Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kambing adalah salah satu mamalia yang memeamah biak. Umumnya kambing
dapat memakan semua jenis rumput dan tumbuhan hijau lainnya, namun tidak semua
disukai. Rumput yang disukai kambing umumnya mempunyai rasan yang lebih pahit
dibandingkan dengan rumput yang dimakan domba. Rumput bagi kambing berfungsi
sebagai penetral bau pada susu. Kambing bisa mencari makan sendiri dengan
menggembalakannya atau dengan memberi pakan pada kandang. Saat makanan di
berikan oleh peternak, biasanya kambing bersuara. Rumput yang dikunyah kambing
sebagian di simpan dalam lambung dan dikembalikan lagi ke mulut untuk dikunyah
keduakalinya
Pada mulanya domestikasi kambing terjadi di daerah pegunungan Asia Barat
sekitar 8000-7000 SM. Kambing yang dipelihara (Capra aegagrus hircus) berasal dari 3
kelompok kambing liar yang telah dijinakkan, yaitu bezoar goat atau kambing liar eropa
(Capra aegagrus), kambing liar India (Capra aegagrus blithy) dan makhor goat atau
kambing makhor di pegunungan Himalaya (Capra falconeri). Sebagian besar kambing
yang diternakkan di Asia berasal dari keturunan bezoar (Pamungkas et al, 2009).
Kambing merupakan bagian penting dari sistem usahatani bagi sebagian petani di
Indonesia, bahkan di beberapa negara Asia, dan tersebar luas menelusuk masuk ke dalam
berbagai kondisi agroeko-sistem, dari daerah dataran rendah di pinggir pantai sampai
dataran tinggi di pegunungan. Demikian pula tidak jarang ditemui pemeliharaan ternak
kambing di pinggiran kota dan bahkan di tengah-tengah kota. Hal ini didukung oleh
karena ternak kambing adaptif dengan berbagai kondisi agro-sistem dan tidak
mempunyai hambatan sosial, artinya dapat diterima oleh semua golongan masyarakat.
Menurut Setiadi et al, (2002) ada dua kambing yang dominan di Indonesia yakni
kambing Kacang dan kambing Etawah. Kambing Kacang berukuran kecil sudah ada di
Indonesia sejak tahun 1900-an dan kambing Etawah tubuhnya lebih besar menyusul
kemudian masuk ke Indonesia, ada juga beberapa jenis kambing yang didatangkan ke
Indonesia pada masa jaman pemerintahan Hindia Belanda dalam jumlah kecil sehingga
1

menambah keragaman genetik kambing di Indonesia. Sejalan dengan bertambahnya jenis


bangsa kambing maka terjadilah proses adaptasi terhadap agroekosistem yang spesifik
sesuai dengan lingkungan dan manajemen pemeliharaan yang ada di daerah setempat.
Kambing Peranakan Etawa (PE) merupakan kambing yang berasal dari
Purworejo, tepatnya di daerah Kaligesing. Kambing ini hasil dari persilangan antara
kambing lokal di Kaligesing dengan kambing keturunan Etawa yang dibawa oleh
penjajah. Hasil persilangan tersebut saat ini dikenal sebagai ras kambing Peranakan
Etawa asli Kaligesing, Purworejo. Namun dibeberapa daerah Kambing PE juga disebut
dengan kambing Jawa Randu. Kambing PE sangat terkenal dengan kwalitas susu dan
yang baik. Namun kambing ini cenderung banyak dternakan guna diambil susunya.
Karena kambing ini memiliki kwalitas susu yang diyakini dapat menyembuhkan
beberapa penyakit. Kambing ini dapat menghasilkan susu mencapai 235 kg/ms laktasi.
Kambing Peranakan Etawa (PE) berkembang dengan baik di daerah yang berhawa
dingin.
Kambing PE merupakan salah satu ternak yang cukup potensial sebagai penyedia
protein hewani baik melalui daging maupun susunya. Sementara ini, pengembangan
kambing PE sebagai penghasil susu belum banyak diperhatikan dan pemeliharaan masih
bersifat tradisional. Pakannya sebagian besar hanya rumput lapangan saja sehingga
belum bisa mencukupi kebutuhan fisiologis ternak terutama dari sumber energi dan
protein. Di satu sisi, ternak yang sedang laktasi terutama pada 8 minggu pertama masa
laktasi aktivitas metabolisme kelenjar ambingnya meningkat.

