Anda di halaman 1dari 16

Inkontinensia Urin pada Geriatri

Mutiara Nur Adinda


102013298
Fakultas Kedokteran UKRIDA 2013
Alamat Korespondensi:
Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana
Jalan Terusan Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510
dinda_indigo@yahoo.com

Abstrak
Manusia seperti pada umumnya mahkluk hidup lainnya akan memasuki stadium
penuaan di akhir hidupnya. Stadium penuaan ini menyebabkan penurunan kondisi fisiologis
dan biokimia dalam tubuh manusia, sehingga terjadi penurunan atau kemunduran fungsi
organ-organ, yang biasanya normal menjadi abnormal. Salah satu kemunduran fungsi ini
adalah Inkontinensia urin. Yaitu suatu kondisi dimana urine akan keluar secara tiba-tiba dan
tidak bisa ditahan seperti ketika masih muda dulu. Hal ini sangat menganggu kegiatan
penderita. Patut diperhatikan bahwa menjadi menua bukanlah faktor penyebab inkontinensia
urin.
Kata kunci : menua, inkontinensia urin.

Abstract
Humans like most other living beings will enter the stage of 'aging' at the end of their
life. This stadium causes a decrease in physiological and biochemical conditions in the
human body, resulting in a decrease or organs function decline, which is usually normal to
be abnormal. One setback This function is urinary incontinence. That is a condition which
urine will come out suddenly and can not be arrested like when a young. It is very disturbing
activity of the patient. It is noteworthy that being age is not a factor causing urinary
incontinence.
Keywords: aging, urinary incontinence.

Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia butuh makan dan minum. Beberapa zat yang
terkandung dalam makan atau minum yang masuk tubuh kita, ada yang dipakai oleh tubuh
kita dan ada juga yang dibuang oleh tubuh kita. Zat-zat yang dipakai tubuh kita akan
disekresi dan diserap untuk keperluan tubuh kita, sedangkan zat-zat yang akan dibuang
dalam arti tidak dibutuhkan tubuh kita akan dibuang (dieksresi) keluar tubuh kita melalui
system urinaria.
Sistem urinaria merupakan system dimana zat-zat yang ada dalam tubuh kita sudah
tidak terpakai lagi dan akan dibuang melalui saluran system urinaria. Di sana terjadi berbagai
mekanisme sebelum proses pengekskresian itu dimulai.
Anamnesis
Pada anamnesis kita dapat langsung menanyakan pada pasien yang bersangkutan
(auto-anamnesis) maupun keluarga pasien (allo-anamnesis) jika pasien tidak dapat
berkomunikasi dengan baik akibat gangguan yang timbul pada usia lanjut (seperti sering
lupa) atau dengan tujuan memperlengkap data pasien.1
Pada anamnesis yang dapat kita tanyakan adalah:
Apakah pasien merasa ada sisa-sisa urine yang menetes setelah buang air kecil.
Apakah disaat pasien melakukan kegiatan yang menyebabkan peningkatan tekanan intra
abdomen seperti tertawa atau batuk tanpa sadar ia berkemih.
Apakah ada kemungkinan pasien mengalami trauma tulang belakang sehingga
menimbulkan refleks kencing.
Seberapa besar volume urine yang keluar pada saat berkemih
Apakah ada perubahan warna yang khas pada urine pasien serta adakah rasa nyeri saat
berkemih
Tanyakan apa pasien memiliki riwayat penyakit diabetes yang dapat meningkatkan
volume urin
Riwayat Penyakit Dahulu.
Tanyakan mengenai:
Riwayat persalinan, kehamilan dan operasi sebelumnya (misalnya histerektomi,)?
Riwayat kondisi neorologis sebelumnya (misalnya demensia, stroke)?
Prosedur bedah tertentu untuk inkontinensia.
Obat-obatan.
Apakah pasien mengkonsumsi diuretic, terapi untuk instabilitas detrusor atau
desmopresin?
Apakah pasien mengkonsumsi obat-obatan hipnotik atau anti kolinergik?
Tetap perhatikan umur pasien. Penyakit ini sangat berhubungan dengan kelompok usia
yang sudah lanjut. Penderita usia muda kemungkinan mengalami ini karena trauma benturan.
Selain itu jangan lupakan kemungkinan komplikasi yang terjadi seperti adanya infeksi
2

saluran kemih dan ulkus dekubitus. Sedangkan pada wanita, inkontinensia dapat terjadi
akibat melemahnya otot dasar panggul karena sering melahirkan. Kemungkinan ini juga perlu
dipikirkan saat melakukan anamnesis. Pada pasien-pasien yang mengalami distensi kandung
kemih kronik, seperti pada pasien dengan hipertrofi prostat, selalu ada sejumlah besar urin
residu. Tekanan di dalam kandung kemih terus-menerus meningkat . sedikit peningkatan
tekanan intra-abdomen memperbesar tekanan intravesikur sehingga cukup mengatasi
resistensi leher kandung kemih, dan urin keluar.1

Pemeriksaan fisik
Tujuan pemeriksaan fisik adalah mengenali pemicu inkontinensia urin dan membantu
menetapkan patofisiologinya. Selain pemeriksaan fisik umum yang selalu harus dilakukan,
pemeriksaan terhadap abdomen, genitalia, rectum, fungsi neurologis, dan pelvis (pada
wanita) sangat diperlukan.

Pemeriksaan abdomen harus mengenali adanya kandung kemih yang penuh, rasa
nyeri, massa, atau riwayat pembedahan.

Kondisi kulit dan abnormalitas anatomis harus diidentifikasi ketika memeriksa


genitalia.

