadap

AIDS,

obat

ini

menghambat

replikasi

antiviral

Human

Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik


traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 .
Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency Virus
(HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3.
c. Terapi Antiviral Baru
Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan
menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada
prosesnya. Obat-obat ini adalah:
a) Didanosine
b) Ribavirin
c) Diedoxycytidine
d) Recombinant CD 4 dapat larut
d. Vaksin dan Rekonstruksi Virus
Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon,
maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian
dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman
dan keberhasilan terapi AIDS.
e. Pengobatan Antiretroviral (ARV)
a) Jangan gunakan obat tunggal atau 2 obat
b) Selalu gunakan minimal kombinasi 3 ARV disebut HAART (Highly
Active Anti Retroviral therapy)
c) Kombinasi ARV lini pertama pasien nave (belum pernah pakai ARV
sebelumnya) yang dianjurkan : 2NRTI + 1 NNRTI.
d) Di Indonesia :
Lini pertama : AZT + 3TC + EFV atau NVP
Alternatif
: d4T + 3TC + EFV atau NVP AZT atau d4T + 3TC + 1PI
(LPV/r)
e) Terapi seumur hidup, mutlak perlu kepatuhan karena resiko cepat terjadi
resisten bila sering lupa minum obat.
f. Diet
Penatalaksanaan diet untuk penderita AIDS (UGI:2012) adalah
a) Tujuan Umum Diet Penyakit HIV/AIDS adalah:
- Memberikan intervensi gizi secara cepat dengan mempertimbangkan
seluruh aspek dukungan gizi pada semua tahap dini penyakit infeksi
-

HIV.
Mencapai dan mempertahankan berat badan secara komposisi tubuh

yang diharapkan, terutama jaringan otot (Lean Body Mass).


Memenuhi kebutuhan energy dan semua zat gizi.

Mendorong perilaku sehat dalam menerapkan diet, olahraga dan

relaksasi.
b) Tujuan Khusus Diet Penyakit HIV/AIDS adalah:
(a) Mengatasi gejala diare, intoleransi laktosa, mual dan muntah.
(b) Meningkatkan kemampuan untuk memusatkan perhatian, yang
terlihat pada: pasien dapat membedakan antara gejala anoreksia,
perasaan kenyang, perubahan indra pengecap dan kesulitan menelan.
(c) Mencapai dan mempertahankan berat badan normal.
(d) Mencegah penurunan berat badan yang berlebihan (terutama
jaringan otot).
(e) Memberikan kebebasan pasien untuk memilih makanan yang
adekuat sesuai dengan kemampuan makan dan jenis terapi yang
diberikan.
(f) Syarat-syarat Diet HIV/AIDS adalah:
- Energi tinggi. Pada perhitungan kebutuhan energi, diperhatikan
faktor stres, aktivitas fisik, dan kenaikan suhu tubuh. Tambahkan
energi sebanyak 13% untuk setiap kenaikan Suhu 1C.
-

Protein tinggi, yaitu 1,1 1,5 g/kg BB untuk memelihara dan


mengganti jaringan sel tubuh yang rusak. Pemberian protein

disesuaikan bila ada kelainan ginjal dan hati.


Lemak cukup, yaitu 10 25 % dari kebutuhan energy total. Jenis
lemak

disesuaikan

dengan

toleransi

pasien.Apabila

ada

malabsorpsi lemak, digunakan lemak dengan ikatan rantai sedang


(Medium Chain Triglyceride/MCT). Minyak ikan (asam lemak
omega 3) diberikan bersama minyak MCT dapat memperbaiki
-

fungsi kekebalan.
Vitamin dan Mineral tinggi, yaitu 1 kali (150%) Angka
Kecukupan Gizi yang di anjurkan (AKG), terutama vitamin A,
B12, C, E, Folat, Kalsium, Magnesium, Seng dan Selenium. Bila
perlu dapat ditambahkan vitamin berupa suplemen, tapi
megadosis harus dihindari karena

dapat menekan kekebalan

tubuh.
Serat cukup; gunakan serat yang mudah cerna.
Cairan cukup, sesuai dengan keadaan pasien. Pada pasien dengan
gangguan fungsi menelan, pemberian cairan harus hati-hati dan

diberikan bertahap dengan konsistensi yang sesuai. Konsistensi


cairan dapat berupa cairan kental (thick fluid), semi kental (semi
-

thick fluid) dan cair (thin fluid).


