Anda di halaman 1dari 58

N

Pemeriksaan
Pemeriksaan penciuman pada masingmasing lubang hidung.

Hasil
Normal : dapat
menyebutkan bau-bauan
secara tepat.
Kelainan penciuman :
Anosmia unilateral
Anosmia bilateral
Hiposmia
Parosmia
Hiperosmia

II

Pemeriksaan visus dengan kartu Snellen,


hitung jari, gerakan tangan, dan sinar
lampu.

Normal : 6/6

Pemeriksaan lapang pandang dengan tes


konfontasi dengan tangan.

Normal : Lapang
pandang sama dengan
pemeriksa.
Kelainan lapang
pandang :
Total blindness
Hemianopsia
Homonymous
hemianopsia
Homonymous
quadrantanopsia

Pemeriksaan fundus segmen posterior

III
IV
VI

Pemeriksaan gerak bola mata

Normal : Bola mata


bergerak tanpa nyeri
dan penglihatan ganda.

Pemeriksaan kelopak mata

Normal : Kelopak
membuka total.
Kelainan : Ptosis.

Pemeriksaan pupil direk dan indirek

Normal : Meiosis pupil


ketika disorot cahaya
dan pupil yang tidak
disorot cahaya.

Pemeriksaan refleks akomodasi pupil

Normal : Kedua mata


bergerak ke medial dan
pupil meiosis.

Pemeriksaan fungsi motorik


Pasien merapatkan gigi
sekuat-kuatnya, pemeriksa
mengamati muskulus
masseter dan temporalis.
Pasien membuka mulut,
pemeriksa mengamati
kesimetrisan dagu.

Normal : Kekuatan
kontraksi sama kuat.
Jika ada kelumpuhan,
dagu terdorong ke arah
lesi.

Pemeriksaan fungsi sensorik


Sensasi nyeri dan suhu.

Normal : Merasakan
rangsang.

Pemeriksaan refleks kornea

Normal : Menutup mata


atau berkedip ketika
ujung kapas menyentuh
kornea.

Pemeriksaan refleks masseter

Normal : Kontraksi
muskulus masseter dan
mulut akan menutup.

VII Pemeriksaan motorik, meminta pasien :


Mengerutkan dahi.
Menutup mata rapat, pemeriksa mencoba
membuka dengan tangan.

Normal : Sulit dibuka.

Memoncongkan bibir atau senyum.

Normal : Simetris.

Menggembungkan pipi, pemeriksa


menekan kedua pipi.

Normal : Pasien dapat


menahan tekanan jari
pemeriksa.

Pemeriksaan viseromotorik
Kondisi kelenjar lakrimalis, sublingualis,
mukosa hidung dan mulut.

Normal : Terdapat
produksi.

Pemeriksaan sensorik
Memberikan rasa manis, asam, asin, pahit
pada 2/3 bagian depan lidah.

Normal : Pasien dapat


merasakan rasa dengan
tepat.
Kelainan :
Ageusia
Hipogeusia
Disgeusia

VIII Pemeriksaan fungsi pendengaran :


Pemeriksaan Rinne

Normal : Hantaran
udara lebih panjang
dari tulang.

Pemeriksaan Weber

Normal : Kiri kanan


sama keras.

Pemeriksaan Schwabach

Normal : Hantaran
pasien sama dengan
pemeriksa.

Pemeriksaan fungsi keseimbangan, dengan


:
Normal : Timbul
Tes kalori
nistagmus ke kiri jika
dimasukkan air dingin
ke telinga kiri.
Kelainan : Tidak muncul
nistagmus.
Past Pointing Test

Normal : Pasien bisa


menyentuh ujung jari
pemeriksa.

Menilai kesimetrisan arkus faring

Normal : arkus faring


bergerak ke atas secara
simetris.

IX

Kelainan : asimetris, sisi


sakit tertarik ke sisi
yang sehat.
Normal : +
Refleks muntah

Melihat letak uvula

Normal : Di tengah.
Kelainan : Tertarik ke
sisi yang sehat.