1.2. Tujuan
Untuk mengetahui tingakah laku kambing PE yang ada di farm peternakan Bukit
Jimbaran dan yang ada di masyarakat yang dikandangkan mulai dari tingkah laku
ingestif, tingkah laku seksual, sampai tingkah laku sosial.

1.3. Manfaat
2

Dari tujuan tersebut kita dapat mengetahui bagaimana prilaku kambing PE yang
ada di farm peternakan Bukit Jimbaran dan yang ada di masyarakat mulai dari prilaku
ingesti sampai prilaku ternak kambing terhadap lingkungannya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
3

Salah satu kemampuan yang tidak dimiliki ternak lain (domba, sapi) bahwa kambing
dapat mengkonsumsi daun-daunan, semak belukar, tanaman ramban dan rumput yang sudah
tua dan berkualitas rendah. Jenis pakan tersebut dapat dimanfaatkan secara efisien, sehingga
kambing dapat beradaptasi pada lingkungan yang kurang pakan (Devendra, 1978).
Pada mulanya domestikasi kambing terjadi di daerah pegunungan Asia Barat sekitar
8000-7000 SM. Kambing yang dipelihara (Capra aegagrus hircus) berasal dari 3 kelompok
kambing liar yang telah dijinakkan, yaitu bezoar goat atau kambing liar eropa (Capra
aegagrus), kambing liar India (Capra aegagrus blithy) dan makhor goat atau kambing makhor
di pegunungan Himalaya (Capra falconeri). Sebagian besar kambing yang diternakkan di
Asia berasal dari keturunan bezoar (Pamungkas et al, 2009).
Menurut Setiadi et al, (2002) ada dua kambing yang dominan di Indonesia yakni
kambing Kacang dan kambing Etawah. Kambing Kacang berukuran kecil sudah ada di
Indonesia sejak tahun 1900-an dan kambing Etawah tubuhnya lebih besar menyusul
kemudian masuk ke Indonesia, ada juga beberapa jenis kambing yang didatangkan ke
Indonesia pada masa jaman pemerintahan Hindia Belanda dalam jumlah kecil sehingga
menambah keragaman genetik kambing di Indonesia. Sejalan dengan bertambahnya jenis
bangsa kambing maka terjadilah proses adaptasi terhadap agroekosistem yang spesifik sesuai
dengan lingkungan dan manajemen pemeliharaan yang ada di daerah setempat.
Kebanyakan orang percaya bahwa kambing akan makan hampir apa saja dan ini tidak
benar. Kambing memiliki bibir sangat sensitif dan rasa ingin tahu alami mereka dan memberi
mereka kebiasaan "mencium" dan "berbau" untuk makanan yang bersih dan lezat. Kambing
tidak akan makan makanan kotor (kecuali mereka didorong ke titik kelaparan - sering
memilih untuk kelaparan). Rangkaian tingkah laku makan pada kambing diawali dengan
mencium makanan. Jika makanan cocok untuknya maka akan dimakan. Pada umumnya
kambing menyukai berbagai jenis hijauan, karenanya dapat membedakan antara rasa pahit,
manis, asam dan asin (Kilgour & Dalton, 1984).

