Anda di halaman 1dari 7

PRAKTIKUM ANALISIS KADAR LEMAK DAN KADAR VITAMIN C

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


UNIVERSITAS PADJADJARAN
Mira Rahadiani (240210140025)
Departemen Teknologi Industri Pangan Universitas Padjadjaran, Jatinangor
Jalan Raya Bandung-Sumedang Km. 21, Jatinangor, Sumedang 40600 Telp. (022) 7798844,
779570 Fax. (022) 7795780 Email: mirahadiani@gmail.com

ABSTRAK
Lemak memiliki peranan penting bagi tubuh, salah satunya yakni sebagai penyumbang energi
dalam tubuh. Analisis kadar lemak pada suatu bahan dapat memberikan informasi mengenai
ketersediaan lemak yang dapat kita aplikasikan untuk berbagai kebutuhan. Metode ekstraksi
Soxhlet merupakan metode analisis kadar lemak secara langsung dengan cara mengekstrak
lemak dari bahan dengan pelarut organik. Hasil dari analisis kadar lemak dengan sampel kornet,
santan, tepung koro, tepung pisang dan tepung ketan berturut-turut yakni 7,674% ; 22,666% ;
4,948% ; 0,440% dan 0,320% . Vitamin C merupakan vitamin yang larut dalam air dan
dibutuhkan tubuh walaupun jumlahnya sedikit. Fungsi vitamin dalam metabolisme yang paling
utama adalah sebagai kofaktor. Kegunaan Vitamin C adalah sebagai antioksidan dan berfungsi
penting dalam pembentukan kolagen. Metode analisis vitamin menggunakan metode iodometri.
Hasil pengamatan analisis kadar vitamin C pada sampel tomat 5,72 mg/g, Vitacimin 515 mg/g,
cabe 9,68 mg/g, jambu 24,64 mg/g, jeruk nipis 11,44 mg/g.
Kata Kunci : Analisis Kadar Lemak, Metode Soxhlet, Analisis Kadar Vitamin C, Metode
Iodometri, Pelarut Heksana, Iodium.
PENDAHULUAN
Lemak adalah senyawa yang larut
dalam pelarut organik tetapi tidak larut
dalam air. lemak memiliki peranan penting
bagi tubuh, salah satunya yakni sebagai
penyumbang energi dalam tubuh. Konversi
energi lemak yakni 9 kkal/g dalam tubuh.
Lemak juga berperan dalam melarutkan
vitamin A, D, E dan K. Dalam pangan,
lemak dibutuhkan, salah satunya untuk
meningkatkan palabilitas produk.
Lemak dan minyak adalah bahanbahan yang tidak larut dalam air yang
berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan.
Lemak dan minyak yang digunakan dalam
makanan sebagian besar adalah trigliserida
yang merupakan ester dari gliserol dan
berbagai
asam
lemak.
Komponenkomponen lain yang mungkin terdapat
meliputi fosfolipid, sterol, vitamin, dan zat

warna yang larut dalam lemak seperti


klorofil dan karotenoid (Buckle, 1987).
Lemak dan minyak pada sumber
lemak dan minyak alami berada dalam
jumlah yang berbeda-beda. Analisis kadar
lemak pada suatu bahan dapat memberikan
informasi mengenai ketersediaan lemak
yang dapat kita aplikasikan untuk berbagai
kebutuhan. Pemilihan metode analisis
lemak didasarkan pada sumber dan sifat
bahan yang akan dianalisis serta tujuan
analisis (Andarwulan, 2011). Penentuan
kadar lemak dengan pelarut, selain lemak
juga terikut fosfolipida, sterol, asam lemak
bebas, karotenoid dan pigmen yang lain.
Karena itu hasil analisanya disebut lemak
kasar (crude fat) (Sudarmadji, 1989).
Metode ekstraksi Soxhlet merupakan
metode analisis kadar lemak secara
langsung dengan cara mengekstrak lemak
dari bahan dengan pelarut organik seperti
heksana, petroleum eter, dan dietil eter.
Prinsip analisis adalah lemak diekstrak
menggunakan pelarut organik. Setelah

