Anda di halaman 1dari 12

KONTRAKSI OTOT GASTROKNEMUS DAN OTOT JANTUNG KATAK

Oleh :

Nama : Maria Mardhitama Maharani


NIM : B1J008128
Rombongan : I
Kelompok : 4
Asisten : Mei Lita Fitriani

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2010
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Data kontraksi otot gastroknemus


A. 0 V = 0 = 0 mm/volt
10
A. 5 V = 0 = 1 mm/volt
10
A. 10 V = 3+3+3+3+3+3+3+3+3+3 = 3 mm/volt
10
A. 15 V = 5+5=5+5+5+5+5+5+5+5 = 5 mm/volt
10
A. 20 V = 6+7+7+7+7+7+7+7+7+7 = 6,9 mm/volt
10
A. 25 V = 8+8+8+8+8+8+8+8+8+8 = 8 mm/volt
10
Grafik hubungan stimulus elektrik dengan kontraksi otot
gastroknemus katak (Rana sp)
9
8
7
Amplitudo (mm)

6
5
4
3
2
1
0
0 5 10 15 20 25 30
Voltase (v)

kontraksi otot gastroknemus

Tabel Kontraksi Otot Jantung Katak (Rana sp)

Perlakuan Amplitudo

Sebelum ditetesi asetilkolin Gagal

Setelah ditetesi Asetilkolin Gagal


B. Pembahasan

Otot merupakan suatu organ yang sangat penting bagi tubuh, karena
dengan otot tubuh dapat berdiri tegak. Otot merupakan suatu organ atau alat
yang memungkinkan tubuh agar dapat bergerak. Otot merupakan alat gerak
aktif, ini adalah suatu sifat yang penting bagi organisme. Sebagaian besar otot
tubuh melekat pada kerangka, yang menyebabkan dapat bergerak secara aktif
sehingga dapat menggerakkan bagian-bagian kerangka dalam suatu letak yang
tertentu. Otot merupakan sebuah alat yang menguasai gerak aktif dan
memelihara sikap tubuh. Dalam tubuh terdiri dari bermacam-macam jenis otot
serta mempunyai sifat dan cara kerja sendiri-sendiri, untuk saling menujang agar
dapat bergerak (Hickman, 1996).
Menurut Ville et al. (1988), otot adalah sistem biokontraktil dimana sel-sel
atau bagian dari sel memanjang dan dikhususkan untuk menimbulkan tegangan
pada sumbu yang memanjang. Otot merupakan jaringan umum pada tubuh
kebanyakan binatang yang terbuat dari sel panjang atau benang-benang khusus
untuk kontraksi. Hal itu menyebabkan adanya pergerakan dari tubuh dan bagian
kerja otot adalah voluntari (dibawah kontrol kesadaran) atau involuntari (tidak
dibawah kontrol atau keinginan). Struktur otot adalah halus (benang tanpa lurik)
atau lurik (benang serat lintang). Ada 3 jenis jaringan otot yaitu involuntari lurik
atau kardiak (jantung) dan voluntari lurik atau otot rangka badan. Struktur untuk
melakukan aksi pada hewan baik dari dalam maupun dari lingkungan luar
disebut efektor.
Efektor yang paling penting adalah yang mengekresikan zat-zat kelenjar
dan melakukan gerak. Bagian efektor yang paling penting untuk menciptakan
gerak adalah otot. Jadi, otot adalah sistem biokontraksi dimana sel-sel atau
bagian sel mengalami pemanjangan dan dikhususkan untuk menimbulkan
gerakan (kontraksi pada sumbu yang memanjang). Karakteristik dari otot antara
lain membangun otot rangka, dapat berkontraksi dan berkonduksi, terdiri dari sel
bentuk memanjang, pipih myofibril dan berasal dari lapisan mesoderm. Secara
garis besar sel otot dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu:
1. Otot motoritas, disebut juga otot serat lintang (otot lurik) oleh karena
didalamnya protoplasma mempunyai garis-garis melintang. Umumnya otot ini
melekat pada kerangka sehingga disebut juga otot kerangka. Otot ini dapat
bergerak menurut kemauan (otot sadar), pergerakkanya cepat tetapi cepat
lelah, rangsangan ini dialirkan melalui saraf motorik.
2. Otot otonom, disebut juga otot polos karena protoplasmanya licin tidak
mempunyai garis melintang. Otot ini terdapat pada alat-alat dalam seperti
ventrikulus, usus, kandung kemih, pembuluh darah dan lain-lain, cara
kerjanya diluar kesadaran (otot tak sadar) oleh karena rangsangannya
melalui saraf otonom.
3. Otot jantung, bentuknya menyerupai otot serat lintang, didalam sel
