Anda di halaman 1dari 13

I.

Identias pasien:
1. Nama
: Tn. H
2. Umur
: 61 Tahun
3. Jenis Kelamin
: Laki-laki
4. Alamat
: Jl. Asam
5. Agama
: Islam
6. Pekerjaan
: Wiraswasta
7. Tanggal pemeriksaan : 03 Agustus 2015

II.

Anamnesis:
1. Keluhan utama: Gatal pada area dada kiri, bahu kiri, dan leher.
2. Riwayat penyakit sekarang:
Seorang laki-laki usia 61 tahun datang ke UGD dengan keluhan
gatal pada area dada kiri, bahu kiri, dan leher. Keluhan sudah
dirasakan sejak 1 minggu yang lalu. Awalnya muncul kemerahan
pada bagian dada yang lama kelamaan menimbulkan rasa gatal dan
perih. Area gatal membentk bentol-bentol kemerahan yang
semakin nyeri apabila tersentuh dan dirasakan terus menerus
sehingga membuat pasien susah tidur di malam hari. Pada area
luka juga timbul rasa perih, panas, dan sakit yang dirasakan
berdenyut. Area gatal kemudian menyebar ke bagian bahu kiri,
leher, dan punggung sebelah kiri.
Pasien selama ini mengatasi

keluhan

gatal-gatal

dengan

menggunakan salep dan bedak. Namun setelah menggunakan salep


dan bedak keluhan tetap dan tidak berkurang. Keluhan lain yang
juga dialami pasien yaitu badan ngilu, mal, muntah, badan terasa
lemas.
Tidak ada yang memiliki gejala yang sama dengan keluarga
dirumahnya. Sebelumnya pasien tidak ada riwayat alergi terhadap
makanan, atau bahan tertentu yang sering dipakai. Riwayat gigitan
serangga juga tidak ada.
3. Riwayat Penyakit Terdahulu:
- Riwayat penyakit diabetes mellitus (+)
- Tidak ada riwayat alergi
4. Riwayat penyakit keluarga:
- Tidak ada keluarga pasien yang mengeluhkan keluhan yang
-

sama seperti pasien


Riwayat alergi pada keluarga pasien (-)

III.

IV.

V.

Pemeriksaan Fisik:
Status Generalis:
Kondisi Umum
Status Gizi
Kesadaran
Tanda vital:
Tekanan darah
Nadi
Respirasi
Suhu

: Sakit ringan
: Baik
: Composmentis
: 140/80 mmHg
: 82x/menit
: 20x/menit
: 36C

Status Dermatologis
Kepala
: Tidak ada ujud kelainan kulit
Leher
: Vesikel bergerombol dengan dasar makula
Dada

eritema dan hiperpigmentasi, papul, erosi


: Vesikel bergerombol dengan dasar makula

Perut
Punggung

eritema dan hiperpigmentasi, papul, erosi


: Tidak ada ujud kelainan kulit
: Vesikel bergerombol dengan dasar makula

Bokong
Genitalia
Ekstremitas atas
Ekstremitas bawah
Kelenjar limfe

eritema dan hiperpigmentasi, papul, erosi


: Tidak ada ujud kelainan kulit
: Tidak ada ujud kelainan kulit
: Tidak ada ujud kelainan kulit
: Tidak ada ujud kelainan kulit
: Tidak ada ujud kelainan kulit

Gambar

Gambar 1. Vesikel bergerombol dengan dasar makula eritema dan


hiperpigmentasi, papul, erosi

Gambar 2. Vesikel bergerombol dengan dasar makula eritema dan


hiperpigmentasi, papul, erosi

Gambar 3. Vesikel bergerombol dengan dasar makula eritema dan


hiperpigmentasi, papul, erosi
VI.

