Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rancangan dari suatu bentuk sediaan yang tepat memerlukan pertimbangan
karakteristik fisika, kimia dan biologis dari semua bahan-bahan obat dan bahan-bahan
farmasetik yang akan digunakan dalam membuat produk tersebut. Obat dan bahanbahan farmasetik yang digunakan harus tercampur satu dengan yang lainnya unuk
menghasilkan suatu produk obat yang stabil, manjur, mudah dibuat dan aman.
Dalam hubungannya dengan masalah memformulasi suatu zat obat menjadi
suatu bentuk sediaan yang tepat, ahli farmasi peneliti memakai pengetahuan yang
telah diperoleh melalui pengalaman dengan obat-obat serupa dan mengetahui
penggunaan (penerapan) disiplin ilmu fisika, kimia dan biologi yang tepat. Tahap
awal dari tiap formulasi baru meliputi pengkajian untuk mengumpulkan keteranganketerangan dasar tentang karakteristik fisika dan kimia zat obat yang dibuat menjadi
bentuk sediaan farmasi tersebut.
Bentuk- bentuk sediaan farmasi dapat juga berpengaruh pada proses efek
farmakologi suatu obat, hal ini menyebabkan dibuatnya berbagai bentuk sediaan
farmasi, misalnya untuk sediaan topical seperti salep, krim, gel dan pasta.
Disini yang akan kita bahas adalah mengenai system penghantaran sediaan
obat pada mata secara umum, seperti kelebihan dan keuntungan sediaan obat pada
mata, mekanisme penyerapan sediaan obat pada mata, sifat fisikokimia sediaan obat
pada mata, dsb. Meskipun kemajuan signifikan telah dibuat selama dekade terakhir
dalam meningkatkan pemberian obat untuk mata, masih tetap merupakan tantangan
utama. In fact, despite its popularity, the most commonly used topical form ie
collyrium do not provide sufficient drug levels, owing to ocular anatomical and
physiological barriers. Bahkan, meskipun popularitasnya, bentuk yang paling umum
digunakan yaitu collyrium topikal tidak memberikan tingkat obat yang cukup, karena
anatomi mata dan hambatan fisiologis. The only way to ensure therapeutic drug
concentrations at the target site relies on frequent instillations, which are
uncomfortable for the patient and commonly lead to bad compliance. Satu-satunya
cara untuk memastikan konsentrasi terapeutik obat di situs target bergantung pada
instillations sering, yang tidak nyaman bagi pasien dan umumnya menyebabkan
kepatuhan yang buruk. Researchers are thus continuously encouraged to develop
long-acting ocular formulations. Peneliti dengan demikian terus menerus didorong
untuk mengembangkan formulasi long-acting okular.

B. Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi ilmiah kepada
sesama mahasiswa farmasi khususnya dan masyarakat secara umum tentang
kelebihan dan kekurangan dari sediaan obat pada mata, mekanisme penyerapan
sediaan obat pada mata, sifat fisikokimia sediaan obat pada mata, dsb. Selain itu juga
diharapkan dapat mengetahui karakteristik, komponen serta metoda pembuatan dari
sediaan cair berdasarkan informasi yang terdapat dalam makalah.
C. Manfaat
Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua
pihak, khususnya kepada mahasiswa/i untuk menambah pengetahuan dan wawasan
mengenai sediaan obat pada mata. Manfaat lain dari penulisan makalah ini adalah
dengan adanya penulisan makalah ini diharapkan dapat dijadikan bahan pembelajaran
bagi mahasiswa/i mengenai sediaan obat pada mata.
D. Permasalahan
Permasalahan yang akan kita bahas dalam makalah ini antara lain mengapa
diberikan dalam bentuk sediaan obat pada mata, apa saja komposisi yang terkandung
dalam pembuatan obat pada mata, bagaimana proses penyerapan sediaan obat pada
mata di dalam tubuh dan sebagainya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2

