Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM TEKNOLOGI BAHAN ALAM


Judul: Penetapan Kadar Flavonoid Total Extractum Orthosiphonis folium

Folium
Disusun Oleh
Kelompok A1.1:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Martinus Andreas
Audie Yudhistira
Chandra Wiguna
Kartika Fitria
Adilah Soraya
Aien Noor Vidia
Anis Nur Ariyanti
Benny Wijaya
Christina Marisabel

2011210148
2012210045
2012210063
2012210149
2013210002
2013210009
2013210020
2013210035
2013210039

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PANCASILA
JAKARTA
2016

I.

JUDUL PERCOBAAN

Penetapan Kadar flavonoid total dari Extractum Orthosiphonis Folium


II.

TUJUAN PERCOBAAN
Menetapkan kadar flavonoid total dari ekstrak daun kumis kucing dengan
spektrofotometri UV-VIS

III.

DASAR PENETAPAN
Sejumlah ekstrak daun kumis kucing ditimbang seksama setara dengan 200 mg
simplisia dan di masukkan ke dalam labu alas bulat. Ditambahkan 1 ml larutan HMT,
20 ml aseton dan 2 ml larutan HCL dan dilakukan hidrolisis dengan cara direfluks
selama 30 menit. Campuran di saring menggunakan kapas, filtrat yang di peroleh
dimasukkan ke dalam labu tentukur 100 ml. Residu di refluks kembali dengan 20 ml
aseton selama 50 menit dan disaring, filtrate di campur kedalam labu tentukur 100 ml
dan di tambahkan aseton sampai tanda. Diambil sejumlah 20,0 ml filtrate dan
dimasukkan ke dalam corong pisah, ditambah 20 ml air dan di ekstraksi 3 kali, tiap
kali dengan 15 ml etil asetat. Fase etil asetat di kumpulkan dan di tambah dengan etil
asetat sampai 50,0 ml dalam labu tentukur. Ukur serapan dengan menggunakan
spektrofotometer uv-vis pada panjang gelombang serapan maksimum lebih kurang
433nm dengan pembanding.

IV. TEORI
a. Teori tentang simplisia
Klasifikasi
Divisio
Subdivisio
Kelas
Ordo
Familia
Genus
Species
Nama daerah

Sinonim

: Spermatophyta
: Angiospermae
: Dicotyladoneae
: Lamiales
: Lamiaceae
: Orthosiphon
:Orthosiphon
aristatus
(BI.)
Miq
: Sumatra: kumis kucing (melayu). Jawa: kumis kucing
(sunda), remujung (Jawa), se-salaseyan, soengot
koceng (madura).
: Orthosiphon grandiflorius Bold
Orthosiphon stamineus Benth
: Orthosiphonis Folium

Nama simplisia
Uraian tumbuhan
Tumbuh di dataran rendah dan daerah ketinggian sedang. Kecuali di
Indonesia, ditemukan juga di Asia Tengah, Cina, kepulauan Pasifik dan
Australia.
Terna, tumbuh tegak, pada bagian bawah berakar dibagian bukubukunya, tinggi sampai 2m, batang bersegi empat agak beralur, berambut
pendek atau gundul. Helai daun berbentuk bundar telur lonjong, lanset,
bundar telur atau belah ketupat yang dimulai dari pangkalnya, lancip, atau
tumpul, panjang 1cm sampai 10cm, lebar 7,5mm sampai 5cm; urat daun