Resume
Pasien laki-laki usia 61 tahun datang ke UGD dengan keluhan gatal
pada area area dada kiri, bahu kiri, dan leher. Keluhan sudah dirasakan
sejak 1 minggu yang lalu. Awalnya muncul kemerahan pada bagian
dada yang lama kelamaan menimbulkan rasa gatal dan perih. Area luka
semakin nyeri apabila tersentuh dan dirasakan terus menerus sehingga
membuat pasien susah tidur di malam hari. Pada area luka juga timbul
rasa perih, panas, dan sakit yang dirasakan berdenyut. Area gatal
kemudian menyebar ke bagian bahu kiri, leher, dan punggung sebelah
kiri.
Pasien selama ini mengatasi keluhan gatal-gatal dengan menggunakan
salep dan bedak. Namun setelah menggunakan salep dan bedak
keluhan tetap dan tidak berkurang. Keluhan lain yang juga dialami
pasien yaitu badan ngilu, mual, muntah, badan terasa lemas.
Pasien datang ke poliklinik dalam keadaan komposmentis, dan status
gizi baik. Tekanan darah: 140/80 mmHg, nadi: 82x/menit, respirasi:
20x/menit, suhu: 36C. Status dermatologis terdapat Vesikel
bergerombol dengan dasar makula eritema dan hiperpigmentasi, papul,
erosi di thorax sinistra dan regio scapularis.

VII.

Anjuran Pemeriksaan:

Tes Tzanck
Pemeriksaan darah rutin

VIII.

Diagnosis Banding
- Herpes zoster
- Herpes simplex
- Varisela
- Selulitis
- Dermatitis kontak

IX.

Diagnosis kerja
Herpes zoster

X.

Penatalaksanaan
a. Non-medikamentosa:
- Pasien diistirahatkan
- Menjaga kebersihan kulit
- Menghindari stres emosional
b. Medikamentosa:
- Sistemik:
Acyclovir 5 x 800 mg
Neurodex 2 x 1
Interistine 1 x tab
Amitriptilin

XI.

Prognosis:
a. Quo ad vitam
: ad bonam
b. Quo ad sanationam : dubia ad bonam
c. Quo ad kosmetikan : dubia ad bonam
d. Quo ad fungsionam : ad bonam

PEMBAHASAN
Pasien laki-laki usia 61 tahun datang ke UGD dengan keluhan gatal pada
area area dada kiri, bahu kiri, dan leher. Keluhan sudah dirasakan sejak 1 minggu
yang lalu. Awalnya muncul kemerahan pada bagian dada yang lama kelamaan
menimbulkan rasa gatal dan perih. Area luka semakin nyeri apabila tersentuh dan
dirasakan terus menerus sehingga membuat pasien susah tidur di malam hari.
Pada area luka juga timbul rasa perih, panas, dan sakit yang dirasakan berdenyut.
Area gatal kemudian menyebar ke bagian bahu kiri, leher, dan punggung sebelah
kiri. Pasien selama ini mengatasi keluhan gatal-gatal dengan menggunakan salep
dan bedak. Namun setelah menggunakan salep dan bedak keluhan tetap dan tidak
berkurang. Keluhan lain yang juga dialami pasien yaitu badan ngilu, mual,
muntah, badan terasa lemas.
Pasien datang ke poliklinik dalam keadaan komposmentis, dan status gizi
baik. Tekanan darah: 140/80 mmHg, nadi: 82x/menit, respirasi: 20x/menit, suhu:
36C. Status dermatologis terdapat Vesikel bergerombol dengan dasar makula
eritema dan hiperpigmentasi, papul, erosi di thorax sinistra dan regio scapularis.
Dari hasil anamnesis dan status dermatologis, pasien di diagnosis sebagai herpes
zoster thoracica.
Pada saat dilakukan pemeriksaan fisik pada pasien didapatkan pada status
lokalis regio thoracalis sinistra dan regio colli sinistra tampak makula dengan
dasar kulit yang eritem ukuran lentikuler dan tampak daerah erosi akibat vesikel
yang sudah pecah. Lesi yang terlihat cukup karakteristik untuk herpes zoster, yang
mana timbul gejala kulit yang unilateral, bersifat dermatomal sesuai dengan
persarafan. (Saragih, 2014)
Penegakan diagnosis herpes zoster umumnya didasari gambaran klinis.
Komponen utama dalam penegakan diagnosis adalah terdapatnya (1) gejala
prodromal berupa nyeri, (2) distribusi yang khas dermatomal, (3) vesikel
berkelompok, atau dalam beberapa kasus ditemukan papul, (4) beberapa
kelompok lesi mengisi dermatom, terutama dimana terdapat nervus sensorik, (5)
tidak ada riwayat ruam serupa pada distribusi yang sama (menyingkirkan herpes

