Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN TUTORIAL SKENARIO 1

TEKNIK SAMPLING
BLOK MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN

Dosen Tutor : drg Zahara Meilawaty, M.Kes


Oleh:
KELOMPOK 2
Ketua

: Zulfah Al-Faizah

(141610101017)

Scriber papan

: Nadia Farhatika

(141610101014)

Scriber meja

: Yunita Fatma C.

(141610101048)

Anggota

: Arwinda Hening P.

(141610101010)

Umil Syifa Kuluba

(141610101011)

Hanifah Nailul Amania

(141610101013)

Darmawan Dwi W.

(141610101082)

Sepma Viraticha

(141610101084)

Rudi Ramadhana P.

(141610101088)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2016

SKENARIO 1
Dokter gigi Monad igin melakukan penelitian epidiomologi tentang kebersihan
mulut pada siswa SD dikecamatan Sigara. Penelitian dilakukan karean setiap
pasien anak yang datang ke puskesmas yang berobat mendapatkan tingkat
kebersihan mulut yang buruk. Kecamatan sigara memiliki 30 SD dengan jumah
siswa 5610. Teknik sampling yang cocok untuk penelitian tersebut adalah ?

STEP 1
1. Epidemiologi
Disiplin ilmu yang mempelajari masalah kesehatan dalam masyarakat mulai
dari factor-faktor yang mempengaruhinya sekaligus upaya menaggulanginya
2. Teknik sampling
Bagian dari metodologi statistika yang berhubungan dengan pengambilan
sample pada populasi.

STEP 2
1.Apa tujuan dari penelitian epidemiologi?
2.Mengapa digunakan teknik sampling?
3.Apa saja macam-macam teknik sampling?
4.Bagaimana cara menentukan ukuran sample?
5.Teknik sampling apa yang sesuai dengan skenario?
6. Apa saja factor yang mempengaruhi kebersihan mulut pada seseorang?

STEP 3
1. Tujuan penelitian epidemiologi adalah
a.

Untuk menerangkan tentang besarnya masalah dan gangguan


kesehatan (termasuk penyakit) serta penyebarannya dalam suatu
penduduk tertentu.

b. Untuk menyiapkan data atau informasi yang esensial untuk keperluan


perencanaan, pelaksanaan program, serta evaluasi berbagai kegiatan
pelayanan (kesehatan) pada masyarakat.
c. Untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang menjadi penyebab
masalah atau faktor yang berhubungan dengan terjadinya masalah
tersebut.
d. Untuk membantu pekerjaan administrasi kesehatan.
e. Untuk meninjau perkembanhan suatu penyakit.
2. Tujuan digunakan metode sampling antara lain :
1. Dari segi biaya akan menjadi lebih murah
2. Dari segi waktu akan lebih cepat, sehingga hasilnya up to date
3. Dari segi tenaga akan lebih hemat
4. Variabel yang diteliti dapat lebih banyak dan mendalam, sehingga
kedalaman serta ketepatan informasi akan lebih baik
5. Walaupun hanya menggunakan sebagian saja dari subjek atau objek
penelitian, tetapi hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara
ilmiah.

3. Macam teknik sampling ada 2 yaitu teknik sampling probabilitas dan teknik
sampling nonprobabilitas.
A.Teknik Sampling Probabilitas
Teknik sampling probabilitas (probability) merupakan teknik yang
memberikan peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap unsur (anggota)
populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Selain itu probability sampling
merupakan pemilihan sampel tidak dilakukan secara subjektif, dalam arti sampel
yang terpilih tidak didasarkan semata-mata pada keinginan si peneliti sehingga
setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama (acak) untuk terpilih
sebagai sampel. Dengan demikian diharapkan sampel yang terpilih dapat
digunakan untuk mendug karakteristik populasi secara objektif..Teknik Probilitas
ini bertujuan mendapatkan data seakurat mungkin agar diketahui jarak pasti dari
kondisi ideal.
Metode Penarikan Sampel Probabilitas
Terdapat empat metode dalam penarikan sampel probabilitas. Metode
dalam
1.

penarikan

sampel

probabilitas

akan

dijelaskan

sebagai

berikut:

Sampel Acak Sederhana

Metode sampel acak sederhana merupakan suatu prosedur yang memungkinkan


setiap elemen dalam populasi akan memiliki peluang yang sama untuk dijadikan
sampel.
2.

Sampel Berstrata

Metode penarikan sampel berstrata merupakan suatu prosedr penarikan sampel


berstrata yang dalam hal ini suatu subsampel subsampel acak sederhana ditarik
dari setiap strata yang kurang lebih sama dalam beberapa karakteristik. Ada dua
macam penarikan sampel berstrata yaitu, proporsional dan Non-Proporsional.
3.

Sampel Berkelompok

Metod penarikan data sampel berkelompok merupakan suatu prosedur penarikan


sampel probabilitas yang memilih sub-populasi yang disebut cluster, kemudian
setiap elemen didalam kelompok dipilih sebagai anggota sampel
4.

