Anda di halaman 1dari 19

TUGAS INDIVIDU

MAKALAH TOKSIKOLOGI

PENINGKATAN PREVALENSI DIABETES


OLEH BAHAN PENCEMAR Polychlorinated Biphenyls (PCBs)

Dosen Mata Kuliah :


Dr. Etty Riani, MS

Disusun Oleh:
Ihsan Arham P052150411

SEKOLAH PASCASARJANA
PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016

1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Manusia dengan segala aktivitasnya sangat sangat sulit terhindar dari polusi
udara, air maupun tanah. Bahan polutan tersebut dapat berada di lingkungan kerja
maupun rumah tangga. Polutan tersebut mengandung bahan berbahaya dan beracun
(B3) yang karena sifat atau konsentrasi, jumlahnya, baik secara langsung maupun
tidak langsung, dapat mencemari atau merusak lingkungan hidup, kesehatan,
kelangsungan hidup manusia serta mahluk hidup lain.
Sudarmaji (2006) menjelaskan bahwa berdasrkan data dari Environmental
Protection Agency (EPA) tahun 1997, salah satu bahan beracun berbahaya adalah
Polychlorinated Biphenyls (PCBs). Polychlorinated Biphenyls merupakan suatu
senyawa organoklorine selain mempunyai sifat racun yang sama dengan pestisida,
juga mempunyai sifat yang persisten di alam. Konsentrasi PCB yang tinggi akan
berbahaya bagi kesehatan manusia bila ditemukan di dalam lingkungan, baik di
dalam air, tanah maupun udara.
Beberapa penelitian mengungkapkan adanya hubungan antara PCBs tersebut
dengan resistensi insulin dan diabetes tipe 2. Charissa (2013) menyebutkan bahwa
PCB merupakan bahan kimia yang tergolong polutan serta termasuk zat kimia Agen
Oranye. Pada beberapa temuan hasil penelitian menunjukkan keberadaan bahan aktif
dioxin dan turut meningkatkan resistensi insulin.
PCBs mempunyai titik didih yang tinggi dan tidak mudah menguap sehingga
sesuai untuk alat listrik. Senyawa ini termasuk bahan cemaran organik yang persisiten
(POPs) yaitu yang sukar diurai oleh mikroorganime di alam. Kebanyakan dari
senyawa POPs dari hasil pengamatan menunjukkan dapat mengganggu siklus
reproduksi baik bagi manusia maupun kehidupan organisme hidup lainnya (Colon
and Smolen, 1996).
Munawir (2010) Menerangkan bahwa pada masa sebelum tahun 1970, PCB
banyak digunakan sebagai tambahan dalam berbagai industri, sebagai campuran
bahan isolator, konduktor, kondensor, pompa hampa udara, sistem hidraulik, sebagai
zat pewarna dalam tinta, sebagai bahan dasar kertas fotocopy, plastiser, perekat,
turbin transmisi gas, sistem pemindah panas, pelumas dan banyak lainnya.
Menurut Sumarno (2011), PCB dengan sengaja diproduksi secara komersil
dalam jumlah besar sampai produksi tersebut dilarang ditahun 1977. Di Amerika
Serikat, tingkat dioksin sudah menurun terus sejak awal tahun 1970-an sebagai akibat
dari aksi aksi pembersihan serta peraturan dari negara bagian dan pusat. Meskipun
begitu, tingkat dioksin yang ada sekarang masih harus tetap menjadi perhatian.
Sebagai salah satu bahan beracun berbahaya yang banyak digunakan dalam
industri, maka sangat relevan dilakukan pengkajian antara pemanfaatan PCBs dalam
industri dengan pengaruhnya terhadap kesehatan manausia. Penting juga dikaji secara
mendalam penanganan limbah PCB secara makro hingga mikro agar tidak terjadi
pencemaran yang melebihi ambang batas daya dukung lingkungan. Dari latar
belakang tersebut, sangatlah penting dilakukan pengkajian mengenai mekanisme
peningkatan prevalensi diabetes yang disebabkan oleh PCB.

1.2. Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang akan dikaji oleh penulis dalam makalah ini
adalah:
1. Bagaimana mekanisme peningkatan prevalensi diabetes oleh PCBs?
2. Bagaimana faktor risiko dan penanganan PCBs?
3. Bagaimana upaya yang dilakukan dalam pencegahan penyakit diabetes?
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Menganalisis mekanisme peningkatan prevalensi diabetes oleh PCBs;
2. Mengidentifikasi faktor risiko dan penanganan PCBs;
3. Mengidentifikasi upaya yang dapat dilakukan dalam pencegahan
diabetes.

