Anda di halaman 1dari 10

DITYA ASMARA PUTRA

13/349676/SP/25837

JAWABAN SOAL UAS MATA KULIAH MEDIA PENYIARAN 2014

2) Di dalam media penyiaran, program menjadi suatu hal yang penting sebagai modal untuk
mencari keuntungan yang datang dari iklan. Setiap program yang disajikan oleh stasiun
penyiaran sebenarnya memiliki audiensnya masing-masing. Jika suatu program memiliki
jumlah audiens yang banyak, maka banyak pula pengiklan yang akan memasang iklannya
pada program tersebut. Adanya pemasukan terus menerus dari iklan akan membuat sebuah
program dapat bertahan, dan sebaliknya. Semakin banyak program favorit yang dimiliki
stasiun penyiaran semakin banyak pula pendapatannya.
Kata program adalah asal kata programme atau program yang berarti acara atau
rencana. Dalam Undang-undang penyiaran Indonesia tidak mengunakan kata program dalam
untuk acara tetapi mengunakan istilah siaran yang didefinisikan sebagai pesan atau
rangkaian pesan yang disajikan dalam berbagai bentuk. Namun kata program lebih sering
digunakan dalam dunia penyiaran di Indonesia dari pada kata siaran. Program adalah segala
hal yang ditampilkan stasiun penyiaran untuk memenuhi kebutuhan penontonnya.
Sedangkan menurut kamus WJS Purwodarminto istilah program berarti acara,
sedangkan kamus Webster International volume 2 lebih merinci yakni program adalah
jadwal (schedule) atau perencanaan untuk ditindaklanjuti dengan penyusunan butir siaran
yang berlangsung sepanjang siaran itu berada di udara.
Program yang disiarkan melalui perantara udara dan media penyiaran tentunya disebut
program siaran. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menjelaskan bahwa program siaran
adalah program yang berisi pesan atau rangkaian pesan dalam bentuk suara, gambar, suara
dan gambar, atau yang berbentuk grafis atau karakter, baik yang bersifat interaktif maupun
tidak, yang disiarkan oleh lembaga penyiaran. Setiap stasiun penyiaran memiliki departemen
program yang tentunya mengurusi hal-hal yang menyangkut program ini.
Departemen program adalah posisi yang bertanggung jawab penuh dalam mengelola
program atau acara pada suatu stasiun penyiaran radio atau televisi. Mereka bertugas
melayani penonton atau target suatu stasiun penyiaran melalui berbagai programnya. Jika
suatu program bisa menarik banyak penonton atau memiliki karakter yang sesuai dengan
kebutuhan pemasang iklan untuk mempromosikan produknya, maka media penyiaran yang
bersangkutan akan mendapatkan client (pemasang iklan) dengan kata lain keuntungan

