Anda di halaman 1dari 30

ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN

(Studi Kasus Pembangunan Jalan Tol CISUMDAWU)

Disusun Oleh :
Encep Farokhi Arisandi
240110130069

UNIVERSITAS PADJADJARAN
JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
JATINANGOR
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan pabrik tekstil yang semakin banyak memberikan pula dampak
negatif berupa meningkatnya tekanan terhadap lingkungan. Hal ini terjadi karena
pembangunan yang kurang memperhatikan daya dukung dan daya tampung
lingkungan setempat, yang pada akhirnya meningkatkan pencemaran dan
kerusakan lingkungan. Pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup tersebut
menjadi beban sosial, yang pada akhirnya masyarakat dan pemerintah yang harus
menanggung biaya pemulihannya. Apabila hal ini dibiarkan terus menerus akan
berakibat

pada

masalah-masalah

yang

semakin

kompleks

dan

sulit

penanganannya. Oleh karenanya pembangunan yang harus dilakukan adalah


pembangunan

yang

berwawasan

lingkungan

yaitu

pembangunan

yang

memadukan lingkungan hidup dengan sumber daya alam, untuk mencapai


keberlanjutan pembangunan yang menjadi jaminan bagi kesejahteraan dan mutu
hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Salah satu upaya yang
dilakukan untuk meminimasi dampak negatif yang timbul dari suatu kegiatan
maka dilakukan penyusunan kajian kelayakan lingkungan berupaAMDAL
(Analisis

Mengenai

Dampak

Lingkungan

Hidup)

atau

UKL &

UPL

(UpayaPengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan


Hidup). Kedua instrument lingkungan ini disatu sisi merupakan kajian kelayakan
lingkungan bagi kegiatan yang akan memulai usaha tetapi disisi lain juga
merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin memulai usaha
termasuk mendirikan pabrik tekstil. Sehingga melalui dokumen ini dapat
diketahui dampak yangakan timbul dari suatu kegiatan kemudian bagaimana
dampak-dampak tersebut dikelola baik dampak negatif maupun dampak positif.
Pada kenyataannya studi kelayakan yang dilakukan oleh para pengusaha baik
dalam bentuk Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup maupun Upaya
Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup tidak
selalu mendapatkan hasil yang optimal.
1.2 Tujuan

1.2.1
1.2.2

Mahasiswa mampu menyusun dokumen kerangka acuan AMDAL.


Mahasiswa mampu menyusun Rona Awal sebagai bagian dokumen
kerangka acuan AMDAL.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Jalan Tol Cisumdawu
Cisumdawu adalah sebuah jalan tol sepanjang 60 kilometer bagian dari Jalan
Tol Trans Jawa yang berada di Jawa Barat menghubungkan daerah Cileunyi Sumedang - Dawuan atau Jalan Tol Padaleunyi dengan Jalan Tol Palimanan-Kanci
keseluruhan mempergunakan lahan seluas 825 ha. Pada 29 November 2011,
Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto bersama Gubernur Jawa Barat Ahmad
Heryawan melakukan peletakan batu pertama proyek jalan tol ini. Peletakan batu
pertama ini dilakukan di interchange Rancakalong Desa Citali, Kelurahan
Pamulihan, Kabupaten Sumedang. Kemudian pada 25 Oktober 2013, Wakil
Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar meninjau proyek pembangunan jalan tol ini.
Deddy berharap tol ini akan selesai pada tahun 2016 mendatang, bersamaan
dengan proses pembangunan Bandar Udara Internasional Kertajati di Majalengka.
2.2 Proses Produksi Tekstil
Industri tekstil memiliki proses yang bervariasi baik dari manufaktur serat
buatan/sintetik maupun serat alam (kapas/cotton). Serat buatan dan serat alam
(kapas) diubah menjadi barang jadi tekstil dengan menggunakan serangkaian
proses. Industri tekstil terdiri dari berbagai kelompok proses yang saling berkaitan
dengan produk (serat /fiber, benang, kain tenun). Pada proses permulaan, industri
tekstil menerima dan mempersiapkan serat kemudian mengubah serat menjadi
benang atau jaring-jaring; setelah itu mengubah benang menjadi kain atau produk
sejenis; lalu dilakukan pewarnaan material-material tersebut. Proses pembuatan
tekstil dibedakan menjadi dua, proses kering dan proses basah.
2.2.1 Proses kering
Proses kering sangat penting meliputi pemintalan yarn pada spinning mill,
pelilitan benang pada kumparan (gulungan), penenunan pada weaving mill,
knitting (pekerjaan rajutan). Serat kapas dibersihkan sebelum disatukan menjadi
benang. Pemintalan mengubah serat menjadi benang. Sebelum proses penenunan
atau perajutan, benang buatan maupun kapas dikanji agar serat menjadi kuat dan

kaku. Zat kanji yang lazim digunakan adalah pati, perekat gelatin, getah, polivinil
alkohol (PVA), dan karboksimetil selulosa (CMC). Penenunan, perajutan,
pengikatan dan laminasi merupakan proses kering.
2.2.2 Proses basah
Proses produksi tekstil dengan proses basah meliputi langkah-langkah
sebagai berikut.

