Anda di halaman 1dari 5

Pada praktikum kali ini, dilakukan 3 pemeriksaan urine, diantaranya pemeriksaan

bilirubin urine dengan metode Harrison, pemeriksaan urobilinogen urine dengan Metode
Ehrlich, dan pemeriksaan urobilin urine dengan Cara SchLezinger. Ketiga pemeriksaan ini
merupakan pemeriksaan kualitatif, dimana dalam pengamatannya hanya untuk mengetahui ada
atau tidaknya kandungan bilirubin, urpbilin, dan urobilinogen, tanpa mengetahui kadar yang
terdapat dalam urine tersebut. Berikut akan dijelaskan mengenai pemeriksaan tersebut di atas
Pemeriksaan Bilirubin
Pada praktikum pemeriksaan bilirubin urine, harus menggunakan urine sampel segar
yang kurang dari 4 jam. Hal ini dikarenakan bilirubin akan teroksidasi jika terlalu lama dan
terpapar oleh cahaya, sehingga akan menghasilkan nilai yang negative palsu. Pada praktikum
ini, kami menggunakan sampel A, yang berasal dari rumah sakit. Jika diamati secara
makroskopis, sampel A tersebut berwarna kuning sedikit pekat dan memiliki bau yang khas.
Pada percobaan Harrison ini, mula-mula dipipet 3 mL sampel urine dan dimasukkan ke
dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 mL BaCl2 10%. Penambahan BaCl2 berfungsi
agar BaCl2 bereaksi dengan sulfat yang terdapat dalam urine sehingga membentuk endapan
BaSO4. Endapan ini kemudian disaring dengan kertas saring untuk memperoleh residunya.
Setelah itu, residu di atas kertas saring dibiarkan mengering di tempat yang gelap kemudian
ditambahkan reagen faucet. Reagen faucet ini berfungsi untuk untuk mengoksidasi bilirubin
menjadi biliverdin. Adapun komposisi reagen fouchet adalah sebagai berikut :
-

Asam trichorasetat 25 gram


Fungsi : mengendapkan protein
Larutan FeCl3 10% sebanyak 10 ml
Fungsi :Mengoksidasi bilirubin menjadi biliverdin
Aquades 100 ml
Fungsi : Sebagai pengencer

Setelah dilakukan penambahan reagen Fauchet, residu yang ada di kertas saring tidak
menunjukkan warna hijau, melainkan tetap berwarna putih. Hal ini menandakan bahwa dalam
sampel urine A negatif bilirubin karena tidak terbentuk hasil berwarna hijau. Adapun kelemahan
dari pemeriksaan bilirubin dengan cara Harrison ini sangatlah lama dalam pemeriksaannya. Hal
ini dikarenakan kita harus menunggu residunyanya mengering sehingga bisa ditetesi reagen
fauchet.
Adapun syarat - Syarat pemeriksaan bilirubin urine dengan metode Harrison adalah :

Urin segar, karena bilirubin belum terksidasi menjadi biliverdin , sehingga menyebabkan

hasil pemeriksaan bilirubin menjadi (-) palsu


Botol penampung urin coklat, karena untuk menghindari pengaruh sinar/oksidasi,
sehingga bilirubin belum teroksidasi menjadi biliverdin

Kadar bilirubin yang sangat tinggi dapat disebabkan oleh:


-

Neonatal hiperbilirubinemia , dimana hati bayi baru lahir tidak mampu untuk

memproses bilirubin menyebabkan penyakit kuning


Obstruksi saluran empedu yang luar biasa besar, batu misalnya di saluran empedu,

tumor menghalangi saluran empedu dll


Hati yang berat kegagalan dengan sirosis (misalnya sirosis bilier primer )
Crigler-Najjar sindrom
Dubin-Johnson syndrome
Choledocholithiasis (kronis atau akut).
Penyebab (+) palsu pemeriksaan horizon dapat disebabkan karena konsentrasi urobilin

tinggi dan obat-obatan (acriflavin dan pyridium). Sedangkan penyebab (-) palsu pemeriksaan
horizon adalah penyimpanan urine yang lama sehingga bilirubin sudah teroksidasi menjadi
biliverdin, sehingga hasil menjadi (-) palsu, Kertas saring belum kering sehingga bilirubin tidak
dapat bereaksi dengan fouchet, maka bilirubin tidak dapat teroksidasi menjadi biliverdin,
sehingga terjadi (-) palsu, Pengaruh cahaya / sinar yang disebabkan karena botol penampung
urin tidak gelap, sehingga bilirubin akan teroksidasi menjadi biliverdin sehingga menyebabkan
hasil (-) palsu