(pemasukan). Dengan demikian pendapatan dan prospek suatu media penyiaran sangat
ditentukan oleh bagian program.
Departemen program bertugas untuk mengisi slot-slot waktu yang ada dengan
program-program berkualitas dan efisien. Orang-orang yang bekerja pada departemen ini
biasanya disebut dengan programmer sedangkan kegiatan yang mereka lakukan disebut
programming. Menurut Fachrudin (2012), programming sendiri terdiri dari kegiatan
merencanakan, memilih, dan menyusun program-program yang akan disuguhkan kepada
khalayak dalam periode tertentu.
Programming memiliki dua tujuan utama, yaitu: menempatkan media sesuai dengan
audiens yang dituju dan pada pengiklan, terutama untuk media penyiaran komersial.
Sementara untuk media non-komersial, pihak penyumbang dana juga akan melihat
program yang disiarkan dan audiens yang dituju, apakah sesuai dengan motif sosial yang
mereka bidik pada masyarakat. Selain itu, programming juga disesuaikan dengan visi yang
ingin dicapai oleh organisasi media penyiaran tersebut.
Untuk memenuhi kebutuhan dan kelangsungan hidup, suatu stasiun televisi tentu
menggunakan iklan sebagai sumber pendapatan. Namun sebelum iklan-iklan tersebut
berdatangan, sebuah stasiun televisi harus mempunyai program acara untuk menarik banyak
audiens. Jumlah dari audiens dalam mengakses program acara televisi akan berpengaruh
pada rating yang didapat berdasarkan penghitungan AGB Nielsen.
Selama ini, hasil-hasil rating dari AGB ternyata menunjukkan bahwa pemirsa televisi
hanya sering menonton program acara dengan genre-genre tertentu (Panjaitan, 2006: 21).
Berbagai data rating yang dikeluarkan oleh AGB tentu direspon dengan cepat oleh stasiun
televisi. Acara yang mendapat rating rendah, akan segera diberhentikan. Sedangkan acara
dengan rating televisi tinggi akan terus dilanjutkan, bahkan akan diduplikasi oleh stasiun
televisi lain dengan konsep yang sama.
Jika sebuah program acara di sebuah stasiun televisi mendapatkan rating yang tinggi
dari lembaga riset, dan karenanya banyak perusahaan iklan yang beriklan, maka stasiun
televisi lain akan berlomba-lomba untuk membuat acara yang serupa dengan harapan rating
acaranya akan tinggi dan akan mendapatkan pendapatan dari iklan yang banyak.
Akibat bertumpu pada rating sebagai alat kontrol dan standardisasi utama, industri
televisi terjebak pada pola pikir yang penting sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya
(Nugroho, 1998: 99).
Program-program berita juga menjadi dampak akibat adanya rating. Keringnya sebuah
pemberitaan dikarenakan manajemen televisi hanya memperhatikan kejar tayang dan iklan.
Semua stasiun televisi berduyun-duyun memproduksi program acara berita tanpa
mengindahkan kaidah-kaidah jurnalisme. Dengan selalu memikirkan iklan, kualitas dari
sebuah program acara tidak menjadi prioritas utama. Yang kemudian terjadi adalah kejar
tayang (Panjaitan, 2006: 23).

Sejumlah lembaga penyiaran di Indonesia masih jauh dari fungsi penyiaran untuk
mencerdaskan masyarakat. Hal ini dkarenakan program-program yang disiarkan masih
berdasarkan pada rating dan minat masyarakat yang tinggi.
Pergulatan dengan angka-angka rating dan share merupakan akibat dari pemahaman
bahwa ia identik dengan minat masyarakat pada suatu program. Direktur Utama Trans TV,
Ishadi SK, di sebuah tabloid mengatakan bahwa sebuah program yang memiliki rating
audience share yang tinggi, berarti sangat digemari penonton dan umumnya menarik
pemasang iklan (Panjaitan, 2006: 32).
Belum 100 persen lembaga penyiaran kita sesuai dengan harapan. Industri penyiaran
kita terbelenggu lembaga survei dan rating. Berbagai lembaga penyiaran selama tahun ini
lebih banyak mengedepankan fungsi penyiaran sebagai sarana ekonomi. Sering kali program
acara yang ratingnya tinggi justru dinilai bermasalah. Padahal tujuan utama penyiaran adalah
untuk mencerdaskan dan membina karakter masyarakat (Movanita, 2014).
KPI mencatat, selama tahun 2014, lembaga tersebut telah mengeluarkan sebanyak 178
sanksi kepada sejumlah lembaga penyiaran, mulai dari teguran tertulis hingga penghentian
penayangan program sementara. Bahkan Judhariksawan selaku ketua KPI mengatakan
bahwa tahun ini merupakan pertama kalinya KPI melayangkan surat rekomendasi kepada
Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk mengevaluasi izin lembaga penyiaran.
Di Indonesia audiens yang mementingkan kualitas program ketimbang angka rating
rasanya belum banyak. Sampai saat ini, secara faktual, industrialisasi program acara yang
berkiblat pada program yang memiliki rating besar masih berlangsung. Rating, oleh stasiun
televisi, masih dipandang tidak saja sebagai ukuran keberhasilan atau gengsi, tapi juga
sebagai penentu kelanjutan hidup suatu program.
Di Indonesia memang belum banyak variasi media penyiaran. Tetapi kiranya perlu
diantisipasi perkembangan yang mungkin muncul di masa depan. Dunia pertelevisian
memiliki dinamika yang jauh lebih cepat dibanding dengan media cetak. Dinamika ini tidak
hanya berasal dari kemajuan teknologi, tetapi juga ekspektasi masyarakat termasuk dunia
bisnis. Karenanya dengan menahan laju perkembangan ini, boleh jadi keputusan-keputusan
pemerintah terlihat tidak konsisten. Wibawa pemerintah sebagai intitusi yang memiliki
kekuasaan untuk mengatur secara adil akan kehilangan kredibilitasnya. Kebijakan dalam
sistem penyiaran yang bersifat makro diharapkan dapat bersifat antisipatif sehingga
menampung kemungkinan-kemungkinan yang berkembang dalam masyarakat dan teknologi
media televisi. Pada pihak lain kebijakan yang terbuka bagi masyarakat dapat dijadikan
acuan dalam melakukan penilaian terhadap keberadaan dan keluaran media televisi.
Dari orientasi institusional ke kebijakan programming, merupakan dasar pemikiran
setiap kali akan menilai mata programa yang disajikan oleh suatu stasiun penyiaran.
Penilaian yang berkonteks dan proporsional setidaknya dapat menghindari penilaian dan