Pencucian
Pencucian adalah proses pengeluaran kotoran-kotoran organik dan anorganik

yang dapat mengganggu proses-proses selanjutnya. Pencucian dilakukan dengan


menggunakan bahan pencuci yang dilarutkan ke dalam air, misalnya surfaktan.

Pemrosesan (processing)
Dalam industri tekstil, processing adalah pemberian bahan pelapis pada

permukaan produk-produk tekstil atau pemindahan bahan-bahan dari serat (fiber)


secara kimia. Proses-proses yang penting antara lain sebagai berikut.
a

Caustic scouring, yakni proses pemasakan untuk memindahkan kotoran.


Proses ini dibantu dengan penambahan surfaktan. Pemasakan untuk
memindahkan kotoran memberikan hasil yang lebih baik daripada pencucian
dengan air dingin.

Sizing, yaitu proses yang dilakukan untuk menyiapkan serat sebelum


processing dan mencegah hancurnya serat. Sizing terutama dilakukan sebelum
proses knitting. Weaving agent yang digunakan adalah starch, polyvinyl
alcohol (PVA), dan carboxymethyl cellulose (CMC).

Bleaching yaitu pemutihan atau pemucatan kain. Proses ini dilakukan dengan
menggunakan larutan peroxide hypochlorite atau chlorin dikombinasikan
dengan sodium silikat dan soda kaustik.

Mercerization, yakni mencelup kain ke dalam larutan soda (NaOH 20%-25%)


dalam tekanan. Proses ini bertujuan untuk mengembangkan serat sehingga
memperbaiki penampakan, kemampuan untuk menyerap warna, dan kekuatan.

Dyeing yaitu proses pemberian warna atau pewarnaan. Beberapa bahan kimia
penting yang digunakan dalam proses ini adalah vat dyes, sulfur dyes, reactive
dyes, disperse dyes, acid dyes, metal complex dyes, dan basic dyes. Beberapa

jenis bahan kimia lain yang ditambahkan adalah surfaktan, asam basa, dan
garam.
f

Printing yaitu proses di mana cetakan-cetakan berwarna diletakkan pada kain


menggunakan roller atau mesin pencetak dengan screen. Warna-warna
dilekatkan dengan menggunakan proses penguapan atau cara pengolahan yang
lain, seperti bahan kimia dan energi panas. Dalam proses ini, air limbah
dihasilkan dari pencucian mesin, kira-kira sekali sehari

Rinsing, yaitu proses pencucian. Proses ini diperlukan setelah salah satu
proses di atas dilaksanakan, terutama setelah caustic scouring, bleaching,
mencerization, dan dyeing. Air limbah yang dihasilkan dari proses ini cukup
banyak.

Finishing, yaitu proses akhir yang meliputi seluruh proses memasukkan atau
melapiskan bahan-bahan tertentu pada tekstil sehingga diperoleh kualitas
tertentu. Proses ini dapat berupa proses kering maupun basah.
Karakteristik kualitas meliputi sentuhan, ketahanan liputan (cross resistant),

anti-air (waterproofing), penyusutan awal (preshrinking), ketahanan terhadap


bakteri (bacteria resistant), ketahanan terhadap api (fireproofing), ketahanan
terhadap oli atau minyak (oil resitant), dan anti ngengat.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa proses produksi tekstil meliputi
pencucian, pemrosesan. Pemrosesan terdiri dari pemasakan atau pemindahan
kotoran, kemudian menyiapkan serat sebelum proses, lalu bleaching, kemudian
mercerisation, dyeing, printing. Setelah pemrosesan selesai dilakukan rinsing,
kemudian langkah terakhir finishing.
Proses yang diuraikan di atas adalah proses industri tekstil dari awal.
Beberapa industri kecil tidak memproduksi kain sendiri, tetapi membeli kain
putih, untuk kemudian diproses lebih lanjut. Jika sudah berbentuk kain putih,
maka proses awal yang harus dilakukan adalah pemutihan atau bleaching.

2.3. Kuantitas Limbah Cair Industri Tekstil


Industri tekstil menggunakan volume yang besar melalui operasinya, dari
pencucian serat hingga pemutihan (bleaching), pewarnaan, dan pencucian produk
jadi. Pada umumnya, dibutuhkan 200 L air untuk memproduksi barang jadi tekstil
sebesar 1 kg. Air yang dikonsumsi setiap kategori serat ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Konsumsi Air Rata-rata untuk Setiap Tipe Serat


Tipe serat (Sub-kategori Processing)
Wol
Woven
Knit
Karpet
Stock/yarn
Nonwoven
Felted fabric finishing

Konsumsi air (m3/ton material serat)


Minimum Median Maksimum
111
285
659
5
114
508
20
84
377
8,3
47
163
3,3
100
558
2,5
40
83
33
213
933

Volume limbah yang besar tersebut menjadi sebuah masalah di industri


tekstil. Limbah cair tersebut dapat berasal dari preparasi substrat yang bersifat
alkali (basa), pembilasan, dan pencucian setelah operasi pewarnaan serta limbah
dari operasi batch pada saat pewarnaan. Limbah ini tidak memiliki beban yang
terlalu berat pada sistem pengolahan. Volume limbah yang besar ini dapat
direduksi melalui sistem reuse dan recycle, modifikasi proses, dan pengubahan
peralatan. Namun demikian, masih banyak kasus dimana hanya sedikit volume
yang dapat terkurangi.