Pemeriksaan rectum terutama dilakukan untuk medapatkan adanya obstipasi atau


skibala, dan evaluasi tonus sfingter, sensasi perineal, dan refleks bulbokavernosus.
Nodul prostat dapat dikenali pada saat pemeriksaan rectum.

Pemeriksaan pelvis mengevaluasi adanya atrofi mukosa, vaginitis atrofi, massa, tonus
otot, prolaps pelvis, dan adanya sistokel atau rektokel.

Evaluasi neurologis sebagian diperoleh saat pemeriksaan rectum ketika pemeriksan


sensasi perineum, tonus anus, dan refles bulbokavernosus. Pemeriksaan neurologis
juga perlu mengevaluasi penyakit-penyakit yang dapat diobati seperti kompresi
medula spinalis dan penyakit parkinson.

Pemeriksaan fisik juga meliputi pengkajian terhadap status fungsional dan kognitif,
memperhatikan apakah pasien menyadari keinginan untuk berkemih dan mengunakan toilet.
Pemeriksaan tanda-tanda vital yang didapat adalah pemeriksaan suhu tubuh (hasil: 37 oC),
tekanan darah (hasil: 130/80 mmHg), nadi (hasil: 55x/menit) dan respiratory rate (20x/menit).
Hasil pengukuran tinggi badan adalah 150 cm dengan berat badan 60 kg.
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan suhu tubuh yang tinggi (normal: 36,5-37,5 oC),
tekanan darah tinggi (130/80 mmHg) , denyut nadi sedikit kurang dibanding denyut nadi
normal (60-100x/menit) dengan hasil 55x/menit, respiratory rate normal dengan hasil
20x/menit (16-24x/menit).

Pemeriksaan Penunjang
Test diagnostik lanjut yaitu sistourethroskopi dan diagnostik imaging.
Sistourethroskopi dikerjakan dengan anestesi umum maupun tanpa anestesi, dapat dilihat
keadaan patologi seperti fistula, ureter ektopik maupun divertikulum. Test urodinamik
meliputi uroflowmetri dan sistometri. Sistometri merupakan test yang paling penting, karena
dapat menunjukan keadaan kandung kemih yang hiperaktif, normal maupun hipoaktif.
Diagnostik imaging meliputi USG, CT scan dan IVP yang digunakan untuk mengidentifikasi
kelainan patologi (seperti fistel/tumor) dan kelainan anatomi (ureter ektopik).2
Test sederhana dapat dikerjakan setelah pemeriksaan fisik untuk membantu dalam
menentukan tindakan selanjutnya. Test Q-tip (the cotton swab test), merupakan test
sederhana untuk menunjukan adanya inkontinensia stres sejati. Penderita disuruh
mengosongkan kandung kemihnya, urine ditampung. Kemudian spesimen urine diambil
dengan kateterisasi. Jumlah urine dari kencing dan kateter merupakan volume kandung
kemih. Volume residual menguatkan diagnosis inkontinensia luapan. Spesimen urine dikirim
ke laboratorium.2
Dapat juga menggunakan pemeriksaan Urinalisis. Dilakukan terhadap spesimen urin
yang bersih untuk mendeteksi adanya faktor yang berperan terhadap terjadinya inkontinensia
urin seperti hematuri, piouri, bakteriuri, glukosuria, dan proteinuria. Tes diagnostik lanjutan
perlu dilanjutkan bila evaluasi awal didiagnosis belum jelas. Tes lanjutan tersebut adalah :

Tes laboratorium tambahan seperti kultur urin, blood urea nitrogen, creatinin,
kalsium glukosa sitologi.
Tes urodinamik untuk mengetahui anatomi dan fungsi saluran kemih bagian
bawah
Tes tekanan urethra mengukur tekanan di dalam urethra saat istirahat dan saat
dianmis.
Imaging tes terhadap saluran perkemihan bagian atas dan bawah.3
Working Diagnosis
Pada kasus ini, pasien menderita inkontinentia campuran (inkontinentia stress dan
inkontinentia urgensi). Dikarenakan inkontinentia stress dapat terjadi akibat outlet kandung
kemih atau sfingter yang tidak kompeten. Apa saja yang mengakibatkan tambahan tekanan
intra-abdominal. Tambahan tekanan intra-abdominal dapat terjadi akibat obesitas, kehamilan,
mengangkat barang berat, batuk, bersin, tertawa, gerak badan, dan seterusnya. Sedangkan
inkontinentia urgensi dikaitkan pengeluaran urine yang tidak dapat ditahan dan segera keluar
(urgensi).1
Differential Diagnosis
Inkontinensia overflow merupakan hilangnya kendali miksi involunter yang
berhubungan dengan distensi kandung kemih yang berlebihan. Hal ini dapat terjadi secara
sekunder dari kerusakan otot detrusor yang memicu kelemahan detrusor. Selain itu obstruksi
uretra juga dapat memicu distensi kandung kemih dan inkontinensi overflow. Inkontinensia
overflow terjadi pada keadaan kandung kemih yang lumpuh akut atau kronik yang terisi
4