protoplasmanya terdapat serabut-serabut melintang yang bercabang-cabang
tetapi jika kita melihat fungsinya seperti otot polos, dapat bergerak sendiri
secara otomatis karena mendapat rangsangan dari susunan saraf otonom.
Otot ini hanya terdapat pada jantung yang mempunyai fungsi tersendiri
(Bevelander and Ramaley, 1979).
Otot rangka adalah masa otot yang bertaut pada tulang yang berperan
dalam menggerakkan tulang-tulang tubuh. Otot rangka dapat dijelaskan lebih
dalam misalnya dengan mempelajari otot gastroknemus pada katak. Otot
gastroknemus katak banyak digunakan dalam percobaan fisiologi hewan. Otot ini
lebar dan terletak di atas fibiofibula, serta disisipi oleh tendon tumit yang tampak
jelas (tendon achillus) pada permukaan kaki. Mekanisme kerja otot pada
dasarnya melibatkan suatu perubahan dalam keadaan yang relatif dari filamen-
filamen aktin dan miosin. Selama kontraksi otot, filamen-filamen tipis aktin terikat
pada dua garis yang bergerak ke pita A, meskipun filamen tersebut tidak
bertambah banyak. Namun, gerakan pergeseran itu mengakibatkan perubahan
dalam penampilan sarkomer, yaitu penghapusan sebagian atau seluruhnya garis
H. selain itu filamen miosin letaknya menjadi sangat dekat dengan garis-garis Z
dan pita-pita A serta lebar sarkomer menjadi berkurang sehingga kontraksi
terjadi. Kontraksi berlangsung pada interaksi antara aktin miosin untuk
membentuk komplek aktin-miosin (Hickman, 1996).
Serabut otot secara individu merupakan satuan struktural otot kerangka
sehingga bukan merupakan satuan fungsional. Semua neuron motor yang
menuju otot kerangka mempunyai akson-akson yang bercabang, masing-masing
berakhir dalam sambungan neuromuskular dengan satu serabut otot. Impuls
syaraf yang melalui neuron dengan demikian akan memicu kontraksi dalam
semua serabut otot yang dapat dikendalikan dengan amat tepat, ukuran satuan
motornya kecil (Kimball, 1988).
Respon suatu serabut tunggal itu menyeluruh atau tidak sama sekali,
tetapi seluruh otot tidak berperilaku dalam cara ini sehingga memungkinkan
untuk mengkontraksikan suatu otot pada tingkat apapun yang diinginkan dari
relaks sampai kontraksi yang maksimal. Hal ini dapat dilihat pada percobaan
praktikum yaitu merangsang otot gastroknemus dari seekor katak dengan
stimulator listrik dan mengukur banyaknya kontraksi seluruh otot. Kekuatan
kontraksi seluruh otot meningkat dengan meningkatnya jumlah serabut individu
yang berkontraksi. Jadi pada hewan yang utuh, kekuatan respon muskular itu
dikendalikan oleh jumlah satuan motor yang diaktifkan oleh sistem saraf pusat
(Kimball, 1988).
Menurut Guyton (1995), sebuah otot akan berkontraksi sangat cepat bila
kontraksi penuh kira-kira 0,1 detik untuk rata-rata bobot. Keadaan ini
menyebabkan amplitudo menjadi maksimal, dimana dipengaruhi juga oleh
voltase yang digunakan, tetapi bila diberi beban kecepatan kontraksi menurun
secara progesif dan amplitudo juga menurun. Apabila beban meningkat sampai
dengan kekuatan maksimum yang digunakan otot tersebut, maka kecepatan
kotraksinya menjadi nol dan tidak terjadi kontraksi sama sekali, walaupun
dilakukan pengaktifan pada serabut otot.
Percobaan yang dilakukan menggunakan otot gastroknemus karena otot
tersebut peka terhadap rangsangan listrik. Cairan dan ion-ion yang ada pada otot
gastroknemus selalu dijaga, pada praktikum ini digunakan larutan ringer. Larutan
ringer juga digunakan sebagai penghantar aliran listrik. Alat yang digunakan
pada praktikum pengukuran kontraksi otot gastroknemus universal kimograf
beserta asesorinya fungsi alat ini adalah untuk mengetahui pengaruh
rangsangan listrik terhadap kontraksi otot gastroknemus.
Percobaan respon kontraksi otot gastroknemus terhadap perangsangan
elektrik dengan tegangan berbeda-beda yaitu 0 V, 5 V, 10 V, 15 V, 20 V dan 25