pelarutnya diuapkan, lemak dari bahan


dapat ditimbang dan dihitung persentasenya
(Andarwulan, 2011).
Selain lemak, vitamin juga
dibutuhkan tubuh walaupun jumlahnya
tidak sebesar lemak. Salah satu vitamin
yang dibutuhkan yakni vitamin C yang
merupakan nutrien dan vitamin yang larut
dalam air. Vitamin ini juga dikenal dengan
nama kimia dari bentuk utamanya yaitu
asam askorbat. Asam askorbat mempunyai
struktur yang mirip monosakarida, tetapi
struktur ini mempunyai beberapa gambaran
yang tidak lazim.
Vitamin adalah molekul organik
yang di dalam tubuh mempunyai fungsi
yang bervariasi. Fungsi vitamin dalam
metabolisme yang paling utama adalah
sebagai kofaktor. Vitamin dalam arti luas
adalah senyawa organik, bukan karbohidrat,
lemak, maupun protein, yang memiliki
peranan vital untuk berjalannya fungsi
tubuh yang normal, meskipun dibutuhkan
dalam jumlah kecil (Rahayu, 2010).
Vitamin C atau L-asam askorbat
merupakan senyawa bersifat asam dengan
rumus empiris C6H8O6 (BM=176,12 g/mol).
Kegunaan Vitamin C adalah sebagai
antioksidan dan berfungsi penting dalam
pembentukan
kolagen,
membantu
penyerapan zat besi, serta membantu
memelihara pembuluh kapiler, tulang, dan
gigi. Vitamin C bersifat larut air dan sedikit
larut dalam aseton atau alkohol yang
mempunyai
berat
molekul
rendah
(Sudarmadji, 1989).
Metode
analisis
vitamin
menggunakan metode iodometri. Iodometri
adalah metode penentuan kuantitatif yang
dasar penentuannya adalah jumlah I2 yang
bereaksi dengan cuplikan atau terbentuk
oleh cuplikan kalau direaksikan dengan ion
I.
Tujuan dari praktikum ini adalah
untuk menganalisis kandungan lemak pada
bahan pangan menggunakan metode
Soxhlet dan mengetahui cara menganalisis
kandungan vitamin C pada berbagai bahan
dengan metode iodometri.
METODOLOGI
Alat dan Bahan

Alat yang digunakan yakni kertas


saring, kaca arloji, labu lemak, alat soxhlet,
oven, neraca analitik, blender, labu ukur,
corong, pisau, talenan, beaker glass,
spatula, sendok, pipet, erlenmeyer, buret,
klem dan statif.
Bahan yang digunakan yakni
tepung pisang, tepung ketan, santan, kornet,
tepung koro, jambu, tomat, cabai, jeruk
nipis, vitacimin C, HCl 25%, heksana,
aquades, larutan amilum 1%, larutan I2 0,01
N.
Analisis Kadar Lemak
Preparasi sampel dengan metode
hidrolisis dilakukan untuk sampel cair. 2
gram sampel masukan pada beaker glass,
selanjutnya ditambahkan 25 ml larutan HCl
25% dan 30 ml akuades. Lalu tutup dengan
kaca arloji. Didihkan dengan waktu 15
menit. Saring dalam keadaan panas. Cuci
dengan air panas. Setelah itu, keringkan
kertas saring dan isinya pada suhu 100105oC. Dinginkan lalu timbang.
Preparasi alat yaitu pengonstanan
labu. Sampel padat dikeringkan, lalu
ditimbang sebanyak 5 gram untuk tepungtepungan dan 2 gram sampel lainnya,
masukan dalam hull (kertas yang digulung
untuk tempat sampel) dan beri nama
dengan pensil. Sampel dalam hull tersebut
kemudian dimasukkan ke dalam Soxhlet.
Tambahkan heksan hingga menetes.
Soxhlet selama 3-4 jam. Setelah itu angkat
dan uapkan labu lemak pada oven dengan
suhu 105oC dengan waktu 1-2 jam.
Dinginkan dalam desikator lalu timbang.
Pada labu lemak tersebut akan menempel
lemak (endapan lemak) dari sampel yang
akan digunakan dalam perhitungan
persentase kadar lemak bahan.

lemak =

W labu+lemak W labu
x 100
W sampel

Analisis Kadar Vitamin C.


