Anda di halaman 1dari 27

PSORIASIS

IDENTITAS
Nama

: An. E

Usia

: 7 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Suku Bangsa

: Indonesia

Pekerjaan

: Pelajar

Alamat

: Kp. Darundung Rt.04 Rw.02 Desa Gudang Kec. Cikalong Kulon Kab.
Cianjur

Tanggal berobat

: 19 Mei 2016

Anamnesis
Auto Alloanamnesa : Tanggal 19 Mei 2016
Keluhan Utama

: Bercak kemerahan dan kulit mengelupas terasa gatal pada seluruh tubuh

sejak 3 bulan yang lalu


Keluhan Tambahan : Riwayat Penyakit Sekarang
Keluhan bercak merah pada seluruh tubuh dirasakan sejak 3 bulan yang lalu. Pada
awalnya bercak kecil timbul pada daerah dada kiri, lambat laun bercak membesar dan timbul
pada daerah lain. Bercak kemerahan yang sudah lama mengering dan berubah warna menjadi
putih. Saat ini pasien mengeluh gatal pada seluruh tubuhnya, walaupun tidak terlalu gatal. Pasien
juga mengaku bila setelah beraktifitas kulit makin terasa gatal. Tidak terasa nyeri pada pada
daerah yang luka. Tidak timbul lepuhan atau cairan pada luka.
Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

PSORIASIS
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit serupa

: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit serupa
Riwayat Alergi
Disangkal
PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Composmentis

Tanda-tanda vital
TD

:-

Nadi

: 92 X/menit, reguler, isi cukup

Pernafasan

: 20 x/menit, teratur

Suhu

:-

Kepala

: Normochepal, kulit mengelupas berwarna putih(+) .

Mata

: Konjungtiva anemis -/- , Sklera ikterik -/-

Telinga

: Bentuk normal, liang lapang, serumen + normal, kulit


mengelupas (+)

Hidung

: Bentuk normal, deviasi septum (-), kulit mengelupas (+)

Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

PSORIASIS

Mulut

: Mukosa basah, tonsil T1-T1 tenang

Leher

: Tidak ada pembesaran KGB

Thoraks
Paru

Inspeksi

: simetris, retraksi dinding dada (-/-)

Palpasi

: vokal fremitus kiri = kanan

Perkusi

: sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi

: vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)

Jantung

Inspeksi

: iktus kordis tidak terlihat terlihat

Palpasi

: iktus kordis teraba pada ICS 5 midaksilaris sinistra

Perkusi

: Batas jantung Normal

Auskultasi

: BJ I-II reguler, murmur (-), gallop(-)

Abdomen

Inspeksi

: bentuk datar

Auskultasi

: BU (+) normal pada 4 kuadran

Perkusi

: timpani pada seluruh abdomen, asites (-)

Palpasi : supel, nyeri tekan (-), nyeri epigastrium (-), hepar, lien tidak teraba.

Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

PSORIASIS
Ekstremitas
Atas

: akral hangat, RCT < 2 detik, edema (-/-), sianosis (-/-)

Bawah : akral hangat, RCT < 2 detik, edema (-/-),sianosis (-/-)

STATUS DERMATOLOGIKUS
1. Distribusi

: Generalisata

2. Karakteristik :
a. Jumlah Multiple
b. Bentuk : tidak beraturan
c. Ukuran
i. Terbesar : 2x1 cm
ii. Terkecil : 0,5 x 0,5 cm
d. Berbatas Tegas
e. Menimbul
f. Kering
3. Efloresensi : Eritema sirkumskrip yang meninggi (plak), dengan skuama diatasnya

Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

PSORIASIS

Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

PSORIASIS

RESUME
Keluhan bercak eritema yang meninggi dengan skuama diatasnya terasa gatal sejak 3
bulan yang lalu. bercak eritema sirkumskrip dan merata pada sebagian lesi. Lesi yang sudah lama
eritema berada pada pinggirnya sedangkan pada bagian tengah eritema menghilang. Bercak
eritema yang lama lambat laun menghilang dan berubah menjadi hipopigmentasi. Bercak hipo
pigmentasi ini terasa gatal dan tidak baal. Skuama pada lesi kasar dan berlapis-lapis berwarna
putih. Pada saat pasien berkeringat tidak terasa bertambah gatal.
Pada Status Dermatologikus ditemukan bercak eritema yang meninggi disertai skuama kasar
diatasnya yang terdapat pada hamper seluruh tubuh, dengan jumlah multiple berbentuk tidak
beraturan berbatas tegas, kering dengan ukuran terbesar 2x1 cm dan ukuran terkecil 0.5 x0.5 cm

