Anda di halaman 1dari 10

A.

JUDUL PENELITIAN

Analisis

Perancangan

Sistem

Ventilasi

untuk

Pengendalian

Radiasi Gas Radon pada Area Penambangan DMLZ PT. Freeport


Indonesia

B.

LATAR BELAKANG MASALAH


PT. Freeport Indonesia saat ini sedang mengembangkan dua

tambang bawah tanah baru yaitu DMLZ (Deep Mill Level Zone) and GBC
(Grasberg

Block

Cave)

yang

nantinya

diharapkan

akan

dapat

menggantikan operasi tambang permukaan yang akan berakhir pada


tahun 2017. Seiring dengan aktifitas kegiatan penambangan di area
DMLZ (Deep Mill Level Zone) tentunya terdapat masalah mengenai
kualitas udara yang di sebabkan oleh radiasi gas radon, sehingga dapat
mengganggu para pekerja yang melakukan aktifitas kerja pada area
DMLZ.
Gas Radon beserta anak luruhnya merupakan gas mulia bersifat
radioaktif dan berasal dari anak luruh radium ( 226Ra) dari deret uranium
(238U) yang berada dalam kerak bumi. Gas radon tersebut secara terus
menerus terlepas ke lingkungan melalui celah-celah batuan dan tanah di
terowongan tambang bawah tanah. Jika gas radon terhirup oleh pekerja
tambang yang berada di dalam terowongan akan terendapkan pada
saluran pernafasan terutama di bronchi dan bronchiole, yang dapat
menyebabkan kanker paru-paru.
Metode utama dalam mengendalikan gas radon dan anak luruhnya
pada tambang bawah tanah adalah dengan ventilasi. Ventilasi tambang
digunakan untuk mempertahankan agar konsentrasi radon tetap rendah dan
memungkinkan radon tinggal dalam tambang hanya dalam waktu yang singkat. Hal
1

ini dilakukan melalui pengenceran (dilusi) dengan udara bersih. Oleh karena itu
dalam penulisan ini akan dibahas mengenai analisis perancangan sistem
ventilasi yang dapat mengendalikan gas radon tersebut.

C.

TUJUAN
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1)

Untuk mengetahui sistem jaringan ventilasi awal yang berdasar

2)

pada standar kuantitas dan kualitas udara.


Menganalisa tingkat radiasi gas radon yang terdapat pada area

3)

penambangan DMLZ PT. Freeport Indonesia.


Menganalisa rancangan sistem jaringan

4)

mengetahui radiasi gas radon di area pertambangan.


Mengetahui kuantitas dan kualitas udara setelah dilakukan analisis

ventilasi

setelah

rancangan sistem ventilasi yang berdasar pada tingkat radiasi gas

D.

radon pada area penambangan.

LANDASAN TEORI

1. Pengertian Radon dan Keterdapatannya di Alam


Radon adalah gas radioaktif yang tidak tampak, tidak
berbau, dan tidak berasa, yang naik ke permukaan bumi melalui
proses peluruhan alami uranium yang terdapat pada hampir semua
tanah dan bebatuan. Radon dikatakan tidak tampak apabila berada
pada tekanan atau suhu ruangan. Namun bila didinginkan radon
akan berwarna kuning dan bila cair Radon akan berwarna merah
jingga. Gas radon berpotensi keluar dari perut bumi, karena
berbagai peristiwa geologi atau ulah manusia. Radon merupakan
hasil peluruhan U-238, dan selanjutnya akan meluruh dengan
memancarkan partilkel a (alfa) dan membentuk anak luruh yaitu
isotop

tak

stabil

Polonium-218

(padatan)

sampai

akhirnya

membentuk isotop stabil Pb-206.

Radon dapat ditemukan dalam konsentrasi tinggi pada tanah


dan batuan yang berumur sangat tua (>600 juta tahun), yang
mengandung granit, shale (batuan karang lunak yang mudah
pecah menjadi serpihan), fosfat dan pitch-blende (suatu variasi dari
mineral uraninit), disamping uranium. Radon juga dapat ditemukan
pada tanah yang tercemar oleh jenis-jenis buangan industri
tertentu, sperti produk sampingan pertambangan uranium atau
fosfat.
Berdasarkan NCRP (National Council on Radiation Protection
and Measurement), lebih dari 80% gas radon yang dilepaskan ke
atmosfir

berasal

dari

lapisan

tanah

bagian

atas.

