Anda di halaman 1dari 28

Case Report Session

TUMOR LARING

Preseptor

: dr. Syukri Rahman, Sp.THT-KL


Disusun oleh :

Gusri Erivo
Fitria Ramanda

0810313248
0910312137

BAGIAN ILMU TELINGA HIDUNG


TENGGOROKAN KEPALA LEHER
RSUP DR. M. DJAMIL FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tumor ganas laring merupakan tumor yang terbanyak menyerang saluran
pernapasan bagian atas. Tumor ganas laring

cukup sering ditemukan di bagian

Telinga Hidung Tenggorokan ( THT ). Sebagai gambaran, diluar negeri tumor ganas
laring menempati urutan pertama dalam urutan keganasan di bidang THT, sedangkan
di RSCM menempati urutan ketiga setelah karsinoma nasofaring, tumor ganas hidung
dan sinus paranasal.1,2
Etiologi pasti sampai saat ini belum diketahui, namun didapatkan beberapa
hal yang berhubungan erat dengan terjadinya keganasan laring yaitu : rokok, alkohol,
sinar radioaktif, polusi udara radiasi leher dan asbestosis. Insiden tumor laring sangat
berhubungan erat dengan kebiasaan merokok ,seperti juga meningkatnya kejadian
tumor leher dan kepala 6x lebih sering pada perokok dibandingkan dengan yang tidak
merokok.Risiko kematian pada tumor ganas laring berbanding lurus dengan
meningkatnya konsumsi rokok, terlebih lagi bila disertai dengan konsumsi alkohol.3
Salah satu akibat yang ditimbulkan dari tumor laring adalah terjadinya
sumbatan laring yang dapat berakibat kematian. Untuk itu diperlukan diagnosis dan
penatalaksanaan yang tepat dan sesuai dengan prinsip penanggulangan sumbatan
laring, yaitu menghilangkan penyebab sumbatan dengan cepat atau membuat jalan
napas baru yang dapat menjamin ventilasi.1,4
Untuk menegakkan diagnosa tumor ganas laring masih belum memuaskan,
hal ini disebabkan antara lain karena letaknya dan sulit untuk dicapai sehingga
dijumpai bukan pada stadium awal lagi. Biasanya pasien datang dalam keadaan yang
sudah berat sehingga hasil pengobatan yang diberikan kurang memuaskan. Yang
terpenting pada penanggulangan tumor ganas laring ialah diagnosa dini. 1,5
1.2 Batasan Masalah

Makalah ini hanya akan di batasi defenisi, etiologi, klasifikasi, gejala klinis,
diagnosis, penatalaksanaan, dan prognosis tumor laring.
1.3 Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami tentang
defenisi, etiologi, klasifikasi, gejala klinis, diagnosis, penatalaksanaan, dan prognosis
tumor laring.
1.2 Metode Penulisan
Makalah ini disusun berdasarkan studi kepustakaan yang merujuk ke beberapa
literatur.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. ANATOMI DAN FISIOLOGI LARING
2.1.1. KERANGKA LARING
Laring merupakan bagian terbawah dari saluran nafas bagian atas. Batas atas
laring adalah aditus laring, batas bawahnya adalah batas kaudal kartilago krikoid.
Bangunan kerangka laring tersusun dari satu tulang yaitu tulang hyoid, dan beberapa
buah tulang rawan. Tulang rawan yang menyusun laring adalah kartilago epiglotis,
kartilago krikoid, kartilago aritenoid, kartilago kornikulata, kartilago tiroid. Kartilago
krikoid dihubungkan dengan kartilago tiroid oleh ligamentum krikotiroid. Terdapat
sepasang kartilago aritenoid yang terletak dekat permukaan belakang laring dan
membentuk sendi dengan kartilago krikoid, disebut artikulasi krikoaritenoid.
Sepasang kartilago kornikulata melekat pada kartilago aritenoid di daerah apex,
sedangkan sepasang kartilago kuneiformis terdapat di dalam lipatan ariepiglotik.Pada
laring terdapat 2 buah sendi, yaitu
krikoaritenoid.1,5