DIAGNOSA BANDING

Psoriasis Vulgaris

Tinea Corporis

Dermatitis seboroik

Diagnosa Kerja

Psoriasis Vulgaris

Penatalaksanaan
Pengobatan Umum
Menjelaskan kepada pasien tentang penyakit dan penatalaksanaannya
Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

PSORIASIS
Membersihkan serta memotong kuku
Mencegah garukan dan gosokan
Istirahat yang cukup
Rajin olahraga dan mengontrol berat badan karena penyakit ini dipengaruhi oleh
berat badan
Menghindari faktor pencetus, seperti stress dan lainnya
Minum obat dan kontrol ke dokter secara teratur

Pengobatan khusus
Topical : Bethametason dipropionat 0.05% 2x1
Cetirizine syrup 5mg 1x1
PROGNOSA
Ad vitam

: bonam

Ad fungsionam

: bonam

Ad sanationam

: malam

Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

PSORIASIS

TINJAUAN PUSTAKA
PSORIASIS

DEFINISI
Psoriasis ialah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik dan residif, ditandai
dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis
dan transparan, disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz, dan kobner.1

SINONIM
Psoriasis juga disebut Psoriasis Vulgaris berarti psoriasis yang biasa, karena ada psoriasis
lain, misalnya psoriasis pustulosa.1

EPIDEMIOLOGI
Psoriasis adalah hyperproliferation dari keratinosit epidermis dikombinasikan dengan
peradangan pada epidermis dan dermis. Ini mempengaruhi sekitar 1 hingga 5% dari penduduk di
seluruh dunia; orang yang berkulit terang beradfa pada risiko yang lebih besar. Puncak onset
adalah kira-kira paling sering padfa usia 16-22 dan pada usia 57-60 tahun, tapi kondisi dapat
terjadi pada usia berapa pun.2

ETIOPATOGENESIS 1
Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

PSORIASIS
Faktor genetik berperan. Bila orangtuanya tidak menderita psoriasis risiko mendapat psoriasis
12%, sedangkan jika salah seorang orangtuanya menderita psoriasis risikonya mencapai 34-39%.
Berdasarkan awitan penyakit dikenal dua tipe : psoriasis tipe I dengan awitan dini bersifat
familial, psoriasis tipe II dengan awitan lambat bersifat nonfamilial. Hal lain yang menyokong
adanya faktor genetik ialah bahwa psoriasis berkaitan dengan HLA. Psoriasis tipe I berhubungan
dengan HLA-B13, B17, Bw57, dan Cw6. Psoriasis tipe II berkaitan dengan HLA-B27 dan Cw2,
sedangkan psoriasis pustulosa berkorelasi dengan HLA-B27.
Faktor imunologik juga berperan. Defek genetik pada psoriasis dapat diekspresikan pada salah
satu dari tiga jenis sel, yakni limfosit T, sel penyaji antigen (dermal), atau keratinosit. Keratinosit
psoriasis membutuhkan stimuli untuk aktivasinya. Lesi psoriasis matang umumnya penuh
dengan sebukan limfosit T pada dermis yang terutama terdiri atas limfosit T CD4 dengan sedikit
sebukan limfositik dalam epidermis. Sedangkan pada lesi baru umumnya lebih banyak
didominasi oleh limfosit T CD*. Pada lesi psoriasis terdapat sekitar 17 sitokin yang produksinya
bertambah. Sel langerhans juga berperan pada imunopatogenesis psoriasis. Terjadinya proliferasi
epidermis diawali dengan adanya pergerakan antigen, baik eksogen maupun endogen oleh sel
langerhans. Pada psoriasis pembentukan epidermis (turn over time) lebih cepat, hanya 3-4 hari,
sedangkan pada kulit normal lamanya 27 hari. Nickoloff (1998) berkesimpulan bahwa psoriasis
merupakan penyakit autoimun. Lebih 90% kasus dapat mengalami remisi setelah diobati dengan
imunosupresif.
Berbagai faktor pencetus pada psoriasis yang disebut dalam kepustakaan, di antaranya stress
psikik, infeksi fokal, trauma (fenoma Kobner), endokrin, gangguan metabolic, obat, juga alcohol
dan merokok. Stres psikik merupakan factor pencetus utama. Infeksi fokal mempunyai hubungan
erat dengan salah satu bentuk psoriasis ialah psoriasis gutata, sedangkan hubungannya dengan
psoriasis vulgaris tidak jelas. Pernah dilaporkan kasus-kasus psoriasis gutata yang sembuh
setelah diadakan tonsilektomia. Umumnya infeksi disebabkan oleh Streptococcus.
Faktor endokrin rupanya mempengaruhi perjalanan penyakit. Puncak insidens psoriasis pada
waktu pubertas dan menopause. Pada waktu kehamilan umumnya membaik, sedangkan pada
masa pascapartus memburuk. Gangguan metabolisme, contohnya hipokalsemia dan dialysis telah
dilaporkan sebagai faktor pencetus. Obat yang umumnya dapat menyebabkan residif ialah beta Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

PSORIASIS
adrenergic blocking agents, litium, antimalaria dan penghentian mendadak kortikosteroid
sistemik.

