Anda di halaman 1dari 8

No. ID dan Nama Peserta : dr.

Fadhila Kamayanti
No. ID dan Nama Wahana: Puskesmas Pasir Belengkong
Topik: Demam Tifoid
Tanggal (kasus) : 16 Mei 2016
Nama Pasien : An. Atha / 42 bulan
No. RM : 30201.1.0234
Tanggal presentasi : April 2016
Pendamping: dr. Nelly Verawati
Tempat presentasi: Puskesmas Pasir Belengkong
Obyek presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan pustaka
Diagnostik
Masalah
Istimewa
Manajemen
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi: Demam sejak 13 hari yang lalu
Tujuan:
Bahan
Tinjauan
Riset
Kasus
Audit
bahasan:
Cara
membahas:

pustaka
Diskusi

Presentasi dan

E-mail

Pos

diskusi

Data Pasien:
Nama: An A / 42 bulan
No.Registrasi: 30201.1.0234
Nama klinik
Puskesmas Pasir Belengkong
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis/gambaran klinis:
Demam sudah dialami pasien 13 hari yang lalu. Demam timbul terutama malam hari, turun jika
diberi minum obat penurun panas. Menggil (-) berkeringat (-). selain demam pasien juga
mengeluhkan perut sakit, mual (-) muntah (-), ketika malam terkadang suka mengigau, BAK (+)
tidak ada keluhan, BAB (+) tidak ada keluhan. Pasien juga mengalami batuk dahak serta pilek,
ingus encer jernih sejak 4 hari yang lalu. Makan minum (+) namun berkurang
Ibu pasien mengaku suka membelikan makan jajanan di jalanan untuk pasien.
2. Riwayat pengobatan: Pasien berobat sebelumnya 4 hari yang lalu, namun demam masih muncul
3. Riwayat kesehatan/penyakit: pasien belum pernah menderita penyakit serupa sebelumnya.
4. Riwayat keluarga: Tidak ada keluarga yang menderita penyakit sama dengan pasien
5. Riwayat pekerjaan: tidak ada
6. Lain-lain:
Daftar Pustaka:
Hasil pembelajaran:

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:


1. Subyektif:
Demam 13 hari yang lalu, tinggi terutama malam hari
Nyeri perut
Suka mengigau saat tidur
Batuk dan pilek 4 hari yang lalu
Nafsu makan berkurang
1

Sukadiberi makanan sembarangan


.
2. Obyektif:
Pemeriksaan fisik :
Keadaan Umum/Kesadaran : Tampak sakit ringan
N = 96 kali/menit, RR = 20 kali/menit, S = 37,8C
BB = 14 kg, PB = 101 cm, status gizi baik
Kepala
Leher
Dada

: Bibir sianosis (-), CA(-/-), SI(-/-), mulut sde (pasien menolak membuka mulut)
: Pembesaran KGB (-), massa (-)
:
Cor : BJ1-2 tunggal ireguler
Pulmo: sp. Vesikuler, RH-/- Wh-/Abdomen : inspeksi flat, sikatris (-), massa (-)
Auskultasi Bising U (+) N
Palpasi NT (+) epigastrium, teraba massa (-)
Perkusi timpani
Ekstremitas : Akral hangat, CRT <2, piiting oedem (-/-)
Pemeriksaan Penunjang:
Darah lengkap:
Hb: 13,6 gr/dl
Leukosit: 3700 /mcL Leukopenia
Trombosit: 332000/mcL
Hct: 36, 8 %
Widal:
S typhi O : 1/160
S. typhi H : 1/80
Paratyphi AH: 1/80
Paratyphi BO: negatif
3. Assesment: Obs Febris H XIII ec Tifoid fever dengan status gizi baik
4. Planning: Thiamphenikol sirup flash No I 4 dd Cth 1,5 pc (habiskan)
Parasetamol sirup flash No I s 3 dd Cth 1,5 prn
Ambroxol tab 30 mg No III
CTM tab 4 mg No III
Vit C tab 50 mg No II
Mf pulv no X
s. 3 dd pulv 1 pc
edukasi: makan makanan yang sehat dan bergizi, untuk sementara diet lunak
jangan memakan yang tinggi serat dulu.
Jangan minum air yang dingin, perbanyak minum air hangat.
Keterampilan:
Pemeriksaan demam tifoid umumnya dilakukan secara menyeluruh. Mulai dari Keadaan umum,
kesadaran, tanda vital, status gizi (terutama pada bayi-balita), pemeriksaan kepala sampai ekstremitas.
1. Keadaan umum
Pada bayi ataupun balita yang menderita demam tifoid menunjukkan tampakan sakit ringan
sampai berat.
2

