Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN

WAHAM

I.

Definisi
Waham adalah suatu keyakinan seseorang yang berdasarkan
penilaian yang salah. Keyakinan klien dengan waham tidak konsisten dengan
tingkat intelektual dan latar belakang budaya yang dianutnya (Aziz, 2003).
Waham merupakan gangguan isi pikir yang ditandai dengan keyakinan tentang
diri dan lingkungan yang menyimpang dan dipertahankan dengan kuat oleh klien
(Yudhi dkk, 2011). Selain itu menurut Kaplandan Sadock (1997) klien yang
terkena waham akan memiliki pemahaman diri yang buruk.
Kaplan dan Sadock (1998) mengatakan bahwa waham adalah keyakinan
yang salah dan menetap dan tidak dapat dibuktikan dalam kenyataan. Waham
sedikitnya harus ada selama sebelum dan sistematik dan tidak bizar dalam
bentuk fragmentasi, respon, emosi pasien terhadap sistem waham biasanya
kongruen dan sesuai dengan isi waham itu. Pasien secara relative biasanya
bebas dari psikopatologi diluar wawasan system wahamnya. Awal mulanya
sering terjadi pada umur dewasa , menengah dan lanjut.
David A Tomb (2004) beranggapan bahwa waham adalah suatu
keyakinan kokoh yang salah yang tidak sesuai dengan fakta dan keyakinan
tersebut, mungkin aneh dan tetap dipertahankan meskipun telah diberikan buktibukti yang jelas untuk mengoreksinya. Waham sering ditemukan dalam
gangguan jiwa berat dan beberapa bentuk waham yang spesifik sering
ditemukan pada skizoprenia. Semakin akut psikosis semakin sering di temui
waham disorganisasi dan waham tidak sistematis.

II.

Macam-Macam Waham
Menurut Mayer-Gross, terdapat 2 jenis waham yaitu waham primer
dan skunder. Berikut adalah penjelasan dari kedua jenis waham tersebut:
a. Waham primer
Waham primer adalah waham yang terjadi tanpa penyebab apapun dari luar
dan biasanya perkataan dari klien sangat tidak logis. Sebagai contoh: klien
waham mengatakan akan terjadi bencana yang besar setelah ia melihat cicak
yang ekornya putus.
b. Waham skunder
Perbedaan waham skunder dengan waham primer terletak pada perkataan
yang diucapkan klien terdengar logis, namun tetap tidak sesuai dengan

kejadian dan latar belakang kehidupan klien. Menurut Kaplan dan Sadock
(1997) terdapat beberapa tipe waham skunder, antara lain:
a. Tipe kebesaran (megalomania)
Klien waham tipe ini akan merasa dirinya memiliki bakat, kemampuan,
wawasan yang luar biasa. Namun hal tersebut tidak dapat dibuktikannya
atau tidak sesuai dengan latara pendidikan dan kebudayaan dari klien.
Contoh hal yang sering dikatakan adalah Saya adalah Presiden dan
saya tinggal di Istana Negara
b. Waham cemburu
Pada klien dengan jenis waham ini akan merasakan cemburu yang di luar
batas terhadap pasangannya. Jenis waham ini jarang sekali ditemukan.
Onset sering mendadak dan hilang setelah terjadi perpisahan dengan
pasangannya. Tipe waham ini menyebabkan penyiksaan hebat secara
fisik terhadap pasangan dan kemungkinan dapat terjadi pembunuhan
terhadap pasangan oleh karena delusinya.
c. Waham kejar
Pada tipe waham ini klien akan merasa seperti dikejar-kejar oleh orang
lain. Ia merasa akan ada orang yang mencarinya untuk membunuhnya,
meracuni, menghalanginya untuk mengejar tujuan jangka panjang, dan
berbagai tindakan lain yang dapat mengusiknya.
d. Waham somatic
Pada tipe waham ini klien meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya
terganggu oleh suatu penyakit. Klien akan sering mengatakan bahwa
dirinya merasakan sakit, namun setelah dicek secara medis ternyata tidak
sesuai dengan kenyataan.
e. Waham nihilistic
Klien akan meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia tau
meninggal. Hal ini diucapkan berkali-kali dan ia terus mencoba untuk
meyakinkan orang lain terhadap pandangannya tersebut. Contoh Saya
f.