keputusan atas dasar kekuasaan. Penilaian etis bersifat normatif absolut yang diterapkan
terhadap mata acara televisi, dengan mudah akan bertindihan dengan penilaian atas dasar
kekuasaan. Para penilai programa apakah datang dari masyarakat ataupun intitusi negara,
sembari menunjukkan keburukan isi programa, dibalik itu bukan mustahil memberi
pendidikan kepada masyarakat tentang kesewenang-wenangan dari kekuasaan dalam
menentukan kebaikan dan keburukan, tanpa melalui diskusi sosial. Antara kekuasaan negara
dan kelompok sosial hendaknya tidak determinan terhadap nilai-nilai kebenaran,
kebaikan,dan keindahan. Nilai-nilai semacam ini diharapkan dapat bersifat terbuka untuk
dikenali diskursnya secara bebas, dimana setiap pihak dalam masyarakat memiliki posisi
yang sama terhadapnya.
Programming adalah landasan yang membangun penampilan media televisi.
Perbedaan satu media dengan media lainnya ditentukan oleh kebijakan programming ini.
Dengan demikian proyeksi karakteristik media televisi dapat dilihat dari kebijakan
programmmingnya. Jika pemerintah yang memiliki kewenangan memberikan lisensi untuk
menggunakan kanal gelombang udara bagi media televisi bertolak dari proyeksi karakter ini,
maka sejak dini perencanaan yang bersifat makro dapat dilakukan secara maksimal untuk
kepentingan media televisi sendiri di satu pihak dan masyarakat pada pihak lain. Bagi media
televisi sendiri ada kejelasan dalam persaingan dengan sesamanya, sedang masyarakat akan
memperoleh diversitas media, karena memang dirancang secara makro oleh pemerintah.
Selain itu diversitas program acara masih kurang , banyak kita ketahui bahwa acara
saat ini hanya musiman. Dimana jika ada program yang laris maka stasiun televisi lain turut
serta menyajikan acara serupa. Money oriented masih menjadi salah satu faktor utama
munculnya fenomena ini. Seharusnya KPI dan lembaga yang berwenang memberikan
peraturan yang jelas serta sanksi yang tegas agar program siaran yang ada bisa memberikan
dampak positif bagi khalayak.
3) Mengenal etika dalam penyiaran berarti memahami apa yang boleh dan apa yang tidak boleh
dalam penyiaran. Etika penyiaran tidak semata-mata mencakup apa yang boleh dan tidak
boleh dilakukan oleh mereka yang bekerja di media penyiaran, namun juga mencakup
permasalahan mendasar mengenai posisi media penyiaran saat ini.
Berbeda dengan regulasi yang lebih kompleks, karena diatur dalam UU No 32 Tahun
2002 tentang Penyiaran, etika lebih simpel karena hanya menyangkut tata krama bekerja
dari sebuah media. Regulasi media penyiaran ialah seperangkat aturan yang berisikan
aturan-aturan mengenai media massa dan segala aspek terkaitnya seperti jurnalisme,
penyiaran dan sebagainya dan bersifat mengikat. Sementara itu etika media penyiaran ialah
kesadaran moral mengenai kewajiban-kewajiban media massa dan mengenai penilaian
media massa yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah.

