Anda di halaman 1dari 81

CASE REPORT SESSION

D I SU S U N O L E H :
FI T R I A F R IAT N I
UMMI YUSUF
M A RYAM H AZ R INA
PRESEPTOR :
AM I RAC H M I, D R., S P.K FR

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. A

Usia : 67 tahun
Jenis Kelamin
Pekerjaan

: Laki-laki

:-

Pendidikan : SD
Alamat : Pangalengan
Agama : Islam
Ras : Sunda
Tanggal masuk pasien : 19 Mei 2016
Tanggal pemeriksaan : -

Keluhan Utama

Pusing

Anamnesis
Pasien datang dengan keluhan pusing sejak
seminggu SMRS. Pasien mengaku keluhan ya
dirasakan tiba-tiba ketika pasien sedang berjalan
di sawah dan langsung dibawa ke dokter
terdekat dan dikatakan bahwa tekanan darah
pasien sebesar 190. Pasien mengaku pusingnya
disertai mulut mencong, bicara tidak jelas dan
badan terasa lemas. Pasien menyangkal adanya
demam, mual, muntah, serta kejang-kejang.

Pasien mengaku mempunyai riwayat stroke 3 tahun


yang lalu. Pasien juga mengaku mempunyai tekanan
darah tinggi yang tidak terkontrol, dan pasien hanya
mengkonsumsi obat amlodipin yang dibeli sendiri.
Pasien mengaku mempunyai kebiasaan merokok.
Pasien dapat berjalan sendiri tanpa diseret maupun
dibantu, makan dan minum sendiri, mandi sendiri.
Pasien menyangkal sering tersedak ketika makan
maupun minum . Pasien menyangkal adanya keluhan
yang sama pada keluarganya.

Pemeriksaan Fisik
Kesadaran : Composmentis
Tekanan darah : 140/90 mmHg
Respirasi : 24 x/m
Nadi : 84 x/m
Suhu : afebris

Kepala : Ca -/-, Si -/Leher : KGB (-), Thyroid (-)


Thorax : VBS ka=ki, Rh -/-, Wh -/Jantung : S1, S2 reguler murni, G (-), M(-)
Abdomen : bu (+)
Ekstremitas : edema (-)

Pemeriksaan Neurologi
CN I

: tidak dilakukan

CN II

: Normal

CN III : Normal
CN IV : Normal
CN V

: Normal

CN VI : Normal
CN VII : alis mengangkat -/-, mata dapat menutup, hidung
tidak dapat kembang kempis, mulut mencong ke kanan,
CN VIII : tidak dilakukan

CN IX : tidak dilakukan
CN X : Normal
CN XI : tidak dapat ditentukan
CN XII: deviasi ke kiri

Kekuatan kontraksi (skala 0-5)


5

Keadaan otot
Tonus : normotonus
Atrophi: Nyeri tekan : Fasikulasi : Gerakan involunter/ abnormal :
Gerakan gerakan abnormal : +
Bradikinesia : tidak ada
Rigiditas : +

Refleks Fisiologis

Refleks Patologis

Biseps Rrefleks / N

Babinski -/-

Triseps Rrefleks / N

Chaddok -/-

Radius Refleks / N

Oppenheim -/-

Ulna HipRerrefleks /N

Gordon -/-

Patella HiRperrefleks /N
Achilles Hiperrefleks /N

Pemeriksaan sensoris : normal


Pemeriksaan koordinasi : tidak dilakukan

DIAGNOSIS KERJA
Stroke Infark karotis kanan +
hemiparese central CN VII dan
XII dengan faktor resiko riwayat
stroke 3 tahun yang lalu,
hipertensi dan merokok

DIAGNOSIS
FUNGSIONAL
Impairment : Paralisis CN VII dan XII
Disability : gangguan komunikasi

Pemeriksaan Penunjang
Lab : darah rutin, profil lipid
Ct scan

STROKE

Definisi Stroke
Stroke
adalah
gangguan
fungsional otak fokal maupun
global akut, lebih dari 24 jam,
berasal dari gangguan aliran
darah
otak
dan
bukan
disebabkan
oleh
gangguan
peredaran darah otak sepintas,
tumor otak, stroke sekunder
karena trauma maupun infeksi.