GEJALA KLINIS
Keadaan umum tidak dipengaruhi, kecuali pada psoriasis yang menjadi eritroderma.
Sebagian penderita mengeluh gatal ringan. Tempat predileksi pada kulit kepala, perbatasan
daerah tersebut dengan muka, ektremitas bagian ekstensor terutama siku serta lutut, dan daerah
lumbosakral.
Kelainan kulit terdiri atas bercak-bercak eritema yang meninggi (plak) dengan skuama
diatasnya. Eritema berbatas tegas dan merata, tetapi pada stadium penyembuhan sering eritema
yang di tengah menghilang dan hanya terdapat di pinggir. Skuama berlapis-lapis, kasar, dan
berwarna putih seperti mika, serta transparan. Besar kelainan bervariasi : lentikular, nummular
atau plakat, dapat berkonfluensi. Jika seluruhnya atau sebagian lentikuar disebut psoriasis gutata,
biasanya pada anak-anak dan dewasa muda dan terjadi setelah infeksi akut oleh Streptococcus.
Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner (isomorfik). Kedua
fenomena yang disebut lebih dahulu dianggap khas, sedangkan yang terakhir tak khas, hanya
kira-kira 47% yang positif dan didapati pila pada penyakit lain, misalnya liken planus dan veuka
plana juvenilis.
-

Fenomena tetesan lilin ialah skuama yang berubah warnanya menjadi putih pada
goresan, seperti lilin yang digores, disebabkan oleh berubahnya indeks bias. Cara
menggores dapat dengan pinggir gelas alas.

Fenomena Auspitz, tampak serum atau darah berbintik-bintik yang disebabkan karena
papilomatosis. Cara mengerjakannya : skuama yang berlapis-lapis itu dikerok, misalnya
dengan pinggir gelas alas. Setelah skuamanya habis, maka pengerokan harus dilakukan
perlahan-lahan, jika terlalu dalam tidak akan tampak perdarahan yang berbintik-bintik,
melainkan perdarahan yang rata.

Trauma pada kulit penderita psoriasis, misalnya garukan dapat menyebabkan kelainan
psoriasis dan disebut fenomena Kobner.

Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

10

PSORIASIS
Psoriasis juga dapat menyebabkan kelainan pada kulit dan kuku (50%), yang disebut pitting nail
atau nail pit berupa lekukan-lekukan miliar. Kelainan yang tidak khas ialah kuku yang keruh,
tebal, bagian distalnya terangkat karena terdapat lapisan tanduk dibawahnya, dan onikolisis.
Disamping menimbulkan kelainan pada kulit dan kuku, penyakit ini dapat pila menyebabkan
kelainan pada sendi, tetapi menurut pengalaman kami jarang. Umumnya bersifat poliartikular,
tempat predileksinya pada sendi interfalangs distal, terbanyak terdapat pada usia 30-50 tahun.
Sendi membesar, kemudian terjadi ankilosis dan lesi kistik subkorteks. Kelainan pada mukosa
jarang ditemukan dan tidak penting untuk diagnosis sehingga tidak dibicarakan.`1
Bentuk Klinis
Psoriasis vulgaris
-

bentuk yang lazim ditemukan

dinamakan tipe plak karena lesi-lesinya berbentuk plak

Psoriasis gutata
-

diameter kelainan biasanya tidak lebih 1 cm

timbul mendadak dan diseminata, umumnya setelah infeksi Streptococcus di saluran


napas bagian atas sehabis influenza atau morbili terutama pada anak dan dewasa muda

dapat timbul setelah infeksi yang lain, baik bacterial maupun viral 1

dapat berkembang pada pasien yang telah memiliki bentuk-bentuk lain psoriasis 4

Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

11

PSORIASIS

Psoriasis inversa (psoriasis fleksural)


-

tempat predileksi pada daerah fleksor sesuai dengan namanya 1

lesi biasanya muncul sebagai daerah meradang mulus tanpa bersisik permukaan

Psoriasis eksudativa
-

bentuk ini sangat jarang.