XI

Refleks muntah

Normal : +

Plica vocalis

Normal : Menutup saat


fonasi atau inspirasi

Menilai m. sternokleidomastoideus

Normal : Terdapat
kontraksi dan dapat
melawan tahanan.

Menilai m. trapezius

Normal : Bahu tampak


sama tinggi.

XII Menilai pergerakan dan penjuluran lidah

Normal : Pergerakan
tidak ada hambatan,
lidah simetris jika
dijulurkan.
Kelainan : Disartria,
lidah asimetris jika
dijulurkan

1. Cara Berjalan
Prosedur : Mintalah pasien berjalan, perhatikan panjang langkahnya
dan lebar jarak kedua telapak kakinya.

2. Tandem Walking (Heel to Toe)


Prosedur : Perintahkan pasien berjalan pelan dengan ibu jari kaki yag
satu berada di belakang tumit kaki satunya secara bergantian.
Tes (+) bila pasien cenderung jatuh.

3. Tes Romberg
Prosedur : Mintalah pasien berdiri dengan sikap kedua tumit bertemu.
Perhatikan adakah sikap berdiri yang terhuyung-huyung atau
cenderung jatuh ke salah satu sisi. Pemeriksaan pertama dengan mata
terbuka. Pemeriksaan kedua dengan mata tertutup.
Tes (+) bila pasien berdiri cenderung jatuh.

Romberg

Romberg dipertajam

4. Disdiadokokinesia (Rapid Alternating Action Movement)


Prosedur : Mintalah pasien merentangkan kedua tangannya ke depan,
kemudian mintalah pasien mensupinasi dan pronasi tangannya secara
bergantian dan cepat.
Tes (+) bila gerakan lamban dan tidak tangkas

5. Tes Telunjuk Hidung (Finger to Nose Test)


Prosedur : Mintalah pasien merentangkan kedua lengannya ke
samping. Kemudian mintalah pasien menyentuh hidungnya dengan
jari telunjuknya bergantian tangan kanan dan kiri. Pertama dengan
mata
terbuka dan kedua dengan mata tertutup.

6. Tes Telunjuk Telunjuk


Prosedur : Mintalah pasien merentangkan kedua lengannya ke
samping. Kemudian mintalah pasien mempertemukan kedua jari
telunjuknya di depan. Pertama dengan mata terbuka dan kedua
dengan mata tertutup.

7. Tes Hidung Telunjuk Hidung


Prosedur : Mintalah pasien menunjuk hidungnya kemudian menunjuk
telunjuk pemeriksa. Lakukan berulang-ulang. Perhatikan apakah
gerakannya mulus atau tidak.

8. Tes Tumit Lutut Ibu Jari Kaki (Heel to Shin Test)


Prosedur : Minta pasien menempatkan salah satu tumitnya di atas
lutut tungkai lainnya, kemudian minta pasien menggerakkan tumit itu
meluncur dari lutut ke pergelangan kaki melalu tulang tibia dan
akhirnya melewati dorsum pedis untuk menyentuh ibu jari kaki.

9. Tes Ibu Jari Kaki Jari Telunjuk


Prosedur : Mintalah pasien menyentuh
jari telunjuk pemeriksa dengan ibu jari
kakinya secara berulang-ulang.

10.Tes Rebound
Prosedur : Mintalah pasien menarik lengannya sementara pemeriksa
menahannya sehingga seperti sedang beradu
panco. Kemudian secara tiba-tiba
pemeriksa melepaskan tahanannya.
Perhatikan apakah lengan pasien segera
berhenti atau terjadi gerakan lewat
sampai memukul dirinya sendiri.

