Anda di halaman 1dari 35

MAKALAH

PERNIKAHAN ISLAM
Dosen Pengampu: Ir. H. Saimul Laili, M. Si.

Disusun Oleh :
Soni Irawan
Muh. Fajar Abrori
Syahrul Prihadi
Novi Humaira Hanifiah

21401051012
21401051013
21401051037
21401051038

JURUSAN SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah Agama Islam
III ini sesuai pengetahuan dan kemampuan yang kami peroleh dari sumber referensi. Kami
juga berterima kasih kepada Bapak Ir. H. Saimul Laili, M. Si. atas bimbingan dan pengarahan
selaku dosen Mata Kuliah Agama Islam III.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kami. Semoga makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat
kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang
membangun demi perbaikan di masa depan.

Malang, 8 November 2015


Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

1.2. Rumusan Masalah

1.3. Tujuan 1
BAB II PEMBAHASAN
1

Hukum Islam Tentang Pernikahan

1.4. Peminangan (Khitbah) Sebelum Pelaksanaan Pernikahan


1.5. Pelaksanaan Pernikahan (Akad Nikah)
1.6. Talak

11

15

18

1.7. Macam Macam Hal Yang Dilarang Oleh Agama Islam


BAB III PENUTUP 31
1

Kesimpulan

Hikmah 31

Saran

31

31

DAFTAR PUSTAKA

iii

23

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Allah telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, ada lelaki ada perempuan salah
satu ciri makhluk hidup adalah berkembang biak yang bertujuan untuk generasi atau
melanjutkan keturunan. Oleh Allah manusia diberikan karunia berupa pernikahan untuk
memasuki jenjang hidup baru yang bertujuan untuk melanjutkan dan melestarikan
generasinya.
Untuk merealisasikan terjadinya kesatuan dari dua sifat tersebut menjadi sebuah hubungan
yang benar-benar manusiawi, maka Islam telah datang dengan membawa ajaran pernikahan
yang sesuai dengan syariat-Nya. Islam menjadikan lembaga pernikahan itu pulan akan lahir
keturunan secara terhormat, maka adalah satu hal yang wajar jika pernikahan dikatakan wajar
pernikahan dikatakan sebagai suatu peristiwa dan sangat diharapkan oleh mereka yang ingin
menjaga kesucian fitrah.
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi nikah?
2. Bagaimana hukum-hukum nikah?
3. Apa saja rukun dan syarat nikah?
4. Apa hikmah dan tujuan pernikahan?
5.Apa yang disebut Talak, dan apa saja macam-macam talak dan iddah?
6.Hal Apa yang terlarang sehubungan dengan pernikahan?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi nikah
2. Untuk mengetahui hukum-hukum nikah
3. Untuk mengetahui rukun dan syarat nikah
4. Untuk mengetahui hikmah dan tujuan pernikahan
5.Talak,macam-macam talak dan iddah
6.Hal-hal yang terlarang sehubungan dengan pernikahan

BAB II
PEMBAHASAN
A. HUKUM ISLAM TENTANG PERNIKAHAN
1. ARTI PERNIKAHAN
Pernikahan berasal dari kata dasar nikah. Kata nikah memiliki persamaan dengan kata kawin.
Menurut bahasa Indonesia, kata nikah berarti berkumpul atau bersatu. Menurut istilah syarak,
nikah itu berarti melakukan suatu akad atau perjanjian untuk mengikatkan diri antara seorang
laki-laki dan seorang perempuan yang bertujuan untuk menghalalkan hubungan kelamin
antara keduanya dengan dasar suka rela demi terwujudnya keluarga bahagia yang diridhoi
oleh Allah SWT. Nikah adalah fitrah yang berarti sifat asal dan pembawaan manusia sebagai
makhluk Allah SWT. Setiap manusia yang sudah dewasa dan sehat jasmani dan rohaninya
pasti membutuhkan teman hidup yang berlawanan jenis kelaminnya. Teman hidup yang dapat
memenuhi kebutuhan biologis, yang dapat mencintai dan dicintai, yang dapat mengasihi dan
dikasihi, serta yang dapat bekerja sama untuk mewujudkan ketentraman, kedamaian, dan
kesejahteraan dalam hidup berumah tangga. Nikah termasuk perbuatan yang telah
dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. atau sunnah Rasul.
Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda: Dari Anas bin Malik ra.,bahwasanya Nabi saw.
memuji Allah SWT dan menyanjung-Nya, beliau bersabda: Akan tetapi aku shalat, tidur,
berpuasa, makan, dan menikahi wanita, barang siapa yang tidak suka perbuatanku, maka
bukanlah dia dari golonganku. (HR. Al-Bukhari dan muslim)
Pengertian Nikah
secara bahasa : kumpulan, bersetubuh, akad. secara syari : dihalalkannya seorang lelaki dan
untuk perempuan bersenangg-senang, melakukan hubungan seksual, dll .
2.

HUKUM PERNIKAHAN
Hukum Asal Nikah adalah Mubah Menurut sebagian besar ulama, hukum asal nikah adalah
mubah, artinya boleh dikerjakan boleh ditinggalkan. Dikerjakan tidak ada pahalanya dan
ditingkalkan tidak berdosa. Meskipun demikian, ditinjau dari segi kondisi orang yang akan
melakukan pernikahan, hukum nikah dapat berubah menjadi sunnah, wajib, makruh atau
haram.

a. Nikah yang Hukumnya Sunnah


Sebagian besar ulama berpendapat bahwa pada prinsipnya nikah itu sunnah. Alasan yang
mereka kemukakan bahwa perintah nikah dalam berbagai Al-Quran dan hadits hanya
merupakan anjuran walaupun banyak kata-kata amar dalam ayat dan hadits tersebut. Akan
tetapi, bukanlah amar yang berarti wajib sebab tidak semua amar harus wajib, kadangkala
menunjukkan sunnah bahkan suatu ketika hanya mubah. Adapun nikah hukumnya sunnah
bagi orang yang sudah mampu memberi nafkah dan berkehendak untuk nikah.
b. Nikah yang Hukumnya Wajib
Nikah menjadi wajib menurut pendapat sebagian ulama dengan alasan bahwa diberbagai ayat
dan hadits sebagaimana tersebut diatas disebutkan wajib. Terutama berdasarkan hadits
riwayat Ibnu Majah seperti dalam sabda Rasulullah saw., Barang siapa yang tidak mau
melakukan sunnahku, maka tidaklah termasuk golonganku. Selanjutnya nikah itu wajib
sesuai dengan faktor dan situasi. Jika ada sebab dan faktor tertentu yang menyertai nikah
menjadi wajib. Contoh: jika kondisi seseorang sudah mampu memberi nafkah dan takut jatuh
pada perbuatan zina, dalam situasi dan kondisi seperti itu wajib nikah. Sebab zina adalah
perbuatan keji dan buruk yang dilarang Allah SWT. Rasulullah saw bersabda sebagai berikut.
Dari Aisyah ra., Nabi saw. besabda: Nikahilah olehmu wanita-wanita itu, sebab
sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta bagimu. (HR. Al-Hakim dan Abu Daud)
c. Nikah yang Hukumnya Makruh
Hukum nikah menjadi makruh apabila orang yang akan melakukan perkawinan telah
mempunyai keinginan atau hasrat yang kuat, tetapi ia belum mempunyai bekal untuk
memberi nafkah tanggungannya.
d. Nikah yang Hukumnya Haram
Nikah menjadi haram bagi seseorang yang mempunyai niat untuk menyakiti perempuan yang
dinikahinya. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. pernah bersabda: Barangsiapa yang tidak
mampu menikah hendaklah dia puasa karena dengan puasa hawa nafsunya terhadap
prempuan akan berkurang. (HR. Jamaah Ahli Hadits). Firman Allah di dalam Al-Quran:
Maka nikahilah wanita yang engkau senangi. (QS.An-Nisa/4:3) Dan nikahkanlah orangorang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah)
dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan

memberikan kemampuan kepada mereka dengan kemampuan-Nya. Dan Allah Mahaluas


(pemberian-Nya), MahaMengetahui. (QS.An-Nur/24:32)
Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian1036 diantara kamu, dan orang-orang yang
layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang
perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan
Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.(Q.S An-Nur/24:32)
Berpijak dari firman Allah dan hadits sebagaimana tersebut di atas, maka bahwa dapat
dijelaskan bahwa hukum menikah itu akan berubah sesuai dengan faktor dan sebab yang
menyertainya. Dalam hal ini setiap mukalaf penting untuk mengetahuinya. Misalnya, orangorang yang belum baligh, seorang pemabuk, atau sakit gila, maka dalam situasi dan kondisi
semacam itu seseorang haram uinutuk menikah. Sebab, jikja mereja menikah dikhawatirkan
hanya akan menimbulkan mudharat yang lebih besar pada orang lain.
3. RUKUN NIKAH
Rukun nikah adalah unsur-unsur yang harus dipenuhi untuk melangsungkan suatu
pernikahan. Rukun nikah terdiri atas:
Akad, yang terdiri atas ijab dan kabul. Ijab dan kabul ini dilakukan olehy wali mempelai
perempuan dan mempelai laki-laki. Ijab diucapkan wali mempelai perempuan dan kabul
diucapkan wali mempelai laki-laki.
C. Rukun Dan Syaratnya Pernikahan
Rukun pernikahan ada lima:
1. Mempelai laki-laki syaratnya: bukan dari mahram dari calon istri, idak terpaksa, atas
kemauan sendiri, orangnya tertentu, jelas orangny,calon suami, syaratnya antara lain
beragama Islam, benar-benar pria, tidak karena terpaksa, bukan mahram (perempuan calon
istri), tidak sedang ihram haji atau umrah, dan usia sekurang-kurangnya 19 tahun.
2. Mempelai perempuan syaratnya-syaratnya: tidak ada halangan syarI yaitu tidak bersuami,
bukan mahram, tidak sedang dalam iddah, merdeka, atas kemauan sendiri, jelas orangnya.
Calon istri, syaratnya antara lain beragama Islam, benar-benar perempuan, tidak karena
terpaksa, halal bagi calon suami, tidak bersuami, tidak sedang ihram haji atau umrah, dan
usia sekurang-kurangnya 16 tahun.