biasanya kelainan psoriasis kering, tetapi pada bentuk ini kelainannya membasah seperti
dermatitis akut

Psoriasis pustulosa
Terdapat 2 bentuk : bentuk lokalisata yakni psoriasis pustulosa palmoplantar (Barber),
dan bentuk generalisata yakni psoriasis pustulosa generalisata akut (von Zumbusch).
Psoriasis pustulosa palmoplantar (Barber)
-

bersifat kronik dan residif

mengenai telapak tangan dan kaki atau keduanya

Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

12

PSORIASIS
-

kelainan kulit berupa kelompok-kelompok pustul kecil steril dan dalam di atas kulit yang
eritematosa disertai gatal

Psoriasis pustulosa generalisata akut ( von Zumbusch)


-

Sebagai factor provokatif banyak, misalnya obat yang tersering karena penghentian
kortikosteroid sistemik. Obat lain contohnya : penisilin dan derivatnya (ampisilin dan
amoksisilin) serta antibiotik betalaktam yang lain, hidroklorokuin, KJ, morfin,
sulfapiridin, sulfonamide, kodein, fenilbutason, dan salisilat.

Factor lain selain obat ialah hipokalsemia, sinar matahari, alcohol, stress emosional, serta
infeksi bacterial dan virus

Gejala awalnya ialah kulit yang nyeri, hiperalgesia, disertai gejala umum berupa nausea,
malese, anoreksia.

Pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukositosis.

Eritroderma psoriasis
-

timbulnya bertahap atau tiba-tiba mengalami eritema menyebar

biasanya pada pasien dengan plak psoriasis (meskipun mungkin merupakan presentasi
pertama)

biasanya lesi yang khas untuk psoriasis tidak tampak lagi karena terdapat eritema dan
skuama tebal yang menyeluruh

ada kalanya lesi psoriasis masih tampak samara-samar, yakni lebih eritematosa dan
kulitnya lebih meninggi

paling sering disebabkan oleh penggunaan yang tidak tepat topical atau kortikosteroid
sistemik atau terapi cahaya 2

Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

13

PSORIASIS

Psoriasis melibatkan peradangan kulit bersifat kronis dan residif. Bila psoriasis dibiarkan
berlangsung lama dan tidak diobati dapat menimbulkan sindrom metabolic mengancam jiwa.
Gangguan kolesterol, jantung, kenaikan tekanan darah merupakan beberapa penyakit penyerta
psoriasis. Penyakit psoriasis makin lama cenderung makin luas (parah). Selain itu penderita juga
memiliki risiko tinggi mendapat penyakit jantung koroner (risiko menderita sindrom metabolik).
Oleh sebab itulah, penyakit psoriasis itu harus ditangani.3

HISTOPATOLOGI
Psoriasis memberi gambaran hitopatologik yang khas, yakni : parakeratosis, dan
akantosis. Pada stratum spinosum terdapat kelompok leukosit yang disebut abses Munro. Selain
itu terdapat pula papilomatosis dan vasodilatasi di subepidermis.1

DIAGNOSIS BANDING
Jika gambaran klinisnya khas, tidaklah sukar membuat diagnosis. Kalau tidak khas, maka
harus dibedakan dengan beberapa penyakit lain yang tergolong dermatosis eritroskuamosa.

Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

14

PSORIASIS
Pada diagnosis banding hendaknya selalu diingat, bahwa pada psoriasis terdapat tandatanda yang khas, yakni skuama kasar, transparan serta berlapis-lapis, fenomen tetesan lilin, dan
fenomen Auspitz.
Pada stadium penyembuhan telah dijelaskan, bahwa eritema dapat terjadi hanya
dipinggir, hingga menyerupai dermatofitosis. Perbedaannya ialah keluhan pada dermatofitosis
gatal sekali dan pada sediaan langsung ditemukan jamur.
Sifilis stadium II dapat menyerupai psoriasis dan disebut sifilis psoriasiformis. Penyakit
tersebut sekarang jarang terdapat, perbedaannya pada sifilis terdapat sanggama tersangka (coitus
suspectus), pembesaran kelenjar getah bening menyeluruh, dan tes serologik untuk sifilis (T.S.S.)
positif.
Dermatitis seboroik berbeda dengan psoriasis karena skuamanya berminyak dan
kekuning-kuningan dan berempat predileksi pada tempat yang seboroik.

