Anda di halaman 1dari 26

Pergeseran Model Bisnis dari Teknologi Analog ke Teknologi

Digital

Kelompok 1:
Bonar S. Panjaitan
Fetty Arisandy
Lenie Okviana

TEKNOLOGI INDUSTRI KOMUNIKASI


PASCA SARJANA MANAJEMEN KOMUNIKASI BISNIS
UNIVERSITAS GUNADARMA
I

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas segala rahmat dan berkatnya
sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik. Makalah ini
membahas tentang Pergeseran Model Bisnis Dari Teknologi Analog Ke Teknologi
Digital.
Pada kesempatan penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ibu Dyah
Anggraini selaku Dosen mata kuliah teknologi industri komunikasi yang telah
memberikan referensi guna menyempurnakan isi makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh
dari sempurna, sehingga penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari para pembaca untuk perbaikan penulis dimasa yang akan datang.

Depok, Mei 2016

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN COVER.........................................................................................
i
KATA PENGANTAR......................................................................................... ii
DAFTAR ISI....................................................................................................... iii
BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah.......................................................
1.2
Rumusan Masalah ................................................................
1.3
Tujuan Penulisan...................................................................

1
2
2

PEMBAHASAN
2.1
Konsep umum media penyiaran radio................................ 3
2.2
Evolusi teknologi penyiaran radio (dari analog ke digital)... 19
2.2.1 Ragam teknologi radio dari masa ke masa dan fungsinya.... 19
2.2.2 Teknologi terkini, digital radio broadcasting,
radio streaming.................................................................... 20
2.3

Industri media penyiaran radio (dari konvensional/private ke


modern/jaringan antar stasiun penyiaran)............................. 28

BAB III

PENUTUP
3.1
Kesimpulan........................................................................... 40

DAFTAR PUSTAKA

II

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang demikian cepat
dalam dua dasawarsa terahir, telah mengubah secara drastis paradigma banyak
orang dalam memandang berbagai sisi kehidupan. Ditinjau dari bisnis media,
konvergensi teknologi informasi, telah menghasilkan suatu produk media seperti
internet yang dapat memberikan sebuah dunia dengan pilihan yang tanpa batas.
Perkembangan industri media di era globalisasi ini

juga semakin pesat

khususnya juga media elektronik televisi, hal ini juga dapat diamati dari
munculnya berbagai macam stasiun televisi swasta nasional di Indonesia.
Globalisasi informasi setiap media massa melahirkan suatu efek sosial yang
bermuatan perubahan nilai-nilai sosial budaya maupun ekonomi.

Penerapan teknologi dan pengelolaan perubahan teknologi adalah hal yang

krusial dalam industri media. Memang ada jenis teknologi media yang relatif sudah
matang (mature), sehingga tidak terjadi perubahan teknologi yang drastis di
industri media tersebut. Namun, juga ada jenis teknologi media yang terus berubah
dan

berkembang

cepat,

sehingga

menuntut

praktisi

media

untuk

terus

mengikutinya, agar tidak ketinggalan zaman atau kalah dalam persaingan.

Industry media juga memiliki prospek yang yang baik bagi pertumbuhan
ekonomi nasional, ini juga dapat di lihat dengan munculnya berbagai media
swasta nasional yang ada di Indonesia sebagai industri. Media ini juga dapat
berfungsi sebagai sumber atau produsen informasi bagi masyarakat, khususnya
yang ada di Indonesia seperti berita, hiburan dan pendidikan. Selain
memproduksi informasi ini, industri media juga dapat mengahsilkan
kesejahteraan kerja ataupun menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat
khususnya masyarakat Indonesia.
Perkembang teknologi komunikasi yang semakin canggih dan dengan
adanya konvergensi memberikan berbagai perubahan kepada kehidupan
manusia. Gray, dalam McDougall membantu kita untuk menghilangkan
pemikiran biner (1.0 atau 2.0) dan melihat bahwa ada suatu area di tengah1

tengahnya yang bertemu dalam satu titik. Area inilah yang disebut sebuah
konvergensi, lebih jelasnya konvergensi media adalah sebuah proses di mana
garis atau batas antar media seperti telepon, radio, televisi, dan komunikasi
massa lainnya samar atau kabur. Dengan kata lain, segala sesuatu yang
sebelumnya hanya bisa disajikan lewat satu media massa, kini bisa disajikan
dalam beberapa cara. Konvergensi media telah membawa perubahan terhadap
banyak hal. Perubahan tersebut tidak hanya dapat dilihat dari cara kita dalam
menggunakan media itu sendiri, tetapi juga dari cara pemilik media mengelola
bisnis medianya.
1.2

Rumusan Masalah
1) Bagaimana konsep umum media penyiaran radio?
2) Bagaimana prose evolusi teknologi penyiaran radio (dari analog ke digital) ?
3) Bagaimana industri media penyiaran radio (dari konvensional/private ke
modern/jaringan antar stasiun penyiaran) ?

1.3

Tujuan Penulisan
Menambah

wawasan

mengenai

perkembangan

media

penyiaran

radio

(Pengertian, perkembangan, serta industri), sebagai bahan pembelajaran bagi seluruh


pembaca.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Bisnis Media


Media Analog
Media analog merupakan sebuah perangkat yang digunakan pada zaman yang masih
awam akan teknologi sekarang, dan pada dasarnya masih menggunakan sebuah sistem
yang manual dan tentu saja dengan alat yang masih sangat sederhana. Teknologi analog
memiliki beberapa jenis, salah satunya sinyal. Bentuk sinyal dari teknologi analog
2