3. Wali (wali si perempuan) keterangannya adalah sabda Nabi Saw:



Barangsiapa diantara perempuan yang menikah dengan tanpa izin walinya, maka
pernikahannya batal (Riwayat Empat Ahli Hadis kecuali NasaI)
Wali mempelai perempuan, syaratnya laki-laki, beragama islam, baligh (dewasa), berakal
sehat, merdeka (tidak sedang ditahan), adil, dan tidak sedang ihram haji atau umrah. Wali
inilah yang menikahkan mempelai perempuan atau mengizinkan pernikahannya.
Sabda Nabi Muhammad saw.:
Dari Aisyah ra., Rasulullah saw. bersbda: perempuan mana saja yang menikah tanpa izin
walinya, maka pernikahan itu batal (tidak sah). (HR. Al-Arbaah kecuali An-Nasai)
Mengenai susunan dan urutan yang menjadi wali adalah sebagai berikut:
1) Bapak kandung, bapak tiri tidak sah menjadi wali.
2) Kakek, yaitu bapak dari bapak mempelai perempuan.
3) Saudara laki-laki kandung.
4) Saudara laklaki sebapak.
5) Anak laki-laki dari saudara laki-laki kandung.
6) Anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak.
7) Paman (saudara laki-laki bapak).
8) Anak laki-laki paman.
9) Hakim. Wali hakim berlaku apabila wali yang tersebut di atas semuanya tidak ada,
sedang berhalangan, atau menyerahkan kewaliannya kepada hakim.
4. Dua orang saksi
( )
Tidak sah nikah kecuali dengan wali dengan 2 saksi yang adil (HR. Ahmad)
Dua orang saksi, syaratnya laki-laki, beragama islam, baligh (dewasa), berakal sehat,
merdeka (tidak sedang ditahan), adil, dan tidak sedang ihram haji atau umrah. Pernikahan
yang dilakukan tanpa saksi adalah tidak sah. Sabda Nabi Muhammad saw.: Dari Aisyah
ra., Rasulullah saw. bersabda: Tidak sah nikah melainkan dengan wali dan dua orang
saksi yang adil. (HR. Ibnu Hiban)
5. Sighat (akad) yaitu perkataan dari pihak wali perempuan, seperti kata wali Saya nikahkan
kamu dengan anak saya bernama.. jawab mempelai laki-laki Saya terima
menikahi, boleh juga didahului perkataan dari pihak mempelai seperti
Nikahkanlah saya dengan anakmu jawab wali Saya nikahkan engkau dengan anak
saya.. karena maksudnya sama.

Tidak sah akad nikah kecuali dengan lafadz nikah, tazwij, atau terjemahan dari keduanya.
Sabda Rasulullah Saw:
( )
Takutlah kepada Allah dalam urusan perempuan, sesungguhnya kamu ambil mereka
dengan kepercayaan Allah, dan kamu halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah
(HR. Muslim) Yang dimaksud dengan kalimat kalimat Allah dalam hadis ialah AlQuran, dan dalam Al-Quran tidak disebutkan selain dua kalimat itu (nikah dan tazwij)
maka harus dituruti agar tidak salah pendapat yang lain, asal lafadz akad tersebut maqul
mana, tidak semata-mata taabbudi.
4.

PERNIKAHAN YANG TERLARANG

Pernikahan yang terlarang aalah pernikahan yang di haramkan oleh agama Islam. Adapun
penikahan yang terlarang adalah sebagai berikut:
a. Nikah Mutah
Nikah mutah adalah pernikahan yang diniatkan dan diakadkan untuk sementara waktu
saja (hanya untuk bersenang-senang), misalnya seminggu, satu bulan, atau dua bulan.
Masa berlakunya pernikahan dinyatakan terbatas. Nikah mutah telah dilarang oleh
rasulullah saw. sebagaimana dijelaskan dalam suatu hadits: Dari Rabi bin Sabrah alJuhani bahwasannya bapaknya meriwayatkan, ketika dia bersama rasulullah saw., beliau
bersabda: wahai sekalian manusia, dulu pernah aku izinkan kepada kamu sekalian
perkawinan mutah, tetapi ketahuilah sesungguhnya Allah telah mengharamkannya sampai
hari kiamat. (HR. Muslim)
b. Nikah Syigar
Nikah syigar adalah apabila seorang laki-laki mengawinkan anak perempuannya dengan
tujuan agar seorang laki-laki lain menikahkan anak perempuannya kepada laki-laki
(pertama) tanpa mas kawin (pertukaran anak perempuan). Perkawinan ini dilarang dengan
sabda Rasulullah saw. Dari Ibnu Umar ra., sesungguhnya Rasulullah saw. melarang
perkawinan syigar. (HR. Muslim)
c. Nikah Muhallil

Nikah muhallil adalah pernikahan yang dilakukan seorang laki-laki terhadap seorang
perempuan yang tidak ditalak bain, dengan bermaksud pernikahan tersebut membuka
jalan bagi mantan suami (pertama) untuk nikah kembali dengan bekas istrinya tersebut
setelah cerai dan habis masa idah. Dikatakan muhallil karena dianggap membuat halal
bekas suami yang menalak bain untuk mengawini bekas istrinya. Pernikahan ini dilarang
oleh rasulullah saw. dengan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Masud: Dari Ibnu Abbas
ra., Rasulullah saw. melaknat muhallil (yang mengawini setelah bain) dan muhallil lalu
(bekas suami pertama yang akan mengawini kembali). (HR. Al-Kamsah kecuali Nasai)
d. Kawin dengan pezina
Seorang laki-laki yang baik-baik tidak diperbolehkan (haram) mengawini perempuan
pezina. Wanita pezina hanya diperbolehkan kawin dengan laki-laki pezina, kecuali kalau
perempuan itu benar-benar bertobat. Firman Allah SWT dalam Al-Quran. Pezina laki-laki
tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan, atau dengan perempuan musyrik;
dan Pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan
laki-laki musyrik; dan yang demikian itu diharamkan bagi orang mukmin. (QS. AnNur/24:3)
Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau
perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh
laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oranorang yang mu'min (Q.S An-Nur/24:3). Akan tetapi, kalau perempuan pezina tersebut
sudah bertobat, halallah perkawinan yang dilakukannya. Sesuai dengan sabda Rasulullah
saw.: Dari Abu Ubaidah bin abdullah dari ayahnya berkata: Bersabda rasulullah saw.:
Orang yang bertobat dari dosa tidak ada lagi dosa baginya. (HR. Ibnu Majah) Dengan
demikian, secara lahiriah perempuan pezina kalau benar-benar bertobat, maka dapat kawin
dengan laki-laki yang bukan pezina (baiuk-baik).
5. HIKMAH PERNIKAHAN
Pernikahan adalah ikatan batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri. Ia
merupukan pintu gerbang kehidupan berkeluarga yang mempunyai pengaruh terhadap
keturunan dan kehidupan masyrakat. Keluarga yang kokoh dan baik menjadi syarat penting
bagi kesejahteraan masyarakat dan kebahagiaan umat manusia pada umumnya. Agama

mengajarkan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang suci, baik, dan mulia. Pernikahan
menjadi dinding kuat yang memelihara manusia dari kemungkinan jatuh ke lembah dosa
yang disebabkan oleh nafsu birahi yang tak terkendalikan. Banyak sekali hikmah yang
terkandung dalam pernikahan, antara lain sebagai kesempurnaan ibadah, membina
ketentraman hidup, menciptakan ketenangan batin, kelangsungan keturunan, terpelihara dari
noda dan dosa, dan lain-lain. Di bawah ini dikemukakan beberapa hikmah pernikahan.
1. Pernikahan Dapat Menciptakan Kasih Sayang dan ketentraman manusia sebagai
makhluk yang mempunyai kelengkapan jasmaniah dan rohaniah sudah pasti
memerlukan ketenangan jasmaniah dan rohaniah. Kenutuhan jasmaniah perlu
dipenuhi dan kepentingan rohaniah perlu mendapat perhatian. Ada kebutuhan pria
yang pemenuhnya bergantung kepada wanita. Demikian juga sebaliknya. Pernikahan
merupakan lembaga yang dapat menghindarkan kegelisahan. Pernikahan merupakan
lembaga yang ampuh untuk membina ketenangan, ketentraman, dan kasih sayang
keluarga. Allah berfirman: Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah dia
meniptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung
dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan
sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terhadap tanda-tanda
(kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir (QS. Ar-Rum/30:21)\
2. Pernikahan Dapat Melahirkan keturunan yang baik Setiap orang menginginkan
keturunan yang baik dan shaleh. Anak yang shaleh adalah idaman semua orang tua.
Selain sebagai penerus keturunan, anak yang shaleh akan selalu mendoakan orang
tuanya.
Rasulullah saw. bersabda: Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw., bersabda: Apabila
telah mati manusia cucu Adam, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu
sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya. (HR.
Muslim)
3. Dengan Pernikahan, Agama Dapat Terpelihara menikahi perempuan yang shaleh,
bahtera kehidupan rumah tangga akan baik. Pelaksanaan ajaran agama terutama
dalam kehidupan berkeluarga, berjalan dengan teratur. Rasulullah saw. memberikan
penghargaan yang tinggi kepada istri yang shaleh. Mempunyai istri yang shaleh,
berarti Allah menolong suaminya melaksanakan setengah dari urusan agamnya.