Sampel Sistematik

Metode penarikan sampel sistematik, populasi dibagi dengan ukuran sampel yang
diperlukan (n) dan sampel diperoleh dengan cara mengambil setiap subyek ke-n.
B. Teknik Sampling Non-Probabilistik
Teknik non-probilitas merupakan teknik yang tidak memberikan peluang
atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih
menjadi sampel. Teknik ini terdiri sampling sistematis, sampling kuota, sampling
aksidental, sampling purposive, sampling jenuh dan snowball sampling.
nonprobability

sampling

seringkali

menjadi

alternative

pilihan

dengan

pertimbangan yang terkait dengan penghematan biaya, waktu dan tenaga serta
keterandalan subjektifitas peneliti. Di samping itu pertimbangan lainnya adalah
walaupun probability sampling mungkin saja lebih unggul dalam teori, tetapi
dalam pelaksanaannya seringkali dijumpai adanya beberapa kesalahan akibat
kecerobohan dari si pelaksananya. Dalam penggunaan non-probability sampling,
pengetahuan, kepercayaan dan pengalaman seseorang seringkali dijadikan
pertimbangan untuk menentukan anggota populasi yang akan dipilih sebagai
sampel. Pengambilan sampel dengan memperhatikan factor-faktor tersebut
menyebabkan tidak semua anggota populasi memiliki kesempatan yang sama
untuk dipilih secara acak sebagai sampel. Dalam prakteknya terkadang ada bagian
tertentu dari populasi tidak dimasukkan dalam pemilihan sampel untuk mewakili
populasi.
Teknik Pengambilan Sampel Non-Probability
Terdapat lima teknik pengambilan teknik sampling non probabilistik.
Berikut ini adalah uraian penjelasan dari ke lima teknik sampling non
probabilistik:
1.

Teknik Haphazard

Teknik hapzard adalah teknik pengambilan sampel dimana satuan pengamatannya


diperoleh secara sembarangan atau sedapatnya.
2.

Teknik Voluntary

Teknik voluntary adalah teknik yang dilakukan jika satuan sampling dikumpulkan
atas dasar sukarela.
3.

Teknik Purposive

Teknik purposive merupakan teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan


memilih satuan sampling atas dasar pertimbangan sekelompok pakar di
bidangilmu yang sedang diteliti
4.

Teknik Snowball

Teknik snowball merupakan teknik pengambilan sampel dimana satuan


pengamatan diambil berdasarkan informasi dari satuan pengamatan sebelumnya
yang sudah terpilih.
5.

Teknik Kuota

Teknik pengambilan sampel ini banyak diterapkan pada penelitian pasar dan
penelitian pengumpulan pendapat (opinion poll) atau jejak pendapat. Teknik
dilakukan dengan melakukan penjatahan terhadap kelompok satuanpengamatan
secara berjenjang.
4.. Cara menentukan ukuran jumlah sampel sebagai berikut :
1. Sebaiknya ukuran sampel di antara 30 s/d 500 elemen
2. Jika sampel dipecah lagi ke dalam subsampel (laki/perempuan, SD?
SLTP/SMU, dsb), jumlah minimum subsampel harus 30
3. Pada penelitian multivariate (termasuk analisis regresi multivariate)
ukuran sampel harus beberapa kali lebih besar (10 kali) dari jumlah
variable yang akan dianalisis.
4. Untuk penelitian eksperimen yang sederhana, dengan pengendalian yang
ketat, ukuran sampel bisa antara 10 s/d 20 elemen.
5. LO

6. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebersihan rongga mulut di antaranya:


1. Faktor Manusia (who)
a. Umur
b. Jenis Kelamin
c. Golongan etnik (RAS)
d. Status perkawinan
e. Status social
f. Pekerjaan
2. Karakteristik tempat (where)
a. Keadaan geografis
b. Keadaan demografis
c. Keadaan pelayanan kesehatan (mutu layanan kesehatan di tempat
tersebut)
3. Karakteristik waktu (when)
a. Kecepatan perjalanan penyakit
b. Lama terjangkitnya penyakit

STEP 4
Penelitian Epidemiologi

Observational

Eksperimental

Deskriptive

Analitik

Populasi

Teknik sampling
Syarat
Sample

Probability

Non probability

Kelebihan dan kekurangan


STEP 5
LO :
1. Memahami dan menganalisis macam-macam epidemiologi
2. Memahami dan menganalisis syarat-syarat pengumpulan sample
3. Memahami dan menganalisis macam-macam teknik sampling
4. Memahami dan menganalisis teknik sampling yang sesuai dengan skenario

STEP 6
(Belajar Mandiri)

STEP 7
LO 1 : Macam-macam epidemiologi
Epidemiologi adalah Ilmu yang mempelajari, menganalisa serta berusaha
memecahkan

berbagai

masalah

kesehatan

maupun

masalah

yang

erat

hubungannya dengan kesehatan pada suatu kelompok tertentu.