Masing-masing
sampel
lalu
ditimbang sebanyak 10 gram lalu encerkan
pada labu ukur 100 ml hingga
ditandabataskan, saring dengan kertas
saring. Ambil 10 ml filtrat dan masukan
pada erlenmeyer. Lalu diberi penambahan

amilum sebanyak 2 ml. Titrasi dengan I2


0,01 N. Catat volume yang digunakan, dan
hitung. Pengukuran kadar Vitamin C :

digantikan oleh pelarut organik lainnya


seperti dietil eter atau petroleum eter.
Fungsi heksan adalah untuk mengekstraksi
lemak atau untuk melarutkan lemak,
V titrasi x N I 2 x BE vit . c x fp
Vitamin C=
x 100 sehingga merubah warna dari kuning
mg sampel
menjadi jernih (Mahmudi 1997).
Mekanisme analisis kadar lemak
metode
soxhlet yakni pelarut yang
HASIL DAN PEMBAHASAN
dipanaskan dalam labu didih menghasilkan
Analisis Kadar Lemak
uap. Uap tersebut kemudian masuk ke
Sampel yang digunakan dalam
kondensor melalui pipa kecil dan keluar
analisis kadar lemak yakni tepung pisang,
dalam fasa cair. Kemudian pelarut masuk
tepung ketan, tepung koro, kornet dan
ke dalam hull berisi padatan. Pelarut akan
santan. Untuk santan dilakukan hidrolisis
membasahi sampel dan tertahan di dalam
dengan asam sebelum dilakukan analisis
hull sampai tinggi pelarut dalam pipa
lemak. Hidrolisis ini bertujuan untuk
kapiler sama dengan tinggi pelarut di hull.
memudahkan lemak keluar dari jaringan.
Jika tinggi hull melewati tinggi dalam alat
Dalam pengujian kadar lemak, digunakan
soxlet, sampel dalam hull yang terdapat
kertas hull yang berfungsi untuk mencegah
diujung atau diatas tidak akan terekstrak
kontak langsung antara bahan dengan
semua, sehingga akan menyebabkan
pelarut yang dapat mengakibatkan reaksi
kesalahan negatif. Kemudian pelarut
pada labu lemak yang nantinya dapat
seluruhnya akan turun masuk kembali ke
mengacaukan data hasil analisis kadar
dalam labu didih dan begitu seterusnya.
lemaknya. Selain itu, pelarut yang
Peristiwa ini disebut dengan satu sirkulasi.
digunakan adalah heksan, tetapi bisa
Tabel 1. Hasil Pengamatan Analisis Kadar Lemak
Sampel
Kornet
Santan
Tepung Koro
Tepung
Pisang
Tepung
Ketan

W konstan
104,4956
105,4007
103,8513
103,4514
104,9597
103,8432
106,9022
104,5613
106,4657
104,3138

W akhir
104,6506
105,5533
104,3175
104,3934
105,2027
104,0981
106,9247
104,5830
106,4754
104,3363

Sampel daging kornet pada


praktikum memiliki 7,736% dan 7,6121%
kadar lemak dengan rata-rata kadar lemak
sebesar 7,674%. Sedangkan kadar lemak
pada daging kornet berdasarkan Tabel
Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) yaitu
25% atau mengandung 25 gram dalam 100
gram sampel. Nilai tersebut sangat jauh.
Daging sebelum diolah menjadi kornet
memiliki kadar lemak sebesar 14 gram/100
gram. Berarti dalam pembuatan produk

W sampel

Kadar
Lemak (%)

Hasil Ratarata kadar


lemak (%)