Epidemiologi
Stroke merupakan penyebab kematian ke-2 terbanyak di
negara maju dan ke 3 terbanyak di negara berkembang.
Berdasarkan data WHO tahun 2002, lebih dari 5,47 juta orang
meninggal karena stroke di dunia.
1 Dari data yang dikumpulkan oleh American Heart
Association tahun 2004 setiap 3 menit satu orang meninggal
akibat stroke.

STROKE

STROKE INFARK
(85%)

ATHEROTHROMBOTIK
(80%)

STROKE PERDARAHAN
(15%)

PERDARAHAN
INTRASEREBRAL
KARDIOEMBOLI
(20%)

PERDARAHAN
SUBARAKNOID

Berdasarkan stadium / pertimbangan waktu.


Transient Ischemic Attack.
Stroke ~ in ~ evolution.
Completed stroke.

Berdasarkan sistem pembuluh darah.


Sistem karotis.
Sistem vertebra-basilar.

Faktor Resiko

NON-MODIFIABLE

Umur
(semakin tua, semakin
berisiko)
Jenis kelamin
(Laki-kali > Perempuan)

Ras & etnik


(banyak pada kulit hitam
karena berpotensi untuk
terkena hipertensi,
diabetes mellitus dan
obesitas)
Herediter
(terdapat stroke di
kalangan anggota
keluarga)

MODIFIABLE

MAYOR

MINOR

Hipertensi
(gunakan antihipertensi)

Hiperkolesterolemia
(obat penurun lipid)

Penyakit jantung
(antiplatelet,
antikoagulan,
antiaritmia)
DM
(kontrol glukosa)

Merokok
(berhenti merokok)

Alkohol
(berhenti
mengkonsumsi)

PATOGENESIS
Stroke Infark
Kolesterol dalam darah

Pembuluh darah terisi oleh hyaline-lipid material (prosesnya


lipohyalinosis)

Atherosclerosis

Terbentuk atheromatous plaque

Terjadi degenerasi dinding pembuluh darah dan berkurangnya elastisitas


dinding pembuluh darah

Merusak endotel pembuluh darah

Lesi pada atheromatous plaque

Merangsang reaksi inflamasi


Prostacyclin , homocystine, tromboxan A2 merangsang terjadinya proses
coagulasi dengan merangsang agregasi platelet dan melepaskan protein
protein coagulasi

Vasomodulin (untuk
menghambat koagulasi)

Defisiensi anticoagulative
factors

Koagulasi terus menerus

Thrombus

Stenosis

Aliran darah terhambat

Daerah-daerah yang disuplai oleh arteri yang mengalami


stenosis kurang mendapat suplai darah

Stroke infarct

Clinical picture :
terjadi rasa sakit di bagian lateral cranial
rasa sakit berada pada 1 sisi kepala tempat terjadinya
oklusi carotid, yaitu di depan kepala
sakit kepala lebih ringan dibanding pendarahan
tidak terdapat kekakuan di bagian leher

Stroke Perdarahan
Lemahnya dinding pembuluh darah (akibat hipertensi)

Mudah rupture

Bleeding

Terbentuk hematom

Sehingga menimbulkan brain shift.


