Anda di halaman 1dari 10

RANGKUMAN MATERI KULIAH

KEWIRAUSAHAAN, KEPEMIMPINAN, DAN KOMUNIKASI BISNIS


ASPEK ORGANISASI, SDM, DAN MANAJAMEN OPERASIONAL
DALAM KEWIRAUSAHAAN

Oleh
Kelompok III Kelas CG
Nuril Izza Ikhtiari
115020307111007
Alfadio Zefanya
125020305111008
Alma D. Nabila
135020301111088
Miftarohma Venuma
135020301111098
Gery F. Cahyadi
145020304111008

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
SEPTEMBER 2015

BAB I
TOPIK UTAMA
A. Bentuk-bentuk Organisasi Bisnis
Saat memulai sebuah bisnis baru, seorang pengusaha harus memilih bentuk legal dari
organisasinya, yang akan menentukan pemilik sebenarnya dari bisnis tersebut. Beberapa bentuk
organisasi tersebut adalah:
1. Kepemilikan tunggal
Sebuah bisnis yang dimiliki oleh satu orang, yang menanggung tanggung jawab yang tidak
terbatas atas usahanya. Pemilik usaha menerima semua keuntungan tetapi juga menanggung
semua kerugian, resiko, dan hutang. Untuk permulaan, kebanyakan usaha kecil mengadopsi
struktur ini.
2. Perseroan
Perseroan adalah sebuah entitas yang dibentuk oleh dua atau lebih pemilik untuk
menjalankan operasi bisnisnya. Hampir mirip dengan kepemilikan tunggal hanya saja pemilik
membagi tanggung jawab tidak terbatasnya dengan pemilik lain. Bentuk organisasi ini memiliki
keunggulan dan kelemahan. Keunggulannya adalah pemilik dapat membagi beban kerja dan juga
beban finansial dengan partner. Sementara kelemahannya adalah bila terjadi konflik pribadi
antar pemilik dengan partner dapat berakibat buruk pada usaha. Oleh karena itu disarankan agar
pemilik dapat mencari partner yang sesuai.
3. Perusahaan
Sebuah organisasi bisnis yang berdiri sebagai entitas legal dan menyediakan tanggung jawab
yang terbatas pada pemiliknya disebut dengan perusahaan. Entitas legal adalah organisasi bisnis
yang diakui secara hukum sebagai keberadaan sah yang terpisah, yang artinya perusahaan dapat
menuntut dan dituntut, membeli dan menjual properti dan terlibat dalam operasi bisnis. Dengan
kata lain perusahaan adalah entitas terpisah dan berbeda dari individu yang memilikinya.
B. Sistem Rekrutmen dan Seleksi Karyawan
Setelah menentukan bentuk organisasi bisnis, maka selanjutnya adalah merekrut karyawan untuk
membantu usaha bisnis mencapai tujuan strategisnya. Hal ini hanya dapat dilakukan bila karyawan
yang sangat mampu telah direkrut, dilatih, dinilai, dan diberikan insentif untuk mencapai potensi
yang sesungguhnya.
Tujuan dari proses rekrutmen adalah mendapatkan sejumlah besar karyawan potensial yang
cukup besar yang memungkinkan didalamnya terdapat sejumlah karyawan prospek yang berbakat.
Selain persaingan antara karyawan potensial dengan sesama karyawan potensial, sebuah bisnis yang
baru dimulai juga harus bersaing dengan bisnis yang sudah lama dimulai dan terkenal dalam menarik
jumlah pelamar. Kebanyakan pelamar cenderung melamar ke bisnis yang sudah memiliki nama dan
bonafit meskipun persaingan untuk dapat diterima lebih ketat.
Untuk menarik jumlah pelamar yang banyak, maka bisnis harus memberikan umpan agar para
pemar tertarik. Menawarkan gaji yang kompetitif dapat membantu, tetapi kebanyakan pelamar lebih
tertarik dengan kesempatan untuk meraih penghargaan yang tinggi, jenis pekerjaan, pengalaman
menarik, pengakuan pribadi, dan potensi untuk melakukan pekerjaan yang mereka anggap penting.
Untuk merekrut secara efektif, manajer dari sebuah bisnis kecil harus tahu dimana dan bagaiman
menemukan pelamar yang memenuhi syarat. Sumber pelamar kerja banyak dan mustahil untuk
1