BAB III
PEMBAHASAN

Salah satu kemampuan yang tidak dimiliki ternak lain (domba, sapi) bahwa kambing
dapat mengkonsumsi daun-daunan, semak belukar, tanaman ramban dan rumput yang sudah
tua dan berkualitas rendah. Jenis pakan tersebut dapat dimanfaatkan secara efisien, sehingga
kambing dapat beradaptasi pada lingkungan yang kurang pakan (Devendra, 1978).
Kebanyakan orang percaya bahwa kambing akan makan hampir apa saja dan ini tidak
benar. Kambing memiliki bibir sangat sensitif dan rasa ingin tahu alami mereka dan memberi
mereka kebiasaan "mencium" dan "berbau" untuk makanan yang bersih dan lezat. Kambing
tidak akan makan makanan kotor (kecuali mereka didorong ke titik kelaparan - sering
memilih untuk kelaparan). Rangkaian tingkah laku makan pada kambing diawali dengan
mencium makanan. Jika makanan cocok untuknya maka akan dimakan. Pada umumnya
kambing menyukai berbagai jenis hijauan, karenanya dapat membedakan antara rasa pahit,
manis, asam dan asin (Kilgour & Dalton, 1984).
Pada pengamatan yang dilakukan di farm peternakan kampus Unud Bukit Jimbaran
yang memiliki sepasang kambing kacang dan sepasang kambing etawa, serta kambing etawa
yang diamati di Kampung Jawa yang dimiliki oleh masyarakat memiliki tingkah laku yang
berbeda. Beberapa hal yang dapat diperoleh dari pengamatan yang dilakukan diantaranya
yaitu :
3.1. Kambing Peranakan Etawah (PE)
Kambing Peranakan Etawah (PE) merupakan kambing hasil persilangan antara
kambing Etawah (asal India) dengan kambing Kacang. Kambing ini tersebar hampir di
seluruh Indonesia. Penampilannya mirip kambing Etawah, tetapi lebih kecil. Kambing
PE merupakan kambing tipe dwiguna, yaitu sebagai penghasil daging dan susu (perah).
Kambing Peranakan Etawa (PE) merupakan kambing yang berasal dari Purworejo,
tepatnya di daerah Kaligesing. Kambing ini hasil dari persilangan antara kambing lokal
di Kaligesing dengan kambing keturunan Etawa yang dibawa oleh penjajah. Hasil
persilangan tersebut saat ini dikenal sebagai ras kambing Peranakan Etawa asli
Kaligesing, Purworejo. Namun dibeberapa daerah Kambing PE juga disebut dengan
kambing Jawa Randu.
Ciri khas dari Kambing Peranakan Etawa atau PE adalah pada bentuk mukanya
yang cembung, bertelinga panjang yang mengglambir, postur tubuh tinggi.Kambing
PE sangat terkenal dengan kwalitas susu dan yang baik. Namun kambing ini cenderung
5

banyak dternakan guna diambil susunya. Karena kambing ini memiliki kwalitas susu
yang diyakini dapat menyembuhkan beberapa penyakit. Kambing ini dapat menghasilkan
susu mencapai 235 kg/ms laktasi. Kambing Peranakan Etawa (PE) berkembang dengan
baik di daerah yang berhawa dingin.
Ciri-ciri Kambing Peranakan Ettawa (PE) Adalah :

Warna bulu beragam mulai dari merah coklat, belang putih, bercak hitam atau
kombinasi dari ketiga warna.

Bagian belakang terdapat bulu yang lebat dan panjang.

Kepala terlihat tegak

Memiliki tanduk yang melengkung ke belakang

Telingan melebar dan menggantung

Tinggi gumba jantan sekitar 90-100 cm, sedangkan betina 70-90 cm

Panjang badan sekitar 85-105 cm untuk jantan dan 65-85 untuk betina

Bobot dewasa jantan mencapai 90 Kg, sedangkan betina dewasa mencapai 70 Kg.

3.2. Kambing Kacang


Kambing kacang adalah ras unggul kambing yang pertama kali dikembangkan di
Indonesia. Kambing kacang merupakan kambing lokal Indonesia, memiliki daya
adaptasi yang tinggi terhadap kondisi alam setempat serta memiliki daya reproduksi
yang sangat tinggi. Kambing kacang jantan dan betina keduanya merupakan tipe
kambingpedaging.

Ciri-ciri kambing kacang :

Tubuh kambing relatif kecil dengan kepala ringan dan kecil.

Telinganya tegak, berbulu lurus dan pendek.

Pada umumnya memiliki warna bulu tunggal putih, hitam, coklat, atau kombinasi
ketiganya.

Kambing jantan maupun betina memiliki dua tanduk pendek.

Berat tubuh jantan dewasa dapat mencapai 30 kg, serta betina dewasa mencapai 25
kg.

Tinggi yang jantan 60 - 65 cm, sedangkan yang betina 56 cm.

Memiliki bulu pendek pada seluruh tubuh, kecuali pada ekor dan dagu, pada kambing
jantan juga tumbuh bulu panjang sepanjang garis leher, pundak dan punggung sampai
ekor dan pantat.

3.3. PERILAKU INGESTIF


Perilaku ingestif merupakan tingkah laku yang berhubungan dengan makan,
merumput, menyusu, menjilati garam untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ingestif
behavior Pada kambing Peranakan Etawa (PE) yaitu dengan mencium pakannya lalu
merenggut dengan cara mengambil makanan dengan menggunakan lidahnya, serta gigi
seri bawah yang merupakan penjepit makanannya lalu menutup dengan gigi atas,
rahang pada ternak akan bergeser dari kiri ke kanan hingga melumatkan pakan lalu
menelannya.
Kambing merenggut dengan cara menarik dan mendorong mulut ke depan-atas
atau belakang-bawah. Jika daun-daunan terdapat pada tanaman yang tinggi, kambing
mempunyai kemampuan untuk meramban. Hewan ini meramban dengan cara
mengangkat kedua kaki depan pada batang tumbuhan dan bertumpu pada kedua kaki
belakang.
Kepala dijulurkan ke daun tumbuhan yang dipilihnya. Menurut Devendra &
Burns (1994), kambing mempunyai kebiasaan makan yang berbeda dengan ruminansia
lainnya. Bila tidak dikendalikan, kebiasaan makan dapat mengakibatkan kerusakan.
Bibirnya yang tipis mudah digerakkan dengan lincah untuk mengambil pakan.