artikulasi krikotiroid dan artikulasi

2.1.2. OTOT-OTOT LARING


Gerakan laring dilaksanakan oleh kelompok otot-otot ekstrinsik dan otot-otot
intrinsik : 1,5
I.Otot-otot ekstrinsik laring :
1. Suprahioid :
- m. digastrikus
- m. geniohioid
- m. stilohioid
- m. milohioid
Otot-otot ini berfungsi menarik laring ke bawah.
2. Infrahioid :
- m. sternohioid
- m. omohioid
- m. Tirohioid
Otot-otot ini berfungsi menarik laring ke atas.
II. Otot-otot intrinsik laring :
1. Terletak di bagian lateral laring :
- m. krikoaritenoid lateral laring
- m. tiroepiglotika
- m. vokalis
- m. tiroaritenoid
- m. Ariepiglotika
- m. krikotiroid
2. Terletak di bagian posterior laring :
- m. aritenoid transversum
- m. aritenoid oblik
- m. krikoaritenoid posterior

2.1.3. RONGGA LARING


Batas atas rongga laring ialah aditus laring, batas bawahnya ialah bidang yang
melalui pinggir bawah kartilago krikoid. Batas depannya ialah permukaan belakang
epiglotis, tuberkulum epiglotis, ligamentum tiroepiglotik, sudut antara kedua belah
lamina kartilago tiroid dan arkus kartilago krikoid, batas belakangnya ialah m.
aritenoid transversus dan lamina kartilago krikoid.1,5
Pada laring terdapat pita suara asli ( plika vokalis ) dan pita suara palsu ( plika
ventrikularis ). Bidang antara plika vokalis kiri dan kanan disebut rima glotis, dan
bidang antara plika ventrikularis kiri dan kanan disebut rima vestibuli. Plika vokalis
dan plika ventrikularis membagi rongga laring dalam 3 bagian, yaitu : vestibulum
laring/supraglotik ( di atas plika ventrikularis ), glotik, dan subglotik ( di bawah plika
vokalis ).1,5

2.1.4. PERSARAFAN LARING


Laring dipersarafi oleh cabang-cabang nervus vagus, yaitu n. laringis superior
dan n. laringis inferior. N. laringis superior mempersarafi m. krikotiroid. N. laringis
inferior bercabang 2 menjadi ramus anterior dan ramus posterior. Ramus anterior
mempersarafi otot-otot intrinsik laring bagian lateral, ramus posterior mempersarafi
otot-otot intrinsik laring bagian superior.1,5
2.1.5. PENDARAHAN LARING
Pendarahan laring terdiri dari 2 cabang, yaitu :1,5
1. Arteri laringis superior, merupakan cabang dari arteri tiroid superior.
Berjalan melewati bagian belakang membran tirohioid dan menembus
membran ini untuk berjalan di submukosa dari dinding lateral dan lantai
sinus piriformis untuk mendarahi mukosa dan otot-otot laring.
2. Arteri laringis inferior, merupakan cabang arteri tiroid inferior. Berjalan ke
belakang sendi krikotiroid, lalu masuk laring melalui daerah pinggir bawah
dari m. konstriktor faring inferior dan mendarahi mukosa dan otot laring.
Vena laringis superior dan vena laringis inferior letaknya sejajar dengan a.
laringis superior dan inferior.
2.1.6. PEMBULUH LIMFA
Pembuluh limfa eferen dari golongan superior bergabung dengan kelenjar
bagian superior rantai servikal dalam. Pembuluh eferen dari golongan inferior

bergabung dengan kelenjar servikal dalam, dan beberapa menjalar sampai sejauh
kelenjar supraklavikula.1,5

2.1.7 FISIOLOGI LARING


Laring berfungsi untuk :1,5
1. Proteksi
Yaitu mencegah makanan dan benda asing masuk ke dalam trakea dengan
cara menutup aditus laring dan rima glotis secara bersamaan.Terjadinya penutupan
aditus laring karena pengangkatan laring ke atas akibat kontraksi otot-otot
ekstrinsik laring. Penutupan rima glotis terjadi karena adduksi plika vokalis.
2. Refleks batuk
Benda asing yang telah masuk ke dalam trakea dapat dibatukkan keluar.
Demikian juga dengan bantuan batuk, sekret yang berasal dari paru dapat
dikeluarkan.
3. Respirasi

