Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

LATAR BELAKANG
Laporan ini ditulis sebagai bahan informasi bagi adik-adik kelas berikutnya agar

dapat lebih mudah memahami pelajaran yang diberikan oleh dosen pengampu.
Selain itu laporan ini juga dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam melakukan
praktek-praktek berikutnya dan langkah-langkah kerja dalam melakukan praktek
untuk membuat benda kerja yang sama.

1.2.

TUJUAN

a. Tujuan Praktikum Mesin Las


Maksud dan tujuan dalam mempelajari mesin las adalah sebagai berikut:
1

Mengenal mesin las dan mempelajari cara kerjanya.

Mengetahui cara peggunaan mesin las.

3
Mengetahui cara-cara penyambungan dengan teknik las.
4 Mengetahui aspek K3 dalam pengelasan.
b. Tujuan Laporan Praktikum Mesin Las
Tujuan dari ditulisnya laporan ini adalah sebagai bahan referensi dalam
melakukan kegiatn praktek dengan menggunakan las listrik. Selain itu juga sebagai
media informasi untuk mengetahui lebih dalam tentang las listrik

1.3. SISTEMATIKA PENULISAN LAPORAN


a. penulisan pada Cover Laporan

1.

Judul Laporan Diketik Huruf kapital dengan font 14 yang berjarak 1 spasi

2.

Logo Universitas Pancasila

3.

Penulisan LAPORAN ditulis dengan font 14

4.

Penulisan kalimat Diajukan dst ditulis dengan font 12

5.

Nama penulis Npm ditulis dengan font 14 berjarak 1,5 spasi

6.

Nama Jurusan, Akademi, Kampus dan tahun pembuatan di tulis dengan font 12
jarak 1,5 spasi
b. Penomeran BAB, Sub BAB

1.

Bab di nomori dengan Angka romawi

2.

Sub bab menggunakan angka latin contoh:


2.1. ..(judul sub bab)
2.2. ..(Judul Sub Bab)
2.2.1.(Judul Sub Sub Bab)
1. .:
a. :
1). .
). .

3.

Penomeran Judul Bab di tengah dengan Huruf besar Font 14

4.

Penomeran Judul Sub dan sub bab dimulai dengan huruf besar font 12

c.
1.

Penomeran Halaman
Bagian awal Ditulis Dengan angka Romawi I, ii, iii dst posisi ditengah bawah
(khusus lembar judul tidak usah ditulis hal)

2.

Bagian pokok nomor halaman ditulis dengan angka latin halaman pertama di
tengah, sedangakan halaman lain pojok kanan atas

3.

Bagian akhir, nomor halaman di tulis di bagian tengah dengan angka latin dan
merupakan kelanjutan dari penomeran pada bagian pokok.

d. Judul dan Penomoran Gambar


1.

Judul gambar / grafik diketik dibagaian bawah tengah dari gambar, sedangkan
judul tabel diketik disebelah atas tengah dari tabel

2.

Penomoran tergantung pada bab yang bersangkutan Contah gambar III.1 berarti
gambarpertama ada di bab III

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Sambungan (Joining)


Sambungan (joining) adalah suatu proses yang dibutuhkan untuk merakit dua
komponen/ lebih sehingga menjadi suatu produk yang dapat berfungsi sesuai
dengan peruntukannya.
Suatu proses penyambungan umumnya dilakukan atas pertimbangan-pertimbangan
sebagai berikut:
1 Adanya produk yang mustahil untuk dibuat dari satu bagian saja
2 Proses pembuatan lebih hemat bila dibuat secara terpisah lalu dirakit.
3 Untuk mempermudah proses pemeliharaan dan perbaikan selama pemakaian.
4 Fungsi produk akan lebih sesuai bila dibuat secara terpisah.
5 Proses pengiriman lebih mudah dan murah, bila dilakukan secara terpisah baru
dirakit.

2.2. Pengelasan (Welding)


Teknik penyambungan logam dapat dilakukan secara mekanik (menggunanan
metoda pengikatan dengan mur maupun ulir) atau dengan cara pengelasan. Saat ini,
pengelasan merupakan cara pnyambungan logam yang paling umum digunakan.
Definisi pengelasan menurut DIN (Deutsche Industrie Normen) adalah ikatan
metalurgi pada sambungan logam atau logam paduan yang dilaksanakan dalam
keadaan lumer atau cair. Dengan kata lain, las adalah sambungan setempat dari
beberapa batang logam dengan menggunakan energi panas. Dalam proses
penyambungan ini adakalanya disertai dengan tekanan dan material tambahan
(filler material).

Teknik pengelasan secara sederhana telah ditemukan dalam rentang waktu antara
4000 sampai 3000 SM. Setelah energi listrik dipergunakan dengan mudah,
teknologi pengelasan maju dengan pesatnya sehingga menjadi sesuatu teknik
penyambungan yang mutakhir. Hingga saat ini telah dipergunakan lebih dari 40
jenis pengelasan. Pada tahap-tahap permulaan dari pengembangan teknologi las,
biasanya pengelasan hanya digunakan pada sambungansambungan dari reparasi
yang kurang penting. Tapi setelah melalui pengalaman dan praktek yang banyak
dan waktu yang lama, maka sekarang penggunaan proses-proses pengelasan dan
penggunaan konstruksi-konsturksi las merupakan hal yang umum di semua negara
di dunia.
Hasil las dikatakan baik apaila daerah lasan (weldmeent) yang dihasilkan dapat
memberikan kontinuitas yang komplit antara bagian yang disambung dengan setiap
bagian sambungan sehingga sambungan dan logam induknya tidak menunjukan
perbedaan yang jelas. Oleh karena itu ada kondisi-kondisi yang harus dipenuhi
dalam proses pengelasan, antara lain:
1 Adanya suplai energi.
2 Harus bebas dari kontaminasi seperti oksida-oksida dan kotorankotoran lainnya.
3 Proteksi terhadap atmosfir (oksidasi) yang baik.
4 Metalurgi las yang terkontrol

2.3. Klasifikasi Cara-cara Pengelasan dan Pemotongan


Secara konvensional klasifikasi las dapat dibagi dua golongan, yaitu
klasifikasi berdasarkan energi yang digunakan (sumber panas) dan klasifikasi
berdasarkan cara kerja.
Ditinjau berdasarkan sumber panasnya klasifikasi pengelasan dapat dibedakan
tiga:
1

Las busur listrik


Pada busur listrik (arc welding) sambungan terjadi oleh panas yang

ditimbulkan oleh busur listrik yang terjadi antara benda kerja dan elektroda.
Elektroda atau logam pengisi dipanaskan sampai mencair dan diendapkan pada
sambungan sehingga tterjadi sambungan las.