Beliau bersabda: Dari Anas bin malik ra., Rasulullah saw., bersabda: Barang siapa
dianugerahkan Allah Istri yang shalehah, maka sungguh Allah telah menolong
separuh agamanya, maka hendaklah ia memelihara separuh yang tersisa. (HR. AtThabrani)
4.

Pernikahan dapat Memelihara Ketinggian martabat Seorang Wanita, Wanita adalah


teman hidup yang paling baik, karena itu tidak boleh dijadikan mainan. Wanita harus
diperlakukan

dengan

sebaik-baiknya.

Pernikahan

merupakan

cara

untuk

memperlakukan wanita secara baik dan terhormat. Sesudah menikah, keduanya harus
memperlakukan dan menggauli pasangannya secara baik dan terhormat pula. Firman
Allah dalam Al-Quran: Dan bergaulah dengan mereka menurut cara yang patut. (QS.
An-Nisa/4:19). Karena itu nikahilah mereka dengan izin tuannya dan berilah mereka
maskawin yang pantas, karena mereka adalah perempuan-perempuan yang memelihara
diri, bukan pezina dan bukan (pula) perempuan yang mengambil laki-laki sebagai
piarannya. (QS. An-Nisa/4:25)
5. Pernikahan Dapat Menjauhkan Perzinahan setiap orang, baik pria maupun wanita,
secara naluriah memiliki nafsu seksual. Nafsu ini memerlukan penyaluran dengan
baik. Saluran yang baik, sehat, dan sah adalah melalui pernikahan. Jika nafsu birahi
besar, tetapi tidak mau nikah dan tetap mencari penyaluran yang tidak sehat, dan
melanggar aturan agama, maka akan terjerumus ke lembah perzinahan atau pelacuran
yang dilarang keras oleh agama. Firman Allah dalam Surah Al-isra ayat 32: Dan
janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang
keji dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isra/17:32). Jelasnya, hikmah pernikahan itu
adalah sebagai berikut: Menciptakan struktur sosial yang jelas dan adil. Dengan nikah,
akan terangkat status dan derajat kaum wanita. Dengan nikah akan tercipta regenerasi
secara sah dan terhormat. Dengan nikah agama akan terpelihara. Dengan pernikahan
terjadilah keturunan yang mampu memakmuram bumi.
Hukum Nikah
Para fuqaha mengklasifikasikan hukum nikah menjadi 5 kategori yang berpulang kepada
kondisi pelakunya :
Wajib, bila nafsu mendesak, mampu menikah dan berpeluang besar jatuh ke dalam zina.

Sunnah, bila nafsu mendesak, mampu menikah tetapi dapat memelihara diri dari zina.
Mubah, bila tak ada alasan yang mendesak/mewajibkan segera menikah dan/atau alasan
yang mengharamkan menikah.
Makruh, bila nafsu tak mendesak, tak mampu memberi nafkah tetapi tidak merugikan
isterinya.
Haram, bila nafsu tak mendesak, tak mampu memberi nafkah sehingga merugikan
isterinya.
6.

TUJUAN DAN HIKMAH NIKAH

Tujuan Nikah ditinjau dari:


TUJUAN

FISIOLOGIS

Yaitu

bahwa

sebuah

keluarga

harus

dapat

menjadi

1. Tempat semua anggota keluarga mendapatkan sarana berteduh yang baik & nyaman.
2. Tempat semua anggota keluarga mendapatkan kosumsi makan-minum-pakaian yang
memadai.
3. Tempat suami-isteri dapat memenuhi kebutuhan biologisnya.
TUJUAN PSIKOLOGIS

Yaitu bahwa sebuah keluarga harus dapat menjadi :

1. Tempat semua anggota keluarga diterima keberadaannya secara wajar & apa adanya.
2. Tempat semua anggota keluarga mendapat pengakuan secara wajar dan nyaman.
3. Tempat semua anggota keluarga mendapat dukungan psikologis bagi perkembangan
jiwanya.
4. Basis pembentukan identitas, citra dan konsep diri para anggota keluarga.
TUJUAN SOSIOLOGIS

Yaitu bahwa sebuah keluarga harus dapat menjadi :

1. Lingkungan pertama dan terbaik bagi segenap anggota keluarga.


2. Unit sosial terkecil yang menjembatani interaksi positif antara individu anggota
keluarga dengan masyarakat sebagai unit sosial yang lebih besar.
TUJUAN

DAWAH

Yaitu

bahwa

sebuah

keluarga

harus

dapat

menjadi

1. Menjadi obyek wajib dawah pertama bagi sang dai.


2. Menjadi prototipe keluarga muslim ideal (bagian dari pesona islam) bagi masyarakat
muslim dan nonmuslim.
3. Setiap anggota keluarga menjadi partisipan aktif-kontributif dalam dawah.
4. Memberi antibodi/imunitas bagi anggota keluarga dari kebatilan dan kemaksiatan
Islam tidak mensyariatkan sesuatu melainkan dibaliknya terdapat kandungan keutamaan dan
hikmah yang besar. Demikian pula dalam nikah, terdapat beberapa hikmah dan maslahat bagi
pelaksananya :

1. Sarana pemenuh kebutuhan biologis (QS. Ar Ruum : 21)


2. Sarana menggapai kedamaian & ketenteraman jiwa (QS. Ar Ruum : 21
3. Sarana menggapai kesinambungan peradaban manusia (QS. An Nisaa : 1, An Nahl : 72)
Rasulullah berkata : Nikahlah, supaya kamu berkembang menjadi banyak. Sesungguhnya
saya akan membanggakan banyaknya jumlah ummatku. (HR. Baihaqi).
4. Sarana untuk menyelamatkan manusia dari dekadensi moral.
Rasulullah pernah berkata kepada sekelompok pemuda : Wahai pemuda, barang siapa
diantara kalian mampu kawin, maka kawinlah. Sebab ia lebih dapat menundukkan
pandangan dan menjaga kemaluan. Namun jika belum mampu, maka berpuasalah, karena
sesungguhnya puasa itu sebagai wija (pengekang syahwat) baginya. (HR Bukhari dan
Muslim dalam Kitab Shaum)
B. PEMINANGAN (KHITBAH) SEBELUM PELAKSANAAN PERNIKAHAN
A. Definisi Peminangan
Beberapa ahli Fiqih berbeda pendapat dalam pendefinisian peminangan. Beberapa
diantaranya adalah sebagai berikut:
Wahbah Zuhaili mengatakan bahwa pinangan (khitbah) adalah pernyataan seorang lelaki
kepada seorang perempuan bahwasanya ia ingin menikahinya, baik langsung kepada
perempuan tersebut maupun kepada walinya. Penyampaian maksud ini boleh secara langsung
ataupun dengan perwakilan wali.
Adapun Sayyid Sabiq, dengan ringkas mendefinisikan pinangan (khitbah) sebagai
permintaan untuk mengadakan pernikahan oleh dua orang dengan perantaraan yang jelas.
Pinangan ini merupakan syariat Allah SWT yang harus dilakukan sebelum mengadakan
pernikahan agar kedua calon pengantin saling mengetahui.
Amir Syarifuddin mendefinisikan pinangan sebagai penyampaian kehendak untuk
melangsungkan ikatan perkawinan. Peminangan disyariatkan dalam suatu perkawinan yang
waktu pelaksanaannya diadakan sebelum berlangsungnya akad nikah.
Al-hamdani berpendapat bahwa pinangan artinya permintaan seseorang laki-laki kepada
anak perempuan orang lain atau seseorang perempuan yang ada di bawah perwalian
seseorang untuk dikawini, sebagai pendahuluan nikah.

Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa pinangan (khitbah) adalah proses
permintaan atau pernyataan untuk mengadakan pernikahan yang dilakukan oleh dua orang,
lelaki dan perempuan, baik secara langsung ataupun dengan perwalian. Pinangan (khitbah)
ini dilakukan sebelum acara pernikahan dilangsungkan.
B. Dasar dan Hukum Pinangan
Dari Mughirah R.A., sesungguhnya ia pernah meminang seseorang perempuan, lalu Nabi
SAW. Bersabda kepadanya, Lihatlah perempuan itu dahulu karena sesungguhnya melihat itu
lebih cepat membawa kekekalan kecintaan antara keduanya. (H.R. Nasai dan Tirmizi).
Dari Abu Hurairah R.A., dia berkata, Aku duduk di dekat Nabi SAW. lalu datang seorang
laki-laki kepada beliau dan bercerita bahwa ia akan menikahi seseorang perempuan dari
kaum Anshar. Rasulullah lalu bersabda,Sudahkah engkau lihat wajahnya? laki-laki itu
menjawab, belum. Rasulullah bersabda lagi, pergi dan lihatlah karena sesungguhnya pada
wajah kaum Anshar itu mungkin ada sesuatu yang menjadi cacat. (H.R. Muslim dan Nasai).
Memang terdapat dalam al-quran dan dalam banyak hadis Nabi yang membicarakan hal
peminangan. Namun tidak ditemukan secara jelas dan terarah adanya perintah atau larangan
melakukan peminangan, sebagaiman perintah untuk mengadakan perkawinan dengan kalimat
yang jelas, baik dalam al-quran maupun dalam hadis Nabi. Oleh karena itu, dalam
menetapkan hukumnya tidak terdapat pendapat ulama yang mewajibkannya, dalam arti
hukumannya mubah.
Akan tetapi, Ibnu Rusyd dengan menukil pendapat imam Daud Al-Zhahiriy, mengatakan
bahwa hukum pinangan adalah wajib. Ulama ini mendasarkan pendapatnya pada hadis-hadis
nabi yang menggambarkan bahwa pinangan (khitbah) ini merupakan perbuatan dan tradisi
yang dilakukan nabi dalam peminangan itu.
C. Hikmah Peminangan
Ada beberapa hikmah dari prosesi peminangan, diantaranya:
Wadah perkenalan antara dua belah pihak yang akan melaksanakan pernikahan. Dalam hal
ini, mereka akan saling mengetahui tata etika calon pasangannya masing-masing,
kecendrungan bertindak maupun berbuat ataupun lingkungan sekitar yang mempengaruhinya.
Walaupun demikian, semua hal itu harus dilakukan dalam koridor syariah. Hal demikian

diperbuat agar kedua belah pihak dapat saling menerima dengan ketentraman, ketenangan,
dan keserasian serta cinta sehingga timbul sikap saling menjaga, merawat dan melindungi.
Sebagai penguat ikatan perkawinan ynag diadakan sesudah itu, karena dengan peminangan
itu kedua belah pihak dapat saling mengenal. Bahwa Nabi SAW berkata kepada seseorang
yang telah meminang perempuan: melihatlah kepadanya karena yang demikian akan lebih
menguatkan ikatan perkawinan.
D. Macam-Macam Peminangan
Ada beberapa macam peminangan, diantaranya sebagai berikut:
1. Secara langsung yaitu menggunakan ucapan yang jelas dan terus terang sehingga
tidak mungkin dipahami dari ucapan itu kecuali untuk peminangan, seperti
ucapan,saya berkeinginan untuk menikahimu.
2. Secara tidak langsung yaitu dengan ucapan yang tidak jelas dan tidak terus terang atau
dengan istilah kinayah. Dengan pengertian lain ucapan itu dapat dipahami dengan
maksud lain, seperti pengucapan,tidak ada orang yang tidak sepertimu.
Perempuan yang belum kawin atau sudah kawin dan telah habis pula masa iddahnya boleh
dipinang dengan ucapan langsung aau terus terang dan boleh pula dengan ucapan sindiran
atau tidak langsung. Akan tetapi bagi wanita yang masih punya suami, meskipun dengan janji
akan dinikahinya pada waktu dia telah boleh dikawini, tidak boleh meminangnya dengan
menggunakan bahasa terus terang tadi.
E. Hal-Hal yang Berkaitan dengan Peminangan.
1. Norma Kedua Calon Pengantin Setelah Peminangan.
Peminangan (khitbah) adalah proses yang mendahului pernikahan akan tetapi bukan termasuk
dari pernikahan itu sendiri. Pernikahan tidak akan sempurna tanpa proses ini, karena
peminangan (khitbah) ini akan membuat kedua calon pengantin akan menjadi tenang akibat
telah saling mengetahui. Oleh karena itu, walaupun telah terlaksana proses peminangan,
norma-norma pergaulan antara calon suami dan calon istri masih tetap sebagaimana biasa.
Tidak boleh memperlihatkan hal-hal yang dilarang untuk diperlihatkan.
2. Peminangan Terhadap Seseorang yang Telah Dipinang.
Seluruh ulama bersepakat bahwa peminangan seseorang terhadap seseorang yang telah
dipinang adalah haram. Ijma para ulama mengatakan bahwa peminangan kedua, yang datang

setelah pinangan yang pertama, tidak diperbolehkan. Hal tersebut terjadi apabila:
* Perempuan itu senang kepada laki-laki yang meminang dan menyetujui pinangan itu secara
jelas (Sharahah) atau memberikan izin kepada walinya untuk menerima pinangan itu.
* Pinangan kedua datang tidak dengan izin pinangan pertama.
* Peminang pertama belum membatalkan pinangan.
Hal ini sesuai dengan hadis nabi yang berbunyi, Janganlah kalian membeli sesuatu
pembelian saudara kalian, dan janganlah kalian meminang pinangan saudara kalian, kecuali
dengan izinnya. Seluruh imam bersepakat bahwa hadis diatas berlaku bagi pinangan yang
telah sempurna. Hal tersebut terjadi agar tidak ada yang merasa sakit hati satu sama lain.
Adapun mengenai pinangan yang belum sempurna, dengan pengertian masih menunggu
jawaban, beberapa ulama berbeda pendapat. Hanafiah mengatakan, pinangan terhadap
seseorang yang sedang bingung dalam menentukan keputusan adalah makruh. Hal ini
bertentangan dengan pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa sesungguhnya
perbuatan itu tidak haram. Pendapat ini berdasarkan peristiwa Fatimah binti Qois yang
dilamar oleh tiga orang sekaligus, yaitu Muawiyah, Abu Jahim bin Huzafah dan Usamah bin
Zaid. Hal itu terjadi setelah selesainya masa iddah Fatimah yang telah ditalak oleh Abu Umar
bin Hafsin.
Walaupun demikian, pendapat Hanafi lebih kuat landasannya karena sesuai dengan tata
perilaku islam yang mengajarkan solidaritas. Peminangan yang dilakukan terhadap seseorang
yang sedang bingung dalam mempertimbangkan keputusan lebih berdampak pada pemutusan
silaturrahim terhadap peminang pertama dan akan mengganggu psikologis yang dipinang.
3. Orang-Orang yang Boleh Dipinang.
Pada dasarnya, seluruh orang yang boleh dinikahi merekalah yang boleh dipinang.
Sebaliknya, mereka yang tidak boleh untuk dinikahi, tidak boleh pula untuk dipinang. Dalam
hal ini, ada syarat agar pinangan diperbolehkan.
* Bukan Orang-Orang yang Dilarang Menikahinya.
* Bukan Orang-Orang yang Telah Dipinang Orang Lain.
* Tidak Dalam Masa Iddah
4. Batas-Batas yang Boleh Dilihat Ketika Khitbah

Dalam hal ini, para ulama terbagi menjadi empat bagian:


* Hanya muka dan telapak tangan. Banyak ulama fiqih yang berpendapat demikian. Pendapat
ini berdasarkan bahwa muka adalah pancaran kecantikan atau ketampanan seseorang dan
telapak tangan ada kesuburan badannya.
* Muka, telapak tangan dan kaki. Pendapat ini diutarakan oleh Abu Hanifah.
* Wajah, leher, tangan, kaki, kepala dan betis. Pendapat ini dikedepankan para pengikut
Hambali.
* Bagian-bagian yang berdaging. Pendapat ini menurut al-Auzai.
* Keseluruh badan. Pendapat ini dikemukakan oleh Daud Zhahiri. Pendapat ini berdasarkan
ketidakadaan hadis nabi yang menjelaskan batas-batas melihat ketika meminang.
5. Waktu dan Syarat Melihat Pinangan
Imam Syafii berpendapat bahwa seorang calon pengantin, terutama laki-laki, dianjurkan
untuk melihat calon istrinya sebelum pernikahan berlangsung. Dengan syarat bahwa
perempuan itu tidak mengetahuinya. Hal itu agar kehormatan perempuan tersebut terjaga.
Baik dengan izin atau tidak. Imam Maliki dan Imam Hambali mengatakan bahwa melihat
pinangan adalah disaat kebutuhan mendesak. Itu disebabkan agar tidak menimbulkan fitnah
dan menimbulkan syahwat. Wahbah Zuhaili mengatakan, pada dasarnya melihat pinangan itu
diperbolehkan asalkan tidak dengan syahwat.
C. PELAKSANAAN PERNIKAHAN (AKAD NIKAH)
a. PENGERTIAN AKAD NIKAH
secara bahasa : akad = membuat simpul, perjajian, kesepakatan; akad nikah = mengawinkan
wanita. secara syari : Ikrar seorang pria untuk menikahi/mengikat janji seorang wanita lewat
perantara walinya, dengan tujuan
a) hidup bersama membina rumah tangga sesuai sunnah Rasulullah saw.
b) memperoleh ketenangan jiwa.
c) menyalurkan syahwat dengan cara yang halal
d) melahirkan keturunan yang sah dan shalih.
b. RUKUN DAN SYARAT SAH NIKAH