sepanjang tepi rambut tipis atau gundul, kedua permukaan berbintik-bintik


karena adanya kelenjar yang jumlahnya sangat banyak, panjang tangkai
3cm. Perbungaan berupa tandan yang keluar diujung cabang, panjang 7cm
sampai 29cm, ditutupi oleh rambut pendek berwarna ungu dan kemudian
menjadi putih; gagang berambut pendek dan jarang, panjang 1mm sampai
6mm. Kelopak bunga berkelenjar, urat dan pangkal berambut pendek dan
jarang sedangkan di bagian yang paling atas gundul. Bunga bibir, mahkota
berwarna ungu pucat atau putih, panjang 13mm sampai 27mm, dibagian
atas ditutupi oleh rambut pendek yang berwarna ungu atau putih, panjang
tabung 10mm sampai 18mm, panjang bibir 4,5mm sampai 10mm, helai
bunga tumpul, bundar. Benang sari lebih panjang dari tabung bunga dan
melebihi bibir bunga bagian atas. Buah geluk berwarna coklat gelap,
panjang 1,75mm sampai 2mm.
Khasiat
Berkhasiat sebagai antiradang, peluruh kencing (diuretik),
menghilangkan panas dan lembap, serta menghancurkan batu saluran
kencing.
Kandungan kimia
Orthosiphon glikosida, zat samak, minyak atsiri,minyak lemak,
saponin, garam kalsium, mioinositol, dan sinensetin. Kalium berkhasiat
diuretik dan pelarut batu saluran kencing, sinensetin berkhasiat antibakteri.
Mengandung minyak atsiri 0,02-0,06% terdiri dari 60 macam sesquiterpens
dan senyawa fenolik. 0,2% flavonoid lipofil dengan kandungan utama
sinensetin, eupatorin, skutellarein, tetrametil eter, salvigenin, rhamnazin;
glikosida flavonol, turunan asam kafeat (terutama asam rosmarinat dan
asam 2,3-dikaffeoil tartarat ), metilripariokromen A 6-(7,8-dimetoksi-2,2dimetil [2H,1-benzopiran]-il), saponin serta garam kalsium (3%) dan
myoinositol.4,9,13) Hasil ekstraksi daun dan bunga Orthosiphon stamineus
ditemukan metilripariokromen A atau 6-(7,8-dimetoksietanon).

Indikasi
Infeksi ginjal akut dan kronis, infeksi kandung kencing (sistitis),
kencing batu, sembab karena timbunan cairan di jaringan (edema), kencing
manis (diabetes melitus), tekanan darah tinggi (hipertensi), rematik (gout)
Persyaratan simplisia
Daun kumis kucing adalah daun dan pucuk Orthosiphon aristatus (BI.)
Miq., dikumpulkan pada waktu berbunga.
Pemerian: bau aromatik, rasa agak asin, agak pahit dan kelat.

b. KLT Densitometer
Pada perkembangan metode Kromatografi saat ini pemakaian "Thin Layer Chromato
Scanner" yang lebih dikenal dengan nama densitometer makin banyak dipakai secara luas
oleh peneliti/ilmuwan.
Densitometri adalah metode analisi instrumental yang berdasarkan interaksi radiasi
elektromagnetik dengan analit yang merupakan bercak atau noda pada lempeng KLT.
Interaksi radiasi elektromagnetik dengan noda pada lempeng KLT yang ditentukan
adalah adsorpsi, transmisi, pantulan (refleksi) pendar fluor atau pemadaman pendar fluor
dari radiasi semula. Keunggulannya adalah dititikberatkan untuk analisis analit-analit
dengan kadar sangat kecil yang perlu dilakukan pemisahan terlebih dahulu dengan KLT.
Metode ini yang banyak diguanak dalam analisis kualitatif maupun kuantitatif di bidang
farmasi terutama di bidang analisis obat bahan alam.
Kromatografi Lapis Tips (KLT) merupakan metode pemisahan komponen-komponen
atas dasar perbedaan adsorpsi atau partisi oleh fase diam di bawah ngerakan pelarut
pengembang/pengembang campur.

Fase Diam
Bahan padat pada penyangga : pelat elas/logam atau plastik dengan ketebalan 0,25
mm. Fase diam yang banyak dipakai : silika gel yang dicampur CaSO4 ; adsorben lain
yang juga banyak dipakai : alumnia, kieselguhr, celite, serbuk selulose, serbuk poliamida,
kanji dan sephadex.
Jenis fase diam : sama seperti pada KCKT dikenal beberapa macam sifat polaritas.
Silikal gel dikenal sebagai fase diam polar, yang dapat dibuat menjadi non polar (RP =
Reversed Phase) setelah dilakukan pengikatan hidroksilnya dengan : C2, C8, atau C18.
Mekanisme pemisahan adalah : adsorpsi,partisi, penukar ion atau fase terbalik
(adsorpsi-partisi). Apabila sampel bersifat non polar maka pelarut pengembangnya non
polar. Sedangkan bila sample bersifat polar, maka pelarut pengembangnya bersifat polar.
Ukuran fase diam 1-25 million dalam keadaan uniform/seragam, akan menghasilkan
pemisahan baik dan aliran fase gerak cepat dan merata.
Pada prinsipnya pemisahan KLT diusahakan dilakukan dalam keadaan netral.