Gambar 2.1 Mesin Las Listrik

Las gas CO2


Las gas reaksi kimia (Thermochemical welding) merupakan proses
pengelasan dimana panas yang digunakan untuk mencairkan logamyang akan
disambung berasal dari hasil reaksi kimia
Asetilin diperoleh lewat reaksi kimia dalam benrtuk gas. Karena berbentuk
gas, maka asetilin memerlukan perlakuan khusus, terutama dalam penyimpanan
dan penggunaannya. Agar lebih fleksibel dalam penggunaannya gas asetilin
disimpan

dalam

tabung,

yang

dapat

dipindah-pindah

dan

mudah

penggunaannya. Asetilin tidak berwana dan tidak berbau, kalau asetilin yang
sering kita jumpai hal ini disebabkan karena terdapatnya kotoran belerang dan
fosfor. Asetilin merupakan gas mudah terbakar atau meledak akibat kenaikan
tekanan dan temperature. Terbakarnya atau meledaknya asetilin juga sangat
mungkin disebabkan oleh yang lain misalnya kotoran katalisator, kelembaban,
sumber-sumber penyalaan, kualitas tabung tempat penyimpanan yang tidak baik
seperti poengelasan sambungan tabung yang tidak baik atau bahan yang tidak
kuat menahan tekanan kerja.
Karena lasan-alasan tersebut maka tekanan kerja pembangkit gas asetilin hanya
diijinkan sampai pada tekanan 1,5 kg/cm2. penyimpanan gas asetilin kedalam
tabung-tabung baja dilakukan dengan tekanan kerja lebih dari 2 kg/cm 2.
temperature kritis untuk gas asetilin yaitu sebesar 39,5OC.

Tabel 2.1. Pengelasan logam, dengan Las Asetilin


Logam

Jenis

induk
Baja

nyala

Fluk

Logam

api

pengisi

Netral

Tidak

Baja

perlu

karbon

karbon

rendah
Besi cor

Netral

Perlu

abu-abu

Besi cor

Besi cor
abu-abu

Oksidasi lemah

Perlu

Perunggu

Oksidasi lemah

Perlu

Perunggu

Karburasi

Tidak

Nikel

maliable
Nikel

perlu
Paduan

Netral

Ni-Cu

Karburasi

atau

Tidak

Monel

perlu

lemah
Tembaga

Netral

Tidak

Tembaga

perlu

Perungu

Netral

atau

karburasi
lemah
8

Perlu

Perungu

Kuninga

Oksidasi

Perlu

Kuningan

a. Kawat las
Jenis kawat las yang biasa diguanakan pada pengelasan asetilin adalah kawat las
tanpa pelindung oksidasi (Bare Welding Rod)
Table 2.2 kawat
Tipe

Kuat

tarik

Pemuluran

Minimum (ksi)

las tanpa
pelindung

RG 65

67

16

Oksidasi jenis

RG 60

60

20

logam baja

RG 45

45

Penggunaan kawat las GR 65, RG 60, RG 45 memerlukan nyala api jenis netral
atau nyala dengan nyala asetilin sedikit dibanding gas oksigen (nyala oksidasi).
Karena tidak adanya perlindungan oksidasi (fluks), maka seringkali pengelasan
disertai dengan pemakaian borak atau fluks lepas untuk mencegah terjadinya
oksidasi berlebihan pada bahan las.

b. Prinsip Kerja
Pengelasan dengan las asetilin merupakan pelelehan dengan nyala api yang
diperoleh dengan cara penyampuran antara gas asetilin dengan oksigen dan api
sebagai media panas. Penyampuran gas dilakukan didalam brander pengelasan,
dengan cara pengaturan nyala api pada katup-katup dibrander. Komposisi
penyempurnaan dapat di sesuaikan dengan nyala api yang dihasilkan.

Ga
mbar
2.2
Mesin
Las Gas
CO2
3

Las resistansi listrik


Pengelasan tahanan listrik (resistance welding) merupakan proses dimana
panas yang dibutuhkan dihasilkan dengan menggunakan tahanan listrik antara
kedua objek yang akan disambung. Pada las tahanan listrik, logam dalam
bentukpelat yang akan disambung permukkaannya ditekan satu sama lain dan
pada saat yang sama arus listrik dialirkan sehingga permukaan tersebut menjadi
panas dan mencair karena adanya resistansi listrik.

Gambar 2.3 Las rasistansi listrik


4

Pengelasan radiasi

10

Merupakan pengelasan yang menggunakan enersi radiasi sebagai sumber


panasnya.

Gambar 2.4 pengelasa radiasi


5

Pengelasan padat
Merupakan proses pengelasan tanpa adanya proses pencairan pada bagian
yang logam yang disambung.

Gambar 2.5 pengelasan padat

11

Ditinjau berdasarkan cara kerjanya klasifikasi pengelasan dapat dibagi


dalam tiga kelas utama yaitu:
1

Pengelasan cair
Pengelasan cair adalah cara pengelasan dimana sambungan dipanaskan
sampai mencair dengan sumber panas dari busur listrik atau sumber api gas
yang terbakar.

Pengelasan tekan
Pengelasan tekan adalah pcara pengelasan dimana sambungan dipanaskan
dan kemudian ditekan hingga menjadi satu.

Pematrian
Pematrian adalah cara pengelasan dimana sambungan diikat dan disatukan
denngan menggunakan paduan logam yang mempunyai titik cair rendah.
Dalam hal ini logam induk tidak turut mencair.

