Anda di halaman 1dari 17

PROPOSAL PENELITIAN LAPANG BIOLOGI

ANALISIS VEGETASI HABITAT ANGGREK DI SEKITAR CURUG SAWER, SITU


GUNUNG, SUKABUMI, JAWA BARAT

MAULANA MALIK ASSAYIDDIN


1113095000006

PRODI BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2013BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Anggrek merupakan jenis tumbuhan yang memiliki tingkat keanekaragaman
tertinggi, Menurut Dressler (1993) dalam Puspanigtyas (2007), anggrek merupakan
family terbesar yang menempati 7-10% tumbuhan berbunga dan memiliki kurang lebih
20.000 sampai 35.000 jenis. Sebagian besar keanekaragaman jenis anggrek terpusat di
kawasan tropis dan subtropics. Di Indonesia sendiri, terdapat 500 jenis anggrek
(Puspitaningtyas dan Mursidawati dalam Nina 2004). Dari jumlah tersebut, kurang lebih
terdapat 731 jenis terdapt di Pulau Jawa dn 642 jenis terdapat di Jawa Barat (Comber,
1990 dalam Nina 2004).
Kekayaan jenis anggrek di alam saat ini sudah mengalami perubahan yang
signifikan. Perubahan ini terjadi karena jenis jenis anggrek yang ada di hutan
dieksploitasi secara berlebihan untuk diperdagangkan, ataupun habitat anggrek yang
mengalami alih fungsi sebagai lahan pemukiman, perkebunan, dan industri (Whiiten,
1992).
Analisis mengenai vegetasi yang dijadikan tempat hidup bagi anggrek ini
penting dilakukan untuk mengetahui jenis vegetasi apa yang sering dijadikaan tempat
hidup bagi jenis-jenis anggrek tersebut.
Penelitian mengenai analisis vegetasi habitat anggrek sebelumnya telah dilakukan
namun tergolong masing sangat kurang, diantaranya ialah hasil penelitian Puspaningtyas
et al. (2007) yang menuliskan jenis-jenis pohon yang sering menjadi inang bagi anggrek
ialah Tectona grandis (Jati), Clausena indica, Lagerstroemia speciosa (Bungur),

Mangifera indica (Mangga). Sementara menurut hasil penelitian Febriliani et al. (2013)
yang menganilis vegetasi habitat anggrek yang ada di sekitar Danau Tambing Di
Kawasan Taman Nasional Lore Lindu menulisakan terdapat 28 jenis tumbuhan yang
berada di sekitar habitat hidup anggrek dan 21 jenis diantaranya ialah inang bagi
anggrek itu sendiri.
1.2 Rumusan Masalah
Apa saja jenis vegetasi yang menjadi habitat anggrek yang ada di sekitar Curug
Sawer, Situ Gunung, Sukabumi ?
1.3 Tujuan
Mengidentifikasi serta menganalisis keanekaragaman vegetasi yang menjadi
habitat anggrek yang berada di kawasan sekitar Curug Sawer, Situ Gunung,
Sukabumi, Jawa Barat.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi tentang jenis-jenis
vegetasi yang menjadi habitat bagi anggrek dan data dijadikan acuan untuk
mempertahankan kondisi habitat anggrek agar keanekaragaman anggrek tetap lestari.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Taman Nasional Gunung Gede Pangrango