2,0034
7,736
7,674
2,0047
7,6121
2,0022
23,284
22,666
2,0047
22,048
5,0309
4,830
4,948
5,0316
5,066
5,0104
0,449
0,440
5,0176
0,432
5,0222
0,193
0,320
5,0247
0,447
daging kornet ada penambahan lemak yang
menjadikan kadar lemak pada kornet lebih
besar dibandingkan kadar lemak pada
daging sebelum diolah. Menurut Kramlich
(1971) dan Judge et al., (1989) dalam
Farisandi dan Lucia (2013), penambahan
lemak pada pembuatan daging kornet
berfungsi untuk membentuk produk yang
kompak dan empuk, serta memperbaiki rasa
dan aroma.
Salah satu produk olahan kacang
koro adalah tepung koro. Tepung koro

merupakan
bahan
pangan
yang
mengandung karbohidrat dan protein tinggi
namun rendah lemak. Kadar lemak tepung
kacang koro berdasarkan hasil rata-rata
pengujian adalah 4,948%. Hal ini berbeda
dengan literatur dimana menurut Maesen
dan Somaatmadja (1993), kadar lemak
kacang koro adalah 0,2-3%. Pada TKPI
kadar lemak pada kacang koro yakni
sebesar 3%. Hasil ini menunjukkan adanya
ketidaksesuaian antara hasil pengujian
kadar lemak tepung koro dengan literatur.
Tepung pisang adalah salah satu
cara pengawetan pisang dalam bentuk
olahan dengan cara digiling. Penggilingan
disini merupakan cara yang digunakan
untuk menepungkan atau menghaluskan
buah pisang yang dikeringkan. Menurut
TKPI kadar lemak pada pisang sebesar
0,2%. Praktikum analisis kadar lemak
menghasilkan nilai 0,449% dan 0,432%
untuk sampel tepung pisang yang diuji.
Hasil ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan
Rahman
dkk.
(2011)
menunjukkan kadar lemak pisang sebesar
0,8%, kadar lemak tepung pisang sebesar
0,42. Kadar lemak pada pisang lebih besar
dibandingkan pada tepung pisang. Hal ini
dikarenakan proses pengolahan pada tepung
pisang sudah menurunkan kadar lemaknya,
salah satunya yakni proses pemanasan atau
pengeringan.
Santan adalah emulsi minyak
dalam air yang berwarna putih, yang
diperoleh dengan cara memeras daging
kelapa segar yang telah diparut atau
dihancurkan
dengan
atau
tanpa
penambahan air (Tansakul dan Chaisawang,
2006) dikutip Sukasih dkk,. (2009). Kelapa
yang merupakan bahan dasar santan
mempunyai kadar lemak 0,9% (TKPI)
sedangkan santan murni sebesar 34,3%
(TKPI). Hasil analisis yang dilakukan pada
santan mengandung kadar lemak sebesar
23,284% dan 22,048%. Perbedaan hasil
dengan literatur ini disebabkan karena
santan yang digunakan tidak murni, selain
itu perlakuan hidrolisis asam bisa
menurunkan kadar lemak dengan lemak
yang tertinggal.
Sama halnya dengan tepung pisang,
tepung ketan diolah dengan cara digiling,
tepung ketan yang menjadi sampel yakni

tepung ketan putih. Tekstur tepung ketan


akan terasa lebih lengket jika akan diolah.
Kadar lemak tepung ketan hasil penelitian
Singgih dan Harijono yakni sebesar 1,13%.
Sedangkan kandungan lemak tepung ketan
menurut Ridwan dkk. (1996) adalah 0,68%.
Analisis yang dilakukan pada tepung ketan
yakni sebanyak 0,19% dan 0,447% dengan
rata-rata kadar lemak 0,320%. Hal ini tidak
sesuai dengan literatur yang ada. Perbedaan
ini dikarenakan sampel yang diuji berbeda.
Karena komoditi serealia banyak sekali
penghasilnya dan setiap daerah penghasil
berbeda
kualitasnya,
sehingga
ada
perbedaan kedar lemak pada sampel dan
literatur yang ada.
Berdasarkan hasil pengujian kadar
lemak pada masing-masing sampel, terlihat
adanya perbedaan antara kadar lemak hasil
pengujian dengan kadar lemak pada
literatur. Menurut Andarwulan (2011), ada
beberapa faktor yang memengaruhi
ketelitian
analisis
metode
Soxhlet
diantaranya ukuran partikel bahan atau
contoh, jenis pelarut, waktu ekstraksi, dan
suhu ekstraksi. Selain itu, hal ini dapat
disebabkan pula oleh faktor lain yang
meliputi kesalahan dan ketidaktelitian pada
saat praktikum.
Analisis Kadar Vitamin C
Pada pengujian analisis kadar
vitamin C menggunakan metode titrasi
iodometri. Metode ini paling banyak
digunakan, karena murah, sederhana, dan
tidak memerlukan peralatan laboratorium
yang canggih. titrasi ini memakai Iodium
sebagai oksidator yang mengoksidasi
vitamin C dan memakai amilum sebagai
indikatornya. (Wijanarko, 2002). Reaksi
yang terjadi pada titrasi iodimetri penentuan
kadar vitamin C adalah sebagai berikut:
C6H8O6 C6H6O6 + 2H+ + 2e
I2 + 2e 2IC6H8O6 + I2 C6H6O6 + 2H+ + 2IPada
titrasi
iodimetri
untuk
penentuan kadar vitamin C, larutan I2
berperan sebagai oksidator (mengalami
reduksi) dan vitamin C berperan sebagai
reduktor (mengalami oksidasi). Larutan I2
bereaksi langsung dengan vitamin C