Pemeriksaan urobilinogen
Pada pemeriksaan urobilinogen dengan cara Ehrlich dengan menggunakan sampel A,
mula-mula diambil 5 mL urine dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan
12 tetes reagen Ehrlich. Penambahan reagen Ehrlich berfungsi untuk bereaksi dengan
urobilinogen dalam urine. Oleh karenya, perlu digunakan urine segar atau memakai urine yang
diawet dengan natrium karbonat untuk pemeriksaan ini karena urobilinogen dapat dioksidasi
oleh hawa udara teristimewa jika terkena sinar matahari sehingga berubah menjadi urobilin.
Setelah dilakukan penambahan reagen, sampel didiamkan selama 5 menit. Jika setelah 5 menit

didapati perubahan warna menjadi merah, maka sampel urine dapat dinyatakan positif
mengandung urobilinogen. Jika setelah 5 menit tidak ada perubahan warna, maka sampel urine
dinyatakan negatif mengandung urobilinogen. Dala hal ini, terjadi perubahan warna menjadi
merah kecokelatan pada sampel. Ini menandakan bahwa dalam urine pasien terdapat
urobilinogen.
Urobilinogen sering didapat dalam urine karena urobilinogen merupakan suatu zat hasil
perombakan hemoglobin yang digunakan untuk memberi warna urine. Kadar eksresi
urobilinogen normal dalam urine adalah 1-4mg/24jam. Jika didapati kadar urobilinogen lebih
dari kadar normal, maka kemungkinan terdapat kerusakan hati atau berlebihnya Hb yang
dirombak oleh hati.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan ini adalah bilirubin dalam urine dapat
mengganggu percobaan ini, karena akan membentuk zat hijau dengan reagen Ehrlich. Jika
pada urine mengandung bilirubin, maka harus dibuang terlebih dahulu dengan cara mengocok
urine dengan Calsium Hidroxida padat dan kemudian menyaringnya. Filtrat dipakai selanjutnya
untuk pemeriksaan urobilinogen.
Jika dalam pemeriksaan ini tidak menggunakan urine segar melainkan urine sewaktu,
maka sebaiknya memilih urine yang dikeluarkan pada sore haari karena eksresi urobilinoen
setinggi-tingginya teradi oada sore hari.
Hasil pemeriksaan juga harus diperiksa dalam waktu paling lama 5 menit, karena jika
dibiarkan terlalu lama maka warna merah akan menjadi lebih merah lagi. Selain urobilinogen,
ada beberapa zat lain (chromogen) yang juga menyusun warna merah dengan reagen ini,
zatzat ini termasuk golongan derivate indol. Diantaranya:
a. 5,6 dihidroxiindol pada melanuria
b. 5-hidroxiindole acetic acis pada sindroma carcinoid
c. Indoxil dan skatoxil sulfat
d. Porfoilinogen
Kehadiran salah satu zat di atas dapat menyebabkan temuan positif palsu. Tes ini dapat
diganggu oleh zat-zat lain yang tidak segolongan seperti sulfonamide dan procain
menghasilkan warna hijau, formalin menghambat reaksi. Infeksi dalam saluran kencing juga
mengganggu reaksi ini, pada infeksi mungkin terbentuk nitrit dalam urne dan nitrit itu
menyebabkan terjadinya warna hijau.
`
Masalah

