Anda di halaman 1dari 34

RESUME TUGAS AKHIR

STUDI KARAKTERISTIK ANGKUTAN SEDIMEN DASAR


PADA UPSTREAM SUNGAI JENEBERANG

Disusun oleh :
ABDUL MUNIR SHADIQ
D11109307

JURUSAN SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

STUDI KARAKTERISTIK ANGKUTAN SEDIMEN DASAR PADA


UPSTREAM SUNGAI JENEBERANG
ABDUL MUNIR SHADIQ
Mahasiswa S1 Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin
Alamat : Jl. Tamangapa Raya No.267, Makassar
abdulmunirshadiq@gmail.com
Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Saleh Pallu, M.Eng
Dosen Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin
Alamat : Jl. Perintis Kemerdekaan Km.10
Telp/Fax : 0411-587636

Dr. Eng. Ir. H. Farouk Maricar, MT


Dosen Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin
Alamat : Jl. Perintis Kemerdekaan Km.10
Telp/Fax : 0411-587636

ABSTRAK
Sungai Jeneberang adalah salah satu sungai besar yang ada di Kabupaten Gowa. Sungai ini
terletak pada dua wilayah administrasi kota dan kabupaten yaitu kota Makassar dan Kabupaten
Gowa. Saat ini kondisi hulu dari sungai jeneberang sangat perlu mendapatkan perhatian. Hal ini
disebabkan karena telah terjadi bencana alam longsor pada gunung di hulu sungai, sehingga
menimbulkan sedimantasi yang sangat parah dan berpotensi mengakibatkan pendangkalan pada
waduk Bili-bili yang berada di alur Sungai Jeneberang. Ketidaklancaran tersebut dapat
mengakibatkan banjir di sebelah hulu sungai, penutupan pada pintu-pintu air yang akan menuju
saluran-saluran irigasi pada persawahan kisaran wilayah Bili-bili dan sekitarnya, serta akan
mengganggu aktivitas pengaliran pada sungai dan PLTA pada DAM Bili-bili. Sehingga, pada
penelitian ini akan dilakukan peninjauan karakteristik dari sedimen pada hulu Sungai Jeneberang,
dengan cara penelitian laboratorium dan pengukuran langsung di lapangan, dari penelitian tersebut
nantinya akan diperoleh nilai berat jenis sedimen (Gs) dan ukuran butir sedimen (d). Pengukuran
karakteristik sedimen dimaksudkan untuk mendapatkan debit sedimen (qb) yang dilaksanakan
dengan cara mengambil contoh sedimen pada hulu Sungai Jeneberang untuk kemudian dibuat
hubungan antara debit air (q) dengan debit sedimen (qb). Selanjutnya data debit air diperoleh
dengan cara melakukan pengukuran langsung kelokasi penelitian dengan mengukur lebar (L) dan
kedalaman sungai (H) untuk mendapat nilai luas penampang hulu Sungai Jeneberang (A),
kemudian dihubungkan dengan nilai kecepatan aliran (V) yang diukur dengan menggunakan
current meter. Selanjutnya nilai debit air yang diperoleh tersebut dihubungkan dengan nilai-nilai
karakteristik sedimen yang diperoleh dari pengujian laboratorium, sehingga diperoleh nilai debit
sedimen pada hulu Sungai Jeneberang pada saat penelitian sebesar 1,88679 m3/det.
Kata kunci : Sedimentasi, karakteristik sedimen, debit sedimen (qb)

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang Masalah


Sungai Jeneberang adalah salah satu sungai besar yang ada di Kabupaten Gowa. Sungai ini
terletak pada dua wilayah administrasi kota dan kabupaten yaitu kota Makassar dan Kabupaten
Gowa. Sungai ini berasal dan mengalir dari bagian timur Gunung Bawakaraeng dan Gunung
Lompobattang (Kabupaten Gowa) yang kemudian menuju hilirnya di selat makassar (Kota
Makassar). Secara geografis Daerah Pengaliran Sungai (DPS) Jeneberang terletak pada koordinat
05o 10' 00" LS - 05o 26' 00" LS dan 119o 23' 50" BT - 119o 56' 10" BT. Pada lokasi dimana daerah
aliran sungai jeneberang berada, secara topografi merupakan wilayah pegunungan Malino
(Gunung Lompobattang), wilayah lipatan tersier selatan Combi, dan wilayah dataran rendah
aluvial selatan Makassar. Luas wilayah pengaliran sungai Jeneberang sebesar 727 km 2 dengan
panjang sungai 78,75 km. Alur sungai jeneberang termasuk alur yang berkelok-kelok (meandering
river) dengan belokan tajam terdapat pada ruas hilir. Hilir sungai jeneberang merupakan outlet atau
saluran pembuangan alami yang menuju laut (Selat Makassar)
Saat ini kondisi hulu dari sungai Jeneberang sangat perlu mendapatkan perhatian. Hal ini
disebabkan karena telah terjadi bencana alam longsor pada gunung di hulu sungai, sehingga
menimbulkan sedimantasi yang sangat parah dan berpotensi mengakibatkan pendangkalan pada
waduk Bili-bili yang berada di alur Sungai Jeneberang. Akibatnya pada musim penghujan
pembuangan debit air ke laut akan terganggu. Ketidaklancaran tersebut dapat mengakibatkan
banjir di sebelah hulu muara. Akibat lainnya yaitu pada saat air surut, kapal-kapal yang
memanfaatkan daerah hilir sungai sebagai alur penghubung dengan daerah hulu sungai akan
mengalami hambatan.
Melihat kondisi hulu sungai Jeneberang seperti ini, kami merasa perlu untuk mengangkat
masalah tersebut kedalam penulisan tugas akhir dengan judul :
Studi Karakteristik Angkutan Sedimen Dasar Pada Upstream Sungai Jeneberang
B.

Rumusan dan Batasan Masalah


Berdasarkan latar belakang pada uraian diatas, maka permasalahan dalam penulisan ini
adalah meninjau karakteristik sedimen yang ada pada upstream Sungai Jeneberang Kabupaten
Gowa Propinsi Sulawesi Selatan.
Adapun batasan masalah yang kami gunakan untuk mempertegas masalah yang dibahas
adalah :
1. Secara garis besar, ada dua jenis karakteristik sedimen dasar yang akan ditinjau yakni :
a. Berat jenis sedimen
b. Ukuran butir sedimen
2. Penelitian dilakukan hanya satu titik pada upstream Sungai Jeneberang sehingga sampel yang
diperoleh hanya sedikit, maka variasi data primer tidak terlalu banyak.
3. Pengukuran debit air pada data primer lebih kecil karena dilakukan pada musim kemarau dan
itu hanya debit sesaat karena hanya dilakukan satu kali pengukuran, sedangkan, debit air dari
data sekunder lebih besar karena merupakan pengukuran terstruktur oleh instansi terkait.
4. Yang dimaksud dengan upstream Sungai Jeneberang pada lokasi penelitian ini yaitu terletak
di atas sand pocket 3 Desa Bontojai Kecamatan Parangloe Kabupaten gowa, sekitar 14.400
m dari Bendungan Bili-bili.
5. Melihat pengaruh debit air terhadap debit sedimen pada upstream sungai jeneberang.
C.
1.
2.

Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
Mengetahui kondisi karakteristik sedimen pada hulu sungai Jeneberang berupa berat jenis
sedimen dan ukuran butir sedimen.
Mengetahui bagaimana pengaruh debit air terhadap debit sedimen pada hulu sungai
Jeneberang.

D.

Manfaat Penelitian
Berdasarkan penelitian ini, diharapkan nantinya dapat bermanfaat bagi semua pihak,
khususnya pemerintah di bidang sumber daya air, perencana dan kontraktor, ataupun mahasiswa/i
yang berkecimpung dalam bidang rekayasa keairan dan sebagai tambahan ilmu pengetahuan bagi
siapa saja yang membacanya.
E.