sedang di alam kubur dan mereka semua adalah roh-roh


Waham agama
Klien memiliki keyakinan terhadap suatu agama yang berlebihan. Contoh
hal yang sering diucapkan adalah Kalau saya mau masuk surge, saya

harus berpakaian putih setiap hari


g. Waham curiga
Klien meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha
untuk merugikan atau mencederai dirinya. Contoh hal yang sering
diucapkan adalah Saya yakin dia akan membunuh saya karena iri
dengan kesuksesan saya
Selain jenis-jenis waham diatas, terdapat waham bizar. Waham ini
dibagi menjadi 3, yaitu:
a. Sisip pikir

Klien merasa pikirannya disisipi oleh ide atau pikiran dari orang lain. Hal ini ia
sampaikan secara berulang-ulang, tidak sesuai dengan kenyataan, dan tidak
dapat dipatahkan.
b. Kontrol pikir
Klien merasa pikirannya dikendalikan oleh orang lain atau kekuatan dari luar.
c. Siar pikir
Klien merasa yakin bahwa orang lain dapat mengetahui apapun yang ada
dalam pikirannya walaupun ia tidak menyatakan pada orang lain mengenai
apa yang sedang ia pikirkan.
III.

Penyebab Waham
Menurut Doengoes (1987), penyebab waham dijelaskan dalam 4 teori,
yaitu:
a. Teori psikodinamika
Teori ini menjelaskan waham disebabkan oleh kurangnya perhatiano orang
tua terhadap klien. Akibatnya klien merasa kehilangan perlindungan dan
gagal untuk mengemukakan perasaannya sehingga terjadi gangguan harga
diri, gagal percaya pada orang lain, kehilangan control, takut, cemas, dan
timbul sikap curiga terhadap orang lain.
b. Teori dinamika keluarga
Teori ini menjelaskan penyebab waham adalah karena klien hidup di keluarga
yang berkarakter keras, yang selalu menuntutnya untuk sempurna. Ketika
klien tidak bisa memenuhi kriteria dan tuntutan dari keluarganya, ia akan
memiliki resiko tinggi untuk terkena waham.
c. Teori biologi
Teori ini menjelaskan penyebab seseorang terkena waham adalah karena
genetika. Sebagai contoh pada anak kembar jika salah satunya terkena
waham maka kemungkinan saudara kembarnya mengalami waham adalah
58%. Selain itu kerusakan pada hipokampus otak sejak lahir juga merupakan
penyebab

terjadinya

waham.

Suatu

penelitian

menyatakan

terdapat

kekacauan pada sel-sel piramida otak klien yang menderita skizofrenia.


d. Teori biokimia
Terjadinya peningkatan dopamine pada neurotransmitter akan menghasilkan
gejala-gejala peningktan aktivitas yang berlebihan pada otak.
Selain itu terdapat faktor predisposisi dan presipitasi waham, antara
lain:
a. Faktor predisposisi
1. Dari klien
Beberapa faktor predisposisi yang berasal dari klien seperti adanya
gangguan mental dan fisik seperti paranoid, skizofrenia, kerusakan pada
otak, dan adanya gangguan pada pendengaran. Selain itu proses tumbuh
kembang yang tidak tuntas seperti rasa saling percaya yang tidak terbina,
kegagalan dalam mengungkapkan perasaan dan pikiran serta proses