Setelah itu hematom akan terus membesar dan menekan
jaringan otak yang normal (otak akan mengalami edema)

Infark otak karena aliran darah terganggu

Clinical feature :
headache
vomit dan focal neurologic deficit
acute hypertension
pada moderate dan large hematom terjadi gangguan
kesadaran dan semakin terlihat pada 24-48 jam pertama
terjadi pada pasien lebih muda dibandingkan pasien stroke
lebih sering pria
nuchal rigidity
seizure
bila terjadi small bleeding pada silent region di otak
mengakibatkan sering tidak terdeteksi secara klinis

Kategori berdasarkan manifestasi klinis dan temporal profile:


1. Improving stroke
Suatu defisit neurologis yang sembuh sempurna dalam kurun waktu >24
jam dan < 3 minggu.
2. Worsening stroke
Suatu defisit neurologis yang bertambah berat secara kuantitatif dan
kualitatif dimana pada sistem karotis terjadi < 24 jam dan sistem
vertebrobasiler > 72 jam.
Dibagi lagi dalam:
Smooth worsening Bertambah berat secara gradual
Step like worsening Bertambah berat diselingi fase tanpa
perbaikan
Fluctuating worsening Periode tambah berat diselingi fase
perbaikan
3. Stable stroke
Definisi neurologis yang tidak berubah lagi atau sedikit sekali.

DIAGNOSIS
STROKE

1.

Adanya defisit neurologis fokal.

2.

Onset yang cepat.

3.

Lebih dari 24 jam.

4.

Disebabkan oleh kelainan pembuluh darah otak.

5.

Lab profil lipid, gula darah

6.

CT SCAN MRI

Manifestasi klinis
Gejala klinis pada stroke akut berupa :
Kelumpuhan wajah atau anggota
hemiparesis ) yang timbul mendadak

badan

biasanya

Gangguan sensibilitas pada satu anggota badan (gangguan


hemisensorik )
Perubahan mendadak pada status mental ( konfusi, delirium ,
latergi, stupor, atau koma )
Afasia ( tidak lancar atau tidak dapat bicara )
Disatria ( bicara pelo atau cadel )
Ataksia ( tungkai atau anggota badan tidak tepat pada sasaran )
Vertigo ( mual dan muntah atau nyeri kepala )

Iskemik

Hemoragic

TATALAKSANA

Rehabilitasi
Stroke

Rehabilitasi Stroke
Definisi:
Pengelolaan medis dan rehabilitasi yang komprehensif
terhadap disabilitas yang diakibatkan oleh stroke
melalui pendekatan neurorestorasi dan
neurorehabilitasi dengan tujuan mengoptimalkan dan
memodifikasi kemampuan fungsional yang ada
sehingga penyandang stroke mampu beradaptasi dan
mencapai kemandirian serta kualitas hidup yang lebih
baik.

39

WHO membuat batasan kehilangan fungsi stroke digambarkan


sebagai berikut:

Impairment (gangguan organ atau fungsi organ)


hilang atau terganggunya struktur atau fungsi anatomis, fisiologis, atau
psikologis tubuh.
Contoh impairment adalah hemiparesis, afasia, disartria, disfagia, depresi
dan lain sebagainya.
Disability (ketidak mampuan)
Disability : keterbatasan atau hilangnya kemampuan untuk melakukan
aktivitas yang umum dapat dilakukan oleh orang lain yang normal karena
impairment yang dideritanya.
Contoh disability: adalah ketidak mampuan berjalan (akibat
hemiparesis),ketidakmampuan berkomunikasi (akibat afasia, disatria)
atau ketidakmampuan melakukan perawatan diri sendiri seperti
berpakaian (akibat hemiparesis, gangguan kognitif, gangguan sensoris
dan lain-lain)

Handicap (keterbatasan dalam peran)


Handicap atau kecacatan konsekuensi sosial dari penyakit,
didefinisikan sebagai terganggu atau terbatasnya kemampuan
aktualisasi diri dan untuk berperan secara sosial, budaya, ekonomi
dalam keluarga dan lingkungan bagi individual tertentu akibat
impairment dan disability yang dideritanya.
Contoh handicap : ketidakmampuan berperan sebagai ayah bermain
dengan anaknya (karena hemiparesis yang menyebabkannya sulit
bergerak atau berjalan), tidak dapat bekerja (karena kesulitan
berjalan ke tempat kerja, melakukan pekerjaan sebelumnya) dan lain
sebagainya