simpleks zosteriformis), (6) nyeri dan allodinia (nyeri yang timbul dengan
stimulus yang secara normal tidak menimbulkan nyeri) pada daerah ruam
(Saragih, 2014)
Herpes zoster dari bahasa Yunani herpein yang berarti merayap, dan zoster
berarti belt, umumnya disebut sebagai herpes zoster. Ini hasil dari reaktivasi virus
laten varicella zoster di sensorik akar dorsal atau saraf kranial ganglia, dan
biasanya memanifestasikan sebagai ruam vesikuler sepanjang distribusi
dermatom. Sebaliknya, infeksi varicella primer virus zoster menyebabkan
penyakit varicella (Cacar) yang biasanya bermanifestasi sebagai ruam vesikuler
luas. (Austalian, 2012)
Virus varicella zoster yang sangat menular. Satu studi menunjukkan
tingkat serangan sekunder 75% dengan cacar dalam kontak rumah tangga rentan.
Lebih dari 90% dari orang dewasa telah terinfeksi meskipun banyak yang tidak
ingat memiliki atau mungkin memiliki infeksi subklinis. Penelitian telah
menunjukkan bahwa sekitar sepertiga dari populasi akan mengalami herpes zoster
selama seumur hidup mereka dengan kejadian meningkatnya terutama setelah usia
60 tahun. Serangan berulang yang lebih umum daripada yang diyakini
sebelumnya, dengan satu studi menemukan tingkat kekambuhan 4% untuk lakilaki dan 7% untuk wanita setelah delapan tahun. Risiko herpes zoster dan
komplikasinya lebih besar pada orang immunocompromised. (Cohen, 2013)
Faktor risiko utama untuk herpes zoster meningkat usia. Risiko ini lebih
tinggi bagi perempuan daripada laki-laki, untuk kulit putih daripada kulit hitam,
dan untuk orang dengan riwayat keluarga herpes zoster daripada mereka yang
tidak seperti riwayat penyakit cacar yang terjadi di dalam rahim atau di awal masa
bayi, pada saat sistem kekebalan tubuh selular tidak sepenuhnya matang. Orang
dengan immunocompromised dengan gangguan kekebalan sel-T, termasuk
penerima transplantasi sel induk organ atau hematopoietik, mereka yang
menerima imunosupresif terapi, dan orang-orang dengan limfoma, leukemia, atau
human immunodeficiency virus (HIV), berada pada peningkatan risiko untuk
herpes zoster dan untuk penyakit yang berat. (Cohen, 2013)