Kawasan Hutan Gunung Gede Pangrango, berdasarkan keputusan Menteri
Kehutanan Nomor 174/Kpts-II/2003 tanggal 10 Juni 2003 tentang penunjukan
dan perubahan fungsi Kawasan Cagar Alam, Taman Wisata Alam, Hutan Produksi
Tetap, Hutan Produksi Terbatas, seluas 22. 832, 027 ha di Provinsi Jawa Barat
ditetapkan sebagi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) (Balai
Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, 2009).
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) merupakan salah satu
Taman Nasional tertua di Indonesia. Memiliki luasan lebih kurang 21.975 ha.
Secara geografis TNGP terletak antara 1060 51 - 1070 02 BT dan 60 41 60
51 LS. Secara administrasi Taman Nasional ini termasuk ke dalam wilayah tiga
kabupaten di propinsi Jawa Barat, yaitu Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi,
dan Kabupaten Cianjur (Anton, 2011).
Menurut Whitten et al., 1999, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
(TNGGP) terbentuk dari dua gunung berapai kembar dengan tinggi masingmasing 2.958 m dan 3.019 m. Karena merupakan dataran tinggi dengan dua
puncak utama, Gunung Gede (2958m) dan Gunung Pangrango (3019m),
ekosistem di dalmanya merupakan hutan huja tropis pegunungan Jawa Barat yang
relative utuh.
Sejarah panjang kegiatan konservasu dan penelitian dimulai sejak tahun
1830 dengan terbentuknya kebun raya kecil di dekat istana gubernur Jenderal
colonial belanda di Cipanas, kemudian kebun raya kecil ini diperluas sehingga

menjadi Kebun Raya Cibodas. Pemerintahan colonial belanda sangat antusias


untuk meningkatkan tanaman-tanaman penting dan bernilai ekonomis serta
perkebunan komersial, sehingga dibangunlah suatu stasiun penelitian dan
percobaan pertanian di dataran tinngi ini. Botanis-botanis local kemudian tertarik
untuk meneliti keanekaragaman tumbuhan disekitar pegunungan (Rusda, 2008).
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ditetapkan oleh UNESCO sebagai
cagar Biosfir pada tahun 1977, dan sebagai Sister Park dengan Taman Negara
Malaysia pada tahun 1995 (Whitten et al., 1999).
Dalam Kawasan TNGP, terdapat sekitar 900 jenis tumbuhan asli. Tipe
ekosistem berdasarkan ketinggian dapat dibedakan dengan melihat dominasi jenis
tumbuhannya. Sub Montana ditandai dengan dmonasi jenis pohon Rasamala
(Altingia excel) dengan tumbuhan bawah semak belukar yang rapat, liana dan
epifit. Montana didominasi oleh jenis puspa (Schima walichii) dan Jamuju
(Dacrypus imbricatus) dengan tumbuhan bawah yang semakin jarang. Sub alpin
didominasi oleh jenis Cantigi (Vaccinium varingaefolium) dan Kitanduk
(Leptospermum flavescens) (Anton, 2011).
Penngelolaan TNGGP dilakukam sesuai zonasi fungsi yang dibagi dalam
tujuh zona yaitu zona inti, zona rimba, dan zona pemanfaatan, umumnya
dilakukan sepenuhnya oleh pihak taman Nasional dan lokasinya terletak di dalam
kawasan hutan yang agak jauh dari pemukiman masyarakat, sedangkan zona
rehablitasi berada pada bagian yang berbatsan langsung dengan masyarakat
sekitar yang memiliki lahan garapan, memanfaatkan hasil hasil hutan bukan kayu
dan jasa lingkungan di dalam kawasan, sehingga teknis pengelolaan zona
rehabilitasi harus dapat mengantisipasi dan meredam tekanan masyarakat
terhadap kawasan ( Reny, 2013)
2.2 Taman Wisata Alam Situ Gunung
Situ Gunung adalah danau yang dikelilingi oleh hutan alam sub
pegunungan dan hutan tanaman Damar, ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam
(TWA)

berdasarkan

Surat

Keputusan

Menteri

Pertanian

Nomor

461/Kpts/Um/11/1975 tanggal 27 Nopember 1975 seluas 100 Ha. Menurut


administrasi pemerintahan, TWA Situ Gunung termasuk wilayah Desa

Kadudampit, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi. Secara astronomis


