Anda di halaman 1dari 12

Asma adalah penyakit obstruksi jalan nafas, yang dapat pulih dan intermiten yang

ditandai oleh penyempitan jalan nafas, mengakibatkan dispnea, batuk, mengi.


dj adalah anak perempuan yang berumur 10 tahun. dia mempunyai riwayat
penyakit asma. dia menderita penyakit asma sejak 2 tahun yang lalu. fokus
keperawatan penyakit asma adalah pembebasan jalan napas
Asma adalah penyakit pernafasan obstruksi yang ditandai oleh spasme akut otot
polos bronkhiolus, hal ini menyebabkan obstruksi aliran udara dan penurunan
ventilasi alveolus (Corwin, 2004).

Asma bronchial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel


dimana trakea dan bronkhi berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi
tertentu. (Smelzer Suzanne : 2001)
Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon
bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya
penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik
secara spontan maupun hasil dari pengobatan (The American Thoracic
Society).
Asma bronchial adalah suatu penyakit pernapasan dimana terjadi penigkatan
respon saluran pernapasan yang menimbulkan reaksi obstruksi pernapasan
akibat spasme otot polos bronkus. (Sjaifoellah, 2001: 21)
Asma bronchial adalah penyakit pernafasan objektif yang ditandai oleh
spasme akut otot polos bronkus. Hal ini menyebabkan obstruksi aliran udara
dan penurunan ventilasi alveolus. (Elizabeth, 2000: 430)
Asma bronchial adalah suatu gangguan yang komplek dari bronkial yang
dikarakteristikan oleh periode bronkospasme (kontraksi spasme yang lama
pada jalan nafas). (Polaski : 1996).
Asma adalah gangguan pada jalan nafas bronkial yang dikateristikan dengan
bronkospasme yang reversibel. (Joyce M. Black: 1996).
Dari berbagai deinisi diatas dapat disimpulkan bahwa asma bronchial adalah
suatu penyakit gangguan jalan nafas obstruktif yang bersifat reversible,
ditandai dengan terjadinya penyempitan bronkus, reaksi obstruksi akibat
spasme otot polos bronkus, obstruksi aliran udara, dan penurunan ventilasi
alveoulus dengan suatu keadaan hiperaktivitas bronkus yang khas.

Asma ditandai dengan kontraksi spastik dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar
bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhiolus terhadap benda-benda asing di
udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara: seseorang alergi
membentuk sejumlah antibodi IgE abnormal reaksi alergi. Pada asma, antibodi ini terutama melekat
pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan bronkhiolus dan
bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibodi IgE orang tersebut meningkat, alergen
bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan
berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan
leukotrien), faktor kemotaktik eosinofilik, dan bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor ini akan
menghasilkan edema lokal pada dinding bronkhiolus kecil maupun sekresi mukus yang kental dalam
lumen bronkhiolus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas
menjadi sangat meningkat.
Pada asma, diameter bronkhiolus berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena
peningkatan tekanan dalam paru selama ekspirasi paksa menekan bagian luar bronkhiolus. Bronkhiolus
sudah tersumbat sebagian maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang
menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi.pada penderita asma biasanya dapat melakukan
inspirasi dengan baik dan adekuat tetapi hanya sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan
dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama
serangan asma akibat kesulitan mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. Hal in dapat menyebabkan
barrel chest.

Patofis

Perubahan jaringan pada asma tanpa komplikasi terbatas pada bronkus dan
terdiri dari spasme otot polos, edema mukosa, dan infiltrasi sel-sel Radang
yang menetap dan hipersekresi mucus yang kental. Keadaan ini pada orangorang yang rentan terkena asma mudah ditimbulkan oleh berbagai
rangsangan, yang menandakan suatu keadaan hiveraktivitas bronkus yang
khas.Orang yang menderita asma memilki ketidakmampuan mendasar
dalam mencapai angka aliran uadara normal selama pernapasan (terutama
pada ekspirasi). Ketidakmampuan ini tercermin dengan rendahnya usaha
ekspirasi paksa pada detik pertama, dan berdasrkan parameter yang
berhubungan aliran.
Asma ditandai dengan kontraksi spastik dari otot polos bronkus yang
menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas
bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada
asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang
alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody IgE
abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi
bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama

melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang
berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang
menghirup alergen maka antibody IgE orang tersebut meningkat, alergen
bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan
menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya
histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient),
faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Histamine yang dihasilkan
menyebabkan kontraksi otot polos bronkiolus. Apabila respon histaminnya
berlebihan, maka dapat timbul spasme asmatik. Karena histamine juga
merangsang pembentukan mucus dan meningkatkan permeabilitas kapiler,
maka juga akan terjadi kongesti dan pembengkakan ruang intestinum paru,
sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat.
Selain itu olahraga juga dapat berlaku sebagai suatu iritan, karena terjadi
aliran udara keluar masuk paru dalam jumlah beasr dan cepat. Udara ini
belum mendapat perlembaban (humidifikasi), penghangatan, atau
pembersihan dari partikel-partikel debu secara adekuat sehingga dapat
mencetuskan asma.
Pada asma, diameter bronkhiolus menjadi semakin berkurang selama
ekspirasi dari pada selama inspirasi. Hal ini dikarenakan bahwa peningkatan
tekanan dalam intrapulmoner selama usaha ekspirasi tak hanya menekan
udara dalam alveolus tetapi juga menekan sisi luar bronkiolus. Oleh karena
itu pendeita asma biasanya dapat menarik nafas cukup memadai tetapi
mengalami kesulitan besar dalam ekspirasi. Ini menyebabkan dispnea, atau
kelaparan udara. Kapsitas sisa fungsional paru dan volume paru menjadi
sangat meningkat selama serangan asma karena kesulitan mengeluarkan
udara dari paru-paru. Setelah suatu jangka waktu yang panjang, sangkar
dada menjadi membesar secara permanent, sehingga menyebabkan suatu
barrel chest (dad seperti tong).

ibu dj mengatakan dj mulai sesak nafas sejak kemarin. kemudian pada


pukul 8 malam dj dibawa ke unit gawat darurat, karena keadaan dj
berangsur membaik, ibu dj pun membawa dj pulang. pagi harinya dj
kembali sesak napas. dan akhirnya ibu dj membawa dj ke unit gawat
darurat lagi. kemudian dj drawat inap di rumah sakit. sebelumnya dj
pernah 2 kali dirawat di rumah sakit karena penyakit yang sama seperti
yang diderita saat ini.

histori
HS, seorang wanita berusia 57 tahun, memiliki riwayat medis hipertensi dan
penyakit ginjal kronis. Dia didiagnosis dengan Tahap IIIB karsinoma sel jernih
ovarium dan menjalani operasi pada bulan April 2007. Pasien memiliki 18 siklus
kemoterapi peritoneal dan intravena dan memiliki respon yang sangat baik dengan
C-125 yang mencapai titik terendah 10. Setelah selesai kemoterapi , pasien
diterima kembali 11/15/2007 untuk penghapusan posting Status massa peritoneal
kemoterapi panggul. Massa panggul adalah struktur kista sederhana dengan
ditampilkan kandung kemih bilateral. Pasien terpilih untuk menghilangkan port
peritoneal dan lapartomy dengan biopsi untuk memastikan sifat kista perut, yang
jinak....

H.S. waspada dan berorientasi pada orang, tempat dan waktu. Suhu pasien adalah 98,0 F, denyut
nadi adalah 74, pernapasan adalah 18, tekanan darah 126/66, saturasi oksigen pada ruang udara
adalah 98%, nadi apikal adalah 74, paru-paru yang jelas, dan pasien menyatakan tingkat rasa
sakitnya adalah 5 . Pasien memiliki heplock IV di jugularis kanannya. Kulit pasien terasa hangat
dan kering dengan pegangan tangan bilateral moderat. Sayatan bedah pasien adalah dari
umbilikus ke suprapubik dengan staples dan utuh tanpa eritema. Bising usus pasien yang
hypoactive dan menyatakan tidak buang air besar hari ini, tapi telah berlalu flatus. Output urin
dari 0600-0800 adalah 200ml. Pasien pada diet cair mulai 11/06/2007 dan berubah ke pola
makan biasa pada 11/08/2007. Pasien makan 70% dari sarapan dan menyatakan ia tidak punya
banyak nafsu makan. H.S. tampak lemah dan tipis dengan beberapa kelemahan umum.
Ketinggian pasien adalah 5'7 "(1.70 m) dan berat badannya adalah 105 lbs (47,7 kg). Pasien
rawat jalan dan mampu melakukan pekerjaan bebas hidup sehari-hari. Pasien menggunakan
spirometer insentif sepuluh kali dalam satu jam seperti yang diperintahkan oleh dokter.
Google Terjemahan untuk Bisnis:

Suhu pasien adalah 37,6 celcius, denyut nadi adalah 94, pernapasan
adalah 28 kali, tekanan darah 120/80 mmHg. Pasien mengeluh sesak saat
bernapas, nyeri dada, nyeri berapa pada angka 4 skala 1-10, pasien batuk
disertai dahak . dari hasil pemeriksaan head to toes didapatkan hasil :
tidak terdapat lesi pada kepala, wajah, leher, ekstremitas atas, dan
ekstremitas bawah. tidak ada nyeri tekan pada kepada, wajah, leher,
torak, abdomen, ekstremitas atas dan ekstremitas bawah. rambut tampak
berminyak. kuku tampak bersih. tidak ada nyeri tekan. terdapat
pernapasan cup[ing hidung. terdapat otot bantu napas. terdengar bunyi
napas ronchi dan wheezing. pasien makan 3 kali dalam sehari dengan
porsi 1/3 habis. pasien tidak pernah mandi selama dirawat di rumah sakit.
pasien hanya dilap menggunakan air hangat oleh ibunya

RELATED TREATMENTS
Pasien tidak memiliki alergi terhadap lateks, yodium, atau perekat dan
menggunakan pengikat perut untuk dukungan. Pasien memiliki heplock IV di vena
jugularis kanannya akibat kemoterapi. Sebagai Ignatavicius (2006) mencatat, situs
penyisipan harus dipilih dengan hati-hati setelah mempertimbangkan integritas
kulit, kondisi vena, dan aktivitas hidup sehari-hari. Ignatavicius (2006) juga
menyatakan bahwa terapi IV melibatkan sistem vaskular seluruh atau beberapa
sistem. Akses ke situs lain untuk penyisipan IV tidak tersedia karena kerusakan
yang terjadi dari kemoterapi. Pasien rawat jalan dan menggunakan spirometer
insentif sepuluh kali setiap jam seperti yang diperintahkan oleh dokter. Pasien
menyatakan tingkat rasa sakitnya adalah 5. Menurut Ignatavicius (2006), Skala
Distress Numeric Nyeri 0-10 memiliki nol sampai 4 yang tidak ada rasa sakit, 5
sampai 9 sedang sakit menyedihkan, dan 10 menjadi sakit yang tak tertahankan.
Pasien mengambil obat penghilang rasa sakit dari Motrin 600mg yang diperlukan.
Perintah debit dokter adalah untuk tetap pada kolesterol rendah, diet rendah lemak
dan tidak ada mengangkat lebih dari 15 kilogram. Carpenito (2000) menjelaskan
bahwa meskipun beberapa orang bisa menelan makanan, mereka dapat makan
kualitas memadai atau seimbang atau kuantitas. Misalnya, diet mungkin
kekurangan protein atau lemak yang berlebihan. Ignatavicius (2006) menyatakan
bahwa pengujian dan manajemen pedoman terbaru dari Program Kolesterol
Pendidikan Nasional (NCEP) memiliki fokus pencegahan utama bagi individu dengan
beberapa faktor risiko. Obat pasien yang Ducosate Sodium - 100mg tab untuk
mempromosikan buang air besar; Vicodin - 5-500mg setiap 4 jam untuk nyeri sesuai
kebutuhan;. Metroclopramide - 10 mg setiap 6 jam untuk mual dan muntah; dan
Enoxaparin injeksi - 40mg - antikoagulan sebagai profilaksis untuk mencegah deep
vein thrombosis setelah operasi. Karena pasien menyatakan bahwa dia tidak lagi
mual dan tingkat rasa sakitnya adalah lima, dia memilih untuk tidak mengambil
metroclopramide untuk mual atau vicodin untuk nyeri. Karena pasien sudah bangun
dan keluar dari tempat tidur
Manajemen Keperawatan 5
dan berjalan naik dan turun lorong-lorong setidaknya tiga kali per shift, ada
kemungkinan penurunan deep vein thrombosis.