berupa gelombang. Sinyal analog dapat berfungsi dengan mentransmisikan suara dan
gambar dalam bentuk gelombang. Tentunya teknologi analog memiliki kelemahan yang
cukup banyak, dari tidak bisanya mengukur sesuatu atau mentransmisikan dengan
cukup teliti karena disebabkan kemampuan untuk secara konsisten terus menerus
merekam perubahan yang juga terjadi secara terus menerus. Dalam setiap pengukuran
yang dilakukan oleh teknologi analog ini selalu ada peluang keragu-raguan akan hasil
yang dicapai karena jika salah pengukuran akan berdampak besar dalam hasil akhirnya.
Perangkat analog biasanya merupakan campuran dari kedua analog mesin dan analog
media yang keduanya dapat mengukur, merekam, atau memperbanyak terus menerus
informasi, misalnya hampir tidak terbatas jumlah nilai dan transparasi, rotasi atau
tekanan. Informasi terus menerus memiliki jumlah tak terbatas kemungkinan nilai
dengan pembatasan hanya pada resolusi menjadi akurasi dari perangkat analog.
Media Digital
Media digital merupakan perangkat dalam bentuk media elektronik dimana data
disimpan dalam bentuk digital form. Perangkat ini juga sangat pesat berkembang seiring
dengan berjalannya kecanggihan teknologi saat ini. Banyak orang telah menggunakan
perangkat digital untuk mempermudah aktivitas mereka maupun digunakan untuk
hiburan semata. Asosiasi industri media digital Florida, Digital Media Alliance Florida
mendefinisikan media digital sebagai konvergensi kreatif seni digital, ilmu pengetahuan,
teknologi dan bisnis untuk ekspresi manusia, komuniasi, interaksi sosial dan
pendidikan. Media digital penggunaanya pun sangatlah mudah tidak terkesan kuno
seperti alat alat analog yang masih menggunakan sistem manual. Pada perangkat digital
ini kita dapat mengerjakan sesuatu secara cepat atau istilahnya instan tanpa banyak
menggunakan tenaga manusia. Teknologi digital terutama digunakan dengan media
komunikasi fisik baru, seperti satelitte dan transmisi serat optik. Modem digunakan
untuk mengubah informasi digital di komputer ke sinyal analog untuk saluran telepon
dan untuk mengkonversikan sinyal telepon analog ke informasi digital untuk komputer.
Teknologi digital pada dasarnya sistem yang menghitung secara cepat yang memproses
semua bentuk informasi sebagai nilai-nilai numeris. Teknologi ini juga dapat mengubah
sinyal menjadi kombinasi urutan bilangan 0 dan 1 (bilangan biner) untuk memproses
informasi yang lebih mudah, cepat dan akurat dan sinya tersebut disebut bit.
3

Perbedaan Media Analog dengan Media Digital


Nah, dari penjelasan sebelumnya memang banyak terdapat kelemahan dan kelebihan
dari media analog dan media digital. Berikut merupakan perbedaan yang terdapat dari
media analog dengan media digital.
Media Analog:
Masih menggunakan sistem manual atau menggunakan tenaga manusia.
Alatnya sangatlah sederhana.
Peluang terjadinya salah perhitungan atau kesalahan cukup besar.
Sangat tidak efisien untuk data.
Kecepatan pengiriman data lambat.
Sinyal pada teknologi analog disebut baud.

Media Digital:
Sistemnya sudah bekerja secara otomatis.
Alatnya canggih.
Memiliki perhitungan yang sangat akurat dan jarang membuat kesalahan.
Efisien untuk data.

Memiliki kecepatan cahaya dalam pengiriman data.


Dapat memproses informasi dalam ukuran yang besar.
Pemrosesan yang berulang-ulang tidak mempengaruhi kualitas dan kuantitas sebuah
data.
Kompresi dan mudah untuk ditransfer untuk ke media elektronik lain.
Sinyal pada teknologi digital disebut bit.
Bisnis di industri media saat ini sudah sangat dipengaruhi oleh konvergensi. Industri
media sudah melebarkan sayapnya untuk dapat berbisnis dalam banyak platform agar
target pemasaran mereka juga kian bertambah. Kita dapat mengambil contoh dalam
bisnis pertelevisian, sebelum adanya konvergensi sebuah acara yang kita saksikan di
televisi tidak bisa kita saksikan melalui media lain. Jika dikaitkan dengan Korean
wave di mana banyak masyarakat Indonesia yang senang menonton drama Korea,
sebelum adanya konvergensi, mereka hanya bisa menontonnya melalui televisi. Namun
saat ini tidak hanya melalui televisi, tapi kita juga bisa menontonnya melalui telepon
genggam dengan bantuan internet. Berkat internet, informasi mengenai budaya populer
Korea tersebut dengan mudah didapatkan oleh penggemar, menumbuhkan adanya
forum-forum online yang membahas segala hal mengenai kegiatan fandom tersebut.
Adanya forum-forum tersebut menimbulkan diskusi-diskusi berkelanjutan antar sesama
penggemar.
Tidak hanya bisnis media televisi, bisnis media cetak juga terkena perubahan
sebagaimana terjadi kepada bisnis media televisi. Pergeseran segala sesuatu menjadi
digital juga memberikan dampak kepada media cetak. Seperti halnya media cetak yang
sudah mulai beralih kepada media online. Tidak dapat dipungkiri lagi, banyak media
cetak yang kini mulai melebarkan sayapnya ke media online karena adanya perubahan
preferensi masyarakat dalam mencari informasi. Masyarakat yang dulu selalu membaca
koran dan meminum secangkir kopi di teras rumah ketika pagi kini lebih memilih
membaca berita lewat gadget mereka masing-masing di sela-sela kemacetan menuju
5

tempat mereka beraktivitas. Masyarakat saat ini lebih menyukai segala sesuatu yang
praktis sehingga media cetak yang konvensional saat ini sudah mulai ditinggalkan.

1.1.1. Konvergensi Media


Pengertian Convergence atau Konvergensi secara harfiah adalah dua benda atau
lebih bertemu/bersatu di suatu titik; pemusatan pandangan mata ke suatu tempat yang
amat dekat. Secara umum, konvergensi adalah penyatuan berbagai layanan dan
teknologi komunikasi serta informasi (ICTS Information and Communication
Technology and Services). Dalam arti paling umum, konvergensi berarti runtuhnya
penghalang lama yang sebelumnya memisahkan ICTS antara industri dan industri,
antara aplikasi dan aplikasi, antara produser dan konsumen, antara negara dan negara.
Masing-masing mempengaruhi kepemilikan minoritas, penggunaan dan akses teknologi
informasi (IT) dengan berbagai cara.
Teknologi informasi mutakhir telah berhasil menggabungkan sifat-sifat
teknologi telekomunikasi konvensional yang bersifat massif dengan teknologi komputer
yang bersifat interaktif. Fenomena ini lazim disebut sebagai konvergensi, yakni
bergabungnya media telekomunikasi tradisional dengan internet sekaligus. Konvergensi
menyebabkan perubahan radikal dalam penanganan, penyediaan, distribusi dan
pemrosesan seluruh bentuk informasi baik visual, audio, data dan sebagainya (Preston,
2001).
Kunci dari konvergensi adalah digitalisasi, kerena seluruh bentuk informasi
maupun data diubah dari format analog ke format digital sehingga dikirim ke dalam
satuan bit (binary digit). Karena informasi yang dikirim merupakan format digital,
konvergensi mengarah pada penciptaan produk-produk yang aplikatif yang mampu
melakukan fungsi audiovisual sekaligus komputasi. Maka jangan heran jika sekarang ini
komputer dapat difungsikan sebagai pesawat televisi, atau telepon genggam dapat
menerima suara, tulisan, data maupun gambar tiga dimensi (3G).
Konvergensi media dilakukan tidak semata-mata hanya untuk mengikuti
perkembangan teknologi saja. Saling berintegrasinya media massa konvensional dengan
6

