Anda di halaman 1dari 42

ILUSTRASI KASUS

Anamnesis

Identitas Pasien

Nama
: Tn. US
Umur
: 46 Tahun
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Pekerjaan
: Swasta
Alamat
: Talang
No Rekam Medik
: 76.90.03

Seorang pasien laki-laki usia 46 tahun datang


ke IGD RSUD Arosuka pada tanggal 15
Desember 2015 dengan pukul 12.00 WIB
rujukan Puskesmas Talang dengan
Appendisitis :
Keluhan Utama
:
Nyeri perut kanan bawah sejak 1 hari yang
lalu

Riwayat Penyakit Sekarang

Nyeri perut kanan bawah yang dirasakan


sejak 1 hari bulan yang lalu. Nyeri tidak
berpindah. Nyeri sudah sering dirasakan
berulang sejak 5 tahun yang lalu dan pasien
sudah sering berobat ke dokter karena nyeri
perut, pasien lupa obat yang didapatkan dan
nyeri berkurang ketika pasien minum obat .
Demam sejak 1 hari yang lalu, demam
tinggi, terus menerus, tidak menggigil dan
tidak berkeringat

Riwayat Penyakit Sekarang

Buang air besar encer sejak 1 hari yang lalu,


frekuensi 7 kali, tidak berlendir, tidak
berdarah. BAB terakhir 12 jam yang lalu
Mual (+) muntah (+) frekuensi 1x, berisi apa
yang dimakan
Nafsu makan dirasakan menurun sejak 1 hari
yang lalu
Buang air kecil warna dan frekuensi biasa
Riwayat Diabetes Melitus(-), hipertensi (-),
penyakit jantung (-)
Di Puskesmas pasien mendapat terapi IVFD 30
tetes/menit, cotrimoksazol 2x1 tab, Loperamide
II-I-I, domperidon tab 3x1, vit B6 tab 3x1

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : Sedang


Kesadaran
: Komposmentis Kooperatif
Tekanan Darah : 120/80
Denyut Nadi: 105x/menit
Pernafasan : 22x/menit
Suhu
: 39,5C

Pemeriksaan Fisik

Mata

Pemeriksaan Fisik

Paru

Thorak

Pemeriksaan Fisik
Abdomen

Pemeriksaan Fisik

Punggung

Pemeriksaan Penunjang

Hb
: 14,2 gr/dl
Leukosit
: 23.500 /mm
Trombosit
: 301.000/mm
Hematokrit : 39,3 %
GDR
:146 mg/dl

Diagnosis
Peritonitis Difus ec appendisitis perforasi

Penatalaksanaan

IVFD RL 6 jam/ Kolf, jika pasien sudah dipuasakan


ganti infus dengan aminofluid 8 jam /Kolf
Inj Cefotaxim 2x1 gr (iv)
Inj Ranitidin 2x1 amp (iv)
Infus Metronidazol 3x500 mg (iv)
Paracetamol 3x1 tab
Pasang kateter urin.Buang urin pertama. Jika
produksi urin sudah 0,5 cc/KgBB/Jam infus
Mainetenence
Konsul penyakit dalam
Puasakan pasien jam 10 malam

Follow up

Follow up

Follow up

Follow up

Follow up

Follow up

Pemeriksaan Fisik

Subjektif

Pemeriksaan Fisik

Assessment (penalaran klinis)

Tinauan Pstaka

Appendisitis

Anatomi

Anatomi Appendiks

divertikulum intestinal berukuran 6 10 cm dan


terletak pada caecum.
tersusun dari jaringan limfoid dan merupakan
bagian l dari GALT (Gut-Associated Lymphoid
Tissue).
Lokasi appendix terbanyak berasal dari bagian
posteromedial caecum, di bawah ileocaecal
junction.
dikelilingi mesenterium yang disebut
mesoappendix, yang berasal dari bagian posterior
mesenterium yang mengelilingi ileum terminalis.
Posisi terbanyak adalah retrocaecal
65% dari posisi appendix terletak intraperitoneal
sementara sisanya retroperitoneal.

Anatomi Appendiks

Vaskularisasi : berasal dari arteri ileocolica


(cabang arteri mesenterika superior). Cabang
arteri ileokolika ini disebut arteri
appendicularis, dengan aliran venanya berasal
dari vena ileocolica dan akan kembali ke vena
mesenterika superior.
A. appendicularis ini tidak memiliki kolateral
Persarafan parasimpatis berasal dari cabang
n. vagus yang mengikuti a. mesenterica
superior dan a. appendicularis, sedangkan
persarafan simpatis berasal dari n. torakalis
X.

Anatomi

Fisiologi Appendiks

menghasilkan lendir / mucus, kelebihan dari


mucus akan mengalir dari lumen ke caecum.
menghasilkan Immunoglobulin sekretoar,
yang dihasilkan oleh GALT (gut associated
lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang
saluran cerna termasuk appendix, yaitu IgA.
Immunoglobulin berfungsi sebagai
pertahanan terhadap infeksi.