2. Kesadaran
Pada saat demam sudah tinggi, pada kasus demam tifoid dapat disertai gejala sistem saraf pusat,
seperti kesadaran berkabut atau delirium/ obtundasi, atau bahkan hingga penurunan kesadaran
mulai apati sampai koma.
COMPOS MENTIS
Yaitu sadar sepenuhnya, baik terhadap dirinya maupun terhadap lingkungannya. klien dapat
menjawab pertanyaan pemeriksa dengan baik.
APATIS
Keadaan di mana klien tampak segan dan acuk tak acuh terhadap lingkungannya.
DELIRIUM
Yaitu penurunan kesadaran disertai kekacauan motorik dan siklus tidur bangun yang terganggu.
Klien tampak gaduh gelisah, kacau, disorientasi dan meronta-ronta.
SOMNOLEN (Letergia, Obtundasi, Hipersomnia)
Yaitu keadaan mengantuk yang masih dapat pulih bila dirangsang, tetapi bila rangsang berhenti,
klien akan tertidur kembali.
SOPOR (Stupor)
Keadaan mengantuk yang dalam, Klien masih dapat dibangunkan dengan rangsang yang kuat,
misalnya rangsang nyeri, tetapi klien tidak terbangun sempurna dan tidak dapat memberikan
jawaban verbal yang baik.
SEMI-KOMA (koma ringan)
Yaitu penurunan kesadaran yang tidak memberikan respons terhadap rangsang verbal, dan tidak
dapat dibangunkan sama sekali, tetapi refleks (kornea, pupil) masih baik. Respons terhadap
rangsang nyeri tidak adekuat.
KOMA
Yaitu penurunan kesadaran yang sangat dalam, tidak ada gerakan spontan dan tidak ada respons
terhadap rangsang nyeri.
3. TTV
- TD:
Pengukuran seperti pada dewasa, tetapi memakai manset khusus
untuk anak, yang ukurannya lebih kecil dari manset dewasa. Besar
manset antara setengah sampai dua per tiga lengan atas. Tekanan
darah waktu lahir 60 90 mmHg sistolik, dan 20 60 mmHg
diastolik. Setiap tahun biasanya naik 2 3 mmHg untuk kedua-duanya dan sesudah pubertas
mencapai tekanan darah dewasa.
- HR:
Perlu diperhatikan, frekuensi/laju nadai (N: 60-100 x/menit), irama,
isi/kualitas nadi dan ekualitas (perabaan nadi pada keempat
ekstrimitas
- RR:
Perlu diperhatikan laju nafas, irama, kedalaman dan pola
pernafasan.
- T:
Pengukuran suhu tubuh dapat dilakukan dengan beberapa cara :
1. Rectal: Anak tengkurap di pangkuan ibu, ditahan dengan tangan kiri, dua jari tangan kiri
3

memisahkan dinding anus kanan dengan kiri, dan termometer dimasukkan anus dengan tangan
kanan ibu.
2. Oral: Termometer diletakkan di bawah lidah anak. Biasanya dilakukan 6 tahun.untuk anak
3. Aksiler: Termometer ditempelkan di ketiak dengan lengan atas lurus lebihselama 3 menit.
Umumnya suhu yang diperoleh 0,5 rendah dari suhu rektal.
Nb. Pada demam tifoid, demam yang terjadi pada penderita anak tidak selalu tipikal

seperti pada orang dewasa, kadang-kadang mempunyai gambaran klasik berupa stepwise
pattern, dapat pula mendadak tinggi dan remiten (39 41 o C) serta dapat pula bersifat
ireguler terutama pada bayi yang tifoid kongenital.
Walaupun tidak selalu konsisten, bradikardi relatif saat demam tinggi dapat dijadikan
indikator demam tifoid.
4. Status Gizi
Di nilai melalui Data Antropometriknya
Berat Badan
Berat badan merupakan parameter yang paling sederhana dan
merupakan indeks untuk mengukur status gizi.
Interpretasi :
1. BB/U dipetakan pada kurve berat badan
BB< sentil ke 10 : defisit
BB> sentil ke 90 : kelebihan
2. BB/U dibandingkan dengan acuan standar, dinyatakan
persentase :
> 120%

: gizi lebih

80% 120% : gizi baik


60% - 80%

: tanpa edema, gizi kurang; dengan edema, gizi buruk

< 60%
: gizi buruk, tanpa edema (marasmus), dengan edema (kwasiorkhor).
Tinggi Badan
Dinilai dengan :
1. TB/U pada kurva
2. TB/U dibandingkan standar baku (%)
3. BB/TB
5. Status generalis:
Kepala
- Mata
- Hidung
- Mulut
4

Bibir
Gigi

: warna, fisura, simetri/tidak, gerakan.


:Banyaknya,

letak,

motling,

maloklusi,

tumbuh

lambat/tidak.

Selaput lendir mulut : warna, peradangan, pembengkakan.

Lidah

kering/tidak,

kotor/tidak,

tremor/tidak,

warna,

ukuran, gerakan, tepi hiperemis/tidak.


Nb. Menilai bagian Lidahnya, lidah tifoid(+/-) biasanya ini terjadi beberapa hari setelah
panas meningkat dengan tanda-tanda antara lain, lidah tampak kering, diolapisi selaput tebal, di
bagian belakang tampak lebih pucat, di bagian ujung dan tepi lebih kemerahan. Bila penyakit
makin progresif, akan terjadi deskuamasi epitel sehingga papila lebih prominen.