Akad nikah tidak akan sah kecuali jika terpenuhi rukun-rukun yang enam perkara ini :
1. Ijab-Qabul
Islam menjadikan Ijab (pernyataan wali dalam menyerahkan mempelai wanita kepada
mempelai pria) dan Qabul (pernyataan mempelai pria dalam menerima ijab) sebagai bukti
kerelaan kedua belah pihak. Al Qur-an mengistilahkan ijab-qabul sebagai miitsaaqan
ghaliizhaa (perjanjian yang kokoh) sebagai pertanda keagungan dan kesucian, disamping
penegasan maksud niat nikah tersebut adalah untuk selamanya.
Syarat ijab-qabul adalah :
a)Diucapkan

dengan

bahasa

yang

dimengerti

oleh

semua

pihak

yang

hadir.

b) Menyebut jelas pernikahan & nama mempelai pria-wanita


2. Adanya mempelai pria. Syarat mempelai pria adalah :
a) Muslim & mukallaf (sehat akal-baligh-merdeka); lihat QS. Al Baqarah : 221, Al
Mumtahanah : 9.
b) Bukan mahrom dari calon isteri.
c) Tidak dipaksa.
d) Orangnya jelas.
e) Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.
3. Adanya mempelai wanita.
4. Syarat mempelai wanita adalah :
a) Muslimah (atau beragama samawi, tetapi bukan kafirah/musyrikah) & mukallaf; lihat
QS. Al Baqarah : 221, Al Maidah :
b) Tidak ada halangan syari (tidak bersuami, tidak dalam masa iddah & bukan mahrom
dari calon suami).
c) Tidak dipaksa.
d) Orangnya jelas.
e) Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.
5. Adanya wali.
Syarat wali adalah :
a) Muslim laki-laki & mukallaf (sehat akal-baligh-merdeka).
b) Adil
c) Tidak dipaksa.
d) Tidaksedang melaksanakan ibadah haji.

Tingkatan dan urutan wali adalah sebagai berikut:


a) Ayah
b) Kakek
c) Saudara laki-laki sekandung
d) Saudara laki-laki seayah
e) Anak laki-laki dari saudara laki laki sekandung
f) Anak laki-laki dari saudara laki laki seayah
g) Paman sekandung
h) Paman seayah
i) Anak laki-laki dari paman sekandung
j) Anak laki-laki dari paman seayah.
k) Hakim
6. Adanya saksi (2 orang pria).
Meskipun semua yang hadir menyaksikan aqad nikah pada hakikatnya adalah saksi, tetapi
Islam mengajarkan tetap harus adanya 2 orang saksi pria yang jujur lagi adil agar
pernikahan tersebut menjadi sah. Syarat saksi adalah
a) Muslim laki-laki & mukallaf (sehat akal-baligh-merdeka).
b) Adil
c) Dapat mendengar dan melihat.
d) Tidak dipaksa.
e) Memahami bahasa yang dipergunakan untuk ijab-qabul.
f) Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.
7. Mahar.
Beberapa ketentuan tentang mahar :
a) Mahar adalah pemberian wajib (yang tak dapat digantikan dengan lainnya) dari seorang
suami kepada isteri, baik sebelum, sesudah maupun pada saat aqad nikah. Lihat QS. An

Nisaa

4.

b) Mahar wajib diterimakan kepada isteri dan menjadi hak miliknya, bukan kepada/milik
mertua.
c) Mahar yang tidak tunai pada akad nikah, wajib dilunasi setelah adanya persetubuhan.
d) Mahar dapat dinikmati bersama suami jika sang isteri memberikan dengan kerelaan.
e) Mahar tidak memiliki batasan kadar dan nilai. Syariat Islam menyerahkan perkara ini
untuk disesuaikan kepada adat

istiadat yang berlaku. Boleh sedikit, tetapi tetap harus

berbentuk, memiliki nilai dan bermanfaat. Rasulullah saw senang mahar yang mudah dan
pernah pula.
D. TALAK
Pengertian Talak
Talak secara bahasa berarti melepaskan ikatan. Kata ini adalah derivat dari kata

ithlaq, yang berarti melepas atau meninggalkan.


Secara syari, talak berarti melepaskan ikatan perkawinan.
Dalil Dibolehkannya Talak
Allah Taala berfirman,

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf
atau menceraikan dengan cara yang baik. (QS. Al Baqarah: 229)

Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu Maka hendaklah kamu ceraikan
mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) (QS. Ath Tholaq: 1)
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, bahwasanya beliau pernah mentalak
istrinya dan istrinya dalam keadaan haidh, itu dilakukan di masa Nabi shallallahu alaihi wa
sallam. Lalu Umar bin Al Khottob radhiyallahu anhu menanyakan masalah ini kepada
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Beliau shallallahu alaihi wa sallam lantas
bersabda,



Hendaklah ia meruju' istrinya kembali, lalu menahannya hingga istrinya suci kemudian
haidh hingga ia suci kembali. Bila ia (Ibnu Umar) mau menceraikannya, maka ia boleh
mentalaknya dalam keadaan suci sebelum ia menggaulinya. Itulah al 'iddah sebagaimana
yang telah diperintahkan Allah 'azza wajalla.

Ibnu Qudamah Al Maqdisi menyatakan bahwa para ulama sepakat (berijma) akan
dibolehkannya talak. Ibroh juga menganggap dibolehkannya talak. Karena dalam rumah
tangga mungkin saja pernikahan berubah menjadi hal yang hanya membawa mafsadat. Yang
terjadi ketika itu hanyalah pertengkaran dan perdebatan saja yang tak kunjung henti. Karena
masalah inilah, syariat Islam membolehkan syariat nikah tersebut diputus dengan talak demi
menghilangkan mafsadat.
Kritik Hadits
Adapun hadits yang berbunyi,


Perkara yang paling dibenci Allah Taala adalah talak.Dalam sanad hadits ini ada dua
illah (cacat): (1) dhoifnya Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah, (2) terjadi perselisihan
di dalamnya. Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Ahmad bin Yunus Abu Daud menyebutnya
tanpa menyebutkan Ibnu Umar radhiyallahu anhuma. Sanad hadits dari Al Hakim
dinilaidhoif. Kesimpulannya, hadits ini adalah hadits yang dhoif. Di antara yang
mendhoifkannya adalah Al Baihaqi, Syaikh Al Albani, dan Syaikh Musthofa Al Adawi.
Hukum Talak
Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, Talak boleh jadi ada yang haram, ada yang makruh, ada
yang wajib, ada yang sunnah dan ada yang boleh.
Rincian hukum talak di atas adalah sebagai berikut:
Pertama, talak yang haram yaitu talak bidi (bidah) dan memiliki beberapa bentuk.
Kedua, talak yang makruh yaitu talak yang tanpa sebab apa-apa, padahal masih bisa jika
pernikahan yang ada diteruskan.
Ketiga, talak yang wajib yaitu talak yang di antara bentuknya adalah adanya perpecahan
(yang tidak mungkin lagi untuk bersatu atau meneruskan pernikahan).
Keempat, talak yang sunnah yaitu talak yang disebabkan karena si istri tidak memiliki sifat
afifah (menjaga kehormatan diri) dan istri tidak lagi memperhatikan perkara-perkara yang
wajib dalam agama (seperti tidak memperhatikan shalat lima waktu), saat itu ia pun sulit
diperingatkan.
Kelima, talak yang hukumnya boleh yaitu talak ketika butuh di saat istri berakhlaq dan
bertingkah laku jelek dan mendapat efek negatif jika terus dengannya tanpa bisa meraih
tujuan dari menikah.
1. Talak Sunni dan Talak Bidi

Talak dipandang dari aspek sesuai dan tidak sesuai dengan ketentuan syara terbagi pada dua
bagian; a. Talak sunni dan b. Talak bidi. Ulama fikih beraneka ragam dalam menstandari
batasan-batasan talak sunni dan bidi. Kalangan Hanafiyah membagi talak kedalam tiga
bagian, yaitu: a. Talak ahsan b. Talak hasan dan c. Talak bidi. Talak ahsan adalah talak yang
suami menjatuhkan talak pada istrinya dengan talak satu, pada masa suci dan tidak disetubuhi
pada waktu sucinya serta ia membiarkan (tidak mentalak lagi) pada istrinya sampai iddahnya
berakhir dengan tiga kali haid. Talak hasan adalah talak yang dilakukan suami pada istrinya
dengan talak tiga, dalam waktu tiga kali suci dan disetiap masa suci dilakukan talak satu.
Sedangkan Talak bidi adalah talak yang dijatuhkan suami pada istrinya dengan talak tiga,
atau talak dua dengan memakai satu kalimat, atau ia mentalak tiga dalam satu masa
suci. Sedangkan kalangan Malikiyah dalam mengkatagorikan talak sunni atau bidi dengan
memberi syarat-syarat tertentu. Ada empat syarat talak dapat dikategorikan talak sunni:
a. Perempuan pada waktu ditalak suci dari haid dan nifas,
b. Suami tidak menjimanya pada waktu,
c. Suami mentalak satu,
d. Suami tidak mentalak istrinya yang kedua kali sampai masa iddahnya berakhir.
Dan menurut mereka, talak bidi adalah talak yang tidak memenuhi satu syarat atau
seluruhnya. Misalnya : seorang suami mentalak istrinya lebih dari satu, atau ia mentalak
istrinya pada masa haid atau nifas, atau pada masa suci tetapi dicampurinya dalam masa suci
itu. Lebih lanjut mereka menegaskan bahwa suami yang mentalak bidi pada isrinya ia
dipaksa untuk rujuk kembai sampai masa iddah yang terakhir. Namun jika ia tidak mau untuk
merujuknya, Hakim boleh mengancam untuk menahannya, dan manakala ia tetap enggan
untuk merujuknya ia boleh dipukul, dan bila ia tetap bersikeras dalam keengganannya,
seorang Hakim berhak memaksa untuk merujuknya.
Sementara kalangan Syafiiyah membagi talak pada tiga bagian dengan istilah yang sedikit
berbeda dengan kalangan Hanafiyah. Tiga bagian itu adalah :
a.Talak sunni, b. Talak bidi, dan c. Talak bukan sunni dan bukan bidi (talak qhairu bidI wa
la- sunni). Talak sunni adalah talak yang dijatuhkan pada istri dengan talak satu pada masa
suci dan tidak dicampuri pada masa sucinya serta tidak dicampuri pula pada masa haid
sebelumya, dan bila suami ingin mentalak istrinya dengan talak tiga ia menjatuhkan talak satu
disetiap masa suci.
Berkenaan dengan talak bidi terbagi menjadi dua macam:
a. Talak yang dijatuhkan pada masa haid yang dicampuri pada masa haidnya, sebab syara
memerintahkan untuk mentalak istri pada masa suci, dan juga membuat mudharat pad istri

dengan lamanya menjalani masa iddah.