Besarnya

konsentrasi radon sangat bergantung pada kondisi dan jenis


batuan yang terdapat pada lapisan tanah di daerah tersebut. Untuk
jenis

batuan

granit

yang

kaya

dengan

uranium

diperoleh

konsentrasi ratarata 59,26 Bq/kg (1,6 pCi/g), sedangkan basalt


yang relatif sedikit kandungan uraniumnya memiliki konsentrasi
rata-rata 11,11 Bq/kg (0,3 pCi/g). Selanjutnya, konsentrasi radon
rata-rata secara keseluruhan untuk batuan pada lapisan kerak
bumi kira-kira 37,04 Bq/kg (1 pCi/g) dan pada tanah kira-kira 25,93
Bq/kg (0,7 pCi/g).
2. Sistem Ventilasi
Sistem

ventilasi

adalah

salah

satu

metode

yang

di

pergunakan dalam tambang bawah tanah untuk memberikan


kebutuhan udara segar para pekerja dan mengendalikan radiasi
gas-gas beracun. Oleh karena itu sangatlah perlu di perhatikan
kondisi maupun perawatannya. Untuk memperoleh informasi yang
terinci mengenai kuantitas dan kualitas udara tambang bawah
3

tanah pada sistem jaringan ventilasi, maka perlu dilakukan


pemeriksaan

terhadap

sistem

ventilasi

yang

ada,

yaitu

mengadakan pengukuran dan pengamatan terhadap ventilasi,


sehingga dapat diketahui arah aliran atau sirkulasi udara, kuantitas
udara yang memenuhi persyaratan yang berlaku. Pada pengaturan
aliran udara dalam ventilasi tambang bawah tanah, berlaku hukum
alam bahwa:

Udara akan mengalir dari suhu rendah ke tinggi, dari tekanan

tinggi ke rendah.
Udara akan lebih banyak mengalir pada jalur ventilasi dengan
resistansi yang lebih kecil dibandingkan dengan jalur dengan

resistansi yang besar.


Hukum-hukum mekanika fluida akan selalu diikuti dalam
perhitungan dalam ventilasi tambang.
Ventilasi tambang mempunyai tujuan umum yang bisa menjadi

salah satu acuan dari suatu standar udara tambang bawah tanah,
diantaranya :

Memberikan udara segar / oksigen (O2) untuk aktifitas dalam

tambang.
Melarutkan gas-gas beracun dan berbahaya.
Menurunkan tempertur sampai pada temperatur yang nyaman

untuk bekerja.
Menyingkirkan atau menghisap debu di dalam tambang bawah
3. Standar Kualitas Udara Tambang Bawah Tanah
Komposisi Udara segar normal yang dialirkan pada ventilasi
tambang terdiri dari: Nitrogen, Oksigen, Karbondioksida, Argon dan
Gas-gas lain seperti terlihat pada tabel 1.
Tabel 1. Komposisi Udara Segar Normal
Unsur

Persen Volume (%)

Persen Berat (%)

Nitrogen (N2)

78,09

75,53

Oksigen (O2)

20,95

23,14

Karbondioksia (CO2)

0,03

0,046

Argon (Ar), dll

0,93

1,284

Dalam

perhitungan

ventilasi

tambang

selalu

dianggap

bahwa udara segar normal terdiri dari Nitrogen 79% dan Oksigen
21%. Disamping itu selalu dianggap bahwa udara segar akan selalu
mengandung karbondioksida (CO2) sebesar 0,03%. Demikian pula
perlu

diingat

bahwa

udara

dalam

ventilasi

tambang

selalu

mengandung uap air dan tidak pernah ada udara yang benar-benar
kering. Oleh karena itu akan selalu ada istilah kelembaban udara
3.1

Kandungan Oksigen dalam Udara


Oksigen merupakan unsur yang sangat diperlukan untuk
kehidupan

manusia.