mengeneralisasi mana sumber yang paling baik. Tetapi sumber-sumber seperti internet,
rekomendasi, firma pencari kerja, dan iklan lowongan kerja adalah sumber yang populer untuk
digunakan.
Setelah merekrut karyawan potensial sebanyak-banyaknya, tahapan selanjutnya adalah seleksi.
Pemberi kerja dapat mengikuti tahapan berikut dalam menseleksi karyawan.
1.
2.
3.
4.
5.

menggunakan formulir lamaran;


melakukan wawancara dengan pelamar;
melakukan cek referensi dan informasi latar belakang lain;
melakukan tes pada pelamar; dan
melakukan cek fisik dan kesehatan pada pelamar.

C. Sistem Pelatihan dan Pengembangan


Setelah karyawan direkruit, proses pelatihan dan pengembangan harus dimulai. Tujuan dari
proses ini adalah untuk merubah rekruit baru menjadi teknisi, salesperson, manajer, atau pegawai lain
yang terlatih dengan baik dan efisien. Proses ini akan memakan biaya tetapi sebanding dengan
manfaat dari keterampilan dan keahlian yand didapat.
Pelatihan karyawan adalah kegiatan yang telah direncanakan untuk membantu pekerja menguasai
pengetahuan, keahlian, dan sikap yang mereka butuhkan untuk melakukan pekerjaan mereka.
Sementara pengembangan manajemen lebih berfokus pada proses penyiapan pegawai untuk peran di
masa mendatang dan untuk memenuhi pendidikan, pengalaman kerja, pengembangan jaringan, dan
penilaian performa yang dibutuhkan untuk tujuan karir jangka panjang dan memenuhi potensi
manajerial.
Dalam prakteknya, pelatihan karyawan dibagi menjadi dua, yaitu on-the-job training dan job
instruction training. Instruksi di tempat kerja yang disupervisi oleh pelatih profesional atau pegawai
yang berpengalaman adalah on-the-job training atau instruksi langsung. Metode tahapan secara
sistematis untuk on-the-job training dari pegawai non manajerial disebut job instruction training.
D. Sistem Penempatan Kerja dan Kompensasi
Kompensasi penting untuk semua karyawan. Kompensasi yang diberikan dapat berupa:
1. upah dan gaji yang kompetitif dengan upah dan gaji di tempat usaha lain yang sebanding.
2. insentif keuangan, berupa bonus uang apabila pekerjaan yang dilakukan karyawan melebihi
target.
3. Insentif saham, bonus yang diberikan berupa saham perusahaan.
4. Manfaat pegawai, seperti asuransi jiwa, waktu liburan, asuransi kesehatan, dan kompensasi
pensiun.
E. Penentuan Lokasi Usaha
Selain karyawan dan pegawai yang harus dipikirkan saat membuat usaha baru yaitu penentuan
lokasi usaha. Lima faktor kunci yang menentukan lokasi bisnis yang bagus adalah:
1. Akses konsumen
Kemudahan akses oleh konsumen adalah faktor yang sangat penting. Jangan sampai usaha
kehilangan konsumen potensial karena dikalahkan usaha lain yang memiliki akses yang lebih
mudah untuk konsumen.
2. Kondisi lingkungan bisnis