Yaitu dengan mengatur besar kecilnya rima glotis. Bila m. krikoaritenid


posterior berkontraksi akan menyebabkan prosessus vokalis kartilago aritenoid
bergerak ke lateral, sehingga rima glotis terbuka.
4. Sirkulasi
Dengan terjadi perubahan tekanan udara di dalam traktus trakeobronkial akan
mempengaruhi sirkulasi darah dari alveolus, sehingga mempengaruhi sirkulasi
dalam tubuh.
5. Menelan
Laring membantu menelan melalui 3 mekanisme, yaitu gerakan laring bagian
bawah ke atas, menutup aditus laringis dan mendorong bolus makanan turun ke
hipofaring dan tidak masuk lagi ke dalam laring.
6. Emosi
Laring berfungsi mengekspresikan emosi seperti berteriak, mengeluh,
menangis, dll.
7. Fonasi
Yaitu dengan membuat suara serta menentukan tinggi rendahnya nada.tinggi
rendahnya nada diatur oleh peregangan plika vokalis. Bila plika vokalis dalam
adduksi, maka m. krikotiroid akan merotasikan kartilago tiroid ke bawah dan ke
depan, menjauhi kartilago aritenoid. Pada saat yang bersamaan m. krikoaritenoid
posterior akan menahan atau menarik kartilago aritenoid ke belakang. Plika
vokalis kini dalam keadaan efektif untuk berkontraksi. Sebaliknya kontraksi m.
krikoaritenoid akan mendorong kartilago krikoaritenoid ke depan, sehingga plika
vokalis akan mengendor.Kontraksi serta mengendornya plika vokalis akan
menentukan tinggi rendahnya nada.

2.2. KLASIFIKASI TUMOR GANAS LARING


Tumor laring terbagi atas 3 bagian, yaitu : 1
a.Tumor supraglotis: terbatas pada daerah mulai dari tepi atas epiglotis sampai batas
atas glotis termasuk pita suara palsu dan ventrikel laring.

b.Tumor glotis : mengenai pita suara asli.

c.Tumor subglotis : tumbuh lebih dari 10 mm dibawah tepi bebas pita suara asli
sampai batas inferior krikoid.

2.3. EPIDEMIOLOGI
Kekerapan tumor ganas laring di beberapa tempat di dunia ini berbeda-beda.
Di Amerika Serikat pada tahun 1973 1976 dilaporkan 8,5 kasus karsinoma laring
per 100.000 penduduk laki-laki dan 1,3 kasus karsinoma laring per 100.000 penduduk
perempuan. Tumor ganas laring lebih sering mengenai laki-laki dibanding perempuan
dengan perbandingan 5 : 1 dan terbanyak pada usia 56-69 tahun.2,3
2.4. ETIOLOGI
Belum diketahui pasti penyebabnya, namun beberapa penelitian epidemiologi
menggambarkan beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko terjadinya tumor
laring, beberapa diantaranya yaitu :1,6,7
1. Umur
Insiden tumor ganas laring meningkat pada usia diatas 55 tahun.
2. Jenis kelamin
tumor laring 4x lebih sering mengenai laki-laki dibandingkan perempuan
3. Ras
Meningkat pada ras kulit hitam dibandingkan kulit putih
4. Merokok
Kebiasaan merokok meningkatkan resiko terjadinya tumor ganas laring
5. Alkohol
Orang yang mengkonsumsi alkohol berkemungkinan lebih besar terkena
tumor laring dibandingkan orang yang tidak mengkonsumsi alkohol.
6. Riwayat keganasan pada kepala dan leher
Satu dari empat orang yang pernah menderita tumor pada kepala dan leher
berisiko tinggi terkena untuk kedua kalinya.
7. Pekerjaan
Pekerja-pekerja yang terpapar uap asam sulfat,nikel dan asbes akan
beresiko tinggi menderita tumor laring
8. Faktor-faktor lain seperti virus, makanan rendah vitamin A dan
gastroesophageal reflux disease ( GERD ).