terletak antara 10654 37 - 106 55 30 BT dan 06 39 40 - 06 41 12 LS.
Taman Wisata Alam (TWA) Situ Gunung terletak di kaki gunung Pangrango pada
ketinggian antara 950- 1.036 meter diatas permukaan laut. Keadaan topografinya
sebagian kecil datar dan sebagian besar bergelombang sampai berbukit. Menurut
klasifikasi Schmidt dan Ferguson, TWA Situ Gunung mempunyai tipe iklim B
dengan curah hujan berkisar antara 1/611 4.311 mm per tahun dengan 106 187
hari hujan per tahun. Suhu udara berkisar 16C - 28C dan mempunyai
kelembapan rata-rata berkisar di antara 84% (Dermawan, 2002).
Kawasan TWA Situ Gunung mempunyai keanekaragaman jenis flora yang
cukup banyak, diantaranya adalah : Pulpa (Schima walichii), Rasamala (Altingia
Excelsa), Damar (Agathis sp.), Saninten (Castanopsis argentea), Hamirung
(Vernonea arborea), Gelam (Eugeunia fastigiata), Kisireum (Cleistocalyx
operculata), Lemo (Litsea subeba), Beleketebe (Sloamea sigum), Suren (Toona
sureni), Riung Anak (Castanopsis javanica), Walen (Picus Ribes), Merang
(Hibiscus surattensis), Kipanggung (Trevesia sondaica), Kiputat (Placchonia
valida), Karembi (Homolanthus populnea), Manggong (Macaranga rizoides).
Selain jenis-jenis tersebut di atas, terdapat juga jenis Anggrek yang dilindungi,
diantaranya yaitu : Anggrek Tanah Bunga Merah, Anggrek Tanah Bunga Putih
dan Anggrek Bajing Bunga Kuning. Jenis Anggrek tersebut mudah di jumpai di
tepi jalan setapak yang terletak di perbatasan antara TWA Situ Gunung dengan
taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Selain itu, keanekaragam jenis fauna
yang ditemukan pada kawasan TWA Situ Gunung terdiri dari berbagai jenis, yang
terdiri dari 62 jenis satwa liar dimana 41 spesies diantaranya ialah burung, dan 21
jenis mamalia ( didalamnya terdapat 8 jenis yang dilindungi). Jenis-jenis satwa
yang dilindungi yang dapat ditemukan di kawasan TWA Situ Gunung adalah Owa
(Hylobates moloch), kucing hutan (Felis bengalensis), Anjing Hutan (Cuon
alpinus), Trenggiling (Manis Javanica), Landak (Hystrix braychura), Surili
(Presbytis comata), Kijang (Muntiacus muntjak) dan Kancil (Tragulus javanicus),
sementara jenis satwa lainnya yang dapat ditemukan di kawasan TWA Situ
Gunung ialah Bajing, Monyet Ekor Panjang, Lutung dan Babi Hutan. Jenis-jenis

burung yang dapat ditemukan ialah Elang Bondol (Haliastur indus), Alap-alap
(Accipiter virgatus), burung Sesep made (Aethopyga eximia), burung Kipas
(Riphidura javanica), Cekakak merah (Anthreptes singalensis), burung made
Merah (Aethopyga siparaja), burung Cabe (Dicaeum trochileum). Sedang burungburung yang mudah dijumpai adalah Kutilang. Betet ekor panjang, Prenjak Tuwu,
Emprit, Cipoh, Kepondang, Tulung tumpuk dan Ayam hutan
Taman Wisata Alam (TWA) Situ Gunung sebagai salah satu objek wisata
alamm yang dikelola oleh KPH Sukabumi, PT Perhutani Unit III Jawa Barat dan
Banten merupakan salah satu daerah tujuan wisata alam yang cukup diminati di
daerah sukabumi dan sekitarnya. TWA situ gunung menawarkan berbagai
harmoni alam seperti sejuknya udara pegunungan, beningnya air situ, serta
keteduhan dan kedamaian di lereng gunung Pangrango. Ada berbagai objek dan
atraksi wisata yang dapat dinikmati pengunjung di lokasi TWA Situ Gunung
seperti : danau Situ Gunung, Curug Cimanaracun, curug sawer, atraksi fauna,
serta keindahan alam yang menakjubkan. Berbagai kegiatan/ aktivitas dapat
dilakukan di TWA Situ Gunung seperti : tracking, memancing, berkemah,
mengitari danau, serta menkmati keindahan alam dan canda ria fauna. Beberapa
jenis satwa relative mudah ditemui di kawasan TWA Situ Gunung seperti : lutung,
monyet dan surili. Selain itu, TWA Situ Gunung juga telah dilengkapi berbagai
fasilitas yang cukup nyaman seperti : penginapan, camping ground, pusat
informasi, mushola, dan gazebo.
Jumlah pengunjung TWA Situ Gunung rata-rata sebesar 8,6% per tahun
pada periode 1998-2001. Selain itu, jumlah kontribusi pendapatan sector wisata
alam terhadapa keseluruhan pendapatan KPH Sukabumi yakni hanya sebesar
0,85% (Dermawan, 2002).
2. 3 Hutan
Pengertian hutan menurut Undang-Undang RI Nomor 41 Tahun 1999
adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam
hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang
satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan, sedangkan Kehutanan adalah sistem
pengurusan yang bersangkut paut dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan
yang diselenggarakan secara terpadu.