media online, memungkinkan terjadinya perluasan cakupan dalam skala apapun. Baik
perluasan jaringan, perluasan khalayak hingga perluasan interaksi yang muncul. Selain
itu pengaruh dari perubahan bentuk penyampaian pesan (dari print menjadi siaran dan
kini internet) juga akan berdampak kepada bentuk organisasi yang ada. Dampak dari
organisasi ini tentunya juga menjadi satu bagian tersendiri yang tidak terlepas dari
perbincangan masa depan konvergensi media, terutama dalam manajemen media massa
dan struktur news room.
Dengan adanya perubahan media komunikasi, maka struktur organisasi dalam
news room perlu penyesuaian. Berubahnya media yang pada awalnya bersirkulasi harian
menjadi detik dan menit. Kemampuan yang dibutuhkan juga bertambah dengan adanya
sifat multimedia. Sedangkan dalam manajemen penyesuaian juga dilakukan dalam
menyokong sifat multichannel yang menjadi konvergensi media. Masa depan dari
konvergensi media dapat dilihat dari dua sisi yaitu perkembangan teknologi dan industri
media.
1.1.2. Peralihan Media Massa Konvensional menjadi Media Digital
Beberapa ahli seperti Owen, Negroponte, dan Gilder memandang digitalisasi
sebagai basis menuju konvergensi, sementara lainnya seperti Henry Jenkins (2006) dan
Friedrich Kittler (1999) melihat platform digital sebagai basis interoperabilitas antara
jenis media diskrit dengan kode digital. Penemu pertama kata konvergensi adalah
Ithiel de Sola Pool menggambarkan konvergensi dalam Technologies of Freedom
(1983), menjelaskan bagaimana media itu menjadi saling-bergantung, dan berimplikasi
pada saling menentukan kebijakan publik.
Digitalisasi terjadi di semua lini, tidak hanya text dan gambar diam, suara dan
gambar bergerak (video) juga mengalami proses digitalisasi. Melalui digitalisasi semua
jenis media konvensional seperti cetak, telepon, film, televisi, dan komputer akan
terpadu di Internet. Dunia digital digambarkan Owen sebagai salah satu bentuk
komunikasi titans untuk bertahan hidup. Akhir dari apa yang disebut ekonom Joseph
Schumpeter sebagai badai kehancuran kreatif, yakni barang-barang lama mati dan
yang baru bermunculan menggantikannya (Kauffman, 2002:216).
Dengan adanya digitalisasi video, sebuah siaran televisi tidak lagi hanya dapat
ditonton melalui televisi kabel atau sinyal UHF. Siaran televisi kini dapat dinikmati
7

dengan jaringan internet baik dalam bentuk live streming atau dalam bentuk pemutaran
biasa dari arsip yang telah disediakan. Pada awalnya siaran berlangsung di televisi tidak
dapat dinikmati oleh setiap orang, terlebih lagi ketika mereka melewatkan jam tayang
yang ada. Kini mereka dapat memutar ulang siaran yang mereka inginkan dan
mengarsipkannya sendiri.
Selain itu, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (ICT)
menimbulkan peluangpeluang baru dalam berbisnis. Salah satunya adalah bisnis
multimedia content provider. Konsep multimedia di era ICT tidak sekadar banyak
media, seperti media cetak, media elektronik, atau media online. Namun, di era ICT,
multimedia berbicara mengenai konvergensi, yaitu bagaimana sumbersumber informasi
yang tersaji dalam pelbagai media bermuara pada satu jendela.
1.1.3. Industri Media
Dalam industri media konvergensi menjadi sudah terjadi berulang-ulang
khususnya dalam industri jurnalistik. Penyebaran awalnya dengan media cetak, lalu
radio, kemudian televisi, lalu tv kabel dan kini internet. Tidak hanya perubahan bentuk
media penyampaian, struktur organisasi juga diharuskan untuk berubah menyesuaikan
setiap karakter dari setiap media yang digunakannya.
Dalam menjalani konvergensi media, industri-industri media diharuskan
memiliki berbagai media untuk dapat menjalankan bentuk multiplatform. Bentuk ini
memberikan keuntungan kepada industri media dikarenakan setiap bentuk media dapat
menutupi kekurangan yang dimiliki oleh media lainnya. Seperti halnya teaser berita di
televise dapat disampaikan melalui radio atau online atau teaser penjelasan lengkap
data-data yang akan dimuat oleh Koran dapat diberikan melalui web, tv, atau radio.
Bagi media-media besar, dibandingkan untuk dapat menjalankan sebuah media
baru akan lebih menguntungkan jika melakukan akuisisi media-media yang lebih kecil
darinya. Seperti halnya Trans Corp yang membeli Detik [dot] com. Pengelompokan
media lokal maupun nasional, serta dorongan untuk makin meningkatkan efisiensi,
menurunkan cost, dan meningkatkan profit, memunculkan berbagai merger atau aliansi
antara berbagai institusi media, khususnya di media televisi siaran di Indonesia. Hal ini
bisa dilihat dari mengelompoknya RCTI, TPI, dan Global TV di bawah payung MNC
8