kehilangan yang berkepanjangan juga dapat menjadi faktor predisposisi


waham pada klien.
2. Dari lingkungan yang tidak terapeutik
Lingkungan tempat tinggal klien juga dapat menjadi faktor predisposisi
waham. Klien yang sering diancam, tidak dihargai jerih payah usahanya,
support sistem yang buruk, dan tidak punya orang untuk dipercaya dapat
menjadi faktor predisposisi terjadinya waham.
3. Dari interaksi
Interaksi dengan lingkungan seperti banyaknya orang yang curiga, kaku
dan tidak toleran terhadap klien dapat menjadi faktor predisposisi
terjadinya waham. Selain itu persepsi dari klien yang salah serta fantasi
yang tidak terselesaikan akan menimbulkan waham.
b. Faktor presipitasi
1. Internal
Klien yang selalu merasa gagal akan kehilangan kepercayaan pada diri,
kehilangan yang berulang dan ketakutan yang berlebihan terhadap suatu
penyakit fisik akan menjadi pemicu terjadinya waham.
2. Eksternal
Adanya serang fisik, hubungan dengan lingkungan dan orang-orang
sekitar yang tidak baik, serta adanya kritikan yang tidak bisa diterima oleh
klien dapat menjadi faktor presipitasi waham.
IV.

Tanda dan Gejala


Kognitif
a. Tidak mampu membedakan nyata dengan tidak nyata
b. Individu sangat percaya pada keyakinannya
c. Sulit berfikir realita
d. Tidak mampu mengambil keputusan
Afektif
a. Situasi tidak sesuai dengan kenyataan
b. Afek tumpul
Perilaku dan Hubungan Sosial
a. Hipersensitif
b. Hubungan interpersonal dengan orang lain dangkal
c. Depresi
d. Ragu-ragu
e. Mengancam secara verbal
f. Aktifitas tidak tepat
g. Streotif
h. Impulsive
i. Curiga
Fisik

a.
b.
c.
d.
V.

Higiene kurang
Muka pucat
Sering menguap
BB menurun (Aziz, 2003).

Fase-Fase Waham
a. Fase lack of self esteem
Tahapan ini merupakan tahap awal dari waham. Klien waham merasa
memiliki harga diri yang rendah karena kehilangan atau kegagalan yang terus
menerus. Sebagai contoh klien mengalami kegagalan masuk tes sebagai
polisi. Karena tidak adanya dukungan dari lingkungan, lingkungan yang selalu
menyalahkan klien mengakibatkan klien kehilangan harga dirinya.
b. Fase control internal eksternal
Pada fase ini klien mencoba menolak kenyataan dan

menutupi

kegagalannya. Seperti klien meyakini bahwa ia sudah lulus tes masuk polisi
dan berpura-pura menjadi polisi.
c. Fase environment support
Fase control internal eksternal akan diperparah dengan lingkungan tempat
tinggal klien. Seperti sebelum masuk tes, keluarga klien sangat yakin akan
kemampuan klien. Klien merasa orang lain percaya dan akan tetap
mendukungnya saat berpura-pura menjadi polisi. Sehingga akan timbul
dalam pikiran klien setiap apa yang ia katakan dan kerjakan adalah benar
dan dipercaya oleh orang lain.
d. Fase comforting
Pada fase ini klien sudah merasa nyaman dengan kebohongan yang ia
lakukan.
e. Fase improving
Keyakinan klien bahwa dirinya adalah seorang polisi akan meningkat karena
tidak adanya orang lain yang mencoba mematahkan keyakinan tersebut pada
fase awal.
VI.

Rentang Respon

Respon Adaptif

VII.

Timbulnya pikiran logis,


seperti:
1. Persepsi akurat
2. Emosi sesuai
dengan kenyataan
3. Perilaku sesuai
Pohon
Masalah
dengan kenyataan
4. Hubungan sosial
yang baik

Timbulnya distorsi
pikiran, seperti:
1. Ilusi
2. Reaksi emosi
yang berlebihan
atau kurang
3. Munculnya
perilaku aneh
4. Mulai menarik
diri
Mencederai diri sendiri dan orang
lain serta merusak lingkungan serta
kerusakan komunikasi verbal

Respon maladaptif
Timbulnya waham,
ditandai dengan:
1. Halusinasi
2. Sulit merespon
emosi
3. Perilaku
disorganisasi
4. Isolasi sosial

Masalah utama : gangguan proses


pikir berupa waham

Etiologi :Gangguan konsep diri


berupa harga dirirRendah

VIII.

