Anda di halaman 1dari 46

Skenario 2

KEJADIAN PENYAKIT DAN PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT


Pada Tahun 2011, ditetapkan KLB (Kejadian Luar Biasa) Demam Berdarah Dengue di Kota
Pekanbaru. Pernyataan resmi ini disampaikan Pejabat Walikota Pekanbaru setelah mendengar
laporan Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru dalam rapat koordinasi. Pada bulan Februari
2010 terdapat sebanyak 202 kasus dan bulan Februari 2011 mencapai 450 kasus. Hal ini
menunjukan peningkatan sebesar kurang lebih dua kali lipat dari periode tahun sebelumnya. IR
(Incidence Rate) DBD menurut WHO di Indonesia adalah sebesar < 50 per 100.000 penduduk
dengan CFR (Case Fatality Rate) 0,2. Kematian yang terjadi pada kasus DBD disebabkan masih
kurangnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap gejala DBD. Sering kali pasien
dating ke Puskesmas dalam stadium lanjut, dimana terdapat perdarahan spontan dan syok. Pada
stadium demam terdapat kebiasaan masyarakat yang cenderung untuk mengobati diri sendiri
dengan cara membaluri badan dengan bawang merah yang dicampur minyak goring terlenih
dahulu kemudian membeli obat penurun panas di warung atau toko obat. Masyarakat tidak
mengerti kalau pada saat mulai demam harus segera dibawa ke Puskesmas.
Karena adanya KLB tersebut, Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) ke
lapangan untuk mengetahui penyebab terjadinya KLB. Berdasarkan hasil penyelidikan
epidemiologi tersebut, Puskesmas melakukan tindakan yang diperlukan untuk menanggulangi
KLB.
Banyaknya penderita DBD di Puskesmas membutuhkan obat-obatan dan cairan infuse bagi
pasien yang jumlahnya sangat banyak, sementara persediaan di Puskesmas juga terbatas. Untuk
mengatasi hal tersebut Puskesmas melakukan rujukan kesehatan masyarakat ke Dinas Kesehatan
Kota Pekanbaru.
Program penanggulangan DBD yang berjalan seharusnya bukan hanya dikerjakan oleh
Puskesmas sendiri secara Lintas Program, tetapi juga dikerjakan secara Lintas Sektoral demi
untuk meningkatkan mutu pelayanan. Pada saat bersamaan, terjadi ledakan kasus Campak di
Puskesmas setempat. Ternyata cakupan imunisasi campak dalam 3 tahun terakhir selalu berada
dalam kisaran <50%.
Dalam pertemuan lintas sektoral, tokoh Agama juga terlibat dalam ikut urun rembuk
penyelesaian masalah kesehatan di masyarakat. Tokoh agama menyampaikan, bahwa dalam
pandangan islam menciptakan kemashlahatan insani yang hakiki adalah merupakan salah satu
tujuan syariat islam dan hukum menjaga kesehatan dan berobat adalah wajib.

Kata Sulit :
1. Kejadian Luar Biasa : Timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang
bermakna secara epidemiologi dalam kurun waktu dan daerah tertentu.
2. Insidence Rate
: Frekuensi penyakit baru yang ada di masyarakat di suatu tempat pada
waktu tertentu.
Kasus baru dalam periode tertentu
IR =
x K
Populasi beresiko di periode sakit yang sama
3. Case Fatality Rate
: Frekuensi kematian oleh penyakit tertentu untuk menentukan keganasan
atau kegawatan penyakit tersebut.
Kematian pada penyakit tertentu
CFR =
xK
Penderita penyakit tersebut
4. Penyelidikan Epidemiologi : Rangkaian kegiatan untuk mengetahui suatu kejadian baik sedang
berlangsung maupun sudah terjadi, sifatnya penelitian melalui pengumpulan data primer dan
sekunder, pengolahan dan analisis dalam bentuk laporan.
5. Lintas Program
: Penggabungan dan penghubungan beberapa program dalam suatu
instansi.
6. Lintas Sektoral
: penggabungan dan penghubungan beberapa program dalam suatu
instansi yang berbeda.

Pertanyaan :
1. Apa saja yang termasuk kriteria KLB?
2. Bagaimana hukum berobat menggunakan obat yang haram/tidak halal?
3. Apa saja yang termasuk program Puskesmas?
4. Bagaimana cara menanggulangi KLB?
5. Bagaimana pencegahan KLB?
6. Apa hubungannya IR dan CFR dengan KLB?
7. Apa yang menyebabkan Insidens Rate (IR) terus meningkat?
8. Bagaimana cara melakukan rujukan pasien kesehatan masyarakat?
9. Apa hubungannya ledakan kasus campak dengan cakupan imunisasi?
10. Bagaimana cara mengubah pola fikir masyarakat tentang cara berobat?
11. Mengapa cakupan imunisasi <50%?
Jawaban :
- Timbulnya penyakit menular yang sebabnya tidak diketahui
Penyakit atau kejadian yang terjadi selama 3 kurun waktu tertentu
Meningkatnya kejadian atau kematian 2 kali atau lebih dari sebelumnya
Jumlah penderita baru naik 2 kali dalam sebulan dibanding rata-rata bulan sebelumnya
Angka rata-rata perbulan selama 1 tahun menunjukkan naik 2 kali disbanding rata-rata bulan
dalam tahun sebelumnya.
2. Berlaku hukum dharurat jika tidak ada pilihan lain maka diperbolehkan
3. Pelayanan Kesehatan : Health Promotion, Specific Protection, Early diagnosis, Prompt treatment,
Disability limitation, Rehabilitasi.
4. Dengan sistem kewaspadaan dini (SKD-KLB) yaitu berupa pengamatan yang sistematis dan
terus menerus yang mendukung sikap tanggap atau waspada yang cepat dan tepat terhadap
adanya suatu perubahan status kesehatan masyarakat.
5. - Pencegahan pertama : Menurunkan faktor penyebab
- Pencegahan kedua
: ditujukkan pada yang suspek yaitu dengan melakukan diagnosis dini
- Pencegahan ketiga : untuk mencegah angka kematian atau cacat
- Strategi pencegahan penyakit
6. IR (insidens Rate) untuk menunjukkan jumlah kasus baru disuatu daerah, untuk menunjukkan
suatu KLB atau bukan.
CFR (Case Fatality Rate) untuk menunjukkan angka kefatalan penyakit pada KLB
7. Populasi yang beresiko menurun namun jumlah kasus baru meningkat
8. Pasien datang
tidak dapat ditangani dipuskesmas
Rujuk
9. Karena cakupan imunisasi campak kisarannya <50%
10. Peningkatan pendidikan
penyuluhan
promosi kesehatan
aplikasi
praktek
pengawasan
11. Ketersediaan obat-obatan dan fasilitas yang kurang memadai yang ada di puskesmas.
1.
-

Hipotesis

Sasaran Belajar
LI.1. Memahami dan menjelaskan KLB berdasarkan tingkat morbiditas dan mortalitas
LO.1.1. Memahami dan menjelaskan Definisi KLB
LO.1.2. Memahami dan menjelaskan Krieria KLB
LO.1.3. Memahami dan menjelaskan Metode KLB
LO.1.4. Memahami dan menjelaskan Tujuan KLB
LO.1.5. Memahami dan menjelaskan Pencegahan KLB
LI.2. Memahami dan menjelaskan perilaku kesehatan dalam pola pencarian pengobatan
berdasarkan aspek sosial budaya
LI.3. Memahami dan menjelaskan rujukan kesehatan masyarakat
LI.4. Memahami dan menjelaskan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan
LI.5. Memahami dan menjelaskan cakupan imunisasi di Puskesmas
LO.5.1. Memahami dan menjelaskan jenis-jenis imunisasi
LO.5.2. Memahami dan menjelaskan jadwal imunisasi
LI.6. Memahami dan menjelaskan pandangan Islam terhadap KLB dan hukum menjaga
kesehatan dan berobat

LI.1. Memahami dan menjelaskan KLB berdasarkan tingkat morbiditas dan mortalitas
LO.1.1. Memahami dan menjelaskan Definisi KLB
Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah salah satu status yang diterapkan di Indonesia untuk
mengklasifikasikan peristiwa merebaknya suatu wabah penyakit. Untuk penyakit-penyakit
endemis (penyakit yang selalu ada pada keadaan biasa), maka KLB didefinisikan sebagai suatu
peningkatan jumlah kasus yang melebihi keadaan biasa, pada waktu dan daerah tertentu.
Menurut Departemen Kesehatan tahun 2000 Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya atau
meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis dalam
kurun waktu dan daerah tertentu.
Wabah adalah peningkatan kejadian kesakitan/kematian, yang meluas secara cepat baik
dalam jumlah kasus maupun luas daerah penyakit, dan dapat menimbulkan malapetaka.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

9.

LO.1.2. Memahami dan menjelaskan Krieria KLB


kriteria kerja KLB yaitu :
Timbulnya suatu penyakit/menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal.
Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut
menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun)
Peningkatan kejadian penyakit/kematian, 2 kali atau lebih dibandingkan dengan periode
sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih bila
dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.
Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih
dibanding dengan angka rata-rata per bulan dari tahun sebelumnya.
Case Fatality Rate dari suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menunjukan kenaikan
50% atau lebih, dibanding dengan CFR dari periode sebelumnya.
Propotional Rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikan dua kali
atau lebih dibanding periode yang sama dan kurun waktu/tahun sebelumnya.
Beberapa penyakit khusus : Kholera, DHF/DSS, (a)Setiap peningkatan kasus dari periode
sebelumnya (pada daerah endemis). (b)Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada
periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang
bersangkutan.
Beberapa penyakit yg dialami 1 atau lebih penderita: Keracunan makanan, Keracunan pestisida.

LO.1.3. Memahami dan menjelaskan Metode KLB


Metode ( mortalitas dan morbilitas )
1. UKURAN MORBIDITAS
Ukuran atau angka morbiditas adalah jumlah penderita yang dicatat selama 1 tahun per 1000
jumlah penduduk pertengahan tahun. Angka ini dapat digunakan untuk menggambarakan
keadaan kesehatan secara umum, mengetahui keberahasilan program program pemberantasan
penyakit, dan sanitasi lingkungan serta memperoleh gambaran pengetahuan pendudukterhadap
pelayanan kesehatan. Secara umum ukuran yang banyak digunakan dalam menentukan
morbiditas adalah angka, rasio, dan proporsi. Ukuran kesakitan dan kematian yang lazim dipakai
dalam penyelidikan-penyelidikan epidemiologi disebut rate. Sebelumnya, perhatikan hal-hal
berikut:

Untuk penyususnan rate diperlukan 3 elemen yakni, jumlah orang yang terserang penyakit atau
yang meninggal, jumlah penduduk dari mana penderita berasal (reference population), dan waktu
atau periode dimana orang-orang terserang penyakit.
Apabila pembilang terbatas pada umur, seks, atau golongan tertentu, maka penyebut juga harus
terbatas pada umur, seks, atau golongan yang sama
Jika penyebut terbatas pada mereka yang dapat terserang atau terjangkit penyakit, maka
penyebut tersebut dinamakan populasi yang mempunyai risiko (population at risk)

a) Incidence rate
Adalah jumlah kasus baru yang terjadi di kalangan penduduk selama periode waktu tertentu.
jumlah kasus baru suatu penyakit selama periodetertentu

x 1000
populasi yg mempunyai resiko
b) attack rate
jumlah kasus selama epidemi

x 1000
populasi yg mempunyai resiko
c) prevalence rate
jml kasuskasus penyakit pd suatutitik waktu

x 1000
jml penduduk seluruhnya
d) period prevalence
jmlkasus penyakit yg selama periode

x 1000
penduduk ratarata periode tsb(mid period popuation)
Period prevalence terbentuk dari prevalence pada suatu titik waktu ditambah kasus-kasus baru
(incidence) dan kasus-kasus yang kambuh selama periode observasi.
e) cause disease spesific death rate
contoh: kematian karena TBC
jml kematian krn TBC di suatu daerah dlm1 thn

x 1000
jml penduduk rata2 ( pertengahanthn ) pd daerah dan thn yg sama
2. UKURAN MORTALITAS
a. Case Fatality Rate (CFR)
CFR adalah perbandingan antara jumlah kematian terhadap penyakit tertentu yang terjadi
dalam 1 tahun dengan jumlah penduduk yang menderita penyakit tersebut pada tahun yang sama\

Rumus:
CFR=

P
xK
T

P = Jumlah kematian terhadap penyakit tertentu


T = jumlah penduduk yang menderita penyakit tersebut pada tahun yang sama
Perhitungan ini dapat digunakan uutk mengetahui tingakat penyakit dengan tingkat
keamtia yang tinggi. Rasio ini dapat dispesifikkan menjadi menurut golongan umur, jenis
kelamin, tingkat pendidikan dan lain-lain

b. Crude Death Rate (CDR)


Angka keamtian kasar adalah jumlah keamtian ang dicata selama 1 tahun per 1000 penduduk
pada pertengahan tahun yang sama. Disebut kasar karena akngka ini dihitung secatra menyeluruh
tanpa memperhatikan kelompok-kelompok tertentu di dalam populasi denga tingkat kematian
yang berbeda-beda.
jml kematian di penduduk suatu daerah dlm 1thn

x 1000
jml penduduk ratarata ( pertengahan thndi daerah dan thn yg sama )
-

Manfaat CDR:
Sebagai gambaran status kesehatan masyarakat
Sebagai gambaran tingkat permasalahan penyakit dalam masyarakat
Sebagai gambaran kondisi sosial ekonomi
Sebagai gambaran kondisi lingkungan dan biologis
Untuk menghitung laju pertumbuhan penduduk

b. Age Spesific Death Rate (ASDR)


contoh: ASDR pada golongan umur 20-30 tahun
jml kematianantaraumur 2030 thn di suatudaerah dlm 1 thn

x 1000
jml penduduk berumur 2030 thn pd daerah dan thn yg sama

Manfaat ASDR sebagai berikut:


Untuk mengetahui dan menggambarkan derajat kesahatan masyarakat dengan melihat kematian
tertinggi pada golongan umur
untuk membandingkan taraf kesehatan masyarakat di bebagai wilayah
untuk menghitung rata-rata harapan hidup

c. Under Five Mortality Rate (UFMR)

Angka kematian Balita adalah gabungan antara angka kematian bayi dengan angka
kematian anak umur 1-4 tahun yaitu jumlah kematian balita yang dicatat selam satu tahun per
1000 penduduk balita pada tahun yang sama.
Rumus:
M
UFMR= xK
R
M = Jumlah kematian balita yang dicatat selama satu tahun
R = Penduduk balita pada tahun yang sama
k = Konstanta
Angka kematian balita sangat penting untuk mengukur taraf kesehatan masyarakat karena
angka ini merupakan indikator yang sensitif untuk sataus keseahtan bayi dan anak
d. Neonatal Mortality Rate (NMR)
Neonatal adalah bayi yang berumur kurang dari 28 hari. Angka Kematian Neonatal
adalah jumlah kematian bayi yang berumur kurang dari 28 hari yang dicatata selama 1 tahun per
1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.
Rumus:
NMR=

di
xK
B

di = Jumlah kematian bayi yang berumur kurang dari 28 hari


B = Kelahiran hidup pada tahun yang sama
k = konstanta
Manfaat dari angka kematian neonatal adalah sebgai berikut:
untuk mengetahuai tinggi rendahnya perawatan post natal
Untuk mengetahui program Imuninsasi
Untuk pertolongan persalina
untuk mengetahui penyakit infeksi

e. Perinatal Mortality Rate (PMR)


Angka kematian perinatal adalah jumlah kematian janin yang dilahirkan pada usia
kehamilan berumur 28 minggu atau lebih ditambah kematian bayi yang berumur kurang dari 7
hari yang dicatat dalam 1 tahun per 1000 kelahiran kelahiran hidupn pada tahun yang sama.
Rumus:
PMR=( P+

M
) xK
R

P = jumlah kematian janin yang dilahirkan pada usia kehamilan berumur 28 minggu
M =ditambah kematian bayi yang berumur kurang dari 7 hari
9

R = 1000 kelahiran kelahiran hidupn pada tahun yang sama.

Manfaat dari angka kematian perinatal adalah untuk menggambarkan keadaan kesehatan
masyarakat terutama kesehatan ibu hamil dan bayi. Faktor yang mempengaruhi tinggnya PMR
adalah sebagai berikut:
Banyak bayi dengan berat badan lahir rendah
Status gizi ibu dan bayi
Keadaan sosial ekonomi
Penyakit infeksi terutama ISPA
Pertolongan persalinan

f. Infant Mortality Rate (IMR)


Angka Kematian Bayi adalah perbandingan jumlah penduduk yang berumur kurang dari
1 tahun yang diacat selama 1 tahun dengan 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.
Rumus:
IMR=

d0
xK
B

d0 = Jumlah penduduk yang berumur kurang dari 1 tahun


B = Jumlah lahir hidup pada thun yang sama
k = Konstanta
Manfaat dari perhitungan angka kematian bayi adalah sebagai berikut:
- Untuk mengetahui gambaran tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan
faktor penyebab kematian bayi
- Untuk Mengetahui tingkat pelayanan antenatal
- Untuk mengetahui status gizi ibu hamil
- Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan Program
Keluaga berencana (KB)
- untuk mengetahui kondisi lingkungan dan social ekonomi
g. Maternal Mortality Rate (MMR)
Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu akibat komplikasi kehamilan,
persalinan, dan masa nifas yang dicatat selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang
sama.
Rumus:
MMR=

I
xK
T

I = adalah jumlah kematian ibu akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas
T = Kelahiran hidup pada tahun yang sama.
k = konstanta
10

a.
b.
c.

a.
b.
c.
d.
e.

Tinggi rendahnya angka MMR tergantung kepada:


Sosial ekonomi
Kesehatan ibu sebellum hamil, persalinan, dan masa nasa nifas
Pelayanan terhadap ibu hamil
Pertolongan persalinan dan perawatan masa nifas
waktu singkat tetapi kurang sensitif untuk:
Membandingkan tingkat fertilitas dua wilayah
Mengukur perubahan tingkat fertilitas karena perubahan pada tingkat
kelahiran ak
Tingkat atau pola dalam penyelidikan KLB ini sangat sulit ditentukan, sehingga metoda yang
dipakai pada penyelidikan KLB sangat bervariasi. Menurut Kelsey et al., 1986; Goodman et al.,
1990 dan Pranowo, 1991, variasi tersebut meliputi :
Rancangan penelitian, dapat merupakan suatu penelitian prospektif atau retrospektif tergantung
dari waktu dilaksanakannya penyelidikan. Dapat merupakan suatu penelitian deskriptif, analitik
atau keduanya.
Materi (manusia, mikroorganisme, bahan kimia, masalah administratif),
Sasaran pemantauan, berbagai kelompok menurut sifat dan tempatnya (Rumah sakit, klinik,
laboratorium dan lapangan).
Setiap penyelidikan KLB selalu mempunyai tujuan utama yang sama yaitu mencegah meluasnya
(penanggulangan) dan terulangnya KLB di masa yang akan datang (pengendalian), dengan
tujuan khusus :
Diagnose kasus-kasus yang terjadi dan mengidentifikasi penyebab penyakit
Memastikan keadaan tersebut merupakan KLB
Mengidentifikasikan sumber dan cara penularan
Mengidentifikasi keadaan yang menyebabkan KLB
Mengidentifikasikan populasi yang rentan atau daerah yang berisiko akan terjadi KLB (CDC,
1981; Bres, 1986).
Metodologi atau langkah-langkah yang harus dilalui pada pada penyelidikan KLB, seperti
berikut :
Tabel 1 : langkah-langkah Penyelidikan KLB
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Langkah-langkah Penyelidikan KLB


Persiapan penelitian lapangan
Menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB
Memastikan Diagnose Etiologis
Mengidentifikasikan dan menghitung kasus atau paparan
Mendeskripsikan kasus berdasarkan orang, waktu, dan tempat
Membuat cara penanggulangan sementara dengan segera (jika diperlukan)
Mengidentifikasi sumber dan cara penyebaran
Mengidentikasi keadaan penyebab KLB
Merencanakan penelitian lain yang sistematis
Menetapkan saran cara pencegahan atau penanggulangan
11

11
12

Menetapkan sistim penemuan kasus baru atau kasus dengan komplikasi


Melaporkan hasil penyelidikan kepada Instansi kesehatan setempat dan kepada sistim
pelayanan kesehatan yang lebih tinggi

Sumber : CDC, 1979; Barker, 1979; Greg, 1985; Mausner and Kramer, 1985; Kelsey et al.,
1986; Goodman et al., 1990.
Pada pelaksanaan penyelidikan KLB, langkah-langkah tersebut tidak harus dikerjakan
secara berurutan, kadang-kadang beberapa langkah dapat dikerjakan secara serentak. Pemastian
diagnose dan penetapan KLB merupakan langkah awal yang harus dikerjakan (Mausner and
Kramer, 1985; Vaughan and Marrow, 1989).

LO.1.4. Memahami dan menjelaskan Tujuan KLB


Tujuan Umum :
Mencegah meluasnya (penanggulangan).
Mencegah terulangnya KLB di masa yang akan datang (pengendalian).
Tujuan khusus :
Diagnosis kasus yang terjadi dan mengidentifikasi penyebab penyakit .
Memastikan bahwa keadaan tersebut merupakan KLB,
Mengidentifikasikan sumber dan cara penularan
Mengidentifikasi keadaan yang menyebabkan KLB
Mengidentifikasikan populasi yang rentan atau daerah yang beresiko akan terjadi KLB (CDC,
1981; Bres, 1986).
LO.1.5. Memahami dan menjelaskan Pencegahan KLB
Upaya penanggulangan ini meliputi pencegahan penyebaran KLB, termasuk pengawasan
usaha pencegahan tersebut dan pemberantasan penyakitnya.Upaya penanggulangan KLB yang
direncanakan dengan cermat dan dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait secara
terkoordinasi dapat menghentikan atau membatasi penyebarluasan KLB sehingga tidak
berkembang menjadi suatu wabah (Depkes, 2000).
Penanggulangan KLB dikenal dengan nama Sistem Kewaspadaan Dini (SKD-KLB), yang
dapat diartikan sebagai suatu upaya pencegahan dan penanggulangan KLB secara dini dengan
melakukan kegiatan untuk mengantisipasi KLB. Kegiatan yang dilakukan berupa pengamatan
yang sistematis dan terus-menerus yang mendukung sikap tanggap/waspada yang cepat dan tepat
terhadap adanya suatu perubahan status kesehatan masyarakat.Kegiatan yang dilakukan adalah
pengumpulan data kasus baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi terjadi KLB secara
mingguan sebagai upaya SKD-KLB. Data-data yang telah terkumpul dilakukan pengolahan dan
analisis data untuk penyusunan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi (Dinkes Kota
Surabaya, 2002).
Berdasarkan Undang-undang No. 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit menular serta
Peraturan Menteri Kesehatan No. 560 tahun 1989, maka penyakit DBD harus dilaporkan segera
dalam waktu kurang dari 24 jam. Undang-undang No. 4 tahun 1984 juga menyebutkan bahwa
wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat, yang jumlah
penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah
12

tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Dalam rangka mengantisipasi wabah secara dini,
dikembangkan istilah kejadian luar biasa (KLB) sebagai pemantauan lebih dini terhadap kejadian
wabah.Tetapi kelemahan dari sistem ini adalah penentuan penyakit didasarkan atas hasil
pemeriksaan klinik laboratorium sehingga seringkali KLB terlambat diantisipasi (Sidemen A.,
2003).
Badan Litbangkes berkerja sama dengan Namru 2 telah mengembangkan suatu sistem
surveilans dengan menggunakan teknologi informasi (computerize) yang disebut dengan Early
Warning Outbreak Recognition System (EWORS). EWORS adalah suatu sistem jaringan
informasi yang menggunakan internet yang bertujuan untuk menyampaikan berita adanya
kejadian luar biasa pada suatu daerah di seluruh Indonesia ke pusat EWORS secara cepat (Badan
Litbangkes, Depkes RI).Melalui sistem ini peningkatan dan penyebaran kasus dapat diketahui
dengan cepat, sehingga tindakan penanggulangan penyakit dapat dilakukan sedini mungkin.
Dalam masalah DBD kali ini EWORS telah berperan dalam hal menginformasikan data kasus
DBD dari segi jumlah, gejala/karakteristik penyakit, tempat/lokasi, dan waktu kejadian dari
seluruh rumah sakit DATI II di Indonesia (Sidemen A., 2003)
Upaya pencegahan perluasan KLB meliputi:
Pengobatan penderita sebagai sumber penularan penyakit penyebab KLB
Perbaikan kondisi lingkungan sebagai sumber penyebaran penyakit
Meningkatkan daya tahan tubuh dengan perbaikan gizi dan imunisasi

LI.2. Memahami dan menjelaskan perilaku kesehatan dalam pola pencarian pengobatan
berdasarkan aspek sosial budaya
Walaupun jaminan kesehatan dapat membantu banyak orang yang berpenghasilan rendah
dalam memperoleh perawatan yang mereka butuhkan, tetapi ada alasan lain disamping biaya
perawatan kesehatan, yaitu adanya celah diantara kelas sosial dan budaya dalam penggunaan
pelayanan kesehatan (Sarafino, 2002). Seseorang yang berasal dari kelas sosial menengah ke
bawah merasa diri mereka lebih rentan untuk terkena penyakit dibandingkan dengan mereka
yang berasal dari kelas atas. Sebagai hasilnya mereka yang berpenghasilan rendah lebih tidak
mungkin untuk mencari pencegahan penyakit (Sarafino, 2002).
a.
b.
a.
b.

Faktor Sosial dalam Penggunaan Pelayanan Kesehatan


Cenderung lebih tinggi pada kelompok orang muda dan orang tua
Cenderung lebih tinggi pada orang yang berpenghasilan tinggi dan berpendidikan tinggi
Cenderung lebih tinggi pada kelompok Yahudi dibandingkan dengan penganut agama lain.
Persepsi sangat erat hubungannya dengan penggunaan pelayanan kesehatan.

Faktor Budaya dalam Penggunaan Pelayanan Kesehatan


Faktor kebudayaan yang mempengaruhi penggunaan pelayanan kesehatan diantaranya adalah:
a. Rendah penggunaan pelayanan kesehatan pada suku bangsa terpencil.
b. Ikatan keluarga yang kuat lebih banyak menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan.
a. Meminta nasehat dari keluarga dan teman-teman.
13

b. Pengetahuan tentang sakit dan penyakit. Dengan asumsi jika pengetahuan tentang sakit
meningkat maka penggunaan pelayanan kesehatan juga meningkat.
c. Sikap dan kepercayaan masyarakat terhadap provider sebagai pemberi pelayanan kesehatan.

a.
b.
c.
d.

a.
b.
c.
d.
e.

Reaksi dalam Proses Mencari Pengobatan


Masyarakat atau anggota masyarakat yang mendapat penyakit, dan tidak merasakan sakit
(disease but no illness) sudah barang tentu tidak akan bertindak apa-apa terhadap penyakitnya
tersebut. Tetapi bila mereka diserang penyakit dan juga merasakan sakit, maka baru timbul
berbagai macam perilaku dan usaha. Penyelidikan E.A. Suchman (1965) tentang perilaku
kesehatan dalam konteks sosial budaya cukup memberi harapan, dan menyangkut hubungan
yang bersifat hipotesis antara orientasi kesehatan atau perilaku dengan hubungan sosial atau
struktur kelompok. Model Suchman yang terpenting adalah menyangkut pola sosial dan perilaku
sakit yang tampak pada cara orang mencari, menemukan, dan melakukan perawatan. Pendekatan
yang digunakan berkisar pada adanya 4 unsur yang merupakan faktor utama dalam perilaku
sakit, yaitu:
Perilaku itu sendiri;
Sekuensinya;
Tempat atau ruang lingkup dan
Variasi perilaku selama tahap-tahap perwatan.
Suchman sangat memperhatikan perilaku sakit. Ia mendefenisikan sebagai cara bilamana
gejala dirasakan, dinilai dan kemudian bertindak untuk mengenalinya sebagai rasa sakit,
disconfort atau mengatasi rasa sakit tersebut. Analisis ini untuk mengidentifikasikan pola
pencarian, penemuan dan penyelenggaraan perawatan. Oleh karena itu pengembangan teori yang
mengikuti individu mulai dari cara pandang dan mengenal penyakit sehingga kembali sehat di
tangan petugas kesehatan. Unsur pertama, perilaku sakit menyangkut serangkaian konsep-konsep
yang menggambarkan alternatif perilaku, berikut akibatnya yaitu:
Shopping, adalah proses mencari alternatif sumber pengobatan guna menemukan seseorang yang
dapat memberikan diagnosa dan pengobatan sesuai dengan harapan si sakit.
Fragmentation adalah proses pengobatan oleh beberapa fasilitas kesehatan pada lokasi yang
sama. Contoh : berobat ke dokter sekaligus ke sinse dan dukun.
Procastination ialah proses penundaan, menangguhkan atau mengundurkan upaya pencarian
pengobatan meskipun gejala penyakitnya sudah dirasakan.
Self medication adalah proses pengobatan sendiri dengan menggunakan berbagai ramuan atau
obat-obatan yang dinilainya tepat baginya.
Discontinuity adalah melakukan proses membatalkan atau penghentian pengobatan (Muzaham,
1995).
Menurut paradigma Suchman, urutan peristiwa medis dibagi atas 5 tingkat, yaitu: pengalaman
dengan gejala penyakit, penilaian terhadap peran sakit, kontak dengan perawatan medis, jadi
pasien, sembuh atau masa rehabilitasi. Pada setiap tingkat setiap orang harus mengambil
keputusan-keputusan dan melakukan perilaku-perilaku tertentu yang berkaitan dengan kesehatan.
14

Pada tingkat permulaan terdapat tiga dimensi gejala yang menjadi pertanda adanya
ketidakberesan dalam diri seseorang, yaitu:
a. Adanya rasa sakit, kurang enak badan atau sesuatu yang tidak biasa dialami.
b. Pengetahuan seseorang tentang gejala tersebut mendorongnya membuat penafsiran-penafsiran
yang berkaitan dengan akibat penyakit serta gangguan terhadap fungsi sosialnya.
c. Perasaan terhadap gejala penyakit tersebut berupa rasa takut atau cemas.
Perlu diketahui bahwa kesimpulan yang diperoleh seseorang pada tahap pengenalan gejala
penyakit (seperti juga pada tahap-tahap lainnya), berbeda satu sama lain. Secara teoritis, setelah
tahap pengalaman gejala hingga tahap mengira bahwa dirinya sakit, terbuka beberapa alternatif
yang dapat dipilih seseorang, misalnya menolak anggapan bahwa dirinya sakit atau mengulur
waktu mencari pertolongan medis.
Pada saat orang mengira bahwa dirinya sakit, maka orang akan mencoba mengurangi atau
mengontrol atau mengurangi gejala tersebut melalui pengobatan sendiri. Sementara itu pihak
keluarga dan teman-teman dimintai nasehat, sistem rujukan awam (lay-referral system) dapat
mempengaruhi seseorang untuk berperan untuk berperan sakit, sedangkan upaya mendiskusikan
gejala itu dengan orang-orang terdekat atau orang penting lainnya betujuan untuk memperoleh
pengakuan yang diperlukan agar ia mendapat kebebasan dari tuntutan dan tanggung jawab
sosial tertentu. Selanjutnya, pada saat berhubungan dengan pihak pelayanan kesehatan,
pelaksana tenaga kesehatan dapat membantu kebutuhan fisik dan psikologis pasien, dengan jalan
memberikan diagnosis dan pengobatan terhadap gejala, atau memberikan pengesahan
(legitimacy) agar pasien dibebaskan dari tuntutan-tuntutan, tanggung jawab dan kegiatan
tertentu. Seperti juga pada tahap-tahap sebelumnya, seseorang bisa dipercaya dan menerima
tindakan atau saran untuk pengobatan, dan bisa juga menolaknya. Boleh jadi juga ia akan
mencari informasi serta pendapat-pendapat dari sumber pelayanan kesehatan lainnya. Suchman
(1965) memformulasikan suatu pernyataan teoritis mengenai hubungan antara struktur sosial dan
orientasi kesehatan dengan variasi respon individu terhadap penyakit dan perawatan kesehatan.
Dalam pengembangan model ini, Suchman membahas fungsi dari berbagai faktor lain (faktor
tempat, variasi respon terhadap penyakit, perawatan kesehatan) sesuai dengan kelima tahap
penyakit dan proses perawatan kesehatan tersebut.
Struktur sosial kelompok ditentukan oleh keadaan sosial dari tiga tingkat kelompok, yaitu
tingkat komunitas, persahabatan, dan keluarga. Pada tingkat komunitas, derajat hubungan sosial
diukur dengan kuat tidaknya rasa kesukuan, pada tingkat sosial diukur dengan solidaritas
persahabatan, dan pada tingkat keluarga ditandai dengan kuat tidaknya orientasi terhadap tradisi
dan otoritas. Ketiga dimensi hubungan sosial tersebut dikombinasikan kedalam suatu indeks
kosmopolitan parokial struktur sosial. Parokialisme diartikan sebagai suatu keadaan sosial
dimana terdapat rasa kesukuan yang kuat, solidaritas persahatan tinggi, dan sangat berorientasi
pada tradisi dan otoritas dalam keluarga. Orientasi kesehatan seseorang dilihat sebagai suatu
kontinum yang dibedakan atas orientasi ilmiah ( bersifat objektif, profesional, dan impersonal )
dan orientasi populer ( bersifat subjektif, awam dan personal ), yang disesuaikan menurut tingkat
pengetahuan pasien mengenai penyakit, skeptisisme terhadap perawatan kesehatan, dan
15

ketergantungan seseorang akibat penyakit. Orientasi pada kesehatan populer ditandai oleh
rendahnya tingkat pengetahuan tentang penyakit (dimensi kognitif), tingginya tingkat
skeptisisme terhadap perawatan medis ( dimensi afektif ), dan tingginya tingkat ketergantungan
seseorang akibat penyakit ( dimensi perilaku ).
Suchman mengemukakan hipotesis bahwa, perilaku kesehatan yang terjadi pada setiap tahap
penyakit seperti dikemukakan di atas mencerminkan orientasi kesehatan serta afiliasi masingmasing kelompok sosial. Variasi perilaku ini mempengaruhi kemajuan setiap tahap penyakit
tersebut. Misalnya, seseorang yang berorientasi kepada kesehatan polpuler dan cenderung pada
afiliasi kelompok parokial akan berperilaku : kurang cepat tanggap dan kurang serius terhadap
bahaya yang mungkin terjadi selama masa permulaan gejala yang dirasakan; meminta
persetujuan orang lain secara berulang-ulang untuk menyakinkan bahwa ia boleh meninggalkan
tanggung jawab tertentu ; berusaha melakukan pengobatan sendiri dengan obat paten atau
ramuan-ramuan dan ragu bertindak pada saat ia mengetahaui dirinya sakit; lalai dalam mencari
pertolongan medis, bertukar-tukar dokter serta sanksi terhadap diagnosis pelayanan kesehatan,
selama masa kontak dengan pelayanan medis; sulit mengatasi berbagai masalah yang timbul
pada saat sakit dan tidak sanggup menjalankan aturan perawatan medis; dan cepat meninggalkan
uperan sakit ( atau, bila ia menderita penyakit kronis ia menolak sakit berkepanjangan atau
mengabaikan rehabilitasi kesehatannya ).
Menurut Levey dan Loombo yang dijabarkan oleh Azrul Azwar (1996), menyatakan bahwa
pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau secara
bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah
dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan
ataupun masyarakat. Dalam mencapai kesejahteraan dan pemeliharaan penyembuhan penyakit
sangat diperlukan pelayanan kesehatan yang bermutu dimana tanpa adanya pelayanan kesehatan
yang bermutu dan menyeluruh di wilayah Indonesia ini tidak akan tercapai derajat kesehatan
yang optimal (Azwar, 1996). Dari beberapa hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada
perbedaan pola-pola penggunaan pelayanan kesehatan pada beberapa daerah. Hal ini tidak dapat
dijelaskan hanya karena adanya perbedaan morbidity rate atau karakteristik demografi
penduduk, tetapi faktor-faktor sosial budaya atau faktor-faktor penting yang menyebabkan tidak
digunakannya fasilitas kesehatan. Penggunaan pelayanan kesehatan tidak perlu diukur hanya
dalam hubungannya dengan individu tetapi dapat diukur berdasarkan unit keluarga (Sarwono,
1997). Banyak teori yang berkaitan dengan alasan seseorang ketika memilih dan menggunakan
fasilitas pelayanan kesehatan, diantaranya :
A. Teori Andersen/ Health System Model
Menurut teori Anderson dalam Muzaham (1995), ada tiga faktor yang mempengaruhi
penggunaan pelayanan kesehatan yaitu :
1) Mudahnya menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan (karakteristik predisposisi)
2) Adanya faktor-faktor yang menjamin terhadap pelayanan kesehatan yang ada (karakteristik
pendukung)
3) Adanya kebutuhan pelayanan kesehatan (karakteristik kebutuhan)

16

Predisposising

Enabling

Need

Health service
use

B. Model Kepercayaan Kesehatan / Health Belief Model


HBM telah berkembang di tahun 1950 oleh para ahli psikologi sosial. Berkembangnya pelayanan
kesehatan masyarakat akibat kegagalan dari orang atau masyarakat untuk menerima usaha-usaha
pencegahan dan penyembuhan penyakit yang diselenggarakan oleh provider (Glanz, 2002). Ada
5 variabel yang menyebabkan seseorang mengobati penyakitnya:
1) Kerentanan yang dirasakan (perceived susceptibility)
Persepsi seseorang terhadap resiko dari suatu penyakit. Agar seseorang bertindak untuk
mengobati atau mencegah penyakitnya, ia harus merasakan bahwa ia rentan terhadap penyakit
tersebut.
2) Keparahan yang dirasakan (perceived seriousness)
Tindakan seseorang dalam pencarian pengobatan dan pencegahan penyakit dapat disebabkan
karena keseriusan dari suatu penyakit yang dirasakan misalnya dapat menimbulkan kecacatan,
kematian, atau kelumpuhan, dan juga dampak sosial seperti dampak terhadap pekerjaan,
kehidupan keluarga, dan hubungan sosial.
3) Keuntungan yang dirasakan (perceived benefits)
Penerimaan seseorang terhadap pengobatan penyakit dapat disebabkan karena keefektifan dari
tindakan yang dilakukan untuk mengurangi penyakit. Faktor lainnya termasuk yang tidak
berhubungan dengan perawatan seperti, berhenti merokok dapat menghemat uang.
4) Hambatan yang dirasakan (perceived barriers)
Dampak negatif yang ditimbulkan oleh tindakan pencegahan penyakit akan mempengaruhi
seseorang untuk bertindak. Pada umumnya manfaat tindakan lebih menentukan daripada
rintangan atau hambatan yang mungkin ditemukan dalam melakukan tindakan tersebut.
5) Isyarat atau tanda-tanda untuk bertindak (cues to action)
Kesiapan seseorang akibat kerentanan dan manfaat yang dirasakan dapat menjadi faktor yang
potensial untuk melakukan tindakan pengobatan. Selain faktor lainnya seperti faktor lingkungan,
media massa, atau anjuran dari keluarga, teman-teman dan sebagainya.
6) Keyakinan akan diri sendiri (self efficacy)
Kepercayaan seseorang terhadap kemampuannya dalam pengambilan tindakan (Glanz, 2002).
C. Theory of Reasoned Action
TRA pertama kali diperkenalkan pada tahun 1967 untuk melihat hubungan keyakinan, sikap, niat
dan perilaku. Fishbein, 1967 mengembangkan TRA ini dengan sebuah usaha untuk melihat
hubungan sikap dan perilaku (Glanz, 2002).
Faktor yang paling penting dalam seseorang berperilaku adalah adanya niat. Niat akan
ditentukan oleh sikap seseorang. Dan sikap ditentukan oleh keyakinan seseorang akibat dari
tindakan yang akan dilakukan. Diukur dengan evaluasi terhadap masing-masing akibat. Jadi,
17

seseorang yang memiliki keyakinan yang kuat akan akibat dari tindakan yang dilakukan secara
positif akan menghasilkan sikap yang positif pula. Sebaliknya jika seseorang tidak yakin akan
akibat dari perilaku yang dilakukan dengan positif akan menghasilkan sikap yang negatif (Glanz,
2002). Niat seseorang untuk berperilaku juga dapat dipengaruhi oleh norma individu dan
motivasi untuk mengikuti. Norma individu dapat dipengaruhi oleh norma-norma atau
kepercayaan di masyarakat.

LI.3. Memahami dan menjelaskan rujukan kesehatan masyarakat


Di negara Indonesia sistem rujukan kesehatan telah dirumuskan dalam Permenkes No. 01
tahun 2012. Sistem rujukan pelayanan kesehatan merupakan penyelenggaraan pelayanan
kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab timbal balik pelayanan
kesehatan secara timbal balik baik vertikal (dari unit yang lebih mampu menangani), atau
secara horisontal (antara unit-unit yang setingkat kemampuannya). Sederhananya, sistem
rujukan mengatur darimana dan harus kemana seseorang dengan gangguan kesehatan
tertentu memeriksakan keadaan sakitnya.
A. Rujukan vertikal merupakan rujukan antar pelayanan kesehatan yang berbeda
tingkatan.
Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih rendah ke tingkatanyg lebih tinggi
dilakukan apabila:
Pasien membutuhkan pelayanan kesehatan spesialistik atau subspesialistik;
Perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan
pasien karena keterbatasan fasilitas, peralatan dan/atau ketenagaan.
Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih tinggi ke tingkatanyg lebih rendah
dilakukan apabila:
Permasalahan pasien dpt ditangani oleh tingkatan pelayanan yg lebih rendah sesuai
dgn kompetensi dan kewenangannya;
Kompetensi dan kewenangan pelayanan tingkat pertama atau kedua lebih baik dalam
menangani pasien tersebut;
Pasien memerlukan pelayanan lanjutan yg dpt ditangani oleh tingkatan pelayanan yg
lebih rendah & untuk alasan kemudahan, efisiensi dan pelayanan jangka panjang;
dan/atau
Perujuk tdk dpt memberikan pelayanan kesehatan sesuai dgn kebutuhan pasien
karena keterbatasan sarana, prasarana, peralatan dan/atau ketenagaan.
B. Rujukan horizontal merupakan rujukan antar pelayanan kesehatan dalam satu
tingkatan
Rujukan horizontal dilakukan apabila perujuk tidak dapat memberikan pelayanan
kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien karena keterbatasan fasilitas, peralatan
dan/atau ketenagaan yg sifatnya sementara atau menetap.
18

Ketimpangan yang sering terjadi di masyarakat awam adalah pemahaman


masyarakat tentang alur ini sangat rendah sehingga sebagian mereka tidak mendapatkan
pelayanan yang sebagaimana mestinya. Masyarakat kebanyakan cenderung mengakses
pelayanan kesehatan terdekat atau mungkin paling murah tanpa memperdulikan
kompetensi institusi ataupun operator yang memberikan pelayanan.
Pelaksanaan sistem rujukan di indonesia telah diatur dengan bentuk bertingkat atau
berjenjang, yaitu pelayanan kesehatan tingkat pertama, kedua dan ketiga, dimana dalam
pelaksanaannya tidak berdiri sendiri-sendiri namun berada di suatu sistem dan saling
berhubungan. Apabila pelayanan kesehatan primer tidak dapat melakukan tindakan medis
tingkat primer maka ia menyerahkan tanggung jawab tersebut ke tingkat pelayanan di
atasnya, demikian seterusnya. Apabila seluruh faktor pendukung (pemerintah, teknologi,
transportasi) terpenuhi maka proses ini akan berjalan dengan baik dan masyarakat awam
akan segera tertangani dengan tepat. Hal yang dirujuk bukan hanya pasien saja, tetapi juga
masalah masalah kesehatan lain, teknoloi, sarana, bahan bahan labratorium, dsb.
Bentuk Pelayanan keseatan dibakan menjadi tiga, yaitu :
a. Pelayanan kesehatan tingkat pertama
Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan utuk masyarakat yang sakit ringan dan
masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan mereka atau promosi
kesehatan. Oleh karena itu julah kelompok ini di dalam suatu populasi sangat
besar (lebih kurang 85%), pelayanan yan diperlukan ileh kelompok ini bersifat
pelayaan kesehatan dasar (basic health service), atau juga merupakan pelayanan
kesehatan primer atau utama (primary health care). Bentuk pelayanan kesehatan
ini di Indonesia adalah Puskesmas, Puskesma pembantu, Puskesmas keliling, dan
Balkesmas.
b. Pelayanan kesehatan tingakt kedua
Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan oleh kelompok masyarakat yang
memerlukan perawatan inap, yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan
kesehatan primer. Bentuk pelayaan ini misalnya Rumah Sakit Tipe C, dan
memerlukan tersedianya tenaga tenaga spesialis.
c. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga
Pelayanan kesehatan ini diperlukan oleh kelompok masyarakt atau pasien yang
sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan ksehatan sekunder. Palayanan sudah
kompleks, da memerlukan tenaa-tenaga super spesialis. Contoh di Indonesia :
Rumah sakit tipe A dan B.

19

Syarat rujukan
1. Rujukan harus dibuat oleh orang yang mempunyai kompetensi dan wewenang untuk
merujuk, mengetahui kompetensi sasaran/tujuan rujukan dan mengetahui kondisi serta
kebutuhan objek yang dirujuk.
2. Rujukan dan rujukan balik mengacu pada standar rujukan pelayanan medis Daerah
3. Agar rujukan dapat diselenggarakan tepat dan memadai, maka suatu rujukan hendaknya
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a Adanya unit yang mempunyai tanggungjawab dalam rujukan, baik yang merujuk
atau yang menerima rujukan.
b Adanya Tenaga kesehatan yang kompeten dan mempunyai kewenangan
melaksanakan pelayanan medis dan rujukan medis yang dibutuhkan.
c Adanya pencatatan/kartu/dokumen tertentu berupa :
Formulir rujukan dan rujukan balik sesuai contoh.
Kartu Jamkesmas, Jamkesda dan kartu Assuransi lain.
Pencatatan dan dokumen hasil pemeriksaan penunjang
d Adanya pengertian timbal balik antara pengirim dan penerima rujukan.
e Adanya pengertian petugas tentang sistem rujukan.
f Rujukan dapat bersifat horizontal dan vertikal, dengan prinsip mengirim ke arah
fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih mampu dan lengkap.
4. Untuk menjamin keadaan umum pasien agar tetap dalam kondisi stabil selama
perjalanan menuju ketempat rujukan, maka :
20

sarana transportasi yang digunakan harus dilengkapi alat resusitasi, cairan infus,
oksigen dan dapat menjamin pasien sampai ke tempat rujukan tepat waktu;
b pasien didampingi oleh tenaga kesehatan yang mahir tindakan kegawat daruratan;
c sarana transportasi/petugas kesehatan pendamping memiliki sistem komunikasi;
5. Rujukan pasien/specimen ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi dan atau
lengkap hanya dapat dilakukan apabila :
a dari hasil pemeriksaan medis, sudah terindikasi bahwa keadaan pasien tidak dapat
diatasi;
b pasien memerlukan pelayanan medis spesialis dan atau subspesialis yang tidak
tersedia di fasilitas pelayanan semula;
c pasien memerlukan pelayanan penunjang medis yang lebih lengkap yang tidak
tersedia di fasilitas pelayanan semula;
d pasien atau keluarganya menyadari bahwa rujukan dilaksanakan karena alasan
medis;
e rujukan dilaksanakan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat yang diketahui
mempunyai tenaga dan sarana yang dibutuhkan menurut kebutuhan medis atau
penunjang medis sesuai dengan rujukan kewilayahan;
f rujukan tanpa alasan medis dapat dilakukan apabila suatu rumah sakit kelebihan
pasien ( jumlah tempat tidur tidak mencukupi);
g rujukan sebagaimana dimaksud huruf f dirujuk ke rumah sakit yang setara atau
sesuai dengan jaringan pelayanannya;
h khusus untuk pasien Jamkesda dan pemegang Assuransi Kesehatan lainnya, harus
ada kejelasan tentang pembiayaan rujukan dan pembiayaan di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Tujuan Rujukan
i khusus untuk pasien Jamkesda hanya dapat dirujuk ke rumah sakit yang setara yaitu
ke PPK1 atau PPK 2 lainnya yang mengadakan kerjasama dengan Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat;
Fasilitas Pelayanan Kesehatan/tenaga kesehatan dilarang merujuk dan menentukan tujuan
rujukan atas dasar kompensasi/imbalan dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Jenis Rujukan
1) Rujukan medic
yaitu pelimpahan tanggung jawab secara timbal balik atas satu kasus yang timbul baik
secara vertical maupun horizontal kepada yang lebih berwenangdan mampu menangani
secara rasional. Rujukan ini beraitan dengan upaya penyembuhan penyakit dan
pemulihan keseatan pasien. Di samping itu juga mencakup rujukan pengetahuan
(konsultasi medis), dan bahan bahan pemeriksaan. Jenis rujukan medic antara lain:
a. Transfer of patient. Konsultasi penderita untuk keperluaan diagnostic, pengobatan,
tindakan opertif dan lain lain.
b. Transfer of specimen. Pengiriman bahan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium
yang lenih lengkap.
21

c. Transfer of knowledge / personal. Pengiriman tenaga yang lebih kompeten atau ahli
untuk meningkatkan mutu layanan setempat.
2) Rujukan kesehatan yaitu hubungan dalam pengiriman, pemeriksaan bahan atau specimen
ke fasilitas yang lebih mampu dan lengkap. Ini adalah rujukan uang menyangkut masalah
kesehatan yang sifatnyapencegahan penyakit (preventif) dan peningkatan kesehatan
(promotif). Rujukan ini mencakup rujukan teknologi, sarana dan opersional

Manfaat rujukan
1) Dari sudut pemerintah sebagai penentu kebijakan (policy maker), manfaat sistem rujukan
adalah membantu penghematan dana, karena tidak perlu menyediakan berbagai macam
peralatan kedokteran pada setiap sarana kesehatan; memperjelas sistem pelayanan
kesehatan, karena terdapat hubungan kerja antara berbagai sarana kesehatan yang
tersedia; memudahkan pekerjaan administrasi, terutama pada aspek perencanaan.
2) Dari sudut masyarakat sebagai pengguna jasa pelayanan (health consumer), manfaat
sistem rujukan adalah meringankan biaya pengobatan, karena dapat dihindari
pemeriksaan yang sama secara berulang-ulang; mempermudah masyarakat dalam
mendapatkan pelayanan, karena telah diketahui dengan jelas fungsi dan wewenang setiap
sarana pelayanan kesehatan.
3) Dari sudut kalangan kesehatan sebagai penyelenggara pelayanan keseahatan (health
provider), manfaat sistem rujukan adalah memperjelas jenjang karier tenaga kesehatan
dengan berbagai akibat positif lainnya seperti semangat kerja, ketekunan, dan dedikasi;
membantu peningkatan pengetahuan dan ketrampilan, yaitu: kerja sama yang terjalin;
memudahkan atau meringankan beban tugas, karena setiap sarana kesehatan mempunyai
tugas dan kewajiban tertentu.
LI.4. Memahami dan menjelaskan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan
Sistem terdiri dari :

22

Input Subsistem yang akan memberikan segala masukan untuk berfungsinya sebuah sistem,
seperti sistem pelayanan kesehatan :
- Potensi masyarakat
- Tenaga kesehatan
- Sarana kesehatan
Proses Kegiatan yg berfungsi untuk mengubah sebuah masukan menjadi sebuah hasil yg
diharapkan dari sistem tersebut, yaitu berbagai kegiatan dalam pelayanan kesehatan.
Output Hasil yang diperoleh dari sebuah proses, Output pelayanan kesehatan : pelayanan yang
berkualitas, efektif dan efisien serta terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat sehingga pasien
sembuh & sehat optimal.
Dampak Akibat yang dihasilkan sebuah hasil dari sistem, relative lama waktunya. Dampak
sistem Pelayanan kesehatan adalah masyarakat sehat, angka kesakitan & kematian menurun.
Umpan balik (feedback) Suatu hasil yang sekaligus menjadikan masukan dan ini terjadi dari
sebuah sistem yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi, berupa kualitas tenaga
kesehatan
Lingkungan Semua keadaan di luar sistem tetapi dapat mempengaruhi pelayanan kesehatan.
Tingkat Pelayanan Kesehatan
Menurut Leavel & Clark dalam memberikan pelayanan kesehatan harus memandang pada
tingkat pelayanan kesehatan yg akan diberikan, yaitu :
Health promotion (promosi kesehatan)
Merupakan tingkat pertama dalam memberikan pelayanan melalui peningkatan kesehatan,
Contoh : kebersihan perorangan, perbaikan sanitasi lingkungan.
Specifik protection (perlindungan khusus)
Masyarakat terlindung dari bahaya/ penyakit2 tertentu. Cth : Imunisasi, perlindungan
keselamatan kerja
Early diagnosis and prompt treatment (diagnosis dini & pengobatan segera)
Sudah mulai timbulnya gejala penyakit, Cth : survey penyaringan kasus.
Disability limitation (pembatasan cacat)
Dilakukan untuk mencegah agar pasien atau masyarakat tidak mengalami dampak kecacatan
akibat penyakit yang ditimbulkan.
Rehabilitation (rehabilitasi)
Dilaksanakan setelah pasien didiagnosa sembuh. Sering pada tahap ini dijumpai pada fase
pemulihan terhadap kecacatan seperti latihan- latihan yang diberikan pada pasien.
Lembaga pelayanan kesehatan
Rawat jalan
Institusi
Hospice
Community Based Agency
Lingkup sistem pelayanan kesehatan
Tertiary health service : tenaga ahli/subspesialis (RS tipe A atau B)
Secondary health care : RS yg tersedia tenaga spesialis
Primary health care : Puskesmas, balai kesehatan
Rumah sakit dapat dibagi dalam beberapa jenis menurut kategorinya :
Menurut pemilik : pemerintah, swasta
23

1.
2.
3.
4.
5.

Menurut filosofi yang dianut : profit hospital dan non profit hospital
Menurut jenis pelayanan yang diselenggarakan : General Hospital dan Specialty Hospital
Menurut lokasi (pemerintah) : pusat, provinsi dan kabupaten
Menurut kemampuan yang dimiliki rumah sakit di Indonesia dapat digolongkan dalam
beberapa kategori :
Rumah sakit tipe A : Specialis dan sub specialis lebih luas, Top referral hospital
Rumah sakit tipe B : Specialis dan sub specialis terbatas, pelayanan rujukan dari kabupaten
Rumah sakit tipe C : Spesialis terbatas, Pelayanan rujukan dari Puskesmas
Rumah sakit tipe D : Pelayanan rujukan dari Puskesmas
Rumah sakit tipe E : (rumah sakit khusus) : RS Jiwa, RS Jantung, RS Paru, kanker, Kusta.
- Puskesmas dibina oleh Dinas Kesehatan kabupaten/kota terkait kegiatan upaya kesehatan
masyarakat (UKM)
- Puskesmas dibina oleh rumah sakit kabupaten/kota terkait upaya kesehatan perorangan (UKP)
Sedang dalam proses untuk penggabungan UKM dan UKP
UKM
Pemerintah dan peran serta aktif masyarkat dan swasta. Mencakup: promkes, pemeliharaan kes,
P2M, keswa, pengendalian penyakit tdk menular, sanitasi dasar, gizi masyarakat.
UKP
dapat diselenggarakan oleh masyarakat, swasta dan Pemerintah . Mencakup: promkes,
pencegahan, pengobatan rwt jalan, pengobt rwt inap, rehabilitasi Puskesmas :
Posyandu balita dan lansia
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Polindes (poliklinik desa)
Puskesmas kebanyakan hanya dijadikan tempat transit permohonan rujukan.
Trend Issu pelayanan kesehatan
Adanya fragmentasi pelayanan
penerapan otonomi
penetapan Puskesmas sebagai ujung tombak
Alokasi anggaran promotive dan prepentive
Serta kurangnya sumber daya manusia
Faktor yang mempengaruhi pelayanan kesehatan
Ilmu pengetahuan & teknologi baru
Pergeseran nilai masyarakat
Aspek legal dan etik
Ekonomi
Politik
Masalah sistem pelayanan kesehatan
Upaya Kesehatan
Pembiayaan Kesehatan
Sumber Daya Manusia Kesehatan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Makanan
Manajemen dan Informasi Kesehatan
Pemberdayaan Masyarakat
24

Undang- undang sistem pelayanan kesehatan


Landasan Adil, yaitu Pancasila
Landasan Konstitusional, yaitu UUD 1945, khususnya: Pasal 28 A, setiap orang berhak
untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.
Pasal 28 A ayat (1), setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan.

Bagan 6. Skema Fungsi kesehatan


Menurut skema di atas fungsi sistem kesehatan yaitu: (1) stewardship; (2) Pendanaan; (3)
Pengembangan Sumber Daya, termasuk SDM; dan (4) pemberi pelayanan berusaha agar terjadi
perluasan cakupan pelayanan kesehatan, peningkatan mutu pelayanan, dan efisiensi yang pada
akhirnya meningkatkan status kesehatan.
Definisi puskesmas
1. Dr AZRUL AZWAR, MPH ( 1990 )
Pusat Kesehatan Masyarakat : adalah suatu keseatuan organisasi fungsional yang langsung
memberikan pelayanan secara menyeluruh kepada masyarakat dalam suatu wilayah kerja tertentu
dalam bentuk-bentuk usaha kesehatan pokok.
2. DEPARTEMEN KESEHATAN RI 1981
Pusat Kesehatan Masyarakat ( Puskesmas ) adalah : suatu kesatuan organisasi Kesehatan yang
langsung memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terintegrasi di masyaakat
disuatu wilayah kerja tertentu dalam usaha-usaha kesehatan pokok
3. DEPARTEMEN KESEHATAN RI 1987
Puskesmas adalah sebagai pusat pembangunan kesehatan masyarakat serta menyelenggarakan
pelayanan kesehatan terdepan dan terdekat dengan masyarakat dalam bentuk kegiatan pokok
yang menyeluruh dan terpadu di wilayah kerjanya.

25

1.
2.

1.

2.

3.

4.

Puskesmas adalah : suatu unit organisasi fungsional yang secara profesional melakukan upaya
pelayanan kesehatan pokok yang menggunakan peran serta masyarakat secara aktif untuk dapat
memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di suatu wilayah kerja
tertentu.
Menurut Kepmenkes RI No.128/Menkes/SK/II/2004
Puskesmas adalah UPTD Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.
Departemen Kesehatan RI 1991
Puskesmas adalah organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat pengembangan
kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat dan memberikan pelayanan
secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan
pokok.
Visi, Misi, Tujuan, dan Fungsi puskesmas
Visi : Tercapainya kecamatan sehat
Masyarakat yang hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, memiliki kemampuan untuk
menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya.
Misi :
1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya.
2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah kerjanya.
3. Memelihara dan meningkatkan mutu pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan
yang diselenggarakannya.
4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat beserta
lingkungannya.
Tujuan
Mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional yakni; meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di
wilayah kerja puskesmas.
Fungsi Puskesmas
Pusat pembangunan berwawasan kesehatan.
Mengupayakan program-program pembangunan yang berwawasan kesehatan,yaitu :
Berupaya menggerakkan lintas sektor dan dunia usaha di wilayah kerjanya agar
menyelenggarakan pembangunan yang berwawasan kesehatan.
Aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program
pembangunan di wilayah kerjanya.
Mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan
penyembuhan dan pemulihan.
Pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat.
Berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga, dan masyarakat :
1) Memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk
hidup sehat.
2) Berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk pembiayaan.
3) Ikut menetapkan, menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan.
Pusat pelayanan kesehatan strata pertama.

26

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Yaitu menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan
berkesinambungan yang meliputi :
1) Pelayanan kesehatan masyarakat (public goods)
2) Pelayanan kesehatan perorangan(private goods)
Program Pokok Puskesmas
Promosi Kesehatan
Kesehatan Lingkungan
Pencegahan Pemberantasan Penyakit Menular
Kesehatan Keluarga Dan Reproduksi
Perbaikan Gizi Masyarakat
Penyembuhan Penyakit Dan Pelayanan Kesehatan
1. Promosi Kesehatan
A. Pengertian
Penyuluhan Kesehatan Masyarakat adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau
menciptakan kondisi bagi perorangan, kelompok dan masyarakat, dalam berbagai tatanan,
dengan membuka jalur komunikasi, menyediakan informasi, dan melakukan edukasi, untuk
meningkatkan pengetahuan, sikap dan prilaku, dengan melakukan advokasi, pembinaan suasana
dan gerakan pemberdayaan masyarakat untuk mengenali, menjaga/memelihara, meningkatkan
dan melindungi kesehatannya.
B. Tujuan
Tercapainya perubahan prilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan
memelihara prilaku sehat, serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang
optimal.
C. Sasaran
a. Pelaksanaan posyandu dan Pembinaan kader
b. Penyuluhan Kesehatan
- Penyuluhan dalam gedung
- Penyuluhan luar gedung
Penyuluhan kelompok :
- Kelompok posyandu
- Penyuluhan masyarakat
- Anak sekolah
Penyuluhan perorangan : PHN
c. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
d. Advokasi program kesehatan dan program prioritas
Kampanye program prioritas antara lain : vitamin A, narkoba, P2M DBD, HIV, malaria, diare
e. Promosi kesehatan tentang narkoba
f. Promosi tentang kepesertaan jamkesmas
g. Pembinaan dana sehat/jamkesmas
2. Kesehatan Lingkungan
A. Pengertian
Berdasarkan teori Blum, lingkungan merupakan salah satu faktor yang pengaruhnya paling besar
terhadap status kesehatan masyarakat di samping faktor pelayanan kesehatan, faktor genetik dan
faktor prilaku. Bahaya potensial terhadap kesehatan yang diakibatkan oleh lingkungan dapat
bersifat fisik, kimia maupun biologi.

27

1.
2.
3.
4.
5.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Sejalan dengan kebijaksanaanParadigma Sehat yang mengutamakan upaya-upaya yang bersifat


promotif, preventif dan protektif. Maka upaya kesehatan lingkungan sangat penting.
Semua kegiatan kesehatan lingkungan yang dilakukan oleh para staf Puskesmas akan berhasil
baik apabila masyarakat berperan serta dalam pelaksanaannya harus mengikut sertakan
masyarakat sejak perencanaan sampai pemeliharaan.
B. Tujuan
Tujuan Umum
Kegiatan peningkatan kesehatan lingkungan bertujuan terwujudnya kualitas lingkungan yang
lebih sehat agar dapat melindungi masyarakat dari segala kemungkinan resiko kejadian yang
dapat menimbulkan gangguan dan bahaya kesehatan menuju derajat kesehatan keluarga dan
masyarakat yang lebih baik.
Tujuan Khusus
Meningkatkan mutu lingkungan yang dapat menjamin masyarakat mencapai derajat kesehatan
yang optimal
Terwujudnya pemberdayaan masyarakat dan keikut sertaan sektor lain yang bersangkutan, serta
bertanggung jawab atas upaya peningkatan dan pelestarian lingkungan hidup.
Terlaksananya peraturan perundangan tentang penyehatan lingkungan dan permukiman yang
berlaku.
Terselenggaranya pendidikan kesehatan guna menunjang kegiatan dalam peningkatan kesehatan
lingkungan dan pemukiman.
Terlaksananya pengawasan secara teratur pada sarana sanitasi perumahan, kelompok masyarakat,
tempat pembuatan/penjualan makanan, perusahaan dan tempat-tempat umum.
C. Kegiatan
Kegiatan-kegiatan utama kesehatan lingkungan yang harus dilakukan Puskesmas meliputi:
Penyehatan air
Penyehatan makanan dan minuman
Pengawasan pembuangan kotoran mannusia
Pengawasan dan pembuangan sampah dan limbah
Penyehatan pemukiman
Pengawasan sanitasi tempat umum
Pengamanan polusi industri
Pengamanan pestisida
Klinik sanitasi
3. Pencegahan Pemberantasan Penyakit Menular
1. Penyakit Menular
Adalah penyakit yang disebabkan oleh agent infeksi atau toksinnya, yang beraasal dari sumber
penularan atau reservoir, yang ditularkan/ ditansmisikan kepada pejamu (host) yang rentan.
2. Kejadian Luar Biasa (KLB)
Adalah kejadian kesakitan atau kematian yang menarik perhatian umum dan mungkin
menimbulkan kehebohan/ketakutan di kalangan masyarakat, atau menurut pengamatan
epidemiologik
dianggap
adanya
peningkatan
yang
berarti
(bermakna)
dari
kejadiankesakitan/kematian tersebut kepada kelompok penduduk dalam kurun tertentu.
3. Wabah Penyakit Menular
Adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah
penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah

28

a.
b.
c.

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

tertentu serta dapat mennnimbulkan malapetaka (U.U. No. 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit
yang mennular)
4. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular (P2M)
Penanggulangan KLB penyakit menular dilaksanakan dengan upaya-upaya:
Pengobatan, dengan memberikan pertolongan penderita, membangun pos-pos kesehatan di
tempat kejadian dengan dukungan tenaga dan sarana obat yang memadai termasuk rujukan.
Pemutusan rantai penularan atau upaya pencegahan misalnya, abatisasi pada KLB, DBD,
Kaporisasi pada sumur-sumur yang tercemar pada KLB diare, dsb.
Melakukan kegiatan pendukung yaitu penyuluhan , pengamatan/pemantauan (surveinlans ketat)
dan logistik.
5. Program Pencegahan
Adalah mencegah agar penyakit menular tidak menyebar didalam masyarakat, yang dilakukan
antara lain dengan memberikan kekebalan kepada host melalui kegiatan penyuluhan kesehatan
dan imunisasi.
6. Cara Penularan Penyakit Menular
Dikenal beberapa cara penularan penyakit menular yaitu:
a. Penularan secara kontak
b. Penularan melalui vehicle seperti melalui makanan dan minuman yang tercemar
c. Penularan melalui vektor
d. Penularan melalui suntikan, transfusi, tindik dan tato.
7. Surveilans Evidemiologi Penyakit Menular
Adalah suatu kegiatan pengumpulan data/informasi melalui pengamatan terhadap
kesakitan/kematian dan penyebarannya serta faktor-faktor yang mempengaruhinya secar
sistematik, terus menerus dengan tujuan untuk perencanaan suatu program, mengevaluasi hasil
program, dan sistem kewaspadaan dini. Secara singkat dapat dikatakan: Pengumpulan
Data/Informasi Untuk Menentukan Tindakan (Surveillance For Action).
B. Program Pemberantasan Penyakit Menular
Program imunisasi
Program TB paru dengan kegiatan penemuan penderita TBC
Program malaria dengan angka insiden malaria (AMI)
Program ISPA dengan frekuensi penemuan dan penaggulangan pneumonia
Program diare meliputi frekuensi penanggulangan diare
Program rabies
Program Surveilans
Pemberantasan P2B2 demam berdarah
4. Kesehatan Keluarga dan Reproduksi
A. Pengertian
Kesehatan Keluarga adalah wujud keluarga sehat, kecil bahagia dan sejahtra dari suami istri,
anak dan anggota keluarga lainnya (UU RI no 23 th 1992)
Kesehatan Reproduksi adalah kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh. Bukan hanya
bebas dari penyakit dan kecacatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem
reproduksi, fungsi serta prosesnya.(WHO)
B. Tujuan
Tujuan Umum

29

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

1.
2.
3.
4.
5.
1.
2.
3.
4.
5.

1.
2.

Meningkatkan kesadaran kemandirian wanita dan keluarganya dalam mengatur biologik keluarga
termasuk fungsi reproduksinya serta berperan serta aktif dalam mencegah dan menyelesaikan
masalah kesehatan keluarga serta meningkatkan kualitas hidup keluarga
Tujuan Khusus
Peran serta aktif wanita dan keluarganya dalam mencegah dan memecahkan masalah kesehatan
keluarga dan masalah reproduksi
Memberikan informasi, edukasi terpadu mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi, manfaat
dan resiko dari: obat, alat, perawatan, tindakan serta kemampuan memilih kontrasepsi dengan
tepat
Melaksanakan pelayanan kesehatan reproduksi yang berkualitas
Melaksanakan pelayanan kontrasepsi yang aman dan efektif
Kehamilan dap persalinan yang direncanakan dan aman
Pencegahan dan penanganan engguguran kandungan yang tidak dikehendaki
Pelayanan infertilitas
Informasi secara menyeluruh tentang pengaruh defisiensi hormon di usia lanjut pada usia lanjut
penapisan masalah malignasi
C.
Kebijaksanaan Penyelenggaraan Pembinaan Kesehatan Keluarga dan Reproduksi Sesuai
dengan intervensi nasional penanggulangan masalah kesehatan reproduksi di indonesia
berdasarkan rekomendasi strategi regional WHO untuk negara-negara Asia Tenggara, maka
kegiatan pelayanan reproduksi adalah:
Kesehatan Ibu Dan Anak
Kesehatan Anak Usia Sekolah
Kesehatan Remaja, termasuk pencegahan serta penanganan PMS (Penyakit Menular akibat
Hubungan Seks, HIV/AIDS)
Keluarga Berencana
Kesehatan Usia Lanjut (Program Pengembangan Puskesmas)
D. Indikator keberhasilan
Indikator keberhasilan program di wilayah kerja dinilai dari:
Angka Kematian Bayi
Angka Kematian Ibu
Prosentase Ibu Hamil Yang Mempunyai Berat Badan Dan Tinggi Yang Normal
Prosentase Ibu Hamil Dengan Anemia
Prosentase Balita Dengan Berat Badan Dan Tinggi Sesuai Umur
Kesehatan ibu dan anak
A. Pengertian
Adalah upaya kesehatan primer yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan kesehatan ibu
dalam menjalankan fungsi reproduksi yang berkualitas serta upaya kelangsungan hidup,
pengembangan dan perlindungan bayi, anak bawah lima tahun (BALITA) dan anak usia pra
sekolah dalam proses tumbuh kembang.
Prioritas pelayanan KIA dewasa ini adalah meningkatkan derajat kesehatan ibbu dan anak dalam
rangka menurunkan angka kematian ibu dan anak.
Pelayanan KIA Puskesmas terdiri dari
Pelayanan kesehatan asuhan kebidanan di wilayah Puskesmas
Pelayanan kesehatan bagi bayi, balita dan anak pra sekolah
B. Tujuan
Tujuan Umum
30

Terciptanya pelayanan berkualitas denagn partisipasi penuh pengguna jasa dan keluarganya
dalam mewujudkan bahwa setiap ibu mempunyai kesempatan yang terbaik dalam hal waktu dan
jarak antar kehamilan, melahirkan bayi sehat yang aman dalam lingkungan yang kondusif sehat,
denagn asuhan antenatal yang ade kuat, dengan gizi serta persiapan menyusui yang baik.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Tujuan Khusus
Memberikan pelayanan kebidanan dasar dan KIE kepada ibu hamil termasuk KB berupa
pelayanan antenatal, pertolongan persalinan dan pelayanan nifas serta perawatan bayi baru lahir.
Memberikan pertolongan pertama penanganan kedaruratan kebidanan dan neonatal serta
merujuk ke fasilitas rujukan primer (RS Dati II) sesuai kebutuhan
Memantau cangkupan pelayanan kebidanan dasar dan penagganan kedaruratan kebidanan
neonatal
Meningkatkan kualitas pelayanan KIA secara berkelanjutan
Menumbuhkan, mengoptimalkan dan memelihara peran serta masyarakat dalam upaya KIA
Memberikan pelayanan kesehatan neonatal esensial seluruh bayi baru lahir yang meliputi usaha
pernafasan spontan, menjaga bayi tetap hangat, menyusui dini dan eksklusif, mencegah interaksi
serta tata laksana neonatal sakit
Melaksanakan pemeliharaan kesehatan kepada seluruh balita dan anak pra sekolah yang meliputi
perawatn bayi baru lahir, pemeriksaan kesehatan rutin pemberian imunisasi dan upaya perbaikan
gizi
Melaksanakan secara dini pelayanan program dan stimulasi tumbuh kembang pada seluruh balita
dan anak pra sekolah yang melipui perkembangan motorik, kemampuan berbicara dan kognitif
serta sosialisasi dan kemandirian anak
Melaksanakan management terpadu balita sakit yang datang berobat ke fasilitas rawat jalan
termasuk pelayanan pra rujukan dan tindak lanjutnya
C. Sasaran
Adalah ibu, bayi, balita, anak usia pra sekolah dan keluarga yang tinggal dan beraada di wilayah
kerja Puskesmas serta yang berkunjung ke Puskesmas.
Kesehatan Anak Usia Sekolah
A. Pengertian
Upaya terpadu lintas program dan lintas sektoral dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan
serta membentuk prilaku hidup sehat anak usia sekolah yang berada di sekolah dan perguruan
agama. Anak usia sekolah (7-21 tahun) sesuai proses tumbuh kembang di bagi 3 subkelompok
yaitu:
1. Pra-remaja (7-9 tahun)
2. Remaja (10-19 tahun)
3. Dewasa Muda (20-21 tahun)
B. Tujuan
Tujuan Umum
Meningkatkan derajat kesehatan peserta didik, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan
perkembangan yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia
seutuhnya
Tujuan Khusus

31

a. Memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk melaksanakan prinssip hidup sehat serta
berpartisipasi aktif di dalam usaha peningkatan kesehatan sekolah, perguruan agama, di rumah
tangga maupun di lingkungan masyarakat
b. Memiliki daya hayat dan daya tangkal terhadap pengaruh buruk, penyalah gunaan narkotika dan
bahan berbahaya, alkohol, rokok dan sebagainya
c. Meningkatnya mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan bagi peserta didik ddik sekolah dan
diluar sekolah
d. Terciptanya lingkungan kehidupan sehat di sekolah
C. Sasaran
Masyarakat sekolah dari tingkat pendidik dasar sampai dengan tingkat pendidikan menengah
termasuk perguruan agama,beserta lingkungannya, serta perguruan tinggi (tingkat 1 dan 2)
Kesehatan Remaja
A. Pengertian
Adalah pembinaan yang meliputi perencanaan, penilaian, pembimbingan dan pengendalian
segala upaya untuk meningkatkan status kesehatan remaja dan peningkatan peran serta aktif
remaja dalam perawatan kesehatan diri dan kesehaatan keluarga, dengan dukungan kerjasama
lintas program dan lintas ssektoral
B. Tujuan
Tujuan Umum
Meningkatnya kemampuan hidup sehat remaja sebagai unsur kesehatan keluarga, guna membina
kesehatan diri dan lingkungannya dalam rangka meningkatkan ketahanan diri, prestasi dan peran
aktifnya dalam pembangunan nasional
Tujuan Khusus
a. Meningkatkan pengetahuan remaja tentang perkembangan biologik yang terjadi pada dirinya
b. Menurunnya angka kehamilan dikalangan remaja
c. Menurunnya angka kematian bayi dan ibu akibat kehamilan remaja
d. Menurunnya angka kejadian Penyakit akibat hubungan seksual(PHS) di kalangan remaja
e. Meningkatnya peran serta aktif keluarga dan masyarakat dalam upaya pembinaan kesehatan
remaja.
C. Sasaran
Sasaran untuk wilayah Puskesmas
a. Sasaran Remaja
Remaja berusia 10-19 tahun dan belum kawin dalam institusi pendidikan formal dan non formal
di wilayah Puskesmas
Remaja berusia 10-19 tahun dan belum kawin dalam kelompok pekerja
Remaja berusia 10-19 tahun dalam kelompok masyarakat (Olahraga, Kesenian, PMI Remaja,
Pramuka, Karang Taruna)
b. Sasaran Pembina Remaja
Perkumpulan orang tua murid
Pimpinan/supervisor/pembimbing kegiatan remaja
Pimpinan kelompok pekerja/industri yang beranggotakan remaja
c. Sasaran Pengelola Kegiatan
Pimpinan pengelola program/upaya pelayanan kesehatana.
Petugas Pelayanan Kesehatan
Keluarga Berencana
32

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
a.
b.
c.
d.
e.

1.
2.
3.
a.
b.

A. Pengertian
Adalah upaya kesehatan primer yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan kesehatan
pasangan usia subur dalam menjalankan fungsi reproduksi yang berkualitas.
Prioritas pelayanan KB dewasa ini adalah meningkatkan derajat kesehatan pasangan usia subur
dan keluarganya dalam pengaturan kehamilan, baik jumlah dan waktu kehamilan serta jarak
antar kehamilan guna menurunkan angka kelahiran nasional
B. Tujuan
Tujuan Umum
Adalah terciptanya pelayanan yang berkualitas dengan penuh pengguna jasa pelayanan dan
keluarganya dalam mewujudkan bahwa setiap pasangan usia subur mempunya kesempatan yang
terbaik dalam mengatur jumlah, waktu dan jarak antar kehamilan guna merencanakan dan
mewujudkan suatu keluarga kecil, bahagia dan sejahtra.
Tujuan Khusus
Memberikan pelayanan kontrasepsi yang berkualitas dan KIE kepada pasangan usia subur dan
keluarganya
Memberikan pertolongan pertama/penanganan efek samping dan kegagalan metode kontrasepsi
serta merujuk ke fasilitas rujukan primer (RS Dati II) sesuai dengan kebutuhan
Memantau cakupan pelayanan kontrasepsi dan kegagalan metoda kontrasepsi
Meningkatkan kualitas pelayanan KB secara berkelanjutan
Menumbuhkan, mengoptimalkan dan memelihara peran serta masyarakat dalam upaya KB
Memberikan pelayanan kesehatan pasangan usia subur, calon pasangan usia subur, serta anggota
keluarga yang lain dalam rangka meningkatkan kualitas kesehatan fungsi reproduksinya
Melaksanakan penanganan infentaris pasangan usia subur yang berkualitas dan merunjuk ke
fasilitas rujukan primer sesuai dengan kebutuhan
Melaksanakan managemen terpadu pelayanan kontrasepsi yang datang berobat ke fasilitas rawat
jalan termasuk pelayanan pra rujukan dan tindakan lanjutnya
C. Sasaran
Sasaran pelayanan KB adalah pasangan usia subur
Calon pasangan usia subur
Pasangan usia subur dengan wanita yang akan memasuki masa menoupaus
Keluarga yang tinggal dan berada di wilayah kerja Puskesmas
WUS yang datang pada pelayanan rawat jalan Puskesmas yang dalam fase intervensi pelayanan
KB.
5. Perbaikan Gizi masyarakat
A. Pengertian
Adalah kegiatan untuk mengupayakan peningkatan status gizi masyarakat dengan pengelolaan
terkoordinasi dari berbagai profesi kesehatan serta dukungan peran serta aktif masyarakat
B. Program
Upaya Perbaikan Gizi Puskesmas meliputi:
Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK)
Upaya Perbaikan Gizi Institusi (UPGI)
Upaya Penanggulangan Kelainan Gizi Yang Terdiri Dari:
Pencegahan Dan Penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY)
Pencegahan Dan Penanggulangan Anemia Besi (AGB)

33

c. Pencegahan Dan Penanggulangan Kurang Kalori Energi Protein (KEP) Dan Kurang Energi
Kronis (KEK)
d. Pencegahan Dan Penaggulangan Kekurangan Vitamin A (KVA)
e. Pencegahan Dan Penaggulangan Masalah Kekurangan Gizi Mikro Lain
f. Pencegahan Dan Penaggulangan Masalah Gizi Lebih
4. Sistem Kewaspadaan Pangan Dan Gizi (SKPG)
C. Tujuan
Tujuan Umum
Menanggulangi masalah gizi dan meningkatkan status gizi masyarakat
Tujuan Khusus
a. Meningkatkan kemampuan dan peran serta masyarakat, keluarga dan seluruh anggotanya untuk
mewujudkan prilaku gizi yang baik dan benarsesuai denagn gizi seimbang
b. Meningkatkan perhatian dan upaya peningkatan status gizi warga dari berbagai institusi
pemerintahan serta swasta
c. Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan petugas gizi/petugas Puskesmas lainnya dalam
merencanakan, melaksanakan, membina, memantau dan mengevaluasi upaya perbaikan gizi
masyarakat
d. Terselenggaranya pelayanan gizi yang melibatkan partisipasi keluarga terhadap pencegahan dan
penanggulangan masalah kelainan gizi
e. Terwujudnya rangkaian kegiatan pencatatan/pelaporan masalah gizi dan tersedianya informasi
situasi pangan dan gizi.
D. Sasaran
Sasaran upaya perbaikan gizi adalah kelompok-kelompok yang beresiko menderita kelainan gizi
antara lain:
a. Bayi, anak balita, anak pra sekolah dan anak usia sekolah
b. Wanita Usia Subur (WUS) termasuk calon pengantin (cantin), ibu hamil, ibu nifas, ibu menyusui,
dan usia lanjut (usila)
c. Semua penduduk rawan gizi (endemik)
d. Semua anak dan dewasa mempunyai masalah gizi
e. Pekerja penghasilan rendah.
6. Penyembuhan Penyakit dan Pelayanan Kesehatan
1. Pelayanan Medik Rawat Jalan
A. Pengertian
Adalah pelayanan medik yang dilakukan oleh pelaksana pelayanan (dokter) baik secara sendiri
ataupun atas koordinasi bersama dengan sesama profesi maupun pelaksana penunjang pelayanan
kesehatan lain sesuai dengan wewenangnya, untuk menyelesaikan masalah kesehatan dan
menyembuhkan penyakit yang ditemukan dari pengguna jasa pelayanan kesehatan, dengan tidak
memandang umur dan jenis kelamin, yang dapat diselenggarakan pada ruang praktek.
B. Tujuan
Tujuan Umum
Tujuan pelayanan medik rawat jalan adalah terwujudnya pengguna jasa dan keluarganya yang
partisipatif, sehat sejahtera, badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap anggota keluarga
hidup produktif secara sosial dan ekonomi dengan baik
Tujuan Khusus
34

Meningkatkan kemampuan dan peran serta masyarakat, keluarga dan seluruh anggotanya untuk
mengatasi masalah kesehatannya sendiri, trutama melalui peningkatan kesehatan dasar dan
pencegahan penyakit
Meningkatkan kesehatan pengguna jasa pelayanan, dan komunikasi yang dilayani oleh
Puskesmas
Terselenggaranya pelayanan medik yang berkualitas serta melibatkan partisipasi keluarga
terhadap perawatan untuk:
i. Mengurangi penderitaan karena sakit
ii. Mencegah timbul dan berkembangnya penyakit ke arah kecacatan
iii. Memulihkan kesehatan fisik, psikis dan sosial
Menurunnya angka morbidilitas penyakit di wilayah kerja Puskesmas.
C. Sasaran
Sasaran pelayanan medik rawat jalan yang diselenggarakan Puskesmas adalah semua anggota
masyarakat dengan tidak memandang umur, dan tidak membedakan strata sosial.
2. Pelayanan Kedaruratan Medik
A. Pengertian
Adalah pelayanan medik terdepan yang merupakan penatalaksanaan kecelakaan dan keadaan
kedaruratan medik berkenaan dengan perubahan keadaan baik fisiologik, anatomik dan mental
psikologikal dari pengguna jasa pelayanan, yang terjadi mendadak, yang tindakan mengatasinya
harus segera dilaksanakan di mulai dari tempat kejadian sampai dengan pelayanan medik untuk
menyelamatkan kehidupan.
B. Tujuan
Tujuan pelayanan kecelakaan dan kedaruratan medik adalah memberikan pertolongan medik
segera dengan menyelesaikan masalah kritis yang ditemukan untuk mengambil fungsi vital
tubbuh serta meringankan penderitaaan dari pengguna pelayanan.
C. Prinsip Kerja
Pelayanan kedaruratan medik mempunyai prinsip-prinsip kerja khusus yang harus dilaksanakan,
yaitu:
a. Pertolongan harus cepat dan tepat
b. Pertolongan harus memenuhi standar pelayanan tingkat primer, yaitu :
i. Menstabilkan kondisi medik untuk evakuasi ke tempat rujukan
ii. Memperbaiki jalan nafas dan pernafasan spontan, agar terjaminnya oksigenasi yang adekuat
ke seluruh tubuh terutama otak
iii. Memperbaiki sirkulasi darah
iv. Menghilangkan dan mengurangi rasa nyeri
v. Melakukan tindakan invasif medik yang diperlukan
c. Memberikan informed consent kepada keluarga penderita
3. Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut
A. Pengertian
Adalah pelayanan gigi dan mulut yang dilakukan oleh pelaksana pelayanan medik ataupun
kesehatan yang berwenang dalam bidang kesehatan gigi dan mulut, yang dilaksanakan sendiri
atau bersama menurut fungsinya masing-masing, gguna mengantisifasi proses penyakit gigi dan

35

a.
b.

a.
b.
c.
i.
ii.
iii.
iv.
v.

mulut dan permasalahannya secara keseluruhan, yang dapat dilaksanakan dalam prosedur
pelayanan di kamar praktek dan dengan pembinaan kesehatan wilayah setempat.
Pelayanan kesehatan gigi dan mulut meliputi:
Pelayanan kesehatan gigi dasar paripurna yang terintegrasi dengan program-program lain di
Puskesmas adalah pelayanan kesehatan gigi esensial yang terbanyak di butuhkan oleh
masyarakat dengan mengutamakan upaya peningkatan dan pencegahan penyakit gigi.
Pelayanan kesehatan gigi khusus adalah upaya perlindungan khusus, tindakan, pengobatan dan
pemulihan masalah kesehatan gigi dan mulut serta pelayanan asuhan sistemik kesehatan gigi dan
mulut.
B. Tujuan
Tujuan Umum
Tujuan pelayanan kesehatan gigi dan mulut adalah meningkatkannya partisipasi anggota
masyarakat dan keluarganya untuk bersama-sama mewujudkan tercapainya derajat kesehatan
gigi dan mulut masyarakat yang optimal
Tujuan Khusus :
Meningkatnya kesadaran, sikap dan prilaku masyarakat dalam kemampuan pemeliharaan diri di
bilang kesehatan gigi dan mulut dalam mencari pertolongan sedini mungkin
Meningkatkan kesehatan gigi pengguna jasa pelayanan, keluarga dan komunikasinya
Terselenggaranya pelayanan medik gigi dan mulut yang berkualitas serta melibatkan partisipasi
keluarga terhadap perawatan untuk:
Menghentikan perjalanan penyakit gigi dan mulut yang diderita
Terhindarnya/berkurangnya gangguan fungsi kunyah akibat kerusakan gigi dan mulut
Mengurangi penderita karena sakit
Mencegah timbul dan berkembangnya penyakit ke arah kecacatan
Memulihkan kesehatan gigi dan mulut
d. Menurunnya prevelensi penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita masyarakat terutama
pada kelompok masyarakat yang rawan
C. Sasaran
Kelompok rentan untuk mendapatkan pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut yaitu:
a. Anak sekolah dasar (upaya kesehatan gigi sekolah)
b. kelompok ibu hamil dan menyusui
c. Anak pra sekolah
d. Kelompok masyarakat lain berpenghasilam rendah
e. Lansia
LI.5. Memahami dan menjelaskan cakupan imunisasi di Puskesmas
LO.5.1. Memahami dan menjelaskan jenis-jenis imunisasi
Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan, kekebalan seseorang secara aktif
terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit
atau sakit ringan. (Depkes RI, 2005).
Tujuan imunisasi adalah diharapkan anak menjadi lebih kebal terhadap penyakit sehingga dapat
menurunkan angka mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan.(A.Aziz, 2008)
Jenis Imunisasi Dasar, dan Pemberian
Di Indonesia terdapat jenis imunisasi yang diwajibkan leh emerintah/ imunisasi dasar dan
ada juga yang hanya anjuran. Imunisasi wajib di Indonesia sebagaimana telah diwajibkan oleh
WHO ditambah dengan hepatitis B, sedangkan imunisasi yang hanya dianjurkan oleh pemerintah
36

a.

A.

B.

dapat digunakan untuk mecegah suatu kejadian luar biasa atau penyakit endemik atau untuk
kepentingan tertentu misal imunisasi meningitis pada jamaah haji.
Jenis-Jenis Imunisasi :
Imunisasi pasif (passive immunization) Imunisasi pasif ini adalah Immunoglobulin jenis
imunisasi ini dapat mencegah penyakitcampak (measles pada anak-anak).
b. Imunisasi aktif (active immunization)Imunisasi yang diberikan pada anak adalah :
1. BCG, untuk mencegah penyakit TBC
2. DPT, untuk mencegah penyakit-penyakit diptheri, pertusis dan tetanus
3. Polio, untuk mencegah penyakit poliomilitis
4. Campak, untuk mencegah penyakit campak (measles)
5. Hepatitis B, untuk mencegah penyakit hepatitis B (Notoatmodjo. 1997)
Keberhasilan pemberian imunisasi pada anak dipengerhui oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu
:
Tingginya kadar antibodi pada saat dilakukan imunisasi
Potensi antigen yang disuntikkan
Waktu pemberian imunisasi
Status nutrisi terutama protein karena protein diperlukan untuk sintesis antibodi
Imunisasi dasar yang diwajibkan oleh pemerintah diantaranya
BCG
BCG (Bacillus Calmette Guerin) merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit TBC. Bisa pada TB meninges, TB milier seluruh lapang paru atau TB tulang.
Vaksin BCG meruoakan. Vaksin BCG merupakan vaksin yang mengandung bakteri TB yang
dilemahkan. Diberikan segera setelah bayi kahir atau 1 bulan. Tapi menurut rekomendasi IDAI
diberikan pada usia 2-3bulan (tabel 1), bila vaksin BCG diberikan sesudah umur 3 bulan, perlu
dilakukan uji tuberkulin, bila tidak memungkikan, BCG dapatdiberikan, namun observasi dalam
1minggu, bila ada reaksi lokal cepat di tempat suntikan, perlu dievaluasi lebih lanjut untuk
dignostik TB
Di Negara yang telah maju, imunisasi BCG diberikan kepada mereka yang mempunyai resiko
kontak dengan penderita TBC dan uji tuberkulinya masih negative, misalnya dokter, mahasiswa
kedokteran, dan perawat. Uji tuberculin adalah suatu tes (uji) untuk mengetahui apakahseseorang
telah memiliki zat anti terhadap penyakit TBC atau belum.Di Indonesia pemberian imunisasi
BCG tidak hanya terbatas pada mereka yang memiliki resikotinggi mengingat tingginya
kemungkinan infeksi kuman TBC. Imunisasi BCG diberikan padasemua bayi baru lahir sampai
usia kurang dari dua bulan. Penyuntikan biasanya dilakukan dibagian atas lengan kanan (region
deltoid) dengan dosis 0,05 ml reaksi yang mungkin timbulsetelah penyuntikan adalah : Kemerahmerahan disekitar suntikan, dapat timbul luka yang lama sembuh di daerah suntikan,dan terjadi
pembengkakan di kelenjar sekitar daerah suntikan (biasanya di daerah ketiak).Bila terjadi hal
tersebut di atas yang penting adalah menjaga kebersihan terutama daerah sekitar luka dan segera
bawa ke dokter. Menurut penelitian yang dilakukan Muchtasraningsih (2005) terhadap sejumlah
pasien TB paru BTA (+) rawat jalan selama tahun 300
Hepatitis B
Kandungan vaksin adalah HbsAg dalam bentuk cair, frekuensi pemberian pada waktu 12jam
setelah lahirr (taebl 1) secara intramuskular. Hasil penelitian Muchlastriningsih (2005) bahwa
pasien hepatitis yang dirawat jalan dan rawat inap dari glongan usia 15-44 tahun (50,54%).
Adapun cara pemakaiannya (vaksin dari Koerean Green Cross) sebagai berikut :

37

C.

D.

E.

A.

1.Imunisasi dasar dilakukan tiga kali. Dua kali pertama untuk merangsang tubuhmenghasilkan
zat anti dan yang ketiga untuk meningkatkan jumlah zat anti yang sudahada
2.Jadwal imunisasi yang dianjurkan adalah untuk bayi baru lahir (0 11 bulan) dengan satukali
suntikan dosis 0,5 ml satu bulan kemudian mendapat satu kali lagi.
Setelah itu,imunisasi ketiga diberikan pada saat bayi berusia 6 bulan, mengenai waktu pemberian
suntikan yang ketiga ada beberapa pendapat. Untuk pelaksanaan program diberikan 1 bulan
setelah suntikan kedua. Hal ini semata-mata untuk kemudahan dalam pelaksanaan,tetapi
kekebalan yang didapat tidaklah berbeda. Imunisasi hepatitis B ulangan dilakukan setiap 5 tahun
sekali.
Imunisasi polio
Kandungannya adalah vairus yang dilemahkan, diberikan pada kunjungan pertama. Bayi yang
lahir di rumah bersalin atau rumah sakit, vaksin OPV (oral) diberikan vaksin polio saat bayi
dipulangkan utnuk menghindari transmisi virus vaksin kepada bayi lain. Selanjutnya untuk polio
1, 2,3 dapat diberikan secara OPV atau IPV
DPT
DPT (Diptheri, Pertussis, Tetanus) merupakannn vaksin difteri yang telah dihilangkan sifat
racunnya namun masih dapat merangsang pembentukan zat anti (toksoid), diberikan melalui
intramuskular. Diberikan pada usia 6 minggu. Efek ringan pembengkakan lokal, nyeri lokal dan
demam, nyeri berat mislnya menangis hebat, kesakitan 4jam atau lebih, kesadaran menurun,
kejang, ensefalopati dan syok
Diberikan vaksin DTwp atau DtaP, Perbedaan utama pada komponen antigen untuk pertusis.
Vaksin DTwP berisi sel bakteri Pertusis utuh yang berisi ribuan antigen, termasuk antigen yang
tidak diperlukan, sehingga sering menimbulkan reaksi panas tinggi, bengkak, merah, nyeri
ditempat suntikan. Sedangkan vaksin DTaP berisi bagian bakteri pertusis yang tidak utuh dan
hanya mengandung sedikit antigen yang dibutuhkan saja, sehingga jarang menimbulkan reaksi
tersebut. Karena proses pembuatan DTaP lebih rumit, maka harganya jauh lebih mahal.
Reaksi yang dapat terjadi segera setelah vaksinasi DTwP antara lain demam tinggi, rewel, di
tempat suntikan timbul kemerahan, nyeri dan pembengkakan, yang akan hilang dalam 2 hari.
Orangtua/pengasuh dianjurkan untuk memberikan minum lebih banyak (ASI atau air buah), jika
demam pakailah pakaian yang tipis, bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres air dingin, jika
demam berikan parasetamol 15 mg/kgbb setiap 3 - 4 jam bila diperlukan, maksimal 6 kali dalam
24 jam, boleh mandi atau cukup diseka dengan air hangat. Jika reaksi-reaksi tersebut berat dan
menetap, atau jika orangtua merasa khawatir, bawalah bayi/anak ke dokter. (Soedjatmiko IDAI,
2009).
Atau kombinasi dengan Hepatitis B atau Hib. Ulangan DTP umur 18 bulan dan 5 tahun. Program
BIAS : disesuaikan dengan jadwal imunisasi Kementerian Kesehatan. Untuk anak umur di atas 7
tahun dianjurkan vaksin Td.
Campak
Diberikan pada umur 9 bulan, vaksin penguat diberikan pada umur 5-7 tahun. Program BIAS :
disesuaikan dengan jadwal imunisasi Kementerian Kesehatan. Imunisasi campak bisa diberikan
sendiri atau bersama dalam imunisasi MMR. Vaksin ini mengandung virus yang dilemahkan.
Efek samping ini seperti ruam dan pasan lokal. Menurut Muchlastriningsih (2005) jumlah pasien
campak rawat jalan paling banyak dari goongan usia 5-14tahun (30,6%)
Selain imunisasi wajib di atas, ada imunisasi yang dianjurkan diantaranya :
MMR

38

MMR (measles, mumps, dan rubella) merupakan imunisasi yang digunakan dalam memebrikan
kekebalan terhadap campak/measles, gondong, / mumps dan cmpak jerman/ rubella. Dalam
MMR antigen yang dipake adalah birus campak yang dilemahkan, virus Rubella strain RA 27/3
dan virus gondong.vaksin ini tidak dianjurkan untuk bayii dibawah usia 1 tahun karena
dikhawatirkan terjadi interferensi dengan antibodi maternal yang tela ada. Khusus di daerah
endemik, sebaiknya diberikan imunisasi campak monovalen pada usia 4-6bulan atau 9-11bulan
dan booster/ulangan. dapat diberikan pada umur 12 bulan, apabila belum mendapat vaksin
campak umur 9 bulan. Selanjutnya MMR ulangan diberikan pada umur 5-7 tahun.
B. Tifoid
ADa 3 jenis vaksin tifoid diantaranya
kuman yang dimatikan diberikan pada bayi 6-12 bulan 0,1 ml
1-2 tahun 0,2ml, 2-12 tahun 0,5ml
Pada imunisasi awal diberikan 2x dengan interval 4minggu kemudaian booster 1 tahun kemudian
kuman yang dilemahkan(vivotif, berna) diberikan dalam bentuk Icapsul enteric coastest
seelum makan pada ari 1,2 dan 5 untuk anak usia dia atas 6 taun dan
Antigen celular Vi polisakarida (Typphin, VI, pasrteur Merius). Vaksin kuman yang dimatikan
diberikan pada anak usia diatas 2tahun dan dapat diulang setiap 3 tahun
C. Varisella
dapat diberikan setelah umur 12 bulan, terbaik pada umur sebelum masuk sekolah dasar. Bila
diberikan pada umur > 12 tahun, perlu 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu
D. Hepatitis A
Pemberian diberikan pada usia 1 tahun 2x interval 6-12bulan. Imunisasi awal menggunakan
vaksin Hrvrix (hepatitis A strain HM175 yang dinonaktifkan) lalu booster pada 6 bulan
setelahnya
E. HiB
HiB (Haemophilus Influenzae tipe b) vaksin ini adalah bentuk polisakarida murni (PRP/purified
capsular polysacharidae)diberikan pada usia 2 bulan, lalu 4 bulan lalu 6 bulan dan HiB 4 pada
usia 15-24bulan
LO.5.2. Memahami dan menjelaskan jadwal imunisasi
Tabel 1. Jadwal imunisasi 2011-2012 (IDAI 2012)

39

Tabel 2. Kontra indikasi jenis vaksin (Wong, 2004)

40

Tabel 3. Kejadian yang mungkin terjadi pascaimunisasi (Wong, 2004)

LI.6. Memahami dan menjelaskan pandangan Islam terhadap KLB dan hukum menjaga
kesehatan dan berobat
Islam memandang konsep pencegahan tersebarnya penyakit dengan melakukan sistem karantina.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda, "Jika kalian mendengar wabah-wabah di suatu negeri,
maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada,
maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu." (HR. Bukhari Muslim). Selain itu, Nabi SAW
juga bersabda, "Orang yang melarikan diri dari tempat wabah adalah seperti orang yang
melarikan diri dari pertempuran di jalan Allah. Dan barangsiapa yang sabar dan tetap di
tempatnya, maka dia akan diberi pahala dengan pahala seorang yang mati di jalan Allah".
Dengan demikian, sistem karantina ini, dimana semua orang yang menderita wabah dicegah
meninggalkan tempat tersebut, dan pengunjung juga dicegah masuk, sekarang telah diberlakukan
di seluruh dunia. Pada zaman Nabi SAW dan sebelum Pasteur berhasil menemukan keberadaan
mikroba, orang berfikir bahwa wabah penyakit yang terjadi itu disebabkan oleh setan dan
bintang-bintang. Menurut mereka, wabah tersebut tidak berhubungan dengan kebersihan atau
perilaku tertentu, sehingga mereka melakukan ritual magis untuk mengatasinya. Dalam kondisi
wabah seperti itu, Nabi SAW melakukan sistem karantina yang merupakan dasar pencegahan
41

modern setelah penemuan mikroba yang menyebabkan penyakit. Nabi SAW memerintahkan para
sahabat, "Jika kalian mendengar tentang wabah wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian
memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di tempat kalian berada, maka janganlah kalian jangan
meninggalkan tempat itu." Hal ini merupakan proses pengisolasian wabah agar tidak menular ke
tempat lain dan menjadi pandemi.
Untuk memastikan perintah dilakukan dengan baik, Rasulullah akan memerintahkan mendirikan
tembok di sekitar daerah wabah dan menjanjikan kepada orang-orang yang sabar dan tinggal di
daerah wabah dengan pahala sebagai mujahit di jalan Allah. Sementara mereka yang melarikan
diri dari tempat tersebut diancam dengan malapetaka dan kebinasaan. Jika orang yang sehat
diperintahkan untuk tetap tinggal dengan orang sakit di suatu daerah wabah, pasti ia akan
menganggap bahwa hal tersebut sebagai sebuah bualan belaka. Dan karena didasari keinginan
untuk hidup, maka pasti ia akan melarikan diri ke tempat lain. Namun orang muslim tidak boleh
melarikan diri dan meninggalkan tempat wabah sesuai dengan instruksi nabi. Orang-orang
nonmuslim mengejek tindakan itu hingga mereka kemudian menemukan bahwa mereka yang
tampak sehat dan tampa gejala dapat saja menjadi pembawa kuman yang dimungkinkan akan
menjadi carrier dan mentransfer wabah ke tempat lain jika mereka pindah kesana. Mereka akan
bergerak bebas dan berbaur dengan orang yang sehat, sehingga mereka dapat menyebabkan
orang lain terserang penyakit. Rasulullah mencegah hal tersebut bahkan menjanjikan pahala
syahid jika orang tersebut tetap tinggal dan meninggal karenanya.
Menjaga kesehatan dan berobat
Sudah menjadi semacam kesepakatan, bahwa menjaga agar tetap sehat dan tidak terkena
penyakit adalah lebih baik daripada mengobati, untuk itu sejak dini diupayakan agar orang tetap
sehat. Menjaga kesehatan sewaktu sehat adalah lebih baik daripada meminum obat saat sakit.
Dalam kaidah ushuliyyat dinyatakan:
Dari Ibn Abbas, ia berkata, aku pernah datang menghadap Rasulullah SAW, saya bertanya: Ya
Rasulullah ajarkan kepadaku sesuatu doa yang akan akan baca dalam doaku, Nabi menjawab:
Mintalah kepada Allah ampunan dan kesehatan, kemudian aku menghadap lagipada
kesempatan yang lain saya bertanya: Ya Rasulullah ajarkan kepadaku sesuatu doa yang akan
akan baca dalam doaku. Nabi menjawab: Wahai Abbas, wahai paman Rasulullah saw mintalah
kesehatan kepada Allah, di dunia dan akhirat. (HR Ahmad, al-Tumudzi, dan al-Bazzar)
Berbagai upaya yang mesti dilakukan agar orang tetap sehat menurut para pakar kesehatan,
antara lain, dengan mengonsumsi gizi yang yang cukup, olahraga cukup, jiwa tenang, serta
menjauhkan diri dari berbagai pengaruh yang dapat menjadikannya terjangkit penyakit. Hal-hal
tersebut semuanya ada dalam ajaran Islam, bersumber dari hadits-hadits shahih maupun ayat alQuran.
Nilai Sehat dalam Ajaran Islam
Menurut penelitian Ali Munis, dokter spesialis internal Fakultas Kedokteran Universitas Ain
Syams Cairo, menunjukan bahwa ilmu kedokteran modern menemukan kecocokan terhadap
yang disyariatkan Nabi dalam praktek pcngobatan yang berhubungan dengan spesialisasinya.
Sebagaiman disepakati oleh para ulama bahwa di balik pengsyariatan segala sesuatu termasuk
ibadah dalam Islam terdapat hikrnah dan manfaat phisik (badaniah) dan psikis (kejiwaan). Pada
42

saat orang-orang Islam menunaikan kewajiban-kewajiban keagamannya, berbagai penyakit lahir


dan batin terjaga.
Kesehatan Jasmani
Ajaran Islam sangat menekankan kesehatan jasmani. Agar tetap sehat, hal yang perlu
diperhatikan dan dijaga, menurut sementara ulama, disebutkan, ada sepuluh hal, yaitu: dalam hal
makan, minum, gerak, diam, tidur, terjaga, hubungan seksual, keinginan-keinginan nafsu,
keadaan kejiwaan, dan mengatur anggota badan.
Pertama; Mengatur Pola Makan dan Minum
Dalam ilmu kesehatan atau gizi disebutkan, makanan adalah unsur terpenting untuk menjaga
kesehatan. Kalangan ahli kedokteran Islam menyebutkan, makan yang halalan dan thayyiban. AlQuran berpesan agar manusia memperhatikan yang dimakannya, seperti ditegaskan dalam ayat:

maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.(QS. Abasa : 24 )


Dalam 27 kali pembicaraan tentang perintah makan, al-Quran selalu menekankan dua sifat, yang
halal dan thayyib, di antaranya dalam :

(Q.SAl-Baqarah: 168)
Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan
janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan; karena sesungguhnya syetan itu adalah
musuh yang nyata bagimu"

dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu
dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya( Q.S. Al-Maidah: 88)

Maka, makanlah dari rizki yang diberikan Allah kepadamu yang halal lagi baik, dan
bersyukurlah atas nikmat Allah jika benar ibadah(pengabdian)-mu hanya kepada-Nya
semata(An-Nahl :114)
Kedua; Keseimbangan Beraktivitas dan Istirahat
Perhatian Islam terhadap masalah kesehatan dimulai sejak bayi, di mana Islam menekankan bagi
ibu agar menyusui anaknya, di samping merupakan fitrah juga mengandung nilai kesehatan.
Banyak ayat dalam al-Quran menganjurkan hal tersebut.
43

Al-Quran melarang melakukan sesuatu yang dapat merusak badan. Para pakar di bidang medis
memberikan contoh seperti merokok. Alasannya, termasuk dalam larangan membinasakan diri
dan mubadzir dan akibatyang ditimbulkan, bau, mengganggu orang lain dan lingkungan.
Islam juga memberikan hak badan, sesuai dengan fungsi dan daya tahannya, sesuai anjuran
Nabi: Bahwa badanmu mempunyai hak
Islam menekankan keteraturan mengatur ritme hidup dengan cara tidur cukup, istirahat cukup, di
samping hak-haknya kepada Tuhan melalui ibadah. Islam memberi tuntunan agar mengatur
waktu untuk istirahat bagi jasmani. Keteraturan tidur dan berjaga diatur secara proporsional,
masing-masing anggota tubuh memiliki hak yang mesti dipenuhi.
Di sisi lain, Islam melarang membebani badan melebihi batas kemampuannya, seperti
melakukan begadang sepanjang malam, melaparkan perut berkepanjangan sekalipun maksudnya
untuk beribadah, seperti tampak pada tekad sekelompok Sahabat Nabi yang ingin terus menerus
shalat malam dengan tidak tidur, sebagian hendak berpuasa terus menerus sepanjang tahun, dan
yang lain tidak mau menggauli istrinya, sebagaimana disebutkan dalam hadits:
Nabi pernah berkata kepadaku: Hai hamba Allah, bukankah aku memberitakan bahwa kamu
puasa di szam? hari dan qiyamul laildimalam hari, maka aku katakan, benarya Rasulullah,
Nabi menjawab: Jangan lalukan itu, berpuasa dan berbukalah, bangun malam dan tidurlah,
sebab, pada badanmu ada hak dan pada lambungmujuga ada hak (HR Bukhari dan Muslim).
Ketiga; Olahraga sebagai Upaya Menjaga Kesehatan
Aktivitas terpenting untuk menjaga kesehatan dalam ilmu kesehatan adalah melalui kegiatan
berolahraga. Kata olahraga atau sport (bahasa Inggris) berasal dari bahasa Latin Disportorea atau
deportore, dalam bahasa Itali disebut deporte yang berarti penyenangan, pemeliharaan atau
menghibur untuk bergembira. Olahraga atau sport dirumuskan sebagai kesibukan manusia untuk
menggembirakan diri sambil memelihara jasmaniah.
Tujuan utama olahraga adalah untuk mempertinggi kesehatan yang positif, daya tahan, tenaga
otot, keseimbangan emosional, efisiensi dari fungsi-rungsi alat tubuh, dan daya ekspresif serta
daya kreatif. Dengan melakukan olahraga secara bertahap, teratur, dan cukup akan meningkatkan
dan memperbaiki kesegaran jasmani, menguatkan dan menyehatkan tubuh. Dengan kesegaran
jasmani seseorang akan mampu beraktivitas dengan baik.
Nash al-Quran yang dijadikan sebagai pedoman perlunya berolahraga, dalam konteks perintah
jihad agar mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi kemungkinan serangan musuh, yaitu
ayat:
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari
kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan
musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang
Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu najkahkanpadajalan Allah niscaya akan dibalas
dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS.Al-Anfal :6o):
44

Nabi menafsirkan kata kekuatan (al-Quwwah) yang dimaksud dalam ayat ini adalah memanah.
Nabi pernah menyampaikannya dari atas mimbar disebutkan 3 kali, sebagaimana dinyatakan
dalam satu hadits:
Nabi berkata: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sang
gupi Ingatlah kekuatan itu adalah memanah, Ingatlah kekuatan itu adalah memanah, Ingatlah
kekuatan itu adalah memanah, (HR Muslim, al-Turmudzi, Abu Dawud, Ibn Majah, Ahmad,
dan al-Darimi)
Keempat; Anjuran Menjaga Kebersihan
Ajaran Islam sangat memperhatikan masalah kebersihan yang merupakan salah satu aspek
penting dalam ilmu kedokteran. Dalam terminologi Islam, masalah yang berhubungan dengan
kebersihan disebut dengan al-Thaharat. Dari sisi pandang kebersihan dan kesehatan, al-thaharat
merupakan salah satu bentuk upaya preventif, berguna untuk menghindari penyebaran berbagai
jenis kuman dan bakteri.
Imam al-Suyuthi, Abd al-Hamid al-Qudhat, dan ulama yang lain menyatakan, dalam Islam
menjaga kesucian dan kebersihan termasuk bagian ibadah sebagai bentuk qurbat, bagian dari
taabbudi, merupakan kewajiban, sebagai kunci ibadah, Nabi bersabda: Dari Ali ra., dari Nabi
saw, beliau berkata: Kunci shalat adalah bersuci(HR Ibnu Majah, al-Turmudzi, Ahmad,
dan al-Darimi)
BEROBAT
HUKUM BEROBAT
Para fuqoha (ahli fiqih) bersepakat bahwa berobat hukum asalnya dibolehkan, kemudian
mereka berbeda pendapat (mengenai hukum berobat) menjadi beberapa pendapat yang masyhur:
1. Pendapat pertama mengatakan bahwa berobat hukumnya wajib, dengan alasan adanya
perintah Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam untuk berobat dan asal hukum perintah adalah
wajib, ini adalah salah satu pendapat madzhab Malikiyah, Madzhab Syafiiyah, dan madzhab
Hanabilah.
2. Pendapat kedua mengatakan sunnah/ mustahab, sebab perintah Nabi shallallahu alaihi wa
sallam untuk berobat dan dibawa kepada hukum sunnah karena ada hadits yang lain
Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan bersabar, dan ini adalah madzhab
Syafiiyah.
3. Pendapat ketiga mengatakan mubah/ boleh secara mutlak , karena terdapat keterangan dalildalil yang sebagiannya menunjukkan perintah dan sebagian lagi boleh memilih, (ini adalah
madzhab Hanafiyah dan salah satu pendapat madzhab Malikiyah).
4. Pendapat kelima mengatakan makruh, alasannya para sahabat bersabar dengan sakitnya,
Imam Qurtubi rahimahullah mengatakan bahwa ini adalah pendapat Ibnu Masud, Abu
Dardaradhiyallahu anhum, dan sebagian para Tabiin.
5. Pendapat ke enam mengatakan lebih baik ditinggalkan bagi yang kuat tawakkalnya dan lebih
baik berobat bagi yang lemah tawakkalnya, perincian ini dari kalangan madzhab Syafiiyah.
Kesimpulan dari berbagai macam pendapat
Sesungguhnya terdapat berbagai macam dalil dan keterangan yang berbeda- beda tentang
berobat, oleh karena itu sebenarnya pendapat- pendapat di atas tidaklah bertentangan. Akan
45

tetapi berobat hukumnya berbeda- berbeda menurut perbedaan kondis. Ada yang haram,
makruh, mubah, sunnah, bahkan ada yang wajib.

Daftar Pustaka
Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke2,Mei. Jakarta : Rineka Cipta. 2003.
Notoatmodjo, soekidjo. 2011. Kesehatan Masyarakat. RINEKA CIPTA : Jakarta.
http://maktabahabiyahya.wordpress.com/2012/05/30/berobat-dalam-islam/

46