2.4. SKEMA ALAT


1. Mesin Las

Gambar 2.6 Mesin Las


Jika ditinjau dari arus yang ke luar, pesawat las dapat digolongkan menjadi :
a.Pesawat Las Arus Bolak-Balik (AC)
12

Pesawat las jenis ini terdiri dari transformator yang dihubungkan dengan jala PLN atau
dengan pembangkit listrik, motor disel, atau motor bensin. Kapasitas trafo biasanya
200 sampai 500 ampere. Sedangkan voltase (tegangan) yang ke luar dari pesawat trafo
ini antara 36 sampai 70 volt, dan ini bervariasi menurut pabrik yang mengeluarkan
pesawat las trafo ini. Gambar memperlihatkan salah satu jenis pesawat las
transformator AC.
b. Pesawat Las Arus Searah (DC)
Pesawat ini dapat berupa pesawat tranformator rectifier, pembangkit listrik motor disel
atau motor bensin, maupun pesawat pembangkit listrik yang digerakan oleh motor
listrik digerakkan oleh motor listrik (motor generator).
c. Pesawat Las AC-DC
Pesawat las ini merupakan gabungan dari pesawat las arus bolakbalik dan arus searah.
Dengan pesawat ini akn lebih banyak kemungkinan pemakainya karena arus yang
keluar dapat searah maupun bolak-balik (AC-DC). Pesawat las jenis ini mialnya
tranformator rectifier maupun pembangkit listrik motor disel.

2. Alat-alat Bantu Las


Kabel Las

Gambar 2. 7 Kabel Las

13

Kabel las biasanya dibuat dari tembaga yang dipilin dan dibungkus dengan
karet isolasi. Yang disebut kabel las ada tiga macam, yaitu :
a

Kabel elektroda , yaitu kabel yang menghubungkan pesawat las dengan

elektroda.
b

Kabel masa, yaitu yang menghubungkan pesawat las dengan benda kerja.

Kabel tenaga, yaitu kabel yang menghubungkan sumber tenaga atau


jaringan lisrtik dengan pesawat las.

Pemegang Elektroda

Gambar 3

. 8. Pemegang Elektroda

Ujung yang berselaput dari elektroda dijepit dengan pemegang elektroda.


Ini terdiri dari mulut penjepit dan pemegang yang dibungkus oleh bahan
penyekat (biasanya dari embonit).
3. Palu Las

14

Gambar . 2.9 Palu Las

Palu ini digunakan untuk melepaskan dan mngeluarkan terak las pada jalur las
dengan jalan memukulkan atau menggoreskan pada daerah las. Gunakanlah
kaca mata terng pada waktu poembersihan terak, sebeb dapat memercikan pada
mat
4 Sikat Kawat

Gambar 2.10 sikat kawat

Sikat kawat digunakan untuk :

Membersihkan benda kerja yang akan dilas,

Membersihkan terak las yang sudah dilepas dari jalur las oleh pukulan

palu las

15

5.

Klem
Massa

2.11 2.11. Klem Massa


Gambar

Ini adalah alat untuk menghubungkan kabel masa ke benda kerja. Terbuat dari
bahan yang menghantar dengan baik (tembaga). Klem masa dilengkapi dengan
pegas yang kuat, yang dapat menjepit benda kerja dengan baik. Tempat yang
dijepit harus bersih dari kotoran (karet, cat, minyak dan sebagainya).
6

Penjepit

Gambar 2.12

. Penjepit

Ini digunakan untuk memegang atau memindahkan benda kerja yang masih
panas sehabis pengelaan.

Elektroda

16

Gambar 2.13
.

Elektroda

Elektroda yang dipergunakan pada alas busur mempunyai perbedaan


komposisi selaput maupun kawat inti. Diantaranya adalah elektroda berselaput.
Pada elektroda ini pengelasan fluksi pada kawat inti dapat dengan cara destruksi,
semprot atau celup. Ukuran standar diameter kawat inti dari 1,5 sampai 7 mm
dengan panjang antara 350 sampai 450 mm.
.
2.5.

Pengelasan Pelat Baja Karbon Rendah

baja karbon rendah yang juga disebut baja lunak, baja lunak ini adalah
baja mudah dilas, dapat dilas dengan semua cara pengelasan yang ada di dalam
praktek dan hasilnya akan baik bila persiapannya sempurna dan persyaratannya
dipenuhi. Baja karbon rendah memiliki sifat kepekaan retak las atau weldability
yang baik dibandingkan dengan baja karbon sedang dan baja karbon
tinggi.tetapi retak las pada baja ini dapat terjadi dengan mudah pada pengelasan
pelat tebal atau bila didalam baja tersebut terdapat belerang bebas yang cukup
tinggi. Retak las yang mungkin terjadi pada pengelasan pelat tebal dapat
dihindari dengan pemanasan mula atau dengan menggunakan elektroda
hydrogen rendah.

17

Baja Karbon
Rendah

Proses

Pelat, tebal <

Pengelasan

4 mm
Baja Karbon
Rendah

II

Pemanasan
Mula

Pelat, tebal >


4 mm

Proses

Pemanasan

Pengelasan

Pasca Las

Gambar 2.13. Bagan pengelasan Baja Karbon Rendah Untuk Ketebalan


Berbeda

18

2.6. Sifat Mampu Las dari Baja Kabon Rendah

Faktor-faktor yang sangat mempengaruhi mampu las dari baja karbon


renda adalah kekuatan tarik dan kepekaan terhadap retak las. Kekuatan tarik
pada baja karbon rendah dapat dipertinggi dengan menurunkan kadar karbon
(C) dan menaikkan kadar mangan (Mn). Suhu transisi dari kekuatan tarik
menjadi turun dengan naiknya harga perbandingan Mn/C. Baja karbon rendah
kepekaan retak las yang rendah bila dibandingkan dengan baja karbon lainya
atau baja karbon paduan. Tetapi las pada baja ini dapat terjadi dengan mudah
pada pengelasan pelat tebal atau didalam baja tersebut terdapat belerang bebas
yang cukup tinggi.