2.4. Karakteristik Limbah Cair Industri Tekstil


Karakteristik limbah cair dari setiap tahapan proses operasi tekstil akan
berbeda. Limbah cair dari unit pencetakan dan pewarnaan biasanya banyak

mengandung warna yang terdiri dari residu reaktif kimia dan pewarnaan dan
membutuhkan pengolahan khusus sebelum dibuang ke lingkungan. Karakteristik
dan kuantitas effluen dari industri tekstil akan berbeda antara industri tekstil satu
dengan yang lainnya karena tergantung dari proses produksi yang dilakukan.
Umumnya, limbah cair industri tekstil besifat alkalin (basa) dan memiliki BOD
dengan rentang 700 hingga 2000 mg/L. Karakteristik limbah cair tekstil
ditunjukkan pada Tabel 2, dengan per unit produksinya .
Tabel 2. Karakteristik Limbah Cair di Industri Tekstil
Proses dan Unit (U)

Volume

BOD

Limbah (m3/U) (kg/U)

TSS

Polutan lain

(kg/U)

(kg/U)

Minyak 191

Wool processing (produksi: 1


ton wol)
Stok unscoured rata-rata
Stok scoured rata-rata
Proses spesifik
Scouring
Dyeing
Washing
Carbonizing
Bleaching

544

314

196

537

87

43

17
25
362
138
12,5

227
27
63
2
1,4

153

265

115

70

4,2
22
100
100
35
50
14

2,8
58
53
8
8
60
54

30
22
5
2,5
25
12

42
75
125
210

30
45
45
125

55
43
30
87

44

Cotton processing (produksi:


1 ton cotton/kapas)
Compounded rata-rata
Proses spesifik
Yarn sizing
Desizing
Kiering
Bleaching
Mercerizing
Dyeing
Printing
Serat lain (produksi: 1 ton
produk)
Rayon processing
Acetate processing
Nylon processing
Acrylic processing

Cr
Fenol
Cr
Fenol

1,33
0,17
1,33
0,17

Minyak 191
Cr
1,33
Fenol 0,17

Polyester processing

100

185

95

2.5 Zat Warna Tekstil


2.5.1 Sifat Zat Warna Direk
Zat warna direk bersifat larut dalam air, sehingga dapat langsung dipakai
dalam pencelupan serat selulosa seperti katun, rayon dan rami. Zat warna direk
relatif murah harganya dan mudah pemakaiannya, tetapi warnanya kurang cerah
dan tahan luntur hasil celupannya kurang baik
Zat warna Direk mempunyai daya afinitas yang besar tehadap serat selulosa,
beberapa zat warna direk dapat mencelup serat binatang berdasarkan ikatan
hidrogen. Kebanyakan zat warna direk merupakan senyawa azo yang disulfonasi.
Kelarutan zat warna direk merupakan faktor penting yang perlu
dipertimbangkan karena zat warna direk yang kelarutannya tinggi akan
memudahkan dalam pemakaiannya, dan pada proses pencelupannya relatif lebih
mudah rata, tetapi dilain pihak kelarutan yang tinggi akan mengurangi
substantifitas zat warna dan tahan luntur warna terhadap pencucian hasil celupnya
lebih rendah. Proses pelarutan zat warna direk :
H2O
R1-N=N-R2-SO3Na R1-N=N-R2-SO3- + Na+ R1-N=N-R2-SO3- . aq +
Na+ . aq
Faktor yang menentukan kelarutan zat warna direk adalah ukuran partikel
zat warna direk dan jumlah gugus pelarut dalam struktur zat warnanya. Makin
kecil ukuran partikel zat warna makin tinggi kelarutannya, demikian pula bila
jumlah gugus pelarutnya makin banyak.
2.5.2 Sifat Zat Warna Reaktif
Zat warna reaktif terbagi menjadi 2 bagian yaitu Zat Warna Reaktif Panas
dan Zat Warna Reaktif Dingin.

Zat Warna Reaktif Dingin


Yang termasuk zat warna reaktif dingin adalah Procion M dengan sistem

reaktif diklorotriazin (DCT) dan drimarene K engan sistem reaktif dyfluoro-

monokhlro-pirimidin. Keduannya termasuk zat warna raktif yang bereaksi dengan


serat melalui mekanisme substitusi nukleofilik.
Kereaktifan zat warna reaktif dingin sangat tinggi sehingga proses
pencelupannya dapat dilakukan pada suhu 30oC 40OC. Oleh karena itu
kromogen zat warna reaktif dingin relatif kecil sehingga warnannya lebih cerah
dari zat warna reaktif panas.
Hal yang sangat perlu dilakukan diperhatikan dalam proses pencelupannya
adalah zat warnanya sangat kurang stabil, sangat mudah rusak terhidrolisis,
sehingga perlu dilakukan usaha-usaha guna menguirangi terjadinnya reaksi
hidrolisis.
Zat pembantu yang perlu ditambahkan pada larutan celup antara lain
elektrolit (Na2SO4, NaCl), Na2CO3, dan pembasah. Selain itu dapat juga
ditambahkan zat pelunak air, zat anti crease mark dan zat antireduksi. Setiap zat
pembantu tekstil mempunyai fungsi masing-masing yang dapat memperlancar
proses pencelupan.