Etika menjadi sangat penting ketika telah masuk ke dunia penyiaran di Indonesia. Hal
ini didukung oleh pernyataan dari Drs. Dedy Djamluddin Malik, M.Si, mantan Wakil
Koordinator Bidang Informasi dan Komunikasi Komisi I DPR RI (dalam Laporan Hasil
Konvensi Nasional Media Massa se-Indonesia dalam Rangka Hari Pers Nasional 2006,
halaman 99), yaitu:
1. Industri penyiaran mempunyai tanggung jawab sosial kepada publik. Tanggung
jawab ini ditentukan dan diatur oleh sistem nilai yang berlaku di Indonesia. Tanpa adanya
etika yang menentukan nilai-nilai yang berlaku di Indonesia, industri penyiaran kita bisa
bebas memuat konten apa saja.
2. Industri penyiaran adalah bidang profesional yang membutuhkan kompetensi lewat
pengalaman dan pendidikan. Standar profesionalitas seseorang atau sebuah profesi
ditentukan dari keberadaan kode etik yang mengatur etika suatu profesi.
3. Efek media penyiaran lebih besar daripada media cetak dalam mengubah perilaku
khalayak. Hal ini sesuai pula dengan data dari AGB Nielsen yang menemukan bahwa
penetrasi televisi di masyarakat Indonesia mencapai angka 94%, angka yang luar biasa
mengerikan.
4. Bidang penyiaran menggunakan ranah publik yang langka. Karena sifatnya yang
langka ini, maka media penyiaran harus diberdayakan sebesar-besarnya bagi kepentingan
publik. Etika disini berperan dalam pembatasan pemberian frekuensi, yang sayangnya masih
belum dilakukan dengan baik oleh pemerintah sebagai pengelola frekuensi itu sendiri.
5. Industri penyiaran saat ini merupakan industri bisnis yang menjanjikan. Tanpa
adanya etika yang membatasi whats okay and whats not okay, eksploitasi konten dalam
media penyiaran dapat dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi semata.
6. Sikap kritis dan selektif masyarakat saat ini masih langka karena masih minimnya
pendidikan literasi media. Media penyiaran sebagai media massa yang tingkat penetrasinya
paling besar memiliki segala kemampuan untuk memanipulasi dan mengontrol massa, maka
urgensi adanya etika yang membatasi pekerja media terlihat disini.
Di Indonesia terdapat KPI sebagai stakeholder media penyiaran yang harus
bertanggungjawab atas pengawasan isi siaran di media penyiaran. Pengawasan ini dikuatkan
dengan adanya pedoman atau aturan penyiaran yang terdapat dalam Pedoman Perilaku
Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS). Peraturan yang dibuat KPI itu
berisikan poin-poin pengaturan perlindungan publik terhadap tayangan yang tidak sesuai dan
berdampak buruk. Substansi pengaturan itu antara lain mengenai perlindungan terhadap
anak-anak, remaja dan perempuan, penghormatan terhadap nilai agama, perhatian terhadap
nilai kesopanan, etika dan kesusilaan. Peraturan ini juga menyentuh aspek pelarangan dan
pembatasan mengenai adegan seks, kekerasan, dan sadisme. Tidak ketinggalan
penggolongan program menurut usia khalayak. Seperti kasus konflik Ahmad Dhani dan
Farhat, tidak bisa anak-anak diwawancara terkait kasus orangtuanya.