Kambing mampu makan rumput yang pendek, dan merenggut dedaunan.


Disamping itu, kambing merupakan pemakan yang lahap dari pakan yang berupa
berbagai macam tanaman dan kulit pohon. Setelah merenggut makanan ke dalam
mulutnya, kambing akan memulai aktivitas berikutnya yaitu mengunyah. Fungsi
pengunyahan selama makan yaitu untuk merusak bagian permukaan pakan sehingga
ukuran partikel menjadi lebih kecil yang memudahkan pakan untuk dicerna.
Pada kambing yang ada di farm Fapet Bukit Jimbaran yang diamati, yaitu
kambing kacang dan kambing etawa, ternak kambing hanya makan makanan dedaunan
yang masih hijau dan muda. Hal ini terlihat pada saat makanan yang diberikan oleh
petugas yang mengurus kambing tersebut memberikan gamal beserta batang gamal
yang sudah dipotong ke tempat makan dari kambing. Terlihat dari sisa makanan yang
diberkan hanya ada gamal yang tua dan batng gamal yang tersisa. Pada saat rekan saya
memberikan gamal yang masi muda beserta batangnya kepada kambing yang ada di
kandang dari luar kandang, kambing yang ada mencium terlebih dahulu gamal yang
diberikan dan berebut memakan daun gamal yang masih muda.
Aktivitas makan pada kambing terdiri atas:
aktivitas mencium hijauan yaitu awal aktivitas mencium hingga kambing mulai
melakukan aktivitas lainnya,
Aktivitas merenggut makanan yaitu awal perenggutan hijauan hingga diangkat
untuk dikunyah ,
Aktivitas mengunyah makanan yaitu aktivitas yang dimulai dari hasil
perenggutan hijuauan yang telah dikumpulkan di dalam mulut, hingga
melakukan aktivitas menelan
Aktivitas menelan makanan yaitu aktivitas yang dimulai dari menelan hasil
kunyahan hingga aktivitas lainnya.
Perilaku ini juga menandakan bahwa kambing memiliki sifat mencium terlebih
dahuku makanan yang disukainya. Kambing tidak akan makan makanan yang kotor
kecuali terpaksa karena kondisi kelaparan. Lidah kambing memiliki perasa manis, asam
dan asin. Pernyataan yang mengemukakan bahwa kambing tidak menyukai makanan
yang kotor juga terlihat pada kambing yang ada di farm tidak lagi memakan makanan
nya yang ada di tempat makan karna telah terkontaminasi dengan kotorannya. Kambing
8

juga hanya sedikit minum karena makanan yang dikonsumsinya memiliki kadar air
yang tinggi dan kondisi kandang yang tidak terlalu panas sehingga ternak tidak terlalu
mengalami dehidrasi.
Kambing PE yang ada di Kampung jawa milik masyarakat memiliki prilaku yang
hampir sama persis dengan kambing yang ada di farm fapet unud. Kambing memakan
semua hijauan yang diberikan peternak asalkan masih segar dan bersih. Daun muda
memang selalu jadi pilihan utama bagi ternak kambing yang ada. Kondisi kandang
yang nyaman juga menjadikan kambing jarang minum sehingga tidak terlalu banyak
mengkonsumsi air.
Sama seperti hal nya penanganan yang ada di farm fapet, pemberian pakan
kambing yang ada di kampong jawa juga diberikan ada siang hari. Hal ini karena
peternak baru akan mencari pakan untuk ternak sekitar jam 8 siang. Ini dikarenakan
untuk menghindari hal yang tidak di inginkan terjadi pada ternak. Ternak yang makan
rumput sebelum matahari terbit, atau dalam keadaan yang masih berembun akan lebih
besar terkena sakit perut dan perut kembung. Hal ini karena bakteri atau mikroba yang
ada pada rerumputan sebelum matahari terbit masih membutuhkan uap dan masih
berada di rerumputan, hal ini dapat meningkatkan gas pada rumen kambing yang
menyebabkan kambing sakit perut dan fatalnya akan menyebabkan kematian pada
ternak kambing.