Pada

pernafasannya,

manusia

akan

menghirup oksigen, yang kemudian bereaksi dengan butir darah


(haemoglobine)

menjadi

oksihaemoglobin

yang

akan

mendukung kehidupan. Dalam udara normal, kandungan oksigen


adalah 21 % dan udara dianggap layak untuk suatu pernafasan
apabila kandungan oksigen tidak boleh kurang dari 19,5 %.
Banyak proses-proses dalam alam yang dapat menyebabkan
pengurangan kandungan oksigen dalam udara; terutama untuk
udara tambang bawah tanah. Peristiwa oksidasi, pembakaran
pada mesin bakar dan pernafasan oleh manusia merupakan
contoh dari proses kandungan pengurangan oksigen.
3.2

Gas-Gas Pengotor
Ada beberapa macam gas pengotor dalam udara tambang
bawah tanah. Gas-gas ini berasal baik dari proses-proses yang

terjadi dalam tambang maupun berasal dari batuan ataupun


bahan galiannya.

Radon
Radon

bersifat

sangat

toksik,

dikarenakan

sifat

radioaktivitasnya yaitu sebagai pemancar zarah alfa (a). Sinar


radiasi ini akan berbahaya sebagai sumber internal, yaitu
apabila kita menghirup udara (inhalasi), gas radon dapat
masuk ke dalam paru-paru kita. Selain karena radiasi alfa dari
radon itu sendiri, anak luruh radon seperti polonium yang juga
radioaktif dan Pb-204 yang bersifat toksik akan terdeposit di
paru-paru. Sel didominasi oleh air, sehingga interaksi radiasi
dengan air akan menghasilkan berbagai ion, radikal bebas
dan peroksida yang bersifat oksidator kuat. Molekul-molekul
protein, lemak, enzim, DNA dan kromosom ini akan terserang
oleh radikal bebas dan peroksida, dalam proses biokimia,
yang akan berakibat pada efek somatik dan genetik.

Karbon Monoksida (CO)


Gas karbon monoksida

merupakan

gas

yang

tidak

berwarna, tidak berbau dan tidak ada rasa, dapat terbakar


dan sangat beracun. Karbon monoksida merupakan gas
beracun

yang

sangat

mematikan

karena

sifatnya

yang

kumulatif, seperti terlihat pada grafik 1. Misalnya gas CO pada


kandungan 0,04 % dalam udara apabila terhirup selama satu
jam baru memberikan sedikit perasaan tidak enak, namun
dalam waktu 2 jam dapat menyebabkan rasa pusing dan
setelah 3 jam akan menyebabkan pingsan/tidak sadarkan diri

dan pada waktu lewat 5 jam dapat menyebabkan kematian.


Hidrogen Sianida
6

Hidrogen

Sianida (HCN) merupakan gas yang

tidak

berwarna dengan bau almond yang menyengat. HCN disebut


juga formonitrite, sedangkan dalam bentuk cairan dikenal
sebagai asam prussit dan asam hidrosianik. Dalam bentuk
cairan HCN tidak berwarna atau dapat juga berwarna biru
pucat pada suhu kamar. HCN bersifat volatile dan mudah
terbakar serta dapat berdifusi baik dengan udara dan bahan
peledak, juga sangat mudah bercampur dengan air sehingga

sering digunakan.
Lower Explosive Limit
Lower Explosive Limit (LEL) gas merupakan konsentrasi
minimal dari gas yang ada di udara sehingga menyebabkan
dia bisa terbakar. Jika suatu gas terdiri dari beberapa unsur,
maka nilai LEL nya merupakan nilai campuran, karena gas
detektor berfungsi untuk pendeteksi terhadap kebocoran gas
sebelum terjadinya kecelakaan, jadi tidak mungkin setting gas
detector di ambil dari 100% LEL gas. Untuk % LEL adalah
standar untuk menentukan kepekaan gas detector.Biasanya di
banyak referensi standar, bahwa untuk LLG (Low Level Gas)
nilai dari gas detector adalah sekitar 20% LEL gas.S edangkan
HLG (High Level Gas) nilai dari gas detector adalah sekitar 50
65 % LEL.Jadi kesimpulannya tergantung pada gas atau
fluida itu sendiri dan LEL tidak memiliki sifat yang spesifik
karena bukan merupakan unsure kimia.

E.