PENGOBATAN
Dalam kepustakaan terdapat banyak cara pengobatan. Pada pengobatan psoriasis gutata
yang biasanya disebabkan oleh infeksi di tempat lain, setelah infeksi tersebut diobati umumnya
psoriasisnya akan sembuh sendiri.

PENGOBATAN SISTEMIK
1. Kortikosteroid
Kortikosteroid dapat mengontrol psoriasis, menurut pengalaman penulis dosisnya
ekuivalen dengan prednisone 20-30 mg per hari. Setalah membaik, dosis diturunkan
perlahan-lahan, kemudian diberi dosis pemeliharaan. Penghentian obat secara mendadak
akan menyebabkan kekambuhan dan dapat terjadi psoriasis pustulosa generalisata.

Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

15

PSORIASIS
2. Obat sitostatik
Obat sitostatik yang biasanya digunakan ialah metotreksat. Indikasinya ialah untuk
psoriasis, psoriasis pustulosa, psoriasis artritis dengan lesi kulit, dan eritroderma karena
psoriasis, yang sukar terkontrol dengan obat standar.
Metotreksat adalah antimetabolite paling sering diresepkan oleh dermatologist untuk
psoriasis berat5
Kontraindikasinya ialah kelainan hepar, ginjal, sistem hematopoetik, kehamilan,
penyakit infeksi aktif (misalnya tuberculosis), ulkus peptikum, colitis ulserosa, dan psikosis.
Cara penggunaan metotreksat ialah demikian. Mula-mula diberikan tes dosis inisial 5
mg per os untuk mengetahui, apakah ada gejala sensitivitas atau gejala toksik. Jika tidak
terjadi efek yang tidak dikehendaki dalam 3 hari diberikan dosis 3 x 2,5 mg, dengan interval
12 jam dalam seminggu dengan dosis total 7,5 mg. jika teidak tampak perbaikan dosis
dinaikkan 2,5 mg 5 mg per minggu. Biasanya dengan dosis 3 x 5 mg per minggu telah
tampak perbaikan. Cara lain ialah diberikan i.m. 7,5 mg 25 mg dosis tunggal setiap
minggu. Cara tersebut lebih banyak menimbulkan efek samping daripada cara pertama. Jika
penyakitnya telah terkontrol dosis diturunkan atau masa interval diperpanjang kemudian
dihentikan dan kembali ke terapi topical.
Efek sampingnya di antaranya ialah nyeri kepala, alopesia, juga terhadap saluran
cerna, sumsum tulang belakang, hepar, dan lien. Pada saluran cerna berupa nausea, nyeri
lambung, stomatitis ulserosa, dan diare. Jika hebat dapat terjadi enteritis hemoragik dan
perforasi

intestinal.

Depresi

sumsum

tulang

berakibat

timbulnya

leucopenia,

trombositopenia, kadang-kadang anemia. Pada hepar dapat terjadi fibrosis dan sirosis.
3. Levodopa
Levodopa sebenarnya dipakai untuk penyakit Parkinson. Di antara penderita
Parkinson yang sekaligus juga menderita psoriasis, ada yang membaik psoriasisnya dengan
pengobatan levodopa. Dosisnya antara 2 x 250 mg 3 x 500 mg, efek sampingnya berupa:
mual, muntah, anoreksia, hipotensi, gangguan psikik, dan pada jantung.
4. DDS
Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

16

PSORIASIS
DDS (diaminodifenilsulfon) dipakai sebagai pengobatan psoriasis pustulosa tipe
Barber dengan dosis 2 x 100 mg sehari. Efek sampingnya ialah : anemia hemolitik,
methemoglobinemia, dan agranulositosis.
5. Etretinat (tegison, tigason) dan asitretin (neotigason)
Etretinat merupakan retinoid aromatic, digunakan bagi psoriasis yang sukar
disembuhkan dengan obat-obat lain mengingat efek sampingnya. Dapat pula digunakan
untuk eritroderma psoriatika. Pada psoriasis obat tersebut mengurangi proliferasi sel
epidermal pada lesi psoriasis dan kulit normal.
Dosisnya bervariasi; pada bulan pertama diberikan 1 mg/kg BB, jika belum terjadi
perbaikan dosis dapat dinaikkan menjadi 1 mg/kg BB.
Efek sampingnya sangat banyak di antaranya pada kulit (menipis); selaput lender
pada mulut, mata, dan hidung kering; peninggian lifid darah; gangguan fungsi hepar;
hyperostosis; dan teratogenik.
Asitretin merupakan metabolit aktif etretinat yang utama. Efek samping dan
manfaatnya serupa dengan etretinat. Kelebihannya, waktu paruh eliminasinya hanya 2 hari,
dibandingkan dengan etretinat yang lebih dari 100 hari.
6. Siklosporin
Efeknya ialah imunosupresif. Dosisnya 6 mg/kg BB sehari. Bersifat nefrotoksik dan
hepatotksik. Hasil pengobatan untuk psoriasis baik, hanya setelah obat dihentikan dapat
terjadi kekambuhan.