PENANGANAN

Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah :


1. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segara.
2. Mengenal dan menghindari fakto-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma
3. Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai
penyakit asma, baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya
sehingga penderita mengerti tujuan penngobatan yang diberikan dan

bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawatnnya.


engobatan asthma secara garis besar dibagi dalam pengobatan non
farmakologik dan pengobatan farmakologik.
1. Penobatan non farmakologik
a. Penyuluhan
Penyuluhan ini ditujukan pada peningkatan pengetahuan klien tentang penyakit asthma
sehinggan klien secara sadar menghindari faktor-faktor pencetus, serta menggunakan
obat secara benar dan berkonsoltasi pada tim kesehatan.
b. Menghindari faktor pencetus
Klien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus serangan asthma yang ada pada
lingkungannya, serta diajarkan cara menghindari dan mengurangi faktor pencetus,
termasuk pemasukan cairan yang cukup bagi klien.
c. Fisioterapi
Fisioterpi dapat digunakan untuk mempermudah pengeluaran mukus. Ini dapat
dilakukan dengan drainage postural, perkusi dan fibrasi dada.
2. Pengobatan farmakologik
a) Agonis beta
Bentuk aerosol bekerja sangat cepat diberika 3-4 kali semprot dan jarak antara
semprotan pertama dan kedua adalan 10 menit. Yang termasuk obat ini adalah
metaproterenol ( Alupent, metrapel ).
b) Metil Xantin
Golongan metil xantin adalan aminophilin dan teopilin, obat ini diberikan bila golongan
beta agonis tidak memberikan hasil yang memuaskan. Pada orang dewasa diberikan
125-200 mg empatkali sehari.
c) Kortikosteroid
Jika agonis beta dan metil xantin tidak memberikan respon yang baik, harus diberikan
kortikosteroid. Steroid dalam bentuk aerosol ( beclometason dipropinate ) dengan disis
800 empat kali semprot tiap hari. Karena pemberian steroid yang lama mempunyai
efek samping maka yang mendapat steroid jangka lama harus diawasi dengan ketat.
d) Kromolin

Kromolin merupakan obat pencegah asthma, khususnya anak-anak . Dosisnya berkisar


1-2 kapsul empat kali sehari.
e) Ketotifen
Efek kerja sama dengan kromolin dengan dosis 2 x 1 mg perhari. Keuntunganya dapat
diberikan secara oral.
f) Iprutropioum bromide (Atroven)
Atroven

adalah

antikolenergik,

diberikan

dalam

bentuk

aerosol

dan

bersifat

bronkodilator.
3. Pengobatan selama serangan status asthmatikus
a. Infus RL : D5 = 3 : 1 tiap 24 jam
b. Pemberian oksigen 4 liter/menit melalui nasal kanul
c. Aminophilin bolus 5 mg / kg bb diberikan pelan-pelan selama 20 menit dilanjutka drip
Rlatau D5 mentenence (20 tetes/menit) dengan dosis 20 mg/kg bb/24 jam.
d. Terbutalin 0,25 mg/6 jam secara sub kutan.
e. Dexamatason 10-20 mg/6jam secara intra vena.
f.

Antibiotik spektrum luas.

The general principle is the treatment of bronchial asthma:


1. Eliminate airway obstruction with immediately.
2. Recognizing and avoiding facto-factors that can trigger asthma attacks
3. Provide information to patients or their families about
asthma, both on the course of their illness and its treatment
so that the patient understands the purpose penngobatan given and
cooperate with the doctor or nurse who merawatnnya.. be broadly divided into nonpharmacological treatment and pharmacological treatment.
1. Coronation non-pharmacologic
a. Counseling
These services are aimed at enhancing the client's knowledge about asthma
disease sehinggan clients consciously avoiding trigger factors, as well as using the
drug properly and berkonsoltasi the health care team.
b. Avoiding precipitating factors
Clients need to be helped to identify the originator of asthma attacks that exist in
the environment, and are taught how to avoid and mitigate precipitating factors,
including adequate fluid intake for clients.
c. Physiotherapy
Fisioterpi can be used to facilitate the expenditure of mucus. This can be done with
postural drainage, chest percussion and fibrasi.
2. Pharmacologic treatment
a) beta agonists