V menghasilkan amplitudo berturut-turut adalah 0 mm/volt, 1 mm/volt, 3 mm/volt,
5 mm/volt, 6,9 mm dan 8 mm/volt. Hal tersebut menunjukan bahwa semakin
besar tegangan (voltase) yang diberikan maka semakin besar pula nilai
amplitudo yang dihasilkan. Dalam percobaan ini tegangan berarti impuls atau
rangsangan dan amplitudo merupakan besarnya otot gastronekmus terhadap
rangsangan. Menurut Storer (1961), menyatakan, ketika rangsangan elektrik
dimulai dari yang lemah maka hasilnya akan lemah, selanjutnya peningkatan
akan menghasilkan kontraksi yang besar sehingga menimbulkan sebuah titik
dimana rangsangan makin besar dan tidak menghasilkan efek. Hasil percobaan
juga menunjukan bahwa semakin berat beban maka nilai amplitudonya akan
semakin kecil. Menurut Syarif (2006), kimograf adalah alat untuk pembelajaran
dan penelitian kontraksi otot dan biasanya menggunakan otot gastroknemus
katak. Otot yang mengalami pemendekan pada pembarian beban yang konstan
(tidak ada perubahan pada tekanan) dinamakan kontraksi isotonik. Sedangkan
bila otot menghasilkan tekanan tetapi tidak mengubah panjang otot dinamakan
kontraksi isometrik.
Voltase yang diberikan terhadap otot akan mempengaruhi besar
responnya dalam bentuk amplitudo (simpangan). Beban yang diberikan juga
akan mempengaruhi kelenturan otot yang diujicobakan. Beban akan menarik otot
lebih besar, maka ketika otot tersebut dirangsang dengan aliran listrik akan
menghasilkan simpangan gerak amplitudo yang kecil pula (Ganong, 1995).
Otot dapat berkontraksi baik secara isometrik, isotonik, atau gabungan
keduanya. Kontraksi isometrik pada otot gastronekmus memiliki lama kontraksi
kira-kira 1/30 detik. Lama kontraksi disesuaikan dengan fungsi masing-masing
otot. Otot gastroknemus harus berkontraksi dengan kecepatan yang cukup pada
pergerakan tungkai untuk berlari atau melompat. Otot gastroknemus memiliki
serabut cepat yang disesuaikan untuk kontraksi otot yang sangat cepat dan kuat
seperti berlari dan melompat. Serabut ini tampak lebih besar. Retikulum
sarkoplasmanya lebih luas sehingga dengan cepat dapat melepaskan ion-ion
kalsium untuk memulai kontraksi otot (Guyton, 1995).
Mekanisme kontraksi otot dapat dijelaskan dengan model pergeseran
filamen (filamen-filamen tebal dan tipis yang saling bergeser saat proses
kontraksi), model pergeseran filamen (filamen sliding). Model ini menyatakan
bahwa gaya berkontraksi otot dihasilkan oleh suatu proses yang membuat
beberapa set filamen tebal dan tipis dapat bergeser antar sesamanya. Menuruut
Guyton (1995), menyatakan pada saat kontraksi filamen aktin tidak tertarik ke
dalam filamen miosin sehingga overlap satu sama lainnya secara luas. Discus Z
ditarik oleh filamen aktin sampai ke ujung filamen miosin. Jadi kontraksi otot
terjadi karena mekanisme pergeseran filamen yang disebabkan oleh kekuatan
mekanisme kimia atau elektrostatik yang ditimbulkan oleh interaksi jembatan
penyebrangan dari filamen miosin dan filamen aktin.
Menurut Prosser (1961), mekanisme kontraksi otot menurun yaitu ketika
otot berkontraksi menggunakan O2 dan melepaskan CO2 sedangkan glikogen
dikurangi, asam laktat berkumpul dan panas diproduksi. Aktin dan miosin
bergabung dalam bentuk globular yang merupakan kopula dari molekul miosin.
Molekul miosin terdiri atas bagian pengikatan aktin dan ATPase, tidak adanya
aktin menyebabkan tidak reaktifnya ATPase ketika miosin berikatan dengan aktin
akan membentuk aktomiosin ATP. Sel otot juga terdiri atas retikulum
sarkoplasmik hampir sama dengan retikulum yang sangat penting dalam
kontraksi. Retikulum endoplasma akan mengikat ion Ca dan berhenti ketika
asam laktat terakumulasi.
Mekanisme kontraksi otot menurut Johson et al., (1984) adalah :
Rangsangan Kontraksi sarkolema reticulum-Ca +
+
troponin