penyakit

2. TINJAUAN TEORITIS

2.1. Karakteristik Polychlorinated Biphenyls (PCBs)


PCB ditemukan pertama kali pada tahun 1865 sebagai bahan sampingan tar
batubara. Connel (2006) menerangkan bahwa PCB telah dipatenkan oleh Schmidt
dan Schultz pada tahun 1881 untuk produksi zat-zat kimia dalam skala laboratorium.
Di tahun 1930 di Amerika Serikat oleh Mosanto Company dari Swan Chemical
Company,
PCB mulai diproduksi secara masal. Negara-negara lain yang
memproduksi PCBs seperti Austria, Cina, Czecholsovakia, Perancis, Jerman, Italia,
Jepang, Rusia, Spanyol, Inggris dan Amerika Serikat. Puncak produksi terjadi pada
tahun 1970 di Amerika Serikat yaitu oleh Mosanto sebagai produsen tunggal PCB.
Sebesar 1,7 juta ton PCB dunia diproduksi antara tahun 1929 sd 1989. Namun di
tahun 1968 ditemukan kasus medis yaitu YUSHO syndrom di Jepang dan penelitian
yang merujuk pada kemungkinan hubungan antara PCB dan efek kesehatan yang
merugikan. Dan selanjutnya karena temuan efek kesehatan yang muncul, Monsanto
kemudian menyusun pembatasan secara sukarela mengenai penjualan PCB untuk
alasan lingkungan di tahun 1970. Kadar paparan yang diperbolehkan 1 mg/m 3 udara
setiap hari selama 8 jam. Menurut UNEP, secara global sekitar 3,2 juta ton peralatan
dan cairan telah terkontaminasi PCBs.
Polychlorinated Biphenyls (PCBs) adalah suatu senyawa organoklorine selain
mempunyai sifat racun yang sama dengan pestisida, juga mempunyai sifat yang
persisten di alam. Sebelum tahun 1970, PCB banyak digunakan sebagai tambahan
dalam berbagai industri, sebagai campuran bahan isolator, konduktor, kondensor,
pompa hampa udara, sistem hidraulik, sebagai zat pewarna dalam tinta, sebagai bahan
dasar kertas fotocopy, plastiser, perekat, turbin transmisi gas, sistem pemindah panas,
pelumas dan banyak lainnya (Hutzinger et al., 1974).
Hal ini disebabkan sifat senyawa ini yaitu mempunyai titik didih yang tinggi
dan tidak mudah menguap sehingga sesuai untuk alat listrik. Senyawa ini termasuk
bahan cemaran organik yang persisiten (POPs) yaitu yang sukar diurai oleh
mikroorganime di alam. Kebanyakan dari senyawa POPs dari hasil pengamatan
menunjukkan dapat mengganggu siklus reproduksi baik bagi manusia maupun
kehidupan organisme hidup lainnya (Colon and Smolen, 1996).
Polychlorinated Biphenyl atau lebih dikenal sebagai PCBs, mengandung arti
senyawa aromatik yang terbentuk sedemikian rupa sehingga atom hidrogen pada
molekul Biphenyl (dua cincin benzena disatukan oleh satu ikatan carbon) dapat
digantikan sampai dengan 10 atom Chlorine atau dikenal sebagai Chlorinated
hydrocarbons. Rumus kimia dari PCB adalah C 12H(10-n)Cln. Bahan PCB ini juga dapat
dihasilkan dari produksi yang secara tidak disengaja terbentuk dan terlepas dari
proses termal yang melibatkan bahan organik dan klorin sebagai akibat pembakaran
atau reaksi kimia yang tidak sempurna. Struktur molekul PCB dapat dilihat dalam
gambar 1 dan gambar 2 berikut.

Gambar 1 Struktur Molekul PCB


Sumber : UNEP,1999

Gambar 2 Contoh PCB Homologues


Sumber : NAS,2001
Sifat-sifat PCB meliputi daya uap yang rendah, kelarutan dalam air yang rendah,
tahan api, konduktivitas elektrik yang rendah, tahan panas, tingkat kestabilan secara
kimia yang tinggi, tahan terhadap berbagai oksidan dan bahan kimia lainnya. PCBs
dapat larut dalam air dan secara mudah larut dalam lemak, hydrocarbons, dan bahan