Zat Warna Reaktif Panas


Zat warna reaktif adalah suatu zat warna yang dapat mengadakan reaksi

dengan serat sehingga zat warna tersebut merupakan bagian dari serat. Oleh
karena itu, hasil celupan zat warna reaktif mempunyai ketahanan cuci yang sangat
baik. Demikian pula karena berat molekul zat warna reaktif kecil maka kecerahan
warnanya akan lebih baik daripada zat warna direk.
Khromofor zat warna reaktif mempunyai berat molekul yang kecil agar daya
serap terhadap serat tidak besar sehingga zat warna yang tidak bereaksi dengan
serat mudah dihilangkan. Gugus penghubung dapat mempengaruhi daya serap dan
ketahanan zat warna terhadap asam atau basa. Agar reaksi dapat berjalan dengan
baik diperlukan penambahan alkali misalnya Natrium Silikat dan KOH karena
apabila telah dikerjakan dengan alkali bahan akan tahan pencucian dan
penyabunan. Disamping terjadi reaksi antara zat warna dengan serat yang
membentuk ikatan pseude ester dan eter, molekul air juga dapat mengadakan
reaksi hidrolisa dengan molekul zat warna, dengan memberikan komponen zat
warna yang tidak reaktif lagi. Reaksi hidrolisa tersebut akan bertambah cepat
dengan penaikan temperatur.

2.5.3 Zat Warna Naftol


Zat warna naftol adalah zat warna azo yang pembuatannya simultan dengan
proses pencelupan, zat warna naftol terdiri dari 2(dua) komponen yaitu naftol dan
garam diazonium. Naftol tidak bisa larut di air sehingga untuk penaftolan bahan
naftol harus dirubah menjadi naftolat dengan menambahkan NaOH. Setelah
penaftolan bahan barulah warnanya dibangkitkan dengan garam diazonium
sehingga terjadi proses kopling antara naftol dan garam diazonium didalam serat.
Berdasarkan warna hasil koplingnya, ada 2 jenis naftol yaitu naftol
monokromatik yang warnannya mengarah kesatu arah warna dan naftol
polikromatik.
Sifat-sifat umum dari zat warna naftol :

Tidak luntur dalam air

Luntur dalam piridin pekat mendidih

Bersifat poligenetik dan monogenetic

Karena mengandung gugus azo, maka tidak tahan terhadap redukto.

2.6 Penghilangan Zat Warna Naftol Dari Limbah Cair Industri Tekstil
Dengan Ampas Tebu
Tebu merupakan salah satu jenis tanaman yang hanya dapat ditanam di
daerah yang memiliki iklim tropis. Di Indonesia, perkebunan tebu menempati luas
areal 232 ribu hektar, yang tersebar di Medan, Lampung, Semarang, Solo, dan
Makassar. Pada tahun 2002 produksi tebu Indonesia mencapai 2 juta ton. Tebutebu dari perkebunan diolah menjadi gula di pabrik-pabrik gula. Berdasarkan data
dari Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) ampas tebu yang
dihasilkan sebanyak 32% dari berat tebu giling. Pada musim giling 2006 lalu, data
yang diperoleh dari Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) menunjukkan bahwa
jumlah tebu yang digiling oleh 57 pabrik gula di Indonesia mencapai sekitar 30
juta ton, sehingga ampas tebu yang dihasilkan diperkirakan mencapai 9.640.000
ton. Namun, sebanyak 60% dari ampas tebu tersebut dimanfaatkan oleh pabrik
gula sebagai bahan bakar, bahan baku untuk kertas, bahan baku industri kanvas
rem, industri jamur dan lain-lain. Oleh karena itu diperkirakan sebanyak 40 % dari
ampas tebu tersebut belum dimanfaatkan. Di samping terbatas, nilai ekonomi yang

diperoleh juga belum tinggi sehingga diperlukan adanya pengembangan proses


teknologi agar terjadi diversifikasi pemanfaatan limbah pertanian.
Dari data statistik, ampas tebu yang dihasilkan oleh pabrik gula yang ada di
pulau Jawa berkisar antara 9,5 juta ton/tahun. Ampas kelebihan (yang belum
termanfaatkan oleh Pabrik Gula) 800.000 ton, sebagian terserap oleh industri
kertas, industri jamur 500.000 ton, dengan demikian masih terdapat kelebihan
ampas tebu 300.000 ton yang terbuang, sehingga nilai ampas tebu sangat rendah.
Indonesia menghasilkan sejumlah besar ampas tebu setiap tahun karena
banyaknya pabrik gula di Indonesia. Pemanfaatan sisa sampah pertanian untuk
mengolah air limbah setidak-tidaknya dapat menekan biaya karena bahan baku
dapat diperoleh dengan harga murah, bahkan secara cuma-cuma. Selain itu
keberadaan bahan baku tersebut berlimpah. Pemanfaatan sampah, dalam hal ini
ampas tebu, sebagai bahan baku karbon aktif juga memberikan solusi masalah
pembuangan sampah.
Ampas tebu yang diperoleh dari pabrik gula dikeringkan di bawah sinar
matahari hingga kering kemudian digiling hingga halus. Bubuk ampas tebu diayak
sehingga ukurannya -80 hingga +230 mesh. Agar dapat menyerap zat warna,
bubuk tersebut dikerjakan dengan larutan formaldehid 1%, dengan perbandingan
berat terhadap volume 1:5 pada suhu 500C selama 4 jam. Selanjutnya dibilas
dengan air suling untuk menghilangkan formaldehid bebas dan diaktifkan pada
suhu 800C di dalam oven selama 24 jam.
Sebagian dari ampas tebu dikerjakan dengan larutan asam sulfat kemudian
dipanaskan pada suhu 1500C selama 24 jam. Ampas tebu yang telah dipanaskan
dibilas dengan air suling dan direndam dalam larutan natrium bikarbonat 1%
selama semalam untuk menghilangkan sisa-sisa asam. Selanjutnya bahan tersebut
dikeringkan di dalam oven pada suhu 1500C selama 24 jam, dihaluskan dan diayak
sehingga diperoleh ukuran -80 hingga +230 mesh.
Penelitian ini diawali dengan membuat larutan zat warna sebagai simulasi
dari limbah tekstil. Zat warna yang digunakan adalah zat warna naftol.
Konsentrasi awal larutan divariasikan dari 50 mg/L hingga 250 mg/L dengan
interval 50. Obat bantu yang digunakan adalah NaOH 380 Be dan TRO.