b. Talak yang dijatuhkan pada istri dalam masa suci tetapi telah dicampuri pada masa suci itu.
Macam talak yang terakhir, yaitu talak qhiru bidi wa la-sunni hanya terjadi bagi istri yang
masih kacil, perempuan monopause, istri yang berkhulu, istri yang hamil dan kehamilannya
dipastikan hasil hubungan dengan suaminya, dan istri yang belum pernah didukhul.
Sementara kalangan Hanabilah memberi pengertian talak sunni adalah talak yang suami
menjatuhkan talak satu pada istrinya yang tidak disetubuhi pada masa sucinya itu kemudian
ia tidak mentalaknya lagi sampai masa iddahnya berakhir. Sedangkan talak bidi adalah talak
yang suami menjatuhkan talak pada istrinya dalam masa haid atau nifas, atau masa suci tetapi
ia telah mendukhulnya.
Dalam Kompilasi Hukum Islam -fikih Indonesia- lebih cendrung mengikuti pendapat
mayoritas Ulama selain Hanafiyah, sebagaimana dinyatakan dalam pasal 121 dan 122.
Pasal 121: Talak sunni adalah talak yang dibolehkan yaitu talak yang dijatuhkan terhadap istri
yang

sedang

suci

dan

tidak

dicampuri

dalam

waktu

suci

tersebut.

Pasal 122: Talak bidi adalah talak yang dilarang, yaitu talak yang dijatuhkan pada waktu istri
dalam keadaan haid, atau istri dalam keadaan suci tapi sudah dicampuri pada waktu suci
tersebut.
2. Talak Raji dan Talak Bain
Talak ditilik dari boleh dan tidak bolehnya rujuk terbagi pada dua macam :
a. Talak raji, dan b. Talak bain.
Talak raji adalah talak yang boleh bagi suami untuk merujuk pada istrinya dengan tanpa
perlu akad baru selama masa iddah, meskipun istri tidak mau untuk dirujuk. Talak raji ini
terjadi dalam talak satu dan dua tetapi setelah masa iddah istri sudah habis, suami tidak
dapat merujuk kembali melainkan dengan akad baru.
Talak bain ada dua macam:
a. Bain shughraa (bain kecil)
b. Bain kubraa (bain besar)
Talak bain shughraa adalah talak yang suami tidak dapat untuk rujuk kembali pada mantan
istrinya, melainkan dengan akad dan mahar baru. Talak bain shughraa terjadi bagi istri yang
belum didukhul, istri yang berkhuluk dengan menyerahkan iwad (ganti rugi), talak yang
dijatuhkan oleh Hakim, dan talak sebab ila. Talak bain kubraa adalah talak yang suami tidak
boleh untuk merujuk kembali kepada istri kecuali bila istri telah kawin lagi dengan orang lain
dan telah dicampurinya, kemudian ia ditalak dan telah berakhir iddahnya dari suami yang
kedua. Talak macam ini terjadi dalam talak tiga

Pengertian Iddah
Menurut bahasa, kata iddah berasal dari kata adad (bilangan dan ihshaak (perhitungan),
seorang wanita yang menghitung dan menjumlah hari dan masa haidh atau masa suci.
Menurut istilah, kata iddah ialah sebutan/nama bagi suatu masa di mana seorang wanita
menanti/menangguhkan perkawinan setelah ia ditinggalkan mati oleh suaminya atau setelah
diceraikan baik dengan menunggu kelahiran bayinya, atau berakhirnya beberapa quru, atau
berakhirnya beberapa bulan yang sudah ditentukan.
- Macam-Macam Masa Iddah
Barangsiapa yang ditinggal mati suaminya, maka, iddahnya empat bulan sepuluh hari, baik
sang isteri sudah dicampuri ataupun belum. Hal ini mengacu pada firman Allah
SWT, Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri
(hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh
hari. (Al-Baqarah :234).
Terkecuali isteri yang sudah dicampuri dan sedang hamil, maka masa iddahnya sampai
melahirkan,Dan wanita-wanita yang hamil, waktu iddah mereka itu adalah sampai mereka
melahirkan kandungannya. (At-Thalaq : 4).
Dari al-Miswar bin Makhramah bahwa, Subaiah al-Aslamiyah r.a. pernah melahirkan dan
bernifas setelah beberapa malam kematian suaminya. Lalu ia, mendatangi Nabi saw lantar
meminta idzin kepada Beliau untuk kawin (lagi). Kemudian Beliau mengizinkannya, lalu ia
segera menikah (lagi). (Muttafaqun alaih: Fathul Bari IX:470 no:5320 dan Muslim II:1122
no:1485).Wanita yang ditalak sebelum sempat dicampuri, maka tidak ada masa iddah
baginya, berdasarkan pada firmannya Allah SWT berfirman, Hai orang-orang yang
beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu
ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya, maka sekali-kali tidak wajib atas mereka
iddah bagimu yang kamu minta, menyempurnakannya. (Al-Ahzaab:49).Sedang wanita yang
ditalak yang sebelumnya sempat dikumpuli dan dalam keadaan hamil maka, masa iddahnya
ialah ia melahirkan anak yang diakndungnya. Allah SWT berfirman, Dan wanita-wanita
hamil, waktu iddah mereka itu adalah sampai mereka melahirkan kandungannya. (AtThalaq:4).Dari az-Zubair bin al-Awwam r.a. bahwa ia mempunyai isteri bernama Ummu
Kultsum bin Uqbah radhiyallahu anha. Kemudian Ummu Kultsum yang sedang hamil
berkata kepadanya, Tenanglah jiwaku (dengan dijatuhi talak satu). Maka az-Zubir pun
menjatuhkan padanya talak satu. Lalu dia keluar pergi mengerjakan shalat, sekembalinya
(dari shalat) ternyata isterinya sudah melahirkan. Kemudian az-Zubir berkata: Gerangan
apakah yang menyebabkan ia menipuku, semoga Allah menipunya (juga). Kemudian dia

datang kepada Nabi saw lalu beliau bersabda kepadanya, Kitabullah sudah menetapkan
waktunya; lamarlah (lagi) di kepada dirinya. (Shahih: Shahih Ibnu Majah no:1546 dan Ibnu
Majah I:653 no:2026). Jika wanita yang dijatuhi talak termasuk perempuan yang masih
berhaidh secara normal, maka masa iddahnya tiga kali haidh berdasarkan Firman
Allah SWT, Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu tiga kali
quru).. (Al-Baqarah :228).
Kata quru berarti haidh. Hal ini mengacu pada hadits Aisyah r.a. bahwa Ummu Habibah r.a.
sering mengeluarkan darah istihadhah(darah yang keluar dari wanita karena sakit atau
lainnya), lalu dia bertanya kepada Nabi saw. (mengenai hal tersebut). Maka Beliau menyuruh
meninggalkan shalat pada hari-hari haidhnya. (Shahih Lighairih: Shahih Abu Daud no:252
dan Aunul Mabud I:463 no:278).
Jika wanita yang dijatuhi talak itu masih kecil, belum mengeluarkan darah hadih atau sudah
lanjut usia yang sudah manopause (berhenti masa haidh), maka iddahnya adalah tiga bulan
lamanya. Allah swt berfirman, Dan perempuan-perempuan yang tidak haidh lagi
(manopause) diantara isteri-isteri kaian jika ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa
iddah mereka adalah tiga bulan. Begitu pula perempuan-perempuan yang belum haidh. (AtThalaq:4)
E. MACAM MACAM HAL YANG DILARANG OLEH AGAMA ISLAM, ANTARA
PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI :
1. PENGERTIAN ZINA
Dalam al-Mujamul Wasith hal 403 disebutkan, Zina ialah seseorang bercampur dengan
seorang wanita tanpa melalui akad yang sesuai dengan syari.
a.