organik lainnya. Zat-zat ini hanya dapat dihancurkan pada suhu lebih dari 800 oC
selama 10 detik (Connell 2006).
Kestabilan terhadap panas dan kimia tersebutlah yang menjadikan PCBs sangat
banyak dipakai dalam skala industri. Sebagai contoh, PCB telah ditambahkan ke
dalam plastik untuk menambahkan ketahanan terhadap api dan menambah waktu
hidup. PCBs dalam keadaan murni seringkali ditemui sebagai kristal tidak berwarna,
tetapi PCBs komersial yang merupakan campuran PCB murni dengan senyawa lain
diberi pewarna kuning terang atau warna gelap (Oliver et al 1989).
Sifat-sifat PCBs dapat dikatakan mirip dengan insektisida organoklor dan dengan
demikian teknik isolasi yang mirip digunakan dalam pembuatan sampel untuk
analisis. Sebelum pertengahan tahun 1960-an, pendeteksi PCB dilakukan dengan
analisa kromatografi gas dari sampel diisolasi. Analisa ini menyebabkan deteksi
puncak-puncak kromatogram yang palsu.
Pada saat tersebut menurut Connel (2006) menjelaskan bahwa tampaknya
terdapat kebingungan antara puncak kromatografi gas PCB dan puncak yang
disebabkan oleh insektisida organoklor dalam pustaka ilmiah sebelum masa itu. Di
tahun 1966 telah dipastikan bahwa puncak palsu tersebut ternyata karena PCB. Hal
inilah yang memicu penelitian di seluruh dunia mengenai keberadaan PCB di
lingkungan hingga saat ini.
2.2. Penyebab dan Gejala Diabetes
Diabetes atau biasa dikenal sebagai Diabetes Melitus adalah penyakit kelainan
metabolik yang dikarakteristikkan dengan hiperglikemia kronis serta kelainan
metabolisme karbohidrat, lemak dan protein diakibatkan oleh kelainan sekresi insulin,
kerja insulin maupun keduanya (Kardika et.al. 2009). Diabetes Mellitus (DM)
merupakan salah satu kelompok penyakit metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia
karena gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Keadaan hiperglikemia
kronis dari diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, gangguan fungsi
dan kegagalan berbagai organ, terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh
darah (ADA, 2012).
Diabetes Mellitus adalah sindrom klinis yang ditandai dengan hiperglikemia
karena defisiensi insulin yang absolut maupun relatif. Kurangnya hormon insulin
dalam tubuh yang dikeluarkan dari sel B pankreas mempengaruhi metabolisme
karbohidrat, protein, dan lemak menyebabkan gangguan signifikan. Kadar glukosa
darah erat diatur oleh insulin sebagai regulator utama perantara metabolisme. Hati
sebagai organ utama dalam transport glukosa yang menyimpan glukosa sebagai
glikogen dan kemudian dirilis ke jaringan perifer ketika dibutuhkan (Biswas, 2006).
World Health Organization (WHO) sebelumnya telah merumuskan bahwa DM
merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan dalam satu jawaban yang jelas dan
singkat tetapi secara umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problema
anatomi dan kimiawi akibat dari sejumlah faktor dimana didapat defisiensi insulin
absolut atau relatif dan gangguan fungsi insulin (Purnamasari, 2009).
Diabetes terbagi menjadi tiga tipe. Kardika (2006) menjelaskan bahwa DM
adalah kelainan endokrin yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah. Secara

etiologi DM dapat dibagi menjadi DM tipe 1, DM tipe 2, DM dalam kehamilan, dan


diabetes tipe lain:
a. Diabetes Mellitus Tipe 1
DM tipe 1 atau yang dulu dikenal dengan nama Insulin Dependent Diabetes
Mellitus (IDDM), terjadi karena kerusakan sel pankreas (reaksi autoimun).
Sel pankreas merupakan satu-satunya sel tubuh yang menghasilkan insulin
yang berfungsi untuk mengatur kadar glukosa dalam tubuh. Bila kerusakan sel
pankreas telah mencapai 80-90% maka gejala DM mulai muncul. Perusakan
sel ini lebih cepat terjadi pada anak-anak daripada dewasa. Sebagian besar
penderita DM tipe 1 sebagian besar oleh karena proses autoimun dan sebagian
kecil non autoimun. DM tipe 1 yang tidak diketahui penyebabnya juga disebut
sebagai type 1 idiopathic, pada mereka ini ditemukan insulinopenia tanpa
adanya petanda imun dan mudah sekali mengalami ketoasidosis. DM tipe 1
sebagian besar (75% kasus) terjadi sebelum usia 30 tahun dan DM Tipe ini
diperkirakan terjadi sekitar 5-10 % dari seluruh kasus DM yang ada.
b. Diabetes Mellitus Tipe 2
DM tipe 2 merupakan 90% dari kasus DM yang dulu dikenal sebagai non
insulin dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Bentuk DM ini bervariasi
mulai yang dominan resistensi insulin, defisiensi insulin relatif sampai defek
sekresi insulin. Pada diabetes ini terjadi penurunan kemampuan insulin
bekerja di jaringan perifer (insulin resistance) dan disfungsi sel . Akibatnya,
pankreas tidak mampu memproduksi insulin yang cukup untuk
mengkompensasi insulin resistance. Kedua hal ini menyebabkan terjadinya
defisiensi insulin relatif.Kegemukan sering berhubungan dengan kondisi ini.
DM tipe 2 umumnya terjadi pada usia > 40 tahun. Pada DM tipe 2 terjadi
gangguan pengikatan glukosa oleh reseptornya tetapi produksi insulin masih
dalam batas normal sehingga penderita tidak tergantung pada pemberian
insulin. Walaupun demikian pada kelompok diabetes melitus tipe-2 sering
ditemukan komplikasi mikrovaskuler dan makrovaskuler.
c. Diabetes Mellitus Gestasional
DM dalam kehamilan (Gestational Diabetes Mellitus - GDM) adalah
kehamilan yang disertai dengan peningkatan insulin resistance (ibu hamil
gagal mempertahankan euglycemia). Pada umumnya mulai ditemukan pada
kehamilan trimester kedua atau ketiga. Faktor risiko GDM yakni riwayat
keluarga DM, kegemukan dan glikosuria. GDM meningkatkan morbiditas
neonatus, misalnya hipoglikemia, ikterus, polisitemia dan makrosomia. Hal
ini terjadi karena bayi dari ibu GDM mensekresi insulin lebih besar sehingga
merangsang pertumbuhan bayi dan makrosomia.Kasus GDM kira-kira 3-5%
dari ibu hamil dan para ibu tersebut meningkat risikonya untuk menjadi DM
di kehamilan berikutnya.
d. Diabetes Mellitus Tipe Lain
Subkelas DM lainnya yakni individu mengalami hiperglikemia akibat
kelainan spesifik (kelainan genetik fungsi sel beta), endokrinopati (penyakit
Cushings, akromegali), penggunaan obat yang mengganggu fungsi sel beta