Proses adsorpsi dilakukan dilakukan dengan memasukkan 100 mL larutan zat


warna pada masing-masing variasi dan 400 mg adsorben ke dalam Erlenmeyer
dan diaduk dengan kecepatan 160 rpm. Selanjutnya konsentrasi akhir larutan zat
warna diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 617 nm.

BAB IV
HASIL
Tabel. 1 Ringkasan Metode Studi
Dampak
No

Penting
Hipotetik
(DPH)

Data dan

Metode

Metode

Informasi

Pengumpula

Prakiraan

yang

n Data

Dampak

Relevan dan

untuk

Dibutuhkan
Prakiraan
Pra Kontruksi

Metode
Analisis Data
untuk
Prakiraan

Metode
Evaluasi
(secara
keseluruha
n dampak)

Peningkatan
larian

Data

permukaan
1

dari

Q=
0,00278

kegiatan

Data curah
hujan

CIA

pembukaan

sekunder dan
data

primer

pada

lokasi

sampling

Isohyet
Proffesional

Judgment oleh bagan alir


pakar

lahan
data
Peningkatan ambient
2

debu

dari debu

dan parameter

pembukaan

peningkatan

lahan

konsentrasi

kualitas udara analisis lab

debu
traffic load data
Lalu
3

keluar indeks

lintas perlambatan masuk

penurunan

kendaraan

oleh adanya kendaraan

proyek

lalu

lintas per

kegiatan

Lalu

sampling

terhadap

hari/per kecepatan

jam

rencana
Kontruksi
keluar indeks

lintas traffic load data

kendaraan

perlambatan masuk

penurunan

proyek

oleh adanya kendaraan

terhadap

lalu

lintas per

hari/per kecepatan

Metode

membandingka
n dengan baku
mutu udara

kegiatan

jam

rencana

dan parameter

sampling

data
Debu
5

dari ambient

proses

debu

pembangun

peningkatan

an

konsentrasi

kualitas udara analisis lab

membandingka
n dengan baku
mutu udara

debu
Kebisingan
dari
6

kendaraan
dan

alat

proyek

membandingka
pengukuran

dengan alat data


ukur

nilai

kebisingan

dengan

standar
kebisingan

kebisingan

di

wilayah
kontruksi
Pasca Kontruksi

Menurunny
a kuantitas
air

untuk

konsumsi
7

parameter

perusahaan

metode

kualitas

dan

storet

seperti BOD, analisis lab

menurunnya
kualitas air
akibat
limbah

COD, dll

air sampling

membandingka
n dengan baku
mutu air

Tabel. 2. Ringkasan Proses Pelingkupan

No

Deskripsi
Rencana
Kegiatan
yang
Berpotensi
Menimbulka
n Dampak
Lingkungan

Pengelolaan
Lingkungan
yang Sudah
Direncanakan
Sejak Awal
Sebagai
Bagian dari
Rencana
Kegiatan

Tahap Pra kontruksi


1
Perizinan
Peraturan
Pemerintah
Nomor 27
Tahun 2012

Tahap Kontruksi
1
Mobilitas
peralatan
danMeterial

Tidak ada

Kompo
Pelingkupan
nen
Lingku
ngan
Terken
Evalua
a
Damp
si
Dampak
Dampa
ak
Dampa Penting
k
Poten
k
Hipoteti
sial
Potensi k (DPH)
al

Wilayah
Studi

Sikap
dan
Preseps
i
Masyar
akat

Keres
ahan
masya
rakat

Keresa
han
masyar
akat
yang
dapat
ditimbu
lkan
oleh
peizina
n itu
adanya
kekhaw
atiran
masyar
akat
akan
tergang
gunya
tempat
tinggal
mereka
akibat
kegiata
n
pembag
unan
pasar