Palatum : warna, terbelah/tidak, perforasi/tidak.


-

Tenggorok
Pemeriksaan tenggorok dilakukan dengan menggunakan alat skalpel, anak disuruh
mengeluarkan lidah dan mengatakan ah yang keras, selanjutnya spaltel diletakkan pada
lidah sedikit ditekan kebawah. Perhatikan : uvula, epiglotis, tonsil besarnya, warna,
paradangan, eksudat, kripte)
Leher:
panjang/pendeknya, kelenjar leher, letak trakhea, pembesaran kelenjar tiroid, pelebaran

vena, pulsasi karotis, dan gerakan leher.


Thorax
Inspeksi
Pada anak < lingkar kepala2 tahun : lingkar dada
Pada anak > lingkar kepala.2 tahun : lingkar dada
Perhatikan
a. Bentuk thorax : funnel chest, pigeon chest, barell chest, dll
b. Pengembangan dada kanan dan kiri : simetri/tidak, ada retraksi.tidak
c. Pernafasan : cheyne stokes, kusmaul, biot

d. Ictus cordis
Palpasi
Perhatikan :
5

1. Pengembangan dada : simetri/tidak


2. Fremitus raba : dada kanan sama dengan kiri/tidak
3. Sela iga : retraksi/tidak
-

4. Perabaan iktus cordis


Perkusi
Dapat dilakukan secara langsung dengan menggunakan satu
jari/tanpa bantalan jari lain, atau secara tidak langsung dengan
menggunakan 2 jari/bantalan jari lain. Jangan mengetok terlalu keras
karena dinding thorax anak lebih tipis dan ototnya lebih kecil.
Tentukan :
1. Batas paru-jantung
2. Batas paru-hati : iga VI depan
3. Batas diafragma : iga VIII X belakang.

Bedakan antara suara sonor dan redup.


Auskultasi
Tentukan suara dasar dan suara tambahan :
Suara dasar : vesikuler, bronkhial, amforik, cog-wheel breath
sound, metamorphosing breath sound.
Suara tambahan : ronki, krepitasi, friksi pleura, wheezing

Suara jantung normal, bising, gallop.


Abdomen
Inspeksi
Bentuk : cekung/cembung, Pernafasan : pernafasan abdominal normal pada bayi

dan anak kecil, Umbilikus : hernia/tidak, Gambaran vena : spider navy, Gambaran peristaltic
Auskultasi
suara peristaltik, normal akan terdengar tiap 10 30 detik.
Perkusi
Normal akan terdengar suara timpani. Dilakukan untuk menentukan udara dalam usus, atau

adanya cairan bebas/ascites.


Palpasi
Palpasi dilakukan dengan cara : anak disuruh bernafas dalam, kaki dibengkokkan di sendi
lutut, palpasi dilakukan dari kiri bawah ke atas, kemudian dari kanan atas ke bawah. Apabila
ditemukan bagian yang nyeri, dipalpasi paling akhir.
jika adanya nyeri tekan tentukan lokasinya. Nilai perabaan terhadap hati, limpa, dan ginjal.
HATI
Palpasi mono/bimanual
Ukur besar hati dengan cara :
1. Titik persilangan linea mediclavicularis kanan dan arcus kosta dihubungkan
6

dengan umbilikus.
2. Proc. Xifoideus disambung dengan umbilicus.
Normal : 1/3 1/3 sampai usia 5 6 tahun.
Nilai
: konsistensi, permukaan, tepi, pulsasi, nyeri tekan.
LIMPA
Ukur besar limpa (schuffner) dengan cara :
Tarik garis singgung a dengan bagian arcus costa kiri. Dari umbilikus tarik garis b
tegak lurus a bagi dalam 4 bagian. Garis b diteruskan ke bawah sampai lipat paha,
bagi menjadi 4 bagian juga Sehingga akan didapat S1 S8
Nb. Demam tifoid umumnya dapat ditemukan pembesaran organ hepar (Hepatomegali) dan
Limpa (splenomegali) atau kedua-duanya pada stadium lebih lanjut.

Limpa umumnya membesar dan sering ditemukan pada akhir minggu pertama dan
harus dibedakan dengan pembesaran karena malaria. Pembesaran limpa pada demam tifoid
tidak progresif dengan konsistensi lebih lunak.
GINJAL
Jari telunjuk diletakkan pada angulus kostovertebralis dan menekan keras ke atas,
akan teraba ujung bawah ginjal kanan. Tangan kanan mengangkat abdomen anak
yang telentang. Jari-jari tangan kiri diletakkan di bagian belakang sedemikian hingga
jari telunjuk di angulus kostovertebralis kemudian tangan kanan dilepaskan. Waktu
abdomen jatuh ke tempat tidur, ginjal teraba oleh jari-jari tangan kiri.
Ekstremitas
Nilai: kelainan bawaan, panjang dan bentuknya, clubbing finger, dan pembengkakan
tulang, CRT
Persendian: suhu, nyeri tekan, pembengkakan, cairan, kemerahan, dan
gerakan.
Otot: spasme, paralisis, nyeri, dan tonus.