Penatalaksanaan
a. Farmakoterapi
1. Anti psikotik
Jenis obat ini merupakan obat utama yang diberikan pada klien waham.
Pada kondisi darurat dank lien teragitasi pada obat diberikan secara intra
muscular. Kegagalan dalam pemberian obat ini sering disebabkan oleh
ketidakpatuhan klien dalam minum obat. Pemberian obat ini dikatakan
berhasil jika terjadi penyesuaian sosial pada klien.
Jenis obat yang digunakan antara lain:
- Chlorpromazine
Untuk mengatasi psikosa, premedikasi dalam

anestesi,

dan

mengurangi gejala emesis. Untuk gangguan jiwa, dosis awal : 325


mg, kemudian dapat ditingkatkan supaya optimal, dengan dosis
-

tertinggi : 1000 mg/hari secara oral.


Trifluoperazine
Untuk terapi gangguan jiwa organik, dan gangguan psikotik menarik

diri. Dosis awal : 31 mg, dan bertahap dinaikkan sampai 50 mg/hari.


Haloperidol
Untuk keadaan ansietas, ketegangan, psikosomatik, psikosis,dan

mania. Dosis awal : 30,5 mg sampai 3 mg.


2. Anti Parkinson
Jenis obat ini diberikan sebagai penghilang reaksi ekstrapiramidal obat
antipsikotik. Beberapa reaksi ekstrapiramidal yang dapat terjadi adalah
dystonia, parkinsonism, dan tardive dyskenia. Dystonia merupakan
kontraksi otot yang dapat menyebabkan postur yang abnormal.
Sedangkan tardive dyskenia adalah pergerakan involunter pada otot yang
dapat terjadi dalam hitungan hari ataupun bulan setelah pemberian obat
antipsikosis (Jesic et al., 2012). Obat yang diberikan yaitu triheksipenydil
dengan dosis 1-15 mg/hari dan difehidamin 50-70 mg/hari.
3. Antidepresan
Amitriptylin digunakan untuk mengatasi gejala depresi karena ansietas
dan keluhan somatic. Dosis yang diberikan 75 mg/hari. Obat lain yang
digunakan adalah imipramin 25 mg/hari sebagai dosisi awal dan 50-75
mg/hari sebagai dosisi pemeliharaan untuk mengatasi depresi dengan
hambatan psikomotorik dan depresi neurotic.

4. Anti ansietas
Anti ansietas digunakan untuk mengotrol ansietas, kelainan somatroform,
kelainan disosiatif, kelainan kejang, dan untuk meringankan sementara
gejala-gejala insomnia dan ansietas. Obat- obat yang termasuk anti
ansietas antara lain:
Fenobarbital

: 16-320 mg/hari

Meprobamat

: 200-2400 mg/hari

Klordiazepoksida

: 15-100 mg/hari

b. Psikoterapi
Komunikasi terapeutik memegang peranan yang penting dalam psikoterapi.
Sebagai perawat yang sedang memberikan asuhan keperawatan pada klien
dengan waham tidak boleh membenarkan ataupun mematahkan argument
dari klien. Hal tersebut dapat mengakibatkan klien merasa curiga dan marah
terhadap perawat sehingga terapi tidak dapat berjalan dengan baik. Selain itu
tindakan membenarkan argument klien akan membuat waham semakin
parah. Yang harus dilakukan oleh perawat adalah meningkatkan hubungan
saling percaya dengan klien, memberikan kontrak yang jelas, dan tidak
menjanjikan sesuatu yang tidak dapat tercapai.
c. Terapi keluarga
Kerja sama dalam perawatan klien dengan waham perlu dilakukan dengan
menjalin kerja sama dengan keluarga klien. Hal ini dilakukan agar tercapai
IX.

pengobatan yang optimal


Akibat Waham
Klien dengan waham memiliki resiko tinggi untuk mencederai dirinya
sendiri, orang lain, dan merusak lingkungan. Sehingga dibutuhkan pengawasan
dan asuhan yang tepat pada klien dengan waham untuk mencegah terjadinya hal
tersebut.