terlalu penuh, sehingga tekanan kandung kemih dapat naik tinggi, meningkatnya tegangan
kandung kemih akibat obstruksi prostat hipertrofi pada laki-laki atau lemahnya otot detrusor
akibat diabetes melitus, trauma medula spinalis, obat-obatan. Manifestasi klinisnya berupa
pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna mengakibatkan urine menetes lewat
uretra secara intermitten atau keluar tetes demi tetes.1
Epidemiologi
Di masyarakat barat, sebagian besar studi epidemiologis mengindikasikan prevalensi
sebesar 25-55%. Kisaran yang luas ini diatribusikan ke varietas luas yang sama dengan
metodologi investigasinya, karakteristik populasinya, dan definisi inkontinensia sendiri.
Terlebih lagi data yang ada sekarang jauh lebih terbatasi oleh fakta bahwa sebagian besar
wanita tidak memperhatikan kondisi tersebut (Hunskaar, 2000). Diperkirakan hanya 1 dari 4
wanita yang mencari bantuan medis mengenai inkontinensia yang mereka alami karena :
malu, akses yang terbatas ke pelayanan kesehatan, atau skrining yang kurang oleh penyedia
layanan kesehatan (Hagstad, 1985). Kondisi yang paling sering ditemukan adalah SUI, yaitu
sekitar 29-75% kasus. Overaktivitas detrusor mencapai 33% kasus inkontinensia, sedangkan
sisanya berupa bentuk campuran (MUI) (Hunskaar, 2000).1
Inkontinensia urin signifikan menurunkan kualitas hidup penderitanya, yang
mengarah pada terganggunya hubungan sosial, distres psikologis karena malu dan frustasi,
rawat inap karena gangguan kulit dan infeksi traktus urinarius, serta perawatan di rumah
(nursing home admission). Wanita tua penderita inkontinensia 2,5 kali lebih mungkin
menjalani nursing home daripada yang kontinensia (Langa, 2002).1

Etiologi
Klasifikasi Inkontinensia Urin
1. Inkontinensia Urin Akut Reversibel1
Untuk mempermudah mengingat penyebab inkontinensia urin akut reversible dapat dilihat
akronim di bawah ini :
D Delirium. Sensorium yang berkabut akan menghalangi kemampuan pasien untuk
mengenali keinginan urinasi dan lokasi MCK terdekat.
I Infeksi. Infeksi traktus urinarius yang simtomatik sering menyebabkan timbulnya
keadaan inkontinensia; infeksi yang asimtomatik tidak menimbulkan masalah ini.
A Uretritis/vaginitis atrofik. Uretritis/vaginitis atrofik, yang ditandai dengan adanya ptekie,
erosi, eritema atau kerapuhan jaringan umumnya akan menyebabkan inkontinensia urin pada
perempuan dan member respons terhadap pengobatan estrogen dosis rendah dalam waktu
singkat.
P Pharmaceuticals (Obat-obatan). Diuretic dapat meningkatkan output cairan melalui
berkemih. Obat antikolinergik (antihistamin, disopiramid) meningkatkan retensi urin dan
delirium. Berbagai macam obat juga dapat mencetuskan terjadinya inkontinensia urin seperti

Calcium Channel Blocker, agonist adrenergic alfa, analgesic narcotic, psikotropik,


antikolinergik dan diuretic.
P psikologik. Depresi dapat mengakibatkan inkontinensia. Meskipun jarang ditemukan.
E excess urine output (Curah urin yang berlebihan) Curah urin yang berlebihan dapat
menyebabkan pasien tidak berhasil mencapai toilet pada batunya. Penyebab keadaan ini bisa
karena penggunaan diuretic dan abnormalitas metabolism
E Restricted mobility. Hambatan mobiltias untuk mencapai tempat berkemih
S Stool impaction. Impaksi feses juga merupakan penyebab yang merupakan penyebab
tersering dari inkontinensia pada mereka yang dirawat atau imobil. Bila obstipasi diatasi,
akan memulihkan kontinens lagi.
2. Inkontinensia Urin Persisten
Inkontinensia urin persisten dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara, meliputi anatomi,
patofisiologi dan klinis. Untuk kepentingan praktek klinis, klasifikasi klinis lebih bermanfaat
karena dapat membantu evaluasi dan intervensi klinis.3
Kategori klinis meliputi :
Inkontinensia urin stress, kelainan ini, yang menempati urutan nomor dua di antara penyebab
inkontinensia permanen yang paling sering ditemukan pada perempuan lanjut usia
(inkontinensia stress jarang dijumpai pada laki-laki). Tak terkendalinya aliran urin akibat
meningkatnya tekanan intraabdominal, seperti pada saat batuk, bersin atau berolah raga.3
Inkontinensia urin urgensi
Kelainan ini (kontraksi kandung kemih tanpa hambatan) menyebabkan dua per 3
kasus inkontinensia geriatric pada kedua jenis kelamin, dengan mengabaikan apakah pasien
menderita demensia. Inkontinensia urin jenis ini umumnya dikaitkan dengan kontraksi
detrusor tak terkendali (detrusor overactivity). Rasa ingin miksi biasanya terjadi, bukan
hanya karena detrusor (urgensi motorik), akan tetapi juga akibat fenomena sensorik (urgensi
sensorik). Urgensi sensorik terjadi karena adanya faktor iritasi lokal, yang sering
dihubungkan dengan gangguan meatus uretra, divertikula uretra, sistitis, uretritis dan infeksi
pada vagina dan serviks. Sedangkan pada urgensi motorik penyebabnya adalah tumor pada
susunan saraf pusat, sklerosis multipel, penyakit Parkinson, gangguan pada sumsum tulang,
tumor/batu pada kandung kemih, sistitis radiasi, sistitis interstisial. Pengobatan ditujukan
pada penyebabnya. Sedang urgensi motorik lebih sering dihubungkan dengan terapi suportif,
2
termasuk pemberian sedativa dan antikolinegrik.
Inkontinensia urin overflow
Pasien umumnya mengeluh keluarnya sedikit urin tanpa adanya sensasi bahwa
kandung kemih sudah penuh. Inkontinensia luapan yaitu keluarnya urine secara involunter
ketika tekanan intravesikal melebihi tekanan maksimal maksimal uretra akibat dari distensi
kandung kemih tanpa adanya aktifitas detrusor.Terjadi pada keadaan kandung kemih yang
lumpuh akut atau kronik yang terisi terlalu penuh, sehingga tekanan kandung kemih dapat
naik tinggi sekali tanpa disertai kontraksi sehingga akhirnya urine menetes lewat uretra secara
intermitten atau keluar tetes demi tetes.1
6