HUKUM ZINA

Zina adalah haram hukumnya, dan ia termasuk dosa besar yang paling besar.
Allah swt berfirman:
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang
keji dan suatu jalan yang buruk. (QS al-Israa: 32) Dari Abdullah bin Masud r.a, ia berkata:
Saya pernah bertanya kepada Rasulullah saw, (Ya Rasulullah), dosa apa yang paling besar?
Jawab Beliau, Yaitu engkau mengangkat tuhan tandingan bagi Allah, padahal Dialah yang
telah menciptakanmu. Lalu saya bertanya (lagi), Kemudian apa lagi? Jawab Beliau,
Engkau membunuh anakmu karena khawatir ia makan denganmu. Kemudian saya bertanya
(lagi). Lalu apa lagi? Jawab Beliau, Engkau berzina dengan isteri tetanggamu.
(Muttafaqun alaih: Fathul Bari XII: 114 No. 6811, Muslim I: 90 No. 86, Aunul Mabud VI:
422 No. 2293 No. Tirmidzi V: 17 No. 3232). Allah swt berfirman: Dan orang-orang yang

tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan
Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa
yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni)
akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu,
dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal
saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Furqaan: 68-70).
Dalam hadist Sumarah bin Jundab yang panjang tentang mimpi Nabi saw, Beliau saw
bersabda:
Kemudian kami berjalan dan sampai kepada suatu bangunan serupa tungku api dan di situ
kedengaran suara hiruk-pikuk. Lalu kami tengok ke dalam, ternyata di situ ada beberapa lakilaki dan perempuan yang telanjang bulat. Dari bawah mereka datang kobaran api dan apabila
kena nyala api itu, mereka memekik. Aku bertanya, Siapakah orang itu Jawabnya, Adapun
sejumlah laki-laki dan perempuan yang telanjang bulat yang berada di dalam bangunan
serupa tungku api itu adalah para pezina laki-laki dan perempuan. (Shahih: Shahihul Jamius
Shaghir no: 3462 dan Fathul Bari XII: 438 no: 7047).
Dari Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah saw. bersabda, Tidaklah seorang hamba berzina
tatkala ia sebagai seorang mumin; dan tidaklah ia mencuri, manakala tatkala ia mencuri
sebagai seorang beriman; dan tidaklah ia meneguk arak ketikaia meneguknya sebagai seorang
beriman; dan tidaklah ia membunuh (orang tak berdosa), manakala ia membunuh sebagai
seorang beriman.
Dalam lanjutan riwayat di atas disebutkan:
Ikrimah berkata, Saya bertanya kepada Ibnu Abbas, Bagaimana cara tercabutnya iman
darinya? Jawab Ibnu Abbas: Begini ia mencengkeram tangan kanan pada tangan kirinya
dan sebaliknya, kemudian ia melepas lagi, lalu manakala dia bertaubat, maka iman kembali
(lagi) kepadanya begini ia mencengkeramkan tangan kanan pada tangan kirinya (lagi) dan
sebaliknya-. (Shahih: Shahihul Jamius Shaghir no: 7708, Fathul Bari XII: 114 no: 6809
dan Nasai VIII: 63).
2. HOMOSEKSUALITAS
Homoseksualitas adalah rasa ketertarikan romantis dan/atau seksual atau perilaku antara
individu berjenis kelamin atau gender yang sama. Sebagai orientasi seksual, homoseksualitas
mengacu kepada "pola berkelanjutan atau disposisi untuk pengalaman seksual, kasih sayang,
atau ketertarikan romantis" terutama atau secara eksklusif pada orang dari jenis kelamin

sama, "Homoseksualitas juga mengacu pada pandangan individu tentang identitas pribadi dan
sosial berdasarkan pada ketertarikan, perilaku ekspresi, dan keanggotaan dalam komunitas
lain yang berbagi itu." Lesbian adalah istilah bagi perempuan yang mengarahkan orientasi
seksualnya kepada sesama perempuan atau disebut juga perempuan yang mencintai
perempuan baik secara fisik, seksual, emosional atau secara spiritual.[1] Istilah ini dapat
digunakan sebagai kata benda jika merujuk pada perempuan yang menyukai sesama jenis,
atau sebagai kata sifat apabila bermakna ciri objek atau aktivitas yang terkait dengan
hubungan sesama jenis antar perempuan (homo seksual) adalah hubungan antara sesama jenis
(laki-laki dengan laki-laki), sedangkan hubungan antara wanita dengan wanita disebut
lesbian. Homo seksual adalah salah satu penyelewengan seksual, karena menyalahi sunnah
Allah, dan menyalahi fitrah makhluk ciptaanNya. Lebih kurang empat belas abad yang lalu,
Al Quran telah memperingatkan umat manusia ini, supaya tidak mengulangi peristiwa kaum
Nabi Luth. Allah berfirman:
Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Lut itu yang di atas ke bawah
(Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan
bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang
yang zalim. (Hud: 82-83)
Pada ayat lain Allah berfirman:
Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri
yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui
batas. (Asy Syuara: 165-166)
Selanjutnya pada ayat lain Allah berfirman:
Dan telah kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang
mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik. (Al
Anbiya: 74)
Setelah Rasulullah menerima wahyu tentang berita kaum Luth yang mendapat kutukan dari
Allah dan merasakan azab yang diturunkanNya, maka beliau merasa khawatir sekiranya
peristiwa itu terulang kembali kepada ummat di masa beliau dan sesudahnya.
Rasulullah bersabda:
Sesuatu yang paling saya takuti terjadi atas kamu adalah perbuatan kaum Luth dan dilaknat
orang yang memperbuat seperti perbuatan mereka itu, Nabi mengulangnya sampai tiga kali:
Allah melaknat orang yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth; Allah melaknat orang yang
berbuat seperti perbuatan kaum Luth; Allah melaknat orang yang berbuat seperti perbuatan

kaum Luth, (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi dan Al Hakim)


3. PEMERKOSAAN
Pemerkosaan adalah suatu tindakan kriminal berwatak seksual yang terjadi ketika seorang
manusia (atau lebih) memaksa manusia lain untuk melakukan hubungan seksual dalam
bentuk penetrasi vagina atau anus dengan penis, anggota tubuh lainnya seperti tangan, atau
dengan benda-benda tertentu secara paksa baik dengan kekerasan atau ancaman kekerasan.
Organisasi Kesehatan Dunia mengartikan pemerkosaan sebagai "penetrasi vagina atau anus
dengan menggunakan penis, anggota-anggota tubuh lain atau suatu benda -- bahkan jika
dangkal -- dengan cara pemaksaan baik fisik atau non-fisik." Mahkamah Kejahatan
Internasional untuk Rwanda tahun 1998 merumuskan pemerkosaan sebagai "invasi fisik
berwatak seksual yang dilakukan kepada seorang manusia dalam keadaan atau lingkungan
yang koersif"
Istilah pemerkosaan dapat pula digunakan dalam arti kiasan, misalnya untuk mengacu kepada
tindakan-tindakan kriminal umum seperti pembantaian, perampokan, penghancuran, dan
penangkapan tidak sah yang dilakukan kepada suatu masyarakat ketika sebuah kota atau
negara dilanda perang.
4. KUMPUL KEBO
Kumpul kebo dalam arti hidup bersama dan melakukan hubungan seksual tanpa menikah,
merupakan fenomena yang sangat biasa dan dimaklumi secara kultural di negara-negara
barat. Contoh paling gamblang adalah kisah banyak pemain sepakbola di liga-liga utama di
Eropa yang hampir selalu hidup serumah dengan pacar-pacarnya kendatipun mereka belum
menikah. Tidak jarang mereka baru menikah setelah memiliki satu atau dua orang anak.
5. PACARAN
Janganlah kamu sekalian mendekati perzinahan, karena zina itu adalah perbuatan yang
keji (QS. Al-Isra : 32).
Istilah pacaran yang dilakukan oleh anak-anak muda sekarang ini tidak ada dalam Islam.
Yang ada dalam Islam ada yang disebut Khitbah atau masa tunangan. Masa tunangan ini
adalah masa perkenalan, sehingga kalau misalnya setelah khitbah putus, tidak akan
mempunyai dampak seperti kalau putus setelah nikah. Dalam masa pertunangan keduanya
boleh bertemu dan berbincang-bincang di tempat yang aman, maksudnya ada orang ketiga
meskipun tidak terlalu dekat duduknya dengan mereka.
Kalau dilihat dari hukum Islam, pacaran yang dilakukan oleh anak-anak sekarang adalah
haram. Mengapa haram?