1. Pemeriksaan Tingkat Kesadaran


Kesadaran didefinisikan sebagai keadaan yang mencerminkan
pengintegrasian impuls aferen dan eferen.
Tingkat kesadaran menunjukkan kewaspadaan atau reaksi
seseorang dalam menanggapi rangsangan dari luar yang ditangkap
oleh panca indera.
Isi kesadaran berhubungan dengan fungsi kortikal seperti membaca,
menulis, bahasa, intelektual, dan lain-lain.
Tingkat kesadaran yang menurun biasanya diikuti dengan gangguan
isi kesadaran. Sedangkan, gangguan isi kesadaran tidak selalu diikuti
dengan penurunan tingkat kesadaran. Penurunan tingkat
kesadaran diukur dengan Glasgow Coma Scale.

Cara penilaiannya dengan menjumlahkan nilai dari ketiga aspek


tersebut, dengan rentang nilainya adalah 3 sampai 15. Dapat juga
melaporkan dengan menyebutkan nilai dari masing-masing komponen
misal E4, V5, M6.

2. Penilaian Orientasi
Prosedur :

Orientasi orang : tanyakan namanya, usia, kerja, tanggal lahir,


dan kenal dengan orang di sekitarnya.

Orientasi tempat : tanyakan sekarang dimana, apa nama tempat


ini, di kota mana berada.

Orientasi waktu : tanyakan hari apa sekarang, tanggal bulan


tahun sekarang.

4. Pemeriksaan Apraksia
5. Pemeriksaan Agnosia
Prosedur :

Agnosia visual

Agnosia jari

Agnosia taktil

6. Pemeriksaan Memori
Prosedur :

Memori segera

Memori baru, jangka pendek

Kemampuan mempelajari hal baru

Memori visual

1. Fungsi Motorik, meliputi :


Observasi gangguan motorik
Penilaian gerakan volunter
Pemeriksaan tonus otot
Pemeriksaan trofi otot
Pemeriksaan kekuatan
ekstremitas
2. Fungsi Sensibilitas, meliputi :
Pemeriksaan sensasi taktil
(raba)
Pemeriksaan sensasi suhu
Pemeriksaan gerak dan posisi
Pemeriksaan sensasi getar
Pemeriksaan sensasi tekan
Pemeriksaan nyeri tekan

3. Refleks Fisiologis, meliputi :


a. Ekstremitas atas
Refleks biseps
Refleks triceps
Refleks brachioradialis
b. Ekstremitas bawah
Refleks patella
Refleks Achilles

4.
5.
6.
7.

Refleks Patologis
Tanda Meningeal
Klonus
Provokasi Sindrom Nyeri

Pemeriksaan fungsi motorik


a.Observasi
Dokter melakukan observasi terhadap pasien dengan gangguan
motorik pada waktu ia masuk ke kamar periksa. Apakah berjalan sendiri?
Apakah dipapah? Bagaimana gaya berjalannya? Setiap gangguan
somatomotorik yang ringan dapat diketahui dari observasi terhadap
setiap gerakan yang dilakukan pasien. Dan diperhatikan simetri tubuh
pasien.
b.Penilaian gerakan volunter
Gerakan volunter yang dimaksud adalah gerakan pasien atas
permintaan pemeriksa, seperti gerakan pada sendi bahu, siku, tangan,
jari-jari tangan, panggul, lutut, dan kaki.

c. Penilaian tonus otot


Pada waktu lengan bawah digerakkan pada sendi siku secara pasif,
otot-otot ekstensor dan fleksor lengan membiarkan dirinya ditarik
dengan sedikit tahan yang wajar. Tahanan ini dikenal sebagai tonus
otot. Jika tonus otot meningkat, maka pemeriksa mendapat kesulitan
untuk menekukkan dan meluruskan lengan. Jika tonus otot hilang, maka
pemeriksa tidak merasakan tahanan.
Gerakan

Tahanan

Abduksi-adduksi dan elevasi sendi bahu

m. Deltoideus

Fleksi dan ekstensi sendi siku

Otot-otot lengan atas

Pronasi-supinasi tangan

Otot-otot lengan bawah

Fleksi-ekstensi jari tangan, menggenggam dan


membuka

Otot tangan

Fleksi-ekstensi kaki pada articulatio coxae

Otot-otot pinggul

Fleksi-ekstensi kaki pada sendi lutut

m. Quadriceps femoris

Dorsofleksi dan plantarfleksi kaki

m. Gastrocnemius

Fleksi-ekstensi jari kaki

Otot kaki (dorsum dan


plantar pedis)

d. Pemeriksaan Trofi
Otot
i. Inspeksi
ii. Pengukuran
iii. Palpasi

e. Kekuatan Ekstremitas
Pemeriksaan kekuatan dengan memberikan tahanan terhadap gerakan
yang dilakukan pasien.
Otot