Sistematika Penulisan
Pembahasan tugas akhir ini, diuraikan dalam 5 (lima) bab dengan komposisi sebagai berikut,
bab 1 adalah pendahuluan memuat gambaran secara singkat dan jelas tentang penelitian yang akan
dilakukan. Pendahuluan memuat suatu gambaran yang jelas dan latar belakang mengapa penelitian
ini perlu dilaksanakan. Dalam pendahuluan berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan
penelitian, btaasan masalah, manfaat penelitian serta sistematika penulisan laporan penelitian. .
Bab 2 adalah tinjauan pustaka, menyangkut teori-teori yang mendukung pencapaian tujuan
penelitian dan teori yang mendukung penemuan jawaban dari rumusan masalah tentang tinjauan
umum dan deskripsi penelitian serta data penulisan.
Kemudian bab 3 adalah metode penelitian, pada bab ini penulis memaparkan mengenai
lokasi penelitian, metode pengumpulan data, data-data yang diperlukan, dan metode analisis data.
Selanjutnya bab 4 adalah analisa dan pembahasan, bab ini berisi tentang hasil dan
pembahasan mengenai karakteristik sedimen dan debit sedimen serta pengaruhnya terhadap hulu
Sungai Jeneberang.
Terakhir bab 5 yaitu penutup, berisi kesimpulan dan saran-saran, menerangkan
permasalahan-permasalahan yang terjadi pada objek tinjauan dan selanjutnya memberikan usulan
pemecahan masalah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
1.

Gambaran Umum Lokasi Penelitian


Keadaan Geografis
Secara geografis DAS Jeneberang terletak pada koordinat antara 05o 10' 00" -05o 26' 00"
Lintang Selatan dan 119o 23' 50"-119o 56' 10" Bujur Timur dengan panjang sungai utamanya 78,75
km. Daerah Pengaliran Sungai Jeneberang terletak di dua wilayah administrasi kota dan kabupaten
yaitu kota Makassar dan Kabupaten Gowa.
2.

Keadaan Topografi
Daerah Pengaliran Sungai Jeneberang mempunyai ketinggian antara +0 m sampai dengan
+2.876 m dari permukaan air laut dengan bentuk wilayah datar, bergelombang, sampai berbukit.
Sungai Jeneberang mempunyai daerah tangkapan air seluas 727 km2 yang dimulai dari
gunung Lompobattang (elevasi 2.876 m), dengan panjang sungai utamanya adalah 78,75 km. Area
dataran rendahnya tersebar pada daerah hilir (Kota Makassar) sampai pada kawasan
Sungguminasa (Kabupaten Gowa). Aliran utama sungai Jeneberang saat ini berupa aliran alamiah
dengan beberapa bagian sungai yang mempunyai perlindungan banjir pada sisinya, utamanya pada
daerah kawasan padat penduduk disekitar sungai tersebut, misalnya pada kawasan jalan tirta
jeneberang, Sungguminasa, Kabupaten Gowa.
3.

Keadaan Klimatologi
Kondisi iklim pada DPS Jeneberang secara keseluruhan berada dibawah iklim tropis yang
menunjukkan temperatur udara yang sangat tinggi dengan variasi yang kecil sepanjang satu tahun
dan perbedaan yang sangat kecil pula antara musim kemarau dan musim hujan dalam satu tahun.

4.

Keadaan Hidrologi
Kondisi curah hujan pada daerah upstream Sungai Jeneberang dapat dilihat dari pencatatan
curah hujan pada Stasiun Jonggoa Sungai Jeneberang, sebagaimana ditunjukkan pada tabel
berikut:
Tabel 2.1.

Curah Hujan Tahunan Rata-Rata pada Stasiun Jonggoa


Tahun

Curah Hujan Rata-rata

2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012

449,115
443,763
494,557
366,422
719,651
603,474
630,919
565,907
851,699
622,404
581,610
573,076
704,829

2013
397,250
Sumber : Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan-Jeneberang
5.
a.
b.

Keadaan Geologi
Kondisi geologi yang dominan antara lain sebagai berikut :
Endapan Kwarter (endapan aluvial)
Unsur utama endapan kwarter diwilayah studi adalah endapan banjir dataran sungai
Jeneberang.
Formasi Camba
Formasi camba merupakan endapan batuan yang terdiri atas batu pasir dan tufan yang
tertimbun dengan tufa, batuan lanau dan batuan vulkanis.

6.

Keadaan Sosial
Saat ini Sungai Jeneberang berfungsi sebagai sungai alamiah yang menerima buangan air dari
saluran drainase dan irigasi pada wilayah Kota Makassar dan Kabupaten Gowa. Disamping itu
juga terdapat bendung yang terletak di bili-bili (Kabupaten Gowa) yang berfungsi sebagai sumber
air pada saluran irigasi persawahan pada wilayah Kabupaten Gowa dan sekitarnya, serta
digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Sebagian besar penduduk berusaha di bidang pertanian dalam arti luas. Usaha-usaha yang
biasa dilakukan meliputi bidang-bidang pertanian pangan, hortikultura, perkebunan dan
peternakan. Kegiatan pertanian pangan pada umumnya mempunyai produksi yang rendah, sebab
umumnya lahan yang dimiliki petani termasuk lahan dengan kemiringan curam dan dilakukan
penanaman tanaman hortikultura (sayur-sayuran dan buah-buahan), tanpa memperhatikan kaidahkaidah konservasi. Komoditas perkebunan yang diusahakan adalah jenis tanaman kopi, vanili,
coklat, avokad, cengkeh, dan rambutan.

7.

Peran dan Fungsi DAS Jeneberang

Di daerah hulu, dengan bentuk morfologi perbukitan dan pegunungan sehingga digunakan
sebagai daerah konservasi, hutan produksi, hutan primer, hutan sekunder, perkebunan, pertanian
hortikultura dan buah buahan, daerah resapan air, dan sumber mata air.
Di daerah tengah, sebagai tempat penampungan air (DAM Bili bili), daerah irigasi untuk
mengairih daerah persawahan, sumber tenaga listrik. Sedangkan di daerah hilir, daerah pertanian,
daerah perkotaan, daerah pemanfaatan ruang seperti aktivitas ekonomi, pendidikan dan
perkantoran.
.
B. Gambaran Umum Hulu Sungai
1. Pengertian Sungai
Sungai merupakan jalan air alami. mengalir menuju samudera, danau, atau ke sungai yang
lain. Pada beberapa kasus, sebuah sungai secara sederhana mengalir meresap ke dalam tanah
sebelum menemukan badan air lainnya. Dengan melalui sungai merupakan cara yang biasa bagi
air hujan yang turun di daratan untuk mengalir ke laut atau tampungan air yang besar seperti
danau. Sungai terdiri dari beberapa bagian, bermula dari mata air yang mengalir ke anak sungai.
Beberapa anak sungai akan bergabung untuk membentuk sungai utama. Penghujung sungai di
mana sungai bertemu laut dikenali sebagai muara sungai.
.
2. Pengertian Hulu Sungai
Hulu sungai atau kepala sungai adalah bagian sungai yang letaknya paling jauh dari muara,
tempat suatu sungai bermula, dan tempat sumber-sumber airnya berlokasi. Hulu atau hulu-hulu
sungai ini bisa jadi memiliki nama yang lain daripada sungai utamanya. Seperti diketahui, sebuah
sungai biasanya terbentuk dari beberapa anak sungai, yang masing-masing anak sungai akan
terbentuk dari beberapa anak cabang lagi dan seterusnya, yang secara keseluruhan membentuk
suatu daerah aliran sungai.
3.

Morfologi Hulu Sungai


Jika kita mengikuti alur suatu sungai secara lengkap dari atas di bagian hulu, sampai di
bawah di bagian muaranya, maka kita akan melihat bentuk sungai yang berbeda beda dari satu
tempat ke tempat yang lain. Walaupun ternyata itu merupakan satu alur sungai yang sama.

Gambar 2.1. Morfologi Hulu Sungai


Sungai memiliki bentuk-bentuk yang berbeda antara bagian yang satu dengan bagian yang
lain. Secara umum, sebuah sungai bisa dibagi menjadi tiga bagian. Bagian atas/ hulu (Upper),
tengah (Middle), dan bawah / hilir (Lower). Setiap bagian ini memiliki ciri khas, bentuk, dan
aktivitasnya sendiri sendiri.