A.. Definisi
Salah satu definisi dari sediaan obat mata yang akan kita bahas disini yaitu obat tetes
mata yang merupakan sediaan steril berupa larutan atau suspensi, digunakan untuk mata,
dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata di sekitar kelopak mata dan bola mata.
Kemajuan perkembangan obat mata tradisional (konvensional) menuju sistem
penghantaran obat mata baru relatif agak lambat. Hal ini karena ada beberapa persyaratan
obat mata yang perlu diperhatikan oleh para peneliti seperti persyaratan sterilitas obat mata,
tidak boleh ada toksisitas local, toleransi dalam penggunaan obat mata, kemudahan
pemberian, pengawet anti mikroba untuk formulasi multiguna, serta persyaratan iso
osmolaritas untuk formulasi berbasis air.
Selain itu, perlu pula diperhatikan sifat mata yang selalu mempunyai mekanisme
perlindungan mata yang berkontribusi terhadap eliminasi segera kalalu ada partikel debu,
insek, benda asing, atau formulasi sediaan yang bersinggungan dengan mata. Mekanisme ini
menyebabkan obat sukar berkontak lama dengan mata.
Secara komersial jumlah pasien yang menderita penyakit mata tidak begitu banyak.
Selain itu, obat mata hanya mewakili persentase kecil dari obat yang dibutuhkan untuk terapi.
Jadi sangat mungkin terjadi walaupun secara teknologi dan terapi berhasil baik, secara
ekonomi keberhasilan komersiallnya relatif kecil. Semua faktor ini membatasi jumlah inovasi
formulasi obat mata dengan pelepasan modifikasi di pasaran.
B. Bentuk Sediaan Tetes Mata dan Metode Sistem Pengiriman Sediaan Obat Mata
Berdasarkan kondisi fisik:
a. Intravitreal suntikan (IVT)
Disuntikan ke dalam mata vitreous humor antara lensa dan retina.
Suntikan intravitreal melibatkan agen terapi suntikan (obat / udara / gas) di
dalam rongga vitreous Pars Plana melalui tindakan pencegahan aseptik di
bawah.

b. SubTenon
Digunakan untuk menggambarkan suntikan melalui membran yang menutupi
otot-otot dan saraf di bagian belakang bola mata.

c. Sub-retina
Disuntikan dibawah retina.
d. Obat tetes mata
Sediaan steril berupa larutan atau suspensi, digunakan untuk mata, dengan
cara meneteskan obat pada selaput lendir mata di sekitar kelopak mata dan
bola mata. (FI III hal 10)
e. Salep Mata
Salep yang digunakan pada mata.Berbeda dengan salep dermatologi salep
mata yang baik yaitu :
Steril
Bebas hama (bakteri)
Tidak mengiritasi mata
Difusi bahan obat keseluruh mata yang dibasahi, Karena sekresi
cairan mata
Dasar salep harus mempunyai titik lebur atau titik leleh mendekati
suhu tubuh.(Ansel 89)
C. Klasifikasi sediaan obat mata
Obat Tetes Mata
1.

Definisi
o sediaan steril berupa larutan atau suspensi, digunakan untuk mata, dengan cara
meneteskan obat pada selaput lendir mata di sekitar kelopak mata dan bola
mata. (FI III hal 10)
o larutan steril, bebas partikel asing , merupakan sediaan yang dibuat dan
dikemas sedemikian rupa hingga sesuai digunakan pada mata. (FI IV , 13)
o Sediaan mata merupakan produk steril, tidak mengandung partikel asing,
dalam campuran dan wadah yang cocok untuk digunakan pada mata
o Suspensi obat mata adalah sediaan cair steril yang mengandung partikelpartikel yg terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada obat mata
seperti yg tertera pada Suspensiones .(FI IV hal 14)
o Larutan optalmik adalah larutan steril basis lemak atau air dari alkaloid, garam
alkaloid, antibiotik, atau zat lain yang dimasukkan ke dalam mata.
o Sediaan mata adalah larutan atau suspensi dengan pembawa air atau minyak
steril yang mengandung satu atau lebih zat aktif yang dibutuhkan untuk
digunakan pada mata.

2. Penggunakan obat tetes mata


o Obat-obat yang digunakan pada produk optalmik dapat dikategorikan
menjadi : miotik, midriatik, siklopegik, anti-inflamatory agent, anti infeksi,
anti galukoma, senyawa diagnostik dan anestetik lokal.
3. Syarat sediaan tetes mata :
o Steril
o Isotonis dengan air mata, bila mungkin isohidris dengan pH air mata.
o Isotonis = 0,9% b/v NaCl, rentang yang diterima = 0,7 1,4 % b/v atau 0,7
1,5 % b/v
o pH air mata = 7,4 Larutan jernih, bebas partikel asing dan serat halus.
o Tidak iritan terhadap mata (untuk basis salep mata)
4. Suspensi Mata
o Suspensi dapat dipakai untuk meningkatkan waktu kontak zat aktif dengan
kornea sehingga memberi kerja lepas lambat yang lebih lama .
o P emilihan bentuk suspensi ( mis. Sediaan kortikosteroid) disebabkan :

Rendahnya bioavailabilitas zat aktif dalam bentuk larutannya.