(PT. Media Nusantara Citra). Kelompok kedua, dengan payung PT. Bakrie Brothers
(Grup Bakrie), membawahi: ANTV dan Lativi. Kelompok ketiga, dengan payung PT.
Trans Corpora (Grup Para), membawahi: Trans TV dan Trans7 (dulu TV7).
Konvergensi perusahaan media juga melahirkan grup media, yang dapat
memanfaatkan materi berita yang sama untuk disebar ke berbagai jenis media yang
berbeda di bawah naungannya. Bayangkanlah, sebuah grup perusahaan media yang
membawahi produk media suratkabar, majalah, radio, televisi, dan situs Internet. Karena
pertimbangan efisiensi dan sinergi, tentu akan sangat mengurangi biaya operasi dan
meningkatkan keuntungan, jika item berita karya seorang jurnalis di satu media bisa
dimanfaatkan pula di mediamedia lain dalam satu grup media yang sama. Hal semacam
ini sudah lama dilakukan di jaringan suratkabar di bawah Grup Jawa Pos.
Tidak semua media besar membeli media kecil. Kompas Gramedia tidak hanya
melakukan akuisisi tetapi juga membentuk divisi baru atau anak perusahaan baru
dengan kanal yang berbeda. Kompas yang berdiri tahun 1965 awalnya hanya bergerak
dibidang industri media cetak dalam bentuk Koran Kompas. Pada tahun 2008 Kompas
Gramedia mendirikan Cyber Media yang menangani Kompas[dot]com dan kompas
dalam jaringan (daring) selanjutnya pada tahun 2011 Kompas Gramedia Mendirikan
Kompas TV.
Dengan memiliki bentuk cetak, televisi, digital, dan tersebar melalui internet,
sebuah industri media sudah memasuki tahap 3M (multimedia, multichannel,
multiplatform) yang menjadi ciri konvergensi.
Secara keseluruhan dalam melakukan konvergensi media maka sebenarnya ada
juga perubahan budaya dari media tersebut. Disaat sebuah perusahaan industri media di
akuisisi oleh media lain maka budaya perusahaan harus mengikuti dengan perusahaan
yang mengakuisisi. Disamping itu ketika dua atau lebih perusahaan melakukan
penggabungan maka harus bisa menggabungkan baik manajemen maupun budaya kerja
sehingga tercipta kondisi yang baik dan menghasilkan keuntungan.
Disamping

bentuk

multiplatform,

konvergensi

media

juga

mencakup

multimedia. Dengan dukungan dari bentuk digitalisasi dan internet, multimedia menjadi
ciri paling menonjol dalam penyampaian sebuah informasi berita melalui media online.
9

Bentuk multimedia ini memberikan keuntungan bagi para industri media. Dengan
pemanfaatan bentuk ini maka tidak lagi akan ada kesalahan dari kutipan yang biasanya
ditulis reporter atau editor. Dengan memanfaatkan bentuk multimedia kualitas berita
menjadi semakin baik karena adanya bukti yang lebih kuat tidak hanya sekedar tulisan.
Bentuk multimedia ini memberikan tantangan tersendiri kepada individu dalam
pekerja industri media massa. Keahlian yang dimiliki oleh mereka menjadi lebih banyak
jika dibandingkan media konvensional sebelum konvergensi. Seorang jurnalis cetak
harus mampu mengoperasikan alat dan melakukan proses editing video dan suara.
Terjadinya banyak merger antar media, mendorong konsentrasi kepemilikan.
Contoh, 75 persen dari seluruh suratkabar Amerika dimiliki oleh jaringan suratkabar
nasional, dan empat dari jaringan tersebut mengontrol 21 persen pasar. Kepemilikan
silang perusahaan media dengan perusahaan non-media (perusahaan minyak, energi
nuklir, dsb), membuat perusahaan media kurang kritis terhadap praktik perusahaanperusahaan non-media yang bersaudara dengannya. Berkembangnya teknologi
informasi (information technology / IT) semenjak akhir milenium kedua telah
menyebabkan sejumlah perubahan mendasar dalam kehidupan manusia masa kini.
Perubahan

tersebut

muncul

seiring

lahirnya

mekanisme

baru

dalam

berkomunikasi yang ditandai dengan penggunaan multimedia dimana teks, suara,


gambar atau grafis dapat diakses sekaligus ke dalam seperangkat media. Masyarakat
masa kini dapat mengakses informasi secara cepat dan lengkap melalui penggunaan alat
komunikasi seperti telepon rumah, telepon genggam, televisi, komputer, dan berbagai
media elektronik lainnya yang telah dilengkapi dengan jaringan internet.
Peran Teknologi: Value Chain
Alat dasar untuk memahami peran teknologi dalam keunggulan kompetitif adalah rantai
nilai. Sebuah perusahaan media, sebagai suatu kumpulan aktivitas-aktivitas, adalah juga
kumpulan teknologi-teknologi. Teknologi itu melekat di dalam setiap aktivitas nilai (value
activity) di dalam sebuah perusahaan media. Perubahan teknologi bisa dibilang dapat
mempengaruhi kompetisi melalui dampaknya terhadap setiap aktivitas.

10

Setiap aktivitas nilai menggunakan beberapa teknologi untuk mengkombinasikan masukan


yang dibeli (purchased inputs) dan sumberdaya manusia, untuk memproduksi beberapa
keluaran (output). Untuk media suratkabar, perusahaan tentu harus membeli kertas koran,
tinta percetakan, jasa percetakan (jika tak punya mesin cetak sendiri), dan sebagainya.
Keluarannya tentu saja adalah produk suratkabar, yang dijual melalui cara eceran atau
berlangganan.

Teknologi yang diterapkan di perusahaan media ini mungkin biasa-biasa saja. Misalnya,
seperangkat aturan sederhana tentang kehadiran karyawan di kantor, serta prosedur
pembagian tugas antara redaktur pelaksana, redaktur bidang (politik-keamanan, ekonomikeuangan, sosial-budaya), reporter, koordinator liputan, sekretariat redaksi, bagian litbang,
dokumentasi,

perpustakaan,

dan

sebagainya.

Sejumlah teknologi yang diterapkan mungkin melibatkan beberapa disiplin ilmiah tertentu
atau sub-teknologi. Teknologi penanganan kertas koran dalam logistik, misalnya,
melibatkan disiplin keilmuan seperti: teknik industri, elektronik, teknik mesin, dan
sebagainya. Teknologi dari sebuah aktivitas nilai mewakili kombinasi dari berbagai subteknologi.

11

Dalam konteks media suratkabar, misalnya, aktivitas utama (primary activities) tentunya
terkait dengan proses produksi berita, karena memang produk inilah yang dijual ke
konsumen. Tetapi teknologi tidak cuma diterapkan pada proses produksi berita, namun
juga

pada

aktivitas-aktivitas

pendukung

(support

activities).