(dilantin), penggunaan obat yang mengganggu kerja insulin (b-adrenergik)


dan infeksi atau sindroma genetik (Downs, Klinefelters).
3. PEMBAHASAN

3.1. Mekanisme Peningkatan Prevalensi Diabetes oleh PCBs


Prevalensi adalah bagian dari studi epidemiologi yang membawa pengertian
jumlah orang dalam populasi yang mengalami penyakit, gangguan atau kondisi
tertentu pada suatu tempoh waktu dihubungkan dengan besar populasi dari mana
kasus itu berasal. Prevalensi sepadan dengan insidensi dan tanpa insidensi penyakit
maka tidak akan ada prevalensi penyakit. Insidensi merupakan jumlah kasus baru
suatu penyakit yang muncul dalam satu periode waktu dibandingkan dengan unit
populasi tertentu dalam periode tertentu. Insidensi memberitahukan tentang kejadian
kasus baru. Prevalensi memberitahukan tentang derajat penyakit yang berlangsung
dalam populasi pada satu titik waktu (Timmereck, 2001).
Pada Tahun 2000, lima Negara dengan jumlah penderita Diabetes mellitus
terbanyak pada kelompok 20-79 tahun adalah India (31,7 juta), Cina (20,8 juta),
Amerika (17,7 juta), Indonesia (8,4 juta), dan Jepang (6,8 juta). Berdasarkan survei
lokal, prevalensi DM di Pulau Bali pada tahun 2004, mencapai angka 7,2 %. Pada
tahun 2005, di DKI Jakarta telah dilakukan survei, dan diperoleh prevalensi DM
sebesar 12,8 %. (Suyono, 2005).
Prevalensi Diabetes Mellitus di Indonesia, jika diasumsikan sebesar 2 persen
maka akan didapatkan 3,56 Juta pasien Diabetes Mellitus. Jumlah tersebut merupakan
jumlah yang cukup besar untuk ditangani oleh para ahli Diabetes Mellitus. Angka
tersebut akan cenderung meningkat terus seiring dengan tingkat pertumbuhan
ekonomi. Untuk itu biaya pengelolaan Diabetes Mellitus sangat mahal, diagnosis
secara dini adalah satu-satunya cara untuk mengendalikan penyakit kronis ini
(Krisnatuti dan Hastuti,1995).
Sedangkan menurut laporan PERKENI tahun 2005 dari berbagai penelitian
epidemiologi di Indonesia, menunjukkan bahwa angka prevalensi DM terbanyak
terdapat di kota-kota besar, antara lain : Jakarta 12,8 %, Surabaya 1,8 %, Makassar
12,5 %,dan Manado 6,7 %. Sedangkan prevalensi DM terendah terdapat di daerah
pedesaan antara lain Tasikmalaya sebesar 1,8 % dan Tanah Toraja sebesar 0,9 %.
Adanya perbedaan prevalensi DM di perkotaan dengan di pedesaan menunjukkan
bahwa gaya hidup mempengaruhi kejadian DM (Waspadji, 2005).
Berbagai studi menunjukkan adanya pengaruh pajanan PCBs terhadap
peningkatan prevalensi Diabetes. Salah satunya adalah yang dilakukan di Kota
Anniston, Amerika Serikat pada tahun 2011. Peneliti, Silverstone et.al (2012)
menemukan bahwa ini di antara responden sebanyak 47% Afrika Amerika, 70%
perempuan, dengan usia rata-rata 54,8 tahun. Prevalensi diabetes adalah 27% dalam
populasi penelitian, sesuai dengan estimasi prevalensi 16% untuk Anniston
keseluruhan; beban PCB tubuh 35 congener utama berkisar,11-170,42 ppb, berat
basah. Disesuaikan atau dibandingkan dengan prevalensi diabetes di kelima