Apakah idiopatik atau disebabkan oleh gangguan fungsi sakralis motorik bagian
bawah, keadaan ini merupakan penyebab inkontinensia yang paling jarang ditemukan (<10
% kasus). Jika penurunan aktivitas muskulus detrusor menyebabkan inkontinensia, kedaan ini
akan disertai gejalan sering berkemih, nokturia, dan urinasi yang sedikit-sedikit tapi sering.
Kenaikan volume urin sisa setelah urinasi (umumnya bisa lebih dari 400 ml) membedakan
keadaan ini dengan inkontinensia akibat berlebihannya aktivitas otot detrusor. Penyebab
kelainan ini berasal dari penyakit neurogen, seperti akibat cedera vertebra, sklerosis multipel,
penyakit serebrovaskular, meningomyelokel, trauma kapitis, serta tumor otak dan medula
spinalis.1
Inkontinensia urin fungsional
Memerlukan identifikasi semua komponen tidak terkendalinya pengeluaran urin
akibat faktor-faktor di luar saluran kemih. Penyebab tersering adalah demensia berat, masalah
muskuloskeletal berat, faktor lingkungan yang menyebabkan kesulitan unutk pergi ke kamar
mandi, dan faktor psikologis.2

Inkontinensia kombinasi
Orang sering kali mengeluh gejala kombinasi stress dan urgensi, yang disebut
inkontinensia kombinasi. Inkontinensia kombinasi terutama sering dialami oleh wanita pasca
menopause.2
Patofisiologi
Proses Miksi
Secara normal proses berkemih merupakan proses dinamik yang memerlukan
rangkaian koordiansi proses fisiologik yang berurutan. Secara umum terdapat 2 fase yaitu
fase pengisian dan fase pengosongan. Diperlukan keutuhan struktur dan fungsi komponen
saluran kemih bawah, kognitif, fisik, motivasi dan lingkungan. Pada keadaan normal selama
fase pengisian tidak terjadi kebocoran urine, walaupun kandung kemih penuh atau tekanan
intraabdomen meningkat seperti sewaktu batuk, meloncat-loncat atau kencing dan
peningkatan isi kandung kemih memperbesar keinginan ini. Pada keadaan normal, dalam hal
demikian pun tidak terjadi kebocoran di luar kesadaran. Pada fase pengosongan, isi seluruh
kandung kemih dikosongkan sama sekali. Orang dewasa dapat mempercepat atau
memperlambat miksi menurut kehendaknya secara sadar, tanpa dipengaruhi kuatnya rasa
ingin kencing.2
Cara kerja kandung kemih yaitu sewaktu fase pengisian otot kandung kemih tetap
kendor sehingga meskipun volume kandung kemih meningkat, tekanan di dalam kandung
kemih tetap rendah. Sebaliknya otot-otot yang merupakan mekanisme penutupan selalu
dalam keadaan tegang. Dengan demikian maka uretra tetap tertutup. Sewaktu miksi, tekanan
di dalam kandung kemih meningkat karena kontraksi aktif otot-ototnya, sementara terjadi
pengendoran mekanisme penutup di dalam uretra. Uretra membuka dan urine memancar
keluar. Ada semacam kerjasama antara otot-otot kandung kemih dan uretra, baik semasa fase