Toksisitas atau stabilitas zat aktif dalam bentuk larutan

Karena mata adalah organ yang sangat sensitif, maka partikel-partikel


dalam suspensi dapat mengiritasi dan meningkatkan laju lakrimasi dan
kedipan Maka solusinya, digunakan partikel yang sangat kecil yaitu
dengan memakai zat aktif yang dimikronisasi ( micronized ).

Masalah utama suspensi optalmik adalah kemungkinan terjadinya


perubahan ukuran partikel menjadi lebih besar selama penyimpanan.

Untuk sediaan suspensi, surfaktan diperlukan untuk membasahi zat


aktif hidrofob dan untuk memperlambat pengkristalan.

Pensuspensi yang biasa digunakan biasanya sama dengan bahan


peningkat viskositas

5. Bahan tambahan
Pengawet

o Larutan obat mata dapat dikemas dalam wadah takaran ganda bila digunakan
secara perorangan pada pasien dan bila tidak terdapat kerusakan pada
permukaan mata. Wadah larutan obat mata harus tertutup rapat dan disegel
untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama. Sedangkan untuk
penggunaan pembedahan, disamping steril, larutan obat mata tidak boleh
mengandung antibakteri karena dapat mengiritasi jaringan mata. (FI IV hal 13
& 14)
o Kontaminasi pada sediaan mata dapat menyebabkan kerusakan yang serius,
misalnya menyebabkan radang kornea mata. Kontaminan yang terbesar adalah
Pseudomonas aeruginosa . Pertumbuhan bakteri bacillus Gram negatif ini
terjadi dengan cepat pada beberapa medium dan menghasilkan zat toksin dan
anti bakteri. Sumber bakteri terbesar adalah air destilasi yang disimpan secara
tidak tepat yang digunakan dalam pencampuran
o Organisme lain yang bisa menghasilkan infeksi kornea seperti golongan
proteus yang telah diketahui sebagai kontaminan dalam larutan metil selulosa.
Selain bakteri, fungi juga merupakan kontaminan misalnya Aspergillus
fumigatus . Virus juga merupakan kontaminan seperti herpes simplex, vaksin,
dan moluscum contagiosum. Umumnya pengawet tidak cocok dengan virus .
o Mikroorganisme lain yang dapat mengkontaminasi sediaan optalmik adalah
Hemophillus influenza, Hemophillus conjunctividis, Neisseria gonorrhoeae,
Neisseria meningitidis, dll
o Pengawet yang dipilih seharusnya mencegah dan membunuh pertumbuhan
mikroorganisme selama penggunaan. Pengawet yang sesuai untuk larutan obat
tetes mata hendaknya memiliki sifat sebagai berikut :

Bersifat bakteriostatik dan fungistatik. Sifat ini harus dimiliki terutama


terhadap Pseudomonas aeruginosa.

Non iritan terhadap mata (jaringan okuler yaitu kornea dan


konjungtiva).

Kompatibel terhadap bahan aktif dan zat tambahan lain yang dipakai.

Tidak memiliki sifat alergen dan mensensitisasi.

Dapat mempertahankan aktivitasnya pada kondisi normal penggunaan


sediaan

Kombinasi pengawet yang biasanya digunakan adalah :


o Benzalkonium klorida + EDTA
o Benzalkonium klorida + Klorobutanol/feniletilalkohol/ fenilmerkuri nitrat
o Klorobutanol + EDTA/ paraben
6

o Tiomerasol + EDTA
o Feniletilakohol + paraben
Contoh pengawet :
-

Benzalkonium Klorida
Klorobutanol
Feniletil alcohol
Thimerosal
Fenilmerkuri Nitrat
Propil paraben
Metil paraben