Pasien dengan herpes zoster mengalami 3 stadium: stadium prodromal,


stadium aktif atau akut, dan stadium kronik. Stadium prodromal terdapat gejala/
sensasi seperti terbakar, gatal, geli, nyeri seperti tertusuk yang terjadi di kulit
sepanjang distribusi dermatom yang juga diduga terjadi degenerasi virus pada
fibril saraf. Selama periode ini, jika cabang dari nervus trigeminal terganggu maka
memungkinkan terjadinya odontalgia. Pada kondisi ini, reaktivasi virus
disepanjang nervus, dapat menginfeksi vaskularisasi yang memicu terjadinya
infark dan nekrosis dari pulp. Stadium prodromal terjadi kira-kira 1 bulan sebelum
lesi akut mukokutaneous tampak. (Cohen, 2013)
Stadium aktif yaitu stadium yang dialami oleh pasien pada kasus ini
ditandai dengan munculnya ruam yang juga disertai dengan gejala sistemik.
Karakteristik ruam kulit membentuk makula erythematous dan papul serta vesikel
dan akhirnya membentuk formasi pustul dalam 1 sampai 7 hari. Setelah itu lesi
kemudian mengering dan membentuk krusta yang akan mengelupas dalam 2
sampai 3 minggu dan meninggalkan bekas makula erythematous yang biasanya
meninggalkan bekas. Ini membutuhkan beberapa minggu agar kulit kembali
normal. Selama stadium aktif, pasien herpes zoster lebih rentan untuk mengalami
infeksi. Pada pasien ini ruam kulit membentuk makula erythemaous dan sedikit
vesikel karena pasien telah mengalami gejala pada mukokutaneous selama kurang
lebih 1 minggu. (Srikrishna, 2012)
Stadium kronik terjadi pada 10% pasien herpes zoster atau jga disebut
dengan postherpetic neuralgia (PHN), proses ini berlangsung lebih dari 3 bulan
setelah lesi mukokutaneous. Ini dapat terjadi selama bertahun-tahun dan
menyebabkan morbiditas. Peningkatan resiko kejadian dari PHN ini meningkat
pada orang dengan usia di atas 60 tahun. Selain komplikasi dari PHN, terdapat
komplikasi lainnya yaitu nekrosis retinal akut, enchepalitis, myelitis, dan pada
individu dengan immunokompromised yang juga mengalami herpes zoster resiko
komplikasi lebih meningkat. (Srikrishna, 2012)
Pada pasien juga terdapat gejala umum seperti pada pasien herpes zoster
lainnya, termasuk migrain, demam, malaise, yang diikuti sensasi rasa seperti
terbakar, gatal, hyperesthesia (oversensitivitas) yang ditandai dengan pasien tidak

mau memakai baju karena gesekan kain baju dengan lesi pada kulit menimbulkan
rasa sangat nyeri. Nyerinya bisa sedang bahkan ekstrim disepanjang dermatom
yang terkena dengan rasa yang dideskripsikan sebagai rasa perih, geli, nyeri, mati
rasa, dan denyutan yang juga diselingi rasa seperti tertusuk-tusuk dengan cepat.
(Deshmukh, 2012)
Dalam beberapa 16% dari pasien dengan zoster, vesikel berkembang
melampaui dermatom yang terlibat dalam beberapa hari erupsi lokal. Hal ini lebih
umum terjadi pada orang tua tetapi dalam banyak kasus hanya beberapa lesi
muncul dan distribusi zoster tidak berubah. Pada pasien dengan limfoma atau
kondisi

immunocompromised,

umum

varicella

('zoster

disebarluaskan')

berkembang dan mungkin terjadi perdarahan. Keterlibatan sistemik bisa terjadi


dan bisa berakibat fatal. Pada orang tua dan kurang gizi erupsi lokal sering
menjadi nekrotik, dan penyembuhan, yang mungkin memerlukan beberapa
minggu, dapat diikuti oleh jaringan parut yang parah.