pengisian maupun sewaktu fase pengeluaran. Pada kedua fase itu urine tidak boleh mengalir
balik ke dalam ureter (refluks). 2
Ada mekanisme yang berada di luar kendali dalam melaksanakan proses berkemih.
Proses ini dikendalikan oleh sistem saraf. Sfingter uretra eksternal dan otot dasar panggul
berada dibawah kendali saraf pudendal (somatic), sedangkan otot detrusor kandung kemih
dan sfingter uretra internal berada di bawah kontrol sistem saraf otonom.5
Vesika urinaria terdiri atas 4 lapisan, yaitu lapisan serosa, lapisan otot detrusor,
lapisan submukosa dan lapisan mukosa. Otot detrusor adalah otot kontraktil yang terdiri atas
beberapa lapisan kandung kemih. Mekanisme detrusor meliputi otot detrusor, saraf pelvis,
medula spinalis dan pusat saraf yang mengontrol berkemih. Ketika kandung kemih
seseorang mulai terisi oleh urin, rangsang saraf diteruskan melalui saraf pelvis dan medula
spinalis kepusat saraf kortikal dan subkortikal. Pusat subkortikal (pada ganglia basal dan
serebelum) menyebabkan kandung kemih berelaksasi sehingga dapat mengisi tanpa
menyebabkan seseorang mengalami desakan untuk berkemih. Ketika urine mulai mengisi
kandung kemih, pusat subkortikal akan bekerja agar otot-otot pada kandung kemih dapat
berelaksasi sehingga dapat berdistensi untuk menampung urin hasil proses di ginjal. Ketika
pengisian ini berlanjut akan tercapai suatu volume tertentu (biasanya 200 ml) yang memicu
pusat kortikal yang ada pada lobus frontal untuk bekerja mengurangi pasokan urine yang
masuk ke dalam kandung kemih. Gangguan pada pusat korikal dan subkortikal karena obat
atau penyakit dapat mengurangi kemampuan menunda pengeluaran urin. Pada pusat yang
lebih rendah yaitu batang otak dan saraf supra spinal memfasilitasi proses miksi dengan
mendukung proses kontraksi otot yang terjadi. Gangguan yang mungkin terjadi pada kedua
bagian otak ini yang dapat menyebabkan pengurangan kemampuan penundaan pengeluaran
urin.6
Saat otot detrusor berelaksasi terjadi pengisian kandung kemih, dan bila otot ini
mengalami kontraksi maka urine yang telaha tertampung didalamnya akan dikeluarkan.
Proses kontraksi ini berlangsung akibat kerja saraf parasimpatis, sedangkan penutupan
sfingter vesika urinaria agar dapat menampung urin dikerjakan oleh saraf simpatis yang
dipicu oleh noradrenalin.1,3 Ketika terjadi desakan untuk berkemih, maka rangsang saraf dari
daerah korteks akan disalurkan melalui medula spinalis ke saraf pelvis. Aksi saraf
parasimpatis ini akan memicu terjadinya kontraksi. Namun kontraksi ini tidak hanya sematamata tergantung kepada aktivitas saraf yang bersifat kolinergik. Otot detrusor memiliki
reseptor prostaglandin. Obat-obat yang menyebabkan inhibisi pada prostaglandin tentu saja
akan mempengaruhi kontraksi m. Detrusor. Selain itu kontaksi otot detrusor juga bergantung
pada calcium-channel. Oleh karena itu bila pemberian calcium channel blocker seperti pada
pasien hipertensi dapat menyebabkan terjadinya gangguan kontraksi kandung kemih.1
Ketika terjadi desakan berkemih, rangsang saraf dari koteks disalurkan melalui
medula spinalis dan saraf pelvis ke otot detrusor. Aksi kolinergik dari saraf pelvis kemudian
menyebabkan otot detrusor berkontraksi sehingga terjadi pengosongan kandung kemih.
Interferensi aktivitas kolinergik saraf pelvis menyebabkan pengurangan kontraktilitas otot.
Selain faktor dari kandung kemih, juga harus diperhatikan sfingter uretra baik yang interna
8

dan eksterna. Proses kontraksi pada sfingter uretra dipengaruhi oleh aktivitas dari adrenergik
alfa. Pengobatan yang sifatnya agonis terhadap adrenergik alfa (pseudoefedrin) dapat
memperkuat kontraksi dari sfingter sehingga menahan urin secara berkelanjutan. Sedangkan
obat alpha-blocking dapat mengganggu penutupan sfingter. Persarafan adrenergik beta dapat
menyebabkan relaksasi pada sfingter uretra. Obat yang bersifat beta-adrenergic blocking
dapat mengganggu karena menyebabkan relaksasi uretra dan melepaskan aktivitas kontraktil
adrenergik alfa.1
Proses Menua dan Inkontinensia Urin
Kejadian inkontinensia urin meningkat seiring dengan lanjutnya usia. Usia lanjut
bukan penyebab terjadinya inkontinensia urin, artinya sindrom ini bukan kondisi normal pada
usia lanjut melainkan merupakan factor presdiposisi. Proses menua pada laki-laki maupun
perempuan telah mengakibatkan perubahan-perubahan anatomis dan fisiologis pada system
urogenital bagian bawah. Perubahan-perubahan tersebut berkaitan dengan penurunan kadar
estrogen pada perempuan dan hormone androgen pada lelaki. Pada dinding kandung kemih
terjadi peningkatan fibrosis dan kandungan kolagen sehingga mengakibatkan fungsi
kontraktil tidak efektif lagi, dan mudah terbentuk trabekulasi sampai divertikel. Atrofi
mukosa, perubahan vaskularisasi submukosa, dan menipisnya lapisan otot uretra
mengakibatkan menurunnya tekanan outflow. Pada laki-laki sering terjadi pengecilan testis
dan pembesaran prostat sedangkan pada perempuan terjadi penipisan dinding dinding vagina
dengan timbulnya eritema atau ptekiae , pemendekan dan penyempitan ruang vagina serta
berkurangnya lubrikasi.6
Telah diketahui dengan baik bahwa dasar panggul mempunyai peran penting dalam
dinamika miksi dan mempertahankan kondisi kontinen, melemahnya fungsi dasar panggul
disebabkan oleh banyak factor baik fisiologis maupun patologis (trauma, operasi, denervasi
neurologic). Secara keseluruhan perubahan akibat proses menua pada system urogenital
bawah mengakibatkan posisi kandung kemih prolaps. Dapat dipahami bahwa usia lanjut
merupakan factor konteributor terjadinya inkontinensia tipe stress, urgensi, luapan
(overflow).6
Table No.1 Perubahan Fisiologik Terkait Proses Menua pada Saluran Kemih Bawah6
Kandung kemih
Perubahan morfologis
Trabekulasi
Fibrosis
Saraf autonom
Pembentukan divertikula
Perubahan fisiologis
Kapasitas
Kemampuan menahan kencing
Kontraksi involunter
Volume residu pasca berkemih
Uretra
Perubahan morfologis
Komponen selular
9

Prostat
Vagina
Dasar panggul

Deposit kolagen
Perubahan fisiologis
Tekanan penutupan
Tekanan akhiran keluar
Hiperplasi dan membesar
Komponen selular
Mukosa atrofi
Deposit kolagen
Rasio jaringan ikat-otot
Otot melemah