dibandingkan kuintil pertama serum PCB adalah 2,78 (95% CI: 1.00, 7.73), dengan
asosiasi sejenis yang diperkirakan untuk kedua melalui kuintil keempat. Dalam
peserta <55 tahun, yang disesuaikan Rasio Perkembangan (OR) diabetes untuk
tertinggi dibandingkan kuintil terendah 4,78 (95% CI: 1.11, 20,6), sedangkan pada
mereka 55 tahun, tidak ada hubungan yang signifikan dengan PCB. Prevalensi
diabetes Peningkatan diamati dengan kenaikan 1 SD di tingkat PCB log pada wanita
(OR = 1,52; 95% CI: 1,01, 2,28); prevalensi penurunan diamati pada pria (OR = 0,68;
95% CI: 0,33, 1,41).
Penelitian tersebut adalah salah satu bukti adanya hubungan antara pajanan
PCBs dengan meningkatnya prevalensi dabetes mellitus di Anniston. Silverstone et al
(2012) menyebutkan bahwa peningkatan prevalansi diabetes dapat diakibatkan oleh
adanya interaksi antara pajanan PCBs dengan empat hal yaitu; a) Tingkat pendidikan,
d) Hubungan pernikahan; c) Merokok dan d) Lama tinggal di Anniston.
Pajanan PCBs dapat terjadi di lingkungan tempat manusia banyak
beraktivitas. Menurut ATSDR (2014) manusia dapat mengabsorbsi PCB melalui
inhalasi, oral, dan dermal. Dua sumber utama pajanan PCB berasal dari lingkungan
dan tempat kerja. Karena mereka tahan terhadap degradasi, senyawa PCB sangat
chlorinated dapat bertahan di lingkungan selama beberapa dekade. Namun, selama
dua dekade terakhir, konsentrasi PCB di sebagian besar media lingkungan secara
umum mengalami penurunan.
Makanan adalah sumber utama pajanan PCB untuk masyarakat umum (CDC
2009). Paparan terjadi terutama dengan menelan makanan tinggi lemak seperti
produk susu, telur, lemak, ikan dan satwa liar (ATSDR 2000). CDC menerbitkan
Laporan Nasional Paparan Manusia Kimia Lingkungan. Laporan ini merupakan
penilaian berkelanjutan dari paparan bahan kimia lingkungan pada populasi umum di
AS. Laporan Keempat (CDC 2009) berisi data selama bertahun-tahun 1999-2000,
2001-2002, dan 2003-2004 dari peserta National Health dan Nutrition Examination
Survey (NHANES).
Dalam lingkungan perairan, lipofilisitas yang tinggi pada PCB menyebabkan
senyawa ini untuk keluar dari air dan terserap menjadi sedimen. Meskipun adsorpsi
sedimen membantu mencegah kontaminasi pasokan air minum, bagian PCB pada
sedimen berperan dalam kecenderungan senyawa ini menjadi terkonsentrasi pada
organisme akuatik. Ikan yang makan dari perairan di bagian bawah (bottom-feeding
fish) secara tidak langsung mengumpulkan PCB dari sedimen. Hambatan dari
senyawa ini, penyebab biodegradasi PCB menjadi lebih terkonsentrasi ketika mereka
bergerak ke atas melalui rantai makanan dari organisme bottom-feeding. Sebagai
hasil dari biokonsentrasi dan biomagnifikasi, tingkat PCB dalam organisme air dapat
sebanyak satu juta kali lebih tinggi dari tingkat dalam lingkungan air (ATSDR 2000).
Dalam studi Nasional Kimia Residu di Fish dilakukan antara tahun 1986 dan 1989
(EPA 1992), konsentrasi rata-rata PCB pada ikan bottom-feeding sebesar 1,9 ppm.
Namun, tingkat PCB setinggi 20 ppm telah terdeteksi pada ikan yang diambil dari
perairan dekat lokasi limbah berbahaya (ATSDR 2000).
Total Studi Diet yang dilakukan oleh Food and Drug Administration (FDA)
telah mengungkapkan bahwa jumlah tingkat PCB telah menunjukkan tren penurunan
konsentrasi dari tahun 1970-an sampai 1980-an dan asupan yang relatif stabil dari