Hutan dibedakan berdasarkan jenisnya menjadi 4 bagian sebagaimana


tercantum pada Pasal 5 sampai dengan Pasal 9 UU 41 Tahun 1999, yaitu sebagai
berikut :
1.

Hutan berdasarkan statusnya (Pasal 5 UU 41 Tahun 1999)


Hutan berdasarkan statusnya adalah suatu pembagian hutan yang

didasarkan pada status (kedudukan) antara orang, badan hukum, atau institusi
yang melakukan pengelolaan, pemanfaatan, dan perlindungan terhadap hutan
tersebut. Hutan berdasarkan statusnya dibagi dua macam, yaitu hutan negara
dan hutan hak. Hutan hak adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak
atas tanah (Pasa15 ayat (1) UU 41 Tahun 1999). Hutan negara adalah hutan yang
berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah. Termasuk hutan negara
adalah hutan adat, hutan desa, dan hutan kemasyarakatan. Hutan adat adalah
hutan negara yang diserahkan pengelolaannya kepada masyarakat hukum adat
(rechtgemeenschap). Hutan desa adalah hutan negara yang dikelola oleh desa dan
dimanfaatkan untuk kesejahteraan desa. Hutan kemasyarakatan adalah hutan
negara yang pemanfaatannya untuk memberdayakan masyarakat.
2.

Hutan berdasarkan fungsinya (Pasal 6 - 7 UU 41 Tahun 1999 )


Hutan berdasarkan fungsinya adalah penggolongan hutan

yang

didasarkan pada kegunaannya. Hutan ini dapat digolongkan menjadi tiga macam,
yaitu hutan konservasi, hutan lindung, dan hutan produksi.
a.

Hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu yang

mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa


beserta ekosistemnya.
b. Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi
pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur

tata

air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi (penerobosan)


air laut, dan memelihara kesuburan tanah.
c. Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi
pokok memproduksi hasil hutan.
3.

Hutan berdasarkan tujuan khusus, yaitu penggunaan hutan untuk

keperluan penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan, serta untuk

kepentingan religi dan budaya setempat (Pasal 8 UU 41 Tahun 1999). Syaratnya


tidak mengubah fungsi pokok kawasan hutan.
4.

Hutan berdasarkan pengaturan iklim mikro, estetika, dan resapan air di

setiap kota ditetapkan kawasan tertentu sebagai hutan kota. Hutan kota adalah
hutan yang berfungsi untuk pengaturan iklim mikro, estetika, dan resapan air
(Pasal 9 UU 41 Tahun 1999).
Indonesia adalah negara yang sangat terkenal karena memiliki hutan yang
sangat luas. Menurut Walhi dalam Lewoema (2008), Indonesia masih memiliki 10
persen dari luas hutan tropis di dunia. Angka ini cenderung berkurang jika
kerusakan hutan tidak segera dikendalikan. Produk hukum yang dibuat oleh
Pemerintah Indonesia memang sudah cukup banyak, namun penerapannya
masih sangat lemah. Penanganan kasus pengrusakan hutan masih kurang serius
dan terkesan memberi ruang yang leluasa bagi para pelaku pengrusakan hutan
untuk mencari pembenaran diri.
Berdasarkan aspek ekonomi, sektor kehutanan Indonesia menyumbang
devisa terbesar kedua setelah sektor migas. Devisa ini sebenarnya perlu
dipertahankan tanpa harus merusak hutan. Sebaliknya, dengan semakin tinggi
tingkat kerusakan hutan, devisa negara dari sektor ini akan mengalami
penyusutan. Disamping itu, hutan adalah pemasok oksigen. Populasi tanaman
yang tumbuh di hutan mampu memasok oksigen untuk keperluan manusia serta
hewan, maka tidak heran jika hutan dijuluki paru- paru dunia.
Hutan Indonesia sangat terkenal dengan keanekaragaman hayati. Tanaman
dan satwa yang hidup dalam hutan merupakan potensi hutan yang tidak boleh
diabaikan (Lewoema, 2008). Dengan demikian konsep kelestarian hutan sekarang
pada umumnya mempunyai lingkup yang lebih luas daripada sekedar kelestarian
hasil, yaitu berdasarkan aspek sosial, ekonomi dan ekologi. Sejalan dengan
definisi tersebut, selanjutnya Lewoema (2008) mengatakan bahwa sustainable
forest management