3.4. PERILAKU SEKSUAL ATAU REPRODUKSI


Perilaku seksual atau reproduksi yaitu tingkah laku yang beragam yang
diperlukan sebelum kopulasi. Tingkah laku seksual atau reproduksi pada kambing
Peranakan Etawa (PE), menyangkut pada periode estrus (birahi) dan massa kawin yang
paling baik. Beberapa tingkah laku atau ciri-ciri kambing betina dewasa yang sedang
mengalami birahi antara lain : mengembik lebih banyak dari biasanya walaupun pakan
hijauan atau makanan ternak tersedia didekatnya, ekor dikibas-kibaskan, sering
kencing, menurunnya nafsu makan, terlihat gelisah, sering menggesek-gesekkan
badannya ke dinding kandang, vulva membengkak dan terlihat memerah atau lebih
merah dari biasanya, keluar lendir yang jernih atau dalam bahasa jawa disebut 3A
(Aboh, Anget, Abang) dan akan tenang bila didekati pejantan. Kambing Peranakan
9

Etawa (PE) sebenarnya sudah dapat dikawinkan pada umur 6 bulan karena sudah
mengalam birahi pertama selama satu minggu atau sudah mengalami dewasa kelamin.
Setelah seminggu birahi ini akan hilang dan akan muncul kembali dalam 21 hari
kemudian (1 bulan). Namun dianjurkan kambing PE betina dikawinkan mulai 9 bulan
atau birahi ketiga yaitu saat dewasa tubuhnya sudah tercapai dan alat reproduksi
kambing PE betina sudah sempurna sehingga memperkecil resiko kehamilan dan
kelahiran.
Tingkah laku calon penjantan perlu diketahui dalam mengawinkan dengan betina
karena tidak semua pejantan langsung birahi bila didekatkan pada betina sehingga ada
kalanya pejantan tersebut malu-malu dengan betinanya. Biasanya kambing PE jantan
dapat mencium bau kembing betina yang birahi. Hal ini karena kambing betina yang
birahi memiliki bau yang khas atau pheromon. Kambing jantan akan bereaksi dengan
mengembik melenguh dan birahinya bangkit seketika bau ini tercium. Jika tidak
dikawinkan hal ini akan berlanjut tiap malam. Kambing betina yang birahi tidak akan
lari menghindar ketika pejantan menaikinya. Postur kambing jantan yang akan
mengawini hendaknya lebih besar dari pada kambing betina yang akan dikawini agar
proses kawinya tidak sulit. Hendaknya proses perkawinanya dua kali. Setelah
perkawinan sukses kambing betina diajak jalan-jalan agar sperma yang diterima tidak
tumpah.
Ciri kambing PE jantan yang sudah birahi adalah memiliki bulu kaki depan yang
berwarna kekuningan yang disebabkan oleh air kencing pejantan itu sendiri. Kambing
PE jantan yang dapat dijadikan pejantan yang baik memiliki postur bada yang tidak
terlalu gemuk, aktif lincah dan selalu birahi apabila didekatkan dengan kambing PE
betina. Kambing PE jantan suda dewasa kelamin pada umur 6-8 bulan. Namun akan
lebih baik bila pejantan mengawini kambing betina mulai umur 18 bulan (2 tahun)
karena kambing PE jantan sudah memiliki postur badan yang mampu menguasai
kambing PE betina pada umur tersebut.
Kabing etawa yang ada di farm fapet keduanya betina. Pada saat pengamatan
yang dilakukan, kedua kambing tidak dalam kondisi birahi. Hal ini tentu saja tidak
memberi penilaian terhadap perilaku ternak saat birahi. Tetapi ada kelainan yang
terdapat pada salah satu ternak kambing yang dipelihara. Salah satu dari kambing yang
ada memiliki kelainan pada ambingnya. Salah satu dari bagian ambingnya memiliki
10

dua bagian dan dua putting. Hal ini tentu saja berbeda dari kondisi ambing pada
kambing pada umumnya.
Sedangkan kambing kacang yang ada di farm fapet memiliki alat reproduksi yang
normal. Ternak kambing kacang yang betina memiliki tiga putting dan memiliki tiga
lingkaran cincin tanduk. Jumlah gigi pada kambing tersebut ada 6 buah yang biasa
digunakan untuk menaksir umur dari ternak yang bersangkutan.