Pengisotonis
o Pengisotonis yang dapat digunakan adalah NaCl, KCl, glukosa, gliserol dan
dapar . Rentang tonisitas yang masih dapat diterima oleh mata :
o FI IV : 0,6 2,0% RPS dan RPP : 0,5 1,8%
o AOC : 0,9 1,4% Codex dan Husa : 0,7 1,5%
o Tapi usahakan berada pada rentang 0,6 1,5%
Pendapar
o Secara ideal, larutan obat mata mempunyai pH dan isotonisitas yang sama
dengan air mata. Hal ini tidak selalu dapat dilakukan karena pada pH 7,4
banyak obat yang tidak cukup larut dalam air. sebagian besar garam alkaloid
mengendap sebagai alkaloid bebas pada pH ini. Selain itu banyak obat tidak
stabil secara kimia pada pH mendekati 7,4 (FI III, 13). Tetapi larutan tanpa
dapar antara pH 3,5 10,5 masih dapat ditoleransi walaupun terasa kurang
nyaman. Di luar rentang pH ini dapat terjadi iritasi sehingga mengakibatkan
peningkatan lakrimasi . Rentang pH yang masih dapat ditoleransi oleh mata
menurut beberapa pustaka : 4,5 9,0 menurut AOC ; 3,5 8,5 menurut FI IV
o Syarat dapar :
o Dapat menstabilkan pH selama penyimpanan
o Konsentrasinya tidak cukup tinggi sehingga secara signifikan daqpat
mengubah pH air mata.
o Menurut Codex, dapar yang dapat dipakai adalah dapar borat, fosfat dan sitrat.
Tapi berdasarkan Suarat Edaran Dirjen POM, asam borat tidak boleh
digunakan untuk pemakaian topikal/lokal karena resiko toksisitasnya lebih
besar dibandingkan khasiatnya untuk penggunaan topikal. Jadi, dapar yang
boleh digunakan untuk sediaan optalmik hanya dapar fosfat dan sitrat.
7

o Dapar yang digunakan sebaiknya adalah dapar yang telah dimodifikasi dengan
penambahan NaCl yang berfungsi untuk menurunkan kapasitas daparnya.
Untuk dapar fosfat dapat digunakan dapar yang terdapat di FI III.
Peningkat viskositas
o Beberapa hal yang harus diperhatikan pada pemilihan bahan peningkat
viskositas untuk sediaan optalmik adalah
o Sifat bahan peningkat viskositas itu sendiri. Mis. Polimer mukoadhesif ( asam
hyaluronat dan turunannya; carbomer) secara signifikan lebih efektif daripada
polimer non mukoadhesif pada konsentrasi equiviscous.
o Perubahan pH dapat mempengaruhi aktivitas bahan peningkat viskositas.
o Penggunaan produk dengan viskositas tinggi kadang tidak ditoleransi baik
oleh mata dan menyebabkan terbentuknya deposit pada kelopak mata; sulit
bercampur dengan air mata; atau mengganggu difusi obat.
o Penggunaan peningkat viskositas dimaksudkan untuk memperpanjang waktu
kontak antara sediaan dengan kornea sehingga jumlah bahan aktif yang
berpenetrasi dalam mata akan semakin tinggi sehingga menambah efektivitas
terapinya
o Viskositas untuk larutan obat mata dipandang optimal jika berkisar antara 1525 cps. Peningkat viskositas yang biasa dipakai adalah metilselulosa 4000 cps
sebanyak 0,25% atau 25 cps sebanyak 1%, HPMC, atau polivinil alkohol
( Ansel, 548-552). Menurut Codex, dapat digunakan turunan metil selulosa,
polivinil alkohol, PVP, dekstran and makrogol.
o Na CMC jarang digunakan karena tidak tahan terhadap elektrolit sehingga
kekentalan menurun; kadang tidak tercampurkan dengan zat aktif
o Pada umumnya penggunaan senyawa selulosa dapat meningkatkan penetrasi
obat dalam tetes mata, demikian juga dengan PVP dan dekstran. Jadi,
pemilihan bahan pengental dalam obat tetes mata didasarkan pada :

Ketahanan pada saat sterilisasi,

Kemungkinan dapat disaring,

Stabilitas, dan

Ketidakbercampuran dengan bahan-bahan lain.

o Contoh peningkat viskositas :


o (1) Hidroksipropil metilselulosa = hypromellose (HPMC) , (2) Metilselulosa ,
(3) Polivinil alkohol
8