Prinsip-prinsip Rehabilitasi Stroke:


1. Bergerak.
2. Terapi latihan gerak yang diberikan sebaiknya adalah gerak
fungsional daripada gerak tanpa ada tujuan tertentu.
3.
Sedapat mungkin bantu dan arahkan pasien untuk
melakukan gerak fungsional yang normal, jangan biarkan
menggunakan gerak abnormal. Gerak normal artinya sama
dengan gerak pada sisi sehat.
4. Gerak fungsional dapat dilatih apabila stabilitas batang tubuh
sudah tercapai, yaitu dalam posisi duduk dan berdiri.
5. Persiapkan pasien dalam kondisi prima untuk melakukan
terapi latihan
6. Hasil terapi latihan yang diharapkan akan optimal bila
ditunjang oleh kemampuan fungsi kognitif, persepsi dan semua

Intervensi Rehabilitasi
Fase Akut
Fase
Fase Lanjut
Subakut
(Fase
(Fase
Kronis)
Pemulihan)

43

Intervensi Rehabilitasi Medis pada Stroke


Rehabilitasi pada stroke dibedakan dalam tujuan (goal) dan
jenis intervensi rehabilitasi yang akan diberikan, yaitu:

1. Stroke fase
akut:

2. Stroke fase
subakut:

3. Stroke fase
kronis:

2 minggu
pasca
serangan
stroke

2 minggu-6
bulan pasca
stroke

>> 6 bulan
pasca stroke

Intervensi Rehabilitasi ...


Fase Akut
Tujuan:
Mencegah komplikasi yang mungkin terjadi akibat
penyakitnya ataupun akibat tirah baring.
Ruang rawat/di unit stroke
Pasien menjadi lebih mandiri, lebih mudah kembali dalam
kehidupan sosialnya di masyarakat dan mempunyai
kualitas hidup yang lebih baik.

45

Intervensi Rehabilitasi ...


Fase Akut
Tujuan

Intervensi Rehabilitasi

Keterangan

Mempertahankan
integritas kulit

Penggantian posisi
berbaring minimal tiap 2
jam

Skala risiko
dekubirus

Mencegah pola postur dan


spastisitas yang
mengganggu pemulihan

Pengaturan posisi
berbaring

Metode Bobath

Pencegahan komplikasi
gangguan pernapasan
akibat imobilisasi

Terapi fisik dada dan


latihan pernapasan min.2x
sehari
Perubahan posisike arah
tegak

Pencegahan komplikasi
gangguan kardiovaskular
akibat imobilisasi

Perubahan posisi
berbaring
Terapi latihan gerak pasif
ekstremitas minimal

46

Intervensi Rehabilitasi ...


Fase Akut
Tujuan

Intervensi Rehabilitasi

Pencegahan kekakuan
sendi

Terapi latihan gerak pasif


ekstremitas minimal
2x/hari

Mengatasi gangguan
fungsi menelan

NGT

Keterangan

Evaluasi fungsi menelan


Stimulasi menelan sesuai
tipe gangguan
Modifikasi jenis dan
kepadatan makanan

Mengatasi gangguan
fungsi berkemih

Foley Catheter
Tentukan tipe gangguan
Bladder training

Kondisi akut
tertangani
47

Intervensi Rehabilitasi ...


Fase Akut
Tujuan
Mengatasi gangguan
fungsi defekasi
(konstipasi)

Intervensi Rehabilitasi

Keterangan

Klisma
Medikamentosa
Pengaturan makanan
tinggi serat, minum,
dan mobilisasi
mobilisasi

Mengatasi gangguan
kesadaran/sensoris

Stimulasi multisensoris

Mobilisasi bertahap

Mobilisasi pasif
Latihan persiapan
mobilisasi aktif

Neurologis dan
hemodinamik stabil

Neurologis dan
hemodinamik stabil
48

Intervensi Rehabilitasi ...