Inkontinensia Campuran (Stres dan Urgensi) pada Usia Lanjut


Inkontinensia stres biasanya disebabkan oleh lemahnya mekanisme penutup. Keluhan
khas yaitu mengeluarkan urine sewaktu batuk, bersin, menaiki tangga atau melakukan
gerakan mendadak, berdiri sesudah berbaring atau duduk.Umumnya disebabkan oleh
melemahnya otot dasar panggul, merupakan penyebab tersering inkontinensia urin pada
lansia di bawah 75 tahun. Lebih sering terjadi pada wanita tetapi mungkin terjadi pada lakilaki akibat kerusakan pada sfingter urethra setelah pembedahan transurethral dan radiasi.
Pasien mengeluh mengeluarkan urin pada saat tertawa, batuk, atau berdiri. Jumlah urin yang
keluar dapat sedikit atau banyak. Melemahnya fungsi otot dasar panggul yang disebabkan
oleh berbagai macam operasi, denervasi dan gangguan neurologik dapat menyebabkan
prolaps pada kandung kemih sehingga melemahkan tekanan akhir kemih keluar. Hal ini dapat
memicu terjadinya inkontinensia. Urin residunya tidak berarti.7
Gerakan semacam itu dapat meningkatkan tekanan dalam abdomen dan karena itu
juga di dalam kandung kemih. Otot uretra tidak dapat melawan tekanan ini dan keluarlah
urine. Kebanyakan keluhan ini progresif perlahan-lahan; kadang terjadi sesudah melahirkan.
Akibatnya penderita harus sering menganti pakaian dalam dan bila perlu juga pembalut
wanita. Frekuensi berganti pakaian, dan juga jumlah pembalut wanita yang diperlukan setiap
hari, merupakan ukuran kegawatan keluhan inkontinensia ini. Biasanya dalam pemeriksaan
badan tidak dijumpai kelainan pada ginjal dan kandung kemih.7
Inkontinensia tipe urgensi diakibatkan oleh Aktivitas detrusor yang berlebihan. Ini
dapat didiagnosis secara presumtif pada seorang perempuan atau kebocoran urin terjadi tanpa
adanya stress/penekanan atau retensi urin dan didahului oleh timbulnya keinginan yang kuat
secara tiba-tiba untuk buang air kecil tanpa diraasa terlebih dahulu. Pada laki-laki, gejalanya
serupa, tetapi karena aktivitas detrusor yang berlebihan bisa bersama-sama dengan obstruksi
uretra. Penyebabnya terkadang adalah idiopatik, diperkirakan didapatkan pada sekitar 10%
wanita, akan tetapi hanya sebagian kecil yang menimbulkan inkontinensia karena mekanisme
distal masih dapat memelihara inkontinensia pada keadaan kontraksi yang tidak stabil.
Keluarnya urin secara tak terkendali dikaitkan dengan sensasi keinginan berkemih.
Inkontinensia urin jenis ini umumnya dikaitkan dengan kontraksi detrusor tak terkendali
10

(detrusor overactivity). Masalah-masalah neurologis sering dikaitkan dengan inkontinensia


urin urgensi ini, meliputi stroke, penyakit Parkinson, demensia dan cedera medula spinalis.
Pasien mengeluh tak cukup waktu untuk sampai di toilet setelah timbul keinginan untuk
berkemih sehingga timbul peristiwa inkontinensia urin. Inkontinensia tipe urgensi ini
merupakan penyebab tersering inkontinensia pada lansia di atas 75 tahun. Satu variasi
inkontinensia urgensi adalah hiperaktifitas detrusor dengan kontraktilitas yang terganggu.
Pasien mengalami kontraksi involunter tetapi tidak dapat mengosongkan kandung kemih
sama sekali.8
Gejala Klinis
Pembagian inkontinensia uri berdasarkan pola gejalanya8
Jenis

Definisi

Penyebab

Ketidakmampuan untuk menunda


pengeluaran air kemih lebih dari
beberapa menit setelah penderita
merasakan kandung kemihnya
penuh

Infeksi saluran kemih

Kandung kemih yg
terlalu aktif

Penyumbatan aliran
kemih
Batu & tumor kandung
empedu
Obat, terutama diuretik

Inkontinensia
karena stres

Kebocoran air kemih, biasanya


berupa
pancaran
kecil,
yg
disebabkan oleh meningkatnya
tekanan di dalam perut, yg terjadi
pada saat penderita batuk, tertawa,
mengedan, bersin atau mengangkat
benda berat

Kelemahan pada
sfingter
(otot
yg
mengendalikan
aliran
kemih dari kandung kemih)

Pada
wanita,
berkurangnya
tahanan
terhadap aliran kemih
melalui uretra, biasanya
karena
kekurangan
estrogen
Perubahan anatomis yg
disebabkan
oleh
melahirkan banyak anak
atau pembedahan panggul

Pada
pria,
pengangkatan prostat atau
cedera pada bagian atas
uretra atau leher kandung
kemih

Inkontinensia
overflow

Penimbunan air kemih dalam Penyumbatan aliran air


kandung kemih yg terlalu banyak kemih,
biasanya

Inkontinensia
urgency

11

disebabkan
oleh
pembesaran atau kanker
prostat (pada pria) &
sehingga sfingter tidak mampu
karena penyempitan uretra
menahannya dan terjadi kebocoran
(pada anak-anak)
yg hilang-timbul, seringkali tanpa

Kelemahan otot
sensasi kandung kemih
kandung kemih
Kelainan fungsi saraf
Obat-obatan
Inkontinensia
total