1. Metalurgi Las
Seperti telah diuraikan diatas pengelasan adalah proses penyambungan
antara dua bagian logam atau lebih dengan menggunakan energi panas. Karena
proses ini maka logam disekitar pengelasan mengalami pemanasan dan
pendinginan

cepat

yang

menyebabkan

terjadinya

perubahan-perubahan

metalurgi, deformasi, dan tegangan-tegangan termal. Hal ini sangat erat


hubungannya ketangguahan cacat las retak dan lain sebagainya yang pada
umumnya mempunyai pengaruh yang fatal terhadap keamanan dari konstruksi
yang akan dilas.
2. Sifat Fisik dan Mekanis
Mengadakan penelitian sifat-sifat fisik suatu logam sangat penting untuk
mempelajari struktur mikro logam. Sifat-sifat fisik suatu logam meliputi
kerapatan (densitas), sifat-sifat termal, konduktivitas listrik, dan sifat magnetik.
Penguji mekanik yang biasa dilakukan seperti uji trik, kekerasan, impact
(benturan), creep (pemuluran) dan fatigue (kelelehan) bertujuan untuk
memeriksa kualitas produk yang dihasilkan berdasarkan suatu standar
spesifikasi. Sifat-sifat mekanik meliputi kekuatan tarik, kekerasan, keuletan,
ketangguahan dan kelelehan.

19

3. Struktur Mikro
Pada umumnya struktur mikro dari baja tergantung dar kecepatan
pendinginannya dari suhu daerah austenit samapai ke suhu kamar. Karena
perubahan struktur ini maka dengan sendirinya sifat-sifat mekanik yang dimiliki
juga berubah. Hubungan antara kecepatan pendinginan dan satruktur mikro
yang terbentuk biasanya digambarkan dalam diagram yang menghubungkan
waktu, suhu transformasi yang bahasa inggrisnya adalah Continuous Cooling
Transformation dan disingkat CCT.

Gambar 2.14. Diagram Pendinginan Kontinu atau Diagram CCT


2.7.

Kampuh Las

Pada sub ini akan dibahas mengenai klasifikasi sambungan las dan bentuk alur
kampuh las yang dibatasi pada kampuh V. Kampuh las merupakan bagian dari
logam induk yang nantinya akan diisi oleh logam las, kampuh las awalnya
adalah berupa kubungan las yang kemudian diisi dengan logam las. Sambungan
las dengan menggunakan alur kampuh dikategorikan kedalam sambungan las
tumpul. Sambungan las tumpul adalah jenissambungan paling efisien.

20

Sambungan ini dibagi menjadi dua yaitu sambungan penetrasi penuh dan
sambungan penetrasi sebagian. Seperti pada gambar 2.15.
Tabel 2.1 jenis jens kampuh las
J

Lasan dengan alur

enis
lasa
n

Lasan

Lasan Penetrasi
penuh

Penetrasi

tanpa

penuh dengan

pelat penahan

pelat penahan

Jeni
s
Alur
Perse
gi
(I)
V
tung
gal
(V)
Tirus
tung
gal
(V)
U
tung
gal
(U)
V
gand
a
21

Lasan
Penetrasi
sebagian

(X)

Tirus
gand
a (K)
U
gand
a
(H)
(DU)
J
tung
gal
(J)
J
gand
a
(D)

Pada dasarnya dalam memilih bentuk kampuh harus menuju kepada penurunan
masukan panas dan penurunan logam las sampai kepada harga terendah dan tidak
menurunkan mutu sambungan. Untuk kampuh-kampuh las pada saat pembakarannya
22

dapat mengisi pada seluruh tebalnya pelat. Sebelum pengelasan dilaksanakan kampuh las
harus melalui proses pengerjaan awal. Karat, minyak, cat harus dihilangkan. Untuk
memperoleh pembakaran yang baik, pada kampuh V dipakai elektroda dengan diameter
yang kecil atau disesuaikan dengan besar sudut kampuh dan tebal pelat yang akan dilas.

2.8.

Macam-macam hasil pengelasan

Gambar 2.17 hasil pengelasan

2.9.

Jenis-jenis Sambungan Las

23

Jenis sambungan tergantung pada faktor-faktor seperti ukuran dan profil


batang yang bertemu di sambungan, jenis pembebanan, besarnya luas
sambungan yang tersedia untuk pengelasan, dan biaya relatif dari berbagai jenis
las. Sambungan las terdiri dari lima jenis dasar dengan berbagai macam variasi
dan kombinasi yang banyak jumlahnya. Kelima jenis dasar ini adalah
sambungan sebidang (butt), lewatan (lap), tegak (T), sudut, dan sisi, seperti
yang diperlihatkan pada Gambar 6.16.

Gambar 2.18 jenis sambungan


1. Sambungan sebidang

Sambungan sebidang dipakai terutama untuk menyambung ujung-ujung plat


datar dengan ketebalan yang sama atau hampir sarna. Keuntungan utama jenis
sambungan ini ialah menghilangkan eksentrisitas yang timbul pada sambungan
lewatan tunggal seperti dalam Gambar 6.16(b). Bila digunakan bersama dengan
las tumpul penetrasi sempurna (full penetration groove weld), sambungan
sebidang menghasilkan ukuran sambungan minimum dan biasanya lebih estetis
dari pada sambungan bersusun. Kerugian utamanya ialah ujung yang akan
disambung biasanya harus disiapkan secara khusus (diratakan atau dimiringkan)
dan dipertemukan secara hati-hati sebelum dilas. Hanya sedikit penyesuaian
dapat dilakukan, dan potongan yang akan disambung harus diperinci dan dibuat
secara teliti. Akibatnya, kebanyakan sambungan sebidang dibuat di bengkel
yang dapat mengontrol proses pengelasan dengan akurat.
24

2. Sambungan Lewatan
Sambungan lewatan pada Gambar 6.17 merupakan jenis yang paling umum.
Sambungan ini mempunyai dua keuntungan utama:
Mudah disesuaikan. Potongan yang akan disambung tidak memerlukan
ketepatan dalam pembuatannya bila dibanding dengan jenis sambungan lain.
Potongan tersebut dapat digeser untuk mengakomodasi kesalahan kecil dalam
pembuatan atau untuk penyesuaian panjang.
Mudah disambung. Tepi potongan yang akan disambung tidak memerlukan
persiapan khusus dan biasanya dipotong dengan nyala (api) atau geseran.
Sambungan lewatan menggunakan las sudut sehingga sesuai baik untuk
pengelasan di bengkel maupun di lapangan. Potongan yang akan disambung
dalam banyak hal hanya dijepit (diklem) tanpa menggunakan alat pemegang
khusus. Kadang-kadang potongan-potongan diletakkan ke posisinya dengan
beberapa baut pemasangan yang dapat ditinggalkan atau dibuka kembali setelah
dilas.
Keuntungan lain sambungan lewatan adalah mudah digunakan untuk
menyambung plat yang tebalnya berlainan.

