Anda di halaman 1dari 5

1.

Resume
An.A datang ke RSUD Caruban dengan keluhan sesak nafas sejak 2hari sebelum
MRS. Sesak nafas terus-terusan. Selain itu pasien juga mengalami demam. Demam sejak
4 hari yang lalu sebelum MRS. Demam naik-turun, terus menerus dan tanpa menggigil.
Demam sudah diobati dengan menggunakan paracetamol dan demam sempat turun namun
beberapa saat kemudian demam naik kembali. Keluhan demam juga disertai batuk dan
pilek. Batuk sejak 3 hari sebelum MRS, batuk disertai berdahak, dahak tidak bisa
dikeluarkan. Pilek sejak 3 hari sebelum MRS juga, pilek kental kuning dan tidak bisa
dikeluarkan sehingga membuat hidung pasien tersumbat dan sulit bernafas. Batuk pilek
belum diobati. BAK terakhir saat MRS. BAB terakhir saat MRS juga. BAB cair(+), sejak
2hari sebelum MRS. BAB cair 6x saat sebelum MRS, dan 3x saat MRS. BAB cair(+),
ampas(+), lendir (+), darah(+). BAB belum diobati Ketika menangis pasien masih
mengeluarkan air mata. Nafsu makan berkurang. Minum masih mau (susu formula dan air
putih). riwayat RPD,batuk pilek (+). RPK(-). Riwayat kehamilan terdapat gangguan, yaitu
saat hamil ibu memiliki penyakit campak dan nafsu makan menurun sedangkan riwayat
persalinan baik. Kualitas dan kuantitas kurang baik, karena pasien hanya mendapatkan
ASI sampai umur 2bulan saja. Ada keterlambatan pertumbuhan maupun perkembangan,
yaitu motorik kasar dan komunikasi. Serta bila dilihat dari berat badan dan panjang badan
pasien mengalami gizi buruk.
Pada pemeriksaan fisik Mata terdapat katarak konginetal, Jantung terdapat ketidak
normalan yaitu terdapat suara jantung tambahan, sedangkan pemeriksaan paru pada
auskultasi terdapat ronki (+)/(+).
Pada pemeriksaan laboratorium di dapatkan:
Darah rutin : Anemia
Foto thorak: Bronkopnemonia
Ekokardiografi: Penyakit Jantung Bawaan (PDA dan VSD)
2. Analisis
Dilihat dari keluhan pasien seperti sesak nafas dan demam tinggi, serta suara tambahan pada
paru, pasien mengalami infeksi saluran nafas Bronkopnemonia. Karena tiga gejala tersebut
masuk dalam trias bronkopenmonia.
Diagnosis ditegakkan bila ditemukan 3 dari 5 gejala berikut (Bradley et.al., 2011):
1.

Sesak napas disertai dengan pernafasan cuping hidung dan tarikan dinding dada

2.

Demam

3.

Ronkhi basah halus-sedang nyaring (crackles)

4.

Foto thorax meninjikkan gambaran infiltrat difus

5.

Leukositosis (pada infeksi virus tidak melebihi 20.000/mm3 dengan limfosit

predominan, dan bakteri 15.000-40.000/mm3 neutrofil yang predominan)


Selain itu ada beberapa hal yang menjadi faktor risiko pasien mengalami Brokopnemonia,
antara lain yaitu:
1. Faktor status gizi pasien yang termasuk dalam gizi buruk.
2. Faktor dari angen infeksinya sendiri
3. Faktor ekonomi, tingkat penghasilan yang rendah menyebabkan orang tua sulit
menyediakan fasilitas perumahan yang baik, perawatan kesehatan, dan gizi balita
yang memadai. Rendahnya kualitas gizi anak menyebabkan daya tahan tubuh
berkurang dan mudah terkena penyakit infeksi termasuk penyakit pneumonia.
4. Faktor lingkungan fisik
Untuk terapi bronkopnemonia sendiri, penatalaksanaan umum dan khusus (IDAI, 2012;
Bradley et.al., 2011)
1.
a.

Penatalaksaan Umum
Pemberian oksigen lembab 2-4 L/menit sampai sesak nafas hilang atau PaO2 pada

analisis gas darah 60 torr.


b.

Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit.

c. Asidosis diatasi dengan pemberian bikarbonat intravena.


2.

Penatalaksanaan Khusus

a.

Mukolitik, ekspektoran dan obat penurun panas sebaiknya tidak diberikan pada 72 jam

pertama karena akan mengaburkan interpretasi reaksi antibioti awal.


b.

Obat penurun panas diberikan hanya pada penderita dengan suhu tinggi, takikardi, atau

penderita kelainan jantung


c.

Pemberian antibiotika berdasarkan mikroorganisme penyebab dan manifestasi klinis.