2.5 HISTOPATOLOGI
Karsinoma sel skuamosa meliputi 95 98% dari semua tumor ganas laring,
dengan derajat differensiasi yang berbeda-beda. Jenis lain yang jarang kita jumpai
adalah karsinoma anaplastik, pseudosarkoma, adenokarsinoma dan sarkoma.1,2
Karsinoma verukosa adalah satu tumor yang secara histologis kelihatannya
jinak, akan tetapi klinis ganas. Insidennya 1 2% dari seluruh tumor ganas laring,
lebih banyak mengenai pria dari wanita dengan perbandingan 3 : 1. Tumor tumbuh
lambat tetapi dapat membesar sehingga dapat menimbulkan kerusakan lokal yang
luas. Tidak terjadi metastase regional atau jauh. Pengobatannya dengan operasi,
radioterapi tidak efektif dan merupakan kontraindikasi. Prognosanya sangat baik.1,2
Adenokarsinoma. Angka insidennya 1% dari seluruh tumor ganas laring.
Sering dari kelenjar mukus supraglotis dan subglotis dan tidak pernah dari glotis.
Sering bermetastase ke paru-paru dan hepar. Two years survival rate-nya sangat
rendah.Terapi yang dianjurkan adalah reseksi radikal dengan diseksi kelenjar limfe
regional dan radiasi pasca operasi.1,2
Kondrosarkoma, adalah tumor ganas yang berasal dari tulang rawan krikoid
70%, tiroid 20% dan aritenoid 10%. Sering pada laki-laki 40 60 tahun. Terapi yang
dianjurkan adalah laringektomi total.1,2
2.6. GEJALA KLINIS DAN SUMBATAN LARING AKIBAT TUMOR
LARING
2.6.1 Gejala klinis dari tumor ganas laring yaitu :1,2,8
a. Serak
Merupakan gejala utama karsinoma laring, merupakan gejala dini tumor pita
suara. Hal ini disebabkan karena gangguan fungsi fonasi laring. Kualitas nada sangat
dipengaruhi oleh besar celah glotik, besar pita suara, ketajaman tepi pita suara,
kecepatan getaran, dan ketegangan pita suara.
Pada karsinoma laring,pita suara gagal berfungsi secara baik disebabkan oleh
ketidakaturan pita suara, oklusi atau penyempitan celah glotik, teserangnya otot-otot

vokalis, sendi dan ligamen krikoaritenoid, dan kadang-kadang menyerang saraf.


Adanya tumor di pita suara akan mengganggu gerak maupun getaran kedua pita suara
tersebut. Serak menyebabkan kualitas suara menjadi kasar, mengganggu, sumbang
dan nadanya lebih rendah dari biasa. Kadang-kadang bisa afoni karena nyeri,
sumbatan jalan napas, atau paralisis komplit.
Hubungan antara serak dengan tumor laring tergantung pada letak tumor.
Apabila tumor tumbuh pada pita suara asli, serak merupakan gejala dini dan menetap.
Apabila tumor tumbuh di daerah ventrikel laring, di bagian bawah plika ventrikularis
atau di batas inferior pita suara, serak akan timbul kemudian. Pada tumor supraglotis
dan subglotis, serak dapat merupakan gejala akhir atau tidak timbul sama sekali. Pada
kelompok ini, gejala pertama tidak khas dan subjektif, seperti perasaan tidak nyaman,
rasa ada yang mengganjal di tenggorok. Tumor hipofaring jarang menimbulkan serak,
kecuali tumor eksentif. Fiksasi dan nyeri menimbulkan suara bergumam ( Hot potato
voice ).
b. Dispnea dan stridor
Merupakan gejala yang disebabkan oleh sumbatan jalan napas dan dapat
timbul pada tiap tumor laring.Gejala ini disebabkan oleh gangguan jalan napas oleh
massa tumor, penumpukan kotoran atau sekret, maupun oleh fiksasi pita suara. Pada
tumor supraglotik atau transglotik terdapat kedua gejala tersebut. Sumbatan yang
terjadi secara perlahan-lahan dapat dikompensasi oleh pasien. Pada umumnya dispnea
dan stridor adalah tanda prognosis yang kurang baik.
c. Nyeri tenggorok
Keluhan ini dapat bervariasi dari rasa goresan sampai rasa nyeri yang tajam.
d. Disfagi
Merupakan ciri khas tumor pangkal lidah, supraglotik, hipofaring, dan sinus
piriformis. Keluhan ini merupakan keluhan yang paling sering pada tumor ganas post
krikoid. Rasa nyeri ketika menelan ( odinofagi )menandakan adanya tumor ganas
lanjut yang mengenai struktur ekstra laring.
e. Batuk dan hemoptisis