PENGOBATAN TOPIKAL
1. Preparat ter
Obat topikal yang biasa kami gunakan ialah preparat ter, yang mempunyai efek
antiradang. Menurut asalnya preparat ter dibagi menjadi 3, yakni yang berasal dari :

Fosil, misalnya iktiol

Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

17

PSORIASIS

Kayu, misalnya oleum kadini dan oleum ruski

Batubara, misalnya : liantral dan likuor karbonis detergens

2. Kortikosteroid
Kortikosteroid topikal juga memberi hasil yang baik, sayang harganya terlalu mahal. Harus
dipilih golongan kortikosteroid yang poten, misalnya yang dengan senyawa fluor. Jika lesi
hanya beberapa dapat pula disuntikkan triamsinolon asetonid intralesi seminggu sekali.
3. Ditranol (antralin)
Obat ini dikatakan efektif. Kekurangannya ialah mewarnai kulit dan pakaian. Konsentrasi
yang digunakan biasanya 0,2-0,8% dalam pasta, salap atau krim. Lama pemakaian hanya 1/2 jam sehari sekali untuk mencegah iritasi. Penyembuhan dalam 3 minggu.
4. Pengobatan dengan penyinaran
Seperti diketahui sinar ultraviolet mempunyai efek menghambat mitosis, sehingga dapat
digunakan untuk pengobatan psoriasis. Cara yang terbaik ialah penyinaran secara alamiah,
tetapi sayang tidak dapat diukur dan jika berlebihan malah akan memperhebat psoriasis.
Karena itu digunakan sinar ultraviolet artificial, di antaranya sinar A yang dikenal sebagai
UVA. Sinar tersebut dapat digunakan secara tersendiri atau berkombinasi dengan psoralen (8metoksipsoralen, metoksalen) dan disebut PUVA, atau bersama-sama dengan preparat ter
yang dikenal sebagai pengobatan cara Goeckerman.
5. Calcipotriol
Calcipotriol (MC 903) ialah sintetik vit.D preparatnya berupa salap atau krim 50 mg/g,
efeknya antiproliferasi. Perbaikan setelah satu minggu. Efektivitasnya salap ini sedikit lebih
baik daripada salap betametason 17-valerat.
Efek sampingnya pada 4-20% penderita berupa iritasi yakni rasa terbakar dan tersengat,
dapat pula terlihat eritema dan skuamai. Rasa tersebut akan menghilang setelah beberapa hari
sesudah obat dihentikan.

PUVA
Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

18

PSORIASIS
Perawatan ini melibatkan pengambilan Oxsoralen-Ultra lisan kapsul, kemudian paparan
ultraviolet A (UVA) cahaya. Cahaya UVA biasanya tidak efektif untuk psoriasis, tetapi Oxsoralen
membuat tubuh lebih sensitif terhadap cahaya UVA. PUVA biasanya digunakan ketika lebih dari
10% dari kulit tubuh cepat terpengaruh atau ketika kliring diperlukan karena psoriasis memiliki
efek negatif seperti pada kehidupan mereka. Perawatan PUVA lebih kuat daripada UVB. PUVA
cenderung menyebabkan kanker kulit jika diberikan terlalu lama atau dicampur dengan obat
metotreksat atau Neoral. Baik PUVA dan UVB dapat dibuat bahkan lebih efektif bila diberikan
dengan dosis rendah obat Soriatane.6

ANAMNESIS
TEORI

KASUS

DEFINISI
Psoriasis merupakan penyakit inflamatorik Pada

anamnesis

didapatkan

keluhan

kronik dengan manifestasi klinis pada kulit terdapat bercak-bercak merah, bersisik
dan kuku. Lesi kulit biasanya merupakan pada leher belakang, ekstremitas atas perut,
plak eritematosa oval, berbatas tegas, punggung,

dan

ekstremitas

Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

bawah.
19

PSORIASIS
meninggi,

dengan

keperakan,

hasil

maturasi

prematur

skuama
proliferasi
dan

berwarna Kemungkinan
epidermis tersebut

kornifi

bercak-bercak

merupakan

reaksi

merah
inflamasi,

kasi kemudian sisik yang dikeluhkan pasien

inkomplet keratinosit dengan retensi nuklei merupakan


di stratum korneum (parakeratosis).

skuama

hasil

dari

hiperkeratinosit pada lesi.