Fase Subakut (Fase Pemulihan)
Tujuan:
Untuk mengoptimalkan pemulihan neurologis dan
reorganisasi saraf yang terjadi.
Fokus utama intervensi rehabilitasi stroke ditujukan pada
disabilitas akibat stroke dengan tetap memperhatikan
pemulihan impairmen melalui pendekatan-pendekatan
atau metode intervensi yang sesuai.

49

Pada fase subakut pasien diharapkan mulai kembali untuk


belajar melakukan aktivitas dasar merawat diri dan
berjalan.
1. Mencegah timbulnya komplikasi akibat tirah baring
2. Menyiapkan/mempertahankan kondisi yang
memungkinkan pemulihan fungsional yang paling optimal
3. Mengembalikan kemandirian dalam melakukan aktivitas
sehari-hari
4. Mengembalikan kebugaran fisik dan mental

Intervensi Rehabilitasi ...


Fase Subakut (Fase Pemulihan)
Tujuan
Mampu
komunikasi

Intervensi Rehabilitasi
Penanganan afasia

Keterangan
Tergantung
jenis
gangguan

Penanganan apraksia buccal


Penanganan disartria
Penanganan disfonia
Penanganan fungsi luhur yang
berkaitan dengan kemampuan
berkomunikasi a.l.:
Memori
Konsentrasi
Atensi
Emosi
Penanganan gangguan
pendengaran

51

Intervensi Rehabilitasi ...


Fase Subakut (Fase Pemulihan)
Tujuan
Mampu menelan
tanpa aspirasi

Intervensi Rehabilitasi

Keterangan

Monitor proses menelan


Penanganan disfagia
Terapi latihan sesuai jenis
gangguan

Perhatian pada
pasien dengan
afasia sensoris
berat

Terapi latihan keseimbangan


duduk stabil dan postur
Penanganan fungsi luhur yang
berkaitan dengan kemampuan
menelan yang aman
Pemberian modifikasi
cairan/makanan untuk
memperbaiki keamanan menelan
Penanganan kompensasi
52

Tujuan
Mampu
melakuka
n
perawata
n diri dan
aktivitas
seharihari

Intervensi Rehabilitasi

Keterangan

Terapi latihan perawatan diri dan aktivitas


sehari-hari

Selama
latihan
monitor
Terapi latihan keseimbangan duduk dan berdiri
keluhan
dinamik
subjektif
Terapi latihan motorik halus, prehension pinching dan tanda
dan gasping
vital (TD
Penanganan fungsi luhur yang berkaitan dengan dan Nadi)
kemampuan pembelajaran a.l.:
Konsentrasi
Orientasi
Memori
Komunikasi
Persepsi/visuospasial
emosi
Penanganan apraksia
Pemberian alat bantu untuk meningkatkan
kemampuan AKS
Penanganan gangguan visual
Penanganan gangguan auditori
Penanganan dan kompensasi gangguan sensoris

53

Tujuan
Mampu
mobilisa
si dan
ambulas
i

Intervensi Rehabilitasi

Keterang
an

Terapi latihan mobilisasi

Selama
latihan
monitor
keluhan
subjektif
dan
tanda
vital (TD
dan Nadi)

Terapi latihan keseimbangan duduk statik dan


dinamik
Terapi latihan gangguan vestibular
Terapi latihan pada gangguan
sensoris/persepsi/visuospasial
Terapi latihan berdiri/bertumpu
Terapi latihan keseimbangan berdiri statik dan
dinamik
Terapi latihan berjalan dengan atau tanpa alat bantu
jalan
Terapi latihan pola jalan yang benar
Pemberian ortosis perbaiki stabilitas jalan
Penanganan dan kompensasi gangguan visual
Penanganan gangguan fungsi luhur yang
menghambat proses pembelajaran jalan
Atasi masalah penyulit yang menyertai dan