Cacat bawaan
Kebocoran
berkesinambungan
Cedera pada leher
karena sfingter tidak menutup
kandung kemih (misalnya
karena pembedahan)

Inkontinensia
fungsional

Hilangnya pengendalian
kelainan psikis

Inkontinensia
campuran

Gabungan dari berbagai keadaan


diatas
Gabungan dari
Banyak wanita yg mengalami
penyebab diatas
inkontinensia campuran antara
stress & desakan

karena Gangguan
emosional
(misalnya depresi)

berbagai

Penatalaksanaan
Ada beberapa cara untuk menangani pasien dengan kasus inkontinensia urin.
Umumnya dapat berupa tatalaksana farmakologis, non-farmakologis maupun pembedahan.
Prinsipnya adalah penderita inkontinensia tidak dapat ditangani hanya dengan satu modalitas
terapi, tetapi melalui serangkaian terapi yang dilakukan secara simultan.1
Spektrum modalitas terapi yang dilakukan meliputi:
1. Terapi non farmakologis, yaitu:
a. Terapi suportif non-spesifik (edukasi, manipulasi lingkungan, pakaian dan
pads tertentu (seperti popok) )
b. Intervensi tingkah laku (latihan otot dasar panggul, latihan kandung kemih,
penjadwalan berkemih)
2. Terapi medika mentosa
3. Operasi
4. Kateterisasi
Keberhasilan penanganan pasien inkontinensia sangat bergantung pada ketepatan diagnosis
dalam penentuan tipe inkontinensia, faktor yang berkontribusi secara reversibel dan problem
medik akut yang dialami. Intervensi pada tingkah laku pasien sangat memerlukan kerja sama
12

yang baik dari pasien tersebut. Secara umum yang dapat kita lakukan ialah meliputi edukasi
pada pasien dan pengasuhnya. Intervensi perilaku yang dapat meliputi bladder training, habit
training, prompted voiding dan latihan dasar otot panggul. Sedangkan teknik yang
menggunakan alat seperti stimulasi elektrik, biofeedback dan neuromodulasi dapat
melengkapi teknik perilaku ini.1
Apa saja intervensi tingkah laku yang dapat dilakukan? Berikut adalah daftar hal yang dapat
dilakukan dalam terapi non farmakologis ini.
a) Bladder training : merupakan suatu jenis terapi yang cukup efektif dibanding teknik non
farmakologik lainnya. Terapi ini bertujuan memperpanjang interval berkemih yang normal
sehingga hanya mencapai 6-7 kali sehari atau 3-4 jam sekali. Pasien diharapkan dapat
menahan sensasi untuk berkemih. Misalnya awalnya interval waktu satu jam, kemudian
ditingkatkan perlahan hingga 2-3 jam. Agar tidak lupa, dapat dibuat catatan harian untuk
berkemih. Apabila pasien tidak mampu lagi menahan sensasi kemihnya, maka ia
diperbolehkan berkemih sebelum waktunya namun akan dicatat dalam catatan hariannya.
Sebisa mungkin catat volume urin yang keluar pada saat miksi dan jumlah urin yang bocor.
Fakta yang menarik yang didapatkan ialah bila seseorang tergoda untuk segera ke kamar kecil
untuk muncul dorongan berkemih, maka kandung kemihnya dapat terangsang dengan
gerakan yang tergesa-gesa tersebut. Latihan kandung kemih ini terbukti efektif terhadap
inkontinensia tipe stress maupun tipe urgensi.
b) Latihan dasar otot panggul : merupakan suatu jenis latihan yang dikembangkan oleh Arnold
Kegel pada tahun 1884. Berdasarkan penelitiannya, Arnold Kegel menemukan tingkat
perbaikan dan kesembuhan pada 84% subjek penelitian yaitu wanita yang menderita
inkontinensia berbagai tipe. Latihan yang dilakukan oleh Arnold Kegel ini sekarang lebih
dikenal dengan nama Senam Kegel.1
Seperti yang kita ketahui bersama, otot pelvis seperti otot lainnya dapat mengalami
kelemahan akibat bertambahnya usia,. Latihan pada otot pelvis dapat memperkuat otot-otot
yang lemah di sekitar kandung kemih. Secara sederhana latihan yang dapat dilakukan
dideskripsikan mirip dengan usaha otot kita sewaktu menahan untuk tidak flatus.1
Berikut adalah obat-obat yang dapat digunakan pada pasien dengan inkontinensia urin:7
Obat Yang Digunakan Untuk Inkontinensia Urin
Obat
Dosis
Tipe Inkontinensia
Efek Samping
Hyoscamin
3 x 0,125 mg Urgensi
atau Mulut kering, mata kabur,
campuran
glaukoma, derilium, konstipasi
Tolterodin
2 x 4 mg
Urgensi atau OAB
Mulut kering, konstipasi
Imipramin
3 x 25-50 mg Urgensi
Derilium, hipotensi ortostatik
Pseudoephedri 3 x 30-60 mg Stress
Sakit kepala, takikardi, hipertensi
n
Topikal
Urgensi dan Stress
Iritasi lokal
estrogen
Doxazosin
4 x 1-4 mg
BPH dengan Urgensi Hipotensi postural
13