Gerakan Pasien

Bahu

Elevasi
Abduksi

Lengan

Fleksi sendi siku


Ekstensi sendi siku

Tangan

Fleksi sendi interfalang


Meluruskan jari-jari tangan
Mengepal dan mengembangkan jari-jari tangan

Panggul

Fleksi
Fleksi maksimal, pemeriksa meluruskan sendi panggul
tersebut

Paha

Fleksi sendi lutut


Fleksi maksimal, pemeriksa meluruskan sendi lutut tersebut

Kaki

Dorsofleksi kaki
Plantarfleksi kaki

Derajat kekuatan kontraksi otot, yaitu :

Derajat

Temuan

Tidak didapatkan kontraksi otot

Terdapat kontraksi otot

Tidak dapat melawan gravitasi, hanya bergeser

Dapat melawan gravitasi

Dapat melawan gravitasi dengan tahanan


sedang

Dapat melawan gravitasi dengan tahanan berat

Dermatom

Fungsi Sensibilitas
a.Pemeriksaan sensasi taktil (raba)
Alat berupa sikat halus, kain, tissue, bulu, sentuhan kulit
menggunakan ujung jari dengan sangat lembut.
Pasien harus dalam posisi terlentang, mata tertutup. Pasien
harus rileks dan area kulit yang dirangsang harus bebas dari rambut
dan pakaian.
Pasien menjawab ya atau tidak jika merasakan atau tidak
merasakan adanya rangsang, pasien juga menyebutkan lokasi masingmasing rangsang, dan perbedaan lokasi rangsang antara dua titik.
Abnormalitas sensasi taktil bisa berupa
anestesi, hipoestesi, tigmanesthesia,
trikoanesthesia, topoanesthesia,

b. Pemeriksaan nyeri superfisial


Alat yang digunakan adalah jarum jahit biasa, jarum yang mempunyai
dua ujung tumpul dan tajam, atau jarum dalam hammer-reflex.
Rangsang elektris atau rangsang panas tidak dianjurkan.
Pasien diminta menjawab rangsang yang diberikan tajam atau tumpul
dan tingkat ketajaman. Jika ditemukan kelainan sensasi turun atau
naiknya intensitas, pemeriksa harus mengulang dari daerah mulainya
sensasi turun atau naik hingga area normal.
Abnormalitas sensasi nyeri
superfisial yaitu
alganesthesia,
hipalgesia, hiperalgesia.

c. Pemeriksaan sensasi suhu


Prinsip dasar mengenai alat yang digunakan adalah tabung yang diisi
dengan air panas (40-50C) dan air dingin (5-10C).
Pemeriksa harus mencoba sensasi panas pada diri sendiri terlebih
dahulu, sensasi hangat bisa digunakan sebagai variasi.
Orang normal dapat menyebutkan perbedaan 2-5C. Abnormalitas
sensasi suhu dinamakan thermanesthesia, thermhipesthesia,
thermhiperesthesia yang digunakan baik untuk istilah sensasi dingin
dan panas.

d. Pemeriksaan gerak dan posisi


Tujuan dari pemeriksaan adalah mendapat respon pasien atas
persepsinya terhadap gerak, arah gerak, kekuatan, rentang gerak
(range of movement), sudut minimal ia dapat rasakan, dan
kemampuan pasien menyebutkan lokasi atas jari-jarinya.
Pasien diperiksa sambil menutup mata dalam posisi terlentang atau
duduk. Pemeriksa melakukan gerakan pasif terhadap pasien.
Menanyakan apakah pasien merasakan adanya gerakan atau
meminta pasien melakukan gerakan yang sama pada sisi lainnya.