1. Epidemiologi deskriptif
Epidemiologi deskriptif adalah studi pendekatan epidemiologi yang
bertujuan untuk menggambarkan masalah kesehatan yang terdapat di dalam
masyarakat dengan menentukan frekuensi dan distribusi berdsarkan atribut &
variabel menurut segitiga epidemiologi (orang, Tempat, dan Waktu). Tujuan
epidemiologi deskriptif adalah :
1. Untuk menggambarkan distribusi keadaan masalah kesehatan sehingga dapat
diduga kelompok mana di masyarakat yang paling banyak terserang.
2. Untuk memperkirakan besarnya masalah kesehatan pada berbagai kelompok.
3. Untuk mengidentifikasi dugaan adanya faktor yang mungkin berhubungan
terhadap masalah kesehatan (menjadi dasar suatu formulasi hipotesis).
Adapun Ciri-ciri studi deskriptif sebagai berikut:
1. Bertujuan untukmenggambarkan
2. Tidak terdapat kelompok pembanding
3. Hubungan sebab akibat hanya merupakan suatu perkiraan ataau semacam
asumsi
4. Hasil penelitiannya berupa hipotesis
5. Merupakan studi pendahluan untuk studi yang mendalam
Hasil penelitian deskriptif dapat di gunakan untuk:
1. Untuk menyusun perencanaan pelayanan kesehatan

2. Untuk menentukan dan menilai program pemberantasan penyakit yang telah


dilaksanakan
3. Sebagai bahan untuk mengadakan penelitain lebih lanjut
4. Untuk Membandingkan frekuensi distribusi morbiditas atau mortalitas antara
wilayah atau satu wil dalam waktu yang berbeda.
Konsep yang terpenting juga dalam studi epidemiologi deskriptif adalah
bagaimana menjawab pertanyaan 5W+1H. Hal tersebut mengacu pada variabelvariabel segitiga epidemiologi terdiri dari orang (person), tempat (place) dan
waktu (time).
1. Orang (Person)
a. Umur
Umur

adalah

variabel

yang

selalu

diperhatikan

didalam

penyelidikan-penyelidikan epidemiologi. Angka-angka kesakitan maupun


kematian didalam hampir semua keadaan menunjukkan hubungan dengan
umur. Dengan cara ini orang dapat membacanya dengan mudah dan
melihat pola kesakitan atau kematian menurut golongan umur. Persoalan
yang dihadapi adalah apakah umur yang dilaporkan tepat, apakah
panjangnya

interval

didalam

pengelompokan

cukup

untuk

tidak

menyembunyikan peranan umur pada pola kesakitan atau kematian dan


apakah pengelompokan umur dapat dibandingkan dengan pengelompokan
umur pada penelitian orang lain.
b. Jenis Kelamin
Angka-angka dari luar negeri menunjukkan bahwa angka kesakitan
lebih tinggi dikalangan wanita sedangkan angka kematian lebih tinggi
dikalangan pria, juga pada semua golongan umur.
c. Kelas Sosial
Kelas sosial adalah variabel yang sering pula dilihat hubungannya
dengan angka kesakitan atau kematian, variabel ini menggambarkan
tingkat kehidupan seseorang. Kelas sosial ini ditentukan oleh unsur-unsur
seperti pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan banyak contoh ditentukan
pula oleh tempat tinggal. Karena hal-hal ini dapat mempengaruhi berbagai

aspek kehidupan termasuk pemeliharaan kesehatan maka tidaklah


mengherankan apabila kita melihat perbedaan-perbedaan dalam angka
kesakitan atau kematian antara berbagai kelas sosial.
d. Jenis Pekerjaan
Jenis pekerjaan dapat berperan didalam timbulnya penyakit melalui
beberapa jalan yaitu :
- Adanya faktor-faktor lingkungan yang langsung dapat menimbulkan
kesakitan
seperti bahan-bahan kimia, gas-gas beracun, radiasi, benda-benda fisik
yang dapat menimbulkan kecelakaan dan sebagainya.
- Situasi pekerjaan yang penuh dengan stress (yang telah dikenal sebagai
factor yang berperan pada timbulnya hipertensi, ulkus lambung).
- Ada tidaknya gerak badan didalam pekerjaan
- Karena berkerumun di satu tempat yang relatif sempit maka dapat terjadi
proses penularan penyakit antara para pekerja.
- Penyakit karena cacing tambang telah lama diketahui terkait dengan
pekerjaan di tambang.
e. Penghasilan
Yang sering dilakukan ialah menilai hubungan antara tingkat
penghasilan

dengan

pemanfaatan

pelayanan

kesehatan

maupun

pencegahan. Seseorang kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang


ada mungkin oleh karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli
obat, membayar transport, dan sebagainya.
f. Golongan Etnik
Berbagai golongan etnik dapat berbeda didalam kebiasaan makan,
susunan genetika, gaya hidup dan sebagainya yang dapat mengakibatkan
perbedaan-perbedaan didalam angka kesakitan atau kematian.
2. Tempat (Place)