Namun masalah etika penyiaran di Indonesia seringkali diabaikan hanya demi


keberlangsungan suatu media agar tidak ditinggalkan pemirsanya. Hal tersebut terkadang
menggiring program yang ditayangkan masuk pada kecenderungan menampilkan sesuatu
yang spektakuler dan sensasional bahkan dramatis, yang justru kurang beretika.
Persaingan antar stasiun televisi menuntut agar media selalu menampilkan informasi
terbaru atau aktual. Aktualitas menuntut kecepatan dalam pengorganisasian kerja peliputan.
Selain itu, ada anggapan bahwa informasi yang baik adalah jika didapat secara langsung,
yaitu melalui peliputan langsung, siaran langsung, reportase langsung dari tempat kejadian
dan informasi dari sumber pertama. Hal-hal tersebut yang menyebabkan media terkadang
mengabaikan kevalidan informasi yang disiarkannya. Godaan besar yang selalu
mengganggu media adalah lebih baik segera menyampaikan informasi kepada publik, baru
kemudian dicek kebenarannya, daripada basi atau sudah disampaikan lebih dulu oleh stasiun
lain. Masalah kevalidan inilah yang menimpa dua stasiun televisi yakni, TV One dan Metro
TV ketika menyiarkan langsung penyergapan teroris selama 18 jam di Temanggung yang
diduga Noor Din M Top, tapi ternyata yang benar adalah Ibrohim (Haryatmoko, 2007).
Seharusnya dua stasiun televisi tersebut mengklarifikasikan terlebih dahulu informasi
yang didapat dilapangan agar tidak terjadi kekeliruan informasi yang menyebabkan khalayak
salah paham.
4) Menurut Potter,W.J.(2005) melek media adalah satu set perspektif yang aktif kita gunakan
untuk membuka diri kepada media untuk menafsirkan makna pesan yang kita hadapi. Kita
membangun perspektif kita dari struktur pengetahuan. Untuk membangun struktur
pengetahuan kita, kita perlu alat dan bahan baku. Alat-alat adalah keterampilan kita. Bahan
baku adalah informasi dari media dan dari dunia nyata. aktif menggunakan berarti bahwa
kita sadar akan pesan dan berinteraksi dengan mereka secara sadar.
Istilah literasi media sering ditemui di dalam kegiatan akademik maupun kehidupan
sehari-hari untuk menyebutkan berbagai sikap kritis terhadap media yang di dalamnya
terdapat pula beragam pemaknaan tentang fenomena dalam media itu sendiri. Kita dapat
mengidentifikasikan bahwa media literasi tidak hanya menitikberatkan pada sikap kritis
kepada media, tetapi juga berkaitan dengan fungsi pengawasan terhadap media.
Mc Cannon mengartikan literasi media sebagai kemampuan secara efektif dan secara
efisien memahami dan menggunakan komunikasi massa (Strasburger & Wilson, 2002). Ahli
lain James W Potter (2005) mendefinisikan literasi media sebagai satu perangkat perspektif
dimana kita secara aktif memberdayakan diri kita sendiri dalam menafsirkan pesan-pesan
yang kita terima dan bagaimana cara mengantisipasinya.
Secara ringkas literasi media artinya adalah pintar, cakap, mampu dengan baik,
menggunakan, memahami, menganalisa, media baik media televisi, radio, surat kabar, dan
film. Kajian literasi media terkini menunjukkan adanya perkembangan media seperti video,