e. Pemeriksaan sensasi getar


Pemeriksaan menggunakan garputala 128A atau 256 Hz.
Sistem pertulangan yang diperiksa adalah jari kaki I, maleolus
lateral/medial, tibia, sacrum, spina iliaca anterior superior, processus
spinosus verterbra, sternum, klavikula, processus styloideus
radius/ulna, dan persendian kaki.
Hasil normal jika pasien dapat merasakan getaran maksimum,
terutama jika pasien masih dapat merasakannya ketika getaran
sudah berkurang, keadaan abnormal yang disebut sebagai
palanesthesia, yaitu jika pasien tidak dapat merasakan getaran
apapun.

f. Pemeriksaan sensasi tekan


Disebut juga piesthesia. Sensasi tekan berhubungan erat dengan
sensasi taktil, tetapi juga berkaitan dengan persepsi tekanan atas area
subkutis. Sensasi tekan juga berhubungan erat dengan sensasi posisi
melalu kolumna posterior medulla spinalis.
Alat yang digunakan adalah benda tumpul, bisa menggunakan ujung
jari. Untuk pemeriksaan kuantitatif menggunakan aesthesiometer atau
piesimeter.
g. Pemeriksaan nyeri tekan
Menggunakan benda tumpul, bisa dengan ujung jari.
Massa otot, tendon, atau saraf superfisial diperiksa dengan
menekankan ujung jari-jari dengan menjepit.

Pemeriksaan Refleks Fisiologis


Sebuah refleks dapat diinterpretasikan sebagai refleks yang negatif,
menurun, normal, meningkat, atau hiperaktif. Kriteria secara kuantitatif :
Temuan
0 Tidak berespon
+1 Agak menurun, di bawah normal
+2 Normal; rata-rata/umum
+3 Lebih cepat dibanding normal, masih fisiologis
+4 Hiperaktif sangat cepat, biasanya disertai klonis dan
sering mengindikasikan adanya suatu menyakit

Refleks Fisiologis Ekstremitas Atas

Refleks Biceps

Refleks Triceps

Refleks Fisiologis Ekstremitas Bawah

Refleks Patella

Refleks achilles

Refleks Patologis

Refleks Hoffman

Refleks Tromner

Pemeriksaan Tanda Meningeal


Tanda meningeal timbul karena tertariknya radiks-radiks saraf tepi yang
hipersensitif karena adanya perangsangan atau peradangan pada selaput
otak meningens akibat infeksi, kimiawi maupun karsinomatosis.
Perangsangan meningeal bisa terjadi juga akibat perdarahan
subarachnoid.

Kaku kuduk

Brudzinski I

Brudzinski II

Tanda kernig

Pemeriksaan Klonus
Kelainan motoris akibat lesi di UMN selain ditandai dengan adanya
refleks patologis juga dapat ditandai dengan hiperrefleksia dari refleksrefleks fisiologis. Hiperrefleksia seringkali diiringi dengan klonus atau
kontraksi otot yang berulang-ulang setelah dilakukan perangsangan
tertentu.

Klonus Paha
Tungkai pasien dalam kedudukan lurus dan santai. Patella pasien
dipegang oleh pemeriksa diantara jempol dan telunjuk tangan kiri.
Kemudian secara tiba-tiba ditekan patella ke arah distal.
Klonus paha (+) jika timbul kontraksi secara berulang-ulang dari m.
quadriseps femoris.

Klonus Kaki
Tungkai pasien dalam keadaan santai. Tangan kiri pemeriksa diletakkan
di bawah lutut pasien, kemudian kaki pasien diangkat sedikit. Tungkai
bawah pasien sedikit fleksi pada lutut. Tangan kanan pemeriksa secara
tiba-tiba melakukan dorsofleksi pada kaki penderita. Posisi dorsofleksi
ini dipertahankan untuk beberapa saat.
Klonus kaki (+) jika timbul kontraksi secara berulang-ulang dari m.
gastrocnemius.