Manajemen sumberdaya manusia (Divisi HRD), misalnya, melakukan riset tentang motivasi
karyawan dan menggunakan teknologi untuk pelatihan-pelatihan. Infrastruktur perusahaan
media juga melibatkan banyak jenis teknologi, mulai dari peralatan kantor sampai riset
hukum

dan

perencanaan

strategis.

Teknologi sistem informasi tampaknya meresap dalam rantai nilai, mengingat setiap
aktivitas nilai menciptakan dan menggunakan informasi. Sistem informasi digunakan dalam
penjadwalan, pengendalian, optimisasi, pengukuran, dan aktivitas-aktivitas pencapaian
lainnya.

Teknologi sistem informasi juga berperan penting dalam keterkaitan (linkage) antara
seluruh jenis aktivitas, karena koordinasi dan optimisasi kaitan-kaitan itu membutuhkan
arus informasi di antara mereka. Akhir-akhir ini, perubahan teknologi yang cepat dalam
sistem informasi memberi dampak besar pada kompetisi dan keunggulan kompetitif, karena
peran

meresap

Pengaruh

dari

informasi

Pada

pada

rantai

Keunggulan

nilai.

Kompetitif

Teknologi mempengaruhi keunggulan kompetitif jika ia memiliki peran signifikan dalam


penentuan posisi biaya relatif atau diferensiasi. Karena teknologi itu sudah menyatu dalam
setiap aktivitas nilai, dan terlibat dalam pencapaian keterkaitan antara semua aktivitas, ia
memiliki

dampak

yang

kuat

pada

biaya

dan

diferensiasi.

Kaitan antara perubahan teknologi dan keunggulan kompetitif mengisyaratkan adanya


sejumlah tes, mengenai arah perubahan teknologi yang diharapkan. Perubahan teknologi

12

oleh

sebuah

perusahaan

berkesinambungan,

akan

menjurus

berdasarkan

ke

arah

keunggulan

kondisi-kondisi

kompetitif
berikut

yang
ini:

Perubahan teknologi itu sendiri mengurangi biaya atau meningkatkan diferensiasi,


sedangkan

keunggulan

teknologi

perusahaan

itu

bersifat

berkesinambungan. Perubahan teknologi meningkatkan keunggulan kompetitif jika ia


menjurus ke pengurangan biaya atau diferensiasi, dan dapat dilindungi dari tindakan
peniruan. Faktor-faktor yang menentukan kesinambungan keunggulan teknologi itu
dijabarkan

di

bawah

ini.

Perubahan teknologi menggeser biaya atau pendorong keunikan (uniqueness


drivers) ke arah yang menguntungkan perusahaan. Perubahan teknologi pada sebuah
aktivitas nilai, atau perubahan produk dengan cara-cara yang mempengaruhi aktivitas nilai,
dapat mempengaruhi penggerak biaya atau keunikan dalam aktivitas tersebut.

Bahkan sekalipun perubahan teknologi itu ditiru, hal itu tetap akan menjurus ke keunggulan
kompetitif bagi perusahaan perintis, jika teknologi itu mencondongkan penggerak ke posisi
yang menguntungkan perusahaan. Misalnya, penerapan teknologi proses percetakan baru,
yang lebih peka-skala (scale-sensitive) ketimbang proses sebelumnya. Teknologi baru ini
tetap akan memberi keuntungan pada perusahaan suratkabar bertiras besar seperti
Kompas, yang sudah merintis lebih dulu. Walaupun kemudian media suratkabar kompetitor
akhirnya

juga

mengadopsi

teknologi

yang

sama.

Perintisan perubahan teknologi memberikan keunggulan posisi sebagai pengguna


pertama (first-mover), di samping adanya keunggulan yang inheren atau melekat
pada teknologi itu sendiri. Bahkan jika seorang inovator ditiru, si perintis itu mungkin
memperoleh berbagai potensi keunggulan sebagai pengguna pertama, baik dari segi biaya
maupun diferensiasi. Potensi keunggulan sebagai pengguna pertama itu tetap bertahan,
sekalipun

keunggulan

teknologi

13

itu

sudah

lenyap.

Ada

keuntungan

dan

ketidakuntungan

dari

posisi

sebagai

pengguna

pertama.

Perubahan teknologi mengembangkan keseluruhan struktur industri. Perubahan


teknologi yang mengembangkan seluruh struktur industri adalah hal yang diharapkan,
bahkan

sekalipun

teknologi

itu

mudah

ditiru.

Perubahan teknologi yang gagal menjalani tes-tes ini tidak akan meningkatkan posisi
kompetitif perusahaan, walaupun ia mungkin merupakan sebuah pencapaian atau
terobosan teknologi yang substansial. Perubahan teknologi akan menghancurkan
keunggulan kompetitif jika ia bukan hanya gagal dalam tes-tes ini, tetapi memberi dampak
berlawanan

dari

yang

dimaksud

dalam

tes.

Misalnya, ia justru mencondongkan biaya dan penggerak keunikan ke arah yang


menguntungkan posisi kompetitor. Sebuah perusahaan, mungkin juga berada dalam situasi
di mana perubahan teknologi mungkin berhasil memenuhi satu tes, namun memperburuk
posisi

perusahaan

Isu-isu

dalam

Manajemen

tes-tes

Terkait

yang

lain.

Teknologi

Pertumbuhan dan penyebaran teknologi memunculkan banyak tantangan bagi manajemen


media, yang melibatkan banyak area pengawasan dan administrasi. Ada berbagai isu yang
terkait dengan teknologi dan keseluruhan dampaknya pada organisasi media. Isu-isu ini
mencakup masalah personel (SDM), fragmentasi, dan penciptaan nilai dalam masyarakat
yang

makin

dikendalikan

oleh

teknologi

(technology-driven).

Pertama, teknologi berdampak pada personel dalam berbagai cara, dan menempatkan
persyaratan yang meningkat tentang jenis-jenis keterampilan yang dibutuhkan, agar bisa
sukses dalam industri media elektronik dan digital. Masalah personel, pekerja, buruh, SDM,
atau apapun istilahnya, adalah komponen yang terpenting dalam setiap organisasi.