3. Sambungan Tegak
Jenis sambungan ini dipakai untuk membuat penampang bentukan (built-up)
seperti profil T, profil 1, gelagar plat (plat girder), pengaku tumpuan atau
penguat samping (bearing stiffener), penggantung, konsol (bracket). Umumnya
potongan yang disambung membentuk sudut tegak lurus seperti pada Gambar
6.16(c). Jenis sambungan ini terutama bermanfaat dalam pembuatan penampang
yang dibentuk dari plat datar yang disambung dengan las sudut maupun las
tumpul.
4. Sambungan Sudut
Sambungan sudut dipakai terutama untuk membuat penampang berbentuk boks
25

segi empat seperti yang digunakan untuk kolom dan balok yang memikul
momen puntir yang besar.
5 Sambungan Sisi
Sambungan sisi umumnya tidak struktural tetapi paling sering dipakai untuk
menjaga agar dua atau lebih plat tetap pada bidang tertentu atau untuk
mempertahankan kesejajaran (alignment) awal.
Seperti yang dapat disimpulkan dari pembahasan di muka, variasi dan
kombinasi kelima jenis sambungan las dasar sebenarriya sangat banyak. Karena
biasanya terdapat lebih dari satu cara untuk menyambung sebuah batang
struktural dengan lainnya, perencana harus dapat memilih sambungan (atau
kombinasi sambungan) terbaik dalam setiap persoalan.

Gambar 2.19 sambungan sisi

2.10. Teknik Pengelasan

26

1. Posisis pengelasan dibawah tangan


Pengelasan di bawah tangan adalah proses pengelasan yang dilakuakan dibawah
tangan

dan

benda

kerja

terletak

diatas

bidang

datar.Sudut

ujung

pembakar(brander)terletak diantara 60 derajat dan kawat pengisi (filter rod)


dimiringkan dengan sudut antara 30-40 derajat dengan benda kerja.Kedudukan
ujung pembakar ke sudut sambungan dengan jarak 2-3 mm agar terjadi
panasmaksimal pada sambungan.Pada sambungan sudut luar,nyala diarahkan
ketengah sambungan dengan gerakan yang lurus.
2. Posisi pengelasan datar (horizontal)
Pada posisi ini benda kerja berdiri tegak sedangkan pengelasan dilakuakan
dengan arah mendatar sehingga cairan las cenderung mengalir kebawah,untuk itu
ayunan brender sebaiknya sekecil mungkin.Kedudukn benda kerja terhadap
brender menyudut 70 derajat dan miring kira-kira 10 derajat dibawah garis
mendatar,sedangkan kawat pengisi dimiringkan pada sudut 10 derajat diatas
garis mendatar.
3. Posisi pengelasan tegak(vertical)
Pada pengelasan dengan posisi tegak,arah pengelasan berlangsung ke atas atau
kebawah.Kawat pengsisi ditempatkan antara nyala api dan tempat smbungan
yang bersudut 45 derajat-60 derajat dan sudut brender sebesar 80 drajat.
4. Posisi pengelasan diatas kepala(overhead)
Pengelasan dengan posisi ini adalah yang paling sulit dibnadingan dengan posisi
lainnya dimana benda kerja berada diatas kepala dan pengelasan dilakuakan
dibawahnya.Pada pengelasan posisi ini sudut brender dimiringkan 10 derajat dari
garis vertical sedangakan kawat pengisi berada dibelakangnya bersudut 45-60
derajat.
5. Pengelasan arah kekiri(maju)
Cara pengelasan ini paling banyak digunakan dimana nyala api di arahkan ke kiri
dengan membentuk sudut 60 derajat dan kawat las 30 derajat terhadap benda
kerja sedngkan sudut melintangnya tegak lurus terhadap arah pengelasan.Cara

27

ini bnyak digunakan karena cara pengelasanna mudah dan tidak membutuhkan
posisi yang sulit saat mengelas.
6. Pengelasan arah kekanan(mundur)
Cara pengelasan ini adalah arahnya kebalikan daripada arah pengelasan
kekikri.Pengelasan dengan cara ini diperlukan untuk pengelasn baja yang tebalya
4,5 mm ke atas.
2.11.Peralatan keselamatan kerja las (APD)
Pengunaan alat perlindungan diri untuk pekerjaan las wajib kerja las SMAW yang
sesuai adalah : dipakai setiap praktikan, adapun peralatan keselamatan
1.

Helm Las / Topeng Las dengan kaca

2.

Sarung tangan kulit panjang

3.

Penutup dada (apron)

4.

Sepatu k ulit (safety shoes)

Gambar 2.20 APD

28

BAB III
JURNAL PRAKTIKUM

3.1.

MAKSUD DAN TUJUAN

1. Mengetahui cara penyambungan dua logam.


2. Mengetahui dan mengenal mesin las serta cara kerjanya.
3. Mengetahuui alat dan bahan yang digunakan dalam proses pengelasan.
4. Mengetahui dan mempelajari teknik teknik yang benar alam proses
pengelsan.
3.2.

ALAT DAN BAHAN

1. Alat mesin las

Mesin las

Elektroda

Tang jepit

Palu

Sikat kawat

Mal / meteran

29

2. Alat pelindung diri

Kacamata las

Masker

Sarungtangan las

Sepatu safety

Celmek

3. Bahan

Logam ( besi, stenlis, baja, kuningan, dsb)

3.3.