Epidemiologi

AS : 250.000 kasus dan terutama terjadi pada


anak usia 6-10 tahun.
laki-laki : perempuan =3:2.
Bangsa Kaukasia lebih sering terkena
dibandingkan dengan kelompok ras lainnya..
negara maju >negara berkembang

Etiologi

Obstruksistasis cairan dan distensi dari


appendix pendarahan terganggu akibat vena
dan arteri tertekan oleh distensi dan edema yang
terjadistasis mucus dan penurunan suplai
darah appendix memudahkan terjadinya infeksi
sekunder oleh bakteriperadangan appendix.
Penyebab obstruksi lumen appendix antara lain
adalah :
Fecalith
Parasit
Benda benda asing
Hiperplasia jaringan limfoid
Tumor / Carcinoid tumor

Etiologi

Bakteri aerob fakultatif

Bakteri anaerob

Escherichia coli

Bacteroides fragilis

Viridans streptococci

Peptostreptococcus micros

Pseudomonas aeruginosa

Bilophila species

Enterococcus

Lactobacillus species

Patofisiologi dan Patogenesis

Manifestasi

Gejala Appendicitis Akut

Frekuensi (%)

Nyeri perut

100

Anorexia

100

Mual

90

Muntah

75

Nyeri berpindah

50

Gejala sisa klasik (nyeri periumbilikal kemudian anorexia/mual/muntah kemudian nyeri berpindah ke RLQ
kemudian demam yang tidak terlalu tinggi)

50

*-- Onset gejala khas terdapat dalam 24-36 jam

- Low grade fever


- Keluhan sesuai lokasi appendisitis : i.retrocaekal-retroperitoneal
- ii.pelvis : dekat rektum, dekat vesika urinaria.

Diagnosis

Gejala

Tanda

Laboratorium

Manifestasi

Skor

Adanya migrasi nyeri

Anoreksia

Mual/muntah

Nyeri RLQ

Nyeri lepas

Febris

Leukositosis

Shift to the left

Total poin

10

Alvarado score :
Keterangan:
0-4 : bukan appendicitis
5-6 : kemungkinan kecil
7-8 : kemungkinan besar appendicitis
9-10 : hampir pasti appendicitis
Penanganan berdasarkan skor Alvarado :
1 4 : observasi
5 6 : antibiotik/ diobservasi di rumah sakit
7 10 : operasi dini

Diagnosis Banding

Gastroenteritis :
Limfadenitis mesenterika :
Demam dengue :
Pelvic Inflammatory Disease
Gangguan alat reproduksi perempuan :
Kehamilan ektopik :
Divertikulitis Meckel :
Ulkus peptikum perforasi
Ureterolithiasis :

Tatalaksana

APPENDIKTOMI
Persiapan :- analgetik
-antibiotik
-Pemantauan Status Cairan
Post op: - tanpa komplikasi : mulai minum dan
makan segera setelah mereka merasa
mampu, dan defekasi dievaluasi dalam 24-48
jam. Pemberianantibiotik dan dekompresi
dengan nasogastric tube pasca operasi tidak
rutin

Tinauan Pstaka

Peritonitis

Anatomi

Peritoneum dibagi dua:

Peritoneum pars parietal, yang melapisi dinding internal


abdominal serta mendapat suplai neurovaskular dari regio
dinding yang dilapisinya.
Peritoneum pars visceral, yang melapisi organ intraperitoneal
dan mendapat suplai neurovaskular dari organ yang
ditutupinya.diantaranya:

hati, spleen, gaster,


duodenum pars bulbosa, jejunum, ileum,
colon transversum, colon sigmoid, rektum
pars superior.

Etiologi
Peritonitis Primer

Patofisiologi

invasi oleh bakteri keluarnya eksudat


fibrinosaAbses terbentuk di antara perlekatan
fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan
permukaan sekitarnya membatasi infeksi.
Infeksi hilangperlengketan hilang,
menetap sebagai pita-pita fibrosaobstruksi usus.
Infeksi tersebar luas pada permukaan
peritoneumperitonitis umum aktifitas peristaltik
berkurang, usus kemudian menjadi atoni dan
meregang. Cairan dan elektrolit hilang ke dalam
lumen usus dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan
oliguria. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkunglengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu
pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi
usus.

Manifestasi Klinis

Nyeri Abdomen
Defans Muskular
Anoreksia
Mual dan muntah
Demam
Facies Hipocrates
ekspresi yang tampak gelisah, pandangan
kosong, dan muka tampak pucat
Syok

Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium
hitung sel darah putih lebi dari 20.000/mm. Pada perhitungan
diferensial menunjukan pergeseran ke kiri dan dominasi oleh
polimononuklear yang memberikan bukti adanya peradangan
Radiologi
foto thoraks :proses pengisian udara di lobus inferior yang
menunjukkan proses intraabdomen. Pada foto polos
diafragma dapat terlihat terangkat pada satu sisi atau
keduanya akibatnya adanya udara bebas dalam cavum
peritoneum.
Pada pemeriksaan foto polos abdomen :asites, tanda-tanda
obstruksi usus berupa air-udara dan kadang-kadang udara
bebas (perforasi). Biasanya lambung, usus halus dan kolon
menunjukkan dilatasi sehingga menyerupai ileus paralitik.
Usus-usus yang melebar biasanya berdinding tebal.

Tatalaksana

penggantian cairan dan elektrolit yang hilang


yang dilakukan secara intravena,
pemberian antibiotika yang sesuai,
dekompresi saluran cerna dengan
penghisapan nasogastrik dan intestinal,
pembuangan fokus septik (apendiks, dan
sebagainya) atau penyebab radang lainnya.