54

Tujuan

Intervensi Rehabilitasi

Keteranga
n

Mampu
Monitor gangguan berkemih/voiding diary
mengontrol
Evaluasi laboratorium
fungsi
berkemih
Medikamentosa
Tetapkan metode bladder training yang sesuai
Edukasi pasien dan keluarga
Pengaturan minum dan BAK
Terapi latihan
Penanganan/kompensasi afasia
Mampu
Tetapkan dan atasi penyebab gangguan
mengontrol
Medikamentosa
defekasi
Tetapkan metode penanganan
Edukasi pasien dan keluarga
Pengaturan diet

55

Intervensi Rehabilitasi ...


Fase Subakut (Fase Pemulihan)
Tujuan
Mampu mengisi waktu
luang dan hobi

Intervensi Rehabilitasi

Keteranga
n

Gali minat dan hobi


Kembangkan kemampuan yang ada
Tingkatkan kemampuan fungsi
tangan
Terapi kelompok

Mampu mengatasi
masalah emosi dan
depresi

Evaluasi psikologis

Terapi suportif
Terapi keluarga/terapi kelompok
Medikamentosa

56

Intervensi Rehabilitasi ...


Fase Subakut (Fase Pemulihan)
Intervensi
Komplikasi
Komplika
Intervensi Rehabilitasi

Keterangan

si

Spastisit
as

Pengaturan posisi
antispastisitas
Atasi kausa
Terapi latihan fisik
Terapi splinting (ortosis)

Intervensi dilakukan hanya


pada spastisitas yang
menggangu fungsi

Terapi medikamentosa
Intervensi medik
Pola
sinergisti
k

Pengaturan posisi selama 24


jam
Terapi latihan fisik
57

Intervensi Rehabilitasi ...


Fase Subakut (Fase Pemulihan)
Intervensi
Komplikasi
Komplikasi
Nyeri

Intervensi Rehabilitasi

Keterangan

Tentukan dan atasi


kausa
Elektroterapi
Terapi medikamentosa
Entervensi medik
Terapi latihan fisik
Terapi relaksasi

Subluksasi bahu

Ortosis
Terapi latihan fisik
Elektroterapi

58

Intervensi Rehabilitasi ...


Fase Subakut (Fase Pemulihan)
Intervensi
Komplikasi
Komplikasi
Sympathetic
dysthrophy

Intervensi Rehabilitasi

Keterangan

Terapi medikamentosa
Ortosis
Intervensi medik
Elektroterapi
Terapi latihan fisik

Frozen shoulder

Elektroterapi
Terapi latihan fisik
Terapi medikamentosa
Intervensi medik
59

Intervensi Rehabilitasi ...


Fase Subakut (Fase Pemulihan)
Intervensi
Komplikasi
Komplikasi
Ulcus
decubitus

Intervensi Rehabilitasi

Keterangan

Perawatan lukan dan pemberian posisi


yang menghindari tekanan
Terapi medikamentosa
Elektroterapi
Tindakan debridemen
Tindakan bedah

Infeksi
saluran
kemih

Bekerja sama dengan


disiplin terkait

Cari dan atasi kausa


Terapi medikamentosa
Perbaiki drainase dengan metode yang
sesuai
Bladder spooling

60

Intervensi Rehabilitasi ...


Fase Subakut (Fase Pemulihan)
Intervensi
Komplikasi
Komplikasi
Penyakit
degeneratif sendi

Intervensi Rehabilitasi

Keterangan

Evaluasi dan atasi kausa yang dapat


dikontrol:
Berat badan berlebihan
Ketidakimbangan otot/spastisitas
Postur/pola jalan yang salah
Elektroterapi
Ortosis
Terapi latiha fisik
Edukasi pasien joint conservation
technique
61

Intervensi Rehabilitasi ...