Pengetahuan mengenai distribusi geografis dari suatu penyakit berguna


untuk perencanaan pelayanan kesehatan dan dapat memberikan penjelasan
mengenai etiologi penyakit.
Perbandingan pola penyakit sering dilakukan antara :
1. Batas daerah-daerah pemerintahan
2. Kota dan pedesaan
3. Daerah atau tempat berdasarkan batas-batas alam (pegunungan, sungai, laut
atau padang pasir)
4. Negara-negara
5. Regional
Untuk kepentingan mendapatkan pengertian tentang etiologi penyakit,
perbandingan menurut batas-batas alam lebih berguna daripada batas-batas
administrasi pemerintahan. Hal-hal yang memberikan kekhususan pola penyakit
di suatu daerah dengan batas-batas alam ialah : keadaan lingkungan yang khusus
seperti temperatur, kelembaban, turun hujan, ketinggian diatas permukaan laut,
keadaan tanah, sumber air, derajat isolasi terhadap pengaruh luar yang tergambar
dalam tingkat kemajuan ekonomi, pendidikan, industri, pelayanan kesehatan,
bertahannya tradisi-tradisi yang merupakan hambatan-hambatan pembangunan,
faktor-faktor sosial budaya yang tidak menguntungkan kesehatan atau
pengembangan kesehatan, sifat-sifat lingkungan biologis (ada tidaknya vektor
penyakit menular tertentu, reservoir penyakit menular tertentu, dan susunan
genetika), dan sebagainya.
Variasi geografis pada terjadinya beberapa penyakit atau keadaan lain
mungkin berhubungan dengan 1 atau lebih dari beberapa faktor sebagai berikut :
1. Lingkungan fisis, kemis, biologis, sosial dan ekonomi yang berbeda-beda dari
suatu tempat ke tempat lainnya.
2. Konstitusi genetis atau etnis dari penduduk yang berbeda, bervariasi seperti
karakteristik demografi.
3. Variasi kultural terjadi dalam kebiasaan, pekerjaan, keluarga, praktek higiene
perorangan dan bahkan persepsi tentang sakit atau sehat.

4. Variasi administrasi termasuk faktor-faktor seperti tersedianya dan efisiensi


pelayanan medis, program higiene (sanitasi) dan lain-lain.
c. Waktu (Time)
Mempelajari hubungan antara waktu dan penyakit merupakan kebutuhan
dasar didalam analisis epidemiologis, oleh karena perubahan-perubahan penyakit
menurut waktu menunjukkan adanya perubahan faktor-faktor etiologis. Melihat
panjangnya waktu dimana terjadi perubahan angka kesakitan, maka dibedakan :
1. Fluktuasi jangka pendek dimana perubahan angka kesakitan berlangsung
beberapa jam, hari, minggu dan bulan.
2. Perubahan-perubahan secara siklus dimana perubahan-perubahan angka
kesakitan terjadi secara berulang-ulang dengan antara beberapa hari, beberapa
bulan (musiman), tahunan, beberapa tahun.
3. Perubahan-perubahan angka kesakitan yang berlangsung dalam periode waktu
yang panjang, bertahun-tahun atau berpuluh tahun yang disebut secular
trends.
Epidemiologi analitik, tujuan pokoknya adalah menginvestigasi penyebab
penyakit. Epidemiologi analitik menggunakan metodologi ilmiah dan desain
eksperimen. Epidemiologi analitik adalah pendekatan uji hipotesis yang
digunakan untuk mengkaji asosiasi di antara kejadian penyakit atau pajanan dan
faktor resiko. Kelompok atau populasi diklasifikasi dan dievaluasi berdasarkan
karakteristik yang memengaruhi angka kejadian penyakit.
2. Epidemiologi Analitik
Studi analitik digunakan untuk menguji hubungan sebab akibat dan
berpegangan pada pengembangan data baru. Kunci dari studi analitik ini adalah
untuk menjamin bahwa studi di desain tepat sehingga temuannya dapat dipercaya
(reliable) dan valid. Epidemiologi analitik menguji hipotesis dan menaksir
(mengestimasi) besarnya hubungan / pengaruh paparan terhadap penyakit.
Studi epidemiologi analitik adalah studi epidemiologi yang menekankan
pada

pencarian

jawaban

tentang

penyebab

terjadinya

masalah

kesehatan (determinal), besarnya masalah/ kejadian (frekuensi), dan penyebaran


serta munculnya masalah kesehatan (distribusi) dengan tujuan menentukan
hubungan sebab akibat anatara faktor resiko dan penyakit.
Tujuan Studi Epidemiologi Analitik
Epidemologi Analitik adalah riset epidemiologi yang bertujuan untuk:

Menjelaskan faktor-faktor resiko dan kausa penyakit

Memprediksikan kejadian penyakit

Memberikan saran strategi intervensi yang efektif untuk pengendalian


penyakit

Jenis Studi Epidemiologi Analitik


A. Studi potong lintang (Cross sectional)
Rancangan cross sectional adalah suatu rancangan epidemiologi yang
mempelajari hubungan penyakit dan faktor penyebab yang mempengaruhi
penyakit tersebut dengan mengamati status faktor yang mempengaruhi penyakit
tersebut secara serentak pada individu atau kelompok pada satu waktu.
Penelitian cross sectional adalah suatu penelitian dimana variabel-variabel
yang termasuk faktor resiko dan variabel-variabel yang termasuk efek diobservasi
sekaligus pada waktu yang sama.
Langkah-langkah penelitian cross sectional:
1. Mengidentifikasi variabel-variabel penelitian dan mengidentifikasi faktor
resiko dan faktor efek
2. Menetapkan subjek penelitian
3. Melakukan observasi atau pengukuran variabel-variabel yang merupakan
faktor resiko dan efek sekaligus berdasarkan status keadaan variabel pada
saat itu (pengumpulan data)
4. Melakukan analisi korelasi dengan cara membandingkan proporsi antar
kelompok-kelompok hasil observasi (pengukuran)

Contoh: Ingin mengetahui hubungan antara anemia besi pada ibu hamil dengan
Berat Badan Bayi Lahir (BBL) dengan menggunakan rancangan atau pendekatan
cross sectional.
Ciri khas rancangan cross sectional :

Peneliti melakukan observasi / pengukuran variabel pada suatu saat


tertentu

Status seorang individu atas ada atau tidaknya kedua faktor baik
pemajanan (exposure) maupun penyakit yang dinilai pada waktu yang
sama

Hanya menggambarkan hubungan asosiasi bukan sebab akibat

Apabila penerapannya pada studi deskriptif, peneliti tidak melakukan


tindak lanjut terhadap pengukuran yang dilakukan.

Kelebihan rancangan cross sectional :

Mudah dilaksanakan

Sederhana

Ekonomis dalam hal waktu

Hasilnya dapat diperoleh dengan cepat

Dalam waktu bersamaan dapat dikumpulkan variabel yang banyak, baik


variabel resiko maupun efek

Kekurangan rancangan cross sectional :

Diperlukan subjek penelitian yang besar

Tidak dapat menggambarkan perkembangan penyakit secara akurat

Tidak valid untuk meramalkan suatu kecenderungan

Kesimpulan korelasi faktor resiko dengan efek paling lemah bila


dibandingan dengan dua rancangan epidemiologi yang lain

B. Kasus kontrol (case control)


Rancangan Kasus Kontrol adalah rancangan studi epidemiologi yang
mempelajari hubungan antara penyebab suatu penyakit dan penyakit yang diteliti
dengan membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan
status penyebab penyakitnya.
Penelitian case control adalah suatu penelitian (survey) analitik yang
menyangkut bagaimana faktor resiko dipelajari dengan menggunakan pendekatan
retrospektif.
Tahap-tahap penelitian case control :
1. Identifikasi variabel-variabel penelitian (faktor resiko dan efek)
2. Menetapkan objek penelitian (populasi dan sampel)
3.

Identifikasi kasus

4. Pemilihan subjek sebagai control


5. Melakukan pengukuran retrospetif (melihat ke belakang) untuk melihat
faktor resiko
6. Melakukan analisis dengan menbandingkan proporsi antara variabelvariabel objek penelitian dengan variabel-variabel kontrol
Contoh: Peneliti ingin membuktikan hubungan antara malnutrisi (kekurangan
gizi) pada balita dengan perilaku pemberian makanan oleh ibu.
Ciri rancangan kasus kontrol:

Subjek dipilih atas dasar apakah mereka menderita (kasus) atau tidak
(kontrol) suatu kasus yang ingin diamati kemudian proporsi pemajanan
dari kedua kelompok tersebut dibandingkan

Diketahui variabel terikat (akibat), kemudian ingi diketahui variabel bebas


(penyebab)

Observasi dan pengukuran tidak dilakukan pada saat yang sama

Peneliti melakukan pengukuran variabel bergantung pada efek (subjek


(kasus) yang terkena penyakit) sedangkan variabel bebasnya dicari secara
retrospektif

Untuk kontrol, dipilih subjek yang berasal dari populasi dan karakteristik
yang sama dengan kasus

Bedanya kelompok kontrol tidak menderita penyakit yang akan diteliti

Kelebihan rancangan penelitian case control :

Merupakan satu-satunya cara untuk meneliti kasus jarang atau yang masa
latennya panjang