Aktin melepaskan diri ATP Aktin


Tropomiosin

Ion Ca rendah Tropoiosin tergerak ketempat aktif filamen


aktin

Kontraksi
Urutan kejadian dalam stimulasi, kontraksi dan relaksasi pada otot
menurut Prosser (1961), meliputi
1. Stimulasi
• Depolarisasi sarkolema
• Depolarisasi T sistem
• Depolarisasi Ion Kalsium dari SR
• Difusi ion kalsium dari filamen tipis
2. Kontraksi
• Ion kalsium (Ca2+) terikat ke troponin
• Komplek troponin Ca2+ remove blocking tropomiosin
dari tempat aktin
• Head dari filamen tebal membentik cross bridges ke
benang aktin
• Hidrolisis ATP memicu perubahan konformasi pada
head menyebabkan cross bridges bergeser
3. Relaksasi
• Ca2+ ditarik dari filamen tipis oleh SR

• Ca2+ berdifusi dari filamen tipis ke SR


• Ca2+ dilepas dari komplek troponin Ca2+
• Tropomiosin kembali ke posisi blocking
• Cross bridges miosin-aktin terputus
• Komplek miosin-ATP dibentuk kembali dalam heads dan
filamen tebal.
Ketika otot rangka sedang beristirahat atau relaksasi akhirnya kebutuhan
akan oksigen merupakan ukuran dari metabolisme otot dan hal ini dipengaruhi
oleh temperatur lingkungan, temperatur tubuh, aliran pembuluh darah dan nutrisi.
Pengaruh dari penyempitan pembuluh darah menyebabkan kandungan oksigen
di jaringan berkurang sehingga berpengaruh terhadap konsumsi oksigen oleh
mitokondria. Oleh karena itu, konsumsi oksigen dapat menentukan ukuran
berkurangnya titik jenuh oksigen dari hemoglobin dan myoglobin mengikuti
keadaan total arteri (Abozguia, 2008).
Otot jantung termasuk otot seran lintang yang sifatnya involuntari yang
artinya kerjanya tidak dipengaruhi oleh otak. Otot jantung ditemukan hanya pada
bagian jantung dan mempunyai ciri-ciri bergaris-garis seperti pada otot sadar.
Perbedaannya adalah serabutnya bercabang dan mengadakan anastomase
yaitu bersambungan satu sama lain, tersusun memanjang seperti pada otot
bergaris, berciri merah khas dan tidak dapat dikendalikan oleh kemauan. Otot
jantung mempunyai kemampuan untuk mengadakan kontraksi otomatis dan
ritmis tanpa bergantung pada ada tidaknya rangsangan saraf. Cara kerja
semacam ini disebut miogenik. Kontraksi otot akan lebih kuat bila sedang
renggang dan bila suhunya cukup panas kelelahan dan dingin memperlemah
kontraksi (Pearce, 2004).
Otot jantung terdiri atas serabut lurik yang saling isi mengisi. Myofibril
pada otot jantung bercabang-cabang dan mitokondrianya lebih banyak daripada
serabut otot kerangka. Impuls otot jantung berkontraksi dengan sendirinya,
sementara saraf simpatik dan saraf parasimpatik berjalan menuju ke jantung bila
pengendalian ini dihancurkan maka jantung akan tetap terus dapat berdetak
selama glukosa dan oksigen tersedia di dalamnya (Kimball, 1988). Menurut
Geneser (1993), menyatakan bahwa mitokondria jauh lebih banyak dan banyak
memiliki krista, selain membentuk deretan-deretan yang memisahkan
miofilamen, mitokondria ini terkumpul pada kutub-kutub inti dan pada celah
mitokondria tampak banyak butir-butir lemak dan glikogen yang berfungsi
sebagai sumber energi.
Otot jantung berkembang dari bagian mesoderma splanknik yang
mengelilingi tabung jantung yang berlapiskan endotel dan membentuk
miokardium embrional. Serat-serat otot jantung ini berasal dari diferensiasi tiap
sel-sel yang tumbuh melalui penambahan miofilamen-miofilamen baru pada
sitoplasma di perifer, tanpa perubahan letak inti sel di tengah (Geneser, 1993).
Jantung mengandung serat-serat jantung yang termodifikasi yang
berfungsi untuk mengkoordinasikan detak jantung dengan mengatur waktu
kontraksi dari atrium dan ventrikel, secara normal berawal pada nodus sinoatrium
(SA) yang berlokasi dalam atrium kanan pada pintu masuk vena kava superior.
Berawal dari nodus sino atrium sampai nodus antrio ventrikulum, terletak di
bagian belakang septum inter ventrikulum dan mulai dari titik ini, seberkas sel-sel