Batuk jarang ditemukan pada tumor ganas glotik, biasanya timbul dengan
tertekannya hipofaring disertai sekret yang mengalir ke dalam laring. Hemoptisis
sering terjadi pada tumor glotik dan tumor supraglotik.
f. Gejala lain
Berupa nyeri alih di telinga ipsilateral, halitosis, batuk, hemoptisis dan
penurunan berat badan menandakan perluasan tumor ke luar laring atau metastasis
jauh. Pembesaran kelenjar getah bening dipertimbangkan sebagai metastasis tumor
ganas yang menunjukkan tumor pada stadium lanjut. Nyeri tekan laring adalah gejala
lanjut yang disebabkan oleh komplikasi supurasi tumor yang menyerang kartilago
tiroid dan perikondrium.
2.6.2 Gejala Sumbatan laring
Gejala dan tanda sumbatan laring yang tampak adalah :4
1. Sesak napas ( dispnea ).
2. Stridor ( napas berbunyi ) yang terdengar pada waktu inspirasi.
3.Cekungan yang terdapat pada waktu inspirasi di suprasternal, epigastrium,
supraklavikula, interkostal. Cekungan itu terjadi sebagai upaya dari otot-otot
pernafasan untuk mendapatkan oksigen yang adekuat.
4. Gelisah karena pasien haus udara ( air hunger ).
5. Warna muka pucat dan terakhir menjadi sianosis karena hipoksia.
Jackson membagi sumbatan laring yang progresif dalam 4 stadium dengan
tanda dan gejala :4
1. Stadium 1 : cekungan tampak pada waktu inspirasi di suprasternal, stridor pada
waktu inspirasi dan pasien masih tenang.
2. Stadium 2 : cekungan pada waktu inspirasi di daerah suprasternal makin dalam,
ditambah lagi dengan timbulnya cekungan di daerah epigastrium. Pasien sudah
mulai gelisah. Stridor terdengar pada waktu inspirasi.
3. Stadium 3 : cekungan selain didaerah suprasternal, epigastrium juga terdapat di
infraklavikula dan sela-sela iga, pasien sangat gelisah dan dispnea. Stridor
terdengar pada waktu inspirasi dan ekspirasi.

4. Stadium 4 : cekungan- cekungan diatas bertambah jelas, pasien sangat gelisah,


tampak sangat ketakutan dan sianosis. Jika keadaan ini berlangsung terus maka
pasien akan kehabisan tenaga, pusat pernapasan paralitik karena hiperkapnia.
Pasien lemah dan tertidur, akhirnya meninggal karena asfiksia.
2.7. DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :1,2
1. Anamnesis.
Didapatkan keluhan berupa suara serak, nafas berbunyi, sulit bernafas, nyeri
tenggorokkan, batuk berdarah, sulit menelan dan kadang kadang ditemukan bau
mulut, penurunan berat badan.
2. Pemeriksaan THT rutin .
3. Laringoskopi direk.
Pemeriksaan ini untuk memastikan lokasi tumor dan menilai penyebaran
tumor.
4. Radiologi foto polos leher dan thorak .
Foto toraks diperlukan unuk menilai keadaan paru, ada atau tidaknya proses
spesifik dan metastasis di paru.
5. Pemeriksaan radiologi khusus separti CT-Scan, MRI.
CT-Scan laring dapat memperlihatkan keadaan tumor dan laring lebih
seksama, misalnya penjalaran tumor pada tulang rawan tiroid dan daerah preepiglotis serta metastasis kelenjar getah bening leher.
6. Pemeriksaan hispatologi dari biopsi laring sebagai diagnosa pasti.
Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan patologi anatomik dari bahan
biopsi laring dan biopsi jarum halus pada pembesaran kelenjar getah bening di
leher. Dari hasil patologi anatomik yang terbanyak adalah karsinoma sel
skuamosa.
Staging tumor ganas laring berdasarkan AJCC 2006:

2.8 DIAGNOSIS BANDING


Tumor ganas faring dapat dibanding dengan :
1. TBC laring
2. Sifilis laring
3. Tumor jinak laring
4. Penyakit kronis laring
2. 9 PENATALAKSANAAN
2.9.1 Penatalaksanaan tumor laring
Secara umum ada 3 jenis penanggulangan karsinoma laring, yaitu :1,2,8
1.Pembedahan
Tindakan operasi untuk keganasan laring terdiri dari :

1. Laringektomi :
a. Laringektomi parsial
Laringektomi parsial diindikasikan untuk karsinoma laring stadium I yang
tidak memungkinkan dilakukan radiasi, dan tumor stadium II.
b. Laringektomi total
Adalah tindakan pengangkatan seluruh struktur laring mulai dari batas atas
( epiglotis dan os hioid ) sampai batas bawah cincin trakea.
2. Diseksi leher radikal
Tidak dilakukan pada tumor glotis stadium dini ( T1 T2 ) karena
kemungkinan metastase ke kelenjar limfe leher sangat rendah. Sedangkan tumor
supraglotis, subglotis dan tumor glotis stadium lanjut sering kali mengadakan
metastase ke kelenjar limfe leher sehingga perlu dilakukan tindakan diseksi leher.
Pembedahan ini tidak disarankan bila telah terdapat metastase jauh.
3. Radioterapi
Radioterapi digunakan untuk mengobati tumor glotis dan supraglotis T1 dan
T2 dengan hasil yang baik ( angka kesembuhannya 90% ). Keuntungan dengan
cara ini adalah laring tidak cedera sehingga suara masih dapat dipertahankan.
Dosis yang dianjurkan adalah 200 rad perhari sampai dosis total 6000 7000 rad.
Radioterapi dengan dosis menengah telah pula dilakukan oleh Ogura, Som,
Wang, dkk, untuk tumor-tumor tertentu. Konsepnya adalah untuk memperoleh
kerusakan maksimal dari tumor tanpa kerusakan yang tidak dapat disembuhkan
pada jaringan yang melapisinya. Wang dan Schulz memberikan 45005000 rad
selama 46 minggu diikuti dengan laringektomi total.
4. Kemoterapi
Diberikan pada tumor stadium lanjut, sebagai terapi adjuvan ataupun paliativ.
Obat yang diberikan adalah cisplatinum 80120 mg/m2 dan 5 FU 8001000
mg/m2.
Rehabilitasi suara

Rehabilitasi setelah operasi sangat penting karena telah diketahui bahwa


tumor ganas laring yang diterapi dengan seksama memiliki prognosis yang baik.
Setelah laringektomi dilakukan rehabilitasi suara dengan pertolongan alat bantu suara
yakni vibrator yang ditempelkan didaerah submandibula atau menggunakan
esophageal speech dimana suara dihasilkan dari esofagus melalui proses belajar.1,2
2.9.2 Penatalaksanaan sumbatan laring
Dalam penanggulangan sumbatan laring prinsipnya diusahakan supaya jalan nafas
lancar kembali. Tindakan konservatif dengan medikamentosa dilakukan pada
sumbatan laring stadium 1. Tindakan operatif atau resusitasi yang dilakukan pada
stadium 2 dan 3 yaitu intubasi endotrakea dan trakeostomi sedangkan krikotirotomi
dilakukan pada stadium 4.4
Intubasi endotrakea
Indikasi intubasi endotrakea yaitu 4:
1. Untuk mengatasi sumbatan saluran nafas atas
2. Membantu ventilasi
3. Memudahkan mengisap sekret dari traktus trakeobronkial
4. Mencegah aspirasi sekret di rongga mulut atau yang berasal dari
lambung
Ukuran pipa endotrakea harus sesuai dengan ukuran trakea pasien dan umumnya
untuk dewasa dipakai yang diameter dalamnya 7 8,5 mm. Pipa endotrakea tidak
boleh lebih dari 6 hari dan selanjutnya dilakukan trakeostomi.
Trakeostomi
Merupakan tindakan membuat lubang pada dinding depan / anterior trakea
untuk bernafas. Menurut letak stroma, trakeostomi dibedakan letak yang tinggi dan
letak yang rendah dan batas letak ini adalah cincin trakea ke tiga. Indikasi
trakeostomi yaitu 4:
1. Mengatasi obstruksi laring