Gambar 2.2. Bentuk Lembah Sungai


Bagian hulu merupakan bagian awal dari sebuah sungai. Biasanya bagian ini terletak di
pegunungan. Pada bagian ini, lembah sungai memiliki bentuk menyerupai huruf V.

Gambar 2.3. Lembah Sungai pada Bagian Hulu


Ciri cirinya adalah, sungai sungai di bagian hulu memiliki aliran yang sangat deras dan
sungai sungainya lumayan dalam. Hal ini disebabkan karena letaknya yang berada di daerah
pegunungan yang memiliki kemiringan cukup curam. Sehingga air akan sangat cepat untuk
mengalir ke bawah. Proses yang terjadi disini adalah proses erosi.

Gambar 2.4. Aliran pada Hulu Sungai


Proses erosi sendiri diakibatkan oleh aliran yang sangat deras. Karena aliran ini juga lah, air
akan menggerus sungai dengan sangat cepat, sehingga lembah sungai ini membentuk huruf V.

C.
1.

Gambaran Umum Sedimentasi


Pengertian Sedimentasi
Sedimentasi dalam pengertiannya hampir berbeda dari setiap orangnya, seperti Pipkin
(1977) menyatakan bahwa sedimen adalah pecahan, mineral, atau material organik yang
ditransforkan dari berbagai sumber dan diendapkan oleh media udara, angin, es, atau oleh air dan
juga termasuk didalamnya material yang diendapakan dari material yang melayang dalam air atau
dalam bentuk larutan kimia. Lalu Pettijohn (1975) mendefinisikan sedimentasi sebagai proses
pembentukan sedimen atau batuan sedimen yang diakibatkan oleh pengendapan dari material
pembentuk atau asalnya pada suatu tempat yang disebut dengan lingkungan pengendapan berupa
sungai, muara, danau, delta, estuaria, laut dangkal sampai laut dalam. Sedangkan Gross (1990)
mendefinisikan sedimen laut sebagai akumulasi dari mineral-mineral dan pecahan-pecahan batuan
yang bercampur dengan hancuran cangkang dan tulang dari organisme laut serta beberapa partikel
lain yang terbentuk lewat proses kimia yang terjadi di laut. Walaupun pengertiannya agak berbeda
satu dengan lainnya, dapat ditarik satu hal bahwa sama-sama memerlukan proses dan proses itu
adalah proses pengendapan untuk membentuk sedimen/ endapan itu sendiri.
2.

Sedimentasi Sungai
Ada tiga macam angkutan sedimen yang tejadi di dalam alur sungai yaitu:
Wash load atau sedimen cuci terdiri dari partikel-partikel lanau dan debu yang terbawa
masuk ke dalam sungai dan tetap tinggal melayang sampai mencapai laut, atau genangan air
lainnya.
Sedimen jenis ini hampir tidak mempengaruhi sifat-sifat sungai, walaupun jumlahnya
mungkin yang terbanyak dibanding jenis-jenis lainnya terutama pada saat-saat permulaan musim
hujan dating. Jenis sedimen ini berasal dari proses pelapukan atau weathering process permukaan
tanah DAS yang terutama terjadi pada musim kemarau sebelumnya.
Suspended load atau sedimen melayang terdiri dari pasir halus yang melayang di dalam
aliran karena tersangga oleh turbulensi aliran air. Pengaruhnya terhadap sifat-sifat sungai tidak
begitu besar. Tetapi apabila terjadi perubahan kecepatan aliran, jenis ini dapat berubah menjadi
angkutan jenis ketiga, yakni angkutan sedimen dasar.
Untuk besar butiran tertentu bila kecepatan pungutnya atau pick up velocity dilampaui,
material akan melayang. Tetapi apabila kecepatan aliran yang mengangkutnya mengecil di bawah
kecepatan pungutnya, material akan tenggelam ke dasar aliran.
Bed load, type ketiga dari angkutan sedimen adalah angkutan sedimen dasar di mana
material dengan besar butiran-butiran yang lebih besar akan bergerak menggelincir, menggelinding
pada dasar sungai, gerakannya mencapai ke kedalaman tertentu dari lapisan dasar sungai.
D.
1.

Analisa Karakteristik Sedimentasi


Pengukuran Karakteristik Sedimen
Pengukuran karakteristik sedimen dimaksudkan untuk mendapatkan debit sedimen yang
dilaksanakan dengan cara mengambil contoh sedimen untuk kemudian dibuat hubungan antara
debit air dengan debit sedimen. Data angkutan sedimen sungai sangat bermanfaat untuk
menganalisa besarnya penggerusan dan atau pengendapan di alur sungai sedimentasi waduk, untuk
kondisi erosi dari suatu daerah pengaliran sungai dan sebagainya.
Hasil sedimen dari suatu daerah pengaliran tertentu dapat ditentukan dengan pengukuran
pengangkutan sedimen pada titik kontrol alur sungai, atau dengan menggunakan rumus-rumus
empiris atau semi empiris. Kebanyakan rumus-rumus untuk menentukan besarnya pengangkutan
sedimen dalam suatu alur sungai telah dikembangkan, baik dengan mengkolerasikan besarnya
pengangkutan hasil sedimen yang diukur dengan curah hujan dan sifat-sifat topografi maupun
melalui analisis semi teoritis yang menghubungkan sifat-sifat aliran sungai dengan hasil sedimen
yang di ukur. (Soemartono: 1999: 403).
2.

Perhitungan Debit Sedimen


Dari hasil pengambilan data di lapangan dan laboratorium, dilakukan pengolahan data untuk
mengetahui karakteristik sedimen.

Untuk mendapatkan jumlah sedimen yang lewat pada suatu periode tertentu (Sediment rate),
maka dilakukan metode dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
Metode hubungan debit air (Qw) dengan debit sedimen (Qs). Dimana harga Qs dapat
diperoleh setelah didapat konsentrasi sedimen (Cs) dari hasil contoh sedimen dilapangan yang
dianalisa di laboratorium.
a.

Menghitung Konsentrasi Sedimen (Cs) dengan rumus sebagai berikut:


.................................................. (II-1)

Keterangan:
Cs
= Konsentrasi Sedimen
Ws
= Berat Kadar Lumpur
Wtotal
= Air + Berat kadar lumpur
b.

Menghitung Debit Sedimen


Nilai sedimen dasar (bed load) dapat kita peroleh dengan menggunakan rumus angkutan
sedimen yang dikembangkan oleh para ahli hidrolika yang meliputi :
1) Pendekatan dengan parameter gaya geser
Menurut DuBoys (1897) dalam hipotesanya tentang besarnya pengangkutan endapan
sedimen, yaitu bahwa dari suatu aliran dapat dianggap sebagai suatu rangkaian lapisan-lapisan
yang saling menutupi dengan kecepatan yang berbeda secara linear dari nol di bawah permukaan,
sampai dengan nilai maksimum pada pertemuan antara fluida dan dasar yang padat.

Gambar. 2.5. Sketsa model bed load menurut DuBoys (Pallu, M.S.,2012)
...................................... (II-2)
Dengan :
= tegangan geser
= koefisien gesek
m

= jumlah total lapisan


= ketebalan lapisan
D
= kedalaman air
S
= kemiringan saluran
= beratjenis spesifik sedimen dan air
Jika variasi kecepatan linier antara lapisan pertama sampai lapisan ke m, total debit dengan
volume per unit kedalaman saluran adalah :
...................................... (II-3)
Dimana Vs = kecepatan lapisan kedua (lihat gambar 2.4) pada gerak yang baru,
m = 1 ; persamaan (II-2) menjadi :
...................................... (II-4)

Dan
...................................... (II-5)
Dimana

= gaya tarik kritis sepanjang dasar.

(a)

(b)
Gambar. 2.6. Parameter sedimen dan gaya geser kritis untuk persamaan bed load menurut DuBoys,
(a) satuan meter ; (b) satuan inggris (Pallu, M.S.,2012).
Dari persamaan (II-3) dan (II-4) :

...................................... (II-6)
Koefisien K pada persamaan (II-6) tergantung pada karakteristik partikel sedimen, straub
(1935) menemukan bahwa nilai k pada persamaan (II-6) tergantung pada ukuran partikel d.
.................................................................... (II-7)
Nilai K dalam persamaan (II-7) dalam satuan inggris, kecuali nilai d dalam mm.
Jadi persamaan DuBoys menjadi :
.......................... (II-8)
Hubungan antara , K dan d diperlihatkan pada gambar 2.5 nilai
dapat ditentukan dari
diagram tersebut.
Persamaan DuBoys adalah persamaan klasik yang telah diteiti oleh para ahli yang berbeda
dan menghasilkan kesimpulan bahwa rumus DuBoys dihasilkan dari percobaan yang dilakukan
pada flume yang kecil dengan range yang kecil, sehingga aplikasinya sangat cocok untuk
penelitian dengan studi prototipe.

Selain pendekatan DuBoys, rumus yang sering digunakan pada parameter gaya geser ini
adalah pendekatan Shields (1936) dalam penelitiannya mengenai pergerakan awal dari sedimen
dengan mengukur kondisi aliran dengan sediment transport yang lebih besar dari nol dan
kemudian memberikan hubungan terhadap penentuan kondisi aliran yang berhubungan pada gerak
yang baru mulai.
Kemudian dari penelitian ini Shields membuat pendekatan empirik untuk bed load yaitu :
...................................... (II-9)
Dengan :
qb dan q

= debit bed load dan air per unit lebar satuan


= DS (D = kedalaman rata-rata, S= kemiringan saluran)
d
= diameter partikel sedimen
= berat spesifik sedimen dan air.
Persamaan (II-9) homogen dalam dimensi, dan dapat digunakan untuk setiap satuan. Tegangan
geser kritis dapat ditentukan dari diagram Shields yang diperlihatkan pada gambar berikut :

Gambar. 2.7. Diagram Shields (Pallu, M.S.,2012).


Pendekatan dengan parameter slope energi
Ahli yang pertama kali menemukan pendekatan dengan parameter slope energi ini adalah
Meyer-Peter (1934). Meyer-Peter melakukan studi laboratorium secara intensif mengenai sediment
transport, yang kemudian menemukan rumus bed load dengan menggunakan sistem metrik
sebagai berikut :
2)

.................................... (II-10)
Dimana :
qb
= debit bed load
q
= debit air
S
= kemiringan dasar sungai
d
= diameter butiran sedimen
Bilangan konstan 17 dan 0,4 hanya valid untuk pasir dengan berat jenis 2,65 dan persamaan
ini dapat pula dipakai pada sedimen yang berdiameter besar.
Dasar penggunaan rumus (II-10) dijelaskan melalui gambar berikut :

10

Gambar. 2.8. Fungsi angkutan Meyer-Peter (Pallu, M.S.,2012)


3)

Pendekatan dengan parameter debit


Schoklitsch adalah ilmuan yang pertama kali menggunakan parameter debit (Idischarge) air
untuk menentukan bed load. Ada dua formula rumus yang dibuat oleh Schoklitsch, rumus pertama
dipublikasikan pada tahun 1934 dan tahun 1943.
Tahun 1934 formula Schoklitsch dalam metrik yaitu :
.................................... (II-11)
Dengan :
qb
d

= debit bed load


= diameter butiran sedimen
= debit air dan debit kritis pada saat mulai

Debit air kritis pada persamaan (II-11) untuk sedimen dengan Specifik Gravity = 2,65 2,70 dapat
diketahui sebagai berikut :
.................................... (II-12)
Persamaan (II-12) ditentukan dengan plotting untuk aliran dan diameter butiran, sebuah lengkung
angkutan dasar sebagai koordinat terhadap kemiringan sebagai absis. Pada tahun 1943 Schoklitsch
membuat rumus dalam satuan metrik.
.................................... (II-13)
Untuk sedimen dengan Specifik Graviti = 2,65, debit kritis dalam persamaan (II-13) menjadi :
.................................... (II-14)
4)

Perhitungan dengan penelitian langsung


Pada perhitungan ini didasari pada nilai debit air pada pengukuran langsung dilokasi
yang dihubungkan dengan nilai konsentrasi sedimen yang diperoleh pada hasil penelitian
laboratorium. Selanjutnya, pada hasil hubungan ini akan menghasilkan nilai debit sedimen pada
upstream Sungai Jeneberang. Adapun formula yang digunakan pada perhitungan debit sedimen
dengan penelitian langsung yaitu :
qb = Q x Cs
Dimana :
qb = Debit Sedimen (m3/det)
Q = Debit Air (m3/det)
Cs = Konsentrasi Sedimen
E.
1.

Analisa Karakteristik Upstream Sungai


Pengukuran Karakteristik Sungai

11

Pengukuran karakteristik sungai dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana


pengaruh sedimen terhadap karakteristik dari sungai itu sendiri serta sebagai data penunjang dalam
menghitung debit sedimen nantinya.
Adapun pada pengukuran karakteristik sungai dilakukan dengan cara survei langsung ke
lokasi penelitian dengan mengamati keadaan pada upstream sungai berupa kondisi terkini sisi
sungai, lebar pada upstream sungai, kedalaman sungai, pengukuran kecepatan aliran, sehingga dari
data tersebut diperoleh luas penampang dan profil dari sungai itu sendiri.
2.

Perhitungan Debit Sungai


Debit adalah satuan besaran air yang keluar dari Daerah Aliran Sungai (DAS). Debit aliran
adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu penampang melintang sungai
per satuan waktu (Asdak,2002). Metode penelitian meliputi pengukuran langsung di lapangan.
Pengukuran langsung di lapangan meliputi pengukuran lebar, tinggi air, tinggi saluran dan sisi
miring.
Debit air sungai merupakan tinggi permukaan air sungai yang terukur oleh alat ukur
permukaan air sungai ( Mulyana, 2007).
Debit adalah suatu koefesien yang menyatakan banyaknya air yang mengalir dari suatu
sumber persatuan waktu, biasanya diukur dalam satuan liter per/detik, untuk memenuhi keutuhan
air pengairan, debit air harus lebih cukup untuk disalurkan ke saluran yang telah disiapkan
(Dumiary, 1992).
Pengukruan debit dapat dilakukan dengan berbagai macam cara yaitu (Arsyad,1989):
a. Pengukuran volume air sungai .
b. Pengukuran debit dengan cara mengukur kecepatan aliran dan menentukan luas penampang
melintang sungai.
c. Pengukuran dengan menggunakan bahan kimia yang dialirkan dalam sungai.
d. Pengukuran debit dengan membuat bangunan pengukur debit.
Adapun metode pengukuran debit yang digunakan yaitu dengan cara mengukur kecepatan
aliran dan menentukan luas penampang melintang dari sungai tersebut. Selanjutnya, dari hasil
pengambilan data di lapangan, dilakukan pengolahan data untuk mengetahui besarnya debit air
yang melalui upstream sungai tersebut.
Untuk mendapatkan nilai debit yang lewat pada suatu periode tertentu, maka dilakukan
metode dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
................................................... (II-15)
Dimana :
Qw = Debit Aliran (m3/detik)
V
= Kecepatan aliran (m/detik)
A
= Luas Penampang Sungai (m2)
BAB III
METODE PENELITIAN
A.

Waktu dan Lokasi Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 tahap, yaitu penelitian di lapangan dan penelitian di
laboratorium. Penelitian di lapangan berlokasi di hulu Sungai Jeneberang yang berada di Desa
Bontojai Kecamatan Parangloe Kabupaten Gowa Propinsi Sulawesi Selatan. Sedangkan untuk
penelitian di laboratorium berlokasi di Laboratorium Mekanika Tanah Fakultas Teknik Universitas
Hasanuddin, Makassar.

12

Sumber: Google Earth


Gambar 3.1. Lokasi Penelitian di Lapangan

Sumber: Google Earth


Gambar 3.2. Lokasi Penelitian di Lapangan
B.

Data yang Diperlukan


Adapun data-data yang diperluan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder
adalah :

13

1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung oleh peneliti dari lokasi penelitian, data
primer berupa data dari sedimen yang bersumber dari upstream Sungai Jeneberang dan data debit
aliran dari sungai itu sendiri. Adapun data-data yang dimaksudkan meliputi :
a. Data Sedimen
Data sedimen merupakan data yang nantinya akan menjadi sampel pada pengujian
Laboratorium untuk pemeriksaan karakteristik sedimen. Dimana, sampel sedimen ini diambil
langsung pada upstream Sungai Jeneberang. Adapun pemeriksaan karakteristik sedimen meliputi
konsentrasi sedimen, berat jenis sedimen, dan diameter sedimen.
b. Data Debit Aliran
Data ini berupa data dari hasil pengukuran kecepatan aliran yang diperoleh dari pengukuran
langsung dilokasi penelitian yang selanjutnya dibuat hubungan dengan luas penampang sungai
hingga diperoleh nilai debit air. Adapun yang termasuk kedalam data tersebut berupa data lebar
dan kedalaman sungai yang nantinya akan digunakan untuk memperoleh profil dan luas dari
penampang sungai.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang berhubungan dengan penelitian yang kita lakukan.
Pengambilan/pengumpulan data sekunder dapat diperoleh berdasarkan acuan dan literatur yang
berhubungan dengan materi, karya tulis ilmiah yang berhubungan dengan penelitian atau dengan
mendatangi instansi terkait untuk mengambil data - data yang diperlukan. Adapun data-data yang
diperlukan meliputi data debit aliran, data kemiringan dasar sungai serta peta lokasi penelitian.
Data diperoleh dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan-Jeneberang.
C.

Metode Pengambilan Sampel


Metode pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengambilan sampel
secara langsung pada upstream Sungai Jeneberang. Yang meliputi:
1. Pengambilan Sampel Sedimen.
Metode yang dilakukan pada pengambilan sampel sedimen yaitu dengan cara turun langsung
ke upstream Sungai Jeneberang dan mengambil sedimen yang mengendap pada dasar upstream
sungai. Sedimen yang diambil di lokasi adalah sedimen asli yang mengendap pada dasar upstream
sungai.

2.
a.
b.

c.
d.

3.
a.

Pengukuran Penampang Hulu Sungai


Prosedur-prosedur yang dilakukan pada saat pengukuran yaitu :
Mengukur dimensi sungai, berupa pengukuran lebar penampang sungai.
Memasang tali yang telah dibagi menjadi 6 ruas untuk lebar permukaan air yang telah
ditandai dengan jarak masing-masing antar ruas yaitu L/6.

Gambar. 3.3. Metode pembagian patok


Membentangkan tali tersebut tegak lurus dengan arah aliran sungai.
Mencatat kedalaman pada tiap titik pengukuran.
Pengukuran Kecepatan Aliran
Pada pengukuran kecepatan aliran pada upstream sungai tersebut menggunakan alat current
meter, dengan metode pelaksanaan sebagai berikut :
Menyiapkan alat ukur kecepatan aliran (current meter).

14

b.
c.

d.

Gambar. 3.4. Current Meter


Selanjutnya alat current meter diturunkan kedalam air, usahakan posisi badan tidak
menghalangi arus dibelakang current meter .
Selanjutnya nyalakan alat current meter dan baca nilai kecepatan aliran pada dial alat
current meter. Pengukuran kecepatan untuk titik H1 dan H5 pada 0,6h (0,6 dari kedalaman
titik), sengkan pada titik H2,H3 dan H4 diukur pada 0,2h dan 0,8h (0,2 dan 0,8 dari
kedalaman titik).
Mencatat hasil pengukuran current meter pada tiap titik pengukuran.

D.

Metode Pelaksanaan Pengujian Laboratorium


Pengujian Karakteristik Fisik Sedimen
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui sifat-sifat fisik sedimen yang terdapat pada
upstream Sungai Jeneberang.
Adapun pengujian yang akan dilakukan antara lain :
1. Pengujian Konsentrasi Sedimen (Cs)
Konsentrasi sedimen merupakan kemampuan sedimen untuk berkumpul. Sampel sedimen
dari lokasi penelitian dibawa dan dianalisa di laboratorium sehingga diperoleh harga konsentrasi
(Cs). Adapun metode pengujian untuk memperoleh data konsentrasi sedimen yaitu dengan cara
mencucinya, adapun langkah-langkah yang dilakukan :
a. Siapkan sampel sedimen sebanyak 100 gram.
b. Masukkan sampel sedimen kedalam gelas ukur. Lalu tambahkan air hingga bagian setengah
gelas.
c. Tutup bagian mulut gelas lalu kocok tabung dengan cara membolak balik gelas tersebut.
d. Selanjutnya buang air cucian tersebut, usahakan agar tidak ada sampel sedimen yang
terbuang.
e. Ulangi langkah (2) sampai (4) hingga sampel air cucian sampel terlihat jernih.
f.
Selanjutnya sampel yang telah bersih (lumpur hilang) ditiriskan lalu ditimbang, selanjutnya
dioven kembali selama 24 jam lalu ditimbang kembali untuk mendapat berat airnya.
Adapun rumus yang digunakan adalah berdasarkan persamaan (II-I) yaitu :

Keterangan:
Cs
= Konsentrasi Sedimen
Ws
= Berat Kadar Lumpur
Wtotal
= Air + Berat kadar lumpur
2.

Pengujian Berat Jenis Sedimen (Gs)


Berat jenis adalah perbandingan antara berat butir-butir dengan berat air destilasi di udara
dengan volume yang sama pada temperatur tertentu. Berat jenis sedimen ini dapat ditentukan
secara akurat di laboratorium. Adapun langkah-langkah pengujian berat jenis sedimen yaitu :
a. Siapkan benda uji yang lolos saringan No. 40, masukkan kedalam oven selama 24 jam.

15

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Setelah 24 jam, dikeluarkan dari dalam oven lalu dinginkan.


Cuci piknometer kemudian biarkan mengering dalam udara terbuka.
Timbang piknometer yang telah kering dalam keadaan kosong.
Isi piknometer dengan air sampai batas kalibrasi lalu timbang.
Ambil sampel sedimen sekitar 25 gram, masukkan ke dalam piknometer. Pada saat
dimasukkan usahakan tidak ada tanah yang tersisa atau tumpah, lalu tambahkan air
secukupnya.
Keluarkan gelembung-gelembung udara yang terperangkap dalam sampel dengan cara
memanaskan piknometer tersebut diatas hot plate.
Dinginkan, lalu tambahkan air suling sampai batas kalibrasi. Ulangi berkali-kali sampai tidak
terjadi penurunan air pada batas kalibrasi piknometer tersebut.
Catat suhunya lalu timbang.
Adapun formula yang digunakan untuk menghitung nilai berat jenis yaitu :
..................................... (III-1)

Dimana :
= Faktor Koreksi berdasarkan suhu (Terlampir)
Ws
W2
W3

= Berat Sedimen
= Berat Piknometer + Air
= Berat Piknometer + Air + Sedimen

3.

Pengujian Diameter Sedimen


Diameter sedimen dapat diketahui dengan menggunakan dua metode yaitu dengan metone
analisa saringan dan hidrometer. Untuk pengujian sampel sedimen yang telah kami siapkan adalah
pengujian analisa saringan. Karena sampel terdiri dari batu kecil dan pasir. Dimana pengujian ini
dimaksudkan untuk mengetahui ukuran butir dan susunan butir (gradasi) sedimen yang tertahan
saringan no. 200.
Adapun langkah-langkah pengujian analisa saringan yaitu :
a. Sampel kering oven sebanyak 500 gram, yang lolos saringan No. 4.
b. Bersihkan masing-masing saringan #4, #10, #18, #40, #60, #100, #200, dan pan yang akan
digunakan, lalu timbang masing-masing saringan tersebut dan susun sesuai standard yang
dipakai.
c. Masukkan sampel kedalam susunan saringan tersebut.
d. Lalu guncangkan saringan selama 15 menit,
e. Setelah dilakukan pengguncangan, biarkan selama 5 menit untuk memberi kesempatan agar
debu-debu mengendap.
f.
Timbang berat masing-masingf saringan beserta benda uji yang tertahan didalamnya,
demikian pula halnya dengan pan.
E.

Metode Analisis Data (Bagan alir)

16

Gambar. 3.5. Diagram Alir Pengolahan Data


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.

Perhitungan Pengujian Karakteristik Sedimen


Pengujian karakteristik sedimen yang asli dilakukan di Laboratorium Mekanika Tanah
Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin guna untuk mengklasifikasikan jenis
sedimen yang sedang diteliti. Sampel sedimen dalam penelitian ini berasal dari dasar upstream
Sungai Jeneberang.
1.

Perhitungan Berat Jenis Sedimen


Dari hasil pemeriksaan dan perhitungan dengan menggunakan persamaan (III-1) diperoleh
nilai berat jenis sedimen (Gs) sebagai berikut :

Keterangan:
= Faktor Koreksi berdasarkan suhu (Terlampir)
Ws
W2
W3

= Berat Sedimen
= Berat Piknometer + Air
= Berat Piknometer + Air + Sedimen

Tabel 4.1.

Hasil Pengujian Berat Jenis Sedimen


Nomor Percobaan

II

17

Berat Piknometer, W1(gram)


Berat Piknometer + air, W2(gram)
Berat Piknometer + air + tanah,
W3(gram)
Berat tanah kering, Ws(gram)
Temperatur, 0C
Faktor koreksi,
Berat Jenis, Gs
Berat Jenis Rata-rata, Gs

Untuk Gs1

45
142,1

46
144,2

158,2

159,6

25
25
28
28
0,99267
0,99267
2,79
2,59
2,69

=
=
= 2,79

Untuk Gs2

=
=
= 2,59

Jadi, Gs

= 2,69

Dari nilai berat jenis tersebut diperoleh bahwa, sedimen yang terdapat pada upstream Sungai
Jeneberang terdiri atas sedimen jenis pasir berlanau (silty sand).
2.

Perhitungan Diameter Sedimen


Penentuan diameter sedimen dalam hal ini adalah melalui percobaan analisa saringan yang
dilakukan di laboratorium, sehingga dari hasil percobaan tersebut dapat kita peroleh nilai diameter
butiran yang seragam atau d50 dari sedimen tersebut. Adapun nilai diameter butiran sedimen (d 50)
yang diperoleh yaitu = 0,5089 mm.
Tabel 4.2.
Saringan
No.

Hasil Pengujian Analisa Saringan


Diameter
Berat Tertahan
(mm)
(gram)

4
10
18
40
60
100
200
Pan

4,75
2
0,84
0,425
0,25
0,15
0,075
-

Berat Kumulatif
(gram)

0
38
70
178
175
31
8
0

0
38
108
286
461
492
500
500

Persen (%)
Tertahan
Lolos
0
100
7,6
92,4
21,6
78,4
57,2
42,8
92,2
7,8
98,4
1,6
100
0
100
0

Menghitung D50
42,8

78,4

0,425

0,84

18

42,8

2,988

50

0,425

-35,6
-7,2

2,988

-15,13

15,13

35,6

18,118

35,6

0,5089

0,425

-0,415
-

X
35,6

mm

Gambar 4.1. Grafik Analisa Saringan


Dari grafik hasil pengujian analisa saringan dapat diketahui bahwa keseluruhan sampel
sedimen lolos pada saringan No. 4 (4,75 mm), sedangkan diameter butiran sedimen yang lolos
sekitar 50% berada pada saringan No. 18 (0,84 mm) dengan besar butiran sebesar 0,5089 mm. Dan
nilai persen lolos = 0 berada pada saringan No. 200 (0,075 mm). Sehingga dari hasil pengujian
analisa saringan tersebut dapat kita peroleh bahwa sedimen yang terdapat pada upstream Sungai
Jeneberang berupa pasir dengan ukuran butiran sedang (medium sand).
B.

Perhitungan Pengujian Karakteristik Upstream Sungai.


Pada pengujian karakteristik upstream sungai, dilakukan pengukuran langsung pada lokasi
penelitian, berupa pengukuran kecepatan aliran dan luas penampang pada sungai tersebut.
1. Perhitungan Kecepatan Aliran Sungai
Dari pengukuran kecepatan aliran pada upstream Sungai Jeneberang diperoleh data-data
sebagai berikut :
Tabel 4.3.
Hasil Pengukuran Kecepatan Aliran pada Upstream Sungai Jeneberang
Arah Horisontal Penanmpang
1
2
3
4
5
Penempatan
Alat (cm)
Tinggi Muka Air (cm)
24
52
82
106
91
0,6 h = 14,4 cm
0,2 h = 10,4 cm
0,8 h = 41,6 cm
0,2 h = 16,4 cm

0,3 m/s
04 m/s
0,2 m/s
0,8 m/s

19

0,8 h = 65,6 cm
0,4 m/s
0,2 h = 21,2 cm
0,7 m/s
0,8 h = 84,8 cm
0,5 m/s
0,6 h = 54,6 cm
Sehingga, dari hasil pengukuran diperoleh nilai kecepatan aliran rata-rata
yaitu = 0,4625 m/s.

0,4 m/s

2.

Perhitungan Dimensi Sungai


Pada pemeriksaan dimensi upstream sungai dilakukan pengukuran langsung, berupa
pengukuran kedalaman dan lebar penampang sungai, serta kemiringan dasar saluran sungai,
sehingga dari hasil pengukuran diperoleh data-data sebagai berikut :

Gambar. 4.2. Penampang Upstream Sungai Jeneberang


Selanjutnya, dari data tersebut digunakan formula sederhana untuk menghitung luas antar
titik dengan menggunakan rumus luas segitiga siku-siku dan luas trapesium, yang selanjutnya akan
dijumlahkan untuk mendapat luas total penampang. Sehingga, dari hasil perhitungan diperoleh
luas penampang saluran pada upstream Sungai Jeneberang yaitu = 20,9805 m2.
C.

Perhitungan Debit Aliran pada Upstream Sungai


Dari hasil pengambilan data di lapangan berupa pengukuran kecepatan aliran dan luas
penampang sungai, selanjutnya dilakukan pengolahan data untuk mengetahui besarnya debit air
yang melalui upstream sungai tersebut. Untuk mendapatkan nilai debit yang lewat pada suatu
periode tertentu, maka dilakukan metode dengan menggunakan persamaan (II-15) sebagai berikut :

Keterangan :
Qw
= Debit Aliran (m3/detik)
V
= Kecepatan aliran (m/detik)
A
= Luas Penampang Sungai (m2).
Maka :
Qw
=VxA
= 0,4625 x 20,9805
= 9,7035 m3/s
Jadi, debit air pada upstream Sungai Jeneberang yaitu = 9,7035 m3/s.
D.

Perhitungan Debit Sedimen pada Upstream Sungai


Dari hasil pengambilan data di lapangan dan laboratorium, dilakukan pengolahan data untuk
mengetahui karakteristik sedimen. Sehingga, dari data itulah selanjutnya dilakukan perhitungan
untuk mendapatkan nilai dari debit sedimen pada upstream sungai.
1.

Perhitungan Debit Sedimen Berdasarkan Data Hasil Pengujian lapangan dan


Laboratorium

20

Dengan keterbatasan data yang diperoleh dari lapangan dan laboratorium berupa nilai debit
air, berat jenis sedimen, diameter sedimen serta konsentrasi sedimen, maka debit sedimen dapat
dihitung dengan beberapa pendekatan.
a.
1)

Pendekatan dengan parameter gaya geser


Pendekatan DuBoys
Besarnya debit bed load berdasarkan tegangan geser yang terjadi

tegangan kritis

(nilai

melampaui

didapat dari gambar 2.5).