atau pengelolaan hutan berkelanjutan yang semula

difokuskan untuk menghasilkan kayu dan produk hasil hutan lainnya, kini secara
nyata juga ditujukan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan rakyat,
meningkatkan

mutu

lingkungan,

mencegah

kerusakan

lingkungan

dan

merehabilitasi lingkungan yang rusak baik karena faktor internal maupun faktor
eksternal.
Pengurusan hutan diatur dalam Pasal 9 sampai Pasal 12 Undang- Undang
Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan. Ketentuan
itu kemudian disempurnakan dalam Pasal 10 UU 41 Tahun 1999

tentang

Kehutanan. Pada hakikatnya tujuan pengurusan hutan dalam arti luas adalah
untuk mencapai manfaat hutan yang sebesar- besarnya, secara serba guna
dan lestari, baik langsung maupun tidak langsung dalam rangka membangun
masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
2.2 Deskripsi Umum Anggrek
Anggrek Dendrobium termasuk tanaman dan keluarga Orchidaceae.
Tanaman berbunga indah,

ini tersebar luas di pelosok dunia, termasuk di

Indonesia. Kontribusi anggrek Indonesia dalam khasanah anggrek dunia cukup


besar, dan 20.000 spesies anggrek yang terbesar di seluruh dunia, 6.000
diantaranya berada di hutan- hutan Indonesia. Menurut Dressier dan Dodson
(2000) dalam Widiastoety, dkk. (2010), kiasiflkasi anggrek Dendrobium adalah
sebagai berikut:
Kingdom
Divisi
Subdivisi
Kelas
Ordo
Faniiii
Subfamiii
Suku
Subsuku
Genus
Spesies

: Plantae
: Spermatophyta
: Angiospermae
: Monocotyledoneae
: Orchidales
: Orchidaceae
: Epidendroideae
: Epidendreae
: Dendrobiinae
: Dendrobium
: D. macrophyllum,

D. canaliculatum, D. lineale, D.

bifalce, D. Secundum.
Anggrek memiliki bunga yang terdiri dari lima bagian, yaitu sepal (kelopak
bunga), petal (mahkota bunga), benang sari, putik, dan ovary (bakal buah).
Pelindung bunga terluar pda saat bunga masih kuncup adalah sepal. Anggrek
mempunyai tiga helai sepal yang berwarna indah, berlainan dengan sepal bunga
lain yang umumnya berwarna hijau. Letaknya membentuk segitiga. PAda jenis
anggrek tertentu seperti Slipper Orchid, sepal yang berada di bawah bertaut