Aerosol form works very quickly diberika spray 3-4 times and the distance between
the first and second spray adalan 10 minutes. Which includes drugs are
metaproterenol (Alupent, metrapel).
b) Methyl Xanthine
Group methyl xanthine adalan aminophilin and teopilin, when the drug is
administered beta-agonist class does not give satisfactory results. In adults given
125-200 mg four-times daily.
c) Corticosteroids
If beta agonists and methyl xanthine not respond well, should be given
corticosteroids. Steroids in aerosol form (beclometason dipropinate) with 800 disis
spray four times per day. Because long steroids have side effects then that gets
long-term steroids should be watched closely.
d) Cromolyn
Cromolyn is a preventive asthma medications, especially children. The dose ranges
from 1-2 capsules four times a day.
e) The Ketotifen
Effects cooperation with cromolyn at a dose of 2 x 1 mg per day. Benefit that can be
administered orally.
f) Iprutropioum bromide (Atroven)
Atroven is antikolenergik, administered in aerosol form and are bronchodilators.
3. Treatment for status attacks asthmatikus
a. Infusion RL: D5 = 3: 1 every 24 hours
b. Giving oxygen 4 liters / minute via nasal cannula
c. Aminophilin bolus of 5 mg / kg bw administered slowly over 20 minutes dilanjutka
drip Rlatau mentenence D5 (20 drops / min) at a dose of 20 mg / kg bb/24 hours.
d. Terbutaline 0.25 mg / 6 hours in sub-cutaneous.
e. Dexamatason intravenous mg/6jam 10-20.
f. Broad-spectrum antibiotics.

Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran nafas. Terbagi dalam 2 golongan :


a. Simpatomimetik/ andrenergik (Adrenalin dan efedrin) Nama obat :
- Orsiprenalin (Alupent)
- Fenoterol (berotec)
- Terbutalin (bricasma)
Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet, sirup, suntikan dan semprotan.
Yang berupa semprotan: MDI (Metered dose inhaler). Ada juga yang berbentuk bubuk halus
yang dihirup (Ventolin Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan broncodilator (Alupent,
Berotec, brivasma serts Ventolin) yang oleh alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel
yang sangat halus ) untuk selanjutnya dihirup.
b. Santin (teofilin)
Nama obat :
- Aminofilin (Amicam supp)
- Aminofilin (Euphilin Retard)
- Teofilin (Amilex)
Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik, tetapi cara kerjanya berbeda.
Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya saling memperkuat.

Cara pemakaian : Bentuk suntikan teofillin / aminofilin dipakai pada serangan asma akut, dan
disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah. Karena sering merangsang lambung
bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum sesudah makan. Itulah sebabnya penderita yang
mempunyai sakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini. Teofilin ada juga dalam
bentuk supositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus. Supositoria ini
digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin (misalnya muntah atau
lambungnya kering).
Kromalin
Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah serangan asma. Manfaatnya
adalah untuk penderita asma alergi terutama anakanak. Kromalin biasanya diberikan bersamasama obat anti asma yang lain, dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian satu bulan.
Ketolifen
Mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Biasanya diberikan dengan dosis
dua kali 1mg / hari. Keuntungnan obat ini adalah dapat diberika secara oral.
Bronchodilators: drugs that dilate the airways. Divided into 2 groups:
a. Sympathomimetic / andrenergik (adrenaline and ephedrine) Name of medicine:
- Orsiprenalin (Alupent)
- Fenoterol (berotec)
- Terbutaline (bricasma)
Sympathomimetic class of drugs available in the form of tablets, syrups, injections
and sprays. In the form of sprays: MDI (Metered dose inhaler). There is also a form
of fine powder is inhaled (Ventolin Diskhaler and Bricasma turbuhaler) or liquid
broncodilator (Alupent, Berotec, brivasma serts Ventolin) which by means of
specially converted into aerosols (particles are very fine) for further inhaled.
b. Santin (theophylline)
Name of medicine:
- Aminophylline (Amicam supp)
- Aminophylline (Euphilin Retard)
- Theophylline (Amilex)
The effects of theophylline together with drugs known as sympathomimetic, but it
works differently. So that the two drugs combined effects reinforce each other.
How to use: Forms injections teofillin / aminophylline used in acute asthma attacks,
and slowly injected directly into a vein. Because often stimulates gastric tablets or
syrup should be taken after meals. That is why patients who have gastric pain
should be careful when taking this medication. Theophylline also exist in the form of
suppositories how to use inserted into the anus. Suppositories are used if the
patient for any reason can not drink theophylline (eg, vomiting or stomach dry).
Kromalin
Kromalin not a bronchodilator but an asthma preventer medication. The benefit is
for people with allergic asthma, especially children. Kromalin usually given together
other anti-asthma drugs, and the effect was only seen after one month usage.
Ketolifen
Have a preventive effect against asthma as kromalin. Usually administered at a
dose of 1 mg twice / day. Keuntungnan this drug is that it can be administered
orally.