Iklim, cuaca, lokasi saingan, kebutuhan hukum, dan pajak adalah hal-hal yang berkaitan
dengan lokasi dimana akan dibangun tempat usaha yang harus diperhatikan. Apakah hal-hal
tersebut akan mendukung keberlangsungan tempat usaha di masa depan atau malah akan
merugikan.
3. Ketersediaan bahan baku
Kemudahan untuk memperoleh bahan baku seperti bahan mentah, suplay tenaga kerja yang
cocok, dan transportasi menjadi keputusan penting dalam penentuan lokasi usaha.
4. Preferensi pribadi dari pengusaha
Terkadang pemilik usaha memiliki selera sendiri dalam menentukan dimana usahanya akan
didirikan. Kebanyakan pengusaha mendirikan usahanya dekat dengan tempat dia tinggal.
5. Biaya dan ketersediaan lahan
Faktor terakhir yang tidak kalah penting yaitu biaya dan ketersediaan lahan. Setelah berbagai
pertimbangan sebelumnya tentang dimana lokasi usaha, setelah ditemukan lokasi yang cocok
jangan sampai biaya kepemilikan lahan tersebut melebihi dana yang dimiliki pengusaha. Dan
apakah luas lahan tersebut sudah sesuai dengan yang dibutuhkan untuk operasi usaha.
F. Sistem Value Chain
Sistem Value Chain adalah proses dimana perusahaan menentukan biaya yang berhubungan
dengan aktivitas organisasi dari mulai membeli bahan mentah, mengolah, sampai memasarkan
produk jadi. Value chain dapat dianalogikan sebagai sebuah trik berantai yang dimana kita harus
memilah-milah mana keputusan terbaik dari setiap aktivitas perusahaan sehingga mendapatkan nilai
aktivitas yang rendah (murah) dan biaya sebuah produk dihitung berdasarkan biaya-biaya yang
dikeluarkan untuk melakukan aktivitas-aktivitas nilai tersebut sehingga semakin rendah nilai
aktivitas maka semakin rendah pula biaya produksi produk. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan dapat
dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu:
1. Primary activities
a. Logistik Masuk (Inbound Logistics), adalah aktivitas atau kegiatan yang dihubungkan
dengan penerimaan, penyimpanan dan penyebaran input/bahan baku, seperti penanganan
bahan baku, pergudangan, kontrol inventory, jadwal kendaraan dan pengembalian kepada
supplier
b. Operasional (Operations), adalah kegiatan yang dihubungkan dengan mengubah input atau
bahan baku menjadi bentuk produk akhir, seperti permesinan, pengemasan, perakitan,
perawatan perlengkapan, testing, pencetakan dan yang lainnya yang berkaitan dengan prose
operasi atau produksi.
c. Logistik Keluar (Outbound Logistics), adalah kegiatan yang diasosiasikan dengan
pengumpulan, penyimpanan dan distribusi produk ke pembeli , seperti pergudangan produk
jadi, penanganan material, operasi pengiriman, proses pemesanan dan penjadwalan.
d. Pemasaran dan penjualan (Marketing and Sales), adalah kegiatan dalam membujuk atau
menarik pembeli untuk membeli, seperti pengiklanan, promosi, tenaga penjual, quota dan
harga.
e. Pelayanan (Service), adalah kegiatan yang diasosiasikan dengan penyediaan layanan untuk
meningkatkan dan mempertahankan nilai produk, seperi instalasi, perbaikan, pelatihan dan
penambahan produk.

Masing-masing kegiatan/aktivitas mungkin sangat penting, tergantung pada industrinya. Untuk