Personel harus mampu terus-menerus beradaptasi terhadap tataran teknologi yang

14

berubah secara meluas. Selain keterampilan komputer dasar (program pengolah kata,
spreadsheets, database, dan presentasi), personel media digital dan elektronik
memerlukan jangkauan keterampilan teknologi yang lebih luas. Ini tentu tergantung pada
fungsi

kerja

dan

unit

tempat

mereka

ditugaskan.

Departemen seperti sales dan marketing, teknik, administrasi bisnis, dan produksi, semua
menuntut

keterampilan dengan

jenis

perangkat lunak

yang berbeda-beda,

plus

perlengkapan lain. Tantangannya bukan cuma mencari karyawan baru yang memiliki
keterampilan yang diinginkan, tetapi juga terus-menerus melatih ulang dan memperkuat
karyawan

yang

sudah

ada.

Manajemen perlu menginvestasikan lebih banyak sumberdaya untuk staf yang sudah ada,
agar mereka tetap terlatih dan siap menghadapi aplikasi dan teknologi baru, yang
berdampak pada fungsi kerja mereka. Perusahaan media elektronik dan digital akan terus
membutuhkan pekerja yang serba bisa, inovatif, dan mampu beradaptasi pada situasisituasi yang berbeda. Serta pekerja yang bersedia mempelajari proses-proses dan caracara

menjalankan

bisnis

yang

baru.

Kedua, fragmentasi audiens, yang dimunculkan oleh peningkatan opsi-opsi bagi hiburan
dan informasi, serta banyaknya teknologi konsumen baru (smartphones/mobile phones,
piranti tablet, perekam video digital, televisi interaktif, televisi 3D). Ini adalah isu manajemen
yang berat bagi perusahan media elektronik. Para manajer media tidak bisa menyetop
terjadinya fragmentasi. Mereka hanya dapat mencoba meminimalkan dampaknya.

Para manajer media elektronik tradisional harus mengembangkan strategi yang


komprehensif, melibatkan media baru dan media sosial, dengan berfokus pada platformplatform kunci yang dituntut bagi usaha-usaha bisnis spesifik mereka. Para manajer perlu
meninjau kembali metode-metode pendistribusian konten, yang melampaui pendekatanpendekatan

tradisional.

15

Pada saat yang sama, konten-konten yang kuat, khususnya yang berkaitan dengan
audiens lokal, memberikan sarana terbaik untuk membatasi dampak fragmentasi. Upayaupaya baru ini menuntut kreativitas serta upaya pemasaran yang diperluas, agar secara
memadai

bisa

mengarah

ke

konsumen.

Para pengiklan juga terkena dampaknya. Karena audiens bergeser dari media tradisional,
upaya untuk meraih komsumen menjadi lebih menantang dan lebih mahal. Para pengiklan
terus memindahkan lebih banyak uangnya ke platform-platform alternatif, untuk
menjangkau audiens yang terfragmentasi. Khususnya audiens dari kalangan muda, yang
tampaknya kurang suka membaca suratkabar, menonton jejaring TV siaran yang biasa,
atau

mendengarkan

radio

terrestrial.

Hal ini pada gilirannya akan mempengaruhi industri media elektronik, karena mereka terusmenerus harus mencari klien baru dan pada ujungnya, aliran pendapatan baruuntuk
mengimbangi

pembelotan

audiens

ini.

Fragmentasi juga menjadi alasan dasar lain di balik konsolidasi media dan konglomerasi.
Dengan mengembangkan dan mempromosikan skala dan cakupan ekonomi, perusahaan
media digital dan elektronik memiliki beberapa posisi tawar, dengan masuk ke pasar-pasar
baru.

Perusahaan-perusahaan yang lebih besar dapat menahan dampak fragmentasi dengan


jauh lebih mudah dibandingkan properti media yang lebih kecil, yang mungkin hanya
memiliki beberapa gerai (outlet). Untuk pengoperasian kecil semacam ini, fragmentasi
adalah ancaman ekonomi lain, yang menghadirkan tantangan yang harus diperhitungkan.

Ketiga, penciptaan nilai usaha (enterprise value). Semua bisnis beroperasi untuk
memperoleh laba, dan secara terus-menerus berusaha meningkatkan nilai perusahaan
mereka. Ini bukan hanya untuk para pemegang saham dan pemilik media, tapi untuk
menyediakan sumberdaya yang dibutuhkan agar bisa berfungsi dalam lingkungan yang

16

kompetitif. Isu kunci manajemen lainnya adalah membangun nilai bagi usaha mereka.

Ada banyak tantangan ekonomi yang secara negatif bisa berdampak pada setiap media.
Sebagai rangkuman, isu-isu manajemen yang signifikan berhubungan dengan peningkatan
nilai usaha, yang berlaku di semua industri media. Tak ada industri yang menawarkan
keunggulan kompetitif yang jelas-nyata atas pesaing-pesaing lain. Sementara, setiap jenis
media akan berjuang demi meraih audiens, pengiklan, dan masa depan ekonominya
sendiri.

Industri media elektronik dan digital akan terus menghadapi lingkungan yang berkembang
cepat berkat perubahan-perubahan pada teknologi. Tren-tren teknologi kunci akan
berdampak pada media elektronik, model bisnis, dan isu-isu manajemen yang terkait
dengan

teknologi

baru.

Teknologi distribusi tumbuh bagi industri media elektronik lewat berbagai platform digital,
yang menargetkan tempat tinggal dan piranti nirkabel (wireless). Teknologi konsumen juga
berkembang lewat smartphone, perekam video digital (DVR. digital video recorders), piranti
tablet, serta televisi yang dikembangkan (enhanced) dan interaktif.

2.4.