menjadi satu. Bungga anggrek ada yang hanya mempunyai satu benang sari
(monandrae), tetapi ada juga yang mempunyai dua benang sari (diandre). Benang
sari dan tangkai kepala putik menjadi satu membnetuk struktur yang disebut
column. Tidak seperti tanaman lainnnya, column anggrek tidak mempunyai
tepung sari seperti bubuk, melainkan berupa gumpalan serbuk sari yang disebut
polinia. Polnia melekat pada ujung column melalui struktur yang disebut plasenta
dan tertutup oleh sebuah cap. Jumlah polinia ada yang 22, 4,6 atau 8 tergantung
pada spesiesnya (Gunawan, 1986).
Daun pada anggrek bervariasi, dari yang sempit memanjang sampai bulat
panjang. Seperti pada umumnya tanaman monokotil, daun anggrek tidak
mempunya tulang daun yang berbentuk jala menyebar, tetapi tulang daunnya
sejajar dengan helaian daun. Tebal daun juga bervariasi dari tipis sampai tebal
berdaging (sekulen). Daun vanda bahkan membulat seperti pisti (Gunawan,
1986). Batang tunggal, pangkal batang akhirnya mati, tetapi bagian ujung
(monopodial), biasanya dapat di stek. Tunasnya tidak langsung menjadi umbi
semu, malainkan menjalar dan menjadi batang (Latief, 1960). Sedangkan akar
anggrek menempel pada substratum (bagian media yang dipakai sebagai tempat
tumbuh), tetapi apabila menempel bentuknya seperti belahan bambu dengan
bagian datar melekat pada permukaan medium (Gunadi, 1985).
Konsep keanekaragaman jenis (species diversity) berawal dari apa yang
disebutkan sebagai keanekaragaman hayati (biodiversity). Dalam definisi
yang luas keanekaragaman hayati merupakan keanekaragaman kehidupan dalam
semua bentuk dan tingkatan organisasi, termasuk struktur, fungsi dan prosesproses ekologi disemua tingkatan.
Semakin tinggi keanekaragaman hayati, dipercaya ekosistemnya akan semakin
stabil karena keanekaragaman hayati menyangkut keragaman dan kelimpahan
relative spesies. Keduanya menentukan kekuatan adaptasi dari populasi
yang akan menjadi bagian dari interaksi spesies (Kodir, 2009).
Menurut Soenartono, ketinggian mempengaruhi keanekaraman hayati. Pada
dataran rendah keanekaragaman hayati lebih tinggi dibanding dengan dataran
tinggi. Dengan semakin bertambahnya ketinggian, kelimpahan spesies akan
berkurang secara bertahap. Ketinggian bersama faktor lain seperti iklim dan

kesuburan

tanah

akan

menentukan

kekayaan

spesies

pada

tinggat

habitat (Indrawan, 2007). Berdasarkan keanekaragaman yang ada, anggrek


merupakan jenis tanaman hias yang bisa dibedakan jenisnya berdasarkan tempat
tumbuh (Darmono, 2003), sebagai berikut:
a. Anggrek Epifit, anggrek yang hidup menumpang pada batang/cabang
tanaman lain tanpa merugikan tanaman inangnya. Anggrek ini membutuhnkan
naungan dari cahaya matahari. Contoh: Phalaenopsis sp. (anggrek bulan),
Dendrobium sp dan Cattleya sp.
b. Anggrek Terestial, anggrek yang hidup/tumbuh di tanah dan membutuhkan
cahaya matahari langsung. Contoh: Renanthera sp, Aerides sp, Rynchostylis sp,
Vanda sp, dan Arachnis sp (Anggrek Kalajengking/Ketonggeng atau anggrek laba
laba).
c. Anggrek Litofit, anggrek yang hidup dibatu-batuan serta tahan terhadap
cahaya matahari penuh dan hembusan angin kencang. Contoh: Cytopdium sp,
Paphiopedilum sp dan Dendrobium phalaenopsis.
d. Anggrek Saprofit, anggrek yang tumbuh pada media yang mengandung
humus atau kompos juga daun-daun kering serta membutuhkan sedikit cahaya
matahari. Contoh: Calanthe sp, Goodyera sp.
2 Karakteristik Bio Ekologis Anggrek
Tumbuhan anggrek secara alami hidup menempel di pepohonan dan dahan
pohon. Pohon merupakan kebutuhan yang paling mendasar untuk kehidupan
anggrek. Pohon inang adalah salah satu kebutuhan mendasar untuk mendapatkan
cahaya dan sirkulasi udara yang baik bagi anggrek.
Sebagian anggrek sangat peka terhadap

ketinggian

tempat,

dikarenakan perbedaan ketinggian tempat berarti perbedaan suhu udara. Dresseler


(1982) dan Lestari (2003) dalam Priandana (2007) mengemukakan bahwa
salah satu perbedaan cara hidup tumbuhan epifit dan terrestrial adalah dalam hal
kebutuhan cahaya matahari. Jenis yang membutuhkan banyak cahaya akan
tumbuh sebagai jenis epifit.
Secara umum lingkungan dibagi menjadi faktor-faktor yang bersifat fisik dan
biologis.