Anti Oksidan
o Zat aktif untuk sediaan mata ada yang dapat teroksidasi oleh udara. Untuk itu
kadang dibutuhkan antioksidan. Antioksidan yang sering digunakan adalah Na
metabisulfit atau Na sulfit dengan konsentrasi sampai 0,3%. Vitamin C (asam
askorbat) dan asetilsistein pun dapat dipakai terutama untuk sediaan fenilefrin.
o Degradasi oksidatif seringkali dikatalisa oleh adanya logam berat, maka dapat
ditambahkan pengkelat seperti EDTA. Penggunaan wadah plastik yang
permeabel terhadap gas dapat meningkatkan proses oksidatif selama
penyimpanan
o Contoh Anti Oksidan :
o (1) Natrium metabisulfit , ( 2) Natrium bisulfit , (3) Natrium sulfit , (4) Asam
askorbat
Surfaktan
o Pemakaian surfaktan dalam obat tetes mata harus memenuhui berbagai aspek :
o Sebagai antimikroba (Surfaktan golongan kationik seperti benzalkonium
klorida, setil piridinium klorida, dll).
o Menurunkan tegangan permukaan antara obat mata dan kornea sehingga
meningkatkan akti terapeutik zat aktif.
o Meningkatkan ketercampuran antara obat tetes mata dengan cairan lakrimal,
meningkatkan kontak zat aktif dengan kornea dan konjungtiva sehingga
meningkatkan penembusan dan penyerapan obat.
o Tidak boleh meningkatkan pengeluaran air mata, tidak boleh iritan dan
merusak kormea. Surfaktan golongan non ionik lebih dapat diterima
dibandingkan dengan surfaktan golongan lainnya.
o Penggunaan surfaktan dalam sediaan optalmik terbatas. Surfaktan non ionik,
yang paling tidak toksik dibandingkan golongan lain, digunakan dalam
konsentrasi yang rendah dalam suspensi steroid dan sebagai pembantu untuk
membentuk larutan yang jernih.
o Surfaktan dapat juga digunakan sebagai kosolven untuk meningkatkan
solubilitas (jarang dilakukan). Surfaktan non ionik dapat mengadsorpsi
senyawa pengawet antimikroba dan menginaktifkannya.
o Menurut Codex, surfaktan non ionik yang sering dipakai adalah Polisorbat 80
(Tween 80). Sedangkan menurut Diktat kuliah teknologi steril dapat juga
digunakan Tween 20, benzetonium klorida, miristil-gamma-picolinium
9

klorida, polioxil 40-stearat, alkil-aril-polietil alkohol, dioktil sodium


sulfosuksinat, dll.

D. Kelebihan dan Kekurangan Sediaan Obat Mata


Diantaranya kekurangan dan kelebihan salah satu sediaan obat mata yaitu obat tetes
mata adalah :
a. Keuntungan :
Larutan mata memiliki kelebihan dalam hal kehomogenan, bioavailabilitas
dan kemudahan penangananan.
Suspensi mata memiliki kelebihan dimana adanya partikel zat aktif dapat
memperpanjang waktu tinggal pada mata sehingga meningkatkan waktu
terdisolusinya oleh air mata, sehingga terjadi peningkatan bioavailabilitas dan
efek terapinya.

b. Kekurangan :
Volume larutan yang dapat ditampung oleh mata sangat terbatas ( 7 L)
maka larutan yang berlebih dapat masuk ke nasal cavity lalu masuk ke jalur
GI menghasilkan absorpsi sistemik yang tidak diinginkan. Misalnya -bloker
untuk perawatan glaukoma dapat menjadi masalah bagi pasien gangguan
jantung atau asma bronkhial.( Codex, 162)
Kornea dan rongga mata sangat kurang tervaskularisasi, selain itu kapiler
pada retina dan iris relatif non permeabel sehingga umumnya sediaan untuk
mata adalah efeknya lokal/topikal. (Codex, 161)