Almazini, P. 2012. Bronchial Thermoplasty Pilihan Terapi Baru untuk Asma Berat. Jakrta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Carpenito, L.J. 2000. Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada Praktik Klinis, edisi 6. Jakarta: EGC
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.
GINA (Global Initiative for Asthma) 2006.; Pocket Guide for Asthma Management and
Prevension In Children. www. Dimuat dalam www.Ginaasthma.org
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New Jersey:
Upper Saddle River
Linda Jual Carpenito, 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 . Jakarta: EGC
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media Aesculapius
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition. New
Jersey: Upper Saddle River
Purnomo. 2008. Faktor Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Asma Bronkial
Pada Anak. Semarang: Universitas Diponegoro
Ruhyanudin, F. 2007. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Kardio
Vaskuler. Malang : Hak Terbit UMM Press
Saheb, A. 2011. Penyakit Asma. Bandung: CV medika
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima
Medika
Sundaru H. 2006 Apa yang Diketahui Tentang Asma, JakartaDepartemen Ilmu Penyakit Dalam,
FKUI/RSCM
Suriadi. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Edisi I. Jakarta: Sagung Seto
diagnosa keperawatan untuk D.J. adalah bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan produksi
sekret meningkat, obstruksi saluran napas ditandai dengan pasien sesak saat bernapas, pasien
batuk disertai dahak, terdengar bunyi ronchi dan wheezing, respirasi 30 kali per menit, tekanan
darah 100/70, suhu 37 celcius, nadi 87 kali per menit. tujuan dari tindakan keperawatan yang
dilakukan untuk diagnosa bersihan jalan nafas ini adalah bersihan jalan nafas efektif. dan
intervensi keperawatan untuk diagnosa keperawatan bersihan jalan napas tidak efektif adalah :
Observasi bunyi napas / auskultasi adanya wheezing, ronchi.
Observasi sekresi / secret : jumlah, warna, konsistensi, bau.
Ajarkan batuk efektif.
Lakukan hisap lendir dan hati-hati bila klien tidak mampu mengeluarkan lendir sendiri.
Anjurkan pasien untuk sering minum dan hangat.
Kolaborasikan dengan dokter dalam pemberian nebulizer.
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi/ obat bronkhodilator.

nursing diagnosis for D.J. is ineffective airway clearance related to increased production of
secretions, airway obstruction is characterized by shortness of patients when
breathing, cough with sputum patients, Ronchi and wheezing sound, respiration 30
times per minute, blood pressure 100/70, temperature 37 Celsius, pulse 87 times
per minute. objectives of nursing actions performed for the diagnosis of airway
clearance is effective airway clearance. and nursing diagnoses nursing interventions
for
ineffective
airway
clearance
are:
Observations breath sounds / wheezing presence auscultation, Ronchi.
Observations secretion / secret: the amount, color, consistency, odor.
Teach
effective
cough.
Perform suction mucus and caution when clients are not able to remove the mucus
itself.
Instruct
the
patient
to
drink
frequently
and
warm.
Collaborate
with
the
doctor
in
the
nebulizer.
Collaboration with physicians in therapy / drug bronchodilators.