Anda di halaman 1dari 3

Contoh Kasus :

Sengketa Lahan Meruya Jakarta Barat pada Tahun 2013


Kasus ini bermula pada 1972. Waktu itu, Haji Djuhri bin Haji Geni, Yahya
bin Haji Geni, dan Muhammad Yatim Tugono membeli tanah-tanah girik (tanah
sertifikat hak milik) dari warga Meruya Udik, yang kini menjadi Kelurahan
Meruya Selatan. Seluruh tanah ini mencapai luas 78 hektare dan kemudian dijual
dengan harga Rp 300 per meter persegi ke perusahaan properti milik Beny
Rachmat itu. Masalah muncul ketika PT Portanigra menuduh tiga mandor itu
belakangan membuat girik palsu dan menjual lagi tanah tersebut ke beberapa
pihak. Kasus pemalsuan girik ini ditemukan oleh Operasi Pemulihan Keamanan
dan Ketertiban Pusat pimpinan Laksamana Sudomo pada 1978. Dalam proses
pemeriksaan, tiga mandor tadi mengaku menjual lagi girik tersebut kepada
beberapa perusahaan. Di antaranya ke pemerintah DKI Jakarta pada 1974 seluas
15 hektare, kepada PT Intercone (2 hektare) dan PT Copylas (2,5 hektare) pada
1975, serta kepada BRI seluas 3,5 hektare pada 1977. Pada 1986, Djuhri divonis
hukuman setahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Di tingkat
banding, Yahya terkena vonis setahun penjara. Adapun Tugono, kasasinya ditolak
Mahkamah Agung sehingga ia harus masuk penjara pada 1989. Berbekal putusan
pidana itu, Portanigra kemudian menggugat perdata ketiga mandor tersebut pada
1996. Ketika itu, Pengadilan Negeri Jakarta Barat sudah meletakkan sita jaminan
terhadap tanah seluas 44 hektare yang diklaim milik Porta. Gugatan ini sempat
ditolak di tingkat pertama dan banding.

Namun, pada 2001, nasib berbalik

memihak Porta ketika perkara sampai di Mahkamah Agung. Mahkamah


memenangkan Porta. Putusan perkara pidana dan bukti jual-beli yang jadi
pegangan putusan kasasi. Meskipun bukan pihak yang bersengketa, warga kini
berusaha melawan putusan Mahkamah Agung dengan mengajukan gugatan
perlawanan hukum ke Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Warga juga berusaha
menghalangi eksekusi dengan mengadukan Portanigra ke polisi karena adanya
sejumlah kejanggalan di berkas perkara.

Kejanggalan itu di antaranya menyangkut domisili perusahaan tersebut di Duta


Merlin yang ternyata kosong dan nomor wajib pajak ganda atas nama Portanigra.
Dari tiga terpidana, kini cuma Haji Djuhri yang sudah berusia 80 tahun dan pikun
itu yang ikut melawan. Sebab, Yahya sudah meninggal dan Tugono pindah entah
ke mana. Portanigra sendiri kini menunggu upaya Dewan Perwakilan Rakyat
mencari solusi untuk tak merugikan pihak ketiga atau warga dalam sengketa tanah
tersebut. Badan Pertanahan Jakarta yang disebut-sebut ikut punya andil membuat
masalah ini jadi kisruh sepertinya malah tak diganggu gugat. Padahal jika
dokumen tanah berupa hak girik dipegang PT Portanigra dan tanah tersebut
berstatus sengketa, mestinya ribuan warga itu tak bisa memiliki sertifikat hak
milik. Mestinya BPN tidak mengeluarkan dokumen kepemilikan tanah di atas
lahan yang terlibat sengketa. Nasi telah menjadi bubur. BPN mengeluarkan
sertifikat itu dan kini jadi masalah.
Sumber : www.tempointeraktif.com

Analisis Kasus
Perspektif Legal
Kasus Meruya sebenarnya adalah persoalan pidana antara PT Porta Nigra
dengan Juhri CS. PT Porta Nigra yang dalam hal ini dirugikan dengan
penipuan yg dilakukan Juhri CS dalam proses pengambilalihan lahan di
Meruya. Secara legal, tanah yang dibeli Porta Nigra dari Juhri CS belum
beralih karena dasar hukum atas tanah tersebut, dalam hal ini girik dinyatakan
palsu oleh pengadilan pidana dan berdasarkan putusan pengadilan negeri
dimusnahkan. Selain itu, dalam proses peralihan hak atas tanah, PT.Portanigra
sebagai perusahaan developer melakukan kesalahan karena tidakmelakukan
transaksi beli tanah sesuai aturan dan tidak mengurus sertifikat pasca transaksi
maka Porta Nigra belum dapat disebut sebagai pemilik secara yuridis atas
tanah tersebut.
Perspektif Yurisdiksi
Putusan Mahkamah Agung untuk melakukan eksekusi tanah di Meruya
memang patut dipertanyakan karena penerbitan sertifikat tanah adalah putusan
dari BPN (pejabat negara). jadi, yang dapat mempertanyakan sertifikat
tersebut adalah peradilan Tata Usaha Negara. Seharusnya putusan dari MA
adalah memaksa Juhri CS untuk mengganti kerugian akibat penipuan yang
dilakukannnya dan bukan menyerahkan tanah yg menjadi objek jual beli pada
awalnya. terlebih secara hukum proses peralihan hak atas tanah tersebut belum
terjadi. Atau setidaknya tidak ada dokumen hukum yang menunjukkan hal
tersebut.