10

BAB III
PEMBAHASAN

CONTOH SEDIAAN OBAT TETES MATA


ANAVIT ORAL DROPS GOLONGAN
KANDUNGAN
Vit A 2,500 iu, vit B1 0.6 mg, vit B2 phosphate 0.5 mg, vit B6 0.5 mg, vit B12 1.5 mcg, vit D
500 iu, niacinamide 5 mg, Ca pantothenate 2.5 mg
INDIKASI
Pencegahan & pengobatan kekurangan vitamin pada anak-anak.
KEMASAN
Tetes 15 mL.
DOSIS
Bayi : 6 tetes sekali sehari.
Anak berusia 1-3 tahun : 6-12 tetes sekali sehari.
PENYAJIAN
Dikonsumsi bersamaan dengan makanan atau tidak
Data hanya sebagai informasi
PABRIK
Nufarindo.
BAQUINOR TETES MATA
GOLONGAN
KANDUNGAN
Ciprofloxacin / Siprofloksasin.
INDIKASI
Ulkus kornea yang disebabkan oleh Pseudomonas aeroginosa, Serratia marcescens,
Staphyllococcus aureus, Streptococcus epidermidis, Streptococcus pneumoniae,
Streptococcus viridans.
Konjungtivitis (radang selaput ikat mata) yang disebabkan oleh Staphyllococcus aureus,
Streptococcus epidermidis, Streptococcus pneumoniae.

11

KONTRA INDIKASI
Hipersensitif terhadap Siprofloksasin atau quinolon lain.
PERHATIAN
Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan pertumbuhan organisme yang resisten
terhadap Siprofloksasin secara berlebihan.
Hentikan penggunaan saat pertama kali tampak ruam kulit atau tanda-tanda reaksi
hipersensitifitas lainnya.
EFEK SAMPING
Rasa terbakar atau rasa tidak enak setempat, gatal-gatal, edema kelopak mata, mata berair.
INDEKS KEAMANAN PADA WANITA HAMIL
Penelitian pada hewan menunjukkan efek samping pada janin ( teratogenik atau embriosidal
atau lainnya) dan belum ada penelitian yang terkendali pada wanita atau penelitian pada
wanita dan hewan belum tersedia. Obat seharusnya diberikan bila hanya keuntungan
potensial memberikan alasan terhadap bahaya potensial pada janin.
KEMASAN
Tetes mata 3 mg/mL x 5 mL.
DOSIS
Ulkus kornea : 2 tetes tiap 15 menit selama 6 jam pertama, lalu 2 tetes tiap 30 menit
selama sisa hari pertama.
Hari kedua : 2 tetes tiap jam.
Hari ke-3 sampai hari ke-14 : 2 tetes tiap 4 jam.
Konjungtivitis : 1-2 tetes tiap 2 jam selama 2 hari & 1-2 tetes tiap 4 jam selama 5 hari
berikutnya.
Pabrik : Sanbe

12

BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN
Bentuk Sediaan Tetes Mata dan Metode Sistem Pengiriman Sediaan Obat Mata berdasarkan
kondisi fisik antara lain : a. Intravitreal suntikan (IVT), disuntikan ke dalam mata vitreous
humor antara lensa dan retina; b. SubTenon, digunakan untuk menggambarkan suntikan
melalui membran yang menutupi otot-otot dan saraf di bagian belakang bola mata; c. Subretina, disuntikan dibawah retina; d. Obat tetes mata, sediaan steril berupa larutan atau
suspensi, digunakan untuk mata, dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata di
sekitar kelopak mata dan bola mata; e. Salep Mata, salep yang digunakan pada mata.
Diantaranya kekurangan dan kelebihan salah satu sediaan obat mata yaitu obat tetes mata
adalah :
Keuntungan : Larutan mata memiliki kelebihan dalam hal kehomogenan, bioavailabilitas dan
kemudahan penangananan. Suspensi mata memiliki kelebihan dimana adanya partikel zat
aktif dapat memperpanjang waktu tinggal pada mata sehingga meningkatkan waktu
terdisolusinya oleh air mata, sehingga terjadi peningkatan bioavailabilitas dan efek terapinya.
Kekurangan : Volume larutan yang dapat ditampung oleh mata sangat terbatas ( 7 L)
maka larutan yang berlebih dapat masuk ke nasal cavity lalu masuk ke jalur GI
menghasilkan absorpsi sistemik yang tidak diinginkan. Misalnya -bloker untuk perawatan
glaukoma dapat menjadi masalah bagi pasien gangguan jantung atau asma bronkhial. Kornea
dan rongga mata sangat kurang tervaskularisasi, selain itu kapiler pada retina dan iris relatif
non permeabel sehingga umumnya sediaan untuk mata adalah efeknya lokal/topikal.

13

BAB V
DAFTAR PUSTAKA

Farmakope Indonesia Ed. III


Farmakope Indonesia Ed. IV
Ansel 1989
Codex
Buku Sistem Penghantaran Obat Pelepasan Terkendali

14

15