otot jantung yang termodifikasi (serat-serat purkinje) bercabang dua dan cabang
yang terpisah berjalan melalui jaringan subendokardial dari ventrikel kanan dan
kiri. Sel-sel dalam dua daerah nodus itu berbentuk spul, sel-sel yang sangat
bercabang yang dipisahkan satu sama lain oleh sedikit jaringan penyambung
(Bevelander and Ramaley, 1979).
Percobaan respon kontraksi otot jantung pada katak yang bertujuan untuk
mengetahui kontraksi otot jantung dalam keadaan normal dan adanya stimulus
berupa asetikolin ternyata tidak berhasil. Fungsi asetikolin adalah sebagai
neurotransmitter atau untuk memberi rangsangan. Otot jantung akan diukur
kontraksinya harus selalu dibasahi dengan larutan ringer agar jaringan tetap
hidup. Transmisi pada hubungan neuromuskuler dan sinaps tertentu lainnya
melibatkan sekresi dan komeresepsi asetikolin. Perangsang yang kuat ini
menyebabkan depolarisasi setempat dari membran sel otot, yang memulai
penyebaran impuls dalam membran dan menyebabkan kontraksi serabut otot.
Serabut simpatik post ganglion mempercepat denyut jantung dengan
melepaskan norepinefrin. Serabut demikian disebut adrenegrik, sedangkan
serabut yang mengeluarkan asetikolin disebut kolinergik (Ville et al., 1988).
Daerah sinaps mempunyai enzim yang kuat, yaitu asetikolinesteranase
yang khusus menghidrolisis dan menginaktifkan asetikolin, dan monoamina
oksidase yang mengoksidasi dan menginaktifkan norepinefrin. Enzim-enzim ini
mencegah rangsangan yang terus-menerus dari dendrit atau otot oleh zat
neurotransmitter. Asetikolin dilepaskan oleh saraf motor dalam paket-paket kecil
yang terdiri atas sekitar 1000 molekul. Mekanisme yang melepaskan asetikolin
memerlukan ion kalsium dan dihambat oleh ion magnesium (Ville et al., 1988).
Frandson (1992), menyatakan bahwa adanya kontraksi otot dipengaruhi
beberapa faktor, yaitu :
1. Treppe
Treppe adalah meningkatnya kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu
serabut otot karena stimulasi berurutan yang berseling beberapa detik.
Kekuatan kontraksi terus meningkat sampai kira-kira 30 kontraksi. Pengaruh
ini mungkin disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi ion Ca++ di dalam
serabut otot yang meningkatkan pula aktivitas miofibril. Treppe umumnya
dianggap sebagai gejala pemanasan dimana suatu otot yang istirahat
menyusun suatu kontraksi yang lebih kuat mencapai kemampuan
maksimumnya dengan berulangnya stimulasi pada frekuensi optimal.
2. Summasi
Summasi merupakan hasil penjumlahan kontraksi dua jalan, yaitu dapat
berupa summasi unit motor berganda dan summasi bergelombang.
Summasi unit motor berganda terjadi apabila lebih banyak unit motor yang
dirangsang untuk berkontraksi secara simultan pada otot, sedangkan
summasi berulang terjadi apabila frekuensi stimulasi ditingkatkan kepada
unit-unit motor.
3. Tetani (tetanus)
Tetani terjadi apabila frekuensi stimulasi menjadi demikian cepat sehingga
tidak ada peningkatan frekuensi lebih jauh lagi yang akan meningkatkan
tegangan kontraksi, tenaga terbesar yang dapat dicapai oleh otot telah
tercapai.
4. Fatigue
Fatigue yaitu menurunnya kapasitas bekerja yang disebabkan oleh
pekerjaan itu sendiri. Jangka waktu bahwa suatu tegangan atau kontraksi
otot dapat tetap dipertahankan tergantung pada tersedianya suplai energi
dalam bentuk ATP dan kalsium bagi filamen protein kontraktil.
5. Rigor dan Rigor Mortis
Kejadian tersebut terjadi apabila sebagian besar ATP di dalam otot telah
dihabiskan kalsium dan tidak dapat dikembalikan ke dalam retikulum
sarkoplasma melalui mekanisme pemompaan kalsium, oleh karena itu
relaksasi tidak dapat terjadi karena filamen aktin dan miosin terikat dalam
suatu ikatan yang erat.
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat diambil beberapa kesimpulan