3.5. PERILAKU SOSIAL


Perilaku sosial pada ternak kambing adalah hubungan/interaksi sosial antara
individu-individu ternak dalam dan antar kelompok umur dan jenis kelamin yang biasa
rutin terjadi dan dapat diamati pada masing-masing species tergantung pada struktur
dan dominasi social.
Tingkah Laku Agonistic
Tingkah laku agonistic merupakan suatu kegiatan mengais, menanduk, dan
mendorong dengan bahu, lari bersama, dan menerjang (menendang, berkelahi,
melarikan diri, menanduk) pada kambing, terlentang sambil tidak bergerak, menggigil
(pada anak yang masih muda) mendengus, dan menghentakkan kaki pada kambing
(Hafez, 1968), menurut Frazer (1975), tingkah laku agonistic merupakan tingkah laku
yang memperlihatkan tingkah laku aktif dan pasif, tingkah laku aktif seperti berkelahi,
berlari, serta tingkah laku agresif. Tingkah laku agonistic juga diperkuat oleh
Ensminger (2002), mengatakan bahwa tingkah laku agonistic pada kambing jantan
diperlihatkan pada saat berkelahi dengan mundur terlebih dahulu kemudian menyerang
dengan cara menumbukkan kepalanya atau tanduknya pada kepala lawan, kambing
akan terus berkelahi sampai salah satu dari mereka berhenti dan menyerah, biasanya
kambing sebelum berkelahi akan mendengus. Pola perilaku agonistic merupakan
interaksi sosial antara satwa yang dikategorikan beberapa tingkat konflik, yaitu dalam
memperoleh makanan, pasangan seksual, dan perebutan wilayah istirahat dengan
melakukan tindakan yang bersifat ancaman menyerang dan perilaku patuh (Hart, 1985).
Perilaku agonistik ini merupakan hal yang penting dalam menetapkan dan
mempertahankan hubungan dominan dan subordinat antara tingkatan sosial spesies.
11

Kandungan hormon testoteron yang tinggi pada mamalia jantan mengakibatkan tingkah
laku berkelahi lebih tinggi jika dibandingkan dengan betina (Ensminger, 2002).
Pada pengamatan yang dilakukan di farm fapet Bukit Jimbaran tidak
ditemukannya tingkah laku agonistic pada ternak kambing yang ada. Sama halnya
dengan ternak di masyarakat yang diamati juga tidak adanya tingkah laku agonistic
yang dijumpai. Ternak terlihat akur dan tidak adanya sifat dominan dari ternak yang ada
di kandang meskipun pada peternakan di masyarakat memiliki ternak dalam jumlah
yang sangat banyak. Hal ini diakibatkan karna ternak betina dan jantan pada ternak
masyarakat dipisahkan kandangnya, dan untuk yang ada di farm jumlah ternak pada
kambing kacang hanya sepasang dan pada kambing etawa keduanya berjenis kelamin
betina, sehingga perilaku agonistic sangan minim terjadi.
Tabel 1. Etogram atau Gambaran Tingkah Laku Kambing
Tingkah Laku

Gambaran Karakteristik

Ingestiv

Grassing, makan legum-legum, ranting muda, menguyah,


menjilati garam, minum, dan menyusu.

Investigatory

Mengangkat kepala, mengarahkan mata, telinga, dan hidung


kearah gangguan. Mencium kambing lain atau benda lainnya.

Alletomimetik

Berlari bersama, tidur bersama, dan menumbuk rintangan dengan


kaki tegap bersamaan.

Agonistic

Mengais, mendorong dengan bahu, menanduk, lari bersama dan


menerjang,

bunching,

lari,

kedinginan,

mendengus

dan

menghentakan kaki.
Eliminatif

Kambing mengangkat ekor pada saat buang air besar dan


menghasilkan kotoran berbentuk pelet. Kambing betina jongkok
pada saat buang urin. Selama musim tak kawin, kambing jantan
membuang urinnya dengan sedikit dan tidak terjadi ekstensi dari
penis yang keluar dari prepotium.

Allow grooming

Kambing menjilat-jilat dan membersihkan bulu, bergantian


ataupun secara resiprok.