Hasil dapat diperoleh dengan cepat

Biaya yang dibutuhkan relatif sedikit

Subjek penelitian sedikit

Dapat melihat hubungan bebrapa penyebab terhadap suatu akibat

Adanya pembatasan atau pengendalian faktor resiko sehingga hasil


penelitian lebih tajam dibanding dengan hasil rancangan cross sectional

Kekurangan rancangan penelitian case control :

Sulit menentukan kontrol yang tepat

Validasi mengenai informasi kadang sukar diperoleh

Sukar untuk menyakinkan dua kelompok tersebut sebanding

Tidak dapat dipakai lebih dari satu variabel dependen

Tidak dapat diketahui efek variabel luar karena secara teknis tidak dapat
dikendalikan

C. Kohort
Rancangan Kohort adalah rancangan studi epidemiologi yang mempelajari
hubungan antara penyebab dari suatu penyakit dan penyakit yang diteliti dengan
membandingkan kelompok terpajan dan kelompok yang tidak terpajan berdasar
status penyakitnya.
Penelitian Kohort adalah suatu penelitian yang digunakan untuk
mempelajari dinamika korelasi antara faktor resiko dengan faktor efek melalui
pendekatan longitudinal ke depan atau prospektif.
Langkah-langkah pelaksanaan penelitian Kohort:
1. Identifikasi faktor-faktor resiko dan efek
2. Menetapkan subjek penelitian (menetapkan populasi dan sampel)
3.

Pemilihan subjek dengan faktor risiko positif dari subjek dengan efek
negatif

4. Memilih subjek yang akan menjadi anggota kelompok control


5. Mengobservasi

perkembangan

subjek

sampai

batas

waktu

yang

ditentukan, selanjutnya mengidentifikasi timbul tidaknya efek pada kedua


kelompok
6. Menganalisis dengan membandingkan proporsi subjek yang mendapat
efek positif dengan subjek yang mendapat efek negatif baik pada
kelompok risiko positif maupun kelompok kontrol

Contoh: Penelitian ingin membuktikan adanya hubungan antara kanker (Ca) paru
(efek) dengan merokok (risiko) dengan menggunakan pendekatan atau rancangan
prospektif.
Ciri khas dari rancangan kohort :

Subjek dibagi berdasar ada atau tidaknya pemajanan faktor tertentu dan
kemudian diikuti dalam periode waktu tertentu untuk menentukan
munculnya penyakit pada tiap kelompok

Digunakan untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor resiko dan


efek

Sekelompok subjek yang belum mengalami penyakit atau efek diikuti


secara prospektif

Diketahui variabel bebas (penyebab) kemudian ingin diketahui variabel


terikat (akibat)

Dapat dilakukan secara prospektif dan retrospektif

Kelebihan Rancangan kohort :

Merupakan desain terbaik dalam menentukan insiden perjalanan penyakit


atau efek yang diteliti

Desain terbaik dalam menerangkan dinamika hubungan antara faktor


resiko dengan efek secara temporal

Dapat meneliti beberapa efek sekaligus

Baik untuk evaluasi pemajan yang jarang

Dapat meneliti multipel efek dari satu pemajan

Dapat menetapkan hubungan temporal

Mendapat incidence rate

Biasnya lebih kecil

Kekurangan rancangan kohort :

Memerlukan waktu yang lama

Sarana dan biaya yang mahal

Rumit

Kurang efisien untuk kasus yang jarang

Terancam Drop Out dan akan mengganggu analisis

Menimbulkan masalah etika

Hanya dapat mengamati satu faktor penyebab

3. Epidemiologi Eksperimental
Rancangan studi eksperimen adalah jenis penelitian yang dikembangkan
untuk mempelajari fenomena dalam kerangka korelasi sebab-akibat. Menurut
Bhisma Murti rancangan studi ini digunakan ketika peneliti atau oranglain dengan
sengaja memperlakukan berbagai tingkat variabel independen kepada subjek
penelitian dengan tujuan mengetahui pengaruh variabel independen tersebut
terhadap variabel dependen.
Berdasarkan penelitian tersebut studi eksperimen (studi perlakuan atau
intervensi dari situasi penelitian ) terbagi dalam dua macam yaitu rancangan
eksperimen murni dan quasi eksperimen.
A. Rancangan eksperimen murni
Eksperimen murni adalah suatu bentuk rancangan yang memperlakukan
dan memanipulasi sujek penelitian dengan kontrol secara ketat.
Penelitian eksperimen mempunyai ciri :

Ada perlakuan, yaitu memperlakukan variabel yang diteliti (memanipulasi


suatu variabel)

Ada randominasi, yaitu penunjukan subjek penelitian secara acak untuk


mendapatkan salah satu dari berbagai tingkat faktor penelitian

Semua variabel terkontrol, eksperimen murni mampu mengontrol hampir


semua pengaruh faktor penelitian terhadap variabel hasil yang diteliti

B. Quasi Eksperimen (eksperimen semu)


Quasi Eksperimen (eksperimen semu) adalah eksperimen yang dalam
mengontrol situasi penelitian tidak terlalu ketat atau menggunakan rancangan
tertentu dan atau penunjukkan subjek penelitian secara tidak acak untuk
mendapatkan salah satu dari berbagai tingkat faktor penelitian.
Ciri dari quasi eksperimen :