menghasilkan 2 molekul ion I -. Ketika


semua vitamin C bereaksi dengan I 2, maka
kelebihan I2 akan mendeteksi titik akhir
dengan hilangnya warna biru dari kompeks
amilum dan iodin. Volume titrasi atau
volume I2 yang dibutuhkan untuk menitrasi

sampel dibaca pada buret lalu digunakan


untuk perhitungan kadar vitamin C pada
sampel.

Tabel 2. Hasil Pengamatan Analisis Kadar Vitamin C


Hasil
RataKadar Vit.C Kadar Vit. C
rata
Kadar
(mg/g)
(%)
Vit.C (mg/g)
10,0118
0,7
6,16
0,0615
Tomat
5,72
10,0100
0,6
5,28
0,0527
1,9190
5,7
502
26,138
Vitacimin
515
2,0002
6
528
26,371
10,0048
1,2
10,56
0,1055
Cabe
9,68
10,0396
1
8,8
0,08765
10,0849
2,8
24,64
0,244
Jambu
24,64
10,0042
2,8
24,64
0,25
20,0084
1,3
11,44
0,05717
Jeruk Nipis
11,44
20,0037
1,3
11,44
0,0572
glukosa atau D-galaktosa merupakan gula
Cabe merah adalah buah dan
heksosa (Winarno 1997).
tumbuhan anggota genus Capsicum. Cabe
Menurut Kays (2001) dalam
mengandung berbagai macam senyawa
Suharyono (2010), zat-zat yang terkandung
yang berguna bagi kesehatan manusia
dalam buah tomat adalah vitamin C,
diantaranya antioksidan yang berfungsi
provitamin A (karoten) dan mineral. Sampel
untuk menjaga tubuh dari serangan radikal
tomat yang dianalisis kadar vitamin C
bebas.
Cabe
juga
mengandung
memiliki nilai sebesar 6,16 mg/g sampel
Lasparaginase dan Capsaicin. Selain itu
dan 5,28 mg/g. Jika dibandingkan dengan
kandungan vitamin C yang cukup tinggi
literatur, menurut Dewi (2014) hasil kadar
pada cabe dapat memenuhi kebutuhan
vitamin C dalam tomat sebesar 34 mg/100g.
harian setiap orang (Utami, 2012).
27,58 mg/100 g sedangkan menurut
Menurut Departemen Kesehatan RI
Wiryanta (2002) adalah 40 mg/100 g. Hasil
(1981), cabe mengandung vitamin C
ini
menunjukkan
perbedaan
yang
sebanyak 18 mg per 100 g cabe atau
signifikan.
sebanyak 0,18%. Berdasarkan TKPI kadar
Kadar Vitamin C pada jambu biji
vitamin C pada cabe sebesar 1g/100g. Hasil
menurut TKPI yakni sebesar 87 mg/g. hasil
pengamatan, cabe kadar vitamin C,
analisis yang dilakukan yakni sebesar 24,64
0,1055% dan 0,0875% diperoleh kadar
mg/g. Hasil ini masih jauh dengan
vitamin C pada cabe sebesar 0,0965%. Oleh
konsentrasi yang sebenarnya, hal ini
karena itu, dapat diketahui bahwa kadar
dikarenakan sampel yang digunakan bukan
vitamin C pada cabe hasil pengujian sedikit
hasil sampling dari 100 gram, sehingga
berbeda dengan literatur. Hal ini disebabkan
hasilnya terlampau jauh. Sebagian besar
oleh kandungan vitamin C pada cabe merah
vitamin C jambu biji terkosentrasi pada
yang tidak mutlak sama melainkan berbedakulit dan daging luarnya yang lunak dan
beda setiap varietas dan umur. Buah yang
tebal. Kandungan vitamin C mencapai
masih mentah mengandung vitamin C yang
puncaknya menjelang matang.
cukup banyak sehingga semakin tua buah
Jeruk nipis hasil analisis yang telah
maka semakin berkurang kandungan
dilakukan yakni sebesar 11,44 mg/g,
vitamin C-nya. Vitamin C juga disebut
sedangkan pada TKPI menunjukan nilai
asam askorbat dapat disintesis dari D19,7 mg/g. Hal ini dikarena Vitamin C pada
Sampel