Fase Subakut (Fase Pemulihan)
Intervensi
Komplikasi
Komplikasi
Intervensi Rehabilitasi
Osteoporosis Evaluasi kausa

Keterangan
Bekerja sama dengan
disiplin terkait

Terapi medikamentosa
Terapi latihan fisik
Edukasi
Ketahanan
kardiorespir
asi

Terapi latihan individu/kelompok


Perbaikan gizi
Meningkatkan motivasi
Terapi suportif

Perhatikan faktor
risiko.
Monitor keluhan
subjektif dan tanda
vital (TD dan nadi)
62

Intervensi Rehabilitasi ...


Fase Lanjut (Fase Kronis)
Tujuan:
Mengoptimalkan kemampuan fungsi yang ada,
mempertahankan kemampuan fungsional yang telah
dicapai dan upaya pencegahan komplikasi sekunder dan
tersier.
Peran keluarga dan lingkungan ditingkatkan

63

Tergantung pada beratnya stroke, hasil luaran


rehabilitasi dapat mencapai berbagai tingkat seperti
(a) Mandiri penuh dan kembali ke tempat kerja
seperti sebelum sakit,
(b) Mandiri penuh dan bekerja namun alih pekerjaan
yang lebih ringan sesuai kondisi,
(c) Mandiri penuh namuntidak bekerja,
(d) Aktivitas sehari-hari perlu bantuan minimaldari
orang lain
(e) Aktivitas sehari-hari sebagian besar
atau sepenuhnya dibantu orang lain.

Intervensi Rehabilitasi ...


Fase Lanjut (Fase Kronis)
Tujuan

Intervensi Rehabilitasi

Keterangan

Mempertahanka Aktif dengan jadwal aktivitas


n kemandirian
bervariasi
Latihan rekondisi
Konseling berkala
Meningkatkan
kebugaran fisik

Mengembalikan
ke tempat kerja

Latihan kebugaran
individu/kelompok
Asupan nutrisi

Konsultasi gizi
medik

Tetapkan aset limitasi fungsional

Bekerja sama
dengan institusi
asal

Latihan rekondisi
Latihan pre- dan vokasional

65

Tujuan
Sosialisasi

Intervensi Rehabilitasi

Keteranga
n

Terapi suportif
Persiapan keluarga dan lingkungan
Stroke club

Pencegahan
Edukasi
sekunder dan tersier
Terapi latihan fisik
Konsultasi gizi medik
Konseling berkala
Mampu menerima
kecacatan menetap

Konseling dan terapi suportif


Edukasi pasien dan keluarga
Stroke club

Seksualitas

Tetapkan kausa
Pilih solusi yang tepat
Edukasi

66

Intervensi Rehabilitasi ...


Fase Lanjut (Fase Kronis)
Penanganan komplikasi sesuai dengan penanganan
komplikasi pada fase subakut/fase pemulihan.

67

68

69

Gangguan Komunikasi
Kemampuan manusia berkomunikasi satu sama lain
melibatkan bermacam-macam fungsi, yang utama adalah
kemampuan berbahasa dan berbicara. Gangguan fungsi
bahasa disebut sebagai afasia sedangkan gangguan
fungsi bicara disebut disartria.