2. Mengurangi ruang rugi di saluran nafas atas


3. Mempermudah pengisapan sekret dari bronkus
4. Untuk memasang respirator
5. Untuk mengambil benda asing dari subglotis
Krikotirotomi
Krikotirotomi merupakan tindakan penyelamat pasien dalam keadaan gawat
nafas dengan cara membelah membran krikotiroid. Tindakan ini harus dikerjakan
cepat walaupun persiapannya darurat. Kontraindikasi krikotirotomi pada anak
dibawah 12 tahun, tumor laring yang sudah meluas ke subglotis dan terdapat
laringitis.4
2. 10. PROGNOSIS
Tergantung dari stadium tumor, pilihan pengobatan, lokasi tumor dan
kecakapan tenaga ahli. Secara umum dikatakan five years survival pada karsinoma
laring stadium I adalah 90 98%, stadium II adalah 75 85%, stadium III adalah 60
70% dan stadium IV adalah 40 50%. Adanya metastase ke kelenjar limfe regional
akan menurunkan five years survival rate sebesar 50%.1,2

BAB III
LAPORAN KASUS
I.

Identitas Penderita
Nama

: Tn.Z

Umur

: 84 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Pensiunan ABRI

Alamat

: Sungai Penuh, Kerinci

Pemeriksaan

: 15 Januari 2015

II. Anamnesis
Alloanamnesis dan autoanamnesis
Keluhan Utama : suara serak sejak 2 bulan yang lalu.
Riwayat Penyakit Sekarang

Suara pasien serak sejak 2 bulan yang lalu, suara berangsur-angsur serak
dalam 2 bulan ini, awalnya suara mulai sedikit serak, semakin bertambah

serak dalam 1 bulan ini.


Sebelumnya pasien tidak batuk, tidak ada demam
Nyeri menelan tidak ada
Pasien sudah di bawa berobat ke RS tentara di kerinci, dokter
menganjurkan untuk dirujuk ke RSUP M.Djamil Padang dengan

diagnosis suspek gangguan pita suara.


Riwayat berat badan menurun secara drastis tidak ada
Sesak nafas tidak ada.
Nafsu makan biasa

Riwayat Penyakit Dahulu

Keluhan seperti ini sebelumnya tidak ada.


Tidak ada riwayat penyakit jantung.
Riwayat keganasan di tenggorokan sebelumnya tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang menderita keluhan yang sama seperti yang
dialami pasien, anggota keluarga tidak ada riwayat keganasan.
Riwayat Pekerjaan,Sosial Ekonomi dan Kebiasaan
Pasien seorang pensiunan ABRI yang tinggal dengan anaknya, pasien memiliki
kebiasaan merokok sejak muda 1 bungkus per hari
III. Pemeriksaan Fisik
Vital Sign
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 80x/menit

Respirasi

: 20x/menit

Temperatur

: 36,7C

Berat badan

: 55 kg

Status General :
Kepala

: Normocephali

Muka

: Simetris, parese nervus fasialis -/

Mata

: Anemis -/-, ikterus -/-, reflek pupil +/+ isokor

THT

: Sesuai status lokalis

Leher

: Kaku kuduk (-)


Pembesaran kelenjar limfe -/Pembesaran kelenjar parotis -/Kelenjar tiroid (-)

Thorak

Cor

: S1S2 tunggal, reguler, murmur

Po

: Vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wh -/-

Abdomen

: Distensi (-), BU (+) N, hepar/lien tidak teraba

Ekstremitas

: dalam batas normal

Status lokalis THT :