Kompetisi Dalam Industri Media Komunikasi


Globalisasi yang ditandai dengan pergerakan bebas informasi, uang, tenaga

kerja, produk budaya, produk barang dan jasa yang melintasi batas-batas tradisional
negara, makin mendesak berbagai industry media untuk betul-betul bersifat kompetitif
dan mempertimbangkan faktor untung rugi (cost-benefit). Jika industri media yang
bersangkutan mau survive. Jadi, tidak semata-mata hanya mempertimbangkan nilai
jurnalisme murni. Beberapa industri media cetak pada tahun-tahun terakhir ini terlihat
dengan jelas berupaya menghilangkan jarak antara news room atau bagian redaksi
(editorial) dengan bagian bisnis atau usaha. Mereka sudah mematok tanggal atau hari
tertentu untuk halaman khusus otomotif, teknologi informasi, pendidikan, dan
sebagainya. Penentuan tanggal dan hari tersebut dikoordinasikan jauh-jauh hari, antara
bagian redaksi dan bagian sales, marketing, dan periklanan.Tujuannya, supaya di
17

halaman koran tersebut terjadi kombinasi content yang sesuai antara artikel/berita
dengan iklan yang dipasang.
Artikel-artikel yang bertopik otomotif misalnya, akan didampingi oleh iklaniklan dengan topik yang sejenis. Seperti, iklan mobil, asuransi mobil, perangkat audio
mobil, sepeda motor, ban, minyak pelumas, akumulator, dan sebagainya. Dari kondisi
semacam perlu adanya penjelasan yang dapat mengurai berbagai pertanyaan yang
muncul, sehingga diharapkan adanya saling pengertian dan pemahaman antara pihak
pengelola media dan pihak pengguna media di dalam memenuhi keperluannya
masing-masing.
Teknologi telah membawa perubahan berarti untuk media cetak dan pesaingnya
dari waktu ke waktu. Versi elektronik dari media cetak yang tidak terlalu mahal untuk
memproduksi dari bahan cetak . tidak membutuhkan tinta atau kertas, Tidak ada biaya
distribusi barang cetakan atau masyarakat di seluruh dunia. Saat ada orang yang
memiliki perangkat elektronik untuk diunduh dan hadir untuk melihat teks elektronik
biasanya hal ini merupakan biaya yang ditanggung oleh para pembaca bukan penerbit.
Selain itu, media elektronik untuk dapat mencapai pembaca iklan mereka sendiri,
dengan iklan ditujukan pada pembacadari demografik itu atau psikografik.
George Gilder (1994) dalam Life after television memandang bahwa televisi itu
tersentral satu arah, memiliki otoritas, namun juga dengan teknologi yang sebetulnya
sedang sekarat. Pada satu sisi lain teknologi telecomputer muncul sebagai satu sistem
interaktif yang akan memengaruhi semua aspek kehidupan, dari pendidikan, bisnis
hingga ke hiburan, semuanya menggantikan peran televisi. Gilder memprediksi negara
maju akan melepaskan sumber daya industri menuju suatu "telefuture", di mana
teknologi baru akan mematikan pengaruh media massa dan memperbarui kekuatan
individu.
Mengambil konsep dari Mc Luhan (1997: 7) dimana medium is the message,
maka bila diaplikasikan pada internet atau bentuk World Wide Web (WWW) bisa
berupa situs berita online. Dimana analogi dari pernyataan McLuhan dengan melihat
perkembangan kemajuan bidang teknologi informasi, maka technology is the message.
Teknologi itulah yang menghasilkan medium baru atau melahirkan the new media.
18

Pengalaman empiris menunjukkan, setiap medium baru berpengaruh terhadap


media yang ada. Misalnya, sejak munculnya televisi iklim persaingan semakin kentara.
Televisi mempengaruhi eksistensi media cetak dalam hal isi, bentuk, distribusi,
kebijakan harga, periklanan dan sebagainya. Karenanya, setiap kali muncul media baru,
kata kunci untuk media yang sudah eksis dan ingin tetap eksis adalah adaptasi, inovasi,
kreatifitas, atau ketinggalan dan ditinggalkan (Oetama, 2001 : 361). Dengan melihat
kondisi masyarakat yang semakin maju, pintar, kritis, dan bebas menentukan sumbersumber informasinya, terutama di kota-kota besar, maka proses metamorfose media
konvensional ke media digital memberikan andil yang cukup besar bagi proses
eksistensi media tersebut. Disisi lain, munculnya medium baru tidak berarti meniadakan
medium lama. Antara medium lama dan medium baru terjadi proses saling melengkapi,
saling mempengaruhi, saling memperkaya inovasi dan kreatifitas. Sehingga setiap
kejadian yang diberitakan menjadi lebih jelas maknanya, korelasinya dan interaksinya
bagi konsumen (pembaca).
Surat-kabar dan majalah menjadi lebih menarik apabila juga mampu
menghadirkan edisi online dengan tingkat keterbaruan berita atas peristiwa terakhir,
disamping edisi cetak yang menjadi andalannya. Dalam konteks di Indonesia, ketika
muncul televisi swasta, media cetak gelisah soal tersedotnya porsi pembagian iklan,
orang pers juga meratapi soal penurunan tiras, dan miskinnya minat baca. Akan tetapi,
ketika muncul Internet di Indonesia (tahun 1995 dan booming dot com tahun 19982000), reaksinya berbeda-beda. Ada surat kabar yang justru melakukan sinergi, sehingga
menjadi kekuatan, yakni dengan cara membuka surat kabar edisi cetak online dan edisi
realtime news. Fenomena ini berkembang di Indonesia sejak era reformasi 1998 sampai
sekarang seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi.
Sejarah mencatat bahwa suratkabar online pertama yang menghadirkan berita
digital adalah Chicago Tribune dalam tahun 1992. Jumlah pengakses internet di
Indonesia dari tahun ke tahun sejak 1998 selalu mengalami peningkatan. Internet
mampu memberikan layanan kecepatan informasi setiap saat, detail dan bebas biaya.
Sehingga tidak lah mengherankan apabila terjadi kenaikan jumlah pengakses internet
setiap tahunnya di Indonesia. Fenomena umum orang online ke internet adalah untuk
mendapatkan informasi dan berbagi informasi.
19

Fenomena internet dot com dengan e-commerce dan web 2.04 memberikan andil
pada perkembangan sejarah media di Indonesia, sampai memasuki era media-media
alternatif digital seperti blog, friendsters, facebook, iPod, iPhone 3G, dan sebagainya.
Menurut Daniel Dhakidae (Kompas, 28 Juni 2005) surat kabar generasi modern
industrial bersaing dengan televisi tentang seberapa cepat menyajikan kejutan berita
yang disebut scoop. Surat kabar generasi post-modern harus bersaing bukan sekadar
dengan televisi, tetapi televisi yang sudah mengalami transformasi oleh seluruh
teknologi digital yang memungkinkan multimedia, dengan internet sebagai pusatnya, di
mana setiap orang bisa serentak mendengar, melihat, membaca sesuatu yang berasal
dari aneka sumber pada saat yang hampir bersamaan. Secara tidak sadar para pembaca
modern surat kabar cetak mengalihkan kebiasaan quick browsing internet ke dalam cara
membaca surat kabar.
Fenomena pengaruh internet pada media cetak tersebut tidak bisa dicegah, dan
sedapat mungkin bersinergi dengan format internet. Walaupun internet dapat
meningkatkan risiko informasi, aksesibilitas yang bebas, interaktivitas, globalitas,
konektivitas komunikasi personal, ekonomis dan politik, serta hilangnya kontrol
jurnalistik atas pasar informasi. Namun, dengan edisi online internet mampu
menjangkau jumlah pengunjung situs yang lebih besar.