Tamsulosin
Terazosin

1 x 0,4-0,8
mg
4 x 1-5 mg

Penggunaan fenilpropanolamin sabagai obat inkontenensia urin tipe stress sekarang telah
dihentikan karena hasil uji klinik yang menunjukkan adanya resiko stroke pasca penggunaan
obat ini. Sebagai gantinya digunakan pseudoefedrin. Namun penggunaan pseudoefedrin pun
jarang ditemukan pada usia lanjut karena adanya masalah hipertensi, aritmia jantung dan
angina. Pembedahan merupakan langkah terakhir yang dilakukan untuk masalah
inkontinensia bila terapi secara farmakologis dan non-farmakologis tidak berhasil dilakukan.
Pembedahan yang sering dilakukan ialah berupa pemasangan kateter.1,7
Ada tiga macam kateterisasi pada pada penderita inkontinensia urin:
1. Kateterisasi luar. Terutama pada pria dengan penggunaan kateter-kondom. Efek samping
yang terutama iritasi pada kuliy dan mudah lepas. Metode ini dianjurkan kepada pria yang
tidak mengalami retensi urin dan mobilitas baik. Pada wanita hasilnya belum memuaskan.
2. Kateterisasi intermitten. Biasanya digunakan pada wanita, frekuensi pemasangannya 2-4X
sehari. Sangat harus diperhatikan sterilitasnya.
3. Indwelling kateter. Pemasanganini harus dengan indikasi yang benar-benar tepat. Misalnya
pada ulkus dekubitus
yang terganggu penyembuhannya karena inkontinensia urin.
Komplikasi penggunaan kateter ini bisa menyebabkan infeksi, batu saluran kemih, abses, atau
bahkan keganasan pada saluran kemih.
Pada laki-laki dengan obstruksi saluran kemih akibat hipertrofi prostat dapat dilakukan
pembedahan untuk mencegah timbulnya inkontinensia tipe overflow di kemudian hari. Selain
itu, ada pula teknik pembedahan yang bertujuan melemahkan otot detrusor misalnya dengan
menggunakan pendekatan postsakral maupun paravaginal. Teknik pembedahan ini contohnya
ialah transeksi terbuka kandung kemih, transeksi endoskopik, injeksi penol periureter dan
sitolisis.1
Pada prinsipnya pengobatan inkontinensia stres bersifat operatif. Dikenal berbagai
teknik bedah yang semuanya dapat memberikan perbaikan 80-90% kasus. Semua bentuk
operasi ini berlandaskan pada prinsip yang sama yaitu menarik dinding vagina ke arah ventral
untuk menghilangkan sistokel dan mengembalikan sudut vesiko-uretral menjadi 120 seperti
semula. Ini dapat terlaksana dengan menjahitkan dinding vagina pada periosteum tulang
pubis (teknik Marshall-Marchetti); dengan mengikatkan dinding vagina lebih lateral pada lig.
Pouparti (teknik Burch).2
Komplikasi
Berbagai komplikasi dapat menyertai inkontinensia urin seperti infeksi saluran
kemih, kelainan kulit, gangguan tidur, problem psikososial seperti depresi, mudah marah dan
rasa terisolasi. Secara tidak langsung masalah-masalah tersebut juga dapat menyebabkan
dehidrasi karena umumnya pasien akan mengurangi minum karena khawatir mengompol.1
14

Prognosis
Inkontinensia urin tipe stress biasanya dapat diatasi dengan latihan otot dasar panggul,
prognesia cukup baik.
Inkontinensia urin tipe urgensi atau overactive blader umumnya dapat diperbaiki
dengan obat obat golongan antimuskarinik, prognosis cukup baik.
Inkontinensia urin tipe overflow, tergantung pada penyebabnya (misalnya dengan
mengatasi sumbatan / retensi urin).1

Kesimpulan
Inkontinensia urin merupakan keluhan yang banyak dijumpai pada lanjut usia.
Prevalensinya meningkat dengan bertambahnya umur, lebih banyak didapatkan pada wanita
dan pada penderita-penderita lanjut usia yang dirawat di bangsal akut. Inkontinensia urin
memiliki kemungkinan untuk disembuhkan, terutama pada penderita dengan mobilitas dan
status mental yang cukup baik. Bahkan bila tidak dapat diobati dengan sempurna,
inkontinensia selalu dapat diupayakan lebih baik, sehingga kualitas hidup penderita
meningkat dan meringankan beban yang merawat. Karena umumnya orang lanjut usia merasa
segan, frustasi, dan malu untuk membicarakan inkontinensia yang diderita, penting
ditanyakan secara khusus. Pengelolaan inkontinensia urin dimulai antara lain dengan
membedakan apakah secara garis besar penyebabnya dari segi urologik atau masalah
neurologik. Prognosisnya baik.

Daftar Pustaka
1. Martono HH, Pranarka K. Geriatri (ilmu kesehatan usia lanjut) edisi 4. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI; 2009.h.226-41.
2. Junizaf. Buku Ajar Uroginekologi. Jakarta:FKUI;2002.h 90-96.
3. Brockelhurst JC, Allen SC. Urinary incontinence. Geriatric Medicine for students 3rd
ed. London: Churchill Livingstone; 2003.p 73-91.
4. Tiar E, penyunting. Ensiklopedia keperawatan. Jakarta: EGC; 2009.h 224-5.
5. Andrianto P. Urologi Untuk Praktek Umum. Jakarta: EGC;2002.h 175-86.
6. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Buku Ajar ilmu penyakit
dalam. edisi 5 jilid I. Jakarta: Interna Publishing; 2009.h 565-75.
7. Purnomo. Dasar-dasar Urologi. Malang: FK Brawijaya; 2003.h 106-119.
8. Yatim, Faisal. Pengobatan Terhadap Penyakit Usia Senja. Pustaka Populer Obor ;2004

15

9. Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Buku ajar


mikrobiologi kedokteran edisi revisi. Jakarta : Binarupa Aksara Publisher;
2009.h.107-115.

16