Telinga

Kanan

Kiri

Daun telinga

Liang telinga

lapang

lapang

intak

intak

Tumor

Mastoid

Discharge
Membran timpani

Tes pendengaran :
Suara bisik

tidak dilakukan

Weber

tidak ada lateralisasi

Rinne

Schwabach

Tes alat keseimbangan


Hidung

tidak dilakukan

Kanan

Kiri

Hidung luar

Cavum nasi

lapang

Septum

lapang
deviasi tidak ada

Discharge

tidak ada

Mukosa

merah muda

Tumor
Concha

Choana

dekongesti

nyeri tekan tidak ada


N

Rinoskopi Posterior
Koana

merah muda
-

dekongesti

Sinus

tidak ada

: lapang

Mukosa

: tidak hiperemis, tidak ada granul

Konka inferior

Adenoid

Tuba Eustasius

Massa

Post nasal drip

Orofaring dan Mulut


Trismus

: tidak ada

Uvula

: tidak udem

Palatum Mole dan arkus faring : simetris, tidak hiperemis


Dinding faring

: mukosa licin, tidak hiperemis

Tonsil :

Kanan

Kiri

Pembesaran

T1

T1

Hiperemis

Permukaan mukosa

rata

Kripte

tidak melebar

Detritus

rata
-

Peritonsil

: tidak hiperemis

Tumor

: tidak ada

Gigi

: gigi palsu

Lidah

: warna merah

tidak melebar
-

Laringoskop Indirek
Epiglotis

: tidak hiperemis, tidak udem, pinggir rata

Aritenoid

: tidak ada masa

Ventrikular band

: tidak tampak

Plica vokalis

: tapak masa bewarna putih

Sinus piriformis

: tidak tampak

Valekule

: tidak ada masa

Pemeriksaan KGB
Inspeksi

: tidak tampak pembesaran

Palpasi

: tidak teraba pembesaran KGB

Pemeriksaan Penunjang

EKG

Pemeriksaan Laboratorium

: dalam batas normal

o Hb

: 15 gr%

o Leukosit

: 6000/mm3

o Ht

: 45%

o Trombosit

: 318.000

o Ureum

: 23

o Kretinin

: 0,9

o SGOT

: 16

o SGPT

: 10

IV. Resume
Pasien seorang laki-laki, berumur 84 tahun, Islam, dari Kerinci, datang dengan
keluhan suara serak sejak 2 bulan yang lalu. Riwayat penyakit yang sama
sebelumnya (-). Sebelumnya pasien sempat berobat ke RS Tentara dan di
anjurkan untuk dirujuk ke RSUP M.Djamil Padang .
Status lokalis THT :
Epiglotis

: tidak hiperemis, tidak udem, pinggir rata

Aritenoid

: tidak ada masa

Ventrikular band

: tidak tampak

Plica vokalis

: tapak masa bewarna putih

Sinus piriformis

: tidak tampak

Valekule

: tidak ada masa

V. Diagnosis Diferensial

TBC laring

Tumor jinak laring

VI. Diagnosis Utama


Suspek tumor laring
VII. Usulan Pemeriksaan
Biopsi tumor
VIII. Rencana Terapi

Medikamentosa :
1. Ceftriaxone 2 x 1 gr (IV)

Trakeostomi

IX. Prognosis
Dubia ad Malam

BAB IV
Pembahasan
Pasien laki-laki umur 84 tahun dari Kerinci, datang denga keluhan utama
suara serak sejak 2 bulan yang lalu. Tidak ada riwayat keganasan sebelumnya dan
sakit jantung sebelumnya, anggota keluarga tidak ada riwayat keganasan. Pasien
sorang perokok sejak muda, satu bungkus setiap harinya.untuk menghindari obtruksi
jalan nafas, pada pasien direncanakan trakeostomi dan biopsy untuk menentukan
jenis tumor. Tatalaksana dilanjutkan sesuai dengan jenis tumor dan stadiumnya.

BAB V
Penutup
Tumor laring lebih sering pada laki-laki dibandingkan dengan wanita, faktor
resiko yang meningkatkan kejadian tumor laring salah satunya adalah merokok.
Prognosis dari tumor laring berdassarkan stadium tumor tersebut. Tatalaksana
dilakukan sesuai dengan jenis dan stadium tumor.