Disimp
ulkan
menjad
i DPH

Jala
n
Ran
caek
ek
Kec
amat
an
Ran
caek
ek
Kab
upat
en
Ban
dng

Kompon
en
Fisik-

Penur
unan
kualit

Disimp
ulkan
menjad

Bata
s
ekol

Pen
uru
nan

Bat
as
Wa
ktu
Kaji
an

3 bulan

kimia
dan
Presepsi
Masyar
akat

as
udara
dan
Keres
ahan
Masy
arakat

kual
itas
uda
ra
amb
ient
unt
uk
para
met
er
deb
u
dan
gan
ggu
an
pen
den
gara
n
akib
at
pera
lata
n
kon
truk
si
Ke
mac
etan
akib
at
ken
dara
an
kon
truk
si
yan
g
bera
ktiv
itas
dilo
kasi
Kon
flik
yan
g
terj
adi

i DPH.
Namun
dampak
ini
dapat
dikelol
a
dengan
cara:
a.
Men
ggun
akan
kend
araa
n
yang
dilen
gkap
i
deng
an
penu
tup
ban
sehi
ngga
dapa
t
mem
inim
alisir
debu
yang
timb
ul
b.
Mela
kuka
n
pemb
atasa
n
jam
untu
k
kegia
tan
mobi

ogi
untu
k
debu
dari
mob
ilisa
si
peral
atan
dan
mate
rial
adal
ah
sepa
njan
g
jalan
raya
Ran
caek
ek

1 Minggu

Penerimaan
Tenaga Kerja

Tidak ada

Pembersihan
dan
Pematangan
Lahan

UndangUndang
Nomor 32
Tahun 2009

anta
ra
mas
yara
kat
dan
piha
k
kon
truk
si

lisasi
peral
atan
dan
mate
rial

Terbuk
anya
peluang
usaha
secara
tidak
langsun
g pada
lokasi
sekitar
proyek
dan
pening
katan
pendap
atan
daerah

Disimp
ulkan
menjad
i DPH

Jala
n
Ran
caek
ek
Kec
amat
an
Ran
caek
ek
Kab
upat
en
Ban
dng

Kompo aKualit aPenurun


as
an
nen
uda
kualit
Lingku
ra
as
ngan
(de
udara
Fisik,
bu
ambi
Kimia
dan
ent
dan
keb
untuk
Biologi
isin
para

Disim
pulka
n
menja
di
DPH

Bata
s
ekol
ogis
dari
pem
bang
unan
Pabr
ik
tekst
il
yaitu
bata
s
kiri
kana
n
salur
an
drai

Pendap
atan
masyar
akat

Penin
gkata
n
penda
patan
masya
rakat

gan
)
b Fisi
ogr
afi
dan
Ben
tan
g
Lah
an
cFlora
dan
fau

meter
debu
dan
gang
guan
pend
engar
an
akiba
t
peral
atan
kontr
uksi

1 Minggu

1 bulan

na

bPerubah
an
ekosi
stem
dan
pola
drain
ase
alami
serta
akan
meng
hilan
gkan
kelest
arian
lingk
unga
n
(ekos
istem
dan
benta
ng
alam
yang
ada)
cPembers
ihan
lahan
akan
meng
hilan
gkan
beber
apa
flora
darat
(vege
tasi)
dan
secar
a
tidak
langs
ung
akan
berda
mpak
terha
dap
kehid
upan

nase
di
jalan
ranc
aeke
k,
sam
pai
mua
ra
sung
ai

satwa
yang
ada
disek
itarny
a

Pembanguna
n sarana dan
prasarana

UndangUndang
Nomor 32
Tahun 2009

Kompo a Kualit aPenurun


as
an
nen
udar
kualit
(fisik,
a
as
kimia
(deb
udara
dan
u
ambi
biologi)
dan
ent
dan
kebi
untuk
Ekono
sing
para
mi
an
meter
Masyar b Kualit
debu
akat
as
dan
air
c Kesem
pata
nKe
rja
dan
Ber
usah
a
d kemac
etan

gang
guan
pend
engar
an
akiba
t
peral
atan
kontr
uksi
b Meni
ngkat
nya
BOD
,
TSS,
TDS
dan
pH.
cKegiata
n
mobil
isasi
terha
dap
kese
mpat
an
kerja
dan
berus
aha,

Disimp
ulkan
menjad
i DPH

Bata
s
ekol
ogis
dari
pem
bang
unan
pabr
ik
tekst
il
yaitu
bata
s
kiri
kana
n
salur
an
drai
nase
di
jalan
Ran
caek
ek,
sam
pai
mua
ra
sung
ai

2 Tahun

pemb
ersih
an
dan
pema
tanga
n
lahan
serta
pemb
angu
nan
saran
a dan
prasa
rana.

Tahap Pasca Kontruksi


1
Pengoperasia Undangn Fasilitas
Undang
Layanan
Nomor 32
Tahun 2009

Kompo
nen
(fisik,
kimia
dan
biologi)
dan
Ekono
mi
Masyar
akat

a Ku aPenurun
a
an
li
kualit
t
as
a
udara
s
ambi
u
ent
d
untuk
a
para
r
meter
a
debu
(
dan
d
gang
e
guan
b
pend
u
engar
d
an
a
akiba
n
t
k
peral
e
atan
b
kontr
i
uksi
s b Meni
i
ngkat
n
nya
g
BOD
a
,
n
TSS,
b Kua
TDS
litas
dan
air
pH.
cKonfli cKonflik
k
sosial
sosi
dari

Disimp
ulkan
menjad
i DPH

Jala
n
Ran
caek
ek,
Kec
amat
an
Ran
caek
ek
Kab
upat
en
Ban
dung

6 bulan

al
Kes
em
pata
nKe
rja
dan
Ber
usa
ha

intera
ksi
peng
guna
pasar
(peda
gang)
yang
tidak
puas
terha
dap
fasilit
as
atau
layan
an
pasar
yang
diper
oleh.
Terbu
kany
a
pelua
ng
usaha
secar
a
tidak
langs
ung
pada
lokas
i
sekita
r
proye
k dan
penin
gkata
n
pend
apata
n
daera
h di
kabu
paten
band
ung
dan
kec.

ranca
ekek

2.