Rumus pendekatan DuBoys yaitu :


m3/det
Dimana :
d50
= 0,00051 m
= (1000)(0,71)(0,08) = 56,8 kg/m2
Dari gambar 2.5, dengan nilai d50 = 0,00051 m maka diperoleh nilai
= 0,11 kg/m2.
Selanjutnya nilai-nilai di atas dimasukkan kedalam formula pendekatan DuBoys, sehingga
diperoleh hasil di bawah ini:

164401,4724 m3/det
2) Pendekatan Shields
Rumus yang digunakan adalah :

Dengan :
qb dan q
d

= debit bed load dan air per unit lebar satuan


= DS (D = kedalaman rata-rata, S= kemiringan saluran)
= diameter partikel sedimen
= berat spesifik sedimen dan air
= kekentalan kinematic pada suhu 27C

V
Dimana :
q
= debit persatuan lebar = Q/B = 0,004 m3/det
d50
= 0,00051 m
= DS = (1000)(0,71)(0,08) = 56,8 kg/m2
U*
V(27)

= (gDS)0,5 = [(9,81)( 0,71)(0,08) = 0,74646 m/s


=

Selanjutnya nilai Re diplot kedalam diagram Shields untuk memperoleh nilai tegangan geser
yang tidak berdimensi, maka nilai tegangan kritis dapat dihitung sebagai berikut,
= 0,059 (d50 = 0,5089 mm = 0,00051 m)
= 0,059[(2687-1000)](0,00051) = 0,050648 kg/m2

21

Setelah nilai tegangan kritis telah diperoleh, selanjutnya nilai tersebut dimasukkan kedalam
formula pendekatan Shields untuk mendapatkan nilai debit sedimen dari upstream Sungai
Jeneberang sebagai berikut,

= 0,080797 m3/det
b. Pendekatan dengan parameter slope energi
Pendekatan Meyer-Peter
Dimana, nilai-nilai yang dibutuhkan dalam pendekatan ini meliputi :
D50
= 0,00051 m
Q
= 9,70 m3/det
S
= 0,08
Selanjutnya nilai-nilai yang telah diperoleh diatas dimasukkan kedalam formula pendekatan
Meyer-Peter untuk memperoleh nilai debit sedimen pada upstream Sungai Jeneberang sebagai
berikut,

qb = 0,817877 m3/det
c.

Pendekatan dengan parameter debit

Formula Schoklistsch.

Dimana :
= Debit sedimen persatuan m
d
s

= ukuran partikel sedimen (mm)


= Kemiringan dasar sungai
dan

= Debit air dan debit air kritis

Selanjutnya, nilai debit air kritis (q c) dari persamaan diatas dapat diperoleh berdasarkan nilai berat
jenis sedimen (GS = 2,65 2,70), yaitu :

= 0,0000003 m3/det
Sehingga dari nilai di atas diperoleh debit sedimen sebagai berikut,

22

= 68128,75459 m3/det
d.

Perhitungan Dengan Penelitian Langsung

Berdasarkan hasil percobaan dan persamaan (II-1) perhitungan konsentrasi sedimen (Cs),
yaitu :
Keterangan:
Cs
= Konsentrasi Sedimen
Ws
= Berat Kadar Lumpur (gram)
Wtotal
= Air + Berat kadar lumpur (gram).
Untuk Cs1

=
= 0,17

Untuk Cs2

=
= 0,22

Jadi, Cs

= 0,19

Dari hasil perhitungan konsentrasi sedimen (Cs) maka besarnya debit sedimen pada upstream
Sungai Jeneberang dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
qb = Q x Cs
Dimana :
qb = Debit Sedimen (m3/det)
Q = Debit Air (m3/det)
Cs = Konsentrasi Sedimen
Sehingga :
Q = 9,70 m3/det
Cs = 0,19
Maka :
qb = Q x Cs
qb = 9,70 x 0,19
= 1,88679 m3/det
Tabel 4.4.
Hasil Perhitungan Debit Sedimen pada Upstream Sungai Jeneberang
No
1
2
3
4
5

Pendekatan
DuBoys
Shields
Meyer-Peter
Schoklitsch
Penelitian Langsung

Debit Sedimen
(m3/det)
164401,4724
0,080797436
0,817876846
68128,75459
1,88679

23

Gambar. 4.3. Hasil Perhitungan Debit Sedimen pada Upstream Sungai Jeneberang
Perhitungan Debit Sedimen Berdasarkan Hasil Data Sekunder
Dengan keterbatasan data yang diperoleh dari instansi terkait berupa data debit air pada
Sungai Jeneberang, selanjutnya nilai debit air tersebut akan dihubungkan dengan nilai-nilai dari
hasil pengujian laboratorium untuk memperoleh nilai debit sedimen tahunan pada upstream Sungai
Jeneberang.
2.

Tabel 4.5.

Data Debit Air Tahunan pada Sungai Jeneberang


Q
Tahun
3
(m /det)
2000
14779,76
2001
14603,64
2002
16275,17
2003
12058,46
2004
23682,73
2005
19859,5
2006
20762,68
2007
18623,22
2008
28028,24
2009
20482,46
2010
19139,99
2011
18859,14
2012
23194,95
2013
13072,96
Dari tabel debit air tahunan di atas, dapat diketahui bahwa debit air maksimum yaitu terjadi
pada tahun 2008 sedangkan debit air minimum terjadi pada tahun 2003.
a.
1)

Pendekatan dengan parameter gaya geser


Pendekatan Shields

Rumus yang digunakan adalah :

Dengan :
24

qb dan q

= debit bed load dan air per unit lebar satuan


= DS (D = kedalaman rata-rata, S= kemiringan saluran)
d
= diameter partikel sedimen
= berat spesifik sedimen dan air.
Contoh Perhitungan pada Tahun 2000
Dimana :
q
= debit persatuan lebar = Q/B = 6,252 m3/det
d50
= 0,00051 m
= DS = (1000)(0,71)(0,08) = 56,8 kg/m2
U*

= (gDS)0,5 = [(9,81)( 0,71)(0,08) = 0,74646 m/s

Selanjutnya nilai Re diplot kedalam diagram Shields untuk memperoleh nilai tegangan geser yang
tidak berdimensi, maka nilai tegangan kritis dapat dihitung sebagai berikut,
= 0,059 (d50 = 0,509 mm = 0,00051 m)
= 0,059[(2687-1000)](0,00051) = 0,050648 kg/m2
Setelah nilai tegangan kritis telah diperoleh, selanjutnya nilai tersebut dimasukkan ke dalam
formula pendekatan Shields untuk mendapatkan nilai debit sedimen dari upstream Sungai
Jeneberang sebagai berikut,

= 123,0658 m3/det
Selanjutnya peritungan debit sedimen tahunan pada upstream Sungai Jeneberang dapat dilihat
pada tabel berikut.
Tabel 4.6.

Hasil Perhitungan Debit Sedimen pada Upstream Sungai Jeneberang Dengan


Pendekatan Shields

25

Gambar. 4.4. Hasil Perhitungan Debit Sedimen pada Upstream Sungai Jeneberang Dengan
Pendekatan Shields
Dari hasil perhitungan di atas, dapat diketahui bahwa debit sedimen maksimum terjadi di
tahun 2008 yaitu sebesar 233,3812 (m3/det) sedangkan debit sedimen minimum terjadi di tahun
2003 dengan nilai debit sedimen sebesar 100,065 (m3/det).
b. Pendekatan dengan parameter slope energi
Pendekatan Meyer-Peter
Contoh perhitungan pada tahun 2000
Dimana, nilai-nilai yang dibutuhkan dalam pendekatan ini meliputi :
D50
= 0,00051 m
Q
= 14779,76 m3/det
S
= 0,08
Selanjutnya nilai-nilai yang telah diperoleh diatas dimasukkan kedalam formula pendekatan
Meyer-Peter untuk memperoleh nilai debit sedimen pada upstream Sungai Jeneberang sebagai
berikut,

26

qb = 1200,579 m3/det
Selanjutnya perhitungan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.7.