Psoriasis berasal dari bahasa Yunani Pada anamnesis pasien mengeluhkan gatal
psora yang berarti gatal, ketombe atau ringan.
ruam. Umunya pasien tidak mengeluhkan
gatal atau mengeluhkan gatal ringan
PREDILEKSI
Letaknya dapat terlokalisir, misalnya pada Bercak kemerahan dan bersisik pada leher
siku, lutut atau kulit kepala (scalp) atau belakang,
menyerang hampir 100% luas tubuh.

ekstremitas

atas

perut,

punggung, dan ekstremitas bawah. Sesuai


dengan teori bahwa psoriasis ini dapat
mengenai hampir 100% bagian tubuh,
namun syaratnya harus kurang dari 90%,
karena jika lesi sudah mengenai lebih dari
90% maka diagnosis berubah menjadi
eritroderma.

EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini terjadi pada segala usia, Usia pasien adalah 7 tahun, kejadian ini
tersering pada usia 15-30 tahun. Puncak merupakan onset pertama yang dialami
usia kedua adalah 57-60 tahun. Bila terjadi oleh pasien. Hal ini tidak sesuai dengan
Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

20

PSORIASIS
pada usia dini (15-35 tahun), terkait HLA tinjauan pustaka yang mengatakan bahwa
(Human Leukocyte Antigen) I antigen usia tersering adalah 15-30 tahun.
(terutama HLA Cw6), serta ada riwayat
keluarga, lesi kulit akan lebih luas dan
persisten.

Menurut teori lesi kulit akan lebih luas dan


persisten bila onset <40 tahun, dan adanya
riwayat keluarga. Maka dari itu penting
untuk ditanyakan adanya riwayat penyakit
yang sama pada keluarga.

ETIOLOGI
Penyebab dasarnya belum diketahui pasti. Pada pasien ini tidak ditemukan adanya
Psoriasis merupakan penyakit kulit kronis riwayat penyakit keluarga, sehingga untuk
inflamatorik dengan faktor genetik yang faktor genetic dapat disingkirkan., untuk
kuat, dengan ciri gangguan perkembangan faktor

obat-obatan

dan diferensiasi epidermis, abnormalitas karena

pasien

dapat
ini

disingkirkan

sedang

tidak

pembuluh darah, faktor imunologis dan mengkonsumsi obat-obatan tertentu. Untuk


biokimiawi, serta fungsi neurologis.

etiologi dan faktor pencetus yang lainnya

Faktor pencetus: faktor Endokrin, infeksi


bakteri

atau

virus,

faktor

kimiawi,

masih harus ditanyakan

lebih lanjut,

apakah ada yang pasien alami atau tidak.

mekanik, dan termal, stress dan emosi,


obat-obatan.
GAMBARAN LESI
Lesi

klasik

eritematosa

psoriasis
berbatas

adalah

tegas,

plak Pada pasien didapatkan distribusi lesi

meninggi, generalisata,

di

area/regio

Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

facialis,
21

PSORIASIS
diselubungi oleh skuama putih. Lesi kulit abdominalis,
cenderung

simetris,

meskipun

inguinalis,

gluteus,

dapat ekastremitas superior dan inferior dextra et

unilateral.

sinistra., dengan lesi multipel, sirkumskrip,


lesi menimbul dari permukaan kulit,
sebagian lesi hipopigmentasi menyeluruh
dan sebagian hipopigmentasi pada bagian
tengah ukuran nummular hingga plakat,
diameter terkecil 0.5 cm dan diameter
terbesar >2 cm, bentuk tidak teratur, lesi
kering, efloresensi plak eritematosa dengan
skuama tebal berlapis, berwarna putih
seperti mika diatasnya (psoriasiformis).

TANDA YANG MENUNJANG


Fenomena tetesan lilin, Auspitz sign, Pada
Koebner sign.

pasien

tidak

didapatkan

hasil

fenomena tetesan lilin yang positif, dan


auspitz sign positif. Mungkin hal ini
dikarenakan

pasien

sudah

mengalami

penyembuhan atau dikarenakan tenaga


kerja yang kurang kompeten.
Manifestasi Klinis di Berbagai Organ
Kuku
Perubahan kuku muncul pada sekitar 40%

Setelah

dilakukan

pemeriksaan,

pada

pasien ini ditemukan adanya kelainan pada


kuku yaitu terdapat pitting nail. lidah

Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

22

PSORIASIS
pasien dengan psoriasis. Lekukan kuku pasien masih dalam keadaan normal, pada
(nail pitting) merupakan gambaran yang lidah, tidak didapatkan adanya geographic
paling sering muncul, pada berbagai jari tongue yang merupakan manifestasi klinis
kecuali jempol. Deformitas kuku lainnya pada organ lain yang sering terjadi pada
akibat kerusakan matriks kuku adalah kasus psoriasis.
onikodistrofi (kerusakan lempeng kuku),
crumbling nail, serta titik kemerahan pada
lunula.
Geographic Tongue
Geographic tongue atau benign migratory
glossitis merupakan kelainan idiopatik
yang berakibat hilangnya papil filiformis
lidah.