Tidak ada randominasi, yaitu penunjukkan sujek penelitian secara tidak


acak untuk mendapatkan salah satu dari berbagai tingkat faktor penelitian.
Hal ini disebabkan karena ketika pengalokasian faktor penelitian kepada
subjek penelitian tidak mungkin, tidak etis, atau tidak praktis
menggunakan randominasi

Tidak semua variabel terkontrol karena terkait dengan pengalokasian


faktor penelitian kepada subjek penelitian tidak mungkin, tidak etis, atau
tidak praktis menggunakan randominasi sehingga sulit mengontrol
variabel secara ketat.

LO 2: Syarat pengumpulan sample


Sample yang baik harus mengandung dua criteria yaitu kecermatan
(accurity) dan ketepatan (precision). Kedua kriteria ini penting untuk mewakili
keseluruhan populasi yang ada. Unsur kecermatan dalam pengambilan sample
dimaksudkan terhadap sesuatu yang diambil oleh sample tidak mengandung bias.
Maksudnya, sample tidak akan memberikan reaksi yang terlalu berlebihan
ataupun kurang. Jadi sample dapat mewakili populasi secara wajar. Reaksi yang
berlebihan dapat timbul sebab responden mempunyai kepentingan, sehingga

memberikan tanggapan yang berlebihan. Sebaiknya populasi yang disampaikan


oleh responden sangat kurang sebab responden takut atau tidak berminat. Kriteria
ketepatan mengandung arti sample yang diambil dapat mewakili keseluruhan
populasi. Sehingga aspek ketepatan ini mengandung pengukuran standar yang
dapat ditoleransi terhadap kemungkinan kesalahan pengambilan sample
LO 3 : Macam-macam teknik sampling
Teknik pengambilan sampel ada 2 cara, yaitu:
A. Teknik sampel Acak atau Random atau Probability Sampling
Teknik pengambilan sampel acak atau random adalah dimana
setiap populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dijadikan sebagai
sampel. Pengambilannya menggunakan prinsip kemungkinan atau
probability. Contoh pada 1000 populasi, semuanya bisa menjadi sampel.
Kelemahan teknik ini biasanya harus mengetahui jumlah pasti dari
suatu populasi.
Probability Sampling
a. Simple random sampling
Merupakan tehnik pengambilan sampel anggota populasi dilakukan
secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.
Contoh: misal ada pembiayaan pembangunan pendidikan Dasar di
Jawa Barat, sampelnya adalah seluruh SD dan SMP yang ada di Jawa
Barat. Terhadap seluruh SD dan SMP itu dilakukan pemilihan secara
random tanpa pengelompokan terlebih dahulu, dengan demikian
peluang SD maupun SMP untuk terpilih sebagai sampel sama.
b. Proprotionate stratified random sampling
Tehnik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota atau unsur
yang tidak homogen dan berstrata secara proposional. Contoh:
Seorang

peneliti

ingin

mengetahui

sikap

manajer

terhadap satu kebijakan perusahaan. Dia menduga


bahwa manajer tingkat atas cenderung positif sikapnya
terhadap kebijakan perusahaan tadi. Agar dapat menguji
dugaannya tersebut maka sampelnya harus terdiri atas

paling tidak para manajer tingkat atas, menengah, dan


bawah
c. Dispropotionate stratified random sampling
Tehnik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel bla
populasinya berstrata tetapi kurang proposional. Contoh : Jumlah
populasi di suatu daerahmemiliki 150 orang lulusan SD, 125 orang
lulusan SMP, 122 orang lulusan SMU dan 3 orang lulusan Sarjana. Maka
Pengambilan sampel untuk SD sebanyak 18 orang, SMP sebanyak 15
orang, sedangkan untuk SMU sebanyak 14 orang dan Sarjana
sebanyak 3 orang

d. Area (cluster) sampling


Tehnik ini digunakan bilamana populasi tidak terdiri dari individu,
melainkan terdiri dari kelompok-kelompok indivisu atau cluster.
Contohnya, akan dipilih sampel penelitian untuk meneliti rata-rata
tingkat pendapatan buruh bangunan di Kodya Semarang
Kodya Semarang dibagi menjadi16 Kecamatan, dari 16 Kecamatan
dipilih 2 Kecamatan sebagai Populasi dari sampling I
Dari 2 Kecamatan masing-2 dipilih 2 Kelurahan sebagai Populasi dari
sampel II
Dari 2 Kelurahan masing-2 dipilih 50 buruh bangunan sebagai sampel
penelitian
B. Teknik sampel Non Random atau Non Probability Sampling
Teknik non random adalah pengambilan sampel dengan tidak
menghiraukan prinsip kemungkinan. Biasanya tidak membutuhkan data