LANGKAH KERJA

1. Mempersiapkan alat dan bahan.


2. Mengukur dan menentukan benda kerja yang akan di las.
3. Memotong, kampuh benda kerja atau logam yang akan di las:

Sambungkan kabel mesin las dengan sumber arus listrik

Jepit benda kerja dengan kable groun ( - )

Pasang elektroda yang sudah diopen pada penjepit elektroda ( kabel + )

Stsrt mesin las dengan memutar tuas on,

Tentukan besar arus yang akan dugunakan sesuai dengan benda kerja.

30

Sambungkan kedua benda kerja pada tempat yang telah ditentukan


sebelumnya.

Turn off pengatur arus

Matikan mesin las

Bersihkan sisa sisa kerak pada bagian pengelasan dengan palu dan sikat
kawat.

Setelah selesai melakukan jobdesk tersebut rapikan area kerja dan letakan
alat kerja ketempat semula.

3.4.

GAMBAR BENDA KERJA PRAKTIKUM

31

3.5. KESIMPULAN JURNAL PRAKTIKU


Pengelasan merupan penyambungan dua buah logam yang sama jenisnya
dengan cara di lelehkan menggunakan las elektroda maupun las gas.
Untuk pelengkapan proses pengelasan maka diperlukan persiapan alat alat
penunjang, penentuan mesin las, elektroda yang akan digunakan, dan
32

menentukan bagian bagian yang akan dilas serta mengukurnya terlebih


dahulu secara presisia agar hasil las sesuai dengan yang diinginkan
Pada saat pengerjaan las gunakaan alat, bahan dan APD sesui dengan
setandar oprasional prosedur yang di tetapkan, karena sangat berpenngaruh
denngan hasil produksi.
Setelah penngerjaan las selesai dan dicek, alat yang digunakan dirapikan
kembali pada tempatnya, dan bersihkan area sekitar llingkungan kerja.

BAB IV
PERTANYAAN DAN JAWABAN
4.1. PERTANTYAAN

1.

Buatlah sekketas langkah dari:


33

Arc welding dan cara kerjanya.

Gas welding dan cara kerjanya.


2. Apa apa yang dimaksud dengan soldering, brazing, dan welding.
3. Tuliskan beberapa macam las yang anda ketahui dan buat seketsanya.
4. Buat sketsa:

Beberapa jenis sambungan las.

Beberapa cara pengelasan.


5. Apa pengaruh struktur dan kekuatan sambungan las.
6. Sebutkan tiga macam penyambungan, gambarkan dan ceritakan keuntungan
serta kerugiannya.
7. Apa yang dimaksud dengan straight polatery dan reverence polatery dalam
pengelasan.
8. Apa ungsi dari lapisan elektrodapada Arc welding.
9. Apa yang menyebabkan porous pada pengelasan.
10. Sebutkan tiga bagian cara penetelan api pad alas oksiasetelen dan terangkan
kegunaan masing masing..
11. Buatlah gerafit antara:

Pengaruh sudutb elektroda terhadap penembusan las.

Tinggi dan lebar timbunan las dengan kecepatan las.

Tinggi dan lebar timbunan las dengan tegangan.

Tinggi dan lebar timbunan dengan arus.

34

4.2.

JAWABAN

1. Arc welding.

Cara kerja.
Pada busur listrik (arc welding) sambungan terjadi oleh panas yang ditimbulkan
oleh busur listrik yang terjadi antara benda kerja dan elektroda. Elektroda atau
logam pengisi dipanaskan sampai mencair dan diendapkan pada sambungan
sehingga terjadi sambungan las.
Gas welding.

35

Cara kerja.
Pengelasan dengan las asetilin merupakan pelelehan dengan nyala api yang
diperoleh dengan cara penyampuran antara gas asetilin dengan oksigen dan api
sebagai media panas. Penyampuran gas dilakukan didalam brander pengelasan,
dengan cara pengaturan nyala api pada katup-katup dibrander. Komposisi
penyempurnaan dapat di sesuaikan dengan nyala api yang dihasilkan.
2. Soldering.
Adalah pemanasan berujung logam untuk melelehkan timah atau logam mudah
lebur lainnya yang telah lebur digunakan sebagai penyambung dua permukaaan
logam.
Brazing
adalah sama seperti solder, meskipun logam dan suhu berbeda. Anda dapat
mengeraskan pipa, batang, logam datar, atau bentuk lain selama cocok dengan
potongan terhadap satu sama lain tanpa kesenjangan besar. Mematri menangani
konfigurasi lebih luar biasa dengan sendi linier, sedangkan sebagian besar las
lasan membuat spot pada bentuk sederhana.
welding.
Definisi pengelasan menurut DIN (Deutsche Industrie Normen) adalah
ikatan metalurgi pada sambungan logam atau logam paduan yang dilaksanakan
dalam keadaan lumer atau cair. Dengan kata lain, las adalah sambungan
setempat dari beberapa batang logam dengan menggunakan energi panas. Dalam
proses penyambungan ini adakalanya disertai dengan tekanan dan material
tambahan (filler material).
3. A. SMAW (Shielded Metal Arc Welding)
Pengertian
36

SMAW adalah proses las busur manual dimana panas las dihasilkan oleh busur
listrik yang terbentuk diantara elektroda berpelindung flux dengan benda kerja.
Elektroda SMAW terdiri dari 2 bagian yaitu bagian inti yang terbuat dari baja
yang berfungsi sebagai bahan pengisi (filler) dan bahan pembungkus yang
disebut fluks. Fungsi dari fluks adalah : sebagai sumber terak untuk melindungi
logam cair dari udara sekitarnya, menjaga busur listrik agar tetap stabil, sebagai
deoksidator, menghasilkan gas pelindung, mengurangi percikan api dan uap
pada pengelasan, dan sebagai sumber dari unsur paduan.

Prinsip Kerja

Aplikasi

Prinsip SMAW banyak digunakan untuk mengelas pipa-pipa refinery hingga


pipelines, bahkan untuk mengelas di bawah laut guna memperbaiki struktur
anjungan lepas pantai. Selain itu, Proses SMAW digunakan untuk mengelas
logam-logam ferrous dan non ferrous, termasuk carbon steel, low alloy steel,
stainless steel, nickel steel, cast iron, dan paduan tembaga.
B. SAW (Submerged Arc Welding)
37

Pengertian
Submerged Arc Welding adalah proses pengelasan busur dimana logam cair
dilindungi oleh fluks selama pengelasan. Busur listrik yang digunakan untuk
mencairkan logam tertutup oleh serbuk fluks yang diberikan disepanjang alur las
dan proses pengelasan berlangsung didalam fluks tersebut.