Pemeriksaan Provokasi Sindrom Nyeri


1. Tes Valsava
Tes valsava mengakibatkan naiknya tekanan intratekal. Jika terdapat
proses desak ruang di kanalis vertebralis bagian servikal, maka
dengan naiknya tekanan intratekal maka akan mengakibatkan nyeri
radikuler.
Prosedur :

Pasien diminta untuk menahan nafas.

Pasien diminta untuk mengejan sewaktu ia menahan nafasnya.

Tes valsava (+) jika timbul nyari radikuler yang berpangkal di tingkat
leher dan menjalar ke lengan.

2. Tes Naffziger
Tes ini juga mengakibatkan naiknya tekanan intratekal. Kenaikan
tekanan intratekal yang dicetuskan dengan tes naffziger ini
diteruskan sepanjang rongga arachnoid medula spinalis. Jika
terdapat proses desak ruang di kanalis vertebralis maka radiks yang
teregang saat dilakukan tes naffziger akan timbul nyeri radikuler
sesuai dengan dermatomnya.

Prosedur :

Pasien diminta berdiri atau berbaring.

Pemeriksa menekan kedua vena jugularis dengan kedua tangan


pemeriksa sekitar 2 menit sampai pasien merasa kepalanya
penuh.

Pasien diminta untuk mengejan saat dilakukan penekanan vena


jugulare tadi.

3. Tes Laseque
Prosedur :

Pasien diminta untuk berbaring terlentang di atas tempat tidur.

Pemeriksa melakukan fleksi pada sendi panggul dengan salah


satu tangan memegang tumit pasien dan mengangkatnya
sementara tangan yang lain menekan lutut supaya tetap lurus
(straight leg raising test).

Pemeriksa mencatat pada sudut berapa fleksi pasif tersebut


menimbulkan rasa nyeri.

Tes laseque (+) jika sewaktu dilakuakn gerakan fleksi pasif yang
membentuk 70 telah menimbulkan rasa nyeri yang menjalar
sepanjang perjalanan n. ischiadikus.
Tes laseque (+) apabila terdapat iritasi pada n. ischiadikus, HNP,
artritis sakroiliaka atau koksitis.

Tes laseque

4. Tes OConnel (Tes Laseque Silang)


Prosedur :
Sama dengan tes laseque.
Tes OConnerl (+) apabila timbul nyeri pada pangkal n. ischiadikus
yang sakit bila tungkai yang sehat diangkat.

5. Tes Patrick
Tindakan pemeriksaan ini dilakukan untuk membangkitkan nyeri di
sendi panggul yang terkena penyakit.
Prosedur :

Pasien diminta berbaring di atas tempat tidur.

Pasien menempatkan tumit (maleolus eksterna) tungkai yang


sakit pada lutut tungkai yang lain.

Pemeriksa melakukan penekanan pada lutut tungkai yang


difleksikan tadi.

Tes patrick (+) apabila pasien merasakan nyeri di sendi panggul yang
terkena penyakit. Hal tersebut berarti pasien mengalami gangguan
pada sendi panggul. Pada ischialgia diskogenik, tes patrick ini
biasanya negatif.

Tes patrick

6. Tes Kontra-Patrick
Pemeriksaan ini dilakukan untuk membangkitkan nyeri di sendi
sakroiliaka. Tes kontra-Patrick biasanya dilakukan untuk menentukan
lokasi patologik yang tepat apabila terdapat keluhan nyeri di daerah
bokong, baik yang menjalar sepanjang tungkai maupun yang terbatas
pada daerah gluteal dan sakral saja.
Prosedur :

Pasien diminta berbaring terlentang di atas tempat tidur.

Dilakukan fleksi tungkai yang sakit ke sisi luar, kemudian


dilakukan endorotasi serta aduksi.

Pemeriksa melakukan penekanan sejenak pada lutut tungkai


tersebut.

Tes kontra-Patrick (+) apabila timbul nyeri di garis sendi sakroiliaka.

Anda mungkin juga menyukai