yang pasti mengenai jumlah populasi. Hasilnya merupakan gambaran


kasar suatu keadaan.
Non probability Sampling
a. Sampling sistematis
Merupakan tehnik penentuan sampel berdasarkan urutan dari
anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya 1-100 setelah
itu pengambilan sampel pada nomor ganjil atau genap.
b. Sampling quota
Merupakan tehnik untuk menentukan sampel dari populasi yang
mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah atau kuota yang dinginkan.
Sebagai contoh, akan melakukan penelitian tentang pendapat
masyaarakat terhadap pelayanan masyarakat dalam urusan ijin
mendirikan bangunan. Jumlah sample yang ditentukan 500 orang. Jika
pengumpulan data belum memenuhi sampai 500 orang tersebut, maka
penelitian dipandang belum selesai, karena belum memenuhi kuota
yang ditentukan. Bila pengumpulan data dilakukan secara kelompok
yang terdiri atas 5 orang pengumpul data maka setiap anggota
kelompok harus menghubungi 100 orang anggota sample, atau 5 orang
tersebut harus dapat mencari data dari 500 anggota sample.
c. Sampling accidental
Merupakan tehnik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu
siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat
digunakan sebagai sampel. Contoh : misal ada seorang peneliti ingin
mengetahui tentang kebersihan wilayah Jakarta Selatan ia menanyakan
kepada orang yang ada di jalan atau orang yang dia jumpai bukan
orang yang mengerti tentang kebersihan wilayah Jakarta Selatan
seperti petugas kebersihan atau mendatangi gubernur Jakarta Selatan
d. Purposive sampling
Merupakan tehnik penentuan sampel dengan pertimbangan
tertentu. Misalnya penelitian disiplin pegawai yang diteliti hanya orang
ahli dalam bidang kepegawaian.
e. Sampling jenuh / sensus

Merupakaan tehnik penentuan sampel bila semua anggota populasi


sebagai sampel. Misalnya pada populasi kecil yang berjumlah kurang
dari 30 orang.
f. Snowball sampling
Merupakan tehnik penentuan sampel yang mula-mulau jumlahnya
kecil, kemudian sampel ini diminta memilih teman-temannya untuk
dijadikan sampel. Contoh : misalnya seorang peneliti ingin mengetahui
pandangan kaum lesbian terhadap lembaga perkawinan. Peneliti cukup
mencari satu orang wanita lesbian dan kemudian melakukan
wawancara. Setelah selesai, peneliti tadi meminta kepada wanita
lesnian tersebut untuki bisa mewawancarai teman lesbian lainnya.
Setelah jumlah wanita lesbian yang diwawancarainya dirasa cukup,
peneliti bisa menghentikan pencarian wanita lesbian lainnya.

LO 4 : Teknik sampling yang cocok sesuai skenario


Menggunakan teknik sampling berupa sampel Random Berkelompok
(Cluster Sampling), Teknik ini biasa juga diterjemahkan dengan cara pengambilan
sampel berdasarkan gugus. Berbeda dengan teknik pengambilan sampel acak yang
distratifikasikan, di mana setiap unsur dalam satu stratum memiliki karakteristik
yang homogen (stratum A : laki-laki semua, stratum B : perempuan semua), maka
dalam sampel gugus, setiap gugus boleh mengandung unsur yang karakteristiknya
berbeda-beda atau heterogen. Dalam kasus pada skenario dapat dilakukan teknik
sampling cluster dengan cara membagi sd dikecamatan tersebut menjadi per
kelurahan lalu diambil jumlah perwakilan dari setiap kelurahan dengan jumlah sd
yang sama, kemudian sampel yang di ambil dibagi dengan jumlah SD perwakilan
sehingga didapatkan jumlah siswa per SD perwakilan. Lalu didapatkan sampel
yang homogen.
1. Susun sampling frame berdasarkan kelurahan
2. Tentukan berapa SD per kelurahan yang akan diambil sebagai sampel
3. Pilih gugus sebagai sampel dengan cara acak
4. Teliti sejumlah siswa yang ada dalam gugus sample sebanyak sampel

yang dibutuhkan
DAFTAR PUSTAKA
Budiarto, Eko. 2003. Pengantar Epidemiologi. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran
EGC
Departemen Kesehatan RI. 1997. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu
Puskesmas. Jakarta
Entjang, Indan. 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bandung. Citra Aditya Bakti
Eriyanto. 2007. Teknik Sampling Analisis Opini Publik. Yogyakarta: PT. LKIS
Pelangi Aksara. Gulo, W. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta : Grasindo
Hartanto, Rudy. 2003. Metodologi Penelitian. Undip. Semarang.
Lemeshow, Stanley. 1997. Besar Sampel dalam Penelitian Kesehatan. Yogyakarta
: Gadjah Mada University Press.
Margono. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Sugiyono. 2001. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta