Anda di halaman 1dari 26

ILMU

KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

ANAMNESIS

Nama : An. F

Jenis Kelamin : Perempuan

NO RM :

Umur : 6 bulan
Ruang : Melati
Kelas : III

Nama Lengkap

: An. F

Jenis Kelamin

Tempat dan Tanggal Lahir

: Karanganyar, 14-10-2015

Umur

: 6 bulan

Nama Ayah

: Tn. W.

Umur

: 27 tahun

Pekerjaan Ayah

: Swasta

Pendidikan Ayah : SMA

Nama Ibu

: Ny. E

Umur

: 31 tahun

Pekerjaan Ibu

: Swasta

Pendidikan Ibu

: SMP

Alamat

: Karangmojo 07/02 Karangmojo, Tasikmadu, Karanganyar

Masuk RS

: 26 April 2016 Jam 01.30

Diagnosis masuk

: Bronkiolitis

Dokter yang merawat : dr. Elief Rohana, Sp.A., M.Kes

00368399

: Perempuan

Ko Asisten : Rezita Oktiana R., S.Ked

Tanggal : 30 April 2016 (Alloanamnesis) di Bangsal Melati


KELUHAN UTAMA

: Batuk

KELUHAN TAMBAHAN : Pilek, demam, sesak


1. Riwayat penyakit sekarang
4 HSMRS Pasien rewel (+) sejak malam hari karena demam (+) naik turun, disertai batuk
yang menggigil (+), sesak (+), pilek (+), dengan mual (-), muntah (-), susah untuk makan dan
minum (+), BAK (+), BAB (+).
HMRS Pasien dibawa ke rumah sakit masuk IGD dengan keluhan batuk semakin sering (+),
pilek (+), sesak (+), demam (+), rewel (+), mual (-), muntah (-), makan dan minum menurun,
BAK (+), BAB (+)
2. Riwayat penyakit dahulu

Riwayat Sakit Serupa

Riwayat Asma

Riwayat kejang tanpa demam : disangkal

Riwayat kejang dengan demam : disangkal

Riwayat batuk pilek sebelumnya: disangkal

Riwayat batuk lama

: disangkal
: disangkal

: disangkal
1

ILMU
KESEHATAN
ANAK
: disangkal

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

Riwayat alergi

NO RM :

00368399

3. Riwayat penyakit pada keluarga

Riwayat sakit serupa : disangkal

Riwayat batuk pilek

: disangkal

Riwayat asma

: disangkal

Riwayat alergi

: disangkal

4. Riwayat penyakit pada lingkungan

Riwayat sakit serupa : disangkal

Riwayat batuk pilek

: disangkal

Riwayat perokok

: diakui (Bapak)

Riwayat kontak dengan penderita dengan gejala yang sama: disangkal

Kesan: Riwayat dahulu tidak ada, riwayat keluarga tidak ada riwayat lingkungan diakui bapak
perokok
5. Pohon keluarga

Laki laki
Perempu
an

RIWAYAT PRIBADI
1. Riwayat kehamilan dan persalinan
a. Riwayat kehamilan ibu pasien
Ibu G1P0A0 hamil saat usia 30 tahun. Ibu memeriksakan kehamilannya rutin ke bidan. Ibu
tidak pernah mual dan muntah berlebihan, tidak ada riwayat trauma maupun infeksi saat
hamil, sesak saat hamil (-), merokok saat hamil (-), kejang saat hamil (-). Ibu hanya minum
obat penambah darah dan vitamin dari bidan. Tekanan darah ibu dinyatakan normal. Berat
badan ibu dinyatakan normal dan mengalami kenaikan berat badan selama kehamilan.
Perkembangan kehamilan dinyatakan normal.
2

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

b. Riwayat persalinan ibu pasien

NO RM :

00368399

Ibu melahirkan pasien dibantu oleh bidan, umur kehamilan 38 minggu, persalinan normal,
presentasi kepala, bayi menangis keras dengan berat lahir 2500 gram, panjang badan 48
cm, tidak ditemukan cacat bawaan saat lahir.
c. Riwayat pasca lahir pasien
Bayi perempuan dengan BB 2500 gram, PB 48 cm, setelah lahir langsung menangis, gerak
aktif, warna kulit kemerahan, tidak ada demam atau kejang. ASI langsung keluar setelah
lahir
Kesan : Riwayat ANC baik, riwayat persalinan baik, riwayat PNC baik.
d. Riwayat makanan
ASI: 0 tahun-sekarang
e. Perkembangan dan kepandaian
Perkembangan dan kepandaian pasien sampai usia 6 bulan: Bisa berguling, pindah posisi
dari tengkurap ke terlentang dan sebaliknya. Bisa duduk sendiri tanpa disangga
punggungnya, apabila didudukkan. Senang menjatuhkan mainannya dan mulai banyak
mengeluarkan suara.
f. Riwayat Vaksinasi
Vaksin
I
II
III
IV
Hepatitis B
0 bulan
1 bulan
3 bulan
BCG
0 bulan
1 bulan
2 bulan
DPT
2 bulan
4 bulan
Polio
0 bulan
2 bulan
Campak
Kesan : Sudah dilakukan imunisasi hepatitis B, BCG, DPT, Polio.

V
-

VI
-

g. Sosial, ekonomi, dan lingkungan


Sosial dan ekonomi
Ayah (27 tahun, swasta bengkel motor) dan ibu (31 tahun, swasta), penghasilan
keluarga cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Lingkungan
Pasien tinggal bersama ayah, ibu, kakek, nenek dan saudara-saudaranya. 1 rumah
berjumlah 8 anggota keluarga, berada di kawasan pedesaan di sekitar persawahan dan
perkebunan. Rumah terdiri dari 1 ruang tamu, 1 dapur, 1 kamar mandi dan 3 kamar tidur.
Sumber air berasal dari sumur. Rumah berlantai permanen dengan ventilasi yang cukup.
Kesan : keadaan sosial ekonomi cukup dan kondisi hunian rumah yang padat.
h. Anamnesis sistem
3

Cerebrospinal

ILMU
KESEHATAN
: kejang fokal (-),ANAK
delirium (-)

Kardiovaskuler

: sianosis (-)

Respiratorius

: batuk (+), pilek (+), sesak (+)

Gastrointestinal

: muntah (-), BAB (+)

Urogenital

: BAK (+), bengkak kemaluan (-)

Muskuloskeletal

: deformitas (-), bengkak (-)

Integumentum

: bintik merah (-), ikterik (-)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

NO RM :

00368399

Kesan : batuk, pilek dan sesak

PEMERIKSAAN

Nama : An. F

JASMANI

Jenis Kelamin : Perempuan

PEMERIKSAAN OLEH : Rezita Oktiana Rahmawati, S.Ked

Umur : 6 bulan
Ruang : melati
Kelas : 3
Tanggal 30 april 2016

Jam 14.00 WIB


PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum

: Tampak rewel

Tanda Vital :
HR

: 120 x/menit

RR

: 36 x/menit

Suhu

: 36,90C

Status Gizi :
BB

: 6,2 kg

PB

: 66 cm

BMI

: 6,2 / (0,66)2 : 14,23 Gizi BAIK (menurut WHO)

PEMERIKSAAN KHUSUS

Kepala

: ukuran normocephal, rambut warna hitam, lurus, jumlah cukup. Ubun- ubun
menonjol (-)

Mata

: mata cowong (-/-), CA (-/-), SI (-/-), reflek cahaya (+/+), pupil isokor

Hidung

: sekret (-/-), epistaksis (-/-), nafas cuping hidung (-/-)

Mulut

: mukosa bibir dan lidah kering (-), sianosis (-)

Leher

: pembesaran limfonodi leher (-), massa (-), kaku kuduk (-)


4

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

Kulit

: ikterik (-)

NO RM :

00368399

Cor

Inspeksi

: ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: ictus cordis tidak kuat angkat

Perkusi :

batas kanan atas

: SIC II linea parasternalis dextra

batas kanan bawah

: SIC IV linea parasternalis dextra

batas kiri ata

: SIC II linea parasternalis sinistra

batas kiri bawah

: SIC V linea midclavicula sinistra

Auskultasi

: BJ I-II intensitas reguler (+), bising jantung (-)

Paru
Pemeriksaan
Inspeksi

Kanan
Simetris (+)

Kiri
Simetris (+)

Retraksi dinding dada

Retraksi dinding dada

(-)
Ketinggalan gerak (-)

(-)
Ketinggalan gerak (-)

Fremitus (+)

Fremitus (+)

Massa (-)
Sonor (+)
SDV (+), Rh (+), Wh (-)
Simetris (+)
Ketinggalan gerak (-)

Massa (-)
Sonor (+)
SDV (+), Rh (+), Wh (-)
Simetris (+)
Ketinggalan gerak (-)

Fremitus (+)
Perkusi
Sonor (+)
Auskultasi
SDV (+), Rh (+), Wh (-)
Kesan : terdapat suara rhonki pada dada depan dan belakang

Fremitus (+)
Sonor (+)
SDV (+), Rh (+), Wh (-)

Depan
Palpasi

Perkusi
Auskultasi
Inspeksi
Palpasi
Belakang

Abdomen

Inspeksi

: distended (-), sikatrik (-)

Auskultasi

: peristaltik (+)

Perkusi

: timpani (+)

Palpasi

: turgor kulit normal

Hepar

: tidak teraba membesar

Lien

ILMU
KESEHATAN
ANAK
: tidak teraba membesar

Anogenital

: tidak ada kelainan

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

NO RM :

00368399

Kesan : abdomen dalam batas normal.


Ekstremitas

: akral hangat (+), deformitas (-), sianosis (-), edema (-)


tungkai
kanan

lengan
kiri

kanan

kiri

Gerakan

: bebas

bebas

bebas

bebas

Tonus

: normal

normal

normal

normal

Trofi

: eutrofi

eutrofi

eutrofi

eutrofi

Klonus tungkai

: (-)

(-)

(-)

Reflek fisiologis

: reflek patella (+) normal, achiles (+) normal, triceps (+) normal

Refleks patologis

: babinski (-), chaddock (-), oppenheim (-), gordon (-), rosolimo (-)

Meningeal Sign

: kaku kuduk (-), brudzinski I (-), brudzinski II (-), brudzinski III (-)

(-)

brudzinski IV (-), kernig (-)


Sensibilitas

: dalam batas normal

Kesan : status neurologi dan extremitas superior et inferior dalam batas normal.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Parameter
Leukosit
Eritrosit
Hemoglobin
Hematokrit
MCV
MCH
MCHC
Trombosit
Limfosit
MOnosit

Jumlah
13.440
4,71
12,0
38,5
81,8
25,5
31,1
293.000
70,8
5,6

Satuan
uL
uL
Gr/dl
%
Femtoliter
Pikograms
g/dl
uL
%
%

Nilai Rujukan
5000-10000/uL
4,0-5,5 / uL
11,5-13,5 g/dl
40-48%
82-92 fl
27-31pg
32-36 g/dl
150.000-300.000/uL
25-40%
3.0-9.0%

RINGKASAN ANAMNESIS
Pasien anak perempuan, 6 bulan, dibawa ke IGD RSUD Karanganyar karena panas, batuk,
pilek, sesak dan susah makan minum sejak 4 hari sebelumnya
Tidak terdapat riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penyakit sekarang.
Tidak terdapat riwayat penyakit pada keluarga yang berhubungan dengan penyakit sekarang.
6

ILMU
KESEHATAN
ANAK
Terdapat anggota keluarga yang merokok (bapak).
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

NO RM :

00368399

Pasien masih mendapatkan ASI.


Riwayat ANC baik, riwayat persalinan baik, riwayat PNC baik.
Perkembangan dan kepandaian pasien sampai usia 6 hari: Bisa berguling, pindah posisi
dari tengkurap ke terlentang dan sebaliknya. Bisa duduk sendiri tanpa disangga
punggungnya, apabila didudukkan. Senang menjatuhkan mainannya dan mulai banyak
mengeluarkan suara.
Sudah dilakukan imunisasi hepatitis B, BCG, DPT, Polio.
Keadaan sosial ekonomi cukup dan kondisi hunian rumah yang padat.
RINGKASAN PEMERIKSAAN FISIK
KU

: tampak rewel

Vital sign HR: 120x/menit; RR : 36x/menit; S : 36,9C


Kepala

: CA (-/-), SI (-/-)

Mata cekung : cekung (-/-)


Pemeriksaan leher dan pemeriksaan thorax rhonki (+/+)
Pemeriksaan abdomen dalam batas normal
Extremitas superior et inferior dalam batas normal
LABORATORIUM
Leukosit: 13,44
MCV: 81,8
MCH: 25,5
MCHC: 31,1
Limfosit%: 70,8
DAFTAR MASALAH AKTIF / INAKTIF
AKTIF
Panas 4 hari
Batuk
Pilek
7

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

Sesek

NO RM :

Susah makan dan minum


Hasil lab peningkatan leukosit, MCV, MCH, MCHC dan penurunan limfosit
INAKTIF DIAGNOSA KERJA
Bronkiolitis
RENCANA PENGELOLAAN
Rencana Tindakan
Obsevasi keadaan umum dan vital sign
pemberian cairan intravena dan kecukupan cairan
penyesuaian suhu lingkungan
Pemeliharaan hidrasi dan nutrisi
Rencana Terapi
Infus KN 3A 15 TPM
Inj amoxcicillin 150mg/8j
Inj antrain amp (kp)
Inj dexametason 2mg/12 jg
Nebulizer/12 jam ventolin 0,5cc, flexotide 0,5 cc, Nacl 1cc
Mucos drop 3x0,3cc
Cetirizin 1x1/6
Ctm 1/5, MP 1/5, vit c 10, salbutamol 0,2 (puyer) 3x1
Rencana Edukasi
Menjelaskan kepada orangtua pasien mengenai penyakit yang diderita pasien.
Menjaga supaya mendapatkan makanan yang begizi dan cukup
Istirahat yang cukup atau tirah baring
PROGNOSIS
Quo ad vitam

: dubia ad bonam

Quo ad fungsionam : dubia ad bonam


8

00368399

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

Quo ad sanam

: dubia ad bonam

Hari/ tgl
I
27/4/2016

Panas

O
(+),

NO RM :

RR: 32 x/m

Obs febris
H+5,

naik turun

HR: 140 x/m

Batuk (+)

S: 37,7C

Sesek (+)

Rhonki (+/+)

Pilek (+)

BB: 6,2 kg

Makan

Bronkiolitis

tpm

Inj

dexametason

Nebulizer/8
jam

ventolin

0,5cc/flexotide

(+),

0,5 cc/nacl 1 cc

BAB (+)

II

Panas (+)

RR: 32 x/m

Obs febris

28/4/2016

Batuk (+)

HR: 122 x/m

H+6,

Sesek (-)

S: 37,8C

Pilek (-)

Rhonki (+/+)

Makan

&

BB: 6,2 kg

Bronkiolitis

Parasetamol

3x1/2 cth
Infus KN3A 15
tpm

Inj Amoxcilin 150


mg/8 jam

Inj

dexametason

1/5 amp/ 8 jam

Minum

sedikit.
BAK

Inj Amoxcilin 300

1/5 amp/ 8 jam

&

menurun.
BAK

Infus KN3A 15

mg/8 jam

Minum

00368399

Inj antrain amp


(kp)

(+),

BAB (+)

Nebulizer/8
jam

ventolin

0,5cc/flexotide
0,5 cc/nacl 1 cc

Mucos drop 3x

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

NO RM :

00368399

0,3 cc

Puyer 3x1: ctm


1/5, MP 1/5, vit c
10, salbutamol 0,2

Parasetamol
3x1/2 cth

III

Panas (-)

RR: 36 x/m

H+7,

Inf KN3A 15 tpm

29/4/2016

Batuk (+)

HR: 120 x/m

Bronkiolitis

Inj Amoxcilin 150

Sesek (-)

S: 36,9C

Pilek (-)

Rhonki (+/+)

Makan

&

mg/8 jam

dexametason

1/5 amp/ 8 jam

BB: 6,2 kg

Minum

Inj antrain amp


(kp)

sedikit.
BAK

Inj

(+),

Nebulizer/8
jam

BAB (+).

ventolin

0,5cc/flexotide
0,5 cc/nacl 1 cc

Mucos drop 3x
0,3 cc

Puyer 3x1: ctm


1/5, MP 1/5, vit c
10, salbutamol 0,2

Parasetamol
3x1/2

IV

Batuk (+)

RR: 20 x/m

Obs febris

30/4/2016

Sesek (-)

HR: 120 x/m

H+8,

Pilek (-)

S: 36,2C

Makan

&

Minum agak

Bronkiolitis

tpm

Inj Amoxcilin 150


mg/8 jam

Rhonki (+/+)
BB: 6,2 kg

Fisioterapi dada
Infus KN3A 15

Inj

dexametason

1/5 amp/ 8 jam

banyak
10

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

BAK

(+),

NO RM :

BAB (+).

00368399

Inj antrain amp


(kp)

Nebulizer/8
jam

ventolin

0,5cc/flexotide
0,5 cc/nacl 1 cc

Mucos drop 3x
0,3 cc

Puyer 3x1: ctm


1/5, MP 1/5, vit c
10, salbutamol 0,2

Parasetamol
3x1/2 cth

Batuk (+)

RR: 36 x/m

Obs febris

1/5/2016

Sesek (-)

HR: 114 x/m

H+9,

Pilek (-)

S: 36,1C

Makan

&

Minum agak

Rhonki (-/-)

BAK

Inj Amoxcilin 150


mg/8 jam

Inj

dexametason

1/5 amp/ 8 jam

BB: 6,2 kg

banyak

Bronkiolitis

Fisioterapi dada
Inf KN3A 15 tpm

Inj antrain amp


(kp)

(+),

BAB (+).

Nebulizer/8
jam

ventolin

0,5cc/flexotide
0,5 cc/nacl 1 cc

Mucos drop 3x
0,3 cc

Puyer 3x1: ctm


1/5, MP 1/5, vit c
10, salbutamol 0,2

Parasetamol
3x1/2

11

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

RR: 24 x/m

Fisioterapi dada
Inf KN3A 15 tpm

HR: 108 x/m

H+10,

Inj Amoxcilin 150

S: 36,1C

Batuk (+)

2/5/2016

Sesek (-)

Pilek (-)

Makan

&

Minum agak

Bronkiolitis

mg/8 jam

Rhonki (-/-)

Inj

dexametason

1/5 amp/ 8 jam

BB: 6,2 kg

banyak
BAK

00368399

Obs Febris

VI

NO RM :

Inj antrain amp


(kp)

(+),

BAB (+).

Nebulizer/8
jam

ventolin

0,5cc/flexotide
0,5 cc/nacl 1 cc

Mucos drop 3x
0,3 cc

Puyer 3x1: ctm


1/5, MP 1/5, vit c
10, salbutamol 0,2

Parasetamol
3x1/2

VII

Batuk (+)

RR: 24 x/m

Obs Febris

3/5/2016

Sesek (-)

HR: 108 x/m

H+11,

Pilek (-)

S: 37,2C

Makan

&

Minum

Rhonki (+/+)

BAK

Inj Amoxcilin 150


mg/8 jam

Inj

dexametason

1/5 amp/ 8 jam

BB: 6,2 kg

banyak

Bronkiolitis

Fisioterapi dada
Inf KN3A 15 tpm

Inj antrain amp


(kp)

(+),

BAB (+).

Nebulizer/8
jam

ventolin

0,5cc/flexotide
0,5 cc/nacl 1 cc

12

Mucos drop 3x

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

NO RM :

00368399

0,3 cc

Puyer 3x1: ctm


1/5, MP 1/5, vit c
10, salbutamol 0,2

Parasetamol
3x1/2

13

Fisioterapi dada

BLPL

ILMU
KESEHATAN
BABANAK
II

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

NO RM :

00368399

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Definisi dari bronkiolitiss adalah infeksi saluran pernapasan bawah akut dengan gejala utama
akibat inflamasi bronkioli yang terutama disebabkan oleh virus. Bronkiolitis merupakan infeksi
tersering pada bayi, paling sering terjadi pada usia 2-24 bulan, puncaknya pada usia 2-8 bulan.
Faktor risiko meliputi:
1. Bayi yang tidak mendapatkan ASI
2. Hidup di lingkungan padat
3. Jenis kelamin laki-laki lebih sering terkena
4. Bayi tersebut seorang perokok pasif
5. Rendahnya antibody maternal terhadap virus
B. Klasifikasi
Klasifikasi bronkiolitis berdasarkan gejala klinis :
Bronkiolitis
Ringan

Sedang

Kemampuan

makan normal
Sedikit atau tidak ada

sedang

dinding dada dan nafas

berat dengan retraksi

gangguan pernapasan
Tidak kebutuhan akan

cuping hidung
Hipoksemia ringan dan

dinding

oksigen

untuk

tambahan

Berat

Gangguan

pernapasan

beberapa

(saturasi O2 > 95%)

dengan
kontraksi

Tidak

makan
Gangguan

jelas,

dapat dikoreksi dengan

oksigen
Mungkin

yang

pendek ketika makan


Mungkin
memiliki
14

untuk

pernapasan
dada

nafas

yang
cuping

hidung dan dengkuran


Hipoksemia yang tidak
terkoreksi

menampakkan
pernapasan

dapat

dengan

oksigen tambahan
Mungkin
terdapat
peningkatan
atau

frekuensi

episode

apone

ILMU
KESEHATAN
ANAK
episode
apone yang

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

singkat

NO RM :

00368399

yang panjang
Mungkin
menampakkan
peningkatan kelelahan

C. Epidemiologi
Bronkiolitis terutama disebakan oleh Respiratory Syncitial Virus (RSV), 60-90% dari kasus, dan
sisanya disebabkan oleh virus Parainfluenza tipe 1,2,3, Influenza B, Adenovirus tipe 1,2 dan 5
atau Mycoplasma. RSV adalah penyebab utama bronkiolitis dan merupakan satu-satunya
penyebab yang dapat menimbulkan epidemic. Hayden dkk (2004) mendapatkan bahwa infeksi
RSV menyebabkan bronkiolitis sebanyak 45-90% dan menyebabkan pneumonia sebanyak 40%.
Bronkiolitis sering mngenai anak usia di bawah 2 tahun dengan insiden tertinggi pada bayi usia 6
bulan. Pada daerah yang penduduknya padat insiden bronkiolitis oleh karena RSV terbanyak
pada usia 2 bulan. Makin muda umur bayi menderita bronkiolitis, biasanya akan makin berat
penyakitnya. Bayi yang menderita bronkiolitis berat mungkin oleh karena kadar antibody
maternal yang rendah. Selain usia, bayi dan anak dengan penyakit jantung bawaan,
brochopumonary dysplasia, prematuritas, kelainan neurologis dan immunocompremised
mempunyai risiko yang lebih besar untuk terjadinya penyakit yang lebih berat. Di bagian IKA
RSU Dr. Soetomo pada tahun 2002 dan 2003 didapatkan lebih dari 50% penderita bronkiolitis
berusia 6 bulan ke bawah.
Insiden infeksi RSV sama pada laki-laki dan wanita, namun bronkiolitis berat lebih sering terjadi
pada laki-laki. Di RSU Dr.Soetomo penderita laki-laki lebih banyak.
RSV menyebar melalui droplet dan inokulasi/kontak lanngsung seseorang biasanya aman apabila
berjarak lebih dari 6 feet dari seseorang yang menderita infeksi RSV. Droplet yang besar dapat
bertahan di udara bebas selama 6 jam, dan seorang penderita dapat menularkan virus tersebut
selama 10 hari. Di Negara dengan 4 musim, bronkiolitis pada musim dingin sampai awal musim
semi, di Negara tropis pada musim hujan

.
D. Patofisiologi
Infeksi virus pada epitel bersilia bronkiolus menyebabkan respon inflamasi akut ditandai
15

ILMU
NO RM : 00368399
KESEHATAN
ANAK
dengan obstruksi bronkiolus akibat edema, sekresi
mucus, timbunan debris selular/sel-sel mati
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

yang terkelupas, kemudian diikuti dengan infiltrasi limfosit peribronkial dan edema submukosa.
Karena tahanan aliran udara berbanding terbalik dengan diameter penampang saluran respiratori,
maka sedikit saja penebalan mukosa akan memberikan hambatan aliran udara yang besar,
terutama pada bayi yang memiliki penampang saluran respiratori yang kecil. Resistensi pada
bronkiolus meningkat selama fase inspirasi dan ekspirasi, akan tetapi karena radius saluran
respiratori lebih kecil selama ekspirasi maka akan menyebabkan air tapping dan hiperinflasi.
Atelektasis dapat terjadi pada saat terjadi obstruksi total dan udara yang terjebak diabsorbsi.
Proses patologis ini akan mengganggu pertukaran gas normal di paru. Penurunan kerja
ventilasi paru akan menyebabkan ketidakseimbangan ventilasi perfusi yang berikutnya akan
menyebabkan terjadinya hipoksemia dan kemudian terjadi hipoksia jaringan. Retensi
karbondioksida (hiperkapnea) tidak selalu terjadi. Semakin tinggi laju respiratori, makan semakin
rendah tekanan oksigen arteri. Hiperkapnea biasanya terjadi bila respirasi 60x/menit.
Pemulihan sel epitel paru tampak setelah 3-4 hari, tetapi silia akan diganti setelah dua
minggu. Jaringan mati (debris) akan dibersihkan oleh makrofag.
Berbeda dengan bayi, anak besar dan orang dewasa dapat mentolerir edema saluran napas
lebih baik, oleh karena itu pada anak besar dan dewasa jarang terjadi bronkiolitis bila tersering
infeksi virus saluran napas.

E. Manifestasi Klinis
Mula-mula bayi menderita gejala ISPA atas ringan berupa pilek yang encer dan bersin. Gejala ini
berlangsung beberapa hari, kadang-kadang disertai demam dan nafsu makan berkurang.
Kemudian timbul distress nafas yang ditandai oleh batuk paroksismal, wheezing, sesak nafas.
Bayi-bayi akan menjadi rewel, muntah serta sulit makan dan minum. Bronkiolitis biasanya
terjadi setelah kontak dengan orang dewasa atau anak besar yang menderita ISPA yang ringan.
Bayi mengalami demam ringan, atau tidak demam sama sekali dan bahkan ada yang mengalami
hipotermi. Terjadi distress nafas dengan frekuensi nafas lebih dari 60 kali per menit, kadangkadang disertai sianosis, nadi juga biasanya meningkat. Terdapat nafas cuping hidung,
penggunaan otot bantu pernapasan dan retraksi. Retraksi biasanya tidak dalam karena adanya
hiperinflasi paru. Terdapat ekspirasi yang memanjang, wheezing yang dapat terdengar dengan
16

ILMU
KESEHATAN
ANAK
terdapat crackles.
Hepar dan lien

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

ataupun tanpa stetoskop, serta

NO RM :

00368399

teraba akibat pendorongan

diafragma karena tertakan oleh paru yang hiperinflasi. Sering terjadi hipoksia dengan sturasi
oksigen <92% pada udara kamar. Pada beberapa pasien dengan bronkiolitis didapatkan
konjungtivitis ringan, otitis media dan faringitis.
Ada bentuk kronis bronkiolits, biasanya disebabkan oleh karena adenovirus atau inhalasi zat
toksis. Karakteristinya gambaran klinis dan radiologis hilang timbul dalam beberapa minggu atau
bulan dengan episode atelektasis, pneumonia dan wheezing yang berulang. Proses penyembuhan
mengarah ke penyakit paru kronis. Histopatologi, hipertrofi dan timbunan ilfitrat meluas ke
peribronkial, destruksi dan disorgansiasi jaringan otot dan elastic dinding mukosa. Terminal
bronkiolus tersumbat dan dilatasi. Alveoli overdisensi, atelektasis, dan fibrosis.
F. Diagnosis
Menegakkan diagnosis Bronkiolitis adalah dengan dilakukan anamesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang.
1. Anamnesis
Bronkiolitis biasanya didahului oleh infeksi saluran napas bagian atas, disertai dengan batuk
pilek untuk beberapa hari, biasanya tanpa disertai kenaikan suhu atau hanya subfebril. Anak
mulai mengalami sesak nafas, makin lama makin hebat, pernapasan dangkal dan cepat dan
disertai dengan serangan batuk.
2. Pemeriksaan Fisik
Terlihat juga pernapasan cuping hidung disertai retraksi intercostals dan suprasternal, anak
gelisah dan sianotik. Pada pemeriksaan terdapat suara perkusi hipersonor, ekspirasi
memanjang disertai mengi (wheezing).
Ronkhi nyaring halus kadang-kadang terdengar pada akhir ekspirasium atau pada permulaan
ekspirasium. Pada keadaan yang berat sekali, suara pernapasan hampir tidak terdengar karena
kemungkinan obstruksi hampir total
3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan darah tepi tidak khas, jumlah leukosit berkisar antara 5000-24000 sel/ul.
Pada keadaan leukositosis, sel batang dan PMN banyak ditemukan

Analisis gas darah (AGD), bila terdapat hiperkapnea sebagai tanda dari air tapping,
asidosis metabolik atau respiratorik. AGD diperlukan untuk anak dengan gangguan
pernapasan berat, khususnya yang membutuhkan ventilator mekanik, gejala kelelahan
17

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

dan hipoksia

NO RM :

00368399

Foto thorak diindikasiikan pada pasien yang diperkirakan memelurkan perawatan


lebih, pasien dengan pemburukan klinis yang tidak terduga, pasien dengan penyakit
jantung dan paru yang mendasari. Rontgen thoraks AP dan lateral dapat terlihat
gambaran hiperinflasi paru dengan diameter anteroposterior membesar pada foto
lateral disertai dengan diafragma dasar, penonjolan ruang retrosternal dan penonjolan
ruang interkonstal. Dapat terlihat bercak konsolidasi yang tersebar pada sekitar 30%
penderita dan disebabkan oleh atelektasis akibat obstruksi atau karena radang alveolus

Identifikasi virus dengan memeriksa sekresi nasal dengan menggunakan teknik


imunofluoresens atau enzyme linked immunosorbent assay (ELISA)

Histopatologi hipertrofi dan timbunan infiltrat meluas ke peribronkial, destruksi dan


deorganisasi jaringan otot dan elastisitas dinding mukosa. Terminal bronkiolus
tersumbat dan dilatasi. Alveoli overdistensi, atelektasis dan fibrosis. Sensifitas
pemeriksaan ini adalah 80%-90%

Untuk menilai kegawat daruratan penderiya dapat dipakai skor Respiratory Distress
Asessment Instrument (RDAI), yang menilai distress nafas berdasarkan 2 variabel respirasi
yaitu wheezing dan retraksi. Bila skor lebih dari 15 dimasukkan kategori berat, bila skor
kurang dari 3 dimasukkan dalam kategori ringan. Berikut tabelnya:
SKOR

Skor
Maksimal

-Ekspirasi

(-)

Akhir

3/4

Semua

-Inspirasi

(-)

Sebagian

Semua

-Lokasi

(-)

Wheezing

2 dr 4 lap

paru

3 dr

4
2

lap

paru
Retraksi
-Supraklavikuler

(-)

Ringan

Sedang

Berat

-Interkostal

(-)

Ringan

Sedang

Berat

-Subkostal
TOTAL

(-)

Ringan

Sedang

Berat

3
17

G. Penatalaksanaan
18

ILMU
NO RM : 00368399
KESEHATAN
ANAK
Prinsip dasar penanganan bronkiolitis dengan
mengetahui bahwa infeksi virus RSV biasanya
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

sembuh sendiri (self limited) sehingga sebagian besar tatalaksana bronkiolitis pada bayi
bersifat terapi suportif, yaitu pemberian oksigen, minimal handling pada bayi, cairan
intravena dan kecukupan cairan untuk mencegah dehidrasi, penyesuaian suhu lingkungan
agar konsumsi oksigen minimal, tunjangan respirasi bila perlu dan nutrisi. Bronkiolitis ringan
biasanya bisa rawat jalan dan perlu diberikan cairan peroral yang adekuat. Bronkiolitis
sedang sampai berat harus dirawat inap. Penderita risiko tinggi harus dirawat inap,
diantaranya: berusia kurang dari 3 bulan, premature, kelainan jantung. Tujuan perawatan di
rumah sakit adalah terapi suportif, mencegah dan mengatasi komplikasi, atau bila diperlukan
pemberian antivirus.
o Berikut terapi bronkiolitis (RSV) yang direkomendasikan dari Agency for Healthcare
Research and Quality (AHRQ):
Clear evidence for effectiveness
Supportive care
Suplemental oxygen
Possibly Effective
Nebulized ipratropium bromide (atroven) with or without nebulized albuterol (proventil)
Oral or inhaled corticosteroid
Parenteral dexamethasone
Nebulized epinephrine
Possibly effective for most sever cases
Helium oxygen combination
Surfactant
Possibly ineffective
Aerosolized ribavirin (virazole)
Antibiotics (unless patient has a clear or bacterial infection)
Nebulized furosemid
RSV-IG
Inhaled interferon alfa 2a (Roferon A)
rhDNAse
o Untuk pemberian obat-obat medikamentosa sebagai berikut:
1. Antivirus
Bronkiolitis paling banyak disebabkan oleh virus sehingga ada pendapat untuk mengurangi
beratnya penyakit dapat diberikan antivirus. Ribavirin adalah obat antivirus yang bersifat
virus statik, mengahambat aktivitas virus RSV. Ribavirin menghambat translasi messenger
RNA (mRNA) virus ke dalam protein virus dan menekan aktivitas polymerase RNA. Titer
RSV meningkat dalam 3 hari setelah gejela timbul atau 10 hari setelah terkena virus. Tetapi
19

ILMU
NO RM : 00368399
KESEHATAN
ANAK
penggunaan obat ini masih kontroversial mengenai
efektivitas dan keamaannya.Dapat terjadi
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

perbaikan SaO2, penurunan penggunaan ventilasi mekanik, lama perawatan di rumah sakit
lebih singkat dan perbaikan fungsi paru. Tetapi dari penelitian lain penggunaan ribavirin tidak
memberikan efek perbaikan. Perbedaan hasl tersebut kemungkinan karena desain, metode
yang dipakai berbeda termasuk jumlah sampel yang terlibat dan keterlambatan dalam
memulai terapi. Penggunaan ribavirin biasanya dengan cara nebulizer aerosol 12-18 jam per
hari atau dosis kecil dengan 2 jam 3x / hari. Menurut American Academy of Pediatric/Aap
(1996), ribavirin hanya bisa direkomendasikan pada bronkiolitis dengan kondisi spesifik
seperti pada tabel dibawah ini.
Ribavirin therapy may be considered for:
Those with complicated congenital heart disease, including plmonary hypertension

Those with bronchoplmonary dysplasia, cystic fibrosis, or other chronic lung conditions

Previously healthy premature infants (<37 weeks gestation) and infant (<6 weeks of age)

Those with underlying immunosupressive disease or therapy such as those with acquired
immunodeficiency syndrome, severe combined immunodeficiency disease or organ
transplantation