Berat

V
(ml)

Titrasi

jeruk nipis sudah banyak yang menguap.


Sifat Vitamin C yang tidak tahan pada suhu
ruang banyak terbuang ketika preparasi
sampel sebelum di titrasi yakni ketika
disaring.
Label kemasan Vitacimin C
menyantumkan nilai vitamin C yang
terkandung
sebesar
500
mg/tablet.
Vitacimin adalah suplemen vitamin C yang
berbentuk padatan dengan bentuk tablet.
Vitacimin dianalisis kadar vitamin C
dengan nilai 502 mg/g dan 528 mg/g.
vitacimin yang diuji tidak menggunakan 1
tablet namun menggunakan 2 gram sebagai
sampel. Hal inilah yang menyebabkan
perbedaan hasil kadar vitamin C. walaupun
kadar vitamin C pada vitacimin lebih
banyak dibandingkan sampel lain, namun
vitacimin merupakan suplemen bukan
pangan yang bisa memberi dampak jangka
panjang jika mengonsumsinya berlebihan.
Haris
dan
Karmas
(2006),
pemanasan dapat mengakibatkan susut
vitamin C melalui pelarutan dimana vitamin
C mudah larut dalam air dan juga terjadi
susut akibat oksidasi selama pemanasan.
Menurut Desroiser (2006), pemanasan
dengan suhu yang tinggi dengan waktu
yang relatif pendek sedikit merusak vitamin
C, namun pada suhu rendah untuk periode
waktu yang lama sangat merusak vitamin
C. Menurut Poedjiadi (1974), vitamin C
dapat hilang karena hal-hal sebagai berikut:
1. Pemanasan sehingga menyebabkan
rusaknya
atau
berbahayanya
struktur.
2. Pencucian
sayuran
setelah
dipotong-potong terlebih dahulu.
3. Adanya alkali atau suasana basa
selama pengolahan.
4. Membuka tempat berisi vitamin C
sebab oleh udara akan terjadi
oksidasi yang tidak reversibel.
Hasil analisis yang dilakukan
dengan literatur banyak yang berbeda. Hal
ini bisa dikarenakan preparasi sampel yang
kurang baik. Sampel di preparasi dengan
ditimbang terlebih dahulu, selanjutnya
mengikuti prosedur yang akan dilakukan
atau dengan kata lain, sampel ditimbang
awal terlebih dahulu. Hal ini ditujukan
untuk mengetahui perbandingan jumlah