Profil Kromatogram
Kromatogram KLT akan tampak setelah visualisasi dengan cara fisika atau kimia.
Bila proses pemisahan baik akan menghasilkan bercak atau noda bulat. Bila pemisahan
kurang sempurna bercak atau noda berekor, penyebabnya antara lain : pemilihan fase
gerak yang tidak tepat dan ketidakjenuhan chamber. Penotolan sample dengan mikropipet
dan selama eluasi suhu harus dijaga, karena kenaikan suhu berpengaruh kepada Rf.

Faktor retardasi : Rf
adalah jarak migrasi komponen (bercak) dibagi jarak migrasi fase gerak

Rf = dR / dM = hRf / 100

Desintometri
S. Levi dan R Reisfeld telah mengangkat metode densitometri ke tingkat analisis
kuantitatif ultra mikro. Keduanya telah berhasil menentukan antara lain testosterone dalam
cairan biologis pada rentang kadar 1-250 ng, dan kolesterol 4 -150 ng dengan pendar fluor
pada noda (kromatogram) KLT.
Prinsip penentuan dengan metode desintometri hampir sama dengan metode
spektrofotometri.
Penetuan kadar analit yang dikorelasikan dengan area / luas noda pada KLT akan lebih
terjamin kesahihannya dibanding dengan metode KCKT atau KGC, sebab area noda
kromatogram diukur pada posisi diam atau "zig-zag"menyeluruh.

V.

ALAT DAN BAHAN


Alat :
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Labu Tentukur 50 ml
Erlenmeyer
Timbangan analitik
Labu tentukur 100 ml
Kaca Arloji
Kapas
Kompor
Corong pisah
Pipet volum
Beaker Glass
Spektrofotometer uv-vis Shimadzu 1700

Bahan:
o
o
o
o
o
o

Ekstrak daun kumis kucing


Larutan MHT
Larutan HCL
Larutan asam asetat glasiallarutan AlCl3
Aquadest
Etil Asetat

VI.

HASIL PERCOBAAN
Bobot ekstrak

: 20,04 mg

Absorban Blanko Sampel

: 0.1674

Absorban Sampel Uji

: 0.3314

Absorban Blanko Baku Pembanding : 0.1449


Absorban Baku Pembanding

VII.

: 0.7227

PERHITUNGAN
Flavonoid Total (%) : Cp(As-Abs)

X 2.5 X

( Ap Abp)

100%
Bobot ekstrak

Keterangan:
Cp

: konsentrasi pembanding

As

: Absorbansi sampel

Abs

: Absorbansi blanko sampel

Ap

: Absorbansi pembanding

Abp

: Absorbansi blanko pembanding

Flavonoid Total (%) : 9.9 x 10-4 (0.3314-0.1674) X 2.5 X 100% = 0,35%


0.7227-0.1449
VIII.

0.2004

PEMBAHASAN
1. Flavonoid total yang terukur merupakan sumbangan dari golongan flavon dan
flavonol yang terdapat pada ekstrak, karena hanya kedua kelompok inilah yang
mampu membentuk kompleks stabil dengan AlCl3.
2. Penetapan flavonoid total pada praktikum ini menggunakan pereaksi geser
dengan menggunakan pereaksi geser AlCl3.
3. Panjang gelombang maksimal yang ditentukan yaitu setelah mengalami
pergeseran, karena pada metode ini tidak melakukan isolasi jadi setelah terjadi
pergeseran hanya flavonoid saja yang terukur.
4. Hidrolisis dilakukan untuk memecah glikosida dalam ekstrak menjadi aglikon
dan glikon flavonoid. Aglikon flavonoid disari oleh etil asetat.

IX.

KESIMPULAN

Kadar flavonoid total di dalam ekstrak dari daun kumis kucing (Orthosiphon
aristatus) adalah 0,35%

XII. DAFTAR PUSTAKA


Markham. K.R.1988. Cara Mengidentifikasi Flavonoid . Bandung. Penerbit ITB
Farmakope Herbal Indonesia . 2008. Edisi 1. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Materia Medika Indonesia Jilid III.1979