Anda di halaman 1dari 5

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah sebuah

model pembelajaran yang membantu guru mengkaitkan antara materi pembelajaran


dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran kontekstual ini didasarkan pada hasil penelitian dari John Dewey yang
menyimpulkan bahwa anak didik akan belajar dengan baik apabila apa yang dipelajari
terkait dengan apa yang diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi di
sekelilingnya. Juga dilandasi oleh teori belajar dari Jerome Brunner yang mengatakan
belajar merupakan usaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta
pengetahuan yang menyertainya sehingga siswa mendapatkan pengetahuan yang
benar-benar bermakna bagi dirinya.
Jadi pembelajaran model kontekstual menekankan proses keterlibatan siswa
untuk menemukan materi. Prosesnya tidak mengharapkan siswa hanya menerima
pelajaran akan tetapi ada proses mencari dan menemukan sendiri materi tersebut.
Disamping itu pembelajaran kontekstual juga mendorong siswa untuk menemukan
hubungan antara materi yang dipelajarinya dengan kehidupan nyata, artinya siswa
dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman di sekolah dengan
kehidupan nyata. Materi pelajaran kontekstual bukan untuk ditumpuk di otak untuk
kemudian dilupakan melainkan dijadikan bekal dalam mengarungi kehidupan nyata.
Mutu guru di Indonesia yang masih rendah merupakan salah satu penyebab
rendahnya kualitas pendidikan di negeri ini. Masih banyak ditemukan guru yang
belum memiliki kemampuan memilih pendekatan dan metode yang tepat dalam
pembelajaran. Padahal penggunaan pendekatan dan metode yang tepat sangat
menentukan

keberhasilan

proses

pengajaran

dan

hasil

belajar

siswa.

Belajar kimia sangat erat kaitannya dengan eksperimen sesuai dengan karakter ilmu
kimia sebagai experimental sience. Ada dua hal penting yang harus diperhatikan
dalam belajar ilmu kimia, yakni ilmu kimia sebagai hasil temuan para ahli seperti
prinsip, hukum, dan teori, serta kimia sebagai proses berupa kerja ilmiah seperti
kegiatan praktikum.
Melakukan praktikum mengenai suatu materi pelajaran akan meningkatkan
penalaran siswa terhadap materi tersebut. Penalaran ini akan berguna untuk
meningkatkan kemampuan dan daya sensitif siswa terhadap teknologi. Siswa akan
dapat

mengembangkan

daya

kreativitasnya

ketika

melakukan

percobaan.

Selain itu siswa akan mudah memahami suatu materi pelajaran yang diajarkan apabila

guru mampu mengaitkan materi pelajaran dengan kejadian atau benda-benda yang ada
di lingkungan sekitar siswa. Keterkaitan ini akan membuat daya ingat siswa terhadap
materi yang diajarkan lebih tahan lama. Lingkungan dapat menjadi tempat kegiatan
belajar. Di dalam kelas dapat dilakukan kegiatan meniru hal-hal yang ada di
lingkungan.
Kegiatan praktikum ini merupakan jembatan yang mampu menghubungkan
antara apa yang mereka pelajari dan bagaimana pengetahuan itu akan digunakan.
Kedua hal ini merupakan problem yang dihadapi oleh peserta didik. Problem ini
muncul dikarenakan cara mereka memperoleh informasi dan motivasi diri belum
tersentuh oleh metode yang dapat membantu mereka karena pusat informasi hanya
bersumber pada guru (teacher centered). Oleh karena itu, diperlukan suatu
pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pendekatan kontekstual yang memiliki
karakteristik tersendiri, dimana dalam pemilihan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur
yang harus diberikan kepada peserta didik dapat berorientasi pada peserta didik
(student centered) salah satunya dilakukan dengan kegiatan praktikum, sehingga
peserta didik memiliki kesempatan untuk melakukan percobaan (proses), baik
individu maupun kelompok, yang harapannya peserta didik dapat sepenuhnya terlibat
dalam hal perencanaan, pelaksanaan, penemuan fakta, pengumpulan data, dan
pemecahan masalah dalam kegiatan praktikum.
Agar praktikum dalam pembelajaran kimia ini terarah dan proses pemecahan
masalah berjalan dengan efektif, maka peserta didik arus didorong untuk menafsirkan
informasi yang diberikan oleh guru, sampai informasi tersebut dapat diterima oleh
akal sehat. Jadi, tugas guru dalam praktikum berbasis kontekstual adalah membantu
peserta didik untuk mencapai tujuannya, yakni guru hanya mengelola kelas sebagai
sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan suatu yang baru bagi peserta didik,
sehingga guru dapat mendorong peserta didik untuk mengaitkan antara materi yang
diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik.
Berdasarkan data tabel 1. kelima aspek sikap siswa yang diteliti, memili
ki rata-rata presentase pencapaian aspek sikap siswa yang diteliti adalah diatas
50,00% dengan rata rata presentase terbesar ditunjukkan untuk aspek sikap
kedisiplinan sebesar 84,88% dan pencapaian sikap retendah yaitu pada aspek sikap
penerimaan sebesar 58,00%.