kadar lemak atau vitamin C yang dianalisis


dalam berapa gram sampel, dan setelah itu
baru dilakukan sampling.
KESIMPULAN
Lemak dan vitamin merupakan
komponen penting bagi tubuh. Lemak
sangat dibutuhkan tubuh sebagai cadangan
energi, sehingga kadarnya lebih tinggi
dibandingkan vitamin C yang jumlahnya
tidak banyak dibutuhkan tubuh. Analisis
kadar lemak dengan metode soxhlet
hasilnya sampel santan berkadar lemak
tinggi dengan kadar 22,666% sedangkan
yang terkecil yakni tepung ketan. Analisis
kadar vitamin C dengan metode titrasi
iodometri menunjukkan nilai terbesar pada
Vitacimin C, lalu jambu 24,64%, jeruk
nipis, cabe dan tomat dengan kadar 5,72
mg/g nilai terkecil. Susut bobot dari kedua
analisi tersebut dikarenakan preparasi
sampel yang kurang baik sehingga
berdampak pada hasil analisis.
DAFTAR PUSTAKA
Andarwulan, N., F. Kusnandar, dan D.
Herawati. 2011. Analisis Pangan.
Penerbit Dian Rakyat, Jakarta.
Buckle, K.A., R.A. Edwards, G.H. Fleet,
dan M. Wooton. 1987. Ilmu
Pangan. Penerjemah Hari Purnomo
dan Adiono. Penerbit Universitas
Indonesia Press, Jakarta.
Departemen
Kesehatan
RI.
1981.
Kandungan dan Nilai Gizi Buah
dan Sayur-sayuran. Departemen
Kesehatan RI. Jakarta.
Dewi, Tansari. 2014. Kualitas Es Krim
dengan Kombinasi Wortel (Daucus
crota L.) dan Tomat (Lycopersicum
esculentum
Mill.).
Jurnal
Universitas Atmajaya Yogyakarta.
Yogyakarta.
Farisandi, Desi dan Lucia Tri Pangesthi.
2013. Pengaruh Jumlah Natrium
Nitrat dan Angkak Bubuk terhadap
Sifat Organoleptik Kornet. ejournal boga(2):33-38

Maesen, V.D. dan S. Somaatmadja. 1993.


Proses Sumber Daya Nabati Asia
Tenggara.
Penerbit
Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.
Mahmudi M. 1997. Penurunan Kadar
Limbah Sintesis Asam Phospat
Menggunakan Cara Ekstraksi CairCair dengan Solven Campuran
Isopropanol
dan
n-Heksane.
Universitas Diponegoro. Semarang.
Poedjiadi, Anna. 1984. Dasar-dasar
Biokimia. UI Press. Jakarta.
Rahayu, 2010. Klasifikasi dan Metabolisme
Vitamin.
Available
at:
http://imbang.staff.umm.ac.id/files/
2010/02/Klasifikasi_dan_Metabilis
me_vitamin_imbang.pdf (Diakses
pada tanggal 20 Maret 2016).
Rahman, Taufik., Rohmah Luthfiyanti dan
Riyanti Ekafitri. 2011. Optimasi
Proses Pembuatan Food Bar
Berbasis
Pisang.
Prosiding
SNaPP2011 Sains, Teknologi dan
Kesehatan Vol.2(1):296-302.
Ridwan, J.N., S. Eka Riani dan IG.N.
Suharto. 1996. Pengaruh Suhu dan
Waktu Pengukuran terhadap Sifat
Fisik Kimia Optik Tepung ketan.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan
Vol. 2 (1) : 1-6

Sudarmadji, S., H. Bambang, Suhardi.


1989. Analisa Bahan Makanan dan
Pertanian.
Penerbit
Liberty.
Yogyakarta.
Suharyono dan M. Kurniadi . 2010. Efek
Sinar Ultraviolet dan Lama Simpan
terhadap Karakteristik Sari Buah
Tomat. Agritech Vol.30(1):25-31
Sukasih, Ermi., Sulusi Prabawati, dan
Tatang Hidayat. 2009. Optimasi
Kecukupan Panas pada Pasteurisasi
dan Pengaruhnya terhadap Mutu
Santan
yang
dihasilkan.
J
Pascapanen Vol.6(1) : 34-42
Utami, D.A. 2010. Studi Pengolahan dan
Lama Penyimpanan Sambal Ulek
Berbahan Dasar Cabe Merah, Cabe
Keriting dan Cabe Rawit yang
Difermentasi.
Available
at:
http://repository.unhas.ac.id/bitstrea
m/handle/123456789/1958/Dian
%20Ayu%20Utami.pdf?
sequence=1 (Diakses pada tanggal
20 Maret 2016).
Winarno, F.G. 1997. Kimia Pangan dan
Gizi. Gramedia. Jakarta.
Wiryanta, B. T. W. 2002. Bertanam Tomat.
PT AgroMedia Pustaka. Jakarta.