Hasil Perhitungan Debit Sedimen pada Upstream Sungai Jeneberang Dengan


Pendekatan Meyer-Peter

27

Gambar. 4.5. Hasil Perhitungan Debit Sedimen pada Upstream Sungai Jeneberang Dengan
Pendekatan Meyer-Peter
c.

Pendekatan dengan parameter debit

Formula Schoklistsch.

Dimana :
= Debit sedimen persatuan m
d
s

= ukuran partikel sedimen (mm)


= Kemiringan dasar sungai
dan

= Debit air dan debit air kritis

Contoh Perhitungan Pada Tahun 2000


Selanjutnya, nilai debit air kritis (q c) dari persamaan diatas dapat diperoleh berdasarkan nilai berat
jenis sedimen (GS = 2,65 2,70), yaitu :

= 0,0000003 m3/det
Sehingga dari nilai diatas diperoleh debit sedimen sebagai berikut,

= 103769614,75 m3/det
Selanjutnya perhitungan dapat dilihat pada tabel berikut,
Tabel 4.8.
Hasil Perhitungan Debit Sedimen pada Upstream Sungai Jeneberang Dengan
Pendekatan Schoklistsch.
Tahun
S
d50
Qc
q
qb

28

2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013

(%)
0,08
0,08
0,08
0,08
0,08
0,08
0,08
0,08
0,08
0,08
0,08
0,08
0,08
0,08

(m)
0,00051
0,00051
0,00051
0,00051
0,00051
0,00051
0,00051
0,00051
0,00051
0,00051
0,00051
0,00051
0,00051
0,00051

(m3/det)
0,0000003
0,0000003
0,0000003
0,0000003
0,0000003
0,0000003
0,0000003
0,0000003
0,0000003
0,0000003
0,0000003
0,0000003
0,0000003
0,0000003

(m3/det)
14779,76
14603,64
16275,17
12058,46
23682,73
19859,50
20762,68
18623,22
28028,24
20482,46
19139,99
18859,14
23194,95
13072,96

(m3/det)
103769614,75
102533057,32
114269031,57
84663194,25
166277925,04
139434801,50
145776117,25
130754797,67
196788062,21
143808676,59
134383070,66
132411251,35
162853221,84
91786103,03

Gambar. 4.6. Hasil Perhitungan Debit Sedimen pada Upstream Sungai Jeneberang Dengan
Pendekatan Schoklistsch.
Dari hasil perhitungan di atas, dapat diketahui bahwa debit sedimen maksimum terjadi di
tahun 2008 yaitu sebesar 196788062,21 (m3/det) sedangkan debit sedimen minimum terjadi di
tahun 2003 dengan nilai debit sedimen sebesar 84663194,25 (m3/det).
Berikut rekapitulasi hasil perhitungan debit sedimen pada upstream Sungai Jeneberang dengan
beberapa pendekatan :
Tabel 4.9.
Hasil Perhitungan Debit Sedimen pada Upstream Sungai Jeneberang.
Pendekatan
No Tahun
Shields
Meyer-Peter
Schoklitsch
1
2000
123,065784 1200,579455 103769614,75
2
2001
121,599286 1186,412414 102533057,32
3
2002
135,517588 1320,803934 114269031,57
4
2003
100,406486
981,479376
84663194,25
5
2004
197,19764
1914,877568 166277925,04
6
2005
165,362984 1608,536694 139434801,50
7
2006
172,88348
1680,954606 145776117,25
8
2007
155,068916 1509,357478 130754797,67
9
2008
233,381199
2262,47161 196788062,21

29

10 2009
11 2010
12 2011
13 2012
14 2013
Rata-rata

170,55019
159,371874
157,03339
193,136107
108,853914
156,6734884

1658,489825
1550,822474
1528,28933
1875,82314
1063,212427
1524,436452

143808676,59
134383070,66
132411251,35
162853221,84
91786103,03
132107780,4

Gambar. 4.7. Hasil Perhitungan Debit Sedimen pada Upstream


Sungai Jeneberang
Dari hasil perhitungan di atas, diperoleh nilai debit sedimen yang berbed-beda dari tiap
pendekatan yang digunakan, yaitu nilai rata-rata dari pendekatan Shields sebesar 156,6734884
(m3/det), sedangkan dari pendekatan Meyer-Peter sebesar 1524,436452 (m3/det) dan dari
pendekatan Schoklitsch sebesar 132107780,4 (m3/det). Hal ini terjadi karena metode pendekatan
yang digunakan oleh para ahli berbeda-beda dalam menentukan parameter yang dibutuhkan untuk
perhitungan debit sedimen, sehingga dari metode pendekatan tersebut akan mempengaruhi hasil
dari perhitungan debit sedimen itu sendiri. Dari hasil perhitungan di atas juga dapat dilihat bahwa
nilai debit sedimen tahunan terbesar selalu berada di tahun 2008, sedangkan nilai debit sedimen
tahunan terkecil berada di tahun 2003. Hal ini disebabkan karena data debit air tahunan terbesar
berada di tahun 2008 dan data bebit air tahunan terkecil berada di tahun 2003. Sehingga dapat
dipahami bahwa nilai debit sedimen berbanding lurus dengan nilai debit air, semakin tinggi debit
air maka semakin tinggi pula debit sedimen yang diperoleh, begitu pula sebaliknya.

30

Gambar. 4.8. Grafik Hubungan Debit Sedimen (qb) dengan Konsentrasi Sedimen (Cs)
Dari gambar 4.8 diperoleh bahwa nilai debit sedimen dengan menggunakan data primer
menghasilkan nilai yang lebih kecil jika di bandingkan dengan nilai debit sedimen menurut data
sekunder. Hal ini dikarenakan, pengukuran debit air pada data primer dilakukan pada musim
kemarau dan itu hanya debit sesaat karena hanya dilakukan satu kali pengukuran, sedangkan, debit
air dari data sekunder merupakan pengukuran terstruktur oleh instansi terkait.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa :
1. Dari hasil pengujian di laboratorium untuk karakteristik sedimen yang berasal dari lokasi
penelitian pada hulu Sungai Jeneberang, maka diperoleh nilai berat jenis sedimen rata-rata
(Gs) sebesar 2,69, serta diperoleh nilai diameter sedimen yang seragam

sebesar 0,5089

mm. Sehingga berdasarkan data yang telah diperoleh maka jenis sedimen ini yang berasal
pada hulu Sungai Jeneberang dapat diklasifikasikan sebagai sedimen dengan jenis pasir
sedang (medium sand) dan pasir berlanau (silty sand). Selain itu diperoleh juga nilai debit
sedimen ( ) pada hulu Sungai Jeneberang sebesar 1,843665 m3/det.
2.

Berdasarkan hasil perhitungan debit sedimen dari beberapa pendekatan, diperoleh nilai debit
sedimen maksimum selalu berada pada tahun 2008 sedangkan debit sedimen minimum selalu
berada di tahun 2003, dimana data debit air yang digunakan juga menunjukkan bahwa nilai
debit air maksimum berada di tahun 2008 sedangkan nilai debit air minimum berada di tahun
2003. Sehingga dapat disimpulkan bagaimana pengaruh debit air terhadap debit sedimen,
yaitu semakin besar debit air maka semakin besar pula debit sedimen dasar yang terjadi,
begitu pula sebaliknya.

B.
1.

Saran
Perlu adanya pengamatan serta pengukuran debit, pengukuran sedimentasi dan kecepatan
aliran yang berkelanjutan, untuk mendapatkan data-data yang akurat.

31

2.
3.

Untuk Perpustakaan Jurusan Sipil dan Perpustakaan Umum UNHAS sebaiknya menyiapkan
dan melengkapi buku-buku sipil tentang sedimen untuk menunjang proses belajar mengajar
dan penyusunan tugas akhir.
Agar kiranya instansi-instansi terkait memberikan dan melengkapi data-data yang
berhubungan dengan keadaan Sungai Jeneberang.

32