Gambar 2 menampilkan rata-rata presentase aspek sikap kedisiplinan yang


palingtinggi dari sikap lainnya yang diteliti. Hal ini menunjukkan siswa melakukan
percobaan sesuai dengan prosedur praktikum dan sangat menghargai akan
kedisiplinan waktu, sehingga semua kelompok dapat berhasil dalam melakukan
percobaannya dengan tepat waktu. Rata-rata presentase pencapaian sikap yang paling
rendah yaitu sikap penerimaan. Hal ini dikarenakan hanya sebagian siswa yang aktif
di dalam kelas, misalnya tidak semua siswa berani untuk menjawab dan mencoba
bertanya kepada guru. Selain itu, siswa tidak cukup berani atau malu untuk
mengeluarkan pedapat dan siswa sering takut untuk bertanya karena beranggapan
bahwa pertanyaannya salah.
Hasil analisis data di atas menunjukkan penerapan pembelajaran kontekstual
melalui kegiatan praktikum dapat meningkatkan hasil belajar siswa lebih tinggi
daripada pembelajaran kontekstual tanpa kegiatan praktikum. Ini dikarenakan
pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang menekankan kepada
keaktifan siswa dalam mencari dan menemukan hubungan materi yang dipelajari
dengan situasi yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Ini menjadikan materi yang dipelajari tertanam kuat dalam memori sehingga
mudah diingat dan tidak mudah terlupakan. Selain itu diterapkannya pembelajaran
kontekstual melalui kegiatan praktikum semakin memudahkan siswa untuk
memahami dan mengaplikasikan materi yang diajarkan. Oleh karena itu pembelajaran
kontekstual melalui kegiatan praktikum cukup efektif dalam meningkatkan hasil
belajar.
Pada penelitian ini terbukti bahwa pembelajaran kontekstual melalui kegiatan
praktikum dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Ini merupakan indikasi bahwa
pembelajaran kontekstual melalui kegiatan praktikum merupakan upaya yang dapat
diandalkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Kesimpulan :
Ada perbedaan peningkatan hasil belajar siswa melalui pembelajaran
kontekstual dengan kegiatan praktikum dan pembelajaran kontekstual tanpa kegiatan
praktikum. Peningkatan hasil belajar siswa melalui kegiatan praktikum lebih tinggi
daripada pembelajaran kontekstual tanpa kegiatan praktikum. Guru bidang studi
dalam melaksanakan pembelajaran sebaiknya membuat penggabungan antara metode/
model pembelajaran dengan media pembelajaran agar sistem pembelajaran lebih
inovatif. Guru bidang studi sebaiknya pada saat memakai pembelajaran kontekstual

juga disertakan dengan kegiatan praktikum karena dapat membangkitkan rasa ingin
tahu siswa.
Daftar Pustaka
A, Sardiman., (2001), Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Penerbit PT Raja
Grafindo

Persada,

Jakarta

Adita., (2007), Mendorong Kreativitas dengan Workshop, http://www.kspmthullabi.org/modules.php


Arikunto, S., (2006), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Penerbit Rineka
Cipta,

Jakarta

Arikunto, S., dan Safruddin, C., (2004), Evaluasi Program Pendidikan, Penerbit Bumi
Aksara,

Jakarta

Jhonson., (2007), Contextual Teaching and Learning, Penerbit MLC, Bandung


Dimyati, dan Mudjiono., (2006), Belajar dan Pembelajaran, Penerbit Rineka Cipta,
Jakarta
Marlon., (2008), Efektivitas Penggunaan Metode Praktikum Untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Siswa Pada Pengajaran Sifat Koligatif Larutan Non Elektrolit Di SMA.,
Skripsi,

FMIPA,

Unimed,

Medan

Meltzer., (2002), The Relationship Between Mathematics Preparation And Conceptual


Learning Gain In Physic., Hidden Variabel in Diagnostic Pretest Scores American
Journal

Physics:70(12),(1259-1267)

Ngalim, M., (2001), Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Penerbit PT


Remaja

Rosdakarya,

Bandung

Noname., (2008), Metode Pembelajaran Kimia, http://abuyazid.com/Metode.html

Purba,

M,

(2004),

Kimia

untuk

SMU

Kelas

XII,

Erlangga,

Jakarta

Sadono, Kana Hidayah., (2005), Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi


dengan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) pada Mata Pelajaran
Matematika Pokok Bahasan Statistik dan Statistika di SMA Muhammadiyah I
Yogyakarta:

12-18

Sinurat, Y., (2008), Efektivitas Penggunaan Pendekatan Kontekstual Dengan Metode


Inquiry

Pada

Sudjanah.,

Pembelajaran
(2002),

Kimia

Metode

di

SMP.,

Statistika,

Skripsi,

Penerbit

Unimed,

Medan

Tarsito,

Jakarta

Suhaenah, A., (2001), Membangun Kompetensi Belajar, Direktorat Jenderal


Pendidikan
Suwar.,

Tinggi

(2007),

Departemen

Meningkatkan

Mutu

Pendidikan
Guru

Melalui

Nasional,
Pemberdayaan

Jakarta
Diri,

http://www.octavianusz.blogspot.com/
Wahyu, A., (2008), Penerapan Model Praktikum Semi Riset Pada Praktikum Kimia
Fisik-2, http://smk3ae.wordpress.com/2008/11/17/penerapan-model-praktikum-semiriset-pada-praktikum-kimia-fisika-2/