Pengoperasia
n sarana
penunjang
umum

UndangUndang
Nomor 32
Tahun 2009

a.
Kompo a.
Penin
nen
Ku
gkatan
(fisik,
alit
konse
kimia
as
ntrasi
dan
uda
debu
biologi)
ra
di
dan
(de
udara
Sosialbu
dan
ekono
dan
tingka
mi
keb
t
isin
kebisi
ngan
gan
yang
b.
diakib
Ku
atkan
alit
oleh
as
mobili
air
sasi
c.
kenda
Konflik
raan
sosial
yang
d.

hilir
mudik
menga
ngkut
baran
g
dagan
gan
dan
keluar
pasar

Kese
mpata
n
Kerja
dan
Berus
aha

b.
Limba
h cair
yang
berasa
l dari
pasar
basah
apabil
a tidak
dikelo
la
denga
n baik
dapat
meni

Disimp
ulkan
menjad
i DPH

Jala
n
Ran
caek
ek,
Kec
amat
an
Ran
caek
ek
Kab
upat
en
Ban
dung

6 bulan

mbulk
an
penur
unan
kualit
as air
c.
Konfli
k
sosial
karena
gangg
uan
keseh
atan
yang
munc
ul dari
sistem
seloka
n/
draina
se
pasar
dan
pengel
olaan
padat
di
TPS
yang
ada
dapat
meni
mbulk
an bau
dan
sumbe
r
timbul
nya
penya
kit.

d.
Terbu
kanya
pelua
ng
usaha
secar
a

tidak
langs
ung
pada
lokasi
sekita
r
proye
k dan
penin
gkata
n
penda
patan
daera
h
3.

Pemeliharaan
fasilitas
layanan
sarana
penunjang
umum

UndangUndang
Nomor 32
Tahun 2009

Ekono
mi
masyar
akat
dan
kompo
nen
biologi

a.

a.
Kese
mpata
n
Kerja
dan
Berus
aha

Terbu
kanya
peluan
g
usaha
secara
tidak
langsu
ng
pada
lokasi
sekitar
proye
k dan
penin
gkatan
penda
patan
daerah

b.
Pen
uru
nan
flor
a
(ve
geta
si)

Disimp
ulkan
menjad
i DPH

Jala
n
Ran
caek
ek
Kec
amat
an
Ran
caek
ek
Kab
upat
en
Ban
dung

Disimp
ulkan
menjad
i DPH

Jala
n
Ran
caek
ek
Kec
amat

6 bulan

b.
Penan
aman
pohon
yang
cukup

4.

Pengelolaan
Limbah
Domestik

UndangUndang
Nomor 32
Tahun 2009

Kompo
nen
kimia

Ku
alit
as
air

Penur
unan
kualit
as air
yang
diseb
abka
n dari

6 bu
la

selok
an/dr
ainas
e
pasar
dan
peng
elola
an
limba
h
yang
langs
ung
dibua
ng ke
drain
ase
sehin
gga
meny
ebab
kan
pence
mara
n air

an
Ran
caek
ek
Kab
upat
en
Ban
dung

BAB V
DESKRIPSI

Deskripsi rencanan usaha dan kegiatan yang dikaji


Dalam proses pembuatan pabrik industry tekstil ini dibagi kepada 3 tahap
dalam deskripsi rencana kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak
lingkungan yaitu tahap pra konstruksi, tahap konstruksi dan tahap pasca kontruksi,
pada tahan pra konstruksi hal yang diberpotensi menimbulkan hal ini adalah
perizinan yang akan menimbulkan masyarakat yang akan menggangu tempat
tinggal mereka, lalu di tahap konstruksi ada kegiatan berupa mobilitas peralatan
dan material yang menimbulkan polusi yaitu kualitas udara yang menurun karena
adanya mobilisasi dari alat alat berat dalam pembangunan,serta pembersihan
pematangan lahan yang akan menimbukan perubahan ekosistem di masyarakat
dan pada saat kegiatan pembangunan berlangsung menimbulkan efek yang sama
yaitu penurunan kualitas udara meningkatnya BOD, TSS, TDS dan Ph . Lalu pada
tahap pasca konstruksi adalah kegiatan seperti peengopersian sarana penunjang
serta pengelolaan limbah domestic menimbulkan Penurunan kualitas air yang
disebabkan dari selokan/drainase pasar dan pengelolaan limbah yang langsung
dibuang ke drainase sehingga menyebabkan pencemaran air
1