Severe ill patients, whether or not they are undergoing mechanical ventilation
2. Bronkodilator
Termasuk terapi farmakologis yang paling sering dilakukan untuk pengobatan bronkiolitis
adalah bronkodilator dan kortikosteroid. Obat-obat beta 2 agonis sangat berguna pada
penyakit dengan penyempitan saluran napas karena menyebabkan efek bronkodilatasi,
mengurangi pelepasan mediator dari sel mast, menurunkan tonus kolinergik, mengurangi
sembab mukosa dan meningkatkan pergerakan silia saluran napas sehingga aktivitas dari
mukosilier akan lebih baik. Pada beberapa penelitian didapatkan bahwa pasien-pasien yang
diberikan beta 2 agonis secara nebulisasi menunjukkan perbaikan skor klinis dan saturasi
oksigen. Sebuah penelitian meta analisis oleh Kellner dkk (1996) mengenai efikasi
bronkodilator pada penderita bronkiolitis mendapatkan bahwa bronkiolitis menyebabkan
perbaikan klinis yang singkat pada bronkiolitis ringan dan sedang. Uji efikasi salbutamol
secara inhalasi terhadap penderita bronkiolitis pernah dilakukan di bagian anak RS Dr.
Soetomo pada tahun 1999, terjadi penurunan skor RDAI pada kelompok salbutamol terutama
menit ke 60 dan rata-rata waktu lama inap menjadi lebih pendek. Di bagian anak RS Dr.
Soetomo menggunakan dosis salbutamol 0,1 mg/kg/dpsis (1 ml larutan 0,1%/kg/dosis).
20

ILMU
KESEHATAN
Berikur bronkodilator simpatomimetik untukANAK
inhalasi antara lain:
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

Jenis obat

Potensi

Selektivitas

Efek

Epinefrin
Isoproterenol
Metaproterenol
Terbutalin
Salbutamol
Fenoterol

+4
+4
+4
+4
+4
+4

Reseptor beta 2
0
+3
+4
+4
+4
+4

(menit)
2
3-15
30-60
60
30-60
30-60

NO RM :

00368399

puncak Lama Kerja (jam)


1-1,5
1-2
3-4
4
4-6
4-6

3. Kortikosteroid
Menurut penelitian Schuh dkk (2002) yang dilakukan penelitian pada penderita bronkiolitis
yang rawat jalan mendapatkan hasil bahwa dengan pemberian deksametason oral 1 mg/kgBB
mengurangi angka rawat inap penderita bronkiolitis. Penelitian meta analisis tentang
penggunaan kortikosteroid sistemik pada bayi dengan bronkiolitis menunjukkan perbaikan
dalam hal gejala klinis, lama perawatan dan lama timbulnya gejala. Sedangkan AAP tidak
erekomendasikan penggunaan kortikosteroid pada bayi yang sedang dirawat di rumah sakit
dengan bronkiolitis. Pemberian kortikosteroid oral 1 mg/kgBB pada bayi usia 8 mg-23 bulan
dengan bronkiolitis sedang-berat, terdapat perbaikan klinis pada 4 jam pertama dan
penurunan jumlah pasien yang dirawat pada kelompok studi. Tetapi tidak ada perbedaan skor
klinis setelah 7 hari terapi.
Beberapa

preparat

kortikosteroid

inhalasi

diantaranya

Beclomethason

propionate,

Budesonide, Flusinolide, Fluticason Propionate, Triamcinolon Acetonide. Mekanisme kerja:

Di dalam sel, kortikosteroid inhalasi menembus membran sel dan berikatan dengan
reseptor glukokortikoid dalam sitoplasma, yang selanjutnya menembus nukleus dan
berikatan dengan glukokortikoid respon elements (GRE) untuk meingkatkan
transkripsi gen reseptor beta 3 dalam paru manusia, membuthkan waktu 6-12 jam.

Menghambat pembentukan sitokin tertentu seperti IL-1, TNF-alfa, GM-CSF, IL-3, IL4, IL-5, IL-6, IL-8

Meningkatkan pembentukan reseptor beta 2 dan mencegah reaksi tafilaksis akibat


pemakaian obat agonis beta 2 jangka panjang

Mempercepat regenerasi sel epitel

Mengurangi jumlah sel-sel inflamasi

21

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

4. Antibiotik

NO RM :

00368399

Apabila terdapat perubahan pada kondisi umum penderitam peningkatan leukosit atau
pergeseran hitung jenis, atau tersangka sepsis maka diperiksa kultur darah, urine, feses ddan
cairan serebrospinal, secepatnya diberikan antibiotik yang memiliki spektrum luas.
Pemberian antibiotik secara rutin tidak menunjukkan pengaruh terhadap perjalanan
bronkiolitis. Akan tetapi keterlambatan dalam mengetahui virus RSv atau virus lain sebagai
penyebab bronkiolitis dan menyadari bahwa infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya
infeksi sekunder dapat menjadi alasan untuk memberikan antibiotik.
Di bagian anak RSU dr. Soetomo, pada penderita bronkiolitis selain diberikan hidrasi dan
oksigenisasi, juga diberikan antibiotik bilamana keadaan umum penderita kurang baik,
penyakit berat atau ada dugaan infeksi sekunder dengan bakteri.

H. Prognosis
Prognosis tergantung berat ringannya penyakit, cepatnya dan penyakit latar belakang.
Anak biasanya dapat mengatasi serangan tersebut sesudah 48-72 jam. Mortalitas kurang dari 1%.
Anak biasanya meninggal karena jatuh ke dalam apneu yang lama, asidosis respiratorik yang
tidak terkoreksi atau karena dehidrasi yang disebabkan oleh takipneu dan kurang makan minum.
Tidak dapat dibuktikan secara jelas bahwa bronkiolitis terjadi pada anakdengan kecenderungan
asma, keberhasilan pengobatan dengan kortikosteroid mungkin dapat mengurangi prevalen asma
pada anak dari kelompok pengobatan
I. Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari factor paparan asap rokok dan polusi udara,
membatasi penularan terutama di rumah sakit misalnya, dengan membiasakan cuci tangan dan
penggunaan sarung tangan dan masker, isolasi penderita, menghindarkan bayi/anak kecil dari
tempat keramaian umum, pemberian ASI, menghindarkan bayi/anak kecil dari kontak dengan
penderita ISPA
Penggunaan immunoglobulin (RSV-IG) pada bayi berumur kurang dari 24 bulan dengan
bronchopulmonary dysplasia (BPD), bayi premature (kurang dari 35 minggu ), menunjukkan
hasil penurunan signifikan: jumlah terinfeksi RSV, jumlah penderita masuk rumah sakit serta
memperpendek waktu perawatan di rumah sakit dan ICU. RSV-IG dapat ditoleransi dengan baik.
Palivizumab adalah humanized murine monoclonal anti-F glycioprotein antibody, yang
mencegah masuknya RSV ke dalam sel host. Respigram adalah human polyclonal hyperimmune
22