komputer, dan internet. Kehidupan modern dan perkembangan teknologi canggih membuat
manusia dalam kesehariannya selalu diterpa oleh media.
Tujuan dari literasi media ini adalah munculnya kesadaran kritis dari masyarakat akan
informasi yang diberikan oleh media, dan aksi sosial, dimana masyarakat yang sudah melek
media melakukan tindakan terhadap media yang kebebasannya sudah kebablasan, dan hanya
mementingkan profit saja tanpa mempedulikan apa yang didapat oleh masyarakat. Salah satu
bentuk aksi sosial dari adanya literasi media, adalah munculnya pemantauan media.
Literasi media selain berguna untuk kita menyaring informasi yang kita dapat dari
media, membuat kita juga bisa sadar akan kepentingan-kepentingan apa yang ada di dalam
sebuah media, dan kita dapat kritis terhadap kepentingan tersebut. Ditambah media massa
besar sekarang ini dikuasai oleh segelintir orang saja. Bukanlah hal yang tidak mungkin
bahwa informasi akan dimonopoli media sehingga menguntungkan beberapa pihak, dan
masyarakat hanya akan dijajah secara tidak sadar oleh media.
Media dapat membujuk kita untuk membeli barang baru, bahkan mengubah selera
budaya kita. Seberapa jauh aspek-aspek turut berperan dalam pertumbuhan ekonomi. Siaransiaran melalui forum media cukup efektif dalam menambah pengetahuan, pembentukan dan
perubahan sikap, serta mendorong pembaharuan. Peningkatan jumlah radio, surat kabar dan
film maupun media massa yang lain diharapkan mampu meningkatkan perubahan
perekonomian untuk masyarakat. Pembangunan diharapkan terlaksana secara sukarela di
mana setiap individu mengambil bagian di dalamnya.
Pengembangan literasi media sebaiknya harus disosialisasikan sejak dini. Jika sejak
dini, dimulai dari bangku sekolah, anak-anak kita dikenalkan dengan pelajaran literasi
media, dampak baiknya adalah mereka akan tahu dan paham memilih media yang baik dan
tepat buat mereka sendiri. Dengan begitu, mereka akan mampu sendiri menghindar dari
dampak buruk akibat isi media.

5) Menurut John R. Bittner (dalam Elvinaro,2012), gatekeeper adalah individu-individu atau


kelompok orang yang memantau arus informasi dalam sebuah saluran komunikasi (massa).
Bisa diartikan, gatekeeper adalah fungsi, dan fungsinya adalah menaikkan berita yang
penting dan menghapus informasi yang tidak memiliki nilai berita. Gatekeeper pun memiliki
wewenang untuk tidak menampilkan berita yang dianggap tidak baik dan bisa saja
meresahkan masyarakat.
Gatekeeper yang mana sebagai sebuah fungsi, haruslah bersikap professional. Menurut
Abdulrahim (dalam Suhrawardi, 1994 :10) bahwa profesionalisme biasanya dipahami
sebagai kualitas yang wajib dipunyai setiap eksekutif yang baik, dimana didalamnya
terkandung beberapa ciri sebagai berikut:

1. Punya keterampilan tinggi dalam suatu bidang, serta kemahiran dalam


mempergunakan peralatan tertentu yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas yang
bersangkutan dengan bidang tadi.
2. Punya ilmu dan pengetahuan serta kecerdasan dalam menganalisa suatu masalah dan
peka didalam membaca situasi, cepat dan tepat serta cermat dalam mengambil keputusan
terbaik atas dasar kepekaan.
3. Punya sikap berorientasi ke hari depan, sehingga punya kemampuan mengantisipasi
perkembangan lingkungan yang terentang dihadapannya.
4. Punya sikap mandiri berdasarkan keyakinan akan kemampuan pribadi serta terbuka
menyimak dan menghargai pendapat orang lain, namun cermat dalam memilih yang
terbaik bagi dirinya dan perkembangan pribadinya.
Seorang Gatekeeper haruslah bersikap professional yaitu mempunyai ketrampilan dan
punya pengetahuan dalam menganalisa. Kemampuan menganalisa sangat dibutuhkan karena
untuk melihat keinginan khalayak, seorang gatekeeper harus mampu menganalisis
masyarakat secara luas. Dalam melakukan proses, gatekeeper bisa disebut sebagai
gatekeeping. Gatekeeping merupakan proses dari gatekeeper yang menyeleksi dan
menangkap berita.
Seorang gatekeeper harus tetap menjaga otonomi dan independensinya agar tetap
bersikap professional. Untuk itu perlulah kiranya menyiapkan profesionalisme dalam bidang
media dengan belajar aspek yang bersifat teknis dan etis sehingga mampu mengemban nilai
otonomi dan independensi dalam sistem media yang melingkupinya. Aspek teknis
merupakan dasar dalam pengoperasian perangkat keras dan lunak. Mempelajari aspek teknis
berguna untuk melahirkan hasil kerja berupa program televisi. Sedangkan aspek etis berupa
penghayatan dan kesadaran atas pilihan nilai dalam sistem media yang akan dimasuki.
Menjadi seorang gatekeeper tentunya mempunyai beberapa hambatan untuk tetap
menjaga sikap yang profesional. Hambatan tersebut berasal dari konglomerasi media.
Konglomerasi media bisa saja menyebabkan sang pemilik dengan seenaknya masuk ke
ruang redaksi dan mengubah isi berita sesuai dengan kepentingan yang ia bawa ataupun
untuk orientasi profit. Penguasaan frekuensi pun bisa saja dilakukan pemilik untuk
memonopoli jalur informasi kepada khalayak agar informasi banyak yang seragam dan
sesuai keinginan.
Idealisme gatekeeper pun patut dipertanyakan disini, apakah dia tetap mau bersikap
idealis atau disetir penguasa. Idealisme itu pun harus sesuai dengan kode etik. Ada 3 (tiga)
prinsip dasar kode etik: menyampaikan kebenaran, bersikap independen dan meminimalisir
dampak buruk dari suatu pemberitaan. Jika seorang gatekeeper tidak bisa menjalankan tugas
sesuai dengan prinsip dasar kode etik, karena beberapa hal, masih ada regulasi penyiaran
yang bisa mengaturnya, yaitu UU No. 32 Tahun 2002. Jika pemberitaan yang memaksa
seorang gatekeeper tidak independen melanggar pasal di UU No. 32 Tahun 2002 tentang
Penyiaran, regulator penyiaran, KPI, harus berani tegas menghukum institusi media tersebut.

Daftar Pustaka:
Abrar, Ana Nadya. 2003. Teknologi Komunikasi:
Perspektif Ilmu Komunikasi. Yogyakarta: LESFI
Ardianto, Elvinaro., Lukiati Komala dan Siti Karlinah. 2012. Komunikasi Massa Suatu
Pengantar. Edisi Revisi. Bandung : Simbiosa Rekatama Media.
Haryatmoko. 2007. Etika Komunikasi Manipulasi Media,
Kekerasan dan Pornografi. Yogyakarta: Kanisius.

Morissan. 2005. Media Penyiaran. Jakarta: Ramdina Prakarsa.


Nielsen Media Research. 2004. Audience Viewe. Jakarta: AC-Nielsen.
Nugroho, Garin. 1998. Kekuasaan dan Hiburan. Yogyakarta: Bentang.
Panjaitan, Erica. 2006. Matinya Rating Televisi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Potter,W.J.2005. Media Literacy. Upper Sadler River,NJ: Prentice Hall.
Potter, W. James (2004). Theory of Media Literacy: A Cognitive Approach.
London: Sage.
Strasburger, V. C., & Wilson, B. J. 2002. Children, adolescents, & the media.
Thousand Oaks: Sage
Yasuma, Sosuke. 2000. Television Production and Era Digitalization.
Tokyo: University Tokyo of Technology.
KPI
Ingatkan
Pentingnya
Fungsi
Media.
Terasip
pada:
http://www.kpi.go.id/index.php/component/blog_calendar/2013/12/07?Itemid= Diakses pada 25
Desember 2014
Movanita, Ambaranie N. K. 2014. KPI: Industri Penyiaran Indonesia Terbelenggu Survei dan
Rating. Kompas 23 Desember 2014 diakses dari
http://nasional.kompas.com/read/2014/12/23/16031171/KPI.Industri.Penyiaran.Indonesia.Terbele
nggu.Survei.dan.Rating Diakses pada 26 Desember 2014.
Website resmi Komisi Penyiaran Indonesia. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang
Penyiaran. Terarsip pada http://www.kpi.go.id/download/regulasi/UU%20No.%2032%20Tahun
%202002%20tentang%20%20Penyiaran.pdf. Diakses pada 25 Desember 2014.