sebagai berikut:
1. Otot gastroknemus dapat berkontraksi dengan adanya rangsangan dari
tegangan listrik.
2. Otot jantung termasuk otot seran lintang yang sifatnya involuntari yang
artinya kerjanya tidak dipengaruhi oleh otak.
3. Voltase yang diberikan terhadap otot akan mempengaruhi besarnya
respon dalam bentuk amplitudo.
4. Semakin besar voltase listrik yang diberikan akan semakin besar pula
amplitudo yang dihasilkan. Besarnya amplitudo menunjukan besar
kecilnya kontraksi otot yang dihasilkan.

B. Saran

Untuk praktikum kontraksi otot gastroknemus selanjutnya universal


kimograf yang disediakan lebih dari satu untuk lebih mengefisienkan waktu dan
praktikan lebih memperhatikan penjelasan dari asisten.
DAFTAR REFERENSI

Abozguia, K. Thanh T. P. Ganesh N. S. Abdul R. Maher. Ibrar A. Anton W.


Michael P. F. 2008. Reduced in Vivo Skeletal Muscle Oxygen
Consumption in Patients with Chronic Heart Failure—A Study using Near
Infrared Spectrophotometry (NIRS). Department of Cardiovascular
Medicine, Medical School, University of Birmingham, European Journal
of Heart Failure 10 (2008) 652–657.

Bevelander and J. A Ramaley. 1979. Essentials of History. CV. Moss by


Company, sant Louis.
Frandson, R. D. 1992. Anatomi Fisiologi Ternak. UGM Press, Yogyakarta.
Ganong, W. F. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Penerbit EGC, Jakarta
Geneser, Finn. 1993. Textbook of Histology. Munksgaard, Denmark.
Guyton, A. C. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Penerbit Buku kedokteran
EGC, Jakarta.
Hickman, C. P. 1972. Biology of Animal. CV Mosby Company, Saint Louis.
Johnson, K. D., Rayle and H. L. Aledberg. 1984. Biology of Introduction. The
Benjamin Comings Publishing Co. Inc, London.
Kimball, J. W. 1988. Biologi Jilid II. Erlangga, Jakarta
Pearce, E. C. 2004. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis . PT Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.
Prosser, C. T. 1961. Comparative Animal Physiology. W.B Saunders Company,
London.
Storer, T. I. 1961. Element of Zoology. Mc Graw Hill Book Company Inc, New
York.
Syarif, I. 2006. Kimoinstrumentation : Alat Pengukuran Karakteristik Otot
Gastroknemus Katak Berbasis Komputer. Departemen Fisiska ITB,
Bandung.
Ville, C. A., Warner F. W dan Robert B. D. 1988. Zoologi Umum. Erlangga.
Jakarta.