ILMU
KESEHATAN
ANAK
juga bisa
dipakai sebagai

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

globulin, diberikan secara intravena,

NO RM :

00368399

imunoprofilaksis pasif pada

bronkiolitis. Tahun 1998, AAP merokmendasikan Palizumab sebagai profilasis RSV pada anak
kurang dari 2 tahun dengan penyakit paru menahun, anak yang mendapat terapi RSv dalam 6
bulan pertama dan bayi premature (32-35 minggu). AAP tidak merekomendasikan pada pasien
dengan penyakit jantung sianosis atau immunocompromised karena belum pernah dilakukan
penelitian pada kelompok ini.
Penelitian penggunaan vaksin RSV menggunakan virus hifup (live attenuated subunit, live
recombinant) dan synthetic peptide sampai saat ini tidak memberikan proteksi yang adekuat.

BAB III
DISKUSI

Pada anamnesis didapatkan bahwa pasien An. F usia 6 bulan datang ke IGD RSUD
Karanganyar dengan keluhan batuk semakin sering, pilek, sesak, demam, rewel, makan dan
minum menurun, sejak 4 hari sebelumnya. Untuk keadaan riwayat keluarga, bapak perokok dan
keadaan rumah hunian yang padat. Berdasarkan pemeriksaan fisik keadaan umum pasien tampak
rewel, HR: 140x/menit; RR : 32x/menit; S : 37,7C, BBa; 6 kg. Pemeriksaan auskultasi
didapatkan suara Rhonki dada depan dan dada belakang. Pemeriksaan laboratorium didapatkan
peningkatan kadar leukosit dan limfosit serta penurunan pada kadar MCV, MCH, MCHC dan
23

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

granulosit.

NO RM :

00368399

Berdasarkan kasus tersebut maka didapatkan diagnosa kerja pasien Bronkiolitis.


Bronkiolitis adalah infeksi saluran pernapasan bawah akut dengan gejala utama akibat inflamasi
bronkioli yang terutama disebabkan oleh virus. Infeksinya tersering pada bayi, paling sering
terjadi pada usia 2-24 bulan, puncaknya pada usia 2-8 bulan. Gejalanya batuk pilek untuk
beberapa hari, biasanya tanpa disertai kenaikan suhu atau hanya subfebril, sesak nafas, makin
lama makin hebat, pernapasan dangkal dan cepat dan disertai dengan serangan batuk. Kadang
terlihat juga pernapasan cuping hidung disertai retraksi intercostals dan suprasternal, anak gelisah
dan sianotik. Pada pemeriksaan terdapat suara perkusi hipersonor, ekspirasi memanjang disertai
mengi (wheezing). Ronkhi nyaring halus kadang-kadang terdengar pada akhir ekspirasium atau
pada permulaan ekspirasium. Pada keadaan yang berat sekali, suara pernapasan hampir tidak
terdengar karena kemungkinan obstruksi hampir total. Pemeriksaan darah rutin, jumlah leukosit
berkisar antara 5000-24000 sel/ul. Pada keadaan leukositosis, sel batang dan PMN banyak
ditemukan. Prinsip dasar penanganan bronkiolitis dengan mengetahui bahwa infeksi virus RSV
biasanya sembuh sendiri (self limited) sehingga sebagian besar tatalaksana bronkiolitis pada bayi
bersifat terapi suportif, yaitu pemberian oksigen, minimal handling pada bayi, cairan intravena
dan kecukupan cairan untuk mencegah dehidrasi, penyesuaian suhu lingkungan agar konsumsi
oksigen minimal, tunjangan respirasi bila perlu dan nutrisi. Terapi medikamentosa berupa
antivirus, bronkodilator dan kortikosteroid.
Pada kasus ini terapi yang diusulkan adalah Infus KN3A 15 tpm, Inj Amoxcilin 150 mg/8
jam, Inj dexametason 1/5 amp/ 8 jam, Inj antrain amp (kp), Nebulizer/8 jam ventolin
0,5cc/flexotide 0,5 cc/nacl 1 cc, Mucos drop 3x 0,3 cc, Puyer 3x1: ctm 1/5, MP 1/5, vit c 10,
salbutamol 0,2 , Parasetamol 3x1/2 cth, Fisioterapi dada.
Pemeriksaan penunjang yang diusulkan pada pasien ini adalah pemeriksaan darah rutin, jika
perlu dan tersedia fasilitas diperiksa analisa gas darah, foto thoraks, histopatologi dan identifikasi
virus ELISA.

24

ILMU
KESEHATAN
ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

NO RM :

00368399

DAFTAR PUSTAKA
1. Setiawati, Landia., Asih, Retno., MS, Makmuri. 2005. Continuing Education Ilmu Kesehatan
Anak XXXV Kapita Selekta Ilmu Kesehatan Anak IV Hot Topics in Pediatrics. Surabaya:
Divisi Respirologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FK Unair, RSU Dr. Soetomo
2. Rahajoe, Nastiti., Bambang Supriyatno., Darmawan Budi Setyawan. 2005. Buku Ajar
Respirologi Anak. Edisi Pertama. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. Hal: 333-347
3. Pusponegoro Hardiono D, dkk. 2005. Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Edisi Pertama.
Jakarta: Badan Penerbit IDAI. Hal: 348-350
4. Mereinstein Gerald B., David W Kaplan., Adam A Rosenberg. 2002. Buku Pegangan
Pediatri. Edisi 17. Jakarta: Penerbit Widya Medika. Hal 506-507
5. Garna H Herry. 2005. Pedoman Diagnosis Ilmu Kesehatan Anak. Bandun: FK Unpad. Hal:
400-402
25

ILMU
NO RM : 00368399
KESEHATAN
ANAK
Ilmu Kesehatan Anak RSCM. 2004. Pedoman
Pelayanan Medis RSCM. Jakarta: penerbit
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA

6.

Buku IDAI

26