Sumber : Hafez (1968)


12

3.6. Sistem Perkandangan


Ternak yang diamati pada praktikum yang ada di farm dan yang di masyarakat
keduanya berada dalam sistem kandang panggung yang tertutup. Hal ini membuat
ternak terlindung dari hembusan angin kencang dan sinar matahari yang berlebihan
yang dapat mempengaruhi pertumbuhan, produksi dan perkembangbiakan (Tafal,
1981). Selain itu juga membatasiruang gerak ternak sebab dengan kerja otot menaikkan
beban panas ternak sehingga menaikkan beban berat badan (Reksohandiprodjo,1984).
Kawasan kandang secara keseluruhannya sebaik-baiknya ditutupi atap yang
dapat melindungi ternakan dari hujan dan panas terik matahari. Jarak minimal di antara
atap bahagian tengah rumah dengan lantai ialah 12 kaki. Sementara itu di bahagian tepi
rumah kambing, jarak minimal di antara atap dan lantai ialah 8 kaki. Baik sekiranya di
antara atap rumah kambing yang biasa, diletakkan atap yang bersifat tembus
cahaya(translucent). Ini bertujuan memberikan pencahayaan semulajadi ke dalam
kandang di samping membantu merendahkan kadar kelembapan di dalam kandang.
Bahan yang digunakan sebagai lantai kandang kambing sama ada plastik
ataupun kayu perlu bersifat tahan lama, tidak mudah rosak, tidak mudah melekit dan
cepat kering. Lantai kandang kambing perlu mempunyai ruang di antara 1 hingga 1.5
cm bagi membolehkan tinja kambing jatuh ke bawah. Sebaik-baiknya batang kayu atau
plastik yang digunakan sebagai lantai tidak terlalu lebar (1 X 2). Ruang keluasan
batang kayu atau plastik yang kecil memudahkan kerja- kerja pembersihan dilakukan.
Jarak di antara lantai kandang dan lantai bawah di permukaan tanah sebaikbaiknya di antara 5 5.5 kaki. Jarak yang lebih rendah akan memungkinkan kambing
menghadapi masalah kesihatan seperti mata berair, batuk dan sukar bernafas berpunca
dari tinja yang terkumpul di bawah kandang.
Setiap kandang perlu disediakan palong makanan dan palong minuman.
Terdapat berbagai jenis bahan yang boleh digunakan sebagai palong makanan. Di
antaranya ialah penggunaan penakung air hujan plastik, tong plastik dan palong buatan
yang diperbuat dari kayu. Ketinggian palong makan sebaik-baiknya tidak lebih tinggi
dari paras dada kambing dan bersekat. Ini bertujuan menggelakkan kambing dari
memasuki tempat makanan dan mengotorinya. Palong minuman adalah lebihkurang
13

sama dengan palong makanan. Namun demikian kambing mempunyai sifat untuk tidak
menggunakan air minuman dari takungan atau palong air yang kurang bersih.
3.7 Performance Ternak Kambing
Kambing sebagai salah satu penghasil protein hewani, mempunyai peranan yang
cukup penting bagi peternak kecil karena harga ternak lebih terjangkau oleh daya beli,
mudah dalam pemeliharaan dan murah dalam biaya produksi (Djanah,1990).
Pencapaian produksi ternak dipengaruhi oleh banyak factor yang haru diperhatikan
secara seksama agar dapat dicerna hal hal yang merugikan dalam usaha menuju
pengembangannya.
Ternak kambing memiliki beberapa kelebihan yang dibandingkan ternak lain.
Menurut Harmadji,dkk (1978), kambing memiliki sifat alami yang menguntungkan
antara lain dapat beranak dua atau tiga ekor per kelahiran. Disamping itu
masakebuntingan lebih pendek dibandingka dengan ternak besar, sehingga dalam waktu
yang dekat kambing mampu menaikkan populasi yang lebih tinggi dari ternak sapi.
Kandang dan pemeliharan ternak kambing sangat sederhana serta tidak membutuhkan
tempat yang luas. Dapat memanfaatkan tanah yang tidak digunakan untuk pertanian
serta membantu memberikan kesuburan pada tanah karena kotorannya.
Kambing Kacang
Ciri kambing kacang yang ada di farm memiliki bentuk badan yang kecil,
tinggi sekitar 53cm, berat badan antara 10-20 kg, warna bulu dominan putih dan hanya
ada warna hitam di kepala, telinga kecil, tegak dengan hidung rata serta bulu agak
mengkilat.punggung kambing lebih tinggi dari pada bahu, bulu pada garis punggung
yang jantan lebih panjang dan kasar. Pada kambing jantan baik jantan maupun betina
memiliki tanduk. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Sosroamidjojo (1980).
Pada kambing kacang yang diamati memiliki potensi untuk menghasilkan
performan yang baik. Hal ini terlihat dari bentuk fisiologi yang baik dari kedua ternak
yang ada dan nafsu makan yang baik pula. Kandang dan kondisi lingkungan yang baik
juga mendukung produktifitas dari trnak yang bersangkutan untuk menghasilkan daging
yang baik karna yang diterapkan adalah system kandang panggung. Sebagai kodrat nya
untuk dijadikan kambing penghasil daging, tentunya yang diharapkan dari kambing ini
14

adalah pertambahan dari berat badannya agar sesuai dengan yang diharapkan oleh
peternak.