20

BAB III
PENUTUP

3.1.

Kesimpulan
Perkembangan media teknologi komunikasi saat ini telah mengubah dunia

media dengan sangat jelas. Teknologi komunikasi telah menghadirkan internet sebagai
media baru. New media yang melahirkan citizen journalism masyarakat didudukan
sebagai objek sekaligus subjek. Citizen journalism lahir dari perkembangan teknologi.
Berita dari media konvensional (media massa cetak, radio, maupun televisi) sudah
mulai didampingi oleh internet. Dengan terhubung melalui internet, hampir seluruh
konten informasi dari media apapun, tersedia kapanpun dan dimanapun, tanpa batas
ruang dan waktu.
Media merupakan elemen penting yang menjadi pangkal dari perubahan sosial.
Media dilihat sebagai kekuatan sosial dari luar yang masuk (atau dimasukkan) ke dalam
situasi sosial tertentu dan mengakibatkan efek perubahan beruntun. Media yang telah
menciptakan Jalan bebas hambatan tidak hanya menciptakan ekonomi global, tetapi
juga mengaburkan batas-batas sosial budaya, karena dunia yang dibangun sekarang ini
tidak mungkin dipertahankan kedaulatan atas informasi, sebab informasi dan alurnya
juga meliputi langit bebas, dipergunakan secara bersama-sama. Budaya, sebagai
identitas sebuah masyarakat, tidak luput dari pengaruh media tersebut.
Konvergensi dan digitalisasi media, lambat laun menimbulkan perubahan model
bisnis media, serta berdampak bagi hak warga negara terhadap media. Kemajuan
teknologi media dan komunikasi menciptakan ruang yang lebih terbuka bagi publik
dalam menggunakan media melalui jaringan internet dan media sosial secara borderless.
Era konvergensi dan digitalisasi menjadi tantangan bagi indutri media, untuk lebih
mempersiapkan kanal media multiplatform, disamping aspek lainnya seperti aspek
ekonomi dan kepemilikan. Konvergensi dan digitalisasi media memaksa industri media
mengarah pada bisnis multiplatform yang secara otomatis melampaui media
konvensional.

21

DAFTAR PUSTAKA
Albarran, Alan B. 2013. Management of Electronic and Digital Media. Fifth Edition.
Wadsworth, Cenkage Learning.
Porter, Michael E. 2004. Competitive Advantage. Creating and Sustaining Superior
Performance. New york: Free Press.
Arismunandar, Satrio. 2007. Perkembangan Terkini dalam Industri Media dan
Hubungannya dengan Kurikulum Ilmu Komunikasi di Perguruan Tinggi. Jurnal
Ilmiah SCRIPTURA, Vol. I No.1.
G. & Young, S. 2012. Media Convergence: Networked Digital Media in Everyday Life.
London: Palgrave Macmillan
Hadi, Ido Prijana. 2009. Perkembangan Teknologi Komunikasi Dalam Era Jurnalistik
Modern. Jurnal Ilmiah SCRIPTURA, Vol. 3, No. 1, Januari: 69 84. Universitas
Kristen Petra
Hidayat, Zinggara. 2015. Dampak Teknologi Digital Terhadap Perubahan Kebiasaan
Penggunaan Media Masyarakat. Skripsi. Jakarta: Universitas Esa Unggul
Kango, Andries. 2015. Media dan Perubahan Sosial Budaya. Jurnal, Volume 12 Nomor
1 Halaman 20-34. IAIN Sultan Amai Gorontalo
Khazali, Rhenald. 1992. Manajemen Periklanan, Konsep dan Aplikasinya di Indonesia.
Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti
Kurnia, Novi. 2005. Perkembangan Teknologi Komunikasi dan Media Baru: Implikasi
terhadap Teori Komunikasi. Jurnal Mediator, Vol. 6, No. 2
Masykuri, Nurul Candrasari. 2010. Perkembangan Teknologi Komunikasi dalam
Menunjang Fungsi Periklanan dan Public Relation. Jurnal Humaniora Vol.1
No.1: 29-36. Universitas Bina Nusantara
Maulana. Makalah Komputer Sejarah dan Perkembangannya. Universitas GUnadarma
M, Muslimin. 2011. Perkembangan Teknologi Dalam Industri Media. Jurnal Teknik
Industri, Vol. 12, No. 1. Malang:
Universitas Muhammadiyah
Nasution, Zulkarnaen. 2011. Konsekuensi Sosial Media Teknologi Komunikasi Bagi
Masyarakat. Jurnal Reformasi, Volume 1, Nomor 1. Malang: Universitas Negeri
Malang.

22

Nurudin. 2013. Media Sosial Baru dan Munculnya Revolusi Proses Komunikasi. Jurnal
Komunikator UMY : Vol. 5, no. 2, 127-142. Malang: Universitas
Muhammadiyah
Soekanto, Soerjono. 2000. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: CV Rajawali
Straubhaar, Joseph.., Robert LaRose, and Lucinda Davenport. 2012. Media Now:
Understanding Media, Culture, and Technology, Seventh Edition. USA: Cengage
Learning
Strinati, Dominic. 2007. Populer Cutlure. Bandung: Penerbit Jejak
Internet :
http://komunikasi.us/index.php/course/18-teknologi-dan-media-baru/3083
determinisme-teknologi-dalam-media-baru [Diakses, 16 April 2016]
http://www.kompasiana.com/dennyrezakamarullah/menu-utama-di-erakonseptual_5500b4ae8133112019fa7ca2 [Diakses, 16 April 2016]
http://belajarmesin.com/pages/articles-17/sejarah-dan-perkembangan-mesin-sablon-243.html [Diakses, 16 April 2016]

23