Faktor fisik atau abiotik, yaitu faktor-faktor lingkungan yang

bersifat non biologis seperti iklim (curah hujan, suhu udara, kelembaban udara,
intensitas cahaya), tanah dan kondisi fisiografi lingkungan. Faktor yang bersifat
biologis atau biotik, yaitu organisme yang berpengaruh terhadap organisme lain

contoh tumbuhan lain, satwa maupun manusia. Tumbuhan dapat tumbuh dengan
berhasil bila lingkungan mampu menyediakan berbagai keperluan untuk
pertumbuhan sesama daur hidupnya. Oleh karena sifat lingkungan tidak hanya
bergantung pada kondisi fisik dan kimia tetapi juga karena kehadiran organisme
lain faktor yang berperan dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama, yakni iklim,
tanah dan biotik (Parinding, 2007).
Menurut Solvia (2005) Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan anggrek
dibagi berdasarkan factor biotik dan fisik, antara lain:
a. Biotik
1) Serangga
Manfaat serangga antara lain sebagai penyerbuk (pollinator) untuk semua jenis
tanaman.

Serangga

juga

berperan

sebagai

organisme

perombak

(dekomposer) yang mendegradasi kayu yang tumbang, ranting, daun yang jatuh,
hewan yang mati dan sisa kotoran hewan. Jenis-jenis seperti rayap, semut,
kumbang, kecoa hutan dan lalat akan merombak bahan organik menjadi bahan
anorganik yang berfungsi untuk regenerasi dan penyubur tanaman. Serangga juga
berperan sebagai pengendali fitofagus (serangga hama bagi tanaman), sehingga
tercipta keseimbangan alam yang permanen di dalam ekosistem hutan.
2) Pohon Inang
Pohon inang adalah salah satu kebutuhan mendasar untuk mendapatkan cahaya
dan sirkulasi udara yang baik bagi anggrek. Anggrek epifit umumnya
tumbuh pada pangkal percabangan atau ranting-ranting dan pada pokok pohon
hutan, pada bagian hidup atau mati dari pohon-pohon hutan (Priandana, 2007).
Epifit merupakan semua tumbuhan yang menempel dan tumbuh pada tumbuhan
lain untuk mendapat sinar matahari dan air. Epifit tidak bergantung pada bahan
makanan yang berasal dari tumbuhan yang ditempeli, karena untuk mendapatkan
unsur hara dari mineral-mineral yang terbawa oleh udara, air hujan, atau aliran
batang dan cabang tumbuhan lain. Epifit mampu melakukan proses fotosintesis
untuk pertumbuhan dirinya, sehingga bukan merupakan parasit. Keberadaan epifit
tersebut sangat penting dalam ekosistem tumbuhan karena kadangkala tumbuhan

epifit mampu

menyediakan

tempat tumbuh bagi semut- semut pohon

(Indriyanto, 2006).
3) Pengaruh Manusia
Anggrek memiliki manfaat utama anggrek sebagai tanaman hias karena bunga
anggrek

memiliki keindahan bentuk dan warnanya. Selain itu anggrek

bermanfaat sebagai ramuan obat-obatan, bahan campuran minyak wangi atau


minyak rambut sehingga banyak masyarakat yang mengambil anggrek untuk
keperluannya.
b. Fisik
1) Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan
pertumbuhan tanaman anggrek. Selain itu faktor lingkungan seperti suhu, cahaya
matahari dan kelembaban juga sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman
anggrek. Ketinggian tempat untuk setiap jenis anggrek tidak sama, beberapa
anggrek dapat tumbuh baik di daerah dataran tinggi, tetapi jenis yang lain akan
tumbuh dan berkembang subur di dataran rendah, tetapi ada beberapa

jenis

anggrek yang dapat tumbuh dan berbunga di daerah dataran rendah sampai
medium.
Tanaman

anggrek

dapat

dibedakan

menjadi

tiga

jenis

berdasarkan

ketinggian tempat untuk tumbuh optimal, yaitu:


a) Anggrek yang tumbuh optimal di dataran rendah (0-500 m dpl). Contoh:
Dendrobium sp, Vanda sp, Arachnis sp.
b) Anggrek

yang

menyukai

ketinggian

500-700

dpl.