Lesi

biasanya

berupa

bercak

eritematosa berbatas tegas menyerupai peta


dan berpindah-pindah.

Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

23

PSORIASIS
Pengobatan

Tatalaksana pada pasien ini merupakan tatalaksana chronic plaque psoriasis severe,
karena lesi sudah meluas lebih dari 30% luas permukaan kulit, jadi seharusnya pasien diberikan
pengobatan systemic first line dengan menggunakan methotrexate dan juga pengobatan topical
glucocorticoid sebagai tatalaksana umum.

Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

24

PSORIASIS
Namun menimbang pada pasien ini berusia 7 tahun dan lesi dalam masa penyembuhan
penggunaan obat systemic firsl line yaitu metotrexat tidak digunakan. Hal ini juga untuk
menghindarkan efek samping dari metotrxat yang salah satunya adalah gangguan fungsi hati dan
ginjal.
Penggunaan dapat diberikan korticostreroid potensi tinggi sesuai pada algoritme
tatalaksana psoriasis. Kortikostreroid potensi tinggi yang digunakan adalah bethametason
dipropionat 0.05%. tujuan pemberian kortikosteroid ini adalah mengikat reseptor glukokorticoid
dan juga menekan sel-sel radang seperti IL-1 TNF dan lain sebagainya. Sehingga yang
diharapkan dari pemberian ini adalah berkurangnya reaksi radang pada tubuh pasien.
Bethametason dipropionat dapat digunakan 2 kali sehari dan dapat digunakan 2 sampai 4
minggu. Mengigat kortikosteroid juga memiliki efek samping bila digunakan jangka panjang
yaitu menekan hipotalamus, pituitary gland, pasien dapat menggunakan betametason selama 2
minggu setelah itu control kembali.
Alternative yang kedua adalah dengan penggunaan vitamin D analog yaitu calcipotrient
0.005%, obat ini dapat digunakan jika kortikosteroid tidak ada. Mengingat bahwa betametason
dapat ditemukan diberbagai tempat. Olehkarnanya pemberian tetap menggunakan betametason
sebagai topical treatment.
Selain itu pada pasien ini dapat dilakukan phototerapi treatment dengan menggunakan
NB-UVB (naroowband-UVB). Phototerapi ini aman digunakan pada anak dan pada penelitian 9
dari 11 anak mengalami penyembuhan setelah terapi selama 1 bulan tanpa mengalami resiko.
Pada pasien ini tidak boleh menggunakan PUVA. Alasannya adalah usia 7 tahun. PUVA memiliki
resiko yang lebih tinggi yaitu dapat memancarkan zat carsinogenic yang memicu kanker. Oleh
karena itu PUVA merupakan kontraindikasi pada pasien anak.
Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

25

PSORIASIS
Phototerapy treatment harus membutuhkan fasilitas yang cukup. Penulis tidak
mengetahui ada atau tidaknya fasilitas untuk treatment ini. Mengingat juga bahwa pasien ini
sudah mengalami perbaikan. Oleh karena itu phototerapi ini tidak digunakan.
Pasien mengeluhkan gatal ringan terkadang, tetapi tidak tergantung oleh waktu ataupun
aktivitas, oleh karena itu dapat diberikan certirizin sirup 5 mg diberikan 1 sendok teh perhari.

DAFTAR PUSTAKA

Gudjonsson, Johann E; Elder, James T. 2008. Psoriasis. Fitzpatricks Dermatology in General


Medicine, Seventh Editon, Volume One. McGrawHill. (Page: 169-193).

Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

26

PSORIASIS
Jacoeb, Tjut Nurul Alam. 2015. Psoriasis, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. FKUI: Jakarta.
(Hal. 213-222).

Yuliastuti, Dwinidya. 2015. Psoriasis, CDK-235/ Vol. 42 No. 12. (Hal: 901-906).

Ilmu penyakit kulit dan kelamin RSUD Kelas B Cianjur tahun 2016

27