Pneumonia ringan amoksisilin 10-25 mg/kgBB/dosis (di wilayah dengan angka resistensi
penisillin tinggi dosis dapat dinaikkan menjadi 80-90 mg/kgBB/hari).
Berdasarkan gejala yang muncul diare pada pasien dapat digolongkan kedalam diare
cair akut, dengan muncul secara tiba-tiba, kurang dari 7 hari, tinja cair, dan tanpa darah.
Dari penyebabnya sendiri kemungkinan pada pasien tersebut dikarenakan adanya
infeksi virus dimana pada gejala tidak ditemukan adanya darah dan lendir, di sertai adanya
demam mendahului diare menunjukan adanya infeksi pada saluran pencernaan.

Dari segi dehidrasinya pasien mengarah pada diare tanpa dehidrasi. Dimana anak
merasa normal, tidak rewel, masih bisa bermain seperti biasa, nangis (+), air mata (+), mata
cekung (-), bibir tidak kering, ubun-ubun cekung (-). Umumnya karena diarenya tidak berat,
anak masih mau makan dan minum seperti biasa.
Dari segi perjalanan penyakit pada pasien terjadinya penyakit akibat dari proses
rangsangan tertentu pada dinding usus, kemungkinan karena toxsin dari virus, dimana
terdapat leukosit pada pemeriksaan lab feses, karena adanya rangsangan tersebut menjadikan
terjadinya hipersekresi air dan elektrolit dari lumen usus, sehingga isi lumen usus menjadi
cair dan akan timbul diare.
Untuk terapi diare cair akut tanpa dehidrasi. Penanganan lini pertama pada diare cair akut
tanpa dehidrasi antara lain sebagai berikut:
Memberikan kepada anak lebih banyak cairan daripada biasanya untuk mencegah
dehidrasi. Dapat kita gunakan cairan rumah tangga yang dianjurkan, seperti oralit,
makanan cair (seperti sup dan air tajin) dan bila tidak ada air matang, kita dapat
menggunakan larutan oralit untuk anak. Pemberian larutan diberikan terus semau
naak hingga diare berhenti. Volume cairan untuk usia kurang dari 1th : 50-100cc,
untuk usia 1-5 tahun mendapat 100-200cc, untuk usia lebih dari 5 tahun dapat
diberikan semaunya.
Memberikan tablet zinc. Pemberian tablet zinc diberikan selama 10-14 hari berturutturut meskipun anak telah sembuh dari diare. Dosis zinc untuk anak bervariasi,
untuk anak usia dibawah 6 bulan sebesar 10mg (1/2 tablet) perhari, sedangkan untuk
usia diatas 6 bulan sebesar 20 mg perhari. Zinc diberikan selama 10-14 hari berturutturut, meskipun anak telah sembuh dari diare.
Memberikan anak makanan untuk mencegah kekurangan gizi.
Membawa anak kepada petugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam 3 hari
atau menderita sebagai berikut buang air besar cair lebih sering, muntah terus
menerus, rasa haus yang nyata, makan atau minum sedikit, demam, dan tinja
berdarah.
Anak harus diberi oralit dirumah Formula oralit baru yangberasal dari WHO dengan
komposisi sevagai berikut:
-

Natrium : 75 mmol/L

Klorida : 65 mmol/L

Glukosa, anhydrous : 75 mmol/L

Kalium :20 mmol/L

Sitrat :10 mmol/L

Total osmolaritas :245 mmol/L

Ketentuan pemberian oralit formula baru :


1. Beri ibu 2 bungkus oralit formula baru
2. Larutkan 1 bungkus oralit formula baru dalam 1 L air matang, untuk
persediaan 24 jam
3. Berikan larutan oralit pada anak setiap kali buang air besar dengan ketentuan
untuk anak usia kurang dari 2tahun berikan 50-100 ml setiap kali buang air
besar, sedangkan untuk ubtuk anak berumur 2 tahun atau lebih berikan 100200 ml tiap kali buang air besar.
4. Jika dalam waktu 24jam persediaan oralit masih tersisa, maka sisa larutan itu
harus dibuang (WHO, 2006)
Selain Bronkopnemonia dan diare cair akut tanpa dehidrasi pasien juga memiliki beberapa
masalah inaktif seperti:

Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan


Gizi buruk
Katarak konginetal
Penyakit Jantung bawaan (VSD dan PDA)
Mikrosephal
Masalah inaktif tersebut masuk dalam sindroma rubella konginetal, karena masuk

dalam Bayi kriteria CRS yaitu CRS apabila mengalami 2 gejala pada kriteria A atau 1 kriteria
A dan 1 kriteria B, sebagai berikut:
A) Katarak, glaukoma bawaan, penyakit jantung bawaan (paling sering adalah patient ductus
arteriosus atau peripheral pulmonary artery stenosis), kehilangan pendengaran, pigmentasi
retina.
B) Purpura, splenomegali, jaundice, mikroemsefali, retardasi mental, meningoensefalitis dan
radiolucent bone disease (tulang tampak gelap pada hasil foto roentgen).
Beberapa kasus hanya mempunyai satu gejala dan kehilangan pendengaran merupakan cacat
paling umum yang ditemukan di bayi dengan CRS. Definisi kehilangan pendengaran menurut
WHO adalah batas pendengaran 26 dB yang tidak dapat disembuhkan dan bersifat
permanen.