METODE PELAKSANAAN KEGIATAN


Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan, dilakukan penelitian

dan pengamatan baik secara langsung maupun secara tidak langsung,

adapun tahapan yang dilakukan dalam melakukan pekerjaan penelitian


adalah :
1. Persiapan
Kegiatan ini merupakan tahapan awal sebelum kegiatan
lapangan yang meliputi :
a. Persiapan administrasi dan penguruan surat-surat izin di kampus
dan perusahaan
b. Konsultasi dengan pembibing akademik
c. Pengumpulan berbagai literature
2. Studi Literatur dan Diskusi
Tahap ini dilakukan studi mengenai buku-buku teks, jurnal
dan laporan-laporan terdahulu yang berkaitan dengan sistem
jaringan ventilasi pada tambang bawah tanah. Kegiatan ini
berlangsung sampai kegiatan penelitian berakhir.
3. Tahapan Pengambilan Data Lapangan, berupa :
a. Orientasi lapangan, Kegiatan orientasi ini dimaksudkan untuk
mengenal dan mempelajari kondisi wilayah perusahaan, yang
merupakan tempat untuk mengadakan penelitian.
b. Pengambilan data lapangan, Pengambilan data dilakukan
setelah orientasi lapangan selesai dilaksanakan, data yang
diambil berupa :
Data primer
Data primer adalah data hasil pengamatan yang dilakukan di
lapangan, meliputi pengambilan data yang sifatnya secara
langsung seperti data kuantitas dan kualitas udara, data
tingkat radiasi gas radon pada area penambangan DMLZ.

Data sekunder
Data sekunder adalah data pendukung yang digunakan
sebagai pelengkap, yang meliputi geologi regional daerah

penelitian, curah hujan, serta topografi dari lingkungan


pertambangan.
4. Validasi data
Maksud dari validasi data adalah melakukan pengecekan
ulang terhadap data yang telah diperoleh dari hasil pengambilan
data lapangan.
5. Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan dan analisis data yang ada, untuk mendapatkan
pemecahan dari permasalahan yang dibahas kemudian melakukan
perhitungan-perhitungan terhadap alternatif pemecahan masalah
sehingga dapat menyelesaikan permasalahan yang dibahas.
6. Penyusunan Laporan
Pada tahap ini keseluruhan hasil dari tahapan kegiatan yang
dilakukan sebelumnya disusun dalam draft laporan sesuai dengan
format dan kaidah penulisan Tugas Akhir yang telah ditetapkan
Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Hasanuddin.
7. Seminar dan Penyerahan Laporan
Hasil akhir dari penelitian ini akan dipresentasikan dalam
seminar

Program

Hasanuddin,

Studi

setelah

Teknik

melalui

Pertambangan

penyempurnaan

Universitas
berdasarkan

masukan-masukan yang diperoleh dari para dosen penguji. Draft


Tugas Akhir kemudian diserahkan ke ketua Program Studi Teknik
Pertambangan Universitas Hasanuddin.

F.

RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN


Pelaksanaan penelitian tugas akhir ini direncanakan dilakukan

selama 3 bulan atau disesuaikan dengan kebijakan perusahan, dengan


rencana kegiatan sebagai berikut
Tabel 1.1 Jadwal Pelaksanaan Kajian Selama 4 bulan
9

No.

Kegiatan

1.

Persiapan
Studi Literatur dan
Diskusi
Pengambilan Data
Lapangan
Pengolahan dan Analisis
Data

2.
3.
4.

G.

5.

Penyusunan Laporan

6.

Seminar

Bulan (Minggu ke-)


I
II
III
1 2 3 4
1 2 3 4 1 2 3 4

PENUTUP

Demikian proposal tugas akhir ini sebagai salah satu pertimbangan

bagi pihak PT. Freeport Indonesia. Besar harapan saya agar kiranya
proposal ini ditanggapi dengan baik, dan kesempatan yang diberikan oleh
pihak perusahaan tentunya akan dimanfaatkan semaksimal mungkin.

H.

DAFTAR PUSTAKA

Kingery, D. 1960. Introduction to Mine Ventilating Principles and


Practices.Washington DC: US Bereau of Mines Bull.
Koibur, A. 2015. Pemodelan Jaringan Ventilasi Menggunakan Software
Kazemaru pada Tambang DOZ PT. Freeport Indonesia. Jayapura:
Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik UNCEN
Sofyan, H. Penentuan Konsentrasi Radon dan Turunannya Dalam Ruangan
Menggunakan
Pylon
WLX.nhttp://batan-bdg.go.id/modules.php.
(Diakses pada tanggal 27 Mei 2016 pukul 19.00 WITA)
Sudarsono, & Wiyono, B. 2003. Ventilasi Tambang. Yogyakarta: Jurusan
Teknik Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral UPN "Veteran

10