Pada individu

imunosupresi, terutama karena HIV infeksi, dengan sejumlah kecil lesi


berkembang menjadi nodul verrucous. Variasi dalam sindrom zoster tergantung
pada yang root dorsal yang terlibat, pada intensitas keterlibatannya dan ekstensi
perubahan infl inflamasi ke dalam akar motorik dan anterior sel tanduk.
Keterlibatan visceral mungkin bertanggung jawab untuk perut nyeri, nyeri pleura
atau kelainan elektrokardiografi sementara dengan atau tanpa nyeri prekordial.
(Burns, 2010)
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan mikroskopik
dari sel pada bagian basal vesikel yang dapat memperlihatkan sel epitel giant
(besar) dan sel multinkleus giant (besar) yang biasanya terdapat 10-12 nukleus di
dalamnya. Pengambilan bahan dasar vesikel dengan ara pengerokan menggunakan
scalp yang kemudian diapuskan pada kaca objek, kemudian dilakukan pewarnaan
giemsa atau pewarnaan wright, atau methylee blue yang dilanjutkan dengan
pemeriksaan preparat untuk melihat adanya sel epitel giant (besar), namun pada
pasien ini belum dilakukan pemeriksaan tzanck. (Wolff, 2009)
Tujuan utama dari pengobatan antivirus untuk HZ adalah untuk
mengurangii replikasi virus , durasi nyeri ruam dan akut untuk mencegah

komplikasi terutama pada pasien immunocompromised. Selain itu , terapi


antivirus juga melemahkan pengembangan PHN . Ada tiga antivirus agen yang
disetujui pengobatan HZ yaitu asiklovir dengan valacyclovir prodrug dan
famciclovir . agen ini adalah analog guanosin yang perlu menjadi yang pertama
terfosforilasi oleh timidin kinase virus dan kemudian oleh kinase selular untuk
bentuk trifosfat aktif. Senyawa terakhir menghambat polimerase DNA virus, yang
penting untuk replikasi varicella zoster virus. Pada agen terbaru, valacyclovir dan
famciclovir, umumnya lebih sering digunakan asiklovir karena peningkatan
bioavailabilitas, yang memungkinkan pengurangan dosis harian. Hanya asiklovir
yang tersedia sebagai formulasi intravena yang dapat digunakan untuk mengobati
komplikasi sistem saraf pusat (misalnya, ensefalitis) atau perluasan infeksi pada
pasien immunocompromised. Secara umum , obat ini ditoleransi dengan baik dan
yang paling sering efek samping yang muncul adalah mual dan sakit kepala. Dosis
penyesuaian diperlukan untuk semua agen pada pasien insufisiensi ginjal. (Boivin,
2010)
Tiga analog nukleotida yaitu valasiklovir, famsiklovir dan asiklovir
tersedia untuk pengobatan herpes zoster. Obat-obat ini mengurangi keparahan dan
durasi penyakit jika dimulai dalam waktu 72 jam onset ruam. Namun, ulasan
Cochrane menyimpulkan bahwa bukti tidak cukup untuk menentukan jika
antiviral mengurangi kejadian postherpetic neuralgia. Semua pasien dengan zoster
oftalmikus harus menerima terapi antivirus bahkan jika itu tertunda melampaui 72
jam. Demikian pula, pertimbangan harus diberikan kepada mengobati pasien
immunocompromised atau orang-orang dengan penyebarluasan penyakit.
(Austalian, 2012)
Pedoman Australia saat ini merekomendasikan famciclovir
(250 mg tiga kali sehari selama tujuh hari, atau jika immunocompromised 500 mg
tiga kali sehari untuk sepuluh hari) dan valasiklovir (1 g tiga kali sehari untuk
tujuh hari) sebagai obat pilihan, mengingat mereka yang lebih besar
bioavailabilitas dan kurang sering dosis dibandingkan untuk aciclovir. Kedua
dosis dan durasi antivirus pengobatan yang lebih besar untuk herpes zoster
daripada herpes simpleks. Asiklovir intravena (10 mg / kg tiga kali hari) biasanya