tahun 1982 sampai 1997. Sebagai contoh, jumlah diet studi yang dilakukan 19821984 untuk orang dewasa antara usia 25 dan 30 menunjukkan bahwa asupan harian
rata-rata PCB adalah <0,001 mikrogram / kilogram (mg / kg) berat badan / hari
sedangkan pada studi tahun 1997, rata-ratanya adalah 0.002 mg / kg berat badan / hari
(ATSDR 2000).
Selain di lingkunan terbuka, manusia juga dapat terkena dampak PCBs di
lingkungan terbuka. Salah satunya ialah kelompok masyarakat yang tinggal di dekat
insinerator, fasilitas pembuangan PCB lainnya, atau situs limbah berbahaya lainnya
dimana PCB telah terdeteksi dapat menerima pajanan tinggi PCB daripada populasi
umum. Eksposur tersebut mungkin melalui konsumsi, inhalasi, atau kontak dengan
kulit (ATSDR 2000).
3.2. Faktor Risiko dan Penanganan PCBs
Faktor Risiko Penggunaan PCBs dapat diukur dengan tingkat toksisitas pada
PCBs yang sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor.diantaranya:
1. Congener PCB. Toksisitas PCB tergantung pada congener PCB yang spesifik
(ATSDR, 2000).
2. Kebakaran dan sumber suhu tinggi. Seperti insinerator limbah berbahaya dan
kebakaran trafo listrik, juga dapat meningkatkan toksisitas campuran PCB dengan
pembentukan CDFS (ATSDR, 2000). Misalnya, dalam kebakaran trafo di
Binghamton (New York), cairan dielektrik terdiri dari 65% Aroclor 1254 dan 35%
benzena polychlorinated adalah pyrolyzed. Pirolisis ini menyebabkan
pembentukan jelaga berminyak, yang didistribusikan ke seluruh bangunan melalui
lubang ventilasi. Selain PCB, jelaga juga mengandung CDF tingkat tinggi, CDDs,
termasuk 2,3,7,8-etrachlorodibenzodioxin (TCDD), biphenylenes diklorinasi, dan
bahan kimia lainnya. Informasi yang terbatas tersedia tentang efek kesehatan pada
orang yang terkena jelaga di kulit, jika terhirup, atau konsumsi dari makan dengan
tangan kotor.
3. Pengikatan metabolit PCB dengan makromolekul seluler nukleofilik dapat
berkontribusi pada efek racun dari PCB. PCB dimetabolisme oleh sistem
mikrosomal monooxygenase yang dikatalisis oleh sitokrom P-450 untuk fenol
(melalui intermediet aren oksida), yang dapat terkonjugasi atau dihidroksilasi lebih
lanjut untuk membentuk suatu katekol. Arene oksida intermediet bersifat
elektrofilik di alam, kovalen dan dapat mengikat makromolekul nukleofilik selular
(misalnya, protein, DNA, RNA) dan menginduksi untaian DNA dan perbaikan
DNA, yang dapat berkontribusi terhadap respon toksik dari PCB. Selain itu, arena
oksida intermediet dapat terkonjugasi dengan glutathione dan selanjutnya
dimetabolisme untuk membentuk metabolit metilsulfonil, yang telah diidentifikasi
dalam serum dan jaringan sampel manusia dan pada hewan laboratorium.
Pengikatan metabolit metilsulfonil dengan beberapa protein dapat berkontribusi

untuk beberapa efek racun dari PCB. Hal ini juga telah dihipotesiskan bahwa
metabolit PCB hydroxylated dapat berkontribusi terhadap toksisitas PCB (ATSDR
2013).
Sebagai penangan atau pengurangan dampak PCBs terhadap manusia maka
perlu dilakukan pengaturan Nilai Ambang Batas penggunaan PCBs. Occupational
Safety and Health Administration (OSHA) menyarankan batas pemaparan yang
diizinkan (Pemissible Exposure Limit atau PEL) sebesar 1,0 miligram per meter
kubik (mg / m3) pada area kerja udara selama 8 jam kerja per hari atau 40 jam per
minggu (TWA) untuk PCB yang mengandung 42% klorin (rata-rata rumus molekul
C12H7Cl3). Adapun PEL untuk PCB dengan 54% klorin dan rumus molekul rata-rata
C12H5Cl5 adalah 0,5 mg / m3 (OSHA 1998). Kedua standar mencakup semua bentuk
fisik senyawa seperti Aerosol, uap, kabut, spray (semprotan), dan partikel debu yang
sarat akan PCB.
The National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH)
merekomendasikan 10 jam TWA dari 1,0 mikrogram per meter kubik (ug / m3)
berdasarkan konsentrasi minimum yang terdeteksi dan potensi karsinogenisitas dari
PCB. NIOSH juga merekomendasikan bahwa semua paparan di tempat kerja
dikurangi ke tingkat terendah yang layak (NIOSH, 2005).
EPA menganggap PCB sebagai zat yang mungkin karsinogen pada manusia
dan melarang limbah industri di bawah Pedoman Water Act Effluent. Tujuan EPA
untuk tingkat kontaminasi maksimum (Maximum Contaminant Level atau MCL) dari
air minum adalah nol, dan MCL untuk PCB dalam sistem air publik sebesar 0.0005
ppm (EPA 2001). EPA mensyaratkan bahwa tumpahan PCB atau secara tidak sengaja
rilis ke lingkungan dari 1 pound atau lebih dilaporkan ke EPA (ATSDR 2000).
FDA mewajibkan toleransi PCB dari 0,2-3,0 ppm untuk semua makanan,
dengan tingkat toleransi pada ikan yaitu 2 ppm. FDA juga membatasi PCB di kertas
bahan makanan kemasan untuk 10 ppm (FDA 1996). The Food and Agriculture
Organization (FAO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membolehkan asupan
PCB harian 6 mg / kg per hari.

Di Indonesia, baku mutu PCB diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun
1999 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.