Prinsip Kerja

Aplikasipengecoran
Pabrikasi Baja dari Bentuk Struktural (Seperti : I-beams)
Pengelasan lapisan untuk pipa, tangki, pressure vessels dengan diameter besar
Seams
Pengelasan komponen untuk mesin berat
Baik digunakan untuk baja (kecuali baja karbon tinggi)
C. PAW(Plasma Arc Welding)
Pengertian
Plasma adalah gas yangterionisasi dengan jumlah ion sama dengan jumlah
elektron. Menggunakan elektroda tungsten, filler metal ditambahkan seperti pada
proses GTAW. Menggunakan gas pelindung He, Ar atau campuran keduanya. Arus
listrik yang digunakan mencapai 100 ampere dengan temperature plasma hingga
30000C, dengan temperatur setinggi ini, material apapun dapat dicairkan. Metode
ini menghasilkan penetrasi yang sangat baik.
38

Prinsip Kerja

Aplikasi

Biasanya digunakan untuk mengelas paduan aluminium dan titanium dan sering
digunakan sebagai pemotong (plasma cutting).
D. TIG (Tungsten Inert Gas)

Pengertian

Metode pengelasan ini sebelumnya dikenal dengan nama Tungsten Inert Gas
(TIG). Gas Inert yang biasa digunakan adalah wolfram untuk pelindung yang
bagus sehingga atmosfir udara tidak masuk ke daerah lasan. Namun sekarang
digunakan Co2 (tidak inert) karena lebih murah dan stabil.Elektroda tungsten
bukan sebagai filler metal, sehingga perlu filler metal dari luar untuk mengisi gap
sambungan. Filler metal bersama logam induk akan dicairkan oleh busur listrik
yang terjadi antara elektroda dengan logam induk.

Prinsip Kerja

39

Aplikasi

Metode ini biasanya digunakan untuk mengelas logam yang reaktif terhadap
oksigen seperti paduan aluminium, magnesium dan titanium. Metode ini juga
cocok intuk pelat tipis sampai dengan 5mm. Straight polarity (dengan arus hingga
500 ampere, boltase 20-40 volt) lebih sering digunakan daripada reverse polarity,
karena reverse polarity cenderung mencairkan elektroda. Metode ini sangat cocok
digunakan untuk spot welding.

E. MIG (Metal Inert Gas)


Pengertian
Sebelumnya dikenal dengan nama Metal Inert Gas (MIG). Pada metode
pengelasan ini, gas pelindung juga berfungsi sebagai filler metal. Gas yang
digunakan sebagai pelindung sama dengan gas yang digunakan pada GTAW,
yaitu Ar, He, dan CO2, dialirkan selama proses pengelasan. Elektroda kontinu.
Metal transfer berupa spray, globular dan short-circuit. Biasanya menggunakan
sumber arus DC dengan reverse polarity untuk menaikkan penetrasi lasan.
Prinsip Kerja

40

4. Jenis sambungan pengelasan

Cara pengelasan.

41

5. Pengaruh dan struktur pengelasan sangat berpengaruh terhadap banyak


factor yang utama tentunya safety terhadap lingkungan benda tersebut
setelah di aplikasikan dalam kegunaan benda tersebut, dan tentunuya dengan
kekuatan struktur pengelasan akan tahan lebih lama.

6.

Sambungan Sebidang
Sambungan sebidang dipakai terutama untuk menyambung ujung-ujung plat
datar dengan ketebalan yang sama atau hampir sarna. Keuntungan utama jenis
42

sambungan ini ialah menghilangkan eksentrisitas yang timbul pada sambungan


lewatan tunggal seperti dalam Gambar 6.16(b). Bila digunakan bersama dengan
las tumpul penetrasi sempurna (full penetration groove weld), sambungan
sebidang menghasilkan ukuran sambungan minimum dan biasanya lebih estetis
dari pada sambungan bersusun. Kerugian utamanya ialah ujung yang akan
disambung biasanya harus disiapkan secara khusus (diratakan atau dimiringkan)
dan dipertemukan secara hati-hati sebelum dilas. Hanya sedikit penyesuaian
dapat dilakukan, dan potongan yang akan disambung harus diperinci dan dibuat
secara teliti. Akibatnya, kebanyakan sambungan sebidang dibuat di bengkel
yang dapat mengontrol proses pengelasan dengan akurat.

Sambungan

Lewatan

Sambungan lewatan pada Gambar 6.17 merupakan jenis yang paling umum.
Sambungan

ini

mempunyai

dua

keuntungan

utama:

Mudah disesuaikan. Potongan yang akan disambung tidak memerlukan


ketepatan dalam pembuatannya bila dibanding dengan jenis sambungan lain.
Potongan tersebut dapat digeser untuk mengakomodasi kesalahan kecil dalam
pembuatan

atau

untuk

penyesuaian

panjang.

Mudah disambung. Tepi potongan yang akan disambung tidak memerlukan


persiapan khusus dan biasanya dipotong dengan nyala (api) atau geseran.
Sambungan lewatan menggunakan las sudut sehingga sesuai baik untuk
pengelasan di bengkel maupun di lapangan. Potongan yang akan disambung
dalam banyak hal hanya dijepit (diklem) tanpa menggunakan alat pemegang
khusus. Kadang-kadang potongan-potongan diletakkan ke posisinya dengan
beberapa baut pemasangan yang dapat ditinggalkan atau dibuka kembali setelah
dilas.
Keuntungan lain sambungan lewatan adalah mudah digunakan untuk
menyambung

plat

yang
Sambungan

43

tebalnya

berlainan.
Tegak

Jenis sambungan ini dipakai untuk membuat penampang bentukan (built-up)


seperti profil T, profil 1, gelagar plat (plat girder), pengaku tumpuan atau
penguat samping (bearing stiffener), penggantung, konsol (bracket). Umumnya
potongan yang disambung membentuk sudut tegak lurus seperti pada Gambar
6.16(c). Jenis sambungan ini terutama bermanfaat dalam pembuatan penampang
yang dibentuk dari plat datar yang disambung dengan las sudut maupun las
tumpul.
Sambungan