perusahaan dibidang jasa, pelayanan terhadap pelanggan menjadi sesuatu yang sangat vital
dalam operasi perusahaan tersebut.
2. Supported activities
Secara umum, aktivitas pendukung dalam rantai nilai terbagi dalam 4 kategori kegiatan:
1. Procurement, mengacu pada fungsi pembelian seperti pembelian bahan mentah, persedian
dan jenis jenis barang lainnya yang dapat dijadikan aset seperti mesin-mesin, perlengkapan
laboratorium, kantor dan bangunan.
2. Technology Development, terdiri dari berbagai kegiatan yang dapat dikelompokkan ke
dalam usaha untuk meningkatkan produk dan proses. Pengembangan teknologi sangat
penting untuk keunggulan kompetitif dalam semua industri.
3. Human Resource Management, pengelolaan sumberdaya manusia meliputi kegiatan
rekrutmen, pelatihan, pengembangan SDM.
4. Firm Infrastructure , aktivitas infrastruktur perusahaan terdiri dari sejumlah aktivitas
termasuk pengelolaan umum, perencanaan, keuangan, accounting dan manajemen kualitas.
Dalam setiap kategori kegiatan/aktivitas, baik itu yang utama maupun yang pendukung, ada tiga
jenis kegiatan yang memiliki peran berbeda dalam kegiatan tersebut;
1. Langsung (direct), aktivitas yang melibatkan langsung dalam pembuatan nilai kepada pembeli,
seperti perakitan, iklan, desain produk, rekrutmen dan lain sebagainya.
2. Tidak langsung (indirect), aktivitas yang memungkinkan untuk melakukan kegiatan langsung
secara berkelanjutan, seperti perawatan, penjadwalan, administrasi penelitian dan lain sebagainya
3. Jaminan kualitas (Quality Assurance), adalah aktivitas yang menjamin kualitas dari aktivitas lain
seperti, monitoring, inpeksi, testing, pemeriksaan dan lain sebagainya.
G. Konsep Total Quality Management
Kualitas adalah fitur sebuah produk atau jasa yang memungkinkan produk atau jasa tersebut
memenuhi kebutuhan tersurat dan tersirat dari konsumen.
Total Quality Management adalah pendekatan manajemen yang berfokus pada kualitas secara
menyeluruh (dari supplier sampai konsumen) berdasarkan pada kehendak konsumen (kebutuhan dan
keinginan konsumen pada pusatnya), menekankan komitmen organisasi (manajemen yang
memimpin tapi seluruh organisasi berpartiisipasi) dan berfokus pada budaya pengembangan
berkelanjutan.
Sebuah manajemen kualitas suatu organisasi harus dimulai dari fokus kepada konsumen yang
membeli produk atau jasa. Pada awalnya entrepeneur menentukan produk dan jasa yang akan
memuaskan kebutuhan dan ekspektasi konsumen. Suatu ketika akan mudah untuk salah mengartikan
apa yang konsumen inginkan, tapi pada dasarnya konsumen memperhatikan hal-hal di bawah ini:
1. Retail is detail, konsumem memperthatikan benar usaha yang dilakukan produsen untuk
menghasilkan produk atau layanannya.
2. Customer feedback, untuk mengetahui apa yang diinginkan oleh konsumen, seorang manajer
bisa bertanya pada karyawan yang berinteraksi langsung dengan konsumen. Cara lainnya adalah
dengan mencari di data penjualan perusahaan. Dengan menganalisis tren penjualan, maka
perusahaan dapat mengetahui produk apa yang laku pada saat kapan.
Untuk menjaga kualitas produk, metode tradisional yang digunakan manajemen adalah inspeksi.
Inspeksi adalah pemeriksaan dari sebagian atau sebuah produk untuk menentukan apakah produk
tersebut memenuhi standar kualitas. Kelemahan dari metode inspeksi adalah baru dilakukan setelah
barang cacat atau pelayanan yang dibawah standar telah dibuat atau ditawarkan untuk dijual. Pada
4

titik tersebut, sumber daya telah digunakan dalam operasi perusahaan tanpa kualitas yang diinginkan.
Hal ini dapat menyebabkan kenaikan dalam biaya internal dan biaya eksternal.
Metode yang lebih modern yaitu metode yang berasal dari Jepang, poka-yoke. Poka-yoke adalah
pendekatan proaktif untuk manajemen kualitas yang mencari anti-kesalahan dari operasi organisasi.
Metode ini lebih menekankan kepada pencegahan atas terjadinya kesalahan yang dilakukan oleh
human-error. Ada tiga tipe poka-yoke, yaitu:
1. contact method mengidentifikasi cacat pada produk dengan melakukan tes pada bentuk, ukuran,
warna, atribut fisik lain dari sebuah produk.
2. fixed-value method memberi tahu operator bila ada sejumlah tertentu dari tahapan-tahapan ada
yang tidak dilakukan.
3. Motion-step method menentukan apakah langkah yang telah ditentukan sudah diikuti.