Gangguan Menelan
Gangguan menelan disebut sebagai disfagia. Insiden
gangguan menelan akibat stroke cukup banyak berkisar
antara 30-65%

Gangguan defekasi pada stroke


fase subakut
Gangguan defekasi pada stroke fase subakut pada umumnya
adalah konstipasi akibat immobilisasi. Perlu diingat bahwa diare
yang timbul kemudian selain gastroenteritis juga bisa
disebabkan oleh adanya skibala, terutama bila didahului oleh
obstipasi lama sebelumnya.
Sarankan pasien untuk banyak bergerak aktif, berikan cukup
cairan (sekitar 40 ml/kg BB ditambah 500 ml air/cairan bila
tidak ada kontraindikasi), serta makan makanan berserat tinggi.
Bila perlu obat laksatif dapat diberikan

Gangguan Melakukan Aktivitas


Sehari-hari
Pasien yang telah kembali ke rumah seharusnya di
motivasi untuk mengerjakan semampunya aktivitas
perawatan dirinya sendiri. Apabila sisi kanan yang
terkena, pasien dapat diajarkan untuk menggunakan
tangan kirinya untuk semua aktivitas. Pastikan juga
tangan yang sakit diikutsertakan dalam semua kegiatan
(Gambar 4). Semakin cepat dibiarkan melakukannya
sendiri, semakin cepat pula pasien menjadi mandiri.
Hanya aktivitas yang dapat menimbulkan risiko jatuh
atau membahayakan pasien sendiri yang perlu ditolong
oleh keluarga.

Mengembalikan Kebugaran Fisik dan


Mental
Pasien stroke seringkali mengeluh cepat lelah. Ia selalu
berupaya untuk sedikit bergerak dan lebih banyak
istirahat.

Bed proper positioning: intinya ialah membuat


pasien dalam kondisi yang comfortable: Penderita
diletakkan dalam posisi yang melawan spastisitas.
Posisi ini dapat dilakukan dalam posisi miring kanantelentang-miring kiri (@2 jam).
Secara bertahap naikkan sandaran kepala tempat
tidur sebelum memulai latihan duduk. Mulai dari 30
derajat selama 30 menit dan setelah stabil (cek
tensi tidak ada hipotensi postural) naikkan 5-10
derajat lagi hingga posisi duduk. Inget untuk latihan
duduk harus melalui tahap perkembangan motorik
anak melalui latihan rolling: telentang-tengkuraptelentang.

Setelah duduk, lakukan sitting balance exercise:


badan didorong ke kanan-kiri-muka-belakang.
Lakukan latihan ROM secara pasif dan berlanjut
aktif, latihan meliputi stretching-strengtheningendurance.
Latih motorik kasar dan motorik halus pasien.
Inget
bahwa
pasien
stroke
hemiplegik
cenderung untuk mengabaikan sisi sakit, oleh
karena itu selalu sertakan sisi yang sakit

mengabaikan sisi sakit,


sertakan sisi yang sakit.

oleh karena itu selalu

Latihan berdiri: tahapan latihan berdiri melalui jalur:


lying (baring)-rolling(tengkurap)-propping(tengkurap
secara kuadripedal bertumpu pada kedua siku dan
lutut)-kneeling-sitting-standing
(dibantu
caranya
latihan berdiri dari posisi duduk). Inget syarat latihan
berdiri hanya bila MMT otot ekstremitas bawah 3 ke
atas dan sudah mencapai keseimbangan duduk.
Latihan berjalan: di parallel bars dan walker
bertujuan untuk melatih keseimbangan, simetri, dan
toleransi berdiri.

Latihan transfer pasien hemiplegia


Latihan terapi wicara untuk problem kesulitan
menelan, drooling dan disartria: latihan mengatup dan
membuka mulut, merapatkan bibir, mengunyah.
Masukkan makanan lunak minta pasien untuk
mengunyah dapat dibantu secara pasif.
Bladder training: kateterisasi berkala (clean unsterile)
Bowel training: evakuasi manual feses
Ankle pumping
Latihan nafas (breatthing exercise)

Referensi
Delisa, J. A, dkk. Delisas Physical Medicine and
Rehabilitation. 2010. Lippincott Williams and Wilkins :
Philladelpia.
Braddom, R. L, dkk. Physical Medicine and Rehabilitation
4th Edition. 2007. Elsevier : Philadelpia.

TERIMA KASIH