Kambing Etawa
Kambing etawa adalah salah satu kambing dwiguna yang dipelihara untuk

kepentingan manusia dalam memperoleh susu dan daging dari kambing ini. Susu dari
kambing etawa dipercaya dapat mengobati berbagai penyakit. Pada kambing yang yang
diamati baik di farm peternakan maupun yang ada di masyarakat memiliki peforman
yang baik. Hal ini terlihat dari kondisi fisiologis ternak yang sangat baik. Kambing
etawa yang adadi farm bukit jimbaran memiliki cirri telinga panjang yang terkulai,
panjang telinga 18-30 cm, warna bulu dominan putih dan hanya bagian telinga dan
mata yang berwarna hitam. Leher menggelantung, ukuran tubuh lebih besar dari
kambing kacang, memiliki dua putting susu degan salah satu dari kambing tersebut
memiliki dua putting di salah satu bagian putingnya. Bulu kambing etawa betina pada
bagian paha agak panjang. Berat badan dari kambing diperkirakan lebih kurang 35 kg
dengan tinggi pundak antara 76-85 cm.
Kondisi lingkungan yang baik dari masing masing perlakuan yang diberikan
peternak menjadikan tiap ternak memiliki performan yang baik dalam hal produksi
nantinya. Hal ini terlihat dari produksi yang di hasilkan oleh peternak yang ada di
masyarakat yang sangat menjanjikan. Tentu saja hal ini juga menambah penghasilan
dari peternak dengan keberhasilannya menjadikan ternak yang dipeliharanya
menunjukan performan terbaiknya.
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Kambing Peranakan Etawa (PE) merupakan kambing tipe dwiguna, yaitu
penghasil daging dan susu (perah). Kambing ini tersebar hampie di seluruh Indonesia
dan merupakan hasil persilangan antara kambing Etawah (asal India) dengan kambing
kacang. Tingkah laku ternak yang ada di farm fapet dengan yang ada di masyarakat
memiliki kemiripan yang hamper sama. Hanya jumlah ternak yang ada di kandang saja
yang membedakan tingkah laku dai ternak tersebut berdasarkan tingkah laku sosial.
15

Kambing kacang yang diamati pada farm peternakan Bukit Jimbaran hamper
sama tingkah laku yang dimiliki dengan kambing etawa yang ada perbandingan nya.
Tingkah laku yang dimiliki ternak kambing hamper sama. Yang membedakan nya
hanya pemeliharaan yang diberikan oleh peternak masing masing.
4.2. Saran
Saran yang dapat diberikan dalam pengamatan tingkah laku ternak kambing
adalah diharapkan untuk semua mahasiswa pada waktu pengamatan agar dilakukan
lebih seksama. Hal ini bertujuan agar hasil pengamatan yang diperoleh memiliki acuan
yang lebih baik untuk dijadikan perbandingan dengan ternak lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
ternak-budidaya.com/search/jurnal + tingkah + laku + kambing + pe + pdf.htmlpage2.html,
sarosthadairygoatfarm.blogspot.com
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/43119 ,Tingkah laku makan kambing lokal
persilangan yang digembalakan di lahan gambut: studi kasus di Kalampangan,
Palangkaraya, Kalimantan Tengah
https://febri22february.wordpress.com,
http://agusryansyah.wordpress.com/2010/04/08/perilaku-satwa/
16

http://fiascofarm.com/goats/feeding.htm
Wodzicka-Tomaszewska,Manika,dkk.1991.Reproduksi,Tingkahlaku,danProduksi Ternak Di
Indonesia . Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
http://adisarjana.blogspot.com/2008/06/diktat-tlt-1-st-revised-tingkah-laku.html
http://novalinahasugian.blogspot.com/2009/05/tingkah-laku-ternak.html

Lampiran Gambar (Kambing Peranakan Etawa (PE) )

17