BAB II
TOPIK SUPLEMEN
A. Kemampuan Komunikasi dan Penyelesaian Konflik
Salah satu faktor penting yang menjadi kunci keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuannya
dan menyelesaikan masalah adalah komunikasi yang tebuka antara pemimpin perusahaan dan
karyawan mereka. Maka, keterampilan komunikasi merupakan kemampuan nonverbal yang penting
dalam evektifitas kepemimpinan.
Para pemimpin juga dapat meningkatkan mereka keterampilan komunikasi dengan mengikuti
enam prinsip persuasi, diantaranya adalah:
1. Menyukai
Seorang pimpinan harus membuat anggota kelompoknya menyukainya. Menekankan
kebersamaan dan kepentingan bersama dalam suatu kelomok merupakan cara efektif untuk
membuat anggota kelompok menyukai pimpinannya.
2. Timbal balik
Seorang pemimpin harus menjadi contoh untuk anggota kelompoknya, seperti menjadi model
kepercayaan, etika, dan komitmen.
3. Bukti sosial
Prinsip persuasi akan dapat memiliki dampak tinggi ketika datang dari rekan satu anggota
kelompok.
4. Konsistensi
Seseorang perlu memiliki komitmen untuk mengetahui apa yang ingin mereka lakukan.
5. Otoritas
Anggota kelompok akan tunduk kepada seseorang yang memiliki kemampuan dan
kredibilitas serta otoritas
6. Kelengkapan
Seseorang pasti ingin menutupi kekurangan yang mereka miliki. Seorang pemimpin dapat
mengambil hati anggota kelomponya dengan memberikan sesuatu yang dapat menutupi
kekurangan anggota kelompoknya.
Mendengarkan merukapan dasar dari kemapuan manajemen dan komunikasi. Hubungan antara
seorang pimpinan dan anggota kelompoknya akan meningkat ketika mereka saling mendengarkan
sehingga dapat saling memahami pemahaman dari berbagai sudt pandang. Seorang pemimpin juga
perlu mendengarkan anggota kelompoknya untuk dapat mengidentifikasikan masalah yang ada.
Kendala yang dihadapi oleh pemimpin dalam mendengarkan adalah:
1. Pemimpin sudah kelebihan beban dan tanggung jawab
2. Intonasi yang tidak jelas
Terdapat beberapa saran untuk dapat berkomunikasi dengan baik, diantaranya:
1. Berdiri tegak;
2. Berbicara dengan intonasi yang jelas dan keras;
3. Nada yang jelas; dan
4. Sering tersenyum dan santai.
Penampilan luar seseorang juga merupakan bagian penting dalam berkomunikasi dan
menyampaikan pesan kepada orang lain. Contohnya, seseorang akan lebih menghormati orang
berpakaian dengan baik dan rapi.
Berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya merupakan salah satu hambatan dalam
berkomunikasi. Pedoman cara menghadapi perbedaaan budaya meliputi:
1. Peka terhadap perbedaan budaya yang ada;
2. Menunjukkan rasa hormat; dan
3. Berbicara dengan perlahan namun lugas agar mudah dipahami.
Pemimpin dan manajer menghabiskan 20 persen waktu kerja mereka untuk menyelesaikan
konflik. Konflik yang paling menyita waktu adalah konflik internal, yang apabila ini diabaikan akan

menghambat laju organisasi. Dengan demikian, seorang pemimpin harus memiliki manajemen
konflik yang baik. Beberapa gaya manajemen konflik diantaranya:

1. Competitive style
Gaya ini dimiliki oleh seseorang yang memiliki keinginan kuat untuk mencapai tujuannya
sendiri dan cenderung untuk mengorbankan tujuan orang lain atau kelompok. Penyelesaian
konflik dengan gaya ini menggambarkan satu pihak mengalahkan atau mengorbankan yang lain.
Penyelesaian bentuk kompetisi dikenal dengan istilah win-lose orientation.
2. Accommodative style
Penyelesaian konflik yang menggambarkan kompetisi bayangan cermin yang memberikan
keseluruhannya penyelesaian pada pihak lain tanpa ada usaha memperjuangkan tujuannya sendiri.
Proses tersebut adalah taktik perdamaian.
3. Sharing style
Suatu pendekatan penyelesaian dengan kompromi antara dua kelompok. Satu pihak memberi dan
yang lain menerima sesuatu. Ada kompromi dan negosiasi dalam konflik untuk meminimalisasi
kerugian.
4. Collaborative style
Bentuk usaha penyelesaian konflik yang memuaskan kedua belah pihak. Usaha ini adalah
pendekatan pemecahan problem (problem-solving approach) yang memerlukan integrasi dari kedua
pihak.
5. Avoidant style
Menyangkut ketidakpedulian dari kedua kelompok. Keadaaan ini menggambarkan penarikan
kepentingan atau mengacuhkan kepentingan kelompok lain.
B. Crucial Confrontation
Pertentangan pendapat, emosi tinggi, dan pertaruhan risiko; adalah tiga ciri percakapan krusial.
Ada saja kejadian saat kita berkomunikasi dengan orang lain, muncul perasaan
jengkel,

takut,

atau

kesal.

Sayangnya,

dari

banyak

studi

di

lapangan

menunjukkan bahwa peristiwa itu malah membawa dampak besar bagi


kehidupan. Ada efek baik dan buruk.
Dalam keseharian, kita bisa temukan contohnya:
1. Menghadapi anak remaja yang memberontak.
2. Mengatasi pertanyaan siswa yang kreatif, bahkan dinilai terlalu kritis.
3. Meminta seorang teman untuk melunasi pinjaman. Memberi umpan balik kepada atasan,
mengenai sikapnya.
4. Mendekati bos yang tanpa sadar melanggar kebijakannya sendiri menyangkut panduan dan-atau
sasaran organisasi.
5. Mengkritik hasil kerja seorang kolega (teman sebaya).
6. Berbicara dengan anggota tim mengenai kebersihan.
Interaksi pelik seperti itu, dirasa berat bahkan oleh orang-orang dewasa. Banyak orang lebih
memilih untuk menghindarinya, daripada menyelesaikannya dengan bertemu, berkomunikasi tatap
muka, dan bicara terus terang.
Ada tiga pilihan saat kita terlibat dalam percakapan krusial.
1. Menghindarinya,
2. Menghadapinya dengan penanganan yang buruk, atau
3. Menghadapinya dengan solusi penanganan yang baik.
Percakapan krusial bisa kita selesaikan dengan penangan yang baik ketika
kita bersedia menghadapinya, bukan menghindarinya. Adapun alat bantu yang
mutlak kita kuasai, lanjutnya, adalah:
1. Aktif mendengarkan
Karena dengan mendengarkan seksama, kita belajar untuk melihat keseluruhan sisi.
Pendapatku benar, tapi mungkin salah. Dan pendapatmu salah, tapi mungkin benar. Ketika
mendengarkan, kita menyebarkan aroma keamanan bagi seluruh pihak. Dengan mendengarkan,
dan seringkali diimbangi ajuan pertanyaan tepat, kita menciptakan kenyamanan pada orang lain.
Karena kita sungguh-sungguh memperhatikan maksud/harapan teman bicara, bukannya bersiapsiap untuk menyerangnya.
2. Menyepakati tujuan bersama, agar merasa sama-sama menguntungkan.
Setelah terjalin keakraban yang produktif, dengan saling mendengarkan. Kita bisa
meneruskan ke tahap berikutnya. Contoh kalimatnya dalam kehidupan nyata, Mari kita
berangkat dari pilihan ketiga. Ini tidak harus bermula dari kepentingan saya, atau juga dari lokasi
kepentinganmu. Tapi, mari berangkat dari alternatif ketiga yang bisa kita setujui bersama. Dan
titik itu, tidak harus berada tepat di tengah-tengah. Bisa saja muncul di titik luar dari kedua
pilihan kita. Dengan begitu, akan tercipta ruang dua dimensi berbentuk segitiga kesepakatan.
Dan itulah sasaran kita.
3. Komitmen dalam bentuk tindakan.
Di ujung tiap simulasi, selalu terselip pertanyaan pemicu tindakan. Apa yang perlu saya
lakukan sekarang, supaya tujuan ini tercapai?