Deskripsi rona lingkungan


Pada dasarnya kegiatan suatu industri adalah mengolah masukan (input)

menjadi keluaran (output). Keluaran yang dihasilkan suatu industri adalah berupa
produk yang diinginkan beserta limbah. Limbah dapat yang bernilai ekonomis
sehingga dapat dijual atau dipergunakan kembali dan yang tidak bernilai
ekonomis yang akan menjadi beban lingkungan. Limbah ini dikeluarkan melalui
media udara, air dan tanah yang merupakan komponen ekosistem alam.
Bahan pencemar yang masuk ke dalam lingkungan akan berinteraksi
dengan satu atau lebih komponen lingkungan. Perubahan komponen lingkungan
secara fisika, kimia dan biologi sebagai akibat dari adanya bahan pencemar akan
mengakibatkan perubahan kualitas lingkungan. Limbah yang mengandung bahan

pencemar akan mengubah kualitas

bila lingkungan tersebut tidak mampu

memulihkan kondisinya sesuai dengan daya dukung yang ada padanya.


Pertumbuhan industri pada negara-negara berkembang justru memberikan
kontribusi terhadap perusakan lingkungan. World Resource Institute menyebutkan
pada tahun 1990-an pertumbuhan industri di negara-negara berkembang mencapai
5,6% bila dibandingkan dengan pertumbuhan di negara-negara yang sudah maju
(1%) (Surna T. Djajadiningrat, 2004). Pada umumnya industri yang tumbuh di
negara berkembang adalah industri kimia, kertas, tekstil dan pertambangan, yang
merupakan industri dengan kadar pencemaran pada udara, air maupun terhadap
lahan/tanah.
Permasalahan lain yang terjadi di negara berkembang adalah belum
adanya struktur hukum dan kelembagaan yang efektif untuk mengahadapi isu
pengendalian pencemaran. Laporan terakhir menyebutkan dalam Laporan Komisi
WHO Mengenai Kesehatan dan Lingkungan (2001) bahwa hanya sedikit standar
kesehatan untuk membatasi pemaparan di tempat kerja; di sebagian besar negara,
proses penetapan standar baru pada tahap mengatur praktek kerja atau pemaparan
terhadap bahan toksik tidak ada, standar-standar sering tidak diterapka oleh karena
alasan politik atau ekonomi atau oleh karena pengawasnya tidak cukup terlatih.
2. Dampak penting hipotik
Diawali identifikasi dampak potensial (menduga semua dampak yang
berpotensi) berupa dampak-dampak yang mungkin timbul atas adanya rencana
usaha dan atau kegiatan yang diusulkan. 2) Evaluasi dampak potensial (esensinya
memisahkan dampak-dampak yang perlu kajian mendalam untuk membutikan
dugaan (hipotesa) dampak (dari dampak yang tidak lagi perlu dikaji): salah satu
kriteria penapisan untuk menentukan apakah suatu dampak potensial dapat
menjadi dampak hipotetik (DPH) adalah dengan menguji apakah pihak
pemrakarsa telah berencana untuk mengelola dampak dengan cara-cara yang
mengacu pada SOP tertentu, panduan teknis tertentu yang diterbitkan pemerintah
dan atau standar internasional tersebut. v Penyusun Amdal diharapkan
menyampaikan keluaran berupa uraian proses evolusi dampak potensial menjadi
DPH.

Contoh dampak penting hipoteik pada kegiatan mobilisasi kendaraan berat adalah
sbb: Disimpulkan menjadi DPH. Namun dampak ini dapat dikelola dengan cara:
a. Menggunakan kendaraan yang dilengkapi dengan penutup ban sehingga
dapat meminimalisir debu yang timbul
b. Melakukan pembatasan jam untuk kegiatan mobilisasi peralatan dan
material
3. Batas wilayah studi dan kegiatan yang dikaji
Dalam proses pelingkupan, harus diidentifikasi secara jelas pula batas waktu
kajian yang akan digunakan dalam melakukan prakiraan dan evaluasi dampak
dalam kajian Amdal. Setiap dampak penting hipotetik yang dikaji memiliki batas
waktu kajian tersendiri. Pematauan batas waktu kajian ini selanjutnya digunakan
sebagai dsar untuk melakukan pemantauan perubahan rona lingkungan tanpa
adanya rencana usaha dan atau kegiatan atau dengan adanya rencana usaha dan
atau kegiatan.
Dalam kegiatan industry tekstil ini di bangun di wilayah jalan raya rancaekekcicalengka yang bertempat di kecamatan rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa
Barat dan waktu kegiatan yang diperlukan pada sat pra konstruksi adalah selama 3
bulan , total waktu pada konstruksi adalah 2 tahun 2 bulan dan satu minggu serta
pada pasca konstruksi adalah 6 bulan.

DAFTAR PUSTAKA
Adhikusuma.
2008.
Terdapat
pada:
http://adhikusumastuti.blogspot.
com/2008/08/penghilangan-zat-warna-naftol-dari.html (Diakses pada tanggal
19 Juni 2015 pukul 08.09 WIB)
Hadi. 2011. Terdapat pada: http://firtanahadi.blogspot.com/2011/03/zat-warnatekstil.html (Diakses pada tanggal 19 Juni 2015 pukul 10.12 WIB)
Juju. 2012. Terdapat pada: https://jujubandung.wordpress.com/2012/06/11/
kuantitas-dan-karakteristik-limbah-cair-industri-tekstil/ (Diakses pada tanggal
19 Juni 2015 pukul 07.32 WIB)