Elektrolit. Kehilangan elektrolit melalui muntah dan diare perlu

diganti (natrium, kalium dan klorida).


Bentuk makanan dimodifikasi sesuai dengan keadaan pasien. Hal
ini sebaiknya dilakukan dengan cara pendekatan perorangan,
dengan melihat kondisi dan toleransi pasien. Apabila terjadi
penurunan berat badan yang cepat, maka dianjurkan pemberian
makanan melalui pipa atau sonde sebagai makanan utama atau

makanan selingan.
Makanan diberikan dalam porsi kecil dan sering.
Hindari makanan yang merangsang pencernaan baik secara
mekanik, termik, maupun kimia.

(g) Jenis Diet dan Indikasi Pemberian


Diet AIDS diberikan pada pasien akut setelah terkena infeksi HIV,
yaitu kepada pasien dengan:
-

Infeksi HIV positif tanpa gejala.


Infeksi HIV dengan gejala (misalnya panas lama, batuk, diare,
kesulitan menelan, sariawan dan pembesaran kelenjar getah

bening).
- Infeksi HIV dengan gangguan saraf.
- Infeksi HIV dengan TBC.
- Infeksi HIV dengan kanker dan HIV Wasting Syndrome.
Makanan untuk pasien AIDS dapat diberikan melalui tiga cara, yaitu
secara oral, enteral (sonde) dan parental (infus). Asupan makanan
secara oral sebaiknya dievaluasi secara rutin. Bila tidak mencukupi,
dianjurkan pemberian makanan enteral atau parental sebagai tambahan
atau sebagai makanan utama. Ada tiga macam diet AIDS yaitu Diet
AIDS I, II dan III.
Diet AIDS I : Diet AIDS I diberikan kepada pasien infeksi HIV
akut, dengangejala panas tinggi, sariawan, kesulitan menelan,
sesak nafas berat, diare akut, kesadaran menurun, atau segera
setelah pasien dapat diberi makan.Makanan berupa cairan dan
bubur susu, diberikan selama beberapa hari sesuai dengan

keadaan pasien, dalam porsi kecil setiap 3 jam. Bila ada kesulitan
menelan, makanan diberikan dalam bentuk sonde atau dalam
bentuk kombinasi makanan cair dan makanan sonde. Makanan
sonde dapat dibuat sendiri atau menggunakan makanan enteral
komersial energi dan protein tinggi. Makanan ini cukup energi,
zat besi, tiamin dan vitamin C. bila dibutuhkan lebih banyak

energy dapat ditambahkan glukosa polimer (misalnya polyjoule).


Diet AIDS II :Diet AIDS II diberikan sebagai perpindahan Diet
AIDS I setelah tahap akut teratasi. Makanan diberikan dalam
bentuk saring atau cincang setiap 3 jam.Makanan ini rendah nilai
gizinya dan membosankan. Untuk memenuhi kebutuhan energy
dan zat gizinya, diberikan makanan enteral atau sonde sebagai

tambahan atau sebagai makanan utama.


Diet AIDS III :Diet AIDS III diberikan sebagai perpindahan dari
Diet AIDS II atau kepada pasien dengan infeksi HIV tanpa gejala.
Bentuk makanan lunak atau biasa, diberikan dalam porsi kecil dan
sering.Diet ini tinggi energy, protein, vitamin dan mineral.
Apabila kemampuan makan melalui mulut terbatas dan masih
terjadi

penurunan berat badan, maka dianjurkan pemberian

makanan sonde sebagai makanan tambahan atau makanan utama