3.3. Upaya Pencegahan Diabetes


Beban penyakit diabetes sangatlah besar apalagi bila terjadi komplikasi.
Upaya pengendalian diabetes menjadi tujuan yang sangat penting dalam
mengendalikan dampak komplikasi yang menyebabkan beban yang sangat berat baik
individu maupun keluarga juga pemerintah (WHO, 2006).
Upaya pencegahan penyakit diabetes mellitus dapat dilakukan dengan cara
yang diungkap oleh Nurrahmani (2012) sebagai berikut:
a. Pencegahan Primer
Cara ini adalah cara yang paling sulit karena sasarannya adalah orang sehat.
Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mencegah agar DM tidak terjadi pada orang
atau populasi yang rentan (risiko tinggi), yang dilakukan sebelum timbul tandatanda klinis dengan cara :

Makan seimbang artinya adalah apa yang dimakan dan apa yang dikeluarkan
seimbang disesuiakan dengan aktifitas fisik dan kondisi tubuh, dengan
menghindari makanan yang mengandung lemak tinggi karena bisa
menyebabkan penyusutan konsumsi energi. Mengkonsusmsi makanan dengan
kandungan karbohidrat yang berserat tinggi dan bukan olahan.
Meningkatkan kegiatan olah raga yang berpengaruh pada sensitifitas insulin dan
menjaga berat badan agar tetap ideal.
Kerjasama dan tanggung jawab antara instansi kesehatan, masyarakat, swasta
dan pemerintah, untuk melakukan penyuluhan kepada masyarakat
b. Pencegahan Sekunder
Ditujukan pada pendeteksian dini DM serta penanganan segera dan efektif,
sehingga komplikasi dapat dicegah.
Hal ini dapat dilakukan dengan skrining, untuk menemukan penderita sedini
mungkin terutama individu/populasi.
Kalaupun ada komplikasi masih reversible / kembali seperti semula.
Penyuluhan kesehatan secara profesional dengan memberikan materi
penyuluhan seperti : apakah itu DM, bagaimana penatalaksanaan DM, obatobatan untuk mengontrol glukosa darah, perencanaan makan, dan olah raga.
c. Pencegahan Tersier
Upaya dilakukan untuk semua penderita DM untuk mencegah komplikasi.
Mencegah progresi dari komplikasi supaya tidak terjadi kegagalan organ.
Mencegah kecacatan akibat komplikasi yang ditimbulkan.
Strategi yang bisa dilakukan untuk pencegahan DM adalah :
a. Population/Community Approach (Pendekatan Komunitas).
Strategi ini dilakukan dengan mendidik masyarakat untuk menjalankan gaya
hidup sehat dengan cara:
Mengendalikan berat badan, glukosa darah, lipid, tekanan darah, asam urat.
Menghindari gaya hidup berisiko.
Kerjasama dengan semua lapisan masyarakat.
b. Individual High Risk Approach (Pendekatan Individu) :
Umur > 40th
Obesitas
Hipertensi
Riwayat keluarga / keturunan
Dislipidemia / timbunan lemak dalam darah yang berlebihan
Riwayat melahirkan > 4 kg
Riwayat DM pada saat kehamilan
Berdasarkan informasi Kemenkes RI (2014), pengendalian diabetes mellitus
antara lain dapat digambarkan dalam diagram berikut:

Program pengendalian diabetes mellitus dilaksanakan secara terintegrasi


dalam program pengendalian penyakit tidak menular terintegrasi yaitu antara lain :
1. Pendekatan faktor risiko penyakit tidak menular terintegrasi di fasilitas
layanan primer (Pandu PTM)
Untuk peningkatan tatalaksana faktor risiko utama (konseling berhenti
merokok, hipertensi, dislipidemia, obesitas dan lainnya) di fasilitas
pelayanan dasar (puskesmas, dokter keluarga, praktik swasta)
Tatalaksana terintegrasi hipertensi dan diabetes mellitus melalui
pendekatan faktor risiko
Prediksi penyakit jantung dan stroke dengan charta WHO

2. Posbindu PTM ( Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular)


Pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan kewaspadaan dini
dalam memonitoring faktor risiko menjadi salah satu tujuan dalam program
pengendalian penyakit tidak menular termasuk diabetes mellitus. Posbindu
PTM merupakan program pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular
berbasis masyarakat yang bertujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat
terhadap faktor risiko baik terhadap dirinya, keluarga dan masyarakat
lingkungan sekitarnya.
3. CERDIK dan PATUH di Posbindu PTM dan Balai Gaya Hidup Sehat
Program PATUH, yaitu :
P : Periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter
A : Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat dan teratur
T : Tetap diet sehat dengan gizi seimbang
U : Upayakan beraktivitas fisik dengan aman

H : Hindari rokok, alcohol dan zat karsinogenik lainnya


Program CERDIK, pesan peningkatan gaya hidup sehat yang disampaikan di
lingkungan sekolah, yaitu :
C : Cek kondisi kesehatan secara berkala
E : Enyahkan asap rokok
R : Rajin aktivitas fisik
D : Diet sehat dengan kalori seimbang
I : Istirahat yang cukup
K :Kendalikan Stress

4. PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Dari penjelasan di atas, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Peningkatan prevalensi diabetes oleh PCBs sangat dipengaruhi oleh interaksi
pajanan PCBs dengan gaya hidup masyarakat seperti tingkat pendidikan, hubungan
pernikahan; merokok dan lama tinggal di daerah pajanan PCBs.
2. Faktor risiko PCBs berasal dari congener PCBs, kebakaran dan sumber suhu tinggi
serta pengikatan metabolit PCB dengan makromolekul seluler nukleofilik.
3. Upaya penanganan dan pengendalian penyakit diabetes di Masyarakat dapat
dilakukan dengan Population/Community Approach (Pendekatan Komunitas) serta
Individual High Risk Approach (Pendekatan Individu)
4.2. Saran
Bahaya PCBs sangat mengkhawatirkan kelangsungan hidup manusia. Untuk
itu perlu dilakukan pengkajian lebih mendalam lagi mengenai mekanisme
peningkatan prevalansi berbagai penyakit yang disebabkan oleh PCBs. Selain itu,
dibutuhkan bahan alternatif yang memiliki peran dan fungsi sama dengan PCBs
sebagai bahan pengganti yang ramah lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
American Diabetes Association [ADA]. 2012, Diagnosis and Classification of
Diabetes Mellitus. Diabetes Care volume 35 Supplement 1 : 64-71.
[ATSDR]. 2000, Toxicological Profile For Polychlorinated Biphenyls (PCBs)
[online]. Available from: http://www.atsdr.cdc.gov/toxprofiles/tp17.pdf [24
Mei 2016]
[ATSDR]. 2014, ATSDR Case Studies in Environmental Medicine Polychlorinated
Biphenyls
(PCBs)
Toxicity
[online].
Available
from:
http://www.atsdr.cdc.gov/csem/pcb/docs/pcb.pdf [27 Mei 2016]
Biswas, Animesh. 2006. Prevention of Type 2 Diabetes Life style modification with
diet and physical activity Vs activity alone, Karolinka Institute.
Colon T, Smolen M. 1996. Epidemiological Analysis of Persistent Organochlorines
Contamination in Ctraceans. Reviews of Environmental Contamination and
Toxicology Journal 146: 91-172.
Connel (2006) Connell DW, Miller G J. 2006. Kimia dan Ekotoksikologi
Pencemaran. UI Press: Indonesia.
Hutzinger O, Safe S, Zitko V. 1974. The Chemistry of PCBs. CRC Press., Boca
Raton, Florida:269 pp.
Kardika, Ida Bagus Wayan, dkk. 2009. Preanalitik dan Interpretasi Glukosa Darah
untuk Diagnosis Diabetes Melitus. Bagian Patologi Klinik Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana, Bali.
Krisnatuti, D.K., dan Hastuti, DM. 2002. Perencanaan Menu Untuk Penderita
Diabetes Melitus. PT. Penebar Swadaya. Jakarta
Munawir, K. 2010. Kadar poliklorobifenil (PCB) dalam air laut di perairan
Kalimantan Timur. Jurnal Lingkungan Tropis, 4(1).
National Academy of Sciences [NAS]. 2001. A Risk-Management Strategy for PCBContaminanted Sediments. National Academy Press: United States of
America.
Nurrahmani, Ulfah. 20012. Stop! Diabetes Mellitus. Familia, Yogyakarta.
Oliver BG, Baxter RM, Lee HB. 1989. Polychlorinated Biphenyls. Di dalam: Afghan
BK, Chau ASY, editor. Analysis of Trace Organic in the Aquatic Environment.
Boca Raton, Florida: CRC Press. hlm 3168
PERKENI. 2011. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan DM tipe 2 di Indonesia.
Purnamasari, D. 2009. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Mellitus. In: Sudoyo, Aru
W., Bambang Setyohadi, Idrus Alwi, Marcellus Simadibrata, Siti Setiati. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Ed 5. Jakarta: Interna Publishing.
Silverstone, Allen. Et Al. 2012. Polychlorinated Biphenyl (PCB) Exposure and
Diabetes: Results from the Anniston Community Health Survey.
Environmental Health Perspectives. Volume 120, Number 5
Soemarno, MS, 2011, Sampah Jangan Dibakar Banyak Mudhoratnya, PDKLP
PPSUB.

Sudarmaji, dkk. 2006. Toksikologi Logam Berat B3 dan Dampaknya terhadap


Kesehatan. www.journal.unair.ac.id/detail_jurnal.php
Suyono S. 2005. Diabetes Melitus di Indonesia. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Edisi IV. Jakarta: Pusat penerbitan Ilmu Penyakit dalam FK UI.
Timmreck, Thomas. 2001. Epidemiologi Suatu Pengantar. Edisi Ke-2. Kedokteran
EGC. Jakarta
United Nations Enviroment Proramme [UNEP].1999.Guidelines for the Identification
of PCBs and Material Containing PCBs.UNEP Chemical:Switzerland.
Waspadji. S. 2005. Telaah Mengenai Faktor Metabolik dan Respon Imun pada Pasien
DM Tipe 2. Program Pascasarjana UI. Jakarta
World Health Organisation [WHO]. 2006. Diabetes mellitus : Report of a WHO
Study Group. World Health Organisation. Geneva-Switzerland. 2006. S5-36