Sudut

Sambungan sudut dipakai terutama untuk membuat penampang berbentuk boks


segi empat seperti yang digunakan untuk kolom dan balok yang memikul
momen

puntir

yang

Sambungan

besar.
Sisi

Sambungan sisi umumnya tidak struktural tetapi paling sering dipakai untuk
menjaga agar dua atau lebih plat tetap pada bidang tertentu atau untuk
mempertahankan kesejajaran (alignment)awal.
7. Straight polarity
Polaritas Lurus.
Apabila material dasar atau material yang akan dilas disambungkan dengan
kutup positip ( + )dan elektrodenya disambungkan dengan kutup negatif ( - )
pada mesin las DC maka cara ini disebut pengelasan polaritas lurus
8. Fungsi lapisan elektroda pada Arc welding adalah:

Untuk memberikan gas pelindung pada logam yang dilas, melindungi


kontaminasi udara pada waktu logam dalam keadaan cair.

Membentuk lapisan terak, yang melapisi hasil pengelasan dari oksidasi


udara selama proses pendinginan.

44

Mencegah proses pendinginan agar tidak terlalu cepat.

Memudahkan penyalaan.

Mengontrol stabilitas busur.

9. Mengelas dengan kondisi logam pengisi terkontaminasi dengan air, cat,


lemak, minyak, dan lem yang dapat menyebabkan terbentuknya dan
melepaskan gas bila terjadi pengelasan.
Kampuh Las yang kotor oleh air, minyak, cat dan kotoran-kotoran yang lain
yang dapat menyebabkan terbentuknya gas bila terjadi pengelasan.

Selang gas yang terjepit atau rusak sehingga tidak memberikan suplay
shielding gas yang cukup.

Aliran gas terlalu tinggi. Aliran gas yang terbuka lebar yang menghasilkan
kecepatan aliran gas yang tinggi menciptakan turbulensi dan dapat menarik
udara luar ke zona lasan. Selain itu, itu adalah pemborosan gas dan
menambah biaya yang tidak perlu untuk suatu proyek.

Elektroda SMAW, elektroda FCAW, dan las busur terendam (SAW) fluks
yangmenyerap kelembaban dalam lingkungan yang tidak dilindungi. Untuk
mengatasi kelembaban dalam proses pengelasan, standard cukup jelas
tentang penggunaan pengering dan oven untuk menyimpan bahan-bahan
ini.

Lapisan galvanisasi dapat membuat masalah. Zinc meleleh pada sekitar 420
derajat C dan titik didih sekitar 920 derajat celcius. Pada temperatur
pengelasan jauh melebihi 2.000 derajat C terjadi perubahan seng (zink) dari
solid menjadi gas dalam sepersekian detik.

Kelembaban udara sekitar juga dapat menyebabkan masalah, seperti


terjadinya embun pagi.

45

utama porositas. Bila digunakan secara berlebihan, bahan antispatter


menjadi kontaminan, mendidih menjadi gas bila terkena suhu tinggi las
busur.

Hembusan angin/udara yang dapat mengganggu aliran shielding gas selama


proses pengelasan. Aliran udara ini jika melebihi dari 4 sampai 5 mil per
jam, dapat mempengaruhi proses pengelasan.

10. Bukalah katup gas oksigen..

ukalah katup gas asetilen sedikit lebih besar daripada gas oksigen.

46

Nyalakan ujung pembakar menggunakan korek api las.

. Aturlah nyala busur api las sesuai dengan kebutuhan.

Pada saat mematikan busur api las, sebaiknya juga


mengikuti prosedur berikut ini:

BAB V
KESIMPULAN

5.1. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan dapat saya simpulkan bahwa : 1. Untuk
dapat mengelas dengan hasil lasan yang baik, perlu latihan dalam jangka waktu yang tidak
singkat. 2. Dalam mengelas kecepatan menggeser elektroda sangat menentukan
hasil lasan. Jika terlalu cepat, tembusan lasnya dangkal oleh karena kurang waktu
pemanasan bahan dasar dan kurang waktu untuk cairan elektroda menembus bahan dasar. Bila
terlalu lambat akan menghasilkan alur lasan yang lebar, kasar dan kuat, hal ini
dapat menimbulkan kerusakan sisi las (pada logam induknya). Oleh karena itu kecepatan
elektroda harus tepat dan stabil. 3. Jarak ujung elektroda ke benda kerja juga
sangat mempengaruhi hasil lasan. Jika terlalu dekat elektroda bisa nempel pada benda
47

kerja dan jika terlalu jauh lelehan elektroda tidak akan menumpuk dan jika sangat
jauh elektroda akan mati. 4. Arus merupakan satu hal yang sangat penting dalam
pengelasan, hal ini dikarenakan besar arus sangat menentukan temperatur
pengelasan. Besarnya temperatur pengelasan akan mempengaruhi laju
pendinginan. Laju pendinginan akan sangat mempengaruhi struktur mikro dari
hasil pengelasan. Oleh karena itu besarnya arus pengelasan sangat
mempengaruhi kualitas hasil pengelasan. 5. Harga kekerasan daerah lasan lebih
besardari daerah butir halus dan daerah logam induk. 6. Daerah benda uji yang putus
pada saat uji tarik adalah daerah benda uji yang memiliki harga kekerasan paling
rendah jika dibandingkan dengan daerah lasan dan batas butir, yaitu daerah
logam induk. 7. Dari grafik uji tarik dapat dilihat semakin tinggi arus maka
semakin tinggi tegangan luluhnya dan tegangan maksimumnya, menunjukkan
peningkatan sifat mekanis bila pengelasan dilakukan dengan arus lebih tinggi.

5.2. DAFTAR PUSTAKA


1. Arief hidaya ST.Modul pengelasan BLK Kab. Bogor 2012. Bogor
2. Modul Praktikum Lab. Mesin Univ. Pancasila,2014. Jakarta
3. https://www.scribd.com/doc/221890492
4. https://search.yahoo.com/search.

48

LAMPIRAN

49