BAB III
STUDI KASUS
A. Studi Kasus Topik Utama
Link video studi kasus: https://www.youtube.com/watch?v=U64Gunguq3M
Video tersebut bercerita tentang proses perekrutan dan penempatan calon karyawan pada Weiser
Security Services. Weiser Security Services adalah perusahaan jasa yang menyediakan penyediaan
staf keamanan untuk para klien yang membutuhkan. Pelayanan keamanan yang diberikan meliputi
industri, gedung perkantoran, logistik dan distribusi, petrokimia, perumahan, pelabuhan, ruang
angkasa, kesehatan, dan keamanan virtual.
Weiser menggunakan sebuah sistem untuk mempekerjakan calon karyawan mereka. Sistem itu
dimulai dari rekrutmen. Data yang dimiliki Weiser menunjukkan kebanyakan karyawannya yang
berhasil berasal dari proses rekrutmen melalui referensi dan rekrutmen yang selektif bukan berasal
dari iklan koran atau internet. Jadi ketika pihak manajemen Weiser mendeteksi bahwa pelamar
tersebut benar-benar berpotensi, mereka langsung memberikan kesempatan kepada rekruiter untuk
melanjutkan pada tahapan selanjutnya yaitu screening.
Proses screening ini hampir sama ketatnya dengan proses yang dilakukan di kepolisian. Pelamar
harus menjalani 14 standar latar belakang, 18 standar fisik dan mental, dan 16 tahapan proses seleksi.
Setelah lulus itu semua, pelamar harus menjalani sistem profiling khusus Weiser yang disebut
dengan Innerview. Sistem Innerview memfokuskan pada sikap kerja nyata sehari-hari. Sistem
Innerview terdiri dari dua tes. Yang pertama menentukan apakah pelamar memang seharusnya
bekerja sebagai petugas keamanan. Tes kedua menentukan pos apa yang cocok dengan kelebihan
yang dimiliki pelamar. Berdasar sistem Innerview, Weiser mengelompokkan empat pos kerja yang
sesuai dengan kelebihan yang dimiliki pelamar. Dengan menempatkan pelamar ke dalam pos yang
sesuai dengan pribadinya, akan membuat dia merasa nyaman dengan pekerjaan yang dilakukannya
dan bersedia untuk melakukan pekerjaan tersebut untuk waktu yang lama. Pekerjaan yang dilakukan
pun akan memuaskan klien dan kepuasan klien akan menjadi keuntungan bagi Weiser.
B. Studi Kasus Topik Suplemen
Link video studi kasus https://www.youtube.com/watch?v=9GqWfGav7ic
Video tersebut bercerita tentang hari pertama bekerja dua orang karyawan. Kantor tersebut
menerapkan beberapa aturan, salah satunya adalah melepas sepatu di ruangan kantor. Di kantor
mereka disambut oleh Ah Chan, manajer mereka. Ah Chan memberika penjelasan singkat tentang
visi dan misi kantor. Tidak lama setelah itu datang satu orang karyawan baru lagi. Dari percakapan
antara Ah Chan dengan tiga karyawan barunya, kita dapat melihat beberapa sikap yang kurang pantas
untuk dilakukan saat berkomunikasi di lingkungan kantor.
Ah Chan sebagai seorang manager tidak memberikan contoh yang baik kepada bawahannya saat
berkomunikasi dengan mereka. Contohnya Ah Chan meminta seorang karyawan untuk
menonaktifkan telepon selularnya, sementara dia sendiri tidak melakukannya. Seorang pemimpin
yang baik seharusnya memberikan contoh untuk anggota kelompoknya.