Contoh:

Phalaenopsis sp, Oncidium sp, Dendrobium sp.


c) Anggrek yang hidup optimal di ketinggian > 700 m dpl. Contoh:
Paphiopedilum sp, Cymbidium sp, Cattleya sp, Phaleonopsis sp.
2) Suhu udara
Kebutuhan suhu untuk setiap jenis anggrek tertentu juga berbeda. Suhu udara
sangat mempengaruhi proses metabolisme tanaman. Suhu yang tinggi

menyebabkan proses metabolisme berlangsung cepat, sebaliknya pada suhu yang


rendah proses metabolisme terjadi sangat lambat.
Sessler (1978) dalam Solvia (2005) membagi tanaman anggrek ke dalam 3
golongan berdasarkan kebutuhan suhu :
a) Anggrek tipe dingin, membutuhkan suhu 130 - 180C pada malam hari dan
suhu siang hari antara 180 - 210 C (Cymbidium, Phalaenopsis).
b) Anggrek tipe sedang, suhu malam hari 180 - 200 C dan siang hari 270 290C (Dendrobium, Cattleya, Oncidium).
c) Anggrek tipe hangat, suhu malam hari 210 - 240 C, sedang siang hari 240300 C (Vanda, Arachnis, Renanthera).
2. Analisis Vegetasi
Analisis vegetasi atau studi komunitas adalah suatu cara mempelajari susunan
(komposisi spesies) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuhtumbuhan. Penelitian yang mengarah pada analisis vegetasi, titik berat
penganalisisan terletak pada komposisi spesies atau spesies. Struktur masyarakat
hutan dapat dipelajari dengan mengetahui sejumlah karakteistik tertentu
daintaranya, kepadatan, frekuensi, dominansi dan nilai penting Soerianegara dan
Indrawan (1978).
Pada vegetasi hutan alam, umumnya dilakukan dengan metode petak dalam
jalur,

yaitu

mencatat

semua

vegetasi

yang

ada

berupa

vegetasi

bawah/semai, pancang, tiang dan pohon. Semai (seedling) adalah permudaan


mulai dari kecambah sampai anakan >1,5 m, pancang (sapling) adalah permudaan
dengan tinggi 1,5 m sampai anakan berdiameter >10 cm, tiang (poles) adalah
pohon muda berdiameter 10 20 cm, sedangkan pohon (tree) adalah semua
tumbuhan berkayu, tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai utama dengan
ukuran diameter lebih dari 20 cm

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Taman Wisata Alam (TWA) Situ Gunung tepatnya
pada kawasan Curug Sawer, Sukabumi, Jawa Barat kurang lebih sepanjang 70 m aliran
sungai dari pusat Curug Sawer. Pengambilan data di lapangan dilakukan pada tanggal
13dan 14 Mei 2016.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah Tally Sheet untuk mencatat hasil
pengamatan, kantong plastik, thermometer tanah, thermometer raksa, soil tester,
anemometer.

3.3 Metode
3.3.1 Pemilihan Lokasi
Penelitian ini menggunakan metode Purposive sampling dengan ukuran 20m x
20m untuk tingkat pohon, 10m x 10m untuk tingkat tiang, 5m x 5m untuk tingkat
pancang, dan 2m x 2m untuk tingkat semai. Plot pengamatan dibuat sebanyak 4 plot
disekitar lokasi penelitian pada habitat anggrek. Kriterian untuk menentukan tingkat
pohon, tiang, pancang, dan semai menggunakan kriteria umum Wyatt dan Smith (1968)
3.3.2 Jenis Data