Karena pacaran itu akan membawa kepada perzinahan dimana zina adalah termasuk dosa
besar, dan perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah. Oleh karena itu ayatnya berbunyi
sebagaimana yang dikutip di awal tulisan ini. Ayat tersebut tidak mengatakan jangan berzina,
tetapi jangan mendekati zina, mengapa demikian ? Karena biasanya orang yang berzina itu
tidak langsung, tetapi melalui tahapan-tahapan seperti : saling memandang, berkenalan,
bercumbu kemudian baru berbuat zina yang terkutuk itu.
6. ONANI DAN MANSTURBASI
Onani/Masturbasi

hukumnya

haram

dikarenakan

merupakan

istimta

(meraih

kesenangan/kenikmatan) dengan cara yang tidak Allah Subhanahu wa Taala halalkan. Allah
tidak membolehkan istimta dan penyaluran kenikmatan seksual kecuali pada istri atau budak
wanita. Allah Subhanahu wa Taala berfirman.Yang artinya : Dan orang-orang yang
menjaga kemaluannya, [6] kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka
miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. [QS Al Mu'minuun: 5 - 6]
Jadi, istimta apapun yang dilakukan bukan pada istri atau budak perempuan, maka tergolong
bentuk kezaliman yang haram. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah memberi petunjuk
kepada para pemuda agar menikah untuk menghilangkan keliaran dan pengaruh negative
syahwat.
Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya : Wahai para pemuda,
barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka hendaklah dia menikah karena
nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedang barangsiapa
yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena puasa itu akan menjadi tameng
baginya. [Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas'ud]
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberi kita petunjuk mematahkan (godaan)
syahwat dan menjauhkan diri dari bahayanya dengan dua cara : berpuasa untuk yang tidak
mampu menikah, dan menikah untuk yang mampu. Petunjuk beliau ini menunjukkan bahwa
tidak ada cara ketiga yang para pemuda diperbolehkan menggunakannya untuk
menghilangkan (godaan) syahwat. Dengan begitu, maka onani/masturbasi haram hukumnya
sehingga tidak boleh dilakukan dalam kondisi apapun menurut jumhur ulama.
Wajib bagi anda untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Taala dan tidak mengulangi
kembali perbuatan seperti itu. Begitu pula, anda harus menjauhi hal-hal yang dapat
mengobarkan syahwat anda, sebagaimana yang anda sebutkan bahwa anda menonton televisi
dan video serta melihat acara-acara yang membangkitkan syahwat. Wajib bagi anda menjauhi
acara-acara itu. Jangan memutar video atau televisi yang menampilkan acara-acara yang
membangkitkan syahwat karena semua itu termasuk sebab-sebab yang mendatangkan

keburukan.
Seorang muslim seyogyanya (selalu) menutup pintu-pintu keburukan untuk dirinya dan
membuka pintu-pintu kebaikan. Segala sesuatu yang mendatangkan keburukan dan fitnah
pada diri anda, hendaknya anda jauhi. Di antara sarana fitnah yang terbesar adalah film dan
drama seri yang menampilkan perempuan-perempuan penggoda dan adegan-adegan yang
membakar syahwat. Jadi anda wajib menjauhi semua itu dan memutus jalannya kepada anda.
Adapun tentang mengulangi shalat witir atau nafilah, itu tidak wajib bagi anda. Perbuatan
dosa yang anda lakukan itu tidak membatalkan witir yang telah anda kerjakan. Jika anda
mengerjakan shalat witir atau nafilah atau tahajjud, kemudian setelah itu anda melakukan
onani, maka onani itulah yang diharamkan anda berdosa karena melakukannya-, sedangkan
ibadah yang anda kerjakan tidaklah batal karenanya. Hal itu karena suatu ibadah jika
ditunaikan dengan tata cara yang sesuai syariat, maka tidak akan batal/gugur kecuali oleh
syirik atau murtad kita berlindung kepada Allah dari keduanya-. Adapun dosa-dosa selain
keduanya, maka tidak membatalkan amal shalih yang terlah dikerjakan, namun pelakunya
tetap berdosa.[Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilah Syaikh Shalih bin Fauzan bin
Abdullah Al-Fauzan IV 273-274].
7. ZINAH MATA
Mata yang merupakan anugerah Allah Azza Wa Jalla, bisa mendatangkan kemuliaan, tetapi
juga bisa mendatangkan laknat yang membinasakan. Mata yang selalu melihat fenomena
kehidupan alam dan seisinya, dan kemudian menimbulkan rasa syukur kepada sang Pencipta,
selanjutnya akan mendatangkan kemuliaan dan kebahagiaan di sisi-Nya. Sebaliknya, mata
yang merupakan anugerah yang paling berharga itu, bisa mendatangkan laknat yang
membinasakan bagi manusia, bila ia menggunakan matanya untuk berbuat khianat terhadap
Rabbnya.
Di dalam Islam ada jenis maksiat yang disebut dengan zina mata (lahadhat). Lahadhat itu,
pandangan kepada hal-hal, yang menuju kemaksiatan. Lahadhat bukan hanya sekadar
memandang, tetapi diikuti dengan pandangan selanjutnya. Pandangan mata adalah sumber
itijah (orientasi) kemuliaan, juga sekaligus duta nafsu syahwat. Seseorang yang menjaga
pandangan berarti ia menjaga kemaluan. Barangsiapa yang mengumbar pandangannya, maka
manusia itu akan masuk kepada hal-hal yang membinasakannya.
Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, pernah menasihati Ali :

Jangan kamu ikuti pandangan pertamamu dengan pandangan kedua dan selanjutnya. Milik
kamu adalah pandangan yang pertama, tapi yang kedua bukan.
Dalam musnad Ahmad, disebutkan, Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, bersabda :
Pandangan adalah panah beracun dari panah-pandah Iblis. Barangsiapa yang
menundukkan pandangannya dari keelokkan wanita yang cantik karena Allah, maka Allah
akan mewariskan dalam hatinya manisnya iman sampai hari kiamat.
Sarah hadist itu, tak lain, seperti di jelaskan oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam:
Abu Hurairoh berkata dari Nabi saw,Sesungguhnya Allah telah menetapkan terhadap anakanak Adam bagian dari zina yang bisa jadi ia mengalaminya dan hal itu tidaklah mustahil.
Zina mata adalah pandangan, zina lisan adalah perkataan dimana diri ini menginginkan dan
menyukai serta kemaluan membenarkan itu semua atau mendustainya. (HR. Bukhori)
Imam Bukhori memasukan hadits ini kedalam Bab Zina Anggota Tubuh Selain Kemaluan,
artinya bahwa zina tidak hanya terbatas pada apa yang dilakukan oleh kemaluan seseorang
saja. Namun zina bisa dilakukan dengan mata melalui pandangan dan penglihatannya kepada
sesuatu yang tidak dihalalkan, zina bisa dilakukan dengan lisannya dengan membicarakan
hal-hal yang tidak benar dan zina juga bisa dilakukan dengan tangannya berupa menyentuh,
memegang sesuatu yang diharamkan.
Ibnu Hajar menyebutkan pendapat Ibnu Bathol yaitu,Pandangan dan pembicaraan
dinamakan dengan zina dikarenakan kedua hal tersebut menuntun seseorang untuk
melakukan perzinahan yang sebenarnya. Karena itu kata selanjutnya adalah serta kemaluan
membenarkan itu semua atau mendustainya. (Fathul Bari juz XI hal 28)
Meskipun demikian hukum zina tangan, lisan dan mata tidaklah sama dengan zina
sebenarnya yang wajib atasnya hadd. Si pelakunya hanya dikenakan teguran dan peringatan
keras.
DR Wahbah menyebutkan bahwa pelaku onani haruslah diberi teguran keras dan tidak
dikenakan atasnya hadd. (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz VII hal 5348)
Begitu pula penjelasan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan bersandar pada pendapat yang
paling benar dari Imam Ahmad bahwa pelaku onani haruslah diberikan teguran keras.
(Majmu al Fatawa juz XXIV hal 145)

Ibnul Qoyyim mengatakan,Adapun teguran adalah pada setiap kemaksiatan yang tidak ada
hadd (hukuman) dan juga tidak ada kafaratnya. Sesungguhnya kemaksiatan itu mencakup tiga
macam :
1. Kemaksiatan yang didalamnya ada hadd dan kafarat.
2. Kemaksiatan yang didalamnya hanya ada kafarat tidak ada hadd.
3. Kemaksiatan yang didalamnya tidak ada hadd dan tidak ada kafarat.
Adapun contoh dari macam yang pertama adalah mencuri, minum khomr, zina dan
menuduhorang berzina. Adapun contoh dari macam kedua adalah berjima pada siang hari di
bulan Ramadhan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pernikahan yaitu ikatan dua orang hamba berbeda jenis dengan suatu ikatan akad
2. Hukum-hukumnya nikah adalah jaiz, sunnat, wajib, makruh, haram.
3. Diantaranya rukun-rukun nikah adalah mempelai laki-laki, mempelai perempuan, wali, dua
orang saksi, sighat.
4. Tujuan adanya pernikahanan ternyata sangat banyak ditinjau dari berbagai sisi
B. Hikmah
1. Pernikahan yang sah menjadikan hubungan antara seorang laki-laki dan perempuan yang
bukan muhrim menjadi halal.
2. Pernikahan menjadi sah dengan rukun dan syarat nikah.
C. Saran
Akhirnya, pemakalah mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut
membantu di dalam menyelesaikan makalah kami ini. Disamping itu, kritik dan saran dari
mahasiswa serta dosen pengampu dan para pembaca sangat kami harapkan, demi kebaikan

kita bersama terutama bagi pemakalah.

DAFTAR PUSTAKA
NON BUKU
https://id.wikipedia.org/wiki/Pernikahan_dalam_Islam
http://www.ahmadzain.com/read/karya-tulis/271/pengertian-menikah-dan-hukumnya/
http://rezkirasyak.blogspot.co.id/2012/10/makalah-pendidikan-agama-islam.html
http://ariefjamiel.blogspot.co.id/2012/03/peminangan-syarat-rukun-dan-pencatatan.html
http://www.konsultasisyariah.com/9-hal-yang-diharamkan-terkait-perempuan/
http://www.arrahmah.com/kajian-islam/dosa-besar-zina-sebab-dan-azabnya.html