disediakan untuk immunocompromised pasien dengan penyebarluasan penyakit,


zoster oftalmikus atau keterlibatan sistem saraf pusat seperti mielitis transversa.
Dosis penyesuaian antivirus selain hidrasi dianjurkan di gangguan ginjal untuk
mencegah nefrotoksisitas dan neurotoksisitas. (Austalian, 2012)
Mengobati nyeri yang terkait dengan herpes zoster , terutama dalam
tahap akut dianggap sebagai komponen integral dari manajemen dan mungkin
memiliki manfaat dalam mengurangi keparahan dan kejadian neuralgia
postherpetic . Hal ini harus mengikuti pendekatan bertahap berdasarkan guidelines
Australia telah diringkas dalam Tabel 1. Dari catatan , salah satu double-blind
acak uji coba terkontrol menunjukkan penurunan kejadian postherpetic neuralgia
pada enam bulan sekitar setengah dengan awal ( dalam waktu 48 jam onset ruam)
dimulainya dosis rendah amitriptilin 25 mg pada malam hari ( selama 90 hari )
meskipun hati-hati harus digunakan saat mengobati lansia. Farmakologi
pengelolaan postherpetic neuralgia mengikuti Pendekatan bertahap serupa dan
mungkin tambahan melibatkan penggunaan gabapentin atau pregabalin dan
capsaicin topikal. (Austalian, 2012)

Postherpetic neuralgia adalah yang komplikasi berat yang dapat muncul


dari herpes zoster terutama pasien dengan imunokompeten. Nyeri menetap setelah
hilangnya ruam kulit pada dermatom yang terlibat , yang dikenal sebagai
postherpetic Neuralgia ( PHN ) , dapat berkembang dan terlihat lebih sering di
kasus yang dengan pasien usia lanjut . Nyeri yang menetap atau muncul lebih dari
90 hari setelah timbulnya ruam adalah definisi yang diterima secara umum untuk
PHN. Rata-rata, PHN berlangsung dari tiga sampai enam bulan tapi bisa menetap
dengan keparahan yang lebih lama. Nyeri dapat bervariasi dan dapat konstan,
intermiten, atau dipicu oleh stimulasi daerah yang terkena, seperti angin pada
wajah.(Alikhani, 2015)

REFERENSI
Australian, Prescribed. 2012. Herpes zoster: epidemiology, clinical features,
treatment and prevention. From: <<http://www.australianprescriber.
com/magazine/ 35/5/article/ 1330. pdf >> Pada tanggal 5 agustus 2015
Babamahmoodi, F., Alikhani, a., Ahangarkani, F., Delavarian, L., Barani, H.,
Babamahmoodi, A. 2015. Clinical Manifestations of Herpes Zoster, Its
Comorbidities, and Its Complications in North of Iran from 2007 to 2013.
From: <http://downloads.hindawi.com/journals/nri/2015/896098.pdf> Pada
tanggal 5 agustus 2015
Boivin, G., Jovey, R., Elliott , ce., Patrick, DM., 2010. Management and
prevention of herpes zoster: A Canadian perspective. From: <<
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc /articles/ PMC2852282 /pdf/ idmm21045.
pdf>> Pada tanggal 5 agustus 2015
Burns, T., Breathnach, S., Griffi, C., 2010. Rooks Textbook of Dermatology
Volume 1 eigth edition. Wiley-Blackwell. USA
Cohen, J., 2013. Herpes Zoster. From: <http://www.nejm.org/doi/pdf/10.1056/
NEJMcp 1302674>> Pada tanggal 5 agustus 2015
Deshmukh, R., Raut, A., Sonone, S., Pawar, S., Bharude, N., Umarkar, A.,
Laddha, G., Shimpi, R. 2012. Herpes zoster (hz): a fatal viral disease: a
comperhensive review. From: <<http://www.ijpcbs.com/files/v2i2(2).pdf.>>
Pada tanggal 5 agustus 2015
IV, Saragih. 2014. Herpes Zoster Geriatri. From: << http://download.jurnal.
org/article.php?article=143200&val=5502>> Pada tanggal 5 agustus 2015
Srikrishna, et al. 2012. Herpes Zoster: Report of treated case with review of
literature. From: << http://www.jaypeejournals.com/ eJournals/ ShowText.
aspx >> Pada tanggal 5 agustus 2015
Wolff, K., Johnson, RA., 2009. Fitzpatricks color atlas and synopsis of clinical
dermatology sixth edition. Mc-Graw Hillmedical. USA