Klinis

Peningkatan ekskresi urobilinogen dalam urine terjadi bila fungsi sel hepar menurun atau terdapat kelebihan
urobilinogen dalam saluran gastrointestinal yang melebehi batas kemampuan hepar untuk melakukan
rekskresi. Urobilinogen meninggi dijumpai pada : destruksi hemoglobin berlebihan (ikterik hemolitika atau
anemia hemolitik oleh sebab apapun), kerusakan parenkim hepar (toksik hepar, hepatitis infeksiosa, sirosis

hepar, keganasan hepar), penyakit jantung dengan bendungan kronik, obstruksi usus, mononukleosis
infeksiosa, anemia sel sabit. Hasil positif juga dapat diperoleh setelah olahraga atau minum atau dapat
disebabkan oleh kelelahan atau sembelit. Orang yang sehat dapat mengeluarkan sejumlah kecil
urobilinogen.
Urobilinogen urine menurun dijumpai pada ikterik obstruktif, kanker pankreas, penyakit hati yang parah
(jumlah empedu yang dihasilkan hanya sedikit), penyakit inflamasi yang parah, kolelitiasis, diare yang berat.

Pemeriksaan Urobilin
Pada percobaan pemeriksaan urobilin pada urine mula-mula dipipet filtrate dari reaksi
Harrison sebanyak 3 mL dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi ditambah 3 mL reagen
Schlezinger kemudian diaduk atau dikocok homogen. Penambahan reagen Schlezinger
berfungsi agar urobilin bereaksi dengan reagen Schlezinger dan membetuk fluoresensi warna
hijau. Setalah dilakukan penambahan reagen SChleznger dan ditambahkan 2 tetes ammonia,
sampel urine berubah warna menjadi keruh. Saat sampel disaring dengan kertas saring,
diperoleh filtrate yang jernih.
Setelah didapat filtrat yang jernih, dilihat flouresensi filtrat dengan background yang
gelap ( hitam ). Hasil positif jika terdapat flouresensi yang kehijauan, dan negatif jika tidak ada
flouresensi hijau. Untuk mempertegas fluoresensi hijau pada urine, perlu ditambahkan lugol.
Dalam hal ini, didapat hasil positif (+) karena terbentuk fluoresensi hijau pada urine. Dalam
keadaan normal, selalu terdapat flourescensi hijau yang amat ringan.
Jika sampel urine yang akan diuji urobilinnya ini memiliki bilirubin dalam urine maka
akan mengganggu pemeriksaan karena menyebabkan flouresensi merah muda. Oleh karena itu
bila ada bilirubin maka harus dikeluarkan dengan CaCl2 dan Na2CO3. Menurut schlezinger
karena urobilin akan diabsorbsi oleh endapan yang terjadi karena BaCl2 (dari reagen faucehet),
oleh karena itu dalam reagen faucehet BaCL2 diganti dengan CaCl2 sehingga pemeriksaan
billirubin menurut harrison dan pemeriksaan urobillin menurut schlesinger dapat dirangkap:
filtrat untuk pemeriksaan schlesinger dan endapan untuk pemeriksaan bilirubin.
Faktor yang Dapat Mempengaruhi Temuan Laboratorium
1. Reaksi positif palsu
-

Pengaruh obat : fenazopiridin (Pyridium), sulfonamide, fenotiazin, asetazolamid


(Diamox), kaskara, metenamin mandelat (Mandelamine), prokain, natrium
bikarbonat, pemakaian pengawet formaldehid.

Makanan kaya karbohidrat dapat meninggikan kadar urobilinogen, oleh karena


itu pemeriksaan urobilinogen dianjurkan dilakukan 4 jam setelah makan.

Urine yang bersifat basa kuat dapat meningkatkan kadar urobilinogen; urine yang
dibiarkan setengah jam atau lebih lama akan menjadi basa.

2. Reaksi negatif palsu


-

Pemberian antibiotika oral atau obat lain (ammonium klorida, vitamin C) yang
mempengaruhi flora usus yang menyebabkan urobilinogen tidak atau kurang
terbentuk dalam usus, sehingga ekskresi dalam urine juga berkurang.

Paparan sinar matahari langsung dapat mengoksidasi urobilinogen menjadi urobilin.

